The Primary Trader Daily 03 January 2019

Photo by Aleksandar Pasaric on Pexels.com

Inflasi Indonesia Bulan Desember 2019

BPS melaporkan inflasi di bulan Desember 2019 sebesar 2.72% YoY dan 0.34% MoM, lebih rendah dari estimasi sebesar 2.9% YoY dan 0.49% MoM. Sementara inflasi inti hanya sebesar 3.02% YoY, lebih rendah dari estimasi 3.11% YoY.

Indonesia Inflation Rate

Rendahnya inflasi ini cukup mengkhawatirkan karena hal ini berarti ekonomi Indonesia terancam tidak tumbuh dan bahkan turun. Apalagi inflasi di 2019 (setahun) adalah yang terendah sejak krisis 1999 atau hanya 2.78%. Memang salah satu penyebab utama inflasi rendah adalah ketersediaan beras di Bulog yang cukup, bahkan melimpah sehingga terancam busuk. Harga bahan bakar pun cenderung stabil rendah karena harga minyak dunia yang juga rendah.

Kekhawatiran utama muncul karena inflasi inti juga lebih rendah dari estimasi. Inflasi inti adalah inflasi yang terkait dengan faktor utama seperti penawaran dan permintaan. Penurunan inflasi inti menunjukkan ada sesuatu yang perlu diwaspadai dalam ekonomi. Inflasi inti di tahun 2019 telah turun dari September 2019 sebesar 3.32% dan pada bulan Desember 2019 kemarin adalah yang terendah sepanjang tahun 2019.

Indonesia Core Inflation Rate

IHSG : Dalam Fase Throwback

Di hari pertama perdagangan tahun 2020, IHSG ditutup melemah -0.3%. Menurut The Primary Trader, penurunan tersebut adalah fase Throwback atau penurunan singkat setelah Breakout. Penurunan tersebut kurang lebih berhenti di level Support (atau Resistance yang sebelumnya telah di-Breakout). Level Resistance yang telah di-Breakout adalah di 6,300an sehingga The Primary Trader prediksi IHSG sudah mendekati akhir dari fase Throwback. Dalam waktu dekat, seharusnya IHSG akan segera mengawali kenaikan sebagai bagian dari January Effect. The Primary Trader percaya IHSG akan naik dan kembali mengalami January Effect di tahun 2020.

Dandy Rotation : Perhatikan Saham Bank dan Saham Konsumsi. Saham Komoditas Masih Layak Buy on Weakness

Berdasarkan Dandy Rotation, The Primary Trader melihat saham sektor Bank seperti BMRI dan BBCA serta saham sektor Konsumsi seperti UNVR cukup menarik. Saham UNVR efektif Stock Split di tanggal 2 Januari 2020 dengan rasio 1:5 sehingga saat ini harganya di Rp8,550an (Closing Price).

The Primary Trader melihat UNVR berpotensi naik menuju Resistance di Rp9,200 dan Rp10,000. Hal ini karena UNVR telah berada dalam Support kuat yang telah menahan kejatuhan UNVR dari sejak akhir 2016 yaitu di level Rp7,500 – Rp8,000an. Level tersebut dapat dikatakan sebagai Bottom UNVR. The Primary Trader kurang yakin UNVR dapat Breakout Rp10,000 namun dari Rp8,550 saat ini sampai Rp10,000, ada potensi kenaikan sebesar ~16% dan cukup menarik.

SMGR : Dalam Kuadran Fast Namun Sudah Mulai Uptrend

The Primary Trader melihat SMGR sedang dalam proses Bullish Continuation. Artinya adalah SMGR berpotensi melanjutkan Uptrend yang telah terjadi dari Juli 2018 (Rp6,500) sampai April 2019 (Rp14,500) dengan besaran yang sama (!). SMGR harus Breakout Rp13,000 untuk kembali melanjutkan Uptrend jangka panjang tersebut. Setidaknya SMGR berpotensi kembali menguji Resistance di Rp14,500 (setelah Breakout Rp13,000). The Primary Trader akan menghindari SMGR bila ternyata terjadi Breakdown Rp11,500.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s