The Primary Trader Daily 18 Nov’19

Menunggu RDG BI di 21 November 2019

Pertanyaan pentingnya adalah apakah BI akan kembali menurunkan BI Rate lagi setelah menurunkan sebanyak 100 bps (1%) dari sejak Jul’19 ? BI memang mengatakan akan mendukung usaha pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia. Inflasi Indonesia yang stabil rendah serta Rupiah yang terjaga pun semakin membuat BI berani untuk menurunkan suku bunga.

Indonesia Interest Rate

The Primary Trader percaya penurunan suku bunga masih akan terjadi 1x lagi di tahun 2019 sehingga menutup tahun ini, BI 7DRR Rate akan berada di level 4.75% dan artinya ada penurunan sebesar 125 bps atau 1.25% di tahun 2019.

Positif untuk Pasar Obligasi

The Primary Trader masih meyakini Yield SUN10Yr, acuan pasar obligasi, masih dalam tren turun. Artinya adalah harga obligasi masih naik (yang membuat Yield turun). The Primary Trader perkirakan Yield sedang dalam tren turun menuju 6.5% dan saat ini sedang dalam tahap Tech. Rebound atau kenaikan di tengah Downtrend. Kenaikan tersebut setidaknya dapat membuat Yield naik mencapai 7.1% namun tidak lebih karena merupakan kenaikan singkat. Ada Support Psikologis di 7% namun seharusnya dalam waktu dekat, seiring dengan Yield memulai kembali penurunan, Support di 7% dapat di-Breakdown.

Ikuti Live Chart di sini.

Selain karena tren penurunan suku bunga, tampaknya Investor mengantisipasi tidak ada lagi lelang obligasi di Des’19 sehingga mereka mengincar di pasar sekunder. Selain itu, harapan akan kenaikan rating Indonesia dari pemeringkat efek internasional pun tampaknya perlahan diantisipasi oleh Investor.

Positif juga untuk IHSG

Meskipun penurunan suku bunga serta membaiknya kondisi makro Indonesia akan berdampak langsung terhadap pasar obligasi, pasar saham seperti IHSG tentu juga akan mendapat katalis positif berupa kenaikan harga. Untuk IHSG sendiri, setidaknya masih bisa bertahan di atas 6,100 yang artinya adalah IHSG masih mempertahankan peluang Uptrend paska mengakhiri Bullish Continuation dari tahun 2018 (jangka panjang). Uptrend IHSG dalam jangka panjang pula akan diawali dengan Breakout 6,500.

Penurunan IHSG dari sejak pertengahan Okt’19 kemungkinan besar adalah sebagai respon dari kinerja laporan keuangan emiten 3Q19 yang memang tidak dapat dikatakan bagus namun tidak juga dikatakan buruk. Investor dalam waktu dekat seharusnya sudah mengantisipasi sentimen dan katalis positif di tahun 2020. Saat ini pun IHSG sudah di level murah

Dandy Rotation Untuk 18 November 2019

Saham berbasis Komoditas seperti Coal dan CPO menarik untuk diperhatikan karena banyak yang berada dalam kondisi Outperform dan dalam kuadran Outperform (PTBA dan ADRO) atau Buy On Weakness (UNTR dan AALI). Menjelang akhir tahun, China umumnya memerlukan banyak Coal karena masuk musim dingin sehingga pembangkit listrik di sana perlu persediaan Coal.

The Primary Trader menyukai sektor CPO karena adanya peningkatan permintaan karena aturan B30 di Indonesia dan mungkin Malaysia akan mengikuti kebijakan serupa. Selain itu, suplai CPO sendiri sudah berkurang karena penurunan harga yang terus terjadi sejak awal tahun 2017 (-40% sampai Jul’19). Harga CPO telah naik 38% dari sejak Jul’19 dan karena dalam Uptrend maka harga CPO Malaysia berpotensi kembali menuju puncak di tahun 2017. Selain AALI, LSIP dan TBLA pun layak diperhatikan.

Saham berbasis Consumer terutama Poultry, Media dan FMCG pun dapat diperhatikan karena berada dalam kondisi Outperform. Saham dalam kuadran Outperform seperti MYOR, INDF, CPIN dan SIDO dapat menjadi pilihan lalu saham di kuadran Buy on Weakness seperti MNCN dan SCMA pun dapat dipertimbangkan.

The Primary Trader menyukai sektor FMCG karena bila pemerintah menggenjot pengeluaran di awal tahun 2020 (berdasarkan keinginan dan paksaan Presiden kepada Kementerian dan Pemerintah Daerah) maka tentu pengeluaran masyarakat (belanja masyarakat) pun akan naik dari sejak awal tahun dan akan berulang beberapa kali di tahun 2020. Ada potensi pertumbuhan penjualan sektor Consumer di tahun 2020 lebih tinggi dibanding 3Q19 sebesar 5.2% YoY. MYOR, INDF, SIDO, HOKI dan CPIN layak menjadi pilihan.

What Trade War ? Bursa AS dan China dalam Uptrend

Uptrend dari Awal Tahun 2019

The Primary Trader memperhatikan bursa saham AS dan China dimana S&P500, Dow Jones dan Shanghai Composite justru dalam Uptrend sejak awal tahun. Sampai 15 November 2019 (hampir Full Year 2019), ketiganya mencatat Return yang sangat tinggi antara 15% – 25%. Bila memang Trade War mengancam ekonomi kedua negara bahkan dunia maka seharusnya bursa saham pun ikut turun mengikuti ancaman terhadap ekonomi AS dan China.

Ikuti Live Chart di sini.

Pertumbuhan Ekonomi AS dan China

Ekonomi China memang terpukul terutama dari sejak tahun 2010 setelah mencatat pertumbuhan ekonomi sekitar 12% YoY. Pada 3Q19, ekonomi China tumbuh sebesar 6% YoY. Memang masih dapat dikatakan Soft Landing dan pertumbuhan 6% itu tinggi (!). Namun demikian, yang perlu diperhatikan saat ini adalah hutang yang ada pada ekonomi China dan hutang tersebut perlu pertumbuhan ekonomi agar dapat dilunasi. Oleh karena itu, banyak Investor khawatir dampak ekonomi China karena Trade War.

China GDP Annual Growth Rate

Di sisi lain, sebagai pencetus Trade War, ekonomi AS berhasil tumbuh relatif stabil walau tetap terlihat perlemahan. Namun berdasarkan data 3Q19, ekonomi AS berhasil tumbuh sebesar 1.9%, di atas estimasi sebesar 1.6%. Hal ini tentu cukup mengejutkan karena tampaknya ada harapan Trade War berhasil dimenangkan oleh AS sebagai pencetus.

United States GDP Growth Rate

Kenapa ?

The Primary Trader menilai bahwa konsumsi domestik yang disebabkan adanya Disruptive Economy (Startup) yang cenderung masih dalam tahap ‘membakar duit’ berhasil menopang ekonomi AS. Perlu diingat bahwa konsumsi di 3Q19 masih belum dapat dianggap sebagai konsumsi akhir tahun (Thanksgiving, Natal dan Tahun Baru) di AS sementara pada musim tersebut, penjualan hampir selalu tinggi setiap tahun. Oleh karena itu, ada peluang ekonomi AS di 4Q19 pun akan tinggi. Hal ini tentu akan menjadi katalis signifikan karena Investor akan mulai melihat ancaman resesi berkurang dan Investor akan “FOMO” atau Fear of Missing Out dari Uptrend saham – saham AS.

