INDF : Bersiap Menggantikan UNVR Sebagai Saham Penopang IHSG

Perbedaan Market Cap

The Primary Trader menyadari perbedaan Market Cap INDF dengan UNVR sangatlah jauh. Berdasarkan data per 12 November 2019 (melalui STAR dan Samuel Sekuritas), Market Cap INDF adalah sebesar Rp69.5 triliun dengan Index Weight sebesar 0.98% sementara Market Cap UNVR adalah sebesar Rp282 triliun dan Index Weight sebesar 4.61%. “Nilai” UNVR hampir 4x INDF dan hal ini membuat UNVR sangat sulit digantikan oleh INDF.

Potensi Menarik Dari Mie Instant Dan CPO

The Primary Trader melihat ada potensi INDF bergerak lebih menarik dari UNVR karena potensi bisnis dari INDF itu sendiri. Keduanya masuk ke dalam sektor Consumer Goods Industry namun INDF masuk ke sub sektor Food and Beverages sementara UNVR masuk ke sub sektor Cosmetics and Household. Hal inilah yang berpotensi menjadi katalis INDF menjadi lebih menarik dibanding UNVR – dan kemungkinan Investor beralih dari UNVR ke INDF.

Salah satu hal yang membuat INDF menarik adalah bisnis Mie Instan (ICBP) dan CPO (LSIP dan SIMP). Kedua bisnis tersebut berpotensi mendorong INDF dan menjadi lebih menarik bagi Investor dibanding UNVR. Untuk Mie Instan, harga gandum yang relatif rendah (turun dari 55% dari sejak 2013) dalam mendorong marjin ICBP (Gross Margin di 3Q19 : 35.1% vs 3Q18 : 32.9%). Inovasi rasa yang dilakukan pun berhasil membuat ICBP tetap menguasai pasar mie instan.

Bisnis lain dari INDF (yang cukup signifikan) adalah CPO dimana INDF memiliki porsi di LSIP dan SIMP. Untuk CPO, ada potenis menarik karena di tahun 2020, pemerintah menaikkan kandungan CPO di dalam Biodiesel dari 20% saat ini (B20) menjadi 30% (B30). Hal ini tentu akan meningkatkan permintaan CPO di dalam negeri. Selain itu, Malaysia mengatakan minat untuk mengikuti langkah serupa. Hal ini menjadi katalis positif untuk harga CPO.

Saat ini harga CPO Malaysia sudah dalam Uptrend setelah Bullish Reversal telah terkonfirmasi dengan Breakout Resistance MYR3,000 di Okt’19 lalu. CPO Malaysia setidaknya dapat naik sampai MYR2,700 namun terbuka untuk terus naik sampai MYR2,850 dan MYR3,200.

Bullish Continuation Ditengah Bullish Reversal

The Primary Trader melihat INDF sedang di awal Uptrend setelah Downtrend terkonfirmasi berakhir di awal tahun 2019 (dengan Breakout Down Trendline di Rp6,000). INDF berpotensi melanjutkan Uptrend menuju Rp10,000 setelah Breakout Rp8,000 (yang mana The Primary Trader perkirakan terjadi di bulan Nov’19 atau setidaknya tahun 2019 ini). Breakout Rp8,000 akan mengonfirmasi pola Bullish Reversal yang telah terbentuk sejak awal tahun 2019. Breakout Rp8,000 pun akan mengonfirmasi pola Bullish Continuation yang terbentuk sejak Sept’19 sebagai bagian dari Bullish Reversal. Hal inilah yang menurut The Primary Trader menambah peluang Uptrend untuk INDF.

INDF Berpotensi Outperform UNVR

Berdasarkan Ratio Chart antara INDF terhadap UNVR, memang terbukti UNVR menjadi saham Defensif (seperti pada tahun 2008, 2011, 2013 dan 2015) dimana apabila Ratio Chart-nya turun maka hal ini menunjukkan UNVR lebih baik daripada INDF. Namun The Primary Trader melihat adanya indikasi Bullish Reversal jangka panjang (dari sejak 2015, menyerupai Double Bottom). Hal ini menunjukkan ada potensi INDF berada dalam tren Outperform terhadap UNVR – dalam jangka panjang.

