What Trade War ? Bursa AS dan China dalam Uptrend

Uptrend dari Awal Tahun 2019

The Primary Trader memperhatikan bursa saham AS dan China dimana S&P500, Dow Jones dan Shanghai Composite justru dalam Uptrend sejak awal tahun. Sampai 15 November 2019 (hampir Full Year 2019), ketiganya mencatat Return yang sangat tinggi antara 15% – 25%. Bila memang Trade War mengancam ekonomi kedua negara bahkan dunia maka seharusnya bursa saham pun ikut turun mengikuti ancaman terhadap ekonomi AS dan China.

Ikuti Live Chart di sini.

Pertumbuhan Ekonomi AS dan China

Ekonomi China memang terpukul terutama dari sejak tahun 2010 setelah mencatat pertumbuhan ekonomi sekitar 12% YoY. Pada 3Q19, ekonomi China tumbuh sebesar 6% YoY. Memang masih dapat dikatakan Soft Landing dan pertumbuhan 6% itu tinggi (!). Namun demikian, yang perlu diperhatikan saat ini adalah hutang yang ada pada ekonomi China dan hutang tersebut perlu pertumbuhan ekonomi agar dapat dilunasi. Oleh karena itu, banyak Investor khawatir dampak ekonomi China karena Trade War.

China GDP Annual Growth Rate

Di sisi lain, sebagai pencetus Trade War, ekonomi AS berhasil tumbuh relatif stabil walau tetap terlihat perlemahan. Namun berdasarkan data 3Q19, ekonomi AS berhasil tumbuh sebesar 1.9%, di atas estimasi sebesar 1.6%. Hal ini tentu cukup mengejutkan karena tampaknya ada harapan Trade War berhasil dimenangkan oleh AS sebagai pencetus.

United States GDP Growth Rate

Kenapa ?

The Primary Trader menilai bahwa konsumsi domestik yang disebabkan adanya Disruptive Economy (Startup) yang cenderung masih dalam tahap ‘membakar duit’ berhasil menopang ekonomi AS. Perlu diingat bahwa konsumsi di 3Q19 masih belum dapat dianggap sebagai konsumsi akhir tahun (Thanksgiving, Natal dan Tahun Baru) di AS sementara pada musim tersebut, penjualan hampir selalu tinggi setiap tahun. Oleh karena itu, ada peluang ekonomi AS di 4Q19 pun akan tinggi. Hal ini tentu akan menjadi katalis signifikan karena Investor akan mulai melihat ancaman resesi berkurang dan Investor akan “FOMO” atau Fear of Missing Out dari Uptrend saham – saham AS.

Bagaimana Strateginya ?

The Primary Trader percaya Market Cycle dimana Bullish itu di akhiri ketika semua Investor percaya dan menjadi sangat yakin Bullish akan berlangsung lebih lama lagi (jika tidak selamanya). Saat ini tampaknya masih banyak Investor yang ragu akan Bullish namun tampaknya mulai ada keyakinan (Optimism).

Image result for market cycle

Dengan melihat siklus di atas, ada kemungkinan fase bursa saham di AS (dan China) saat ini adalah fase antara Hope dan Optimism. Oleh karena itu, The Primary Trader berpendapat masih ada potensi Uptrend bagi bursa saham AS terutama S&P500 dan Dow Jones. Selain itu, bursa saham China, yang terpukul karena pertumbuhan ekonominya jelas terpukul, pun sedang dalam pembentukan Bullish Continuation. Artinya ada potensi Shanghai Composite melanjutkan kenaikan dari sejak awal tahun 2019 dengan potensi kembali ke level awal tahun 2018.

S&P500 sendiri sedang dalam Uptrend (seperti juga Dow Jones) dengan potensi menuju 3,300.

Ikuti Live Chart di sini.

Bagaimana dengan IHSG ?

The Primary Trader percaya IHSG sedang dalam tahap akhir Bullish Continuation jangka panjang dari sejak tahun 2018. Artinya adalah seharusnya IHSG sedang bersiap untuk mengawali Uptrend jangka panjang dengan potensi menuju 8,000 (tentu dalam 3-4 tahun ke depan).

