PTPP : Emiten Konstruksi Sehat

Pemain Konstruksi BUMN Yang Relatif Lebih Aman

Kinerja PTPP di 2019 mungkin akan sedikit tertekan namun PTPP seharusnya bisa mencatat kinerja yang lebih baik di tahun 2020. PTPP menargetkan kontrak baru di tahun 2020 sebesar Rp 40.5 triliun, tumbuh 21% dari pencapaian tahun 2019 sebesar Rp 33.5 triliun. Angka Rp33.5 triliun di 9M19 adalah 74% dari target Rp45 triliun. Angka ini tampaknya relatif achieve-able. Perlu dicatat juga bahwa PTPP (dan WIKA) memiliki proyek multi-years yang cukup besar sehingga di tahun berjalan, PTPP masih mengerjakan proyek tahun sebelumnya dan berpotensi mencatat bagian pendapatan dari penyelesaian proyek tersebut di tahun berjalan. Hal ini membuat pendapatan dan laba PTPP lebih mudah dan pasti.

Untuk menjaga marjin keuntungan dimana sejak tahun 2017 relatif turun, PTPP berencana mendivestasi 4 proyek seperti kepemilikan ruas tol Pandaan – Malang dan ruas tol Cisumdawu. Divestasi ini dapat meningkatkan laba bersih sebesar 33% YoY.

Meski sebagai perusahaan Konstruksi BUMN, proyek PTPP yang berasal dari pemerintah (tahun 2018) sangatlah kecil. Investor tampaknya mengkhawatirkan sentimen bahwa pelunasan proyek pemerintah cenderung lambat sehingga menimbulkan biaya tambahan. Oleh karena itu, seringkali PTPP dianggap sebagai emiten Konstruksi BUMN yang paling sehat.

Potensi Sektor Infrastruktur

Presiden Jokowi masih menggenjot pembangunan infrastruktur di periode ke-2 dengan proyek raksasa seperti Tol Trans Sumatera, Tol Trans Kalimantan dan (tentu) Ibukota Baru. Pada periode pertama (2014 – 2019), pertumbuhan nilai proyek Sektor Infrastruktur adalah sebesar 30% per tahun (CAGR). Diperkirakan pada periode kedua (2019 – 2024), ada potensi pertumbuhan 11% per tahun (CAGR). Cukup tinggi karena masih Double Digit.

Namun menurut The Primary Trader, yang terpenting adalah bahwa kali ini, pemerintah akan banyak menggandeng pihak swasta untuk berinvestasi pada proyek pembangunan infrastruktur. Salah satu yang sedang ramai adalah Softbank (Investor Grab dan Tokopedia) yang diberikan kesempatan untuk ikut membangun Ibukota yang baru nanti. Hal ini tentu membuat emiten Konstruksi relatif lebih ‘bebas’ menentukan kapasitasnya untuk berkontribusi dalam proyek tersebut. Dengan demikian, selain masih tersedia kesempatan untuk tumbuh, kali ini emiten pun berkesempatan untuk tumbuh sesuai dengan kemampuan.

Mengakhiri Downtrend

The Primary Trader melihat PTPP dalam proses membentuk Double Bottom. Untuk itu, PTPP perlu bertahan di Support penting di Rp1,300 yang telah menahan PTPP di Oktober 2018. PTPP masih harus Breakout Rp1,680 untuk mengonfirmasi pola Bullish Reversal untuk memperbesar potensi mengawali Uptrend. Dengan bertahan di Rp1,300, The Primary Trader mulai meyakini potensi Uptrend PTPP.

PTPP saat ini berada di bawah Cloud dari Ichimoku Kinko Hyo namun perlu diperhatikan bahwa masih ada Green Cloud yang menandakan potensi awal Uptrend (setelah muncul dominasi Red Cloud dari sejak September 2019). The Primary Trader melihat ancaman karena mulai ada bibit Red Cloud. Tentunya dengan PTPP bertahan di atas Rp1,300, Red Cloud seharusnya tidak terbentuk.

The Primary Trader pun melihat berdasarkan posisi relatif PTPP saat ini dengan MA200 atau rata – rata setahun terakhir. PTPP relatif lebih dekat dengan MA200 dibanding pada posisi terendah dalam 2 tahun terakhir yaitu di Rp1,300 atau pada Oktober 2018. Berdasarkan Distance Close to MA200, PTPP kali ini berada -32% di bawah MA200 sementara pada Oktober 2018, PTPP mencapai 74% di bawah MA200. Posisi yang lebih kecil tersebut menandakan Downtrend PTPP mulai melemah.

PTPP pun dapat dikatakan sudah murah bila dilihat dari PE TTM (4 kuartal terakhir) di -1 SD dalam 5 tahun terakhir. Membeli PTPP saat ini berarti membeli karena Cheap Valuation dan potensi Bottoming atau akhir dari Downtrend. Perlu kesabaran namun ada harapan dan potensi yang menarik.

Tetap Percaya Meski Ada Black Swan Ke-2

(Masih) Dalam Koridor Technical Correction Wajar

Penurunan IHSG sampai saat ini masih dalam koridor Technical Correction yang wajar. Hal ini terlihat dari area Fibonacci Retracement dimana saat ini IHSG baru mencapai 50%. Masih ada ruang untuk penurunan (wajar) yaitu sampai 61.8% atau di 6,090 – 6,100. Selama IHSG masih beradadi atas 6,090, potensi Uptrend IHSG masih ada.

Meskipun Tech. Correction wajar dan masih ada harapan Uptrend, tampaknya sulit untuk IHSG mencatat January Effect karena saat ini (YTD), IHSG sudah -2.4%. Penurunan yang cukup dalam ini disebabkan adanya wabah Novel Coronavirus yang berasal dari China dan mulai tersebar, termasuk AS. The Primary Trader melihat hal ini sebagai peristiwa Black Swan yang ke-2 di Januari 2020 setelah Black Swan yang pertama adalah serangan AS kepada Jenderal Iran.

The Primary Trader mengkhawatirkan munculnya 2 Black Swan di awal tahun 2020 ini adalah pertanda bahwa akan banyak Black Swan berikutnya. Hal ini mungkin akan menjadi pertanda kurang bagus bagi pasar saham karena Investor tidak menyukai risiko yang tidak dideteksi sebelumnya. Semoga feeling The Primary Trader salah.

Oversold dan Undershoot

Melihat pergerakan IHSG, saat ini IHSG telah mencatat penurunan sebesar 1.8% dalam seminggu (5 hari) terakhir dan 2.9% dalam sebulan (20 hari) terakhir. Dalam setahun terakhir, IHSG cenderung berhenti turun ketika sudah menyentuh penurunan sebesar 3.5% dalam 5 hari terakhir dan 5% dalam 20 hari terakhir. Berdasarkan historis, secara analisis teknikal, dapat diharapkan IHSG mulai mendekati akhir dari penurunan tersebut dan mendekati Bottom.

Menggunakan indikator Bollinger Band, IHSG pun sudah di bawah Lower Bollinger Band sehingga The Primary Trader menyebutnya Undershoot. Umumnya saham yang Undershoot tidak lama sehingga ada kecenderungan naik ke atas Bollinger Band.