Valuasi PE TTM INDF masih murah

Berdasarkan valuasi menggunakan PE TTM (4 kuartal terakhir) – favorit The Primary Trader, INDF masih murah karena di bawah rata – rata 3 tahun terakhir. PE TTM INDF saat ini di level 14.3x sementara rata – rata 3 tahun adalah sebesar 15.5x. Bila INDF menyentuh level 15.5x maka harga saham INDF ada di Rp8,600.

PWON : Segera Outperform Ditopang Superblock di Bekasi

Kokas

Superblok di Bekasi

PWON akan segera membangun superblok di lahan di Bekasi dengan investasi sebesar Rp2 triliun. PWON memiliki cadangan lahan Bekasi seluas 3.6 ha, hampir 2x luas Gandaria City atau setidaknya 1/2 dari lahan Kota Kasablanka. Ada potensi pertumbuhan PWON ke depan akan berasal dari superblok Bekasi ini karena di Bekasi akan dilewati oleh LRT Jabodetabek dan HSR Jakarta – Bandung. Selain itu, semakin banyak pabrik yang akan dibangun di daerah Bekasi, Karawang dan Purwakarta yang berarti semakin banyak masyarakat yang tinggal di area tersebut.

The Primary Trader percaya proyek PWON di Bekasi akan dapat sukses seperti halnya di Kota Kasablanka dan Gandaria City. Terlebih lagi, menurut The Primary Trader, tidak banyak mal di Bekasi yang mengincar kelas menengah atas namun tetap ramah bagi menengah bawah seperti mal milik PWON. Selain itu, meski ada beberapa mal keluarga, namun The Primary Trader rasa mal keluarga yang dimiliki PWON masih lebih disukai masyarakat.

Dampak Beroperasinya Gandaria City dan Kota Kasablanka

Gandaria City (2010) dan Kota Kasablanka (2012) memberikan dampak positif bagi PWON karena memiliki mal yang terkenal di Jakarta. PWON sendiri memang lebih banyak memiliki bisnis di Surabaya namun pendapatan yang bersumber di Jakarta sudah mencapai ~40%. Dengan demikian, sulit untuk tidak melihat dampak positif dari beroperasinya superblok PWON di Bekasi.

Membentuk Bottom

The Primary Trader melihat PWON sedang dalam Downtrend dari sejak Jun’19 dari sejak Rp825 namun di kisaran Rp580, The Primary Trader percaya PWON akan atau sedang membentuk Bottoming unutk mengakhiri Downtrend tersebut. PWON masih harus Breakout Rp650 untuk melanjutkan Uptrend menuju Rp850 (setidaknya). Bila ternyata PWON turun di bawah Rp550 maka PWON terancam terus turun menuju Support kuat di Rp420 – Rp450an (seperti Bottom di Okt’18).

Ikuti live chat di sini.

Lagging Diantara Saham Properti Lain

PWON mencatat Negative Return sebesar 8% YTD (Year to Date atau dari sejak awal tahun) sementara CTRA berhasil mencatat Return sebesar 5.4% dan bahkan BSDE mencatat Return sebesar 9.9%.

Sebenarnya PWON adalah saham properti yang bersifat Defensive karena lebih dari 30% pendapatan PWON adalah Recurring Income dari sewa ruangan serta jasa pemeliharaan. Di tahun 2018, BSDE dan CTRA mencatat Negative Return double digit, PWON hanya mencatat Negative Return -9.5%.

Kinerja di tahun 2018 tersebut adalah setelah PWON mencatat kinerja yang sangat Outperform dibandinng BSDE dan CTRA yaitu dengan mencatat Return sebesar 21.2% (sementara BSDE dan CTRA mencatat Negative Return).

Segera Kembali Outperform

Oleh karena itu, The Primary Trader berpendapat bahwa PWON akan segera mengakhiri kinerja Underperform yang sedang terjadi saat ini. Di tahun 2020, The Primary Trader perkirakan PWON akan segera bergerak Outperform ditopang oleh proses dan potensi superblock di Bekasi.

