Penentuan Awal

Dua (Potensi) Bottom Untuk IHSG

The Primary Trader melihat ada harapan IHSG berhenti turun di 5,450 karena posisi IHSG di level tersebut berada pada 12% di bawah MA200 atau rata – rata tahunan. Sejak tahun 2011, posisi IHSG 12% di bawah MA200 mengindikasikan tingkat Jenuh Jual atau Oversold yang pada akhirnya membuat IHSG kembali naik mendekati atau bahkan melewati MA200.

Namun pada tahun 2015 akhir, IHSG ternyata terus turun dan mencapai level 23% di bawah MA200. Ada harapan IHSG bertahan di 5,450 karena kecenderungan IHSG yang Oversold pada posisi 12% di bawah MA200 (dimana saat ini MA200 di 6,186 maka 88% dari level tersebut adalah ~5,450). Namun mengingat kondisi saat ini dapat dikatakan sudah dalam keadaan Panic Selling maka The Primary Trader tidak heran bila IHSG terus turun mendekati level 23% di bawah MA200 yaitu di 4,770.

The Primary Trader perkirakan pada hari Senin, 2 Maret 2020, akan menjadi penentu apakah IHSG bertahan di 5,450 atau kembali “Stretch” ke 4,770.

Manufacturing PMI Menjadi Kunci Utama

China, Indonesia dan AS dijadwalkan mengumumkan Manufacturing PMI bulan Februari 2020 pada Senin, 2 Maret 2020. Manufacturing PMI adalah salah satu indikator ekonomi utama untuk mengestimasikan pertumbuhan ekonomi suatu negara. Manufacturing PMI menunjukkan aktifitas sektor manufaktur (pabrik) dan angka indeks Manufacturing PMI di atas 50 menunjukkan potensi ekonomi berekspansi dan di bawah 50 menunjukkan potensi ekonomi berkontraksi.

Ekonom memperkirakan Manufacturing PMI China di bulan Februari 2020 turun di level 46.1 dari 51.1 di bulan Januari 2020. Bila indeks tersebut di bawah 50 maka ada potensi ekonomi China berkontraksi.

Kontraksi ekonomi China inilah yang menjadi kekhawatiran Investor Global karena saat ini ekonomi China hampir mencapai 20% dari ekonomi dunia. Bila ekonomi China kembali turun maka ekonomi dunia pun akan ikut turun.

Di satu sisi, ekonomi AS di tahun 2020 cukup baik. Bahkan The Fed terdengar yakin akan mempertahankan Fed Fund Rate di saat bank sentral lain (termasuk BI) menurunkan suku bunga dalam menghadapi dampak negatif ekonomi karena wabah Corona. Tentu pernyataan tersebut dapat terganggu mengingat minggu ini AS mengumumkan 15 kasus infeksi Corona yang tidak diketahui asalnya (!). Namun data Manufacturing PMI AS pada Senin, 2 Maret 2020, tentu akan menjadi pertimbangan awal bagi Investor maupun The Fed dalam menilai dampak wabah Corona terkini.

Kembali ke China, ada harapan data Manufacturing PMI bulan Februari 2020 tidak turun sejauh 46.1 dari 51.1. Hal ini karena pabrik – pabrik di Hubei (provinsi dimana Wuhan berada) sudah mulai kembali beraktifitas dipertengahan Februari. Menjelang akhir Februari 2020, kapasitas pabrik sudah berjalan 30% – 50% dan ditargetkan berjalan 70% di awal Maret 2020. Dan tentu meskipun China menyumbang ekonomi dunia sebesar ~20%, ekonomi provinsi Hubei sendiri hanya mencapai 4.6% dari total GDP China sehingga gangguan terhadap keseluruhan ekonomi China diharapkan tidak sebesar penurunan Manufacturing PMI tersebut.

Sejak Juli 2019, Manufacturing PMI Indonesia di bawah 50 sehingga menandakan ekonomi sedang berkontraksi. Meski demikian, Manufacturing PMI Indonesia sebenarnya mulai naik sejak Oktober 2019 namun sedikit turun di Januari 2020 akibat banjir di awal tahun dan dampak awal wabah Corona. The Primary Trader melihat bila nanti Manufacturing PMI Indonesia tidak lebih rendah dari posisi di bulan Oktober 2019 di level 47.5 maka dapat disimpulkan dampak wabah Corona di Indonesia tidak separah di negara – negara lain. Seharusnya hal tersebut akan menjadi katalis positif bagi IHSG untuk tidak turun menuju 4,770.

Indonesia Manufacturing PMI

Sentimen Bullish Dari Candlestick Pada IHSG

IHSG membentuk pola single candle dari Candlestick yaitu Hammer. Menariknya, Hammer terbentuk di Fibonacci Extension level 261.8% sehingga dapat diharapkan indikasi untuk naik. Meskipun ada indikasi naik namun pertanyaan pentingnya adalah apakah kenaikan yang ada adalah sebagai Technical Rebound saja atau akan ada perubahan dari Downtrend saat ini menjadi Uptrend. The Primary Trader perkirakan kenaikan yang terjadi (bila kondisi mendukung, antara lain Manufacturing PMI yang tidak seburuk perkiraan) adalah sebagai Tech. Rebound saja dengan kenaikan tidak lebih tinggi dari 5,700 (level Fibonacci Extension di 161.8%).

