The Primary Trader Daily 12 Nov’19

Dandy Rotation

Berdasarkan Dandy Rotation, DMAS dan INDF berada pada kuadran Outperform serta mendapat sinyal Buy (Alert Buy untuk DMAS dan Buy Now untuk INDF). The Primary Trader menyukai keduanya karena sektornya. Untuk DMAS tentu karena di sektor Industrial Area yang mulai tumbuh di tahun 2019 dan juga diperkirakan tahun 2020.

INDF tampaknya mulai semakin dilirik Investor karena Mass Market Product-nya yang berorientasi Domestic Consumption dimana terbukti kuat bertahan di tengah perlambatan ekonomi dunia. The Primary Trader mulai berpikir Investor mencari pengganti saham Consumer yang Defensif menggantikan UNVR dan Cigarettes (HMSP dan GGRM). INDF memilki bisnis Agribisnis khususnya CPO yang berasal dari anak usaha SIMP dan LSIP. Harga CPO yang mulai naik (38% dari Jul’19) pun menjadi katalis positif untuk INDF (selain tentu saham sektor CPO).

Banyaknya saham yang berwarna Merah (dalam Downtrend) serta berada di kuadran Underperform khususnya saham – saham berbasis Infrastructure dan Consumer perlu mendapat perhatian khusus. Hal ini akan menyebabkan IHSG masih terkendala untuk naik dan mungkin masih akan melemah (atau setidaknya masih dalam proses Bottoming di 6,100an).

Saham SCMA sudah naik cukup tinggi namun karena berada kuadran Outperform maka saham tersebut layak diperhatikan. Selain itu, ada harapan sektor Media mulai membaik yang didahului oleh MNCN. Memang The Primary Trader pun lebih menyukai MNCN dibanding SCMA namun tetap SCMA layak dipertimbangkan.

Technical Theme : Undershoot

The Primary Trader menyebut kondisi Undershoot adalah dimana harga saham berada di bawah Middle Band dari Bollinger Band. Hal ini berarti harga saham telah berada di nilai ekstrem dari distribusi normal yang umumnya hanya terjadi (peluangnya adalah) sebesar 5%. Oleh karena itu, saham – saham Undershoot dapat dipertimbangkan untuk Buy on Weakness.

Berdasarkan pergerakan 11 Nov’19, ada beberapa saham yang tercatat dalam kondisi Undershoot. The Primary Trader menyukai saham – saham sebagai berikut : ADHI, EXCL dan BJBR.

Khusus untuk EXCL, masuknya EXCL ke dalam indeks MSCI menjadi katalis positif karena mendatangkan minat beli dari Investor Asing yang men-track indeks MSCI. Selain itu, kinerja EXCL sendiri memang bagus. Pada 9M19 kemarin, laba bersih EXCL tercatat sebesar Rp498 miliar dari rugi bersih Rp144 miliar di 9M18 . Selain itu, pendapatan 9M19 EXCL pun melonjak sebesar 10.8% YoY.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s