Bagaimana Strateginya ?

The Primary Trader percaya Market Cycle dimana Bullish itu di akhiri ketika semua Investor percaya dan menjadi sangat yakin Bullish akan berlangsung lebih lama lagi (jika tidak selamanya). Saat ini tampaknya masih banyak Investor yang ragu akan Bullish namun tampaknya mulai ada keyakinan (Optimism).

Image result for market cycle

Dengan melihat siklus di atas, ada kemungkinan fase bursa saham di AS (dan China) saat ini adalah fase antara Hope dan Optimism. Oleh karena itu, The Primary Trader berpendapat masih ada potensi Uptrend bagi bursa saham AS terutama S&P500 dan Dow Jones. Selain itu, bursa saham China, yang terpukul karena pertumbuhan ekonominya jelas terpukul, pun sedang dalam pembentukan Bullish Continuation. Artinya ada potensi Shanghai Composite melanjutkan kenaikan dari sejak awal tahun 2019 dengan potensi kembali ke level awal tahun 2018.

S&P500 sendiri sedang dalam Uptrend (seperti juga Dow Jones) dengan potensi menuju 3,300.

Ikuti Live Chart di sini.

Bagaimana dengan IHSG ?

The Primary Trader percaya IHSG sedang dalam tahap akhir Bullish Continuation jangka panjang dari sejak tahun 2018. Artinya adalah seharusnya IHSG sedang bersiap untuk mengawali Uptrend jangka panjang dengan potensi menuju 8,000 (tentu dalam 3-4 tahun ke depan).

Untuk mengawali Uptrend, IHSG perlu Breakout 6,500 sehingga masih perlu 3 – 6 bulan lagi untuk memastikan Uptrend dimulai. Selain itu, karena saat ini IHSG mendekati Support dari pola Bullish Continuation di 5,900, ada ancaman IHSG batal mengawali Uptrend. Downtrend jangka panjang terancam dimulai bila IHSG Breakdown Support 5,900. Oleh karena itu, perlu diperhatikan dan diwaspadai penurunan di bawah 5,900.

Ikut Live Chart di sini.

Surplus Neraca Perdagangan Indonesia bulan Oktober 2019

aerial photography of cargo ship

Surplus Neraca Perdagangan Indonesia bulan Oktober 2019

BPS mengumumkan Neraca Perdaganan Indonesia di bulan Okt’19 surplus sebesar USD161.3 miliar setelah impor turun lebih dalam (-16.4% YoY) dari ekspor (yang juga turun -6.1% YoY). Investor tampaknya memperkirakan terjadi Defisit Neraca Perdagangan sehingga data ini menjadi sentimen positif.

Indonesia Balance of Trade

Rupiah Bersiap Menguat

Surplus Neraca Perdagangan yang diluar ekspektasi berpotensi memberikan sentimen positif yang akan berdampak pada Rupiah. The Primary Trader masih percaya Rupiah dalam tren menguat terhadap US Dollar dengan potensi menuju Rp13,600 atau setidaknya kembali menguji Rp13,900.

Rupiah sedang tertahan di Resistance Rp14,100 dan The Primary Trader perkirakan adalah perlemahan terakhir sebelum Rupiah dalam tren menguat menuju Rp13,600 tersebut. Setidaknya Rupiah akan berada di bawah Rp14,000 di sisa tahun 2019.

Ikuti Live Chart di sini.

IHSG Masih Mempertahankan Harapan Uptrend

Dengan tetap bertahan di atas 6,110, artinya adalah IHSG masih mempertahankan peluang Uptrend setelah Bullish Continuation selesai. Data Neraca Perdagangan akan memperbesar peluang Uptrend IHSG di tahun 2020. Silahkan baca di sini.

image003 2

Berinvestasi Sendiri vs Reksa Dana

Kenapa Reksa Dana ?

Jawaban yang paling tepat adalah karena Reksa Dana dikelola oleh profesional di pasar modal yang telah berpengalaman dan memiliki kemampuan dalam berinvestasi. Selain itu, Fund Manager (pengelola Reksa Dana di perusahaan Aset Manajemen) memfokuskan waktu dan tenaganya untuk memperhatikan kondisi pasar, menyusun portofolio investasi di Reksa Dana serta memonitoring portofolio tersebut untuk dilakukan perubahan seperlunya.

Hal tersebut dilakukan oleh Fund Manager karena memang investasi tidaklah mudah. Banyak faktor dan risiko yang dapat secara signifikan mempengaruhi dana investasi. Selain itu, banyak instrumen investasi serta nama aset yang dapat dipilih pun menambah kerumitan investasi.

Bagi masyarakat yang tidak memiliki waktu dan tenaga untuk melakukan investasi tersebut untuk dirinya, Reksa Dana dapatlah dipertimbangkan. Bagaimana bila masyarakat memiliki waktu dan tenaga atau setidaknya mau mengorbankan sebagian waktu dan tenaganya untuk mengelola investasi pribadinya ? Masih pentingkah Reksa Dana bagi Investor (kali ini mereka layak dinamakan Investor) tersebut ?

Satu Nilai yaitu “Net Aktiva Bersihatau NAB

The Primary Trader berargumen bahwa inti dari dan pentingnya Reksa Dana bukanlah karena mereka dikelola oleh tenaga profesional. Reksa Dana dapat berharga karena seluruh nilai aset portofolio Reksa Dana dihitung menjadi satu nilai (NAB atau Net Aktiva Bersih). Hal ini tentu memudahkan siapapun untuk menghitung kinerja investasinya.

Bayangkan bila Investor perlu menghitung kinerja investasi 20 saham yang telah dibelinya. Tentu akan lebih mudah bagi Investor tersebut untuk menghitung kinerja investasi bila dana investasi (senilai pembelian 20 saham) dihitung berdasarkan kinerja NAB dari Reksa Dana yang Investor tersebut beli.

Size Does Matter

Dengan mengumpulkan dana masyarakat, tentunya nilai uang yang diinvestasikan pada Reksa Dana tidaklah kecil. Oleh karena itu, Fund Manager dapat memilih instrumen investasi yang lebih banyak dibanding Investor Ritel. Selain itu, proses investasi yang dilakukan pun dapat lebih efisien serta lebih murah. Contoh gampangnya adalah dalam berinvestasi pada deposito. Bila dananya besar, tentu deposan dapat lebih mudah bernegosiasi dengan bank untuk mendapat tingkat suku bunga yang lebih tinggi.

Instrumen investasi yang dapat dipilih pun akan semakin bervariasi dengan dana investasi yang besar. Salah satu hal yang paling pasti adalah Investor (Fund Manager) dapat memilih instrumen obligasi sebagai bagian dari strategi investasi. Bagi Investor Ritel yang dananya terbatas, berinvestasi pada instrumen obligasi seringkali tidak menjadi pilihan yang tepat. Selain karena jarang ada obligasi dengan nilai kecil, harganya sering kali tidak bagus (di atas harga pasar bila mau beli atau di bawah harga pasar bila mau jual).

