PTPP : Emiten Konstruksi Sehat

Pemain Konstruksi BUMN Yang Relatif Lebih Aman

Kinerja PTPP di 2019 mungkin akan sedikit tertekan namun PTPP seharusnya bisa mencatat kinerja yang lebih baik di tahun 2020. PTPP menargetkan kontrak baru di tahun 2020 sebesar Rp 40.5 triliun, tumbuh 21% dari pencapaian tahun 2019 sebesar Rp 33.5 triliun. Angka Rp33.5 triliun di 9M19 adalah 74% dari target Rp45 triliun. Angka ini tampaknya relatif achieve-able. Perlu dicatat juga bahwa PTPP (dan WIKA) memiliki proyek multi-years yang cukup besar sehingga di tahun berjalan, PTPP masih mengerjakan proyek tahun sebelumnya dan berpotensi mencatat bagian pendapatan dari penyelesaian proyek tersebut di tahun berjalan. Hal ini membuat pendapatan dan laba PTPP lebih mudah dan pasti.

Untuk menjaga marjin keuntungan dimana sejak tahun 2017 relatif turun, PTPP berencana mendivestasi 4 proyek seperti kepemilikan ruas tol Pandaan – Malang dan ruas tol Cisumdawu. Divestasi ini dapat meningkatkan laba bersih sebesar 33% YoY.

Meski sebagai perusahaan Konstruksi BUMN, proyek PTPP yang berasal dari pemerintah (tahun 2018) sangatlah kecil. Investor tampaknya mengkhawatirkan sentimen bahwa pelunasan proyek pemerintah cenderung lambat sehingga menimbulkan biaya tambahan. Oleh karena itu, seringkali PTPP dianggap sebagai emiten Konstruksi BUMN yang paling sehat.

Potensi Sektor Infrastruktur

Presiden Jokowi masih menggenjot pembangunan infrastruktur di periode ke-2 dengan proyek raksasa seperti Tol Trans Sumatera, Tol Trans Kalimantan dan (tentu) Ibukota Baru. Pada periode pertama (2014 – 2019), pertumbuhan nilai proyek Sektor Infrastruktur adalah sebesar 30% per tahun (CAGR). Diperkirakan pada periode kedua (2019 – 2024), ada potensi pertumbuhan 11% per tahun (CAGR). Cukup tinggi karena masih Double Digit.

Namun menurut The Primary Trader, yang terpenting adalah bahwa kali ini, pemerintah akan banyak menggandeng pihak swasta untuk berinvestasi pada proyek pembangunan infrastruktur. Salah satu yang sedang ramai adalah Softbank (Investor Grab dan Tokopedia) yang diberikan kesempatan untuk ikut membangun Ibukota yang baru nanti. Hal ini tentu membuat emiten Konstruksi relatif lebih ‘bebas’ menentukan kapasitasnya untuk berkontribusi dalam proyek tersebut. Dengan demikian, selain masih tersedia kesempatan untuk tumbuh, kali ini emiten pun berkesempatan untuk tumbuh sesuai dengan kemampuan.

Mengakhiri Downtrend

The Primary Trader melihat PTPP dalam proses membentuk Double Bottom. Untuk itu, PTPP perlu bertahan di Support penting di Rp1,300 yang telah menahan PTPP di Oktober 2018. PTPP masih harus Breakout Rp1,680 untuk mengonfirmasi pola Bullish Reversal untuk memperbesar potensi mengawali Uptrend. Dengan bertahan di Rp1,300, The Primary Trader mulai meyakini potensi Uptrend PTPP.

PTPP saat ini berada di bawah Cloud dari Ichimoku Kinko Hyo namun perlu diperhatikan bahwa masih ada Green Cloud yang menandakan potensi awal Uptrend (setelah muncul dominasi Red Cloud dari sejak September 2019). The Primary Trader melihat ancaman karena mulai ada bibit Red Cloud. Tentunya dengan PTPP bertahan di atas Rp1,300, Red Cloud seharusnya tidak terbentuk.