Yield SUN10Yr Bersiap Turun

view of city at airport

Current Account Deficit (CAD) 3Q19 Turun, Bersiap Capital Inflow

Bank Indonesia melaporkan Defisit Neraca Transaksi Berjalan (Current Account Deficit atau CAD) di 3Q19 sebesar USD7.7 miliar atau 2.7% dari GDP. CAD 3Q19 membaik karena lebih kecil dari CAD 2Q19 sebesar 2.93% dari GDP.

Tampaknya perbaikan CAD 3Q19 lebih disebabkan karena ada investasi masuk ke Corporate Bond (sebagai Portfolio Investment) ke Pertamina dan PLN yang baru saja mengeluarkan Global Corporate Bond. Selain itu, tidak adanya pembayaran Dividend ke Investor luar negeri seperti di 2Q19 pun menjaga CAD.

The Primary Trader menilai dampak dari perbaikan CAD di 3Q19 akan membuat Investor Asing semakin tertarik berinvestasi di Indonesia. Investor saat ini sedang berharap akan ada Upgrade Rating bagi Indonesia dari peringkat efek, setidaknya dari Fitch atau Moody’s. Bahkan tidak tertutup kemungkinan S&P kembali menaikkan rating seiring dengan harapan tim ekonomi Jokowi di periode 2 (yang ditopang oleh Sri Mulyani yang kembali menjabat sebagai Menteri Keuangan).

Rupiah Dalam Tren Menguat

Penguatan Rupiah dengan potensi menuju Rp13,600 mengindikasikan Investor Asing memandang Indonesia dengan positif. Rupiah sendiri sedang bersiap Breakdown Support di Rp13,900 untuk terus menguat dengan potensi menuju Rp13,600. Meski demikian, kemungkinan Rupiah dijaga oleh BI di kisaran Rp14,000an mungkin akan membatalkan penguatan menuju Rp13,600 tersebut. Setidaknya untuk Rupiah, selama volatilitas menurun (stabil) maka hal tersebut sudah menjadi katalis dan sentimen positif. Rupiah sendiri mulai less-volatile sejak Jun’19.

Ikuti live chart di sini

Begitupun dengan Yield Obligasi Negara

Yield SUN10Yr yang mewakili pasar obligasi di Indonesia memastikan dalam Downtrend sejak awal Okt’19 dengan turun di bawah 7.2%. Saat ini Yield sedang dalam Support di 7% namun setelah Breakdown 7.2% lalu, Yield sedang dalam Downtrend menuju setidaknya 6.5%.

Yield masih mempertahankan Downtrend dari sejak 9% di bulan Okt’18. Perlu diingat bahwa penurunan yield berarti kenaikan harga obligasi. Tentunya hal ini sebagai akibat dari minat dari Investor terutama Investor Asing (bila dihubungkan dengan penguatan Rupiah).

Ikuti live chart di sini 

Strategi The Primary Trader

Membaiknya data makro ekonomi seperti CAD tentu akan langsung berpengaruh dengan pasar obligasi karena berkaitan dengan makro suatu negara. Meski demikian, karena ada pengaruh dari penguatan Rupiah, tentu ada beberapa sektor saham yang dapat menjadi pilihan.

The Primary Trader menyukai sektor yang banyak melakukan impor seperti Retail (MAPI dan ACES) serta KLBF (Healthcare dan atau Pharmacy).

POWR : Diuntungkan dari pertumbuhan sektor kawasan industri

Pemain Jasa Penunjang di sektor Kawasan Industri

POWR memiliki 3 pembangkit listrik (PLTGU dan PLTG dengan total 864 MW dan PLTU 280 MW) dengan total 1,144 MW, salah satu pembangkit listrik swasta pertama dan terbesar di Indonesia. POWR melayani 5 kawasan industri di daerah Bekasi, Karawang dan Purwarkarta. Kawasan industri yang dilayani antara lain milik KIJA, BEST dan LPCK.

POWR mencatat kinerja yang positif di 3Q19 dengan laba naik 30% YoY meskipun pendapatan naik hanya 3% YoY.

Diuntungkan dari peningkatan permintaan kawasan industri

Di tahun 2018, penjualan kawasan industri milik DMAS, SSIA dan BEST turun menjadi 77 ha (dari 103 ha di tahun 2017). Ada peningkatan penjualan di 9M19 menjadi 59 ha dari 49 ha di 9M18. Diperkirakan penjualan lahan masih akan terus naik seiring penambahan tersebut baru dimulai di akhir 2Q19 paska Pemilu Presiden 2019.