Perlukah Reksa Dana Bagi Investor ?

Risk Profile The Primary Trader cocok untuk berinvestasi pada saham. The Primary Trader sudah melakukan hal tersebut selama ini dengan berinvestasi sendiri pada saham – saham pilihan. Namun disaat masa seperti ini ketika investasi di saham kurang bagus, tentu harus ada Asset Allocation yang artinya ada perpindahan dana investasi dari instrumen saham ke instrumen lain. Dengan alasan inilah The Primary Trader memanfaatkan Reksa Dana Pendapatan Tetap yang berinvestasi pada aset Obligasi (terutama Obligasi Negara).

Investor Ritel dapat memanfaatkan berbagai macam Reksa Dana untuk menghasilkan alternatif portofolio selain saham. Dengan kata lain, Investor dapat menginvestasikan sebagian besar atau sebagian kecil dana di saham secara mandiri. Sisanya menggunakan Reksa Dana selain Reksa Dana Saham seperti Reksa Dana Pendapatan Tetap atau Reksa Dana Pasar Uang.

Kelola Investasi Saham Secara Mandiri

The Primary Trader lebih senang mengelola investasi saham sendiri dan berusaha membantu masyarakat dalam melakukan hal serupa. Oleh karena itulah website ini diluncurkan (secara resmi pada 1 Januari 2020) dalam rangka membantu masyarakat untuk berinvestasi saham secara mandiri. Kenapa mengelola saham secara mandiri?

The Primary Trader berpendapat bahwa pergerakan harga saham yang  jelas terlihat sangat mempengaruhi emosional Investor. Apabila Investor hanya melakukan subscription (membeli) Reksa Dana Saham saja tanpa mengetahui jenis saham – sahamnya, maka The Primary Trader yakin akan ada perasaan yang kurang puas terhadap bagaimanapun kinerja investasinya. Apalagi Reksa Dana Saham ditargetkan untuk mengalahkan atau bahkan hanya mengikuti pergerakan IHSG. Tentu hal ini akan membatasi potensi Return pada investasi saham, terlebih lagi dengan dana investasi yang sebenarnya tidak besar. Kecuali dana investasi lebih dari Rp10 miliar, The Primary Trader yakin masih mudah untuk berinvestasi pada 10 – 20 saham dan mendapat Return yang lebih besar dari IHSG dan kebanyakan Reksa Dana Saham lainnya.

Sebagai bukti, banyak saham – saham yang The Primary Trader yakin masyarakat yang bahkan tidak awam dengan investasi mengetahui perusahaan Telkom (TLKM), BCA (BBCA) dan Indofood (INDF). Ketiga saham tersebut tergolong Blue Chips yang memiliki kredibilitas kuat di mata Investor bahkan Investor Global (!). Oleh karena itu, Investor Retail masih boleh untuk tidak banyak memperhatikan kondisi fundamental ketiga perusahaan tersebut. Cukup menggunakan logika sederhana dan atau menggunakan Timing tanpa perlu banyak pertimbangan lalu beli saham – saham tersebut.

Sudah siap berinvestasi saham ?

Silahkan follow terus Website ini.

Bullish or Bearish in 2020?

VIX Dalam Posisi Naik

VIX Index yang mengindikasikan volatilitas S&P500 dalam posisi naik yang berarti ada ancaman penurunan pada S&P500. VIX telah stabil di level rendah dari sejak akhir Okt’19 namun sejak awal Nov’19, ada indikasi VIX naik dari level 12 (Bottom) menuju Resistance terdekat di 20.

Perlu diingat bahwa VIX telah turun dari akhir Sept’19 dari level 20 karena ada harapan The Fed memastikan tren penurunan Fed Fund Rate dan adanya harapan Trade Deal AS – China. Di saat VIX mendarat di level 12an (yang mengindikasikan risiko pasar telah berkurang), The Fed memberikan pernyataan untuk mempertahankan Fed Fund Rate. Pada saat itu memang The Fed kembali menurunkan Fed Fund Rate dari 2% menjadi 1.75%. Namun Investor kecewa karena tidak ada Aggressive Cut Rate dan bahkan mungkin tidak ada lagi Cut Rate sampai ada indikasi ekonomi benar – benar memburuk.

The Primary Trader sudah tidak percaya harapan Trade Deal sampai AS dan China menandatangani Deal tersebut. Menjelang akhir Okt’19, masing – masing pihak mengklaim sudah mensepakati fase awal perdagangan. Keduanya bahkan sedang mencari lokasi pertemuan dan tanda tangan fase satu karena agenda pertemuan multilateral di Chili batal karena situasi keamanan di sana. Tentu dapat dimaklumi keengganan China untuk menandatangani perpanjian fase satu di AS. Belum sempat disepakati lokasi pertemuan, perjanjian dagang fase satu terancam batal dan baru – baru ini Trump mengancam akan menaikkan tarif impor barang dari China lebih besar lagi bila perjanjian fase satu ini batal. The Primary Trader rasa memang selama Trump menjabat sebagai Presiden AS, perang dagang AS dengan negara lain (setelah China, tampaknya genderang perang dagang dengan Uni Eropa akan dibunyikan).

S&P500 Dalam Throwback

Dampak utama dari kenaikan VIX adalah S&P500 terancam turun. S&P500 saat ini telah Breakout 3,000 (dan berada di All Time High) dan dalam Uptrend lanjutan menuju 3,300. Secara jangka pendek, S&P500 sendiri telah Overbought dan memang terancam turun sebagai Tech. Correction. Lebih khusus lagi, menurut The Primary Trader, Tech. Correction yang terjadi paska Breakout Resistance adalah Throwback. Fase Throwback wajar yang tidak membatalkan Uptrend adalah sampai level Resistance (saat ini Support) yang telah di-Breakout tersebut. Dalam hal ini, Throwback S&P500 seharusnya tidak sampai di bawah 3,000 agar S&P500 masih terindikasi valid Uptrend menuju 3,300.

Live chart di sini.

The Primary Trader melihat penurunan yang berpotensi terjadi adalah level yang tepat untuk melakukan Buy on Weakness (untuk saham – saham di AS). Tentu akan sedikit berbeda dengan saham di Indonesia.

Uptrend di Emas, Tanda Buruk di Perekonomian

Emas dapat dianggap sebagai Safe Heaven. Emas akan sangat berharga di saat aset lain tidak ada harganya. Dengan kata lain, menurut The Primary Trader, emas menjadi investasi yang sangat baik di saat kondisi buruk seperti perang atau resesi atau bahkan krisis.

Oleh karena itu, emas yang dalam kondisi Uptrend sejak akhir 2018 adalah tanda bahwa Investor mengkhawatirkan kondisi yang buruk sebagai akibat dari Trade War. Selain itu perlu diingat juga bahwa tahun 2018 adalah kondisi dimana The Fed mulai berpikir untuk menaikkan Fed Fund Rate (normalisasi).

The Primary Trader memperkirakan Uptrend emas belum berakhir meskipun terjadi penurunan dari sejak Sept’19. The Primary Trader melihat penurunan emas yang terjadi 3 bulan terakhir membentuk pola Bullish Continuation. Artinya adalah Uptrend emas yang telah dikonfirmasi setelah Breakout USD1,370 di Jun’19 masih akan berlanjut.