Meski ada potensi naik ke atas Bollinger Band namun The Primary Trader mengkhawatirkan arah dari Middle Bollinger Band yang mulai mengarah ke bawah. Untuk lebih jelas lagi, Middle Band Direction yang mulai berada di area negatif dan berarti arah Middle Band Direction ke bawah.

Ada catatan penting lainnya yaitu lebar dari Bollinger Band yang cenderung melebar. Artinya adalah volatilitas IHSG akan meningkat dan ketika arah harga cenderung turun (Downtrend) maka tentu penurunannya lebih dalam. Indikator Bandwidth Bollinger Band yang mulai meningkatkan menunjukkan potensi peningkatan volatilitas tersebut.

Kesimpulan ?

Meskipun Black Swan membuat Investor mengambil langkah aman, namun persepsi Bullish masih terlihat. The Primary Trader melihat skenario Bullish berpotensi muncul dengan IHSG tetap bertahan di atas 6,000. The Primary Trader perkirakan (dan berharap) IHSG akan mempertahankan Technical Correction wajar sehingga tidak akan turun di bawah 6,090. Namun bila ternyata IHSG turun di bawah 6,090 dan tidak lagi menjadi Technical Correction wajar, selama IHSG bertahan di 6,000 atau Up Trendline dari sejak Juli 2018, maka harapan Uptrend Jangka Panjang masih ada.

Kenapa harus di atas 6,000 ? Karena IHSG sejak Juli 2019 terus membentuk Lower Low (#1 sampai #3 di 5,900). Apabila IHSG membentuk Low di 6,000 maka Lower Low tidak lagi terbentuk dan hal tersebut adalah indikasi akhir dari Downtrend (sejak Juli 2019).

Katalis Positif Untuk IHSG

Penguatan Rupiah karena masuknya Investor Asing (sehingga pasar obligasi sangat bagus) tentu disebabkan oleh potensi ekonomi Indonesia di tahun 2020. Omnibus Law yang masih dipersiapkan pemerintah, kelanjutan pembangunan infrastruktur, pemanfaatan infrastruktur yang sudah ada untuk menjalankan ekonomi, B30 yang sudah berjalan serta pemangkasan kuota impor minyak dari Pertamina akan menjadi sentimen – sentimen positif bagi IHSG.

Selain itu, ada kecenderungan IHSG untuk mencatat Return yang cukup baik setelah 1-2 tahun turun atau mencatat Return yang rendah (seperti tahun 2018 dan 2019).

Mempertahankan BI 7DRR Rate, Menjaga Sentimen Positif

BI Mempertahankan BI 7DRR Rate

BI mempertahankan BI 7DRR Rate sebesar 5%, sesuai dengan estimasi para Ekonom. Ada beberapa hal menarik dari hasil Rapat Dewan Gubernur BI kemarin yang The Primary Trader sukai :

  • BI masih membuka ruang untuk penurunan suku bunga (!)
  • BI tetap akan memberikan kebijakan moneter yang akomodatif dan akan terus bekerjasama dengan pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi
  • BI juga percaya siklus ekonomi Indonesia telah mencapai dan melewati Bottom sehingga ke depan, ekonomi Indonesia mulai dalam tren bertumbuh. BI perkirakan ekonomi Indonesia tumbuh 5.3% YoY di tahun 2020

Menurut The Primary Trader, hal tersebut akan memberikan sentimen positif bagi Investor Asing terhadap Indonesia. Tidak heran bila Rupiah menguat akibat masuknya Capital Inflow.

Rupiah saat ini bertahan di Support Rp13,600 namun sangat terbuka peluang untuk terjadi Breakdown Rp13,600 dan Rupiah terus menguat menuju Rp13,250 yang merupakan level terkuat Rupiah di tahun 2018. The Primary Trader tidak yakin BI atau pemerintah akan membiarkan Rupiah terlalu menguat. Oleh karena itu, The Primary Trader melihat Rupiah akan cenderung bertahan di Rp13,500 – Rp13,700 di 1Q20 ini.

Masuknya Investor Asing ke Indonesia jelas terlihat pada pasar obligasi. Harga SUN tampaknya terus naik sehingga menurunkan imbal hasil (Yield). Terlihat bahwa Yield SUN10Yr hampir menyentuh 6.5% dan The Primary Trader percaya level tersebut akan segera disentuh dalam waktu dekat.

Melihat penguatan yang sangat besar tersebut, The Primary Trader percaya setelah menguji Support di level 6.5%, Yield akan melemah mendekati 7%. Yield masih mempertahankan Tren Menurun selama tidak naik melewati 7.3%. Dengan demikian, The Primary Trader masih melihat dalam jangka panjang, Yield dapat turun menuju 5.9%.

IHSG Mempertahankan Bullish Continuation – Masih Dalam Uptrend

IHSG masih bertahan di Support 6,200 yang artinya IHSG masih dalam pola Bullish Continuation dari sejak pertengahan Desember 2019 di rentang 6,200 – 6,350. IHSG terancam turun ke 6,100 bila terjadi Breakdown Support di 6,200 tersebut.

Meski IHSG turun ke 6,100, The Primary Trader masih percaya penurunan tersebut sebagai Tech. Correction atau penurunan singkat di tengah Uptrend. Dengan demikian, Uptrend IHSG masih terjaga sekalipun IHSG turun ke 6,100.

Saat ini IHSG mencatat Return sebesar -0.7% YTD. Tampaknya Black Swan yang terjadi secara global (tensi geopolitik di Iran dan Virus Corona dari China) menjadi sentimen negatif yang membatalkan January Effect. The Primary Trader tidak yakin IHSG dapat naik menuju 6,350 di Januari 2020.

SIDO : Uptrend Yang Sehat

(Masih Dalam) Bullish Continuation Menuju Rp1,500

The Primary Trader melihat SIDO masih mempertahankan pola Bullish Continuation dari bulan Agustus 2019 dengan potensi menuju Rp1,500 – setelah Breakout Rp1,300. Idealnya SIDO Breakout Rp1,300 di bulan November 2019 namun Sideways SIDO di kisaran Rp1,280 sejak bulan Desember 2019 dapat dilihat sebagai Bullish Continuation minor (sebagai bagian dari Bullish Continuation dari bulan Agustus 2019 tersebut).

Uptrend Jangka Panjang Yang Kuat

Ichimoku Kinko Hyo mengonfirmasi Uptrend yang sangat sehat. Hal ini terlihat bahwa Red Cloud terakhir yang cukup panjang terjadi pada Oktober 2017. Sejak saat itu, Red Cloud terjadi relatif singkat dan SIDO terus di dominasi oleh Green Cloud.

Uptrend jangka panjang juga terlihat jelas setelah SIDO Breakout Rp1,000an pada awal tahun 2019. Mengunakan Fibonacci Retracement, SIDO sebenarnya sudah mencapai target jangka panjang pertama di Rp1,300an atau 161.8%. Masih ada target berikut di 261.8% atau di Rp1,800. The Primary Trader melihat setidaknya SIDO dapat kembali Uptrend menuju Rp1,500 yang merupakan level 200% atau 2x dari Rp1,000 (di level 100% dari Fibonacci).

Valuasi (Memang) Mahal

The Primary Trader menyukai valuasi menggunakan PE TTM. Saat ini PE TTM SIDO berada di 25x dan di atas 2x Standar Deviasi dalam 5 tahun terakhir. Memang sudah mahal.