The Primary Trader pun melihat berdasarkan posisi relatif PTPP saat ini dengan MA200 atau rata – rata setahun terakhir. PTPP relatif lebih dekat dengan MA200 dibanding pada posisi terendah dalam 2 tahun terakhir yaitu di Rp1,300 atau pada Oktober 2018. Berdasarkan Distance Close to MA200, PTPP kali ini berada -32% di bawah MA200 sementara pada Oktober 2018, PTPP mencapai 74% di bawah MA200. Posisi yang lebih kecil tersebut menandakan Downtrend PTPP mulai melemah.

PTPP pun dapat dikatakan sudah murah bila dilihat dari PE TTM (4 kuartal terakhir) di -1 SD dalam 5 tahun terakhir. Membeli PTPP saat ini berarti membeli karena Cheap Valuation dan potensi Bottoming atau akhir dari Downtrend. Perlu kesabaran namun ada harapan dan potensi yang menarik.

Tetap Percaya Meski Ada Black Swan Ke-2

(Masih) Dalam Koridor Technical Correction Wajar

Penurunan IHSG sampai saat ini masih dalam koridor Technical Correction yang wajar. Hal ini terlihat dari area Fibonacci Retracement dimana saat ini IHSG baru mencapai 50%. Masih ada ruang untuk penurunan (wajar) yaitu sampai 61.8% atau di 6,090 – 6,100. Selama IHSG masih beradadi atas 6,090, potensi Uptrend IHSG masih ada.

Meskipun Tech. Correction wajar dan masih ada harapan Uptrend, tampaknya sulit untuk IHSG mencatat January Effect karena saat ini (YTD), IHSG sudah -2.4%. Penurunan yang cukup dalam ini disebabkan adanya wabah Novel Coronavirus yang berasal dari China dan mulai tersebar, termasuk AS. The Primary Trader melihat hal ini sebagai peristiwa Black Swan yang ke-2 di Januari 2020 setelah Black Swan yang pertama adalah serangan AS kepada Jenderal Iran.

The Primary Trader mengkhawatirkan munculnya 2 Black Swan di awal tahun 2020 ini adalah pertanda bahwa akan banyak Black Swan berikutnya. Hal ini mungkin akan menjadi pertanda kurang bagus bagi pasar saham karena Investor tidak menyukai risiko yang tidak dideteksi sebelumnya. Semoga feeling The Primary Trader salah.

Oversold dan Undershoot

Melihat pergerakan IHSG, saat ini IHSG telah mencatat penurunan sebesar 1.8% dalam seminggu (5 hari) terakhir dan 2.9% dalam sebulan (20 hari) terakhir. Dalam setahun terakhir, IHSG cenderung berhenti turun ketika sudah menyentuh penurunan sebesar 3.5% dalam 5 hari terakhir dan 5% dalam 20 hari terakhir. Berdasarkan historis, secara analisis teknikal, dapat diharapkan IHSG mulai mendekati akhir dari penurunan tersebut dan mendekati Bottom.

Menggunakan indikator Bollinger Band, IHSG pun sudah di bawah Lower Bollinger Band sehingga The Primary Trader menyebutnya Undershoot. Umumnya saham yang Undershoot tidak lama sehingga ada kecenderungan naik ke atas Bollinger Band.

Meski ada potensi naik ke atas Bollinger Band namun The Primary Trader mengkhawatirkan arah dari Middle Bollinger Band yang mulai mengarah ke bawah. Untuk lebih jelas lagi, Middle Band Direction yang mulai berada di area negatif dan berarti arah Middle Band Direction ke bawah.

Ada catatan penting lainnya yaitu lebar dari Bollinger Band yang cenderung melebar. Artinya adalah volatilitas IHSG akan meningkat dan ketika arah harga cenderung turun (Downtrend) maka tentu penurunannya lebih dalam. Indikator Bandwidth Bollinger Band yang mulai meningkatkan menunjukkan potensi peningkatan volatilitas tersebut.

Kesimpulan ?

Meskipun Black Swan membuat Investor mengambil langkah aman, namun persepsi Bullish masih terlihat. The Primary Trader melihat skenario Bullish berpotensi muncul dengan IHSG tetap bertahan di atas 6,000. The Primary Trader perkirakan (dan berharap) IHSG akan mempertahankan Technical Correction wajar sehingga tidak akan turun di bawah 6,090. Namun bila ternyata IHSG turun di bawah 6,090 dan tidak lagi menjadi Technical Correction wajar, selama IHSG bertahan di 6,000 atau Up Trendline dari sejak Juli 2018, maka harapan Uptrend Jangka Panjang masih ada.