Investor Global Masih Panik

The Primary Trader melihat VIX Index dan menyimpulkan bahwa Investor global masih dalam Panic Mode sehingga tampaknya Downtrend masih akan berlanjut. Saat ini VIX berada di level 40 atau lebih yang sama yang terjadi pada setiap Bearish Market.

Beberapa kali kejdian dimana VIX berada di level 40 yaitu pada Downtrend S&P500 di 2H11, 3Q15, 1Q18 dan 1Q19. Meski demikian, Downtrend pada waktu – waktu tersebut dapat dianggap sebagai Tech. Correction di tengah Uptrend Jangka Panjang. Dengan demikian, S&P500 masih dapat diharapkan terus mempertahankan Uptrend Jangka Panjang-nya.

S&P500 mungkin sudah mendekati Support di 2,800 dan terlihat membentuk Hammer sehinggga dapat diharapkan terjadi kenaikan. The Primary Trader masih perkirakan kenaikan tersebut (bila naik) adalah sebagai Tech. Rebound dan masih dapat naik sampai mendekati 3,100. S&P500 telah Breakdown Up Trendline di 3,300 pada pertengahan Februari 2020 dan hal tersebut menjadi tanda Downtrend Jangka Pendek – Menengah (sebagai bagian dari Tech. Correction dari Uptrend Jangka Panjang).

Investor di China sendiri sebenarnya terlihat optimis tidak lama setelah bursa dibuka (paska libur Chinese New Year yang diperpanjang). Memang Shanghai Composite sempat turun ~9% dihari pertama perdagangan paska ditutup pada awal wabah Corona. Namun setelah itu, Shcomp berhasil naik mendekati level sebelum wabah Corona (naik dari level 2,800 ke level 3,080). Ternyata Shcomp terlihat gagal naik di atas 3,080 – 3,120 sehingga The Primary Trader perkirakan tren harga Shcomp masih Downtrend dan Shcomp berpotensi turun menuju level 2,400 dengan Breakdown Support 2,730.

The Primary Trader meyakini di tahun 2020 ini, wabah Corona akan berakhir setelah penyebaran penyakit dapat diatasi dan obat serta vaksin sudah dapat diproduksi (meski masih dalam tahap awal). Namun dampak ekonomi akibat pembatasan aktifitas masyarakat akan terasa di tahun 2020 dan cukup signifikan. Bank sentral serta pemerintah akan mengeluarkan stimulus moneter maupun fiskal dimana hal tersebut akan berdampak positif langsung pada obligasi (di tahun 2020 ini). Namun demikian, dampak positif pada pasar saham kemungkinan baru akan terlihat di 2H20 atau bahkan di tahun 2021 nanti.

Sebelum berbicara pergerakan jangka panjang IHSG dan bursa saham lain, tentu data di hari Senin, 2 Maret 2020 berpotensi menjadi penentu awal yang signifikan.

Pilihan Ditengah Kepanikan

Investor Membeli US Treasury

Yield UST 10Yr berhasil Breakdown 1.3% yang merupakan level terendah sejak Sideways dari tahun 2012. Apabila dilihat dari pergerakan sejak September 2019, Yield UST 10Yr melanjutkan Downtrend dari sejak September 2018 dari 3.25%. Terjadi Technical Rebound pada September 2019 dari 1.4% ke 2% di akhir tahun 2019. Karena Yield gagal untuk naik di atas 2% maka terjadinya kelanjutan Downtrend. Dengan demikian, Breakdown Support (dari 2012) di 1.3% menandakan Yield masih akan terus turun.

Investor terlihat terus membeli UST 10Yr yang dianggap Safe Heaven. The Primary Trader bahkan melihat Yield UST 10Y membuat New Low sepanjang masa (!). Hal ini membuka peluang Yield UST 10Yr dapat mengikuti ‘nasib’ Government Bond yang mengasilkan Negative Yield seperti Jerman dan Jepang.

The Primary Trader perkirakan akan terjadi (kembali) Negative Spread yang artinya Investor lebih banyak membeli Yield UST 10Yr dibanding Yield UST 2Yr. Saat ini Spread Yield UST 10Yr dengan 2Yr sedang Sideways di kisaran 0.1% – 0.2%. Kemungkinan dalam 1-2 bulan lagi kan kembali terjadi Negative Spread.