Namun demikian, dalam hal saham Uptrend, tentu terkadang valuasi mahal karena ada justifikasi. The Primary Trader menggunakan acuan “selama Uptrend terjaga maka harga mahal masih dapat ditoleransi”. Selama SIDO masih bertahan di Up Trendline maka masih ada harapan SIDO terus naik. The Primary Trader akan mewaspadai SIDO bila terjadi Breakdown Up Trendline di Rp1,200 dan Rp1,000.

Masih Amankah IHSG ?

Breakdown Up Trendline minor

Dengan penurunan sebesar -0.7%, IHSG terindikasi Breakdown Up Trendline minor yang terbentuk sejak awal Desember 2019. Tentu dengan Breakdown ini, potensi IHSG naik menuju 6,450 (sebagai bagian dari January Effect) akan terganggu.

IHSG pun terindikasi membentuk Double Tops karena tidak mampu melewati Highest di akhir Desember 2019 di 6,350. Ada kemungkinan IHSG terancam turun menuju 6,100 setelah Breakdown 6,200. The Primary Trader melihat hal ini mungkin terjadi – bila IHSG Breakdown 6,200.

Masih Dalam Koridor Tech. Correction Wajar

Investor (terutama Trader) mengkhawatirkan ancaman Bearish atau Downtrend terutama untuk jangka panjang. Meskipun IHSG turun menuju 6,100, The Primary Trader menilai hal tersebut masih dalam koridor Technical Correction yang wajar. Artinya meskipun IHSG turun menuju 6,100 namun potensi Uptrend dalam jangka menengah – panjang IHSG masih ada (tentu dengan Breakout 6,450).

The Primary Trader tidak memperkirakan IHSG turun menuju 6,100an namun apabila bena terjadi maka IHSG belum perlu dikhawatirkan. The Primary Trader akan mengkhawatirkan potensi Uptrend IHSG atau bahkan pergerakan IHSG di tahun 2020 bila IHSG turun di bawah 6,100.

DEAL ! S&P500 Tetap Uptrend, Begitupun Dengan IHSG.

Trade Deal Fase 1

Presiden AS dan Wakil Presiden China menandatangani Trade Deal fase 1. China berjanji akan membeli barang – barang AS sebanyak total US$200 miliar dalam 2 tahun ke depan. AS berjanji tidak menaikkan tarif terhadap barang – barang China lagi. Namun AS belum akan menurunkan tarif sampai Pemilu di November 2020.

Menurut The Primary Trader, Trade Deal fase 1 ini sudah cukup untuk memberikan sentimen positif di 1Q20. Sentimen berikutnya akan muncul dari data ekonomi serta laporan keuangan emiten AS dan China di 1Q20 yang baru akan dirilis pada April 2020. Meskipun untuk saat ini sudah cukup, tampaknya masih ada Investor dan Pelaku Bisnis yang pesimis signifikansi Trade Deal ini.

Uptrend Pada Bursa AS

S&P500 telah mencapai target menggunakan Fibonacci Retracement dari level 2,940 di Oktober 2018 sampai 2,350 di Desember 2018 yaitu di 3,300 atau 1,618 (161,8%) dari Fibonacci. Masih ada target berikut yaitu di 200% di 3,530an.

The Primary Trader meyakini Uptrend S&P500 masih bertahan namun mungkin akan sulit sampai ke level 3,500an. Investor mulai mengkhawatirkan valuasi S&P500 yang sudah Overvalued. Meskipun kenaikan S&P500 sekarang ini disebabkan sentimen positif karena Trade Deal fase 1, The Primary Trader perkirakan S&P500 akan mulai mengalami momentum penurunan setelah mendekati atau menyentuh 3,400.

Melihat bursa AS lain yaitu Dow Jones Industrial Average (DJIA) dan Dow Jones Transportational Average (DJTA), The Primary Trader melihat Uptrend di pasar saham AS memang sehat.

DJIA masih dalam Uptrend menuju 30,300 – yang merupakan target dari Fibonacci Retracement di 1,618 atau 161,8%. Target ini diperoleh dari level 27,000 di Oktober 2018 sampai 21,700 di Desember 2018 (pergerakan yang sama dengan S&P500).

Menggunakan Dow Theory yang mengatakan “Average Must Confirm Each Other”, The Primary Trader melihat DJTA – saudar kembar DJIA.

DJTA memang belum dalam All Time High seperti DJIA dan S&P500. Namun saat ini DJTA sudah Breakout level tertinggi dari sejak September 2018. The Primary Trader meyakini DJTA mampu melewati All Time High di 11,623 seperti halnya DJIA dan S&P500. Dengan potensi DJTA membentuk New All Time High maka Uptrend di pasar saham AS terkonfirmasi. Meski demikian, hal tersebut bukan jaminan Uptrend di pasar saham AS masih dapat berlangsung dalam jangka menengah atau panjang.

VIX Index sebagai indeks persepsi risiko di AS memang kembali di level rendah. Namun The Primary Trader melihat kenaikan yang terjadi berikut pada VIX akan membuka peluang VIX terus naik sampai level tertinggi dalam satu tahun terakhir di 22 – 24. Level ini tercapai ketika Investor mengkhawatirkan eskalasi Trade War dan ancaman kenaikan Fed Fund Rate.

Ancaman di tahun 2020 yang mungkin meningkatkan VIX Index adalah gagalnya Trade Deal fase 1 (karena mungkin China tidak menepati janji untuk membeli produk AS), eskalasi tensi AS – Iran serta pemakzulan Trump.

Dampak Pada IHSG

The Primary Trader melihat IHSG masih mempertahankan minor Up Trendline dari awal Desember 2019 yang menjaga peluang IHSG naik menuju 6,450. Masih ada harapan kenaikan IHSG ini bagian dari January Effect.

Menggunakan indikator Stochastic Oscillator (yang telah The Primary Trader modifikasi), terlihat bahwa IHSG masih berpotensi mengalami penurunan namun Stoch. Oscillator sudah mendekati area Oversold. Oleh karena itu, penurunan yang mungkin terjadi seharusnya sudah terbatas.

Namun demikian, The Primary Trader melihat Stoch. Oscillator tersebut berpotensi segera melakukan Bullish Crossover atau memberikan sinyal Buy. Hal ini terlihat pada indikator Stoch. Oscillator Histogram dimana Histogram-nya yang saat ini berada di area negatif mulai mencatat kenaikan. Kondisi ini mengindikasikan %K-line dari Stoch. Oscillator akan segera Crossover dengan %D-Line dan kemudian membuat kondisi dimana muncul sinyal Buy.

The Primary Trader yakin sentimen pada pasar saat ini adalah Bullish. Terlebih lagi apabila draf Omnibus Law jadi diselesaikan dalam 1-2 minggu ke depan (atau di bulan Januari 2020 ini).

Deal (Or No Deal?)

Menunggu Peresmian (Atau Setidaknya Detil) Trade Deal Fase 1

Investor (dan The Primary Trader) masih menunggu rencana penandatanganan serta detil dari Trade Deal Fase 1 antara AS – China. AS kemudian disebutkan tidak akan memotong tarif lebih lanjut (Trade Deal Fase 2 ?) sebelum Pemilu Presiden di awal November 2020. Hal ini mengisyaratkan bahwa Trade Deal Fase 2 mungkin tidak dapat dilaksanakan segera (ketika awal Trade Deal Fase 1 disepakati di Desember 2019 lalu).