Kenapa harus di atas 6,000 ? Karena IHSG sejak Juli 2019 terus membentuk Lower Low (#1 sampai #3 di 5,900). Apabila IHSG membentuk Low di 6,000 maka Lower Low tidak lagi terbentuk dan hal tersebut adalah indikasi akhir dari Downtrend (sejak Juli 2019).

Katalis Positif Untuk IHSG

Penguatan Rupiah karena masuknya Investor Asing (sehingga pasar obligasi sangat bagus) tentu disebabkan oleh potensi ekonomi Indonesia di tahun 2020. Omnibus Law yang masih dipersiapkan pemerintah, kelanjutan pembangunan infrastruktur, pemanfaatan infrastruktur yang sudah ada untuk menjalankan ekonomi, B30 yang sudah berjalan serta pemangkasan kuota impor minyak dari Pertamina akan menjadi sentimen – sentimen positif bagi IHSG.

Selain itu, ada kecenderungan IHSG untuk mencatat Return yang cukup baik setelah 1-2 tahun turun atau mencatat Return yang rendah (seperti tahun 2018 dan 2019).

Mempertahankan BI 7DRR Rate, Menjaga Sentimen Positif

BI Mempertahankan BI 7DRR Rate

BI mempertahankan BI 7DRR Rate sebesar 5%, sesuai dengan estimasi para Ekonom. Ada beberapa hal menarik dari hasil Rapat Dewan Gubernur BI kemarin yang The Primary Trader sukai :

  • BI masih membuka ruang untuk penurunan suku bunga (!)
  • BI tetap akan memberikan kebijakan moneter yang akomodatif dan akan terus bekerjasama dengan pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi
  • BI juga percaya siklus ekonomi Indonesia telah mencapai dan melewati Bottom sehingga ke depan, ekonomi Indonesia mulai dalam tren bertumbuh. BI perkirakan ekonomi Indonesia tumbuh 5.3% YoY di tahun 2020

Menurut The Primary Trader, hal tersebut akan memberikan sentimen positif bagi Investor Asing terhadap Indonesia. Tidak heran bila Rupiah menguat akibat masuknya Capital Inflow.

Rupiah saat ini bertahan di Support Rp13,600 namun sangat terbuka peluang untuk terjadi Breakdown Rp13,600 dan Rupiah terus menguat menuju Rp13,250 yang merupakan level terkuat Rupiah di tahun 2018. The Primary Trader tidak yakin BI atau pemerintah akan membiarkan Rupiah terlalu menguat. Oleh karena itu, The Primary Trader melihat Rupiah akan cenderung bertahan di Rp13,500 – Rp13,700 di 1Q20 ini.

Masuknya Investor Asing ke Indonesia jelas terlihat pada pasar obligasi. Harga SUN tampaknya terus naik sehingga menurunkan imbal hasil (Yield). Terlihat bahwa Yield SUN10Yr hampir menyentuh 6.5% dan The Primary Trader percaya level tersebut akan segera disentuh dalam waktu dekat.

Melihat penguatan yang sangat besar tersebut, The Primary Trader percaya setelah menguji Support di level 6.5%, Yield akan melemah mendekati 7%. Yield masih mempertahankan Tren Menurun selama tidak naik melewati 7.3%. Dengan demikian, The Primary Trader masih melihat dalam jangka panjang, Yield dapat turun menuju 5.9%.

IHSG Mempertahankan Bullish Continuation – Masih Dalam Uptrend

IHSG masih bertahan di Support 6,200 yang artinya IHSG masih dalam pola Bullish Continuation dari sejak pertengahan Desember 2019 di rentang 6,200 – 6,350. IHSG terancam turun ke 6,100 bila terjadi Breakdown Support di 6,200 tersebut.

Meski IHSG turun ke 6,100, The Primary Trader masih percaya penurunan tersebut sebagai Tech. Correction atau penurunan singkat di tengah Uptrend. Dengan demikian, Uptrend IHSG masih terjaga sekalipun IHSG turun ke 6,100.

