Time To Panic Already ? Well No

Potensi Sell – Off Pada Pembukaan Shanghai Composite Paska CNY

Senin, 2 Februari 2020, bursa China akan dibuka setelah ditutup pada saat libur Chinese New Year (dan puncak wabah Corona tersebut). Tidak terbayang potensi penurunan Shanghai Comp. The Primary Trader menunjukkan ‘peta’ Support yang berpotensi menahan Shcomp tersebut.

Sebelumnya, paska adanya pengumuman potensi Deal dari Trade War di pertengahan 2019, Shcomp sudah mulai mengakhiri Tech. Correction dari 3,300 di awal April 2019. Setelah adanya kesepakatan secara verbal di Desember 2020, Shcomp terlihat mengakhiri pola Bullish Continuation yang artinya kenaikan sejak 2,400an di awal 2019 sampai April 2019 (di 3,300) berpotensi berlanjut kembali. The Primary Trader perkirakan Shcomp dapat melanjutkan Uptrend menuju 3,600 kembali (level tertinggi sejak awal tahun 2018).

Support terdekat dari Shcomp ada di 2,900 yang merupakan minor Up Trendline dari sejak 2,730 di bulan Agustus 2019. Menurut The Primary Trader, level ini cenderung lemah sehingga sangat mudah di-Breakdown. Support berikut yang seharusnya cukup kuat ada di 2,730 itu sendiri. The Primary Trader perkirakan Shcomp akan turun mendekati namun tidak turun di bawah 2,730 ini. Dengan demikian, ada ancaman Shcomp turun sebesar 8% pada pembukaan paska Chinese New Year (CNY).

Banyak bursa regional Asia turun dalam sejak mulai ramai wabah Corona. Year To Date (YTD), hampir semua bursa regional Asia dan S&P500 mencatat Negative Return. Hang Seng adalah bursa yang paling terpukul dengan Return sebesar -7.8% YTD. Cukup wajar mengingat dampak demonstrasi besar – besaran masih terasa dan ditambah kekhawatiran wabah Corona ini. Shcomp yang masih ditutup dari sejak 23 Januari 2020 kemungkinan besar masih dapat turun lagi lebih dalam.

Pemerintah China dikabarkan akan memberikan stimulus untuk menahan potensi penurunan (Sell-Off) besar – besaran paska CNY. The Primary Trader melihat hal ini sebagai sentimen positif sementara namun tampaknya tidak akan efektif mengurangi Sell-Off tersebut.

Masih Amankah IHSG ?

IHSG telah Breakdown Support di 6,000an yang berasal dari Up Trendline sejak Juli 2018. Hal ini berarti Downtrend sudah mengancam dan membatalkan potensi Uptrend Jangka Panjang IHSG. The Primary Trader memperkirakan IHSG berhasil bertahan di 6,000 yang berarti mempertahankan Uptrend Jangka Panjang tersebut. Namun ternyata kekhawatiran Investor akan dampak ekonomi dari wabah Corona ini sangat signifikan.

On the positive side, IHSG mungkin sudah Breakdown Support dari Up Trendline namun IHSG belum membentuk Lower Low – seperti yang The Primary Trader harapkan. IHSG perlu turun di bawah 5,930 untuk membentuk Lower Low dan melanjutkan Downtrend dari sejak Agustus 2019.

Akan tetap, mengingat dampak ekonomi China dan Global (serta Indonesia) akibat wabah virus Corona ini, sangat mungkin sentimen negatif masih menghantui IHSG. The Primary Trader perkirakan IHSG akan Breakdown 5,939 dan membentuk Lower Low baru – sehingga mempertahankan Downtrend tersebut. Ada ancaman IHSG turun menuju 5,690 (Fibonacci Retracement 161.8%) paska Breakdown 5,939. The Primary Trader perkirakan (dan berharap) IHSG turun sampai 5,800 – 5,830.

Pada saat IHSG di 5,800an tersebut, kemungkinan terjadi pada Februari 2020 dan diharapkan mulai ada sentimen positif salah satunya adalah perkembangan Omnibus Law. Selain itu, sentimen Japan Credit Rating Agency (JCRA) menaikkan rating Indonesia dari BBB menjadi BBB+ seharusnya adalah positif.

Memang katalis positif tersebut sangat terasa di pasar obligasi. Yield SUN10Yr berpotensi terus turun (membaik) menuju 5.9% setelah tentu melewati Support penting di 6.5%. Sempat melemah mendekati 6.8%, Yield berhasil kembali turun yang berarti Down Trendline dari sejak Desember 2019 masih aktif. Down Trendline ini membuat Yield berada dalam Strong (but Short) Downtrend yang menurut The Primary Trader dapat membuat Yield terus turun di bawah 6.5% (yang merupakan target akhir tahun 2020 dari kebanyakan Analis, Ekonom dan Fund Manager).

Sentimen positif yang terjadi pada pasar obligasi tentu cepat atau lambat akan dirasakan pada pasar saham. Kenaikan harga obligasi yang membuat Yield turun adalah karena adanya Capital Inflow. Pada akhirnya, Investor akan membutuhkan Higher Return (dan lebih menerima Higher Risk) sehingga beralih ke pasar saham (IHSG).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s