Dampak Terhadap Pasar Modal Indonesia

Investor Asing tampaknya keluar dari Indonesia dimana hal tersebut juga terlihat dari perlemahan Rupiah terhadap US Dollar. Rupiah saat ini berada di Resistance di Rp13,900 yang menjadi Support kuat menahan Rupiah untuk menguat sepanjang tahun 2019. Ada indikasi Rupiah berhasil melewati Resistance Rp13,900 yang berarti ada perubahan minat Investor. Rupiah pun berpotensi kembali melemah menuju Rp14,500 dan membatalkan potens penguatan menuju Rp13,250.

Keluarnya Investor Asing dari Indonesia membuat tidak ada lagi pendorong Yield SUN10Yr untuk terus turun menuju 5.9%. Yield SUN10Yr berpotensi naik menuju 7% dari saat ini di Support (dan target 2020) 6.5%. Yield SUN10Yr masih dalam Downtrend selama bertahan di bawah 7% dan ada Down Trendline di 6.9%an yang menjadi indikasi awal untuk Downtrend terus bertahan.

The Primary Trader perkirakan Yield SUN10Yr masih akan bertahan Downtrend karena Bank Indonesia (dan pemerintah) cukup reaktif dan ahead the curve dalam mengantisipasi perlambatan ekonomi karena Corona. Di bulan Februari 2020, Bank Indonesia menurunkan BI 7DRR Rate sebesar 0.25% menjadi 4.75% dan pemerintah menghapus pajak hotel dan restoran serta menurunkan harga tiket pesawat untuk mendorong pariwisata (dan menjaga daya beli masyarakat daerah).

Peluang Menarik di Pasar Obligasi dan Emas

Pasar Obligasi masih menarik ditengah kondisi panik ini. The Primary Trader pun melihat aset emas tetap dan semakin menarik. Saat ini XAUUSD yang menjadi harga acuan emas internasional masih berpotensi naik menuju USD1,800 dari saat ini di USD1,640an. Berdasarkan pergerakan pada 4Q19, XAUUSD berpotensi naik menuju USD1,800 sementara berdasarkan pergerakan sejak 2017 (dan dari sejak Breakout USD1,370 di Agustus 2019), XAUUSD setidaknya naik sampai USD1,700.

Hal menarik pada XAUUSD adalah bahwa target di USD1,800 adalah Resistance penting emas sejak tahun 2012 dimana saat itu adalah puncak dari harga emas (di USD1,920) pada akhir 2011. Dengan demikian, ada potensi emas kembali berjaya untuk jangka panjang (setelah 8 tahun terakhir mencatat kinerja yang kurang baik). Memang masih panjang perjalanan menuju USD1,800 ataupun USD1,920 namun setidaknya Uptrend XAUUSD yang masih sangat kuat membuka peluang emas menuju level tertingginya tetap terbuka lebar.

Bagaimana Dengan IHSG?

The Primary Trader akan membahasnya setelah kepanikan sedikit mereda 🙂

Pendemik Corona Yang Mulai Membuat Panin Secara Global

Semakin Menyebar

Meskipun China terlihat berhasil membatasi penyebaran Corona dari sumber Wuhan, ternyata kasus Corona di berbagai negara terus bertambah. Tidak lama setelah Korea Selatan menyatakan darurat di pekan lalu, Italia mencatat peningkatan kasus infeksi.

Virus Corona relatif tidak mematikan namun penyebarannya sangat kuat sehingga menjadi kekhawatiran masyarakat global. Terlebih lagi virus ini memberi dampak pengurangan aktifitas termasuk aktifitas bisnis di China yang saat ini menyumbang 18% terhadap ekonomi global (dibandinkan tahun 2003 pada kasus SARS dimana ekonomi China 7% – 8% dari ekonomi global).

S&P500 Breakdown Up Trendline

S&P500 yang sebelumnya cukup kebal dan berhasil Recovery pada puncak virus Corona di akhir Januari 2020 akhirnya terlihat “menyerah”. S&P500 Breakdown Up Trendline sehingga mengancam Uptrend menuju 3,500. Ada ancaman S&P500 turun menuju 3,000 sebagai bagian dari awal Downtrend. Meski demikian, masih ada harapan penurunan S&P500 mendekati 3,000 tersebut sebagai bagian dari Tech. Correction dari Uptrend Jangka Panjang (yang juga bisa dilihat sebagai Downtrend Jangka Pendek).

Penurunan S&P500 sebagai bagian dari kepanikan Investor terlihat dari VIX yang melonjak melewati level 24 yang menjadi Resistance kuat sejak awal tahun 2019. Hal ini menunjukkan kekhawatiran Investor terhadap virus Corona itu sendiri yang menyebar dan juga kekhawatiran perlambatan ekonomi yang signifikan karena dampak Corona.

Selain itu, melihat Yield Spread antara Yield US Treasury 10 Tahun dengan 2 Tahun, mulai kembali terlihat potensi Negative Spread yang artinya Yield US2Yr lebih tinggi dari Yield US10Yr. Negative Spread selama ini (sejak tahun 1980an) menandakan adanya resesi di AS.