IHSG Menuju 6,450 (Bagian Dari January Effect)

The Primary Trader melihat IHSG sedang dalam kenaikan menuju 6,450 sebagai bagian dari January Effect. Kenaikan tersebut pun seiring dengan penguatan Rupiah yang menandakan masuknya Investor Asing. Salah satu sentimen positifnya adalah kuota impor minyak Pertamina dipotong sebesar 30 juta barel di tahun 2020 ini. Dengan demikian, Neraca Perdagangan Indonesia di tahun 2020 berpotensi positif dan hal tersebut akan positif untuk Rupiah.

Investor Asing sudah masuk ke IHSG sejak pertengahan Desember 2019. Kemungkinan karena ada perkembangan dari Omnibus Law (dengan Cut Tax Rate). The Primary Trader melihat tren Net Buy Asing telah dimulai sehingga di Januari 2020 ini akan ada Akumulasi Net Buy Asing yang lebih tinggi lagi.

Perhatikan Sektor Consumer (Poultry dan Media) dan Banking

Berdasarkan grafik Trend and Momentum, sektor yang sahamnya rata – rata dalam kondisi Uptrend (namun belum Overbought) adalah Media, Poultry dan Banking.

Kolaborasi SCMA dan MNCN. Perhatikan SCMA

The Primary Trader menyukai sektor Media karena dua pemain besar (SCMA dan MNCN) berkolaborasi. Hal ini sebagai strategi melawan bisnis Streaming seperti Netflix, Hooq dan iflix. The Primary Trader memperhatikan SCMA yang saat ini terlihat hampir menyelesaikan pola mengakhiri Downtrend (Bottoming) dari sejak Juli 2019.

SCMA harus Breakout Rp1,500 untuk mengonfirmasi akhir Downtrend dan membuka potensi naik menuju Resistance penting di Rp2,000. Uptrend SCMA diawali dengan Breakout Rp2,000 tersebut.

SCMA sebenarnya terus Undeperform IHSG dan MNCN. The Primary Trader cenderung menghindari saham yang Underperform namun untuk SCMA kali ini dapat diperhatikan karena sentimen positif dari kolaborasi antara SCMA dan MNCN tentu adalah hal positif bagi keduanya.

Rencana Afkir Dini Positif Untuk Sektor Poultry. Pantau CPIN.

CPIN telah Breakout Bullish Continuation di Rp7,000 pada awal Januari 2020 dan saat ini ada potensi CPIN segera mengawali kenaikan sebagai lanjutan Uptrend dari sejak Oktober 2019 di Rp5,000. CPIN berpeluang naik menguji Resistance penting di Rp8,800.

Ada sentimen negatif dari kenaikan harga jagung karena panen jagung berpotensi mundur. Hal ini mengakibatkan harga jagung naik dan meningkatkan biaya pakan ternak dan menjadi sentimen negatif untuk sektor Poultry seperti CPIN. Rencana afkir dini berpotensi menjadi sentimen positif kembali (seperti yang terjadi di pertengahan tahun 2019 lalu).

Menanti Sesuatu Yang Positif (Dilihat Dari Rupiah)

Rupiah Menguat Mendekati Rp13,600 (Target)

Rupiah saat ini berada di kisaran Rp13,655 yang merupakan target setelah Rupiah Breakdown Support penting di Rp13,900 (di awal Januari 2020). Penguatan ini tentu mengindikasikan tren penguatan Rupiah dari Oktober 2018 di Rp15,200 masih berlangsung.

The Primary Trader melihat pergerakan Rupiah sejak Juni 2019 dari Rp14,500 adalah fase Sideways yang menandakan Wait and See Investor Asing sebelum berani masuk dan berinvestasi di Indonesia. Dengan Breakdown Rp13,900 di awal tahun 2020, ada kemungkinan niat berinvestasi sudah semakin pasti.

Dalam jangka menengah – panjang, ada potensi Rupiah terus menguat mendekati level di tahun 2016 – 2018 yaitu di kisaran Rp13,250 – Rp13,600.

Penguatan Rupiah tentu sedikit banyak menandakan minat Investor Asing untuk berinvestasi di Indonesia. Oleh karena itu, The Primary Trader memperhatikan pasar saham dan pasar obligasi.

De-eskalasi Di Valuasi Tinggi. Penguatan Rupiah, Katalis IHSG.

De-eskalasi Konflik Namun Bukan Berarti Tenang Karena S&P500 Mahal

The Primary Trader melihat potensi perang Iran – AS semakin berkurang seiring dengan kedua belak pihak tidak melanjutkan serangan balasan (terakhir adalah Iran melontarkan rudal yang dengan ‘sengaja’ tidak mengenai pangkalan militer AS). Saat ini Iran justru sedang dalam tekanan internasional karena ‘tidak sengaja’ menembak pesawat komersial Ukraina. Bahkan karena kecerobahan tersebut, ada tekanan dari masyarakat Iran untuk Ayatollah Khamenei.

Untuk pasar modal, hal tersebut terlihat pada index VIX yang menunjukkan risiko pada S&P500. Tampaknya VIX berhasil kembali melemah mendekati level standar minim risiko di 10. VIX terlihat telah bergerak Downtrend dari sejak Agustus 2019 lalu. Saat ini ancaman – ancaman Trump terhadap China semakin gencar (peningkatan tegangan Trade War). The Primary Trader melihat Down Trendline dari sejak itu sampai saat ini. Perlu dicatat bahwa bila terjadi kejadian yang berisiko tinggi dan VIX naik melewati (Breakout) Down Trendline tersebut maka VIX berpotensi terus naik menguji Resistance – Resistance penting di level 20 dan 24.

Kenaikan VIX selanjutnya dapat mengancam pergerakan S&P500 yang saat ini sudah mendekati level 3,300. Level 3,300 adalah target S&P500 sewaktu S&P500 Breakout Resistance di 2,950 pada Juli 2019. Setelah Breakout 2,950, S&P500 mengindikasikan pola Bullish Continuation (dari sejak Juni 2019) dan mengonfirmasi pola tersebut dengan Breakout 3,000 di akhir Oktober 2019. Pada saat inilah S&P50 semakin memperkuat target di 3,300.

Dengan demikian, setelah mendekati 3,300, The Primary Trader mengkhawatirkan Uptrend S&P500 dapat terganggu. Memang akan sulit untuk langsung berubah menjadi Downtrend namun setidaknya ada fase Technical Correction yaitu penurunan wajar ditengah Uptrend. Namun tentu penurunan wajar tersebut dapat mencapai ~5% atau mungkin mencapai 3,000an lagi. Investor lain pun menganggap valuasi S&P500 sudah mahal.

Rupiah Menguat Menuju Rp13,600 Menjadi Katalis Kenaikan IHSG.

Sentimen positif di awal tahun membuat Rupiah menguat dan berhasil Breakdown Support di Rp13,900 yang menahan penguatan Rupiah dari sejak awal tahun 2019. Rupiah berpotensi menguat menuju Rp13,600. Salah satu alasan Rupiah menguat adalah optimisme terhadap ekonomi Indonesia yang membuat Investor Asing masuk ke pasar keuangan Indonesia.