Untuk mengawali Uptrend, IHSG perlu Breakout 6,500 sehingga masih perlu 3 – 6 bulan lagi untuk memastikan Uptrend dimulai. Selain itu, karena saat ini IHSG mendekati Support dari pola Bullish Continuation di 5,900, ada ancaman IHSG batal mengawali Uptrend. Downtrend jangka panjang terancam dimulai bila IHSG Breakdown Support 5,900. Oleh karena itu, perlu diperhatikan dan diwaspadai penurunan di bawah 5,900.

Ikut Live Chart di sini.

Surplus Neraca Perdagangan Indonesia bulan Oktober 2019

aerial photography of cargo ship

Surplus Neraca Perdagangan Indonesia bulan Oktober 2019

BPS mengumumkan Neraca Perdaganan Indonesia di bulan Okt’19 surplus sebesar USD161.3 miliar setelah impor turun lebih dalam (-16.4% YoY) dari ekspor (yang juga turun -6.1% YoY). Investor tampaknya memperkirakan terjadi Defisit Neraca Perdagangan sehingga data ini menjadi sentimen positif.

Indonesia Balance of Trade

Rupiah Bersiap Menguat

Surplus Neraca Perdagangan yang diluar ekspektasi berpotensi memberikan sentimen positif yang akan berdampak pada Rupiah. The Primary Trader masih percaya Rupiah dalam tren menguat terhadap US Dollar dengan potensi menuju Rp13,600 atau setidaknya kembali menguji Rp13,900.

Rupiah sedang tertahan di Resistance Rp14,100 dan The Primary Trader perkirakan adalah perlemahan terakhir sebelum Rupiah dalam tren menguat menuju Rp13,600 tersebut. Setidaknya Rupiah akan berada di bawah Rp14,000 di sisa tahun 2019.

Ikuti Live Chart di sini.

IHSG Masih Mempertahankan Harapan Uptrend

Dengan tetap bertahan di atas 6,110, artinya adalah IHSG masih mempertahankan peluang Uptrend setelah Bullish Continuation selesai. Data Neraca Perdagangan akan memperbesar peluang Uptrend IHSG di tahun 2020. Silahkan baca di sini.

image003 2

Berinvestasi Sendiri vs Reksa Dana

Kenapa Reksa Dana ?

Jawaban yang paling tepat adalah karena Reksa Dana dikelola oleh profesional di pasar modal yang telah berpengalaman dan memiliki kemampuan dalam berinvestasi. Selain itu, Fund Manager (pengelola Reksa Dana di perusahaan Aset Manajemen) memfokuskan waktu dan tenaganya untuk memperhatikan kondisi pasar, menyusun portofolio investasi di Reksa Dana serta memonitoring portofolio tersebut untuk dilakukan perubahan seperlunya.

Hal tersebut dilakukan oleh Fund Manager karena memang investasi tidaklah mudah. Banyak faktor dan risiko yang dapat secara signifikan mempengaruhi dana investasi. Selain itu, banyak instrumen investasi serta nama aset yang dapat dipilih pun menambah kerumitan investasi.

Bagi masyarakat yang tidak memiliki waktu dan tenaga untuk melakukan investasi tersebut untuk dirinya, Reksa Dana dapatlah dipertimbangkan. Bagaimana bila masyarakat memiliki waktu dan tenaga atau setidaknya mau mengorbankan sebagian waktu dan tenaganya untuk mengelola investasi pribadinya ? Masih pentingkah Reksa Dana bagi Investor (kali ini mereka layak dinamakan Investor) tersebut ?

Satu Nilai yaitu “Net Aktiva Bersihatau NAB

The Primary Trader berargumen bahwa inti dari dan pentingnya Reksa Dana bukanlah karena mereka dikelola oleh tenaga profesional. Reksa Dana dapat berharga karena seluruh nilai aset portofolio Reksa Dana dihitung menjadi satu nilai (NAB atau Net Aktiva Bersih). Hal ini tentu memudahkan siapapun untuk menghitung kinerja investasinya.

Bayangkan bila Investor perlu menghitung kinerja investasi 20 saham yang telah dibelinya. Tentu akan lebih mudah bagi Investor tersebut untuk menghitung kinerja investasi bila dana investasi (senilai pembelian 20 saham) dihitung berdasarkan kinerja NAB dari Reksa Dana yang Investor tersebut beli.