Saat ini Spread antara Yield US10Yr dengan US2Yr masih sebesar 0.15%. Namun seiring dengan S&P500 sudah Breakdown Up Trendline dan terancam Downtrend, hal ini menandakan potensi Investor swithing dari Equity Market ke Bond Market yang lebih aman. Switching tersebut berpotensi terus menurunkan Yield US Treasury dan membuat Negative Spread bila Investor lebih banyak membeli Yield US10Yr sebagai antisipasi resesi.

Apakah IHSG Sudah Bottom ?

IHSG telah Breakdown Fibonacci Extension di 127.2% atau di 5,831 sehingga kemungkinan besar saat ini IHSG sedang dalam penurunan menuju 5,700an atau di 161.8%.

Secara historis, IHSG memiliki dua Support yaitu di 5,770 yang merupakan Lowest di tahun 2019 dan 5,600 yang merupakan Bottom (Sideways) terpanjang sepanjang sejarah IHSG atau sekitar 8 bulan di tahun 2018. The Primary Trader perkirakan IHSG akan mulai Bottoming di level 5,600 – 5,700.

Mulai Stabil Tapi Belum Selesai

Mulai Tenang

The Primary Trader melihat index VIX yang sempat naik di akhir Januari 2020 dari level 12 ke 20 (pada awal wabah Corona). Namun ternyata VIX tetap tidak naik di atas level 20 yang merupakan Resistance sejak Oktober 2019. Hal ini menandakan kekhawatiran Investor tidak berlarut. Selain karena wabah Corona dapat dikendalikan (dengan baik) oleh Pemerintah China, ilmuwan sudah berhasil menemukan obat dan vaksin meskipun harus melalui masa uji keamanan.

Bursa Shanghai (Shcomp) sendiri sejak di buka pertama kali setelah wabah Corona telah naik sebesar 7%. Memang pada waktu dibuka, Shcomp sempat turun -9% akan tetap sejak saat itu, Shcomp terus naik sebesar 7%. Saat ini Shcomp sedang menguji Resistance di 2,900an namun The Primary Trader perkirakan Shcomp masih belum akan berhasil Breakout untuk menguji Resistance penting berikutnya di 3,000.

The Primary Trader perkirakan Investor China masih ingin melihat dampak negatif dari wabah Corona terhadap ekonomi China. Selain itu, tampaknya Investor masih ingin melihat stimulus dan aksi pemerintah China untuk melawan ancaman penurunan ekonomi China karena terganggunya aktiftas bisnis di China. Meski demikian, The Primary Trader yakin Shcomp akan sulit untuk turun di bawah Support kuat 2,700 dan peluang turun menuju 2,400 relatif kecil.

IHSG Masih Terancam

The Primary Trader belum melihat awal pembentukan Bottom dari penurunan IHSG sejak Januari 2020. Oleh karena itu, ada potensi IHSG masih kembali turun menuju 5,600 – 5,700.

Memang terlihat bahwa Net Sell Asing mulai berkurang. Terlihat bahwa Net Akumulasi Asing di 2 bulan pertama 2020 tidak lebih turun dibanding Desember 2019 lalu. Namun belum terlihat Tren Net Sell Asing berkurang sehingga menurut The Primary Trader, hal tersebut perlu diwaspadai.

Pasar Obligasi Masih Menarik

Di saat IHSG masih kurang menarik, pasar obligasi – dilihat dari Yield SUN10Yr masih sangat menarik. Yield SUN10Yr masih dalam Downtrend sejak Oktober 2018 dan bahkan dimulai dari Desember 2019, Downtrend semakin kuat karena terlihat sudut penurunan semakin tajam. Dari 20 derajat (Oktober 2018 – Desember 2019) menjadi 49 derajat (mulai dari Desember 2019). Perlu diketahui bahwa tren dengan ~45 derajat menunjukkan tren yang kuat dan stabil. Oleh karena itu, The Primary Trader perkirakan Yield masih dapat turun menuju 5.9% dengan Breakout Support saat ini di 6.5%.

Investor tampaknya menganggap Indonesia semakin menarik setelah memasuki periode ke-2 Presiden Jokowi. Selain karena harapan reformasi perlahan mulai terlihat (dari aksi Menteri – Menteri Indonesia Maju seperti Menteri BUMN Erick Thohir), pemerintah pun sudah menyelesaikan draf RUU Cipta Kerja ke DPR dimingu kedua Februari 2020. Meski masih kontroversi namun The Primary Trader melihat RUU tersebut dapat mendorong investasi.

Yield SUN10Yr telah memberikan Return yang sangat menarik dibandingkan IHSG – sejak awal tahun 2019. Memang sesuai dengan teori dasar, pergerakan Yield Obligasi berbanding terbalik dengan IHSG. Bila Yield turun maka IHSG naik dan sebaliknya bila Yield naik maka IHSG turun. Secara teori, hal ini berarti harga Obligasi dan Saham bergerak bersamaan. Kenaikan harga Obligasi berarti penurunan Yield Obligasi.