Penguatan Rupiah karena masuknya Investor Asing tentu akan menjadi katalis kenaikan IHSG. The Primary Trader melihat ada kemungkinan (kecil) bagi IHSG untuk mengakhiri Technical Correction di 6,218 pada minggu lalu untuk kemudian naik menuju Resistance penting di 6,450.

The Primary Trader percaya Tech. Correction wajar IHSG dapat mencapai 6,150 – 6,200. Meski demikian, tentu ada katalis – katalis tertentu yang dapat membatalkan perkirakan tersebut. Salah satunya adalah de-eskalasi tensi Timur Tengah tersebut.

Uptrend + Sinyal Buy. Perhatikan TOWR.

The Primary Trader melihat beberapa saham yang dalam kondisi Uptrend dan mendapat sinyal Alert Buy yaitu : TOWR, MEDC dan ANTM. Selain itu, ada beberapa saham dalam kondisi Uptrend dan mendapat sinyal Buy Now yaitu : PTPP, BIRD dan Saham Sektor Coal (UNTR, PTBA dan ITMG).

The Primary Trader menyukai MEDC dan percaya ANTM akan mendapat sentimen positif karena kenaikan harga emas dan nikel. Namun The Primary Trader memperhatikan TOWR karena terlihat TOWR masih berpotensi Uptrend dalam jangka panjang. Setidaknya TOWR dalam jangka pendek dapat naik menuju Resistance penting di Rp920.

Saat ini TOWR sedang dalam Tech. Correction atau Throwback dengan maksimum turun menuju Rp750. TOWR yang telah Breakout Resistance di Rp750 mengindikasikan kelanjutan dari Uptrend karena The Primary Trader melihat penurunan TOWR dari tahun 2019 adalah sebagai Bullish Continuation. TOWR berpotensi melanjutkan Uptrend dari sejak Oktober 2019 di Rp450 sampai Rp850 di awal tahun 2019. TOWR berpotensi naik dalam Uptrend jangka panjang menuju Rp1,200.

Katalis utama untuk Sektor Menara Telekomunikasi di tahun 2020 adalah kemungkinan para operator telekomunikasi mengurangi kepemilikan menara dalam rangka efisiensi operasional. Selain itu, tren G5 tampaknya akan meningkatkan permintaan menara. Strategi perluasan jaringan dari para operator pun masih menjadi katalis pendorong penambahan menara. Dalam waktu dekat, TOWR sedang mengincar menara dari EXCL.

The Primary Trader Daily 8 January 2020

Photo by John Guccione http://www.advergroup.com on Pexels.com

Lelang Perdana SUN Di Awal Tahun 2020 – Sangat Bagus !

Pemerintah melakukan lelang perdana SUN di awal tahun 2020 dan mendapatkan permintaan (Incoming Bid) sebesar Rp81.5 triliun. Target awal adalah sebesar Rp15 triliun sehingga Bid To Cover Ratio (perbandingan antara Incoming Bid dengan target) adalah sebesar 5.4x dan angka ini cukup besar. Permintaan yang tinggi menandakan minat berinvestasi di pasar modal terutama dari Investor Asing. Hal ini positif bagi pasar obligasi dan juga pasar saham.

Yield SUN10Yr masih di kisaran 7.12% namun The Primary Trader percaya Yield akan segera turun menuju 6.5% di pertengahan tahun 2020. Penurunan tersebut ditandai dengan Breakdown Support di level 7%. Terjaganya fiskal Indonesia (karena Ibu Menteri Keuangan, Sri Mulyani), Omnibus Law terutama Cut Tax Rate dan potensi Upgrade Rating Indonesia akan menjadi katalis turunnya Yield SUN (yang berarti kenaikan harga SUN) – menurut The Primary Trader.

Rupiah sendiri sedang bersiap untuk menguat menuju Rp13,600/USD. Namun tentu BI akan concern dan menjaga volatilitas Rupiah untuk stabil. The Primary Trader melihat potensi penguatan Rupiah sebagai minat berinvestasi di Indonesia di mata Investor Asing. Setidaknya untuk 1Q20 ini, Rupiah akan stabil di kisaran Rp13,900 – Rp14,000/USD.

Modal Untuk Penguatan IHSG Sepanjang 1H20

Sentimen saat ini masih negatif karena kekhawatiran perang dan gangguan suplai minyak. Terlebih lagi ternyata ‘balasan’ Iran sudah mulai terlihat. Oleh karena itu, The Primary Trader perkirakan IHSG masih akan kembali melemah setidaknya menyentuh 6,200.

IHSG berpotensi segera mengakhiri penurunan sebagai Tech. Correction dan melanjutkan kenaikan menuju 6,450. Namun tampaknya IHSG lebih cenderung kembali melemah – dalam koridor Tech. Correction. The Primary Trader perkirakan IHSG baru akan mengakhiri Tech. Correction di kisaran 6,150 – 6,200.

Katalis penguatan IHSG di 1H20 yang utama, menurut The Primary Trader, adalah Omnibus Law. Dengan demikian, selama tidak terlihat adanya hambatan berarti pada proses pembuatan UU tersebut maka Investor akan tetap optimis terhadap IHSG.

MEDC : Ophir Masih Berpotensi Menarik

Laporan keuangan MEDC di 9M19 mencatat kenaikan pendapatan sebesar 9% YoY namun ternyata hanya mencapai 45% dari estimasi para analis. Laba bersih di 9M19 pun turun sebesar -32% YoY karena ada biaya – biaya yang naik (seperti biaya depresiasi) tinggi. Laba bersih MEDC di 9M19 yang telah lama ditunggu hanya mencapai 29% dari estimasi para analis.

Namun dampak Ophir di 3Q19 lalu berhasil mendorong pendapatan MEDC sebesar 14% QoQ dan 19% YoY. Hal ini menurut The Primary Trader menunjukkan potensi Ophir terhadap MEDC.

The Primary Trader masih melihat MEDC dalam pola Bullish Continuation sehingga kenaikan dari Rp615 di November 2019 masih berpotensi berlanjut yang membuat MEDC menguji Resistance di Rp1,100. MEDC akan mengawali Uptrend jangka panjang (dengan potensi menuju Rp1,600) setelah Breakout Rp1,100.

The Primary Trader Daily 7 January 2020

Photo by Pixabay on Pexels.com

IHSG : Bukan Lagi Throwback Tapi Technical Correction

Penurunan IHSG di bawah 6,300 yang merupakan Suppot mengindikasikan fase Throwback batal. Namun potensi kenaikan IHSG menuju 6,450 masih ada karena penurunan IHSG masih dapat dianggap sebagai Technical Correction atau penurunan di tengah Uptrend (dari sejak akhir November 2019 di 5,900). Koridor wajar Tech. Correction IHSG antara 6,090 – 6,180 yang artinya potensi Uptrend menuju 6,450 masih ada selama IHSG tidak turun di bawah 6,090.

The Primary Trader melihat penurunan IHSG adalah bagian dari kekhawatiran akan tensi di Timur Tengah dan potensi perang AS – Iran. Dampak utamanya adalah kenaikan harga minyak dimana Brent saat ini sudah mencapai US$68, naik 5% dari sejak sebelum serangan AS. The Primary Trader perkirakan Brent akan sulit naik melewati US$80 sementara Brent di hari ini sudah terlihat tertahan di Resistance US$70. Kekhawatiran terjadinya perang dunia 3 tampaknya cukup berlebihan meskipun dampak kenaikan harga minyak perlu diwaspadai.