Size Does Matter

Dengan mengumpulkan dana masyarakat, tentunya nilai uang yang diinvestasikan pada Reksa Dana tidaklah kecil. Oleh karena itu, Fund Manager dapat memilih instrumen investasi yang lebih banyak dibanding Investor Ritel. Selain itu, proses investasi yang dilakukan pun dapat lebih efisien serta lebih murah. Contoh gampangnya adalah dalam berinvestasi pada deposito. Bila dananya besar, tentu deposan dapat lebih mudah bernegosiasi dengan bank untuk mendapat tingkat suku bunga yang lebih tinggi.

Instrumen investasi yang dapat dipilih pun akan semakin bervariasi dengan dana investasi yang besar. Salah satu hal yang paling pasti adalah Investor (Fund Manager) dapat memilih instrumen obligasi sebagai bagian dari strategi investasi. Bagi Investor Ritel yang dananya terbatas, berinvestasi pada instrumen obligasi seringkali tidak menjadi pilihan yang tepat. Selain karena jarang ada obligasi dengan nilai kecil, harganya sering kali tidak bagus (di atas harga pasar bila mau beli atau di bawah harga pasar bila mau jual).

Perlukah Reksa Dana Bagi Investor ?

Risk Profile The Primary Trader cocok untuk berinvestasi pada saham. The Primary Trader sudah melakukan hal tersebut selama ini dengan berinvestasi sendiri pada saham – saham pilihan. Namun disaat masa seperti ini ketika investasi di saham kurang bagus, tentu harus ada Asset Allocation yang artinya ada perpindahan dana investasi dari instrumen saham ke instrumen lain. Dengan alasan inilah The Primary Trader memanfaatkan Reksa Dana Pendapatan Tetap yang berinvestasi pada aset Obligasi (terutama Obligasi Negara).

Investor Ritel dapat memanfaatkan berbagai macam Reksa Dana untuk menghasilkan alternatif portofolio selain saham. Dengan kata lain, Investor dapat menginvestasikan sebagian besar atau sebagian kecil dana di saham secara mandiri. Sisanya menggunakan Reksa Dana selain Reksa Dana Saham seperti Reksa Dana Pendapatan Tetap atau Reksa Dana Pasar Uang.

Kelola Investasi Saham Secara Mandiri

The Primary Trader lebih senang mengelola investasi saham sendiri dan berusaha membantu masyarakat dalam melakukan hal serupa. Oleh karena itulah website ini diluncurkan (secara resmi pada 1 Januari 2020) dalam rangka membantu masyarakat untuk berinvestasi saham secara mandiri. Kenapa mengelola saham secara mandiri?

The Primary Trader berpendapat bahwa pergerakan harga saham yang  jelas terlihat sangat mempengaruhi emosional Investor. Apabila Investor hanya melakukan subscription (membeli) Reksa Dana Saham saja tanpa mengetahui jenis saham – sahamnya, maka The Primary Trader yakin akan ada perasaan yang kurang puas terhadap bagaimanapun kinerja investasinya. Apalagi Reksa Dana Saham ditargetkan untuk mengalahkan atau bahkan hanya mengikuti pergerakan IHSG. Tentu hal ini akan membatasi potensi Return pada investasi saham, terlebih lagi dengan dana investasi yang sebenarnya tidak besar. Kecuali dana investasi lebih dari Rp10 miliar, The Primary Trader yakin masih mudah untuk berinvestasi pada 10 – 20 saham dan mendapat Return yang lebih besar dari IHSG dan kebanyakan Reksa Dana Saham lainnya.

Sebagai bukti, banyak saham – saham yang The Primary Trader yakin masyarakat yang bahkan tidak awam dengan investasi mengetahui perusahaan Telkom (TLKM), BCA (BBCA) dan Indofood (INDF). Ketiga saham tersebut tergolong Blue Chips yang memiliki kredibilitas kuat di mata Investor bahkan Investor Global (!). Oleh karena itu, Investor Retail masih boleh untuk tidak banyak memperhatikan kondisi fundamental ketiga perusahaan tersebut. Cukup menggunakan logika sederhana dan atau menggunakan Timing tanpa perlu banyak pertimbangan lalu beli saham – saham tersebut.

Sudah siap berinvestasi saham ?

Silahkan follow terus Website ini.

Bullish or Bearish in 2020?

VIX Dalam Posisi Naik

VIX Index yang mengindikasikan volatilitas S&P500 dalam posisi naik yang berarti ada ancaman penurunan pada S&P500. VIX telah stabil di level rendah dari sejak akhir Okt’19 namun sejak awal Nov’19, ada indikasi VIX naik dari level 12 (Bottom) menuju Resistance terdekat di 20.