Bila memang saat ini pasar obligasi masih menarik maka The Primary Trader berpikir bahwa di tahun 2020 ini adalah tahun akhir dari sebuah siklus “Hard Landing” dan di awal siklus “Soft Landing” (lihat Asset Allocation Clock dari Merril Lynch). Diperlukan Rate Cuts untuk berpindah siklus menuju “Recovery”.

Image result for investment asset cycle

The Primary Trader meyakini BI akan kembali menurunkan BI 7DRR Rate di tahun 2020 – setelah atau sebelum The Fed menurunkan Fed Fund Rate. Ekonomi Indonesia berpotensi kembali turun karena wabah Corona ini sehingga BI seharusnya kembali melakukan stimulus moneter.

Mencari Alasan Naik

Dampak Terburuk Wabah Corona

Wabah Virus Corona di Wuhan dan China tampaknya telah terisolasi dan tidak semakin menyebar. Tingkat kematian akibat virus Corona memang lebih tinggi dari SARS namun persentasi tingkat kematian masih relatif rendah dibanding wabah penyakit – penyakit berat lainnya (seperti Ebola). Beberapa Analis memprediksikan puncak wabah Corona akan segera tercapai dalam waktu dekat sehingga diharapkan pasien yang terinfeksi virus serta tingkat kematian mulai menurun.

Meski puncak wabah sudah dekat namun The Primary Trader setuju bahwa dampak ekonomi virus Corona baru akan dirasakan setelahnya. Industri yang paling dahulu merasakan dampak negatif wabah Corona adalah pariwisata. Saat ini para ekonomi tampaknya mulai melihat bahwa pabrik manufaktur (terutama automotif dan elektronik) sudah terdampak karena produksinya yang turun sehingga ke depan, penjualan pun akan turun.

Pada akhirnya, seperti yang ditakuti Investor, wabah Corona dapat memicu perlambatan ekonomi global yang lebih parah dari perkiraan. Memang China (dan AS) tetap bertekad untuk terus menjalankan kesepakatan dagang fase pertama (yang ditandatangani seminggu sebelum awal wabah Corona) namun ada kemungkinan negara lain masih enggan bertransaksi dengan China sampai setidaknya di bulan Maret 2020. Hal ini terlihat dari larangan industri penerbangan. Dengan porsi terhadap ekonomi sebesar 18%, tentu hal ini akan berdampak signifikan baik China, negara tersebut dan ekonomi global.

The Primary Trader setuju bahwa pada akhirnya, bank sentral perlu untuk ikut campur seperti kembali menurunkan suku bunga atau stimulus moneter lainnya. People’s Bank of China (PBOC) cukup cepat menurunkan suku bunga dan menyuntikkan likuiditas untuk mempermudah pemulihan ekonomi. Bank Indonesia disebutkan akan mengantisipasi dampak wabah Corona dan siap untuk menurunkan suku bunga dan memberi stimulus moneter. BI sebelumnya sempat mengintervensi pasar obligasi dengan membeli obligasi pada masa awal wabah Corona (disaat Investor Asing keluar dari Indonesia karena kekhawatiran wabah tersebut). The Primary Trader perkirakan BI akan menurunkan suku bunga di bulan Maret 2020 atau paling tidak di 1H20.

Berita buruk cenderung merupakan berita baik untuk pasar obligasi. Dengan adanya harapan penurunan suku bunga maka pasar obligasi akan menjadi menarik dalam rangka menjamin Return yang lebih tinggi dari Deposito. The Primary Trader masih percaya Yield SUN10Yr dapat turun di bawah 6.5%. Yield berpotensi turun sampai 5.9% dalam jangka menengah namun perlu katalis – katalis tambahan untuk dapat Breakdown Support di 6.5%.

Katalis Positif Untuk Indonesia

Setelah Japan Credit Rating Agency (JCRA) menaikkan Rating Indonesia dari BBB menjadi BBB+, ada harapan pemeringkat efek atau pemberi rating lainnya ikut menaikkan rating. Di minggu ini, Moody’s mempertahankan rating Indonesia dan memberi Outlook Stabil. Artinya adalah rating Indonesia versi Moody’s masih di Baa2 atau setara BBB. Memang di level Investment Grade namun berarti di tahun 2020 ini, Moody’s kemungkinan besar tidak mengupgrade rating Indonesia seperti JCRA. The Primary Trader menilai Moody’s dan S&P relatif lebih ‘pelit’ dalam memberikan rating. The Primary Trader berharap dan memperkirakan Fitch akan mengupgrade rating Indonesia di tahun ini terutama setelah Omnibus Law selesai disahkan (dimana diharapkan) pada 1H20.

Menurut The Primary Trader, ada hal lain yang setidaknya dapat menjadi katalis positif untuk Capital Inflow yaitu Current Account. Saat ini Current Account Deficit Indonesia (2019) berada di level 2.72% dari GDP, membaik dari CAD 2018 sebesar 2.98% dari GDP.

