Photo by Pixabay on Pexels.com

IHSG : Bukan Lagi Throwback Tapi Technical Correction

Penurunan IHSG di bawah 6,300 yang merupakan Suppot mengindikasikan fase Throwback batal. Namun potensi kenaikan IHSG menuju 6,450 masih ada karena penurunan IHSG masih dapat dianggap sebagai Technical Correction atau penurunan di tengah Uptrend (dari sejak akhir November 2019 di 5,900). Koridor wajar Tech. Correction IHSG antara 6,090 – 6,180 yang artinya potensi Uptrend menuju 6,450 masih ada selama IHSG tidak turun di bawah 6,090.

The Primary Trader melihat penurunan IHSG adalah bagian dari kekhawatiran akan tensi di Timur Tengah dan potensi perang AS – Iran. Dampak utamanya adalah kenaikan harga minyak dimana Brent saat ini sudah mencapai US$68, naik 5% dari sejak sebelum serangan AS. The Primary Trader perkirakan Brent akan sulit naik melewati US$80 sementara Brent di hari ini sudah terlihat tertahan di Resistance US$70. Kekhawatiran terjadinya perang dunia 3 tampaknya cukup berlebihan meskipun dampak kenaikan harga minyak perlu diwaspadai.

Cek opini The Primary Trader mengenai Brent di sini.

Program B30 yang baru saja diresmikan Pemerintah tampaknya diyakini menjadi penghemat impor BBM sehingga di awal tahun 2020, harga BBM diturunkan dengan cukup banyak (kurang lebih Rp1,000 per liter untuk semua jenis). Selain itu, kemungkinan besar program – program pengembangan kilang yang saat ini dimiliki Pertamina mulai banyak yang selesai di tahun 2020 yang diharapkan dapat memperbesar kapasitas produksi Pertamina. Dengan demikian, impor BBM yang sudah jadi dapat semakin dikurangi.

Perlu diingat bahwa Presiden telah meminta draf UU Omnibus Law selesai pekan depan sehingga dapat diserahkan ke DPR secepatnya. Omnibus Law yang salah satunya berisi Cut Tax Rate akan menjadi pendorong utama IHSG di tahun 2020. Bila Pemerintah dapat menyerahkan ke DPR di Januari 2020, diharapkan Omnibus Law dapat disahkan di 1H20. Bukan tidak mungkin IHSG dapat menyentuh 7,000 di tahun 2020 atau setidaknya berhasil membentuk New All Time High dari saat ini di 6,693.

Saham Undershoot

The Primary Trader melihat ada 5 saham yang mencatat Undershoot atau berada di bawah Lower Bollinger Band. Saham Undershoot dapat diartikan sudah turun terlalu dalam dan jauh dari ‘normal’-nya sehingga layak menjadi perhatian. Saham tersebut adalah GJTL, DMAS, BRPT, PWON dan SSIA. The Primary Trader menyukai DMAS, SSIA dan PWON.

Tampaknya PWON masih melanjutkan penurunan menuju Support kuat di kisaran Rp430 – Rp490. The Primary Trader meyakini proyek PWON di Bekasi akan menjadi katalis utama kenaikan saham tersebut – setelah Downtrend berakhir di kisaran Rp450an.

Ringkasan PWON sebelumnya di sini.

Meski The Primary Trader yakin dengan masuknya Foreign Direct Investment (FDI) di tahun 2020 dengan membeli lahan kawasan industri, dua saham kawasan industri DMAS dan SSIA masih perlu diwaspadai karena Downtrend-nya masih bertahan.

SSIA sedang menyentuh Support di Rp630 namun belum terlihat potensi berhenti dan ada ancaman Breakdown Rp630 untuk terus turun menuju Support berikut di Rp500. The Primary Trader menyukai kawasan industri SSIA di Subang dan potensi menariknya bila nanti tol Patimban – Subang selesai serta tentunya pelabuhan Patimban beroperasi.

DMAS adalah salah satu emiten kawasan industri yang paling menarik karena selain memiliki luas lahan yang terbesar, DMAS rutin membagikan dividen. Hyundai Motor Company pun dikonfirmasi membeli lahan 77 ha untuk membangun pabrik mobil pertama di Asia Tenggara.

The Primary Trader melihat DMAS terindikasi membentuk pola Bullish Continuation dari sejak November 2019 (dilihat dari penurunan dari Rp360 sampai Rp270). Namun pola tersebut dapat gagal bila dalam waktu dekat DMAS turun di bawah Rp260 – yang membuat DMAS terancam turun terus sampai Rp200. DMAS masih perlu naik dan Breakout Rp300 untuk mengonfirmasi pola Bullish Continuation tersebut. The Primary Trader masih akan terus pantau DMAS dan meyakini potensinya.

INCO : Menjadi Perhatian The Primary Trader

The Primary Trader meyakini potensi nikel yang menjadi bahan utama baterei mobil listrik sehingga harganya Nikel berpotensi terus naik. INCO sebagai salah satu produsen nikel nasional akan sangat berpotensi menikmati kenaikan harga nikel ke depan.

Saat ini The Primary Trader melihat INCO sedang dalam fase Bullish Continuation setelah Breakout Down Trendline yang membuat INCO berada dalam Downtrend jangka pendek (sejak September 2019 dari Rp4,200 sampai Rp2,900). INCO berpotensi naik dan menguji Resistance penting dan kuat di Rp4,000 untuk mengawali Uptrend jangka panjang menuju setidaknya Rp4,700.