Perlu diingat bahwa VIX telah turun dari akhir Sept’19 dari level 20 karena ada harapan The Fed memastikan tren penurunan Fed Fund Rate dan adanya harapan Trade Deal AS – China. Di saat VIX mendarat di level 12an (yang mengindikasikan risiko pasar telah berkurang), The Fed memberikan pernyataan untuk mempertahankan Fed Fund Rate. Pada saat itu memang The Fed kembali menurunkan Fed Fund Rate dari 2% menjadi 1.75%. Namun Investor kecewa karena tidak ada Aggressive Cut Rate dan bahkan mungkin tidak ada lagi Cut Rate sampai ada indikasi ekonomi benar – benar memburuk.

The Primary Trader sudah tidak percaya harapan Trade Deal sampai AS dan China menandatangani Deal tersebut. Menjelang akhir Okt’19, masing – masing pihak mengklaim sudah mensepakati fase awal perdagangan. Keduanya bahkan sedang mencari lokasi pertemuan dan tanda tangan fase satu karena agenda pertemuan multilateral di Chili batal karena situasi keamanan di sana. Tentu dapat dimaklumi keengganan China untuk menandatangani perpanjian fase satu di AS. Belum sempat disepakati lokasi pertemuan, perjanjian dagang fase satu terancam batal dan baru – baru ini Trump mengancam akan menaikkan tarif impor barang dari China lebih besar lagi bila perjanjian fase satu ini batal. The Primary Trader rasa memang selama Trump menjabat sebagai Presiden AS, perang dagang AS dengan negara lain (setelah China, tampaknya genderang perang dagang dengan Uni Eropa akan dibunyikan).

S&P500 Dalam Throwback

Dampak utama dari kenaikan VIX adalah S&P500 terancam turun. S&P500 saat ini telah Breakout 3,000 (dan berada di All Time High) dan dalam Uptrend lanjutan menuju 3,300. Secara jangka pendek, S&P500 sendiri telah Overbought dan memang terancam turun sebagai Tech. Correction. Lebih khusus lagi, menurut The Primary Trader, Tech. Correction yang terjadi paska Breakout Resistance adalah Throwback. Fase Throwback wajar yang tidak membatalkan Uptrend adalah sampai level Resistance (saat ini Support) yang telah di-Breakout tersebut. Dalam hal ini, Throwback S&P500 seharusnya tidak sampai di bawah 3,000 agar S&P500 masih terindikasi valid Uptrend menuju 3,300.

Live chart di sini.

The Primary Trader melihat penurunan yang berpotensi terjadi adalah level yang tepat untuk melakukan Buy on Weakness (untuk saham – saham di AS). Tentu akan sedikit berbeda dengan saham di Indonesia.

Uptrend di Emas, Tanda Buruk di Perekonomian

Emas dapat dianggap sebagai Safe Heaven. Emas akan sangat berharga di saat aset lain tidak ada harganya. Dengan kata lain, menurut The Primary Trader, emas menjadi investasi yang sangat baik di saat kondisi buruk seperti perang atau resesi atau bahkan krisis.

Oleh karena itu, emas yang dalam kondisi Uptrend sejak akhir 2018 adalah tanda bahwa Investor mengkhawatirkan kondisi yang buruk sebagai akibat dari Trade War. Selain itu perlu diingat juga bahwa tahun 2018 adalah kondisi dimana The Fed mulai berpikir untuk menaikkan Fed Fund Rate (normalisasi).

The Primary Trader memperkirakan Uptrend emas belum berakhir meskipun terjadi penurunan dari sejak Sept’19. The Primary Trader melihat penurunan emas yang terjadi 3 bulan terakhir membentuk pola Bullish Continuation. Artinya adalah Uptrend emas yang telah dikonfirmasi setelah Breakout USD1,370 di Jun’19 masih akan berlanjut.

Emas berpotensi naik sampai USD1,700 paska Breakout USD1,370. Dengan demikian, setelah Bullish Continuation selesai, emas masih berpotensi naik sampai USD1,700. Pola Bullish Continuation yang terjadi sejak Sept’19 pun memiliki target dan target tersebut berada di USD1,800. All Time High emas ada di USD1,920an pada saat krisis hutang Yunani. Level USD1,800 menjadi Resistance penting karena beberapa kali emas berusaha terus naik namun gagal.