Di tahun 2020, ada potensi CAD kembali membaik karena dua kebijakan utama yaitu : 1) Program B30 dimana ada kandungan CPO (lokal) sebesar 30% dan 2) Kuota Impor Minyak dari Pertamina dipotong 30 juta barel agar Pertamina lebih banyak membeli dari tambang minyak lokal. Hal ini tentu akan mengurangi impor minyak yang cukup signifikan sehingga mengurangi Trade Balance dan memperbaiki Current Account.

Perbaikan pada sisi moneter akan terlihat jelas pada Rupiah. The Primary Trader masih percaya Rupiah dalam tren menguat dengan potensi Rp13,250 – bila tidak ditahan oleh BI. Setidaknya Rupiah masih dapat stabil di kisaran Rp13,600 – Rp13,800 dan akan sulit untuk kembali melemah di atas Rp13,900.

Mulai Beli Saham ?

The Primary Trader melihat IHSG masih memiliki risiko dari pertumbuhan ekonomi Indonesia (dan global). Perlu diwaspada karena Annual Return IHSG sejak tahun 2011 relatif sempit yaitu berkisar antara -13% s.d 20% (bandingkan dengan Annual Return 2003 – 2010).

Annual Return yang tinggi pada IHSG beriringan dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tinggi pada periode tersebut dengan kisaran 6% – 7% per tahun. Perlu diperhatikan bahwa pada tahun 2011, pertumbuhan ekonomi Indonesia mulai (sangat) stabil di 5%. Pertumbuhan stabil di level rendah kurang bagus untuk pasar saham.

Indonesia GDP Annual Growth Rate

The Primary Trader setuju bahwa IHSG sudah murah dan mulai menarik untuk berinvestasi pada saham. Namun pergerakan IHSG dalam seminggu terakhir belum menunjukkan potensi awal Bottom.

IHSG lebih cenderung naik sebagai Tech. Rebound atau kenaikan di tengah Downtrend (menuju 6,000 kemarin). Saat ini IHSG terancam turun sebagai penurunan dalam Downtrend yang berpotensi menuju 5,700 – menggunakan Fibonacci Retracement.

Valuasi murah memang namun pada akhirnya Trend is Our Friend. The Primary Trader masih lebih menyukai pasar obligasi untuk saat ini sampai setidaknya ada katalis yang positif untuk pasar saham yang salah satunya adalah Omnibus Law.

Menjelang Bottom

Mulai Muncul Berita Positif

The Primary Trader memperhatikan bahwa penyebaran wabah virus Corona sudah mulai terkendali karena banyak negara yang menutup pintu masuk sementara terhadap warga China (termasuk Indonesia). Hal ini memang memukul industri pariwisata dan industri penerbangan namun ampuh untuk menghindari penyebaran wabah.

Sampai pagi ini, ada lebih dari 20 ribu kasus Corona dan kematian mencapai 490 orang. Namun menurut WHO, ada 680 orang yang berhasil sembuh dari penyakit Corona tersebut. Hal ini cukup menenangkan karena ada lebih banyak pasien yang sembuh dibanding yang meninggal.

Para dokter di Filipina pun disebutkan berhasil memperbaiki kondisi pasian yang terinfeksi Corona dengan gabungan obat flu dan HIV. Ada harapan penyembuhan dari penyakit infeksi virus Corona ini. Setelah RS khusus Corona (1,000 tempat tidur) di Wuhan selesai dibangun dalam 10 hari (!), kemungkinan metode penyembuhan penyakit ini pun mulai muncul.

China akhirnya membuka diri terhadap pertolongan dari AS agar tenaga ahli medis yang juga merupakan anggota WHO. Harapan penanggulanan wabah Corona seharusnya semakin besar. Beberapa perusahaan farmasi pun mulai menemukan titik cerah untuk obat penyakit Corona meskipun disebutkan perlu setidaknya 1 tahun untuk memproduksi obat dan vaksin yang aman untuk masyarakat.

Berita – berita tersebut menurut The Primary Trader adalah salah satu potensi katalis positif yang dapat mengakhiri penurunan karena wabah Corona.

Menghadapi Dampak Negatif Virus Corona

Menurut The Primary Trader, bukan karena Virus Corona Investor menjual aset saham dan Risky Asset lainnya dan berpindah ke Safe Heaven seperti Emas (yang sempat naik 3% dari sejak wabah memuncak). Investor mengkhawatirkan dampak ekonomi dari banyaknya masyarakat China yang terkena penyakit dan bagaimana miliaran orang di Dunia mengantisipasinya dengan waspada. Industri pariwisata dan penerbangan jelas paling terpukul karena pembatalan jadwal dan penutupan izin masuk. Namun buruh pabrik dan kantor lainnya di China masih banyak yang tutup sehingga praktis aktivitas ekonomi tersendat.