Cek opini The Primary Trader mengenai Brent di sini.

Program B30 yang baru saja diresmikan Pemerintah tampaknya diyakini menjadi penghemat impor BBM sehingga di awal tahun 2020, harga BBM diturunkan dengan cukup banyak (kurang lebih Rp1,000 per liter untuk semua jenis). Selain itu, kemungkinan besar program – program pengembangan kilang yang saat ini dimiliki Pertamina mulai banyak yang selesai di tahun 2020 yang diharapkan dapat memperbesar kapasitas produksi Pertamina. Dengan demikian, impor BBM yang sudah jadi dapat semakin dikurangi.

Perlu diingat bahwa Presiden telah meminta draf UU Omnibus Law selesai pekan depan sehingga dapat diserahkan ke DPR secepatnya. Omnibus Law yang salah satunya berisi Cut Tax Rate akan menjadi pendorong utama IHSG di tahun 2020. Bila Pemerintah dapat menyerahkan ke DPR di Januari 2020, diharapkan Omnibus Law dapat disahkan di 1H20. Bukan tidak mungkin IHSG dapat menyentuh 7,000 di tahun 2020 atau setidaknya berhasil membentuk New All Time High dari saat ini di 6,693.

Saham Undershoot

The Primary Trader melihat ada 5 saham yang mencatat Undershoot atau berada di bawah Lower Bollinger Band. Saham Undershoot dapat diartikan sudah turun terlalu dalam dan jauh dari ‘normal’-nya sehingga layak menjadi perhatian. Saham tersebut adalah GJTL, DMAS, BRPT, PWON dan SSIA. The Primary Trader menyukai DMAS, SSIA dan PWON.

Tampaknya PWON masih melanjutkan penurunan menuju Support kuat di kisaran Rp430 – Rp490. The Primary Trader meyakini proyek PWON di Bekasi akan menjadi katalis utama kenaikan saham tersebut – setelah Downtrend berakhir di kisaran Rp450an.

Ringkasan PWON sebelumnya di sini.

Meski The Primary Trader yakin dengan masuknya Foreign Direct Investment (FDI) di tahun 2020 dengan membeli lahan kawasan industri, dua saham kawasan industri DMAS dan SSIA masih perlu diwaspadai karena Downtrend-nya masih bertahan.

SSIA sedang menyentuh Support di Rp630 namun belum terlihat potensi berhenti dan ada ancaman Breakdown Rp630 untuk terus turun menuju Support berikut di Rp500. The Primary Trader menyukai kawasan industri SSIA di Subang dan potensi menariknya bila nanti tol Patimban – Subang selesai serta tentunya pelabuhan Patimban beroperasi.

DMAS adalah salah satu emiten kawasan industri yang paling menarik karena selain memiliki luas lahan yang terbesar, DMAS rutin membagikan dividen. Hyundai Motor Company pun dikonfirmasi membeli lahan 77 ha untuk membangun pabrik mobil pertama di Asia Tenggara.

The Primary Trader melihat DMAS terindikasi membentuk pola Bullish Continuation dari sejak November 2019 (dilihat dari penurunan dari Rp360 sampai Rp270). Namun pola tersebut dapat gagal bila dalam waktu dekat DMAS turun di bawah Rp260 – yang membuat DMAS terancam turun terus sampai Rp200. DMAS masih perlu naik dan Breakout Rp300 untuk mengonfirmasi pola Bullish Continuation tersebut. The Primary Trader masih akan terus pantau DMAS dan meyakini potensinya.

INCO : Menjadi Perhatian The Primary Trader

The Primary Trader meyakini potensi nikel yang menjadi bahan utama baterei mobil listrik sehingga harganya Nikel berpotensi terus naik. INCO sebagai salah satu produsen nikel nasional akan sangat berpotensi menikmati kenaikan harga nikel ke depan.

Saat ini The Primary Trader melihat INCO sedang dalam fase Bullish Continuation setelah Breakout Down Trendline yang membuat INCO berada dalam Downtrend jangka pendek (sejak September 2019 dari Rp4,200 sampai Rp2,900). INCO berpotensi naik dan menguji Resistance penting dan kuat di Rp4,000 untuk mengawali Uptrend jangka panjang menuju setidaknya Rp4,700.

The Primary Trader Daily 6 January 2020

Photo by Pixabay on Pexels.com

Ancaman Perang AS vs Iran

Serangan AS yang menewaskan jendral Iran Qasem Soleimani membuat Investor khawatir akan terjadinya perang dunia 3. Investor juga khawatir mengenai adanya krisis minyak karena Iran ‘menguasai’ selat Hormutz yang merupakan jalur 35% dari seluruh minyak mentah yang diproduksi secara global (2011). Mayoritas dari minyak mentah tersebut akan didistribusikan ke negara di Asia seperti Jepang, China, India, Korea Selatan dan China.

The Primary Trader merasa wajar bila Investor merasa khawatir akan terjadinya kekurangan suplai minyak secara signifikan sehingga harga minyak (yang diwakili oleh Brent) melonjak. The Primary Trader melihat harga Brent berpotensi mengawali Uptrend menuju setidaknya US$80 setelah Breakout US$70.

Meski demikian, perlu diingat bahwa AS saat ini sudah menjadi eksportir minyak (dan terbesar melebihi Arab Saudi). Oleh karena itu, AS sebagai salah satu negara yang paling membutuhkan minyak, mungkin tidak terlalu terganggu dengan potensi turunnya suplai minyak dari negara – negara Timur Tengah (karena selat Hormutz terganggu). The Primary Trader merasa Brent akan sulit untuk naik melewati US$80 atau bahkan mendekati US$87. Kenaikan harga minyak yang tinggi pun akan mengancam pertumbuhan ekonomi global yang mungkin baru mulai pulih karena adanya Trade Deal fase 1 (yang baru mau ditantandangi tanggal 15 Januari 2020 nanti oleh AS dan China).

Investor juga tampaknya khawatir akan terjadinya perang dunia ke-3 yang dipicu oleh AS vs Iran. Oleh karena itu, adanya kenaikan harga emas yang dianggap sebagai Safe Heaven ketika terjadi perang menunjukkan kekhawatiran tersebut.

Harga emas telah Breakout US$1,500 yang menandakan pola Bullish Continuation yang telah terjadi sejak Agustus 2019 terkonfirmasi. Dengan kata lain, kenaikan harga emas dari Juni 2019 di US$1,260 ke US$1,550 akan kembali berlanjut.

Secara jangka panjang, di tahun 2020 ini, emas berpotensi terus Uptrend menuju US$1,800, level tertinggi sejak November 2011. Emas sendiri sedang dalam Uptrend menuju US$,1700 setelah Breakout US$1,370 di Juni 2019 lalu. Resistance US$1,370 adalah Resistance yang menahan harga emas sejak tahun 2014 sehingga setelah di-Breakout, level tersebut akan menjadi Support kuat. Selain karena ancaman perang, The Primary Trader perkirakan Investor masih berhati – hati akan ancaman Trade War AS – China yang belum sepenuhnya hilang.

Harga BBM Turun. Positif Untuk Saham Sektor Konsumsi dan Retail.