Emas berpotensi naik sampai USD1,700 paska Breakout USD1,370. Dengan demikian, setelah Bullish Continuation selesai, emas masih berpotensi naik sampai USD1,700. Pola Bullish Continuation yang terjadi sejak Sept’19 pun memiliki target dan target tersebut berada di USD1,800. All Time High emas ada di USD1,920an pada saat krisis hutang Yunani. Level USD1,800 menjadi Resistance penting karena beberapa kali emas berusaha terus naik namun gagal.

The Primary Trader percaya emas masih akan naik dan hal ini merupakan salah satu bukti kuat bahwa Investor mengkhawatirkan terjadinya sesuatu yang buruk (resesi ekonomi) di tahun 2020.

Strategi Investasi

Resesi ekonomi membuat investasi di saham tidaklah menarik. Namun tentu pada saat kondisi apapun telah terjadi, harga suatu aset sudah mencerminkan kondisi tersebut. Dengan demikian, pada saat Resesi benar terjadi di tahun 2020 maka harga aset (terutama saham) sudah turun dalam. Namun bila diperhatikan pergerakan S&P500 dan Yield Treasury US 10Yr, harga keduanya naik tinggi (!).

S&P500 berhasil naik sebesar 23% dari sejak awal tahun sementara Yield US Treasury 10Yr turun dari 2.68% menjadi 1.88%. Penurunan Yield berarti harga obligasi naik.

Live chart Yield US Treasury 10Yr di sini.

Memang perlu dikhawatirkan adanya resesi namun perlu juga dipertimbangkan resiko kehilangan kesempatan Uptrend.

The Primary Trader meyakini IHSG sedang di tahap akhir pola Bullish Continuation jangka panjang. Bila pola ini selesai dan terkonfirmasi maka IHSG akan mengawali Uptrend dalam jangka panjang dengan potensi menuju 8,000. Persyaratan untuk berharap IHSG Uptrend dan naik sebesar 30% dalam 3-5 tahun ke depan pun sudah ada yaitu antara lain dengan pembangunan infrastruktur di Jawa, perpindahan Ibukota yang menumbuhkan pusat pertumbuhan ekonomi baru, Kabinet Indonesia Maju (dengan Sri Mulyani kembali sebagai Menteri Keuangan), deregulasi serta proses awal industrialisasi yang bermodalkan komoditas dalam negeri.

Awal Uptrend jangka panjang IHSG adalah ditandai dengan Breakout 6,500. Hal ini merupakan tanda bahwa pola Bullish Continuation selesai dan terkonfirmasi. Oleh karena itu, The Primary Trader sedang menunggu (dan berharap) IHSG Breakout 6,500.

AJKSE - weekly 11/13/2019 open 6171.44, Hi 6183.83, LO 6127.88, Close 6142.5 (-0.6%) 
261.8% 
200.0% 
po.0% 
61.8 
50.0% 
38.2% 
www.theprimarytrader.com 
2019 
6,500 
7935.58 
7014.49 
6100 
5524.04 
4954.68 
4778.81 
4602.94 
2016 
AJKSE - Trade value (RP Mn) 
.00, 
2017 
Weekly Avg 
2018 
(Rp Mn) — 
, Monthly Avg 
8,000 
7,500 
7,000 
6,500 
6,000 
5,500 
5,000 
4,500 
700M 
481,464,: 
445,237,' 
300M 
Created Ami Broker 
charting ane technical analysis soft.vare. htt

Meski demikian, perlu diwaspadai bahwa pola Bullish Continuation pun berpotensi batal – bila IHSG Breakdown Support. IHSG akan Breakdown Support pola Bullish Continuation bila turun di bawah 5,900. Artinya adalah bila IHSG turun di bawah 5,900 maka pola Bullish Continuation jangka panjang yang menjanjikan IHSG naik 30% menuju 8,000 dalam 3-5 tahun ke depan berpotensi batal.

The Primary Trader akan mewaspadai bila dalam waktu dekat, IHSG turun di bawah 6,100.

Ikuti pergerakan live chart -nya di sini.

The Primary Trader Daily 13 Nov’19

Sudah Bottom-kah IHSG ?

Pergerakan IHSG di 3Q19 tampaknya kurang bagus karena sentimen laporan keuangan serta adanya ketidakjelasan dari Trade War AS – China. Penurunan suku bunga The Fed pun tidak terlalu menolong karena The Fed tampaknya enggan melanjutkan kebijakan Cut Rate – yang sangat ditunggu Investor. Tren Cut Rate justru dilakukan oleh Bank Indonesia namun dampaknya kemungkinan besar baru akan terasa di tahun 2020 (untuk pasar saham).

The Primary Trader beropini bahwa IHSG sudah mengakhiri Sideways-nya dan bersiap untuk mengawali tren – baik Uptrend maupun Downtrend.

Dandy Rotation

Saham di kuadran Outperform yang layak menjadi pertimbangan utama adalah BRPT, MAIN, INTP, DMAS dan BPTS. Saham alternatif (diluar kuadran Outperform) yang dapat dipertimbangkan adalah BBNI dan MNCN.

DMAS sangat berpotensi menjadi incaran Investor seiring memasuki tahun 2020 dimana diperkirakan akan semakin banyak investasi yang masuk dimana salah satunya adalah dengan membangun pabrik di kawasan industri.

Ada indikasi perbaikan di sektor Cement yang mana berpengaruh juga dengan INTP (selain positif untuk SMGR). Harga jual semen INTP yang Flat di tahun 2019 (tidak turun) mengindikasikan kompetisi di sektor Cement mulai berkurang. Dengan kembalinya sifat Oligopoli di sektor Cement, seperti SMGR, INTP pun berpotensi mendapat keuntungan.

The Primary Trader menyukai potensi bisnis Media yang banyak terkait dengan unsur teknologi. MNCN tampaknya adalah yang paling siap untuk masuk ke bisnis Over The Top dibanding SCMA. Selain itu, ada sentimen positif pada MNCN karena Angela Tanoesoedibjo menjadi Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

Bottoming-kah IHSG ?

Pergerakan Sektor Penggerak IHSG

Menggunakan grafik “Trend and Momentum in Sectors” pada 2 tanggal yaitu 11 – 12 Nov’19, The Primary Trader melihat ada potensi sektor – sektor Big Cap seperti Auto dan Telecom mendorong IHSG. Sektor Auto di 11 Nov’19 masih berada di dalam kondisi Downtrend namun Oversold.

Pada 12 Nov’19, sektor Auto sudah berada di luar kondisi Oversold yaitu Netral namun masih dalam kondisi Downtrend. Hal ini menandakan adanya kenaikan. Meski berada di area Netral pada 11 – 12 Nov’19, sektor Telecom mencatat kenaikan pada sumbu x yaitu Momentum Meter (menggunakan Stoch. Osc). Artinya adalah ada kenaikan harga pada sektor Telecom namun masih ada Upside Potential karena belum Overbought.

Sektor lain yang menurut The Primary Trader menjadi pendorong IHSG adalah FMCG dan Banking dimana kedua relatif stabil berada di area Netral namun dalam kondisi Downtrend (di sebelah kiri sumbu y atau Trend Meter yang menggunakan indikator %B dari Bollinger Band). Masih ada potensi kenaikan sebelumnya kedua sektor masuk ke area Overbought seperti pada sektor Tower, Coal dan Paper.