Dilihat dari data Manufacturing PMI, China diharapkan mulai tumbuh namun ternyata, data Januari 2020 menunjukkan penurunan dari 51.5 menjadi 51.1. Penurunan tersebut memang dapat disebabkan oleh antisipasi Chinese New Year dimana banyak masyarakat yang ‘mudik’. Namun karena dampak wabah Corona, ada kemungkinan Manufacturing PMI kembali turun di bawah 50 (ekonomi berkontraksi) dan hal inilah yang menurut The Primary Trader menjadi kekhawatiran utama para Investor.

China Caixin Manufacturing PMI

Untungnya adalah para bank sentral global, termasuk Bank Indonesia, cepat melihat potensi ancaman tersebut. Saat ini para ekonom tampaknya sedang menghitung dampak negatif virus Corona terhadap pertumbuhan ekonomi di tahun 2020. Bank sentral pun seharusnya sedang menghitung perlunya stimulus moneter termasuk penurunan suku bunga. BI sendiri terus mengintervensi pasar sejak wabah terjadi dan mengatakan masih membuka peluang stimulus berupa penurunan suku bunga. Rapat Dewan Gubernur BI ada di 20 Februari 2020 dan 19 Maret 2020. The Primary Trader perkirakan BI akan menurunkan suku bunga di 19 Maret 2020.

Sentimen positif terhadap Indonesia kembali terlihat setelah Japan Credit Rating Agency (JCRA) menaikkan rating Indonesia dari BBB menjadi BBB+ atau level Investment Grade yang lebih tinggi. Tidak mengherankan karena memang JCRA lebih Bullish terhadap Indonesia (dan pihak Jepang banyak berinvestasi pada proyek raksasa di Indonesia seperti Pelabuhan Patimban dan Kereta Cepat Jakarta – Surabaya). Pada lelang SUN kemarin, permintaan yang masuk kembali mencatat rekor yaitu sebesar Rp 96 triliun (dari sebelumnya Rp 94 triliun). Tingginya minat membeli SUN tentu menunjukkan sentimen terhadap Indonesia.

Memang bagusnya lelang SUN akan berdampak pada harga SUN yang akan semakin naik. Kenaikan harga SUN berarti menurunkan Yield sehingga Yield acuan yaitu Yield SUN10Yr masih berpotensi turun menuju 5.9% setelah Breakdown Support kuat di 6.5%.

The Primary Trader melihat intervensi BI terhadap Rupiah menjaga Rupiah untuk tidak terus melemah di atas Rp13,800 namun Rupiah masih terlihat berpotensi menguatmenuju Rp13,250 – dengan Breakdown Support di Rp13,600. Seiring dengan intervensi BI tersebut (dan pandangan pemerintah agar Rupiah tidak menguat terlalu cepat), tampaknya Rupiah akan stabil di kisaran Rp13,600 – Rp13,800. Hal ini cukup baik karena yang terpenting adalah kestabilan mata uang (Rupiah).

IHSG Bottoming ?

Melihat jarak antara MA200 (annual average) dengan IHSG, sejak Oktober 2019, IHSG cenderung berada -5% bawah MA200 sebelum kembali naik. Saat ini IHSG sudah berada -5.2% di bawah MA200 sehingga ada potensi IHSG naik mendekati MA200. Ada potensi kenaikan sebesar 4.6%.

Berdasarkan momentum pergerakan IHSG, The Primary Trader melihat bahwa IHSG cenderung turun -6% dari pergerakan 60 hari lalu (Quarter on Quarter) dan IHSG telah turun sebesar tersebut pada 2 hari lalu. Dengan demikian, terlihat perlambatan momentum penurunan yang dapat diartikan bahwa kekuatan turun (Selling Power) atau minat jual mulai melemah.

Masih ada ancaman IHSG turun menuju 5,690 karena The Primary Trader belum melihat indikasi Bottoming dari Candlestick 2 hari terakhir. Dengan demikian, IHSG masih cenderung terlihat sedang dalam proses Breakdown Support di 5,940 ini.

Harapan kenaikan muncul karena IHSG berada di level terendah sejak 52Week terakhir. Investor jangka panjang terindikasi sering memperhatikan level ini (seperti mereka disebutkan memperhatikan MA200). Dengan demikian, meski belum terlihat indikasi Bottoming, harapan akan terbentuk Bottoming mulai ada karena IHSG cenderung Oversold atau Jenuh Jual dilihat dari posisi 52Wk terakhir.

Tentu katalis positif dari berakhirnya wabah Corona, terbitnya Omnibus Law yang sesuai dan benar serta stimulus berupa penurunan suku bunga BI 7DRR Rate (dan Fed Rate) di tahun 2020 yang akan menjadi katalis utama bagi IHSG.

Time To Panic Already ? Well No

Potensi Sell – Off Pada Pembukaan Shanghai Composite Paska CNY

Senin, 2 Februari 2020, bursa China akan dibuka setelah ditutup pada saat libur Chinese New Year (dan puncak wabah Corona tersebut). Tidak terbayang potensi penurunan Shanghai Comp. The Primary Trader menunjukkan ‘peta’ Support yang berpotensi menahan Shcomp tersebut.