Di awal tahun 2020, harga BBM dari Pertamina, Shell dan Total turun dengan besaran yang cukup besar yaitu sekitar Rp1,000an lebih. Hal ini terjadi karena harga minyak di 2H19 berkisar antara US$56 – US$68. Selain itu, menurut Erick Thohir, Menteri BUMN, harga BBM bisa turun karena pengaruh B30 yang membuat impor minyak mentah berkurang.

Penurunan harga BBM tentu dapat menjaga konsumsi masyarkat sehingga ada potensi positif untuk saham sektor Konsumsi dan Ritel. Memang ada katalis positif juga untuk sektor Rokok namun The Primary Trader melihat, kenaikan harga eceran sebesar 35% dan tren hidup sehat yang semakin menjamur, pada akhirnya akan mengurangi konsumsi rokok.

The Primary Trader memperhatikan saham INDF karena sedang dalam bentuk Bullish Continuation. INDF perlu Breakout Rp8,050 untuk melanjutkan Uptrend menuju setidaknya Rp9,150. INDF pun sedang dalam proses Breakout Rp7,850 yang mengindikasikan awal Uptrend jangka panjang dengan potensi menuju Rp10,000. Selain mie instan, konsumsi tepung serta adanya bisnis CPO menjadi katalis utama INDF. Saham INDF pun termasuk saham Big Caps yang harus dibeli oleh Investor Asing bila ingin berinvestasi di IHSG.

Lebih lanjut mengenai INDF.

Meningkatnya kelas menengah di Indonesia serta mulai banyak kaum milenial yang memasuki kelas produktif (bekerja atau berusaha) akan meningkatkan konsumsi ritel yang popular. MAPI sebagai emiten yang memiliki pangsa pasar di pakaian bermerek serta F&B yang popular seharusnya diuntungkan dari demografi tersebut. Selain itu, dengan turunnya harga BBM, ada harapan dan peluang peningkatan konsumsi tersebut.

The Primary Trader melihat MAPI sedang membentuk Bullish Continuation yang meningindikasikan masih ada harapan Uptrend. MAPI harus Breakout Rp1,100 untuk melanjutkan Uptrend menuju Rp1,300. Ada Resistance dari All Time High di Rp1,180 yang seharusnya dapat di-Breakout bila MAPI berhasil Breakout Rp1,100 dengan baik.

IHSG : Di Awal Uptrend Menguji Resistance di 6,450

IHSG semakin terindikasi Breakout 6,300 karena berhasil bertahan di atas 6,300 tersebut dalam penurunan di 2 hari awal tahun 2020. The Primary Trader perkirakan IHSG akan dapat mendekati level 6,400 di Januari 2020 untuk kemudian menguji Resistance 6,450 di Februari 2020.

Mengenai January Effect dan perkirakan The Primary Trader di bulan Januari 2020.

The Primary Trader juga melihat mulai adanya Foreign Inflow ke IHSG sejak akhir Desember 2019. Hal ini menandakan Investor Asing positif terhadap kabinet Indonesia Maju dimana antara lain ada Sri Mulyani di pos Menteri Keuangan (lagi), Erick Thohir di pos Menteri BUMN dan Basuki Hadimuljono di Menteri PUPR (lagi). Selain itu, ada harapan pemerintah dan DPR segera mensahkan Omnibus Law yang isinya antara lain menyederhanakan aturan – aturan pembentukan usaha serta yang paling penting pemotongan tarif pajak.

The Primary Trader Daily 03 January 2019

Photo by Aleksandar Pasaric on Pexels.com

Inflasi Indonesia Bulan Desember 2019

BPS melaporkan inflasi di bulan Desember 2019 sebesar 2.72% YoY dan 0.34% MoM, lebih rendah dari estimasi sebesar 2.9% YoY dan 0.49% MoM. Sementara inflasi inti hanya sebesar 3.02% YoY, lebih rendah dari estimasi 3.11% YoY.

Indonesia Inflation Rate

Rendahnya inflasi ini cukup mengkhawatirkan karena hal ini berarti ekonomi Indonesia terancam tidak tumbuh dan bahkan turun. Apalagi inflasi di 2019 (setahun) adalah yang terendah sejak krisis 1999 atau hanya 2.78%. Memang salah satu penyebab utama inflasi rendah adalah ketersediaan beras di Bulog yang cukup, bahkan melimpah sehingga terancam busuk. Harga bahan bakar pun cenderung stabil rendah karena harga minyak dunia yang juga rendah.

Kekhawatiran utama muncul karena inflasi inti juga lebih rendah dari estimasi. Inflasi inti adalah inflasi yang terkait dengan faktor utama seperti penawaran dan permintaan. Penurunan inflasi inti menunjukkan ada sesuatu yang perlu diwaspadai dalam ekonomi. Inflasi inti di tahun 2019 telah turun dari September 2019 sebesar 3.32% dan pada bulan Desember 2019 kemarin adalah yang terendah sepanjang tahun 2019.

Indonesia Core Inflation Rate

IHSG : Dalam Fase Throwback

Di hari pertama perdagangan tahun 2020, IHSG ditutup melemah -0.3%. Menurut The Primary Trader, penurunan tersebut adalah fase Throwback atau penurunan singkat setelah Breakout. Penurunan tersebut kurang lebih berhenti di level Support (atau Resistance yang sebelumnya telah di-Breakout). Level Resistance yang telah di-Breakout adalah di 6,300an sehingga The Primary Trader prediksi IHSG sudah mendekati akhir dari fase Throwback. Dalam waktu dekat, seharusnya IHSG akan segera mengawali kenaikan sebagai bagian dari January Effect. The Primary Trader percaya IHSG akan naik dan kembali mengalami January Effect di tahun 2020.

Dandy Rotation : Perhatikan Saham Bank dan Saham Konsumsi. Saham Komoditas Masih Layak Buy on Weakness

Berdasarkan Dandy Rotation, The Primary Trader melihat saham sektor Bank seperti BMRI dan BBCA serta saham sektor Konsumsi seperti UNVR cukup menarik. Saham UNVR efektif Stock Split di tanggal 2 Januari 2020 dengan rasio 1:5 sehingga saat ini harganya di Rp8,550an (Closing Price).

The Primary Trader melihat UNVR berpotensi naik menuju Resistance di Rp9,200 dan Rp10,000. Hal ini karena UNVR telah berada dalam Support kuat yang telah menahan kejatuhan UNVR dari sejak akhir 2016 yaitu di level Rp7,500 – Rp8,000an. Level tersebut dapat dikatakan sebagai Bottom UNVR. The Primary Trader kurang yakin UNVR dapat Breakout Rp10,000 namun dari Rp8,550 saat ini sampai Rp10,000, ada potensi kenaikan sebesar ~16% dan cukup menarik.

SMGR : Dalam Kuadran Fast Namun Sudah Mulai Uptrend

The Primary Trader melihat SMGR sedang dalam proses Bullish Continuation. Artinya adalah SMGR berpotensi melanjutkan Uptrend yang telah terjadi dari Juli 2018 (Rp6,500) sampai April 2019 (Rp14,500) dengan besaran yang sama (!). SMGR harus Breakout Rp13,000 untuk kembali melanjutkan Uptrend jangka panjang tersebut. Setidaknya SMGR berpotensi kembali menguji Resistance di Rp14,500 (setelah Breakout Rp13,000). The Primary Trader akan menghindari SMGR bila ternyata terjadi Breakdown Rp11,500.