Meski perlahan, sektor Industrial Area tampaknya mulai bergerak naik dan masih dapat diperhatikan karena masih dalam kondisi Netral. Begitupun dengan sektor Oil&Gas yang berbasis komoditas dimana ada kenaikan perlahan namun masih dalam kondis Netral. Kedua sektor tersebut masih memiliki Upside Potential sebelum mencatat Overbought.

Pergerakan Saham Penggerak IHSG

Pergerakan saham di sektor Auto (ASII) dan Telecom (TLKM, EXCL dan ISAT) menunjukkan potensi ASII dan TLKM sebagai pendorong IHSG. Dari pergerakan sejak Agus’19, ada indikasi ASII telah membentuk Bottoming karena penurunannya telah tertahan (indikasi Double Bottom dari Agust’19 dan Okt’19). Sementara itu, TLKM dari sejak Mei’19 telah berada dalam Uptrend. Dengan demikian, penurunan dari sejak Agust’19 terlihat sebagai bagian dari Tech. Correction atau penurunan singkat untuk melanjutkan Uptrend.

BBCA tidak diragukan lagi berhasil menopang IHSG selama ini. Dari Bank BUMN, BBRI bersama BBCA menjaga IHSG tidak turun jauh. Saham Bank BUMN yang berpotensi menopang dan mengangkat IHSG dalam waktu dekat adalah BBNI dan BMRI yang saat ini mencatat Negative Return (dari awal tahun ). Ada indikasi BBNI dan BMRI telah menyentuh Bottom di Okt’19 yang kemungkinan adalah sebagai reaksi antisipasi kinerja 3Q19 yang diperkirakan kurang bagus (namun ternyata hasilnya tidak terlalu mengecewakan).

Sektor FMCG seperti INDF dan ICBP bergerak menarik di 2H19 seiring dengan sentimen negatif atau faktor Pemilu selesai. Ekonomi Indonesia terbukti bertahan karena adanya Domestic Consumption yang memang menjadi sentimen positif untuk sektor FMCG. UNVR sebagai saham besar yang mulai kehilangan sentimen positif-nya tampaknya sulit diharapkan untuk naik dan mendorong IHSG. Hal ini karena menurut The Primary Trader, ada pertumbuhan pada sektor konsumsi makanan seperti INDF dan IBCP. Meksi kebutuhan semakin banyak namun sektor bisnis UNVR dapat dikatakan sudah dalam fase Mature sehingga sulit tumbuh.

Sudah Bottom – kah IHSG?

Volatilitas IHSG dari sejak awal tahun 2019 semakin mengecil. IHSG sempat naik sampai 6% di 1Q19 namun juga sempat turun -6% di 2Q19. Pergerakan IHSG di 2H19 relatif hanya naik sampai 4% – 5% dan hanya turun -3% (dari awal tahun 2019).

Penurunan volatilitas menurut The Primary Trader adalah awal dari suatu tren baik Uptrend maupun Downtrend. Oleh karena itu, The Primary Trader memperkirakan IHSG akan segera mengawali Uptrend. Perlu diingat juga bahwa penurunan volatilitas dapat juga mengindikasikan awal Downtrend. Oleh karena itu, perlu diwaspadai bila terjadi Breakdown pada IHSG.

Level Support Psikologis IHSG saat ini ada di 6,000 dan atau 6,100. The Primary Trader memilih menggunakan Support Psikologis di 6,100 untuk menandakan awal Downtrend – bila terjadi Breakdown 6,100. IHSG perlu Breakout 6,500 untuk memulai Uptrend. The Primary Trader percaya IHSG akan mengawali Uptrend (segera) yang ditandai dengan Breakout 6,500.

INDF : Bersiap Menggantikan UNVR Sebagai Saham Penopang IHSG

Perbedaan Market Cap

The Primary Trader menyadari perbedaan Market Cap INDF dengan UNVR sangatlah jauh. Berdasarkan data per 12 November 2019 (melalui STAR dan Samuel Sekuritas), Market Cap INDF adalah sebesar Rp69.5 triliun dengan Index Weight sebesar 0.98% sementara Market Cap UNVR adalah sebesar Rp282 triliun dan Index Weight sebesar 4.61%. “Nilai” UNVR hampir 4x INDF dan hal ini membuat UNVR sangat sulit digantikan oleh INDF.

Potensi Menarik Dari Mie Instant Dan CPO

The Primary Trader melihat ada potensi INDF bergerak lebih menarik dari UNVR karena potensi bisnis dari INDF itu sendiri. Keduanya masuk ke dalam sektor Consumer Goods Industry namun INDF masuk ke sub sektor Food and Beverages sementara UNVR masuk ke sub sektor Cosmetics and Household. Hal inilah yang berpotensi menjadi katalis INDF menjadi lebih menarik dibanding UNVR – dan kemungkinan Investor beralih dari UNVR ke INDF.

Salah satu hal yang membuat INDF menarik adalah bisnis Mie Instan (ICBP) dan CPO (LSIP dan SIMP). Kedua bisnis tersebut berpotensi mendorong INDF dan menjadi lebih menarik bagi Investor dibanding UNVR. Untuk Mie Instan, harga gandum yang relatif rendah (turun dari 55% dari sejak 2013) dalam mendorong marjin ICBP (Gross Margin di 3Q19 : 35.1% vs 3Q18 : 32.9%). Inovasi rasa yang dilakukan pun berhasil membuat ICBP tetap menguasai pasar mie instan.

Bisnis lain dari INDF (yang cukup signifikan) adalah CPO dimana INDF memiliki porsi di LSIP dan SIMP. Untuk CPO, ada potenis menarik karena di tahun 2020, pemerintah menaikkan kandungan CPO di dalam Biodiesel dari 20% saat ini (B20) menjadi 30% (B30). Hal ini tentu akan meningkatkan permintaan CPO di dalam negeri. Selain itu, Malaysia mengatakan minat untuk mengikuti langkah serupa. Hal ini menjadi katalis positif untuk harga CPO.

Saat ini harga CPO Malaysia sudah dalam Uptrend setelah Bullish Reversal telah terkonfirmasi dengan Breakout Resistance MYR3,000 di Okt’19 lalu. CPO Malaysia setidaknya dapat naik sampai MYR2,700 namun terbuka untuk terus naik sampai MYR2,850 dan MYR3,200.

Bullish Continuation Ditengah Bullish Reversal

The Primary Trader melihat INDF sedang di awal Uptrend setelah Downtrend terkonfirmasi berakhir di awal tahun 2019 (dengan Breakout Down Trendline di Rp6,000). INDF berpotensi melanjutkan Uptrend menuju Rp10,000 setelah Breakout Rp8,000 (yang mana The Primary Trader perkirakan terjadi di bulan Nov’19 atau setidaknya tahun 2019 ini). Breakout Rp8,000 akan mengonfirmasi pola Bullish Reversal yang telah terbentuk sejak awal tahun 2019. Breakout Rp8,000 pun akan mengonfirmasi pola Bullish Continuation yang terbentuk sejak Sept’19 sebagai bagian dari Bullish Reversal. Hal inilah yang menurut The Primary Trader menambah peluang Uptrend untuk INDF.