Peningkatan penjualan lahan kawasan industri pun ditopang oleh niat pemerintah untuk mendorong pertumbuhan industri terutama manufaktur. Oleh karena itu, akan semakin banyak pabrik yang dibangun terutama di kawasan industri milik DMAS, SSIA dan BEST. Dengan demikian, ada harapan peningkatan permintaan listrik milik POWR.

Buy Back Saham

POWR sedang dalam program Buy Back Saham yang menjadi katalis positif bagi harga saham tersebut. Program tersebut dimulai sejak akhir Okt’18 dan akan berakhir di pertengahan tahun 2020.

Valuasi Murah

The Primary Trader senang menggunakan PE TTM atau Price to Earning Ratio dari 4 kuartal terakhir. Hal ini karena PE TTM cenderung lebih bebas dari bias estimasi dan prediksi analis.

PE TTM POWR saat ini di 12.5x dan masih di bawah rata – rata PE TTM sejak 3 tahun terakhir atau sejak POWR IPO di 2Q17 yaitu di 16x. Masih ada potensi POWR naik setidaknya mendekati PE TTM di 16x dimana pada saat ini, harga POWR berpotensi mencapai Rp1,330.

Di Awal Uptrend

POWR telah memulai Uptrend dari sejak Breakout Rp1,000 di Sept’19 yang mengonfirmasi pola Bullish Reversal. POWR pun telah mencapai target di Rp1,200 namun karena pola tersebut menandakan awal Uptrend maka The Primary Trader percaya POWR masih dapat terus naik sebagai Uptrend setidaknya menuju Rp1,400.

Saat ini POWR dalam fase Throwback yaitu penurunan singkat untuk menguji Support di Rp1,000. Dengan tetap bertahan di Rp1,000 maka POWR masih dalam Uptrend kembali ke Rp1,200 lalu menuju Rp1,400.

Ikuti live chart di sini.

Sumber Risiko Terbesar dari Pasar Keuangan Global di Tahun 2020

Photo by Jason Leung on Unsplash

The Primary Trader membaca artikel dari CNBC mengenai risiko – risiko terbesar di pasar keuangan tahun 2020. Beberapa hal yang The Primary Trader catat adalah :

Berlanjutnya Trade War AS – China karena Trade Deal yang terdengung kencang 2 minggu terakhir kembali tidak jelas.

Perlambatan ekonomi China yang mencapai 6% di 3Q19. Memang tidak masalah pertumbuhan ekonomi sebesar itu (hampir 2x dari pertumbuhan ekonomi dunia yang sebesar ~3%) namun perlu diingat hutang di China sangat besar sehingga diperlukan pertumbuhan ekonomi yang tumbuh (bukan melambat seperti yang terlihat sekarang ini) untuk terus menjaga hutang tetap sehat (masih dapat dibayar bunganya dan dilunasi pokoknya).

China GDP Annual Growth Rate

Politik di AS dimana proses pemakzulan Trump telah dimulai serta adanya Pemilu Presiden AS di tahun 2020.

Dan yang terpenting tentu bank sentral AS yaitu The Federal Reserve yang pada FOMC Meeting terakhir menurunkan Fed Fund Rate sebesar 0.25% menjadi 1.75% namun akan terus mempertahankan rate sebesar 1.75% kecuali ekonomi AS terbukti melambat (ekonomi AS di 3Q19 tumbuh 1.9% disaat diperkirakan tumbuh lebih lambat yaitu 1.6%). Investor mengharapkan The Fed secara agresif menurunkan suku bunga terutama dalam menghadapi ancaman resesi di tahun 2020.

United States Fed Funds Rate

Dampak terhadap IHSG ?

Ancaman resesi serta perlambatan ekonomi suatu negara apalagi banyak negara (global) adalah penggerak pasar saham namun ke bawah (turun atau menjadi sentimen negatif). Oleh karena itu, ancaman resesi menjadi alasan untuk menghindari pasar saham atau setidaknya lebih berhati – hati dan selektif sekali dalam memilih sektor dan saham.