The Primary Trader percaya emas masih akan naik dan hal ini merupakan salah satu bukti kuat bahwa Investor mengkhawatirkan terjadinya sesuatu yang buruk (resesi ekonomi) di tahun 2020.

Strategi Investasi

Resesi ekonomi membuat investasi di saham tidaklah menarik. Namun tentu pada saat kondisi apapun telah terjadi, harga suatu aset sudah mencerminkan kondisi tersebut. Dengan demikian, pada saat Resesi benar terjadi di tahun 2020 maka harga aset (terutama saham) sudah turun dalam. Namun bila diperhatikan pergerakan S&P500 dan Yield Treasury US 10Yr, harga keduanya naik tinggi (!).

S&P500 berhasil naik sebesar 23% dari sejak awal tahun sementara Yield US Treasury 10Yr turun dari 2.68% menjadi 1.88%. Penurunan Yield berarti harga obligasi naik.

Live chart Yield US Treasury 10Yr di sini.

Memang perlu dikhawatirkan adanya resesi namun perlu juga dipertimbangkan resiko kehilangan kesempatan Uptrend.

The Primary Trader meyakini IHSG sedang di tahap akhir pola Bullish Continuation jangka panjang. Bila pola ini selesai dan terkonfirmasi maka IHSG akan mengawali Uptrend dalam jangka panjang dengan potensi menuju 8,000. Persyaratan untuk berharap IHSG Uptrend dan naik sebesar 30% dalam 3-5 tahun ke depan pun sudah ada yaitu antara lain dengan pembangunan infrastruktur di Jawa, perpindahan Ibukota yang menumbuhkan pusat pertumbuhan ekonomi baru, Kabinet Indonesia Maju (dengan Sri Mulyani kembali sebagai Menteri Keuangan), deregulasi serta proses awal industrialisasi yang bermodalkan komoditas dalam negeri.

Awal Uptrend jangka panjang IHSG adalah ditandai dengan Breakout 6,500. Hal ini merupakan tanda bahwa pola Bullish Continuation selesai dan terkonfirmasi. Oleh karena itu, The Primary Trader sedang menunggu (dan berharap) IHSG Breakout 6,500.

AJKSE - weekly 11/13/2019 open 6171.44, Hi 6183.83, LO 6127.88, Close 6142.5 (-0.6%) 
261.8% 
200.0% 
po.0% 
61.8 
50.0% 
38.2% 
www.theprimarytrader.com 
2019 
6,500 
7935.58 
7014.49 
6100 
5524.04 
4954.68 
4778.81 
4602.94 
2016 
AJKSE - Trade value (RP Mn) 
.00, 
2017 
Weekly Avg 
2018 
(Rp Mn) — 
, Monthly Avg 
8,000 
7,500 
7,000 
6,500 
6,000 
5,500 
5,000 
4,500 
700M 
481,464,: 
445,237,' 
300M 
Created Ami Broker 
charting ane technical analysis soft.vare. htt

Meski demikian, perlu diwaspadai bahwa pola Bullish Continuation pun berpotensi batal – bila IHSG Breakdown Support. IHSG akan Breakdown Support pola Bullish Continuation bila turun di bawah 5,900. Artinya adalah bila IHSG turun di bawah 5,900 maka pola Bullish Continuation jangka panjang yang menjanjikan IHSG naik 30% menuju 8,000 dalam 3-5 tahun ke depan berpotensi batal.

The Primary Trader akan mewaspadai bila dalam waktu dekat, IHSG turun di bawah 6,100.

Ikuti pergerakan live chart -nya di sini.

Bottoming-kah IHSG ?

Pergerakan Sektor Penggerak IHSG

Menggunakan grafik “Trend and Momentum in Sectors” pada 2 tanggal yaitu 11 – 12 Nov’19, The Primary Trader melihat ada potensi sektor – sektor Big Cap seperti Auto dan Telecom mendorong IHSG. Sektor Auto di 11 Nov’19 masih berada di dalam kondisi Downtrend namun Oversold.

Pada 12 Nov’19, sektor Auto sudah berada di luar kondisi Oversold yaitu Netral namun masih dalam kondisi Downtrend. Hal ini menandakan adanya kenaikan. Meski berada di area Netral pada 11 – 12 Nov’19, sektor Telecom mencatat kenaikan pada sumbu x yaitu Momentum Meter (menggunakan Stoch. Osc). Artinya adalah ada kenaikan harga pada sektor Telecom namun masih ada Upside Potential karena belum Overbought.

Sektor lain yang menurut The Primary Trader menjadi pendorong IHSG adalah FMCG dan Banking dimana kedua relatif stabil berada di area Netral namun dalam kondisi Downtrend (di sebelah kiri sumbu y atau Trend Meter yang menggunakan indikator %B dari Bollinger Band). Masih ada potensi kenaikan sebelumnya kedua sektor masuk ke area Overbought seperti pada sektor Tower, Coal dan Paper.

Meski perlahan, sektor Industrial Area tampaknya mulai bergerak naik dan masih dapat diperhatikan karena masih dalam kondisi Netral. Begitupun dengan sektor Oil&Gas yang berbasis komoditas dimana ada kenaikan perlahan namun masih dalam kondis Netral. Kedua sektor tersebut masih memiliki Upside Potential sebelum mencatat Overbought.

Pergerakan Saham Penggerak IHSG

Pergerakan saham di sektor Auto (ASII) dan Telecom (TLKM, EXCL dan ISAT) menunjukkan potensi ASII dan TLKM sebagai pendorong IHSG. Dari pergerakan sejak Agus’19, ada indikasi ASII telah membentuk Bottoming karena penurunannya telah tertahan (indikasi Double Bottom dari Agust’19 dan Okt’19). Sementara itu, TLKM dari sejak Mei’19 telah berada dalam Uptrend. Dengan demikian, penurunan dari sejak Agust’19 terlihat sebagai bagian dari Tech. Correction atau penurunan singkat untuk melanjutkan Uptrend.

BBCA tidak diragukan lagi berhasil menopang IHSG selama ini. Dari Bank BUMN, BBRI bersama BBCA menjaga IHSG tidak turun jauh. Saham Bank BUMN yang berpotensi menopang dan mengangkat IHSG dalam waktu dekat adalah BBNI dan BMRI yang saat ini mencatat Negative Return (dari awal tahun ). Ada indikasi BBNI dan BMRI telah menyentuh Bottom di Okt’19 yang kemungkinan adalah sebagai reaksi antisipasi kinerja 3Q19 yang diperkirakan kurang bagus (namun ternyata hasilnya tidak terlalu mengecewakan).

Sektor FMCG seperti INDF dan ICBP bergerak menarik di 2H19 seiring dengan sentimen negatif atau faktor Pemilu selesai. Ekonomi Indonesia terbukti bertahan karena adanya Domestic Consumption yang memang menjadi sentimen positif untuk sektor FMCG. UNVR sebagai saham besar yang mulai kehilangan sentimen positif-nya tampaknya sulit diharapkan untuk naik dan mendorong IHSG. Hal ini karena menurut The Primary Trader, ada pertumbuhan pada sektor konsumsi makanan seperti INDF dan IBCP. Meksi kebutuhan semakin banyak namun sektor bisnis UNVR dapat dikatakan sudah dalam fase Mature sehingga sulit tumbuh.

Sudah Bottom – kah IHSG?

Volatilitas IHSG dari sejak awal tahun 2019 semakin mengecil. IHSG sempat naik sampai 6% di 1Q19 namun juga sempat turun -6% di 2Q19. Pergerakan IHSG di 2H19 relatif hanya naik sampai 4% – 5% dan hanya turun -3% (dari awal tahun 2019).

Penurunan volatilitas menurut The Primary Trader adalah awal dari suatu tren baik Uptrend maupun Downtrend. Oleh karena itu, The Primary Trader memperkirakan IHSG akan segera mengawali Uptrend. Perlu diingat juga bahwa penurunan volatilitas dapat juga mengindikasikan awal Downtrend. Oleh karena itu, perlu diwaspadai bila terjadi Breakdown pada IHSG.

Level Support Psikologis IHSG saat ini ada di 6,000 dan atau 6,100. The Primary Trader memilih menggunakan Support Psikologis di 6,100 untuk menandakan awal Downtrend – bila terjadi Breakdown 6,100. IHSG perlu Breakout 6,500 untuk memulai Uptrend. The Primary Trader percaya IHSG akan mengawali Uptrend (segera) yang ditandai dengan Breakout 6,500.