INDF Berpotensi Outperform UNVR

Berdasarkan Ratio Chart antara INDF terhadap UNVR, memang terbukti UNVR menjadi saham Defensif (seperti pada tahun 2008, 2011, 2013 dan 2015) dimana apabila Ratio Chart-nya turun maka hal ini menunjukkan UNVR lebih baik daripada INDF. Namun The Primary Trader melihat adanya indikasi Bullish Reversal jangka panjang (dari sejak 2015, menyerupai Double Bottom). Hal ini menunjukkan ada potensi INDF berada dalam tren Outperform terhadap UNVR – dalam jangka panjang.

Valuasi PE TTM INDF masih murah

Berdasarkan valuasi menggunakan PE TTM (4 kuartal terakhir) – favorit The Primary Trader, INDF masih murah karena di bawah rata – rata 3 tahun terakhir. PE TTM INDF saat ini di level 14.3x sementara rata – rata 3 tahun adalah sebesar 15.5x. Bila INDF menyentuh level 15.5x maka harga saham INDF ada di Rp8,600.

The Primary Trader Daily 12 Nov’19

Dandy Rotation

Berdasarkan Dandy Rotation, DMAS dan INDF berada pada kuadran Outperform serta mendapat sinyal Buy (Alert Buy untuk DMAS dan Buy Now untuk INDF). The Primary Trader menyukai keduanya karena sektornya. Untuk DMAS tentu karena di sektor Industrial Area yang mulai tumbuh di tahun 2019 dan juga diperkirakan tahun 2020.

INDF tampaknya mulai semakin dilirik Investor karena Mass Market Product-nya yang berorientasi Domestic Consumption dimana terbukti kuat bertahan di tengah perlambatan ekonomi dunia. The Primary Trader mulai berpikir Investor mencari pengganti saham Consumer yang Defensif menggantikan UNVR dan Cigarettes (HMSP dan GGRM). INDF memilki bisnis Agribisnis khususnya CPO yang berasal dari anak usaha SIMP dan LSIP. Harga CPO yang mulai naik (38% dari Jul’19) pun menjadi katalis positif untuk INDF (selain tentu saham sektor CPO).

Banyaknya saham yang berwarna Merah (dalam Downtrend) serta berada di kuadran Underperform khususnya saham – saham berbasis Infrastructure dan Consumer perlu mendapat perhatian khusus. Hal ini akan menyebabkan IHSG masih terkendala untuk naik dan mungkin masih akan melemah (atau setidaknya masih dalam proses Bottoming di 6,100an).

Saham SCMA sudah naik cukup tinggi namun karena berada kuadran Outperform maka saham tersebut layak diperhatikan. Selain itu, ada harapan sektor Media mulai membaik yang didahului oleh MNCN. Memang The Primary Trader pun lebih menyukai MNCN dibanding SCMA namun tetap SCMA layak dipertimbangkan.

Technical Theme : Undershoot

The Primary Trader menyebut kondisi Undershoot adalah dimana harga saham berada di bawah Middle Band dari Bollinger Band. Hal ini berarti harga saham telah berada di nilai ekstrem dari distribusi normal yang umumnya hanya terjadi (peluangnya adalah) sebesar 5%. Oleh karena itu, saham – saham Undershoot dapat dipertimbangkan untuk Buy on Weakness.

Berdasarkan pergerakan 11 Nov’19, ada beberapa saham yang tercatat dalam kondisi Undershoot. The Primary Trader menyukai saham – saham sebagai berikut : ADHI, EXCL dan BJBR.

Khusus untuk EXCL, masuknya EXCL ke dalam indeks MSCI menjadi katalis positif karena mendatangkan minat beli dari Investor Asing yang men-track indeks MSCI. Selain itu, kinerja EXCL sendiri memang bagus. Pada 9M19 kemarin, laba bersih EXCL tercatat sebesar Rp498 miliar dari rugi bersih Rp144 miliar di 9M18 . Selain itu, pendapatan 9M19 EXCL pun melonjak sebesar 10.8% YoY.

PWON : Segera Outperform Ditopang Superblock di Bekasi

Kokas

Superblok di Bekasi

PWON akan segera membangun superblok di lahan di Bekasi dengan investasi sebesar Rp2 triliun. PWON memiliki cadangan lahan Bekasi seluas 3.6 ha, hampir 2x luas Gandaria City atau setidaknya 1/2 dari lahan Kota Kasablanka. Ada potensi pertumbuhan PWON ke depan akan berasal dari superblok Bekasi ini karena di Bekasi akan dilewati oleh LRT Jabodetabek dan HSR Jakarta – Bandung. Selain itu, semakin banyak pabrik yang akan dibangun di daerah Bekasi, Karawang dan Purwakarta yang berarti semakin banyak masyarakat yang tinggal di area tersebut.

The Primary Trader percaya proyek PWON di Bekasi akan dapat sukses seperti halnya di Kota Kasablanka dan Gandaria City. Terlebih lagi, menurut The Primary Trader, tidak banyak mal di Bekasi yang mengincar kelas menengah atas namun tetap ramah bagi menengah bawah seperti mal milik PWON. Selain itu, meski ada beberapa mal keluarga, namun The Primary Trader rasa mal keluarga yang dimiliki PWON masih lebih disukai masyarakat.

Dampak Beroperasinya Gandaria City dan Kota Kasablanka

Gandaria City (2010) dan Kota Kasablanka (2012) memberikan dampak positif bagi PWON karena memiliki mal yang terkenal di Jakarta. PWON sendiri memang lebih banyak memiliki bisnis di Surabaya namun pendapatan yang bersumber di Jakarta sudah mencapai ~40%. Dengan demikian, sulit untuk tidak melihat dampak positif dari beroperasinya superblok PWON di Bekasi.

Membentuk Bottom

The Primary Trader melihat PWON sedang dalam Downtrend dari sejak Jun’19 dari sejak Rp825 namun di kisaran Rp580, The Primary Trader percaya PWON akan atau sedang membentuk Bottoming unutk mengakhiri Downtrend tersebut. PWON masih harus Breakout Rp650 untuk melanjutkan Uptrend menuju Rp850 (setidaknya). Bila ternyata PWON turun di bawah Rp550 maka PWON terancam terus turun menuju Support kuat di Rp420 – Rp450an (seperti Bottom di Okt’18).

Ikuti live chat di sini.

Lagging Diantara Saham Properti Lain

PWON mencatat Negative Return sebesar 8% YTD (Year to Date atau dari sejak awal tahun) sementara CTRA berhasil mencatat Return sebesar 5.4% dan bahkan BSDE mencatat Return sebesar 9.9%.

Sebenarnya PWON adalah saham properti yang bersifat Defensive karena lebih dari 30% pendapatan PWON adalah Recurring Income dari sewa ruangan serta jasa pemeliharaan. Di tahun 2018, BSDE dan CTRA mencatat Negative Return double digit, PWON hanya mencatat Negative Return -9.5%.

Kinerja di tahun 2018 tersebut adalah setelah PWON mencatat kinerja yang sangat Outperform dibandinng BSDE dan CTRA yaitu dengan mencatat Return sebesar 21.2% (sementara BSDE dan CTRA mencatat Negative Return).