The Primary Trader Daily 02 January 2020

Photo by Abhiram Prakash on Pexels.com

Sentimen Positif di awal tahun 2020

Peresmian Trade Deal fase 1 pada 15 Jan’20 tentu akan menjadi katalis positif karena dengan demikian, AS akan menurunkan tarif impor dari 15% menjadi 7.5% terhadap barang dari China senilai US$120 miliar dan mempertahankan tarif sebesar 25% terhadap barang China senilai US$250 miliar. Rencana pengenaan barang terhadap US$160 miliar yang efektif 15 Des’19 lalu pun batal karena adanya kesepakatan tersebut.

China dikabarkan akan menambah impor barang komoditas dari AS sebesar US$16 miliar dari US$24 miliar yang rutin diimpor dari AS (seperti Soybean). Dengan demikian, dalam 2 tahun ke depan, China setidaknya akan mengimpor barang koomidtas senilai total US$50 miliar dari AS.

The primary Trader melihat hal ini akan positif untuk pasar komoditas terutama Coal dan Oil&Gas. China dapat memulai kembali produksi pabriknya dan hal tersebut memerlukan komoditas energi seperti Coal dan Oil&Gas.

IHSG : Breakout Down Trendline Jangka Menengah

Dari sejak Jul’19, IHSG telah beberapa kali mencoba naik menuju 6,500 namun gagal sehingga terus turun membentuk Down Trendline jangka menengah (dari 6,460an). Menjelang akhir tahun 2019, IHSG berhasil Breakout Down Trendline tersebut di level 6,300. The Primary Trader melihat hal ini sebagai sinyal bahwa IHSG siap untuk Breakout Down Trendline yang lebih besar lagi (dari sejak Feb’18 di 6,680an).

IHSG masih perlu naik menuju 6,450 untuk Breakout Down Trendline besar dari sejak Feb’18 di 6,680an. Oleh karena itu, Breakout 6,300 menjadi penting karena dapat memperbesar peluang IHSG naik mendekati 6,450 lalu Breakout Resistance tersebut.

Memperbesar Peluang January Effect

Penandatanganan Trade Deal fase 1 tampaknya disukai oleh Investor karena akhirnya berhasil menjadi katalis pendorong IHSG Breakout 6,300. The Primary Trader percaya January Effect di bulan Januari 2020 akan terjadi. The Primary Trader perkirakan IHSG akan kembali mencatat January Effect di Januari 2020 ini. The Primary Trader perkirakan besaran Monthly Return IHSG di Januari 2020 adalah sebesar 1.4% – 1.6% (sesuai dengan kisaran Average Monthly Return IHSG pada saat terjadi January Effect dalam 10 tahun terakhir).

Cek di sini mengenai January Effect pada IHSG.

Mengasumsikan IHSG akan mengalami January Effect dengan Monthly Return yang berkisar antara 1.3% (Average Monthly Return IHSG dalam 10 tahun terakhir) sampai 3.1% (Average Monthly Return IHSG sejak 1996 hanya pada saat terjadi January Effect) maka IHSG pada akhir Januari 2020 berada pada rentang 6,381 – 6,494. IHSG baru dapat Breakout Resistance 6,450 bila ada kenaikan lebih dari 2.5%. Bila melihat IHSG hanya naik sebesar 1.6% pada January Effect dalam 10 tahun terakhir maka setidaknya IHSG masih dapat menyentuh 6,400 di akhir Januari 2020 dan The Primary Trader rasa hal tersebut cukup bagus.

Sektor Pilihan : Komoditas Seperti Coal, Oil&Gas dan Mineral

Memasuki awal tahun 2020 dan mengikuti perkembangan pasar terkini, The Primary Trader memperhatikan sektor Komoditas seperti Coal, Oil&Gas dan Mineral yang memang berada di area Uptrend dengan Momentum yang masih sehat (naik tapi belum Overbought). Sektor CPO dan Plantation sudah memasuki Overbought sehingga rawan terkoreksi. The Primary Trader pun rasa sudah saatnya Sell On News pada sektor tersebut karena program B30 sudah berjalan.

Sektor Uptrend dengan Momentum sehat lainnya adalah Bank dan FMCG yang menjadi Backbone IHSG. Waspada terhadap sektor Cigarettes karena kenaikan harga eceran sebesar 35%.

Sektor yang dapat menjadi perhatian lain adalah Industrial Area yang saat ini berada di dalam kondisi Downtrend namun mulai terlihat kenaikan (Momentum-nya positif).

Efek January Effect Pada IHSG

Photo by Plush Design Studio on Pexels.com

Kinerja Historis IHSG

Sejak 25 tahun sejak 1995, January Effect (dimana Monthly Return bulan tersebut adalah positif) pada IHSG terjadi sebanyak 17x. Dengan demikian, peluang January Effect terjadi lagi dapat dikatakan sebesar 68%. The Primary Trader melihat peluang tersebut cukup dapat dipercaya dan January Effect dapat diharapkan untuk terjadi lagi di tahun 2020 ini.

Berdasarkan data historis, Average Monthly Return IHSG sejak 1995 adalah sebesar 2.7% namun dalam 10 tahun terakhir (sejak 2009), Average Monthly Return IHSG turun menjadi 1.3%.

Bila hanya melihat kinerja IHSG dengan January Effect maka Average Monthly Return IHSG adalah sebesar 3.1% (sejak tahun 1996). Sementara Average Monthly Return IHSG sejak 10 tahun terakhir adalah sebesar 1.6%.

Kesimpulan

Dengan peluang terjadi sebesar 68%, The Primary Trader perkirakan IHSG akan kembali mencatat January Effect di Januari 2020 ini. The Primary Trader perkirakan besaran Monthly Return IHSG di Januari 2020 adalah sebesar 1.4% – 1.6% (sesuai dengan kisaran Average Monthly Return IHSG pada saat terjadi January Effect dalam 10 tahun terakhir).

The Day To (Re)Start

Happy New Year 2020 !

Photo by Rakicevic Nenad on Pexels.com

The Primary Trader mengucapkan Selamat Tahun Baru 2020. Semoga di tahun ini, IHSG mencatat Return yang lebih besar dari Return tahun 2019 sebesar 1.91%. Semoga di tahun 2020, IHSG berhasil mengikuti Return Developed Market seperti S&P500 yang mencatat Yearly Return 28.46% dan Nikkei225 sebesar 17.8%.

Di tahun 2020, The Primary Trader pun ingin lebih banyak berkontribusi memberikan opini dan pandangan serta berbagi pengetahuan mengenai investasi saham pilihan dan analisis teknikal. Menutup layanan Primary Trader Advisory, The Primary Trader akan lebih banyak menulis tulisan di website ini dan membaginya di media sosial khusus The Primary Trader. Silahkan bergabung untuk lebih cepat mendapatkannya.

Secara pribadi, di tahun 2019, The Primary Trader banyak mengasah ilmu dan dapat dikatakan ilmu tersebut belum sepenuhnya dipraktikan secara maksimal. Oleh karena itu, di tahun 2020, The Primary Trader bertekad untuk mempraktikan ilmu – ilmu tersebut.

Semoga apa yang The Primary Trader bagikan di website ini dan media sosial lainnya dapat berguna bagi semua yang membacanya.