Sebelumnya, paska adanya pengumuman potensi Deal dari Trade War di pertengahan 2019, Shcomp sudah mulai mengakhiri Tech. Correction dari 3,300 di awal April 2019. Setelah adanya kesepakatan secara verbal di Desember 2020, Shcomp terlihat mengakhiri pola Bullish Continuation yang artinya kenaikan sejak 2,400an di awal 2019 sampai April 2019 (di 3,300) berpotensi berlanjut kembali. The Primary Trader perkirakan Shcomp dapat melanjutkan Uptrend menuju 3,600 kembali (level tertinggi sejak awal tahun 2018).

Support terdekat dari Shcomp ada di 2,900 yang merupakan minor Up Trendline dari sejak 2,730 di bulan Agustus 2019. Menurut The Primary Trader, level ini cenderung lemah sehingga sangat mudah di-Breakdown. Support berikut yang seharusnya cukup kuat ada di 2,730 itu sendiri. The Primary Trader perkirakan Shcomp akan turun mendekati namun tidak turun di bawah 2,730 ini. Dengan demikian, ada ancaman Shcomp turun sebesar 8% pada pembukaan paska Chinese New Year (CNY).

Banyak bursa regional Asia turun dalam sejak mulai ramai wabah Corona. Year To Date (YTD), hampir semua bursa regional Asia dan S&P500 mencatat Negative Return. Hang Seng adalah bursa yang paling terpukul dengan Return sebesar -7.8% YTD. Cukup wajar mengingat dampak demonstrasi besar – besaran masih terasa dan ditambah kekhawatiran wabah Corona ini. Shcomp yang masih ditutup dari sejak 23 Januari 2020 kemungkinan besar masih dapat turun lagi lebih dalam.

Pemerintah China dikabarkan akan memberikan stimulus untuk menahan potensi penurunan (Sell-Off) besar – besaran paska CNY. The Primary Trader melihat hal ini sebagai sentimen positif sementara namun tampaknya tidak akan efektif mengurangi Sell-Off tersebut.

Masih Amankah IHSG ?

IHSG telah Breakdown Support di 6,000an yang berasal dari Up Trendline sejak Juli 2018. Hal ini berarti Downtrend sudah mengancam dan membatalkan potensi Uptrend Jangka Panjang IHSG. The Primary Trader memperkirakan IHSG berhasil bertahan di 6,000 yang berarti mempertahankan Uptrend Jangka Panjang tersebut. Namun ternyata kekhawatiran Investor akan dampak ekonomi dari wabah Corona ini sangat signifikan.

On the positive side, IHSG mungkin sudah Breakdown Support dari Up Trendline namun IHSG belum membentuk Lower Low – seperti yang The Primary Trader harapkan. IHSG perlu turun di bawah 5,930 untuk membentuk Lower Low dan melanjutkan Downtrend dari sejak Agustus 2019.

Akan tetap, mengingat dampak ekonomi China dan Global (serta Indonesia) akibat wabah virus Corona ini, sangat mungkin sentimen negatif masih menghantui IHSG. The Primary Trader perkirakan IHSG akan Breakdown 5,939 dan membentuk Lower Low baru – sehingga mempertahankan Downtrend tersebut. Ada ancaman IHSG turun menuju 5,690 (Fibonacci Retracement 161.8%) paska Breakdown 5,939. The Primary Trader perkirakan (dan berharap) IHSG turun sampai 5,800 – 5,830.

Pada saat IHSG di 5,800an tersebut, kemungkinan terjadi pada Februari 2020 dan diharapkan mulai ada sentimen positif salah satunya adalah perkembangan Omnibus Law. Selain itu, sentimen Japan Credit Rating Agency (JCRA) menaikkan rating Indonesia dari BBB menjadi BBB+ seharusnya adalah positif.

Memang katalis positif tersebut sangat terasa di pasar obligasi. Yield SUN10Yr berpotensi terus turun (membaik) menuju 5.9% setelah tentu melewati Support penting di 6.5%. Sempat melemah mendekati 6.8%, Yield berhasil kembali turun yang berarti Down Trendline dari sejak Desember 2019 masih aktif. Down Trendline ini membuat Yield berada dalam Strong (but Short) Downtrend yang menurut The Primary Trader dapat membuat Yield terus turun di bawah 6.5% (yang merupakan target akhir tahun 2020 dari kebanyakan Analis, Ekonom dan Fund Manager).

Sentimen positif yang terjadi pada pasar obligasi tentu cepat atau lambat akan dirasakan pada pasar saham. Kenaikan harga obligasi yang membuat Yield turun adalah karena adanya Capital Inflow. Pada akhirnya, Investor akan membutuhkan Higher Return (dan lebih menerima Higher Risk) sehingga beralih ke pasar saham (IHSG).