Segera Kembali Outperform

Oleh karena itu, The Primary Trader berpendapat bahwa PWON akan segera mengakhiri kinerja Underperform yang sedang terjadi saat ini. Di tahun 2020, The Primary Trader perkirakan PWON akan segera bergerak Outperform ditopang oleh proses dan potensi superblock di Bekasi.

Yield SUN10Yr Bersiap Turun

view of city at airport

Current Account Deficit (CAD) 3Q19 Turun, Bersiap Capital Inflow

Bank Indonesia melaporkan Defisit Neraca Transaksi Berjalan (Current Account Deficit atau CAD) di 3Q19 sebesar USD7.7 miliar atau 2.7% dari GDP. CAD 3Q19 membaik karena lebih kecil dari CAD 2Q19 sebesar 2.93% dari GDP.

Tampaknya perbaikan CAD 3Q19 lebih disebabkan karena ada investasi masuk ke Corporate Bond (sebagai Portfolio Investment) ke Pertamina dan PLN yang baru saja mengeluarkan Global Corporate Bond. Selain itu, tidak adanya pembayaran Dividend ke Investor luar negeri seperti di 2Q19 pun menjaga CAD.

The Primary Trader menilai dampak dari perbaikan CAD di 3Q19 akan membuat Investor Asing semakin tertarik berinvestasi di Indonesia. Investor saat ini sedang berharap akan ada Upgrade Rating bagi Indonesia dari peringkat efek, setidaknya dari Fitch atau Moody’s. Bahkan tidak tertutup kemungkinan S&P kembali menaikkan rating seiring dengan harapan tim ekonomi Jokowi di periode 2 (yang ditopang oleh Sri Mulyani yang kembali menjabat sebagai Menteri Keuangan).

Rupiah Dalam Tren Menguat

Penguatan Rupiah dengan potensi menuju Rp13,600 mengindikasikan Investor Asing memandang Indonesia dengan positif. Rupiah sendiri sedang bersiap Breakdown Support di Rp13,900 untuk terus menguat dengan potensi menuju Rp13,600. Meski demikian, kemungkinan Rupiah dijaga oleh BI di kisaran Rp14,000an mungkin akan membatalkan penguatan menuju Rp13,600 tersebut. Setidaknya untuk Rupiah, selama volatilitas menurun (stabil) maka hal tersebut sudah menjadi katalis dan sentimen positif. Rupiah sendiri mulai less-volatile sejak Jun’19.

Ikuti live chart di sini

Begitupun dengan Yield Obligasi Negara

Yield SUN10Yr yang mewakili pasar obligasi di Indonesia memastikan dalam Downtrend sejak awal Okt’19 dengan turun di bawah 7.2%. Saat ini Yield sedang dalam Support di 7% namun setelah Breakdown 7.2% lalu, Yield sedang dalam Downtrend menuju setidaknya 6.5%.

Yield masih mempertahankan Downtrend dari sejak 9% di bulan Okt’18. Perlu diingat bahwa penurunan yield berarti kenaikan harga obligasi. Tentunya hal ini sebagai akibat dari minat dari Investor terutama Investor Asing (bila dihubungkan dengan penguatan Rupiah).

Ikuti live chart di sini 

Strategi The Primary Trader

Membaiknya data makro ekonomi seperti CAD tentu akan langsung berpengaruh dengan pasar obligasi karena berkaitan dengan makro suatu negara. Meski demikian, karena ada pengaruh dari penguatan Rupiah, tentu ada beberapa sektor saham yang dapat menjadi pilihan.

The Primary Trader menyukai sektor yang banyak melakukan impor seperti Retail (MAPI dan ACES) serta KLBF (Healthcare dan atau Pharmacy).

POWR : Diuntungkan dari pertumbuhan sektor kawasan industri

Pemain Jasa Penunjang di sektor Kawasan Industri

POWR memiliki 3 pembangkit listrik (PLTGU dan PLTG dengan total 864 MW dan PLTU 280 MW) dengan total 1,144 MW, salah satu pembangkit listrik swasta pertama dan terbesar di Indonesia. POWR melayani 5 kawasan industri di daerah Bekasi, Karawang dan Purwarkarta. Kawasan industri yang dilayani antara lain milik KIJA, BEST dan LPCK.

POWR mencatat kinerja yang positif di 3Q19 dengan laba naik 30% YoY meskipun pendapatan naik hanya 3% YoY.

Diuntungkan dari peningkatan permintaan kawasan industri

Di tahun 2018, penjualan kawasan industri milik DMAS, SSIA dan BEST turun menjadi 77 ha (dari 103 ha di tahun 2017). Ada peningkatan penjualan di 9M19 menjadi 59 ha dari 49 ha di 9M18. Diperkirakan penjualan lahan masih akan terus naik seiring penambahan tersebut baru dimulai di akhir 2Q19 paska Pemilu Presiden 2019.

Peningkatan penjualan lahan kawasan industri pun ditopang oleh niat pemerintah untuk mendorong pertumbuhan industri terutama manufaktur. Oleh karena itu, akan semakin banyak pabrik yang dibangun terutama di kawasan industri milik DMAS, SSIA dan BEST. Dengan demikian, ada harapan peningkatan permintaan listrik milik POWR.

Buy Back Saham

POWR sedang dalam program Buy Back Saham yang menjadi katalis positif bagi harga saham tersebut. Program tersebut dimulai sejak akhir Okt’18 dan akan berakhir di pertengahan tahun 2020.

Valuasi Murah

The Primary Trader senang menggunakan PE TTM atau Price to Earning Ratio dari 4 kuartal terakhir. Hal ini karena PE TTM cenderung lebih bebas dari bias estimasi dan prediksi analis.

PE TTM POWR saat ini di 12.5x dan masih di bawah rata – rata PE TTM sejak 3 tahun terakhir atau sejak POWR IPO di 2Q17 yaitu di 16x. Masih ada potensi POWR naik setidaknya mendekati PE TTM di 16x dimana pada saat ini, harga POWR berpotensi mencapai Rp1,330.

Di Awal Uptrend

POWR telah memulai Uptrend dari sejak Breakout Rp1,000 di Sept’19 yang mengonfirmasi pola Bullish Reversal. POWR pun telah mencapai target di Rp1,200 namun karena pola tersebut menandakan awal Uptrend maka The Primary Trader percaya POWR masih dapat terus naik sebagai Uptrend setidaknya menuju Rp1,400.

Saat ini POWR dalam fase Throwback yaitu penurunan singkat untuk menguji Support di Rp1,000. Dengan tetap bertahan di Rp1,000 maka POWR masih dalam Uptrend kembali ke Rp1,200 lalu menuju Rp1,400.

Ikuti live chart di sini.

Sumber Risiko Terbesar dari Pasar Keuangan Global di Tahun 2020

Photo by Jason Leung on Unsplash

The Primary Trader membaca artikel dari CNBC mengenai risiko – risiko terbesar di pasar keuangan tahun 2020. Beberapa hal yang The Primary Trader catat adalah :

Berlanjutnya Trade War AS – China karena Trade Deal yang terdengung kencang 2 minggu terakhir kembali tidak jelas.

Perlambatan ekonomi China yang mencapai 6% di 3Q19. Memang tidak masalah pertumbuhan ekonomi sebesar itu (hampir 2x dari pertumbuhan ekonomi dunia yang sebesar ~3%) namun perlu diingat hutang di China sangat besar sehingga diperlukan pertumbuhan ekonomi yang tumbuh (bukan melambat seperti yang terlihat sekarang ini) untuk terus menjaga hutang tetap sehat (masih dapat dibayar bunganya dan dilunasi pokoknya).

China GDP Annual Growth Rate

Politik di AS dimana proses pemakzulan Trump telah dimulai serta adanya Pemilu Presiden AS di tahun 2020.

Dan yang terpenting tentu bank sentral AS yaitu The Federal Reserve yang pada FOMC Meeting terakhir menurunkan Fed Fund Rate sebesar 0.25% menjadi 1.75% namun akan terus mempertahankan rate sebesar 1.75% kecuali ekonomi AS terbukti melambat (ekonomi AS di 3Q19 tumbuh 1.9% disaat diperkirakan tumbuh lebih lambat yaitu 1.6%). Investor mengharapkan The Fed secara agresif menurunkan suku bunga terutama dalam menghadapi ancaman resesi di tahun 2020.

United States Fed Funds Rate

Dampak terhadap IHSG ?

Ancaman resesi serta perlambatan ekonomi suatu negara apalagi banyak negara (global) adalah penggerak pasar saham namun ke bawah (turun atau menjadi sentimen negatif). Oleh karena itu, ancaman resesi menjadi alasan untuk menghindari pasar saham atau setidaknya lebih berhati – hati dan selektif sekali dalam memilih sektor dan saham.

Sebuah Awal

Photo by Anna Auza on Unsplash

The Primary Trader mencoba untuk berpikir ulang mengenai bisnis Primary Trader Advisory yang telah dijalani sejak tahun 2016. Setelah bermitra dengan sahabat di Bandung dan menjalankan bisnis yang sama secara mandiri, The Primary Trader akhirnya terpanggil untuk tetap melakukan yang sama namun kali ini bukan bisnis melainkan berbagi sebagai panggilan sosial.

The Primary Trader banyak membaca rekomendasi dan pembahasan saham (umumnya menggunakan analisis teknikal) yang menurut The Primary Trader kurang pas. Memang analisis serta tulisan yang ada pada Primary Trader Advisory selama pastinya bukanlah yang terbaik namun setidaknya The Primary Trader berani katakan bahwa analisis yang tercantum dan digunakan serta pemilihan saham pada Primary Trader Advisory dilakukan dengan dasar dan pertimbangan yang benar. Oleh karena itu, The Primary Trader rasa sangatlah baik dan membantu bila informasi yang sama diberikan kepada masyarakat luas serta Investor Ritel yang sulit mendapat akses informasi yang bagus.

The Primary Trader secara resmi akan memulai blog ini di 1 Januari 2020 namun per 10 November 2019 dapat dikatakan The Primary Trader mengadakan Soft Launching. Ditandai dengan posting tulisan ini serta perubahan theme di blog.

Simple Chart, Significant Signs

Simple Chart, Significant Signs

The Primary Trader menyukai anotasi yang sederhana pada chart dalam menerapkan analisis teknikal. Alasan utama adalah agar tidak membingungkan bagi pengguna termasuk The Primary Trader sendiri. Namun ada alasan lain yaitu menunjukkan Significant Signs atau tanda signifikan yang ingin kita tunjukkan dari chart tersebut.

Source : https://pixabay.com/vectors/safety-danger-keep-hands-clear-44462/

Pengalaman sebagai Analis Teknikal

The Primary Trader memiliki pengalaman sebagai Analis Teknikal di setidaknya 2 sekuritas besar (Trimegah dan Samuel). Hampir setiap hari The Primary Trader mengeluarkan rekomendasi saham – saham pilihan kepada semua nasabah sekuritas tersebut. Dengan demikian, dapat dipastikan laporan tersebut dibaca oleh nasabah baru yang awam maupun nasabah lama yang sudah ahli (termasuk Investor Institusi seperti Asuransi, Aset Manajemen dan Dana Pensiun).

Di awal – awal masa kerja The Primary Trader, banyak pertanyaan yang muncul tidak hanya dari nasabah baru melainkan juga dari nasabah lama mengenai cara baca chart tersebut. Tidak sedikit juga yang berkomentar bahwa chart yang ditampilkan terlalu rumit. Nasabah juga menanyakan apa kesimpulan dari chart tersebut, apakah Buy atau Sell ?.

Oleh karena itu The Primary Trader kemudian berpikir bahwa seringkali chart yang ditampilkan itu tidak jelas menunjukkan kesimpulan dan rekomendasi yang ingin disampaikan. Untuk menyatakan tujuan utama dari laporan itu, Buy atau Sell, saja seringkali tidak jelas. Yang paling fatal adalah chart tersebut tidak dapat menyampaikan strategi yang diusulkan sang analis.

Source : https://www.pexels.com/photo/wooden-signages-3143805/

Sederhana namun jelas dan tidak kontradiktif

Analis pasar modal khususnya di perusahaan sekuritas pada intinya adalah memberikan saran untuk Beli atau Jual. Begitupun dengan analis teknikal yang memberikan saran Beli atau Jual berdasarkan chart. Oleh karena itu, The Primary Trader menginginkan ada kejelasan – melalui chart – apakah pembaca disarankan untuk Beli atau Jual aset yang ditunjukkan pada chart.

Sebagai pengguna analisis teknikal, tentu hal terpenting dari analisis tersebut adalah Trend. Dengan demikian, The Primary Trader berpendapat bahwa chart harus menunjukkan dengan jelas (dan sederhana) Trend yang diperkirakan sedang berlangsung atau akan terjadi. Berdasarkan analisis trend pun sebenarnya sudah dapat diperkirakan apakah sarannya adalah Buy atau Sell. Dan tentu saja pada penjelasan, sebaiknya sang analis tidak merekomendasikan hal yang kontradiktif seperti contoh : pada chart jelas terlihat Uptrend dan masih akan Uptrend namun sang analis menulis rekomendasi Sell.

The Primary Trader pun lebih suka menggambar dan menyukai chart yang sederhana. Menurut The Primary Trader, sederhana berarti dalam chart terdapat 3-5 garis (termasuk bentuk lingkaran atau segitiga) serta 1-2 indikator. Bentuk chart sederhana yang The Primary Trader maksud ada pada blog dan media sosial yang The Primary Trader tampilkan.

Contoh

The Primary Trader menggunakan Yield Obligasi Jerman 10 Tahun. Berikut adalah chart dengan anotasi menurut The Primary Trader masih banyak mengandung garis yang tidak signifikan :

Berikut adalah chart yang menurut The Primary Trader sederhana namun mengandung garis yang signifikan :

Berdasarkan grafik di atas, The Primary Trader ingin menyampaikan bahwa Yield Obligasi Jerman 10 Tahun sudah Breakout Down Trendline serta telah Rebound dari Support kuat di Jul’17. Tidak perlu memunculkan garis lain yang relatif tidak menunjukkan apa – apa (saat ini di Nov’19).

Semoga bermanfaat.