Mulai Muncul Berita Positif

The Primary Trader memperhatikan bahwa penyebaran wabah virus Corona sudah mulai terkendali karena banyak negara yang menutup pintu masuk sementara terhadap warga China (termasuk Indonesia). Hal ini memang memukul industri pariwisata dan industri penerbangan namun ampuh untuk menghindari penyebaran wabah.

Sampai pagi ini, ada lebih dari 20 ribu kasus Corona dan kematian mencapai 490 orang. Namun menurut WHO, ada 680 orang yang berhasil sembuh dari penyakit Corona tersebut. Hal ini cukup menenangkan karena ada lebih banyak pasien yang sembuh dibanding yang meninggal.

Para dokter di Filipina pun disebutkan berhasil memperbaiki kondisi pasian yang terinfeksi Corona dengan gabungan obat flu dan HIV. Ada harapan penyembuhan dari penyakit infeksi virus Corona ini. Setelah RS khusus Corona (1,000 tempat tidur) di Wuhan selesai dibangun dalam 10 hari (!), kemungkinan metode penyembuhan penyakit ini pun mulai muncul.

China akhirnya membuka diri terhadap pertolongan dari AS agar tenaga ahli medis yang juga merupakan anggota WHO. Harapan penanggulanan wabah Corona seharusnya semakin besar. Beberapa perusahaan farmasi pun mulai menemukan titik cerah untuk obat penyakit Corona meskipun disebutkan perlu setidaknya 1 tahun untuk memproduksi obat dan vaksin yang aman untuk masyarakat.

Berita – berita tersebut menurut The Primary Trader adalah salah satu potensi katalis positif yang dapat mengakhiri penurunan karena wabah Corona.

Menghadapi Dampak Negatif Virus Corona

Menurut The Primary Trader, bukan karena Virus Corona Investor menjual aset saham dan Risky Asset lainnya dan berpindah ke Safe Heaven seperti Emas (yang sempat naik 3% dari sejak wabah memuncak). Investor mengkhawatirkan dampak ekonomi dari banyaknya masyarakat China yang terkena penyakit dan bagaimana miliaran orang di Dunia mengantisipasinya dengan waspada. Industri pariwisata dan penerbangan jelas paling terpukul karena pembatalan jadwal dan penutupan izin masuk. Namun buruh pabrik dan kantor lainnya di China masih banyak yang tutup sehingga praktis aktivitas ekonomi tersendat.

Dilihat dari data Manufacturing PMI, China diharapkan mulai tumbuh namun ternyata, data Januari 2020 menunjukkan penurunan dari 51.5 menjadi 51.1. Penurunan tersebut memang dapat disebabkan oleh antisipasi Chinese New Year dimana banyak masyarakat yang ‘mudik’. Namun karena dampak wabah Corona, ada kemungkinan Manufacturing PMI kembali turun di bawah 50 (ekonomi berkontraksi) dan hal inilah yang menurut The Primary Trader menjadi kekhawatiran utama para Investor.

China Caixin