Saat ini IHSG mencatat Return sebesar -0.7% YTD. Tampaknya Black Swan yang terjadi secara global (tensi geopolitik di Iran dan Virus Corona dari China) menjadi sentimen negatif yang membatalkan January Effect. The Primary Trader tidak yakin IHSG dapat naik menuju 6,350 di Januari 2020.

SIDO : Uptrend Yang Sehat

(Masih Dalam) Bullish Continuation Menuju Rp1,500

The Primary Trader melihat SIDO masih mempertahankan pola Bullish Continuation dari bulan Agustus 2019 dengan potensi menuju Rp1,500 – setelah Breakout Rp1,300. Idealnya SIDO Breakout Rp1,300 di bulan November 2019 namun Sideways SIDO di kisaran Rp1,280 sejak bulan Desember 2019 dapat dilihat sebagai Bullish Continuation minor (sebagai bagian dari Bullish Continuation dari bulan Agustus 2019 tersebut).

Uptrend Jangka Panjang Yang Kuat

Ichimoku Kinko Hyo mengonfirmasi Uptrend yang sangat sehat. Hal ini terlihat bahwa Red Cloud terakhir yang cukup panjang terjadi pada Oktober 2017. Sejak saat itu, Red Cloud terjadi relatif singkat dan SIDO terus di dominasi oleh Green Cloud.

Uptrend jangka panjang juga terlihat jelas setelah SIDO Breakout Rp1,000an pada awal tahun 2019. Mengunakan Fibonacci Retracement, SIDO sebenarnya sudah mencapai target jangka panjang pertama di Rp1,300an atau 161.8%. Masih ada target berikut di 261.8% atau di Rp1,800. The Primary Trader melihat setidaknya SIDO dapat kembali Uptrend menuju Rp1,500 yang merupakan level 200% atau 2x dari Rp1,000 (di level 100% dari Fibonacci).

Valuasi (Memang) Mahal

The Primary Trader menyukai valuasi menggunakan PE TTM. Saat ini PE TTM SIDO berada di 25x dan di atas 2x Standar Deviasi dalam 5 tahun terakhir. Memang sudah mahal.

Namun demikian, dalam hal saham Uptrend, tentu terkadang valuasi mahal karena ada justifikasi. The Primary Trader menggunakan acuan “selama Uptrend terjaga maka harga mahal masih dapat ditoleransi”. Selama SIDO masih bertahan di Up Trendline maka masih ada harapan SIDO terus naik. The Primary Trader akan mewaspadai SIDO bila terjadi Breakdown Up Trendline di Rp1,200 dan Rp1,000.

Masih Amankah IHSG ?

Breakdown Up Trendline minor

Dengan penurunan sebesar -0.7%, IHSG terindikasi Breakdown Up Trendline minor yang terbentuk sejak awal Desember 2019. Tentu dengan Breakdown ini, potensi IHSG naik menuju 6,450 (sebagai bagian dari January Effect) akan terganggu.

IHSG pun terindikasi membentuk Double Tops karena tidak mampu melewati Highest di akhir Desember 2019 di 6,350. Ada kemungkinan IHSG terancam turun menuju 6,100 setelah Breakdown 6,200. The Primary Trader melihat hal ini mungkin terjadi – bila IHSG Breakdown 6,200.

Masih Dalam Koridor Tech. Correction Wajar

Investor (terutama Trader) mengkhawatirkan ancaman Bearish atau Downtrend terutama untuk jangka panjang. Meskipun IHSG turun menuju 6,100, The Primary Trader menilai hal tersebut masih dalam koridor Technical Correction yang wajar. Artinya meskipun IHSG turun menuju 6,100 namun potensi Uptrend dalam jangka menengah – panjang IHSG masih ada (tentu dengan Breakout 6,450).

The Primary Trader tidak memperkirakan IHSG turun menuju 6,100an namun apabila bena terjadi maka IHSG belum perlu dikhawatirkan. The Primary Trader akan mengkhawatirkan potensi Uptrend IHSG atau bahkan pergerakan IHSG di tahun 2020 bila IHSG turun di bawah 6,100.