Kenapa Reksa Dana ?

Jawaban yang paling tepat adalah karena Reksa Dana dikelola oleh profesional di pasar modal yang telah berpengalaman dan memiliki kemampuan dalam berinvestasi. Selain itu, Fund Manager (pengelola Reksa Dana di perusahaan Aset Manajemen) memfokuskan waktu dan tenaganya untuk memperhatikan kondisi pasar, menyusun portofolio investasi di Reksa Dana serta memonitoring portofolio tersebut untuk dilakukan perubahan seperlunya.

Hal tersebut dilakukan oleh Fund Manager karena memang investasi tidaklah mudah. Banyak faktor dan risiko yang dapat secara signifikan mempengaruhi dana investasi. Selain itu, banyak instrumen investasi serta nama aset yang dapat dipilih pun menambah kerumitan investasi.

Bagi masyarakat yang tidak memiliki waktu dan tenaga untuk melakukan investasi tersebut untuk dirinya, Reksa Dana dapatlah dipertimbangkan. Bagaimana bila masyarakat memiliki waktu dan tenaga atau setidaknya mau mengorbankan sebagian waktu dan tenaganya untuk mengelola investasi pribadinya ? Masih pentingkah Reksa Dana bagi Investor (kali ini mereka layak dinamakan Investor) tersebut ?

Satu Nilai yaitu “Net Aktiva Bersihatau NAB

The Primary Trader berargumen bahwa inti dari dan pentingnya Reksa Dana bukanlah karena mereka dikelola oleh tenaga profesional. Reksa Dana dapat berharga karena seluruh nilai aset portofolio Reksa Dana dihitung menjadi satu nilai (NAB atau Net Aktiva Bersih). Hal ini tentu memudahkan siapapun untuk menghitung kinerja investasinya.

Bayangkan bila Investor perlu menghitung kinerja investasi 20 saham yang telah dibelinya. Tentu akan lebih mudah bagi Investor tersebut untuk menghitung kinerja investasi bila dana investasi (senilai pembelian 20 saham) dihitung berdasarkan kinerja NAB dari Reksa Dana yang Investor tersebut beli.

Size Does Matter

Dengan mengumpulkan dana masyarakat, tentunya nilai uang yang diinvestasikan pada Reksa Dana tidaklah kecil. Oleh karena itu, Fund Manager dapat memilih instrumen investasi yang lebih banyak dibanding Investor Ritel. Selain itu, proses investasi yang dilakukan pun dapat lebih efisien serta lebih murah. Contoh gampangnya adalah dalam berinvestasi pada deposito. Bila dananya besar, tentu deposan dapat lebih mudah bernegosiasi dengan bank untuk mendapat tingkat suku bunga yang lebih tinggi.

Instrumen investasi yang dapat dipilih pun akan semakin bervariasi dengan dana investasi yang besar. Salah satu hal yang paling pasti adalah Investor (Fund Manager) dapat memilih instrumen obligasi sebagai bagian dari strategi investasi. Bagi Investor Ritel yang dananya terbatas, berinvestasi pada instrumen obligasi seringkali tidak menjadi pilihan yang tepat. Selain karena jarang ada obligasi dengan nilai kecil, harganya sering kali tidak bagus (di atas harga pasar bila mau beli atau di bawah harga pasar bila mau jual).

Perlukah Reksa Dana Bagi Investor ?

Risk Profile The Primary Trader cocok untuk berinvestasi pada saham. The Primary Trader sudah melakukan hal tersebut selama ini dengan berinvestasi sendiri pada saham – saham pilihan. Namun disaat masa seperti ini ketika investasi di saham kurang bagus, tentu harus ada Asset Allocation yang artinya ada perpindahan dana investasi dari instrumen saham ke instrumen lain. Dengan alasan inilah The Primary Trader memanfaatkan Reksa Dana Pendapatan Tetap yang berinvestasi pada aset Obligasi (terutama Obligasi Negara).

Investor Ritel dapat memanfaatkan berbagai macam Reksa Dana untuk menghasilkan alternatif portofolio selain saham. Dengan kata lain, Investor dapat menginvestasikan sebagian besar atau sebagian kecil dana di saham secara mandiri. Sisanya menggunakan Reksa Dana selain Reksa Dana Saham seperti Reksa Dana Pendapatan Tetap atau Reksa Dana Pasar Uang.

Kelola Investasi Saham Secara Mandiri

The Primary Trader lebih senang mengelola investasi saham sendiri dan berusaha membantu masyarakat dalam melakukan hal serupa. Oleh karena itulah website ini diluncurkan (secara resmi pada 1 Januari 2020) dalam rangka membantu masyarakat untuk berinvestasi saham secara mandiri. Kenapa mengelola saham secara mandiri?

The Primary Trader berpendapat bahwa pergerakan harga saham yang  jelas terlihat sangat mempengaruhi emosional Investor. Apabila Investor hanya melakukan subscription (membeli) Reksa Dana Saham saja tanpa mengetahui jenis saham – sahamnya, maka The Primary Trader yakin akan ada perasaan yang kurang puas terhadap bagaimanapun kinerja investasinya. Apalagi Reksa Dana Saham ditargetkan untuk mengalahkan atau bahkan hanya mengikuti pergerakan IHSG. Tentu hal ini akan membatasi potensi Return pada investasi saham, terlebih lagi dengan dana investasi yang sebenarnya tidak besar. Kecuali dana investasi lebih dari Rp10 miliar, The Primary Trader yakin masih mudah untuk berinvestasi pada 10 – 20 saham dan mendapat Return yang lebih besar dari IHSG dan kebanyakan Reksa Dana Saham lainnya.

Sebagai bukti, banyak saham – saham yang The Primary Trader yakin masyarakat yang bahkan tidak awam dengan investasi mengetahui perusahaan Telkom (TLKM), BCA (BBCA) dan Indofood (INDF). Ketiga saham tersebut tergolong Blue Chips yang memiliki kredibilitas kuat di mata Investor bahkan Investor Global (!). Oleh karena itu, Investor Retail masih boleh untuk tidak banyak memperhatikan kondisi fundamental ketiga perusahaan tersebut. Cukup menggunakan logika sederhana dan atau menggunakan Timing tanpa perlu banyak pertimbangan lalu beli saham – saham tersebut.

Sudah siap berinvestasi saham ?

Silahkan follow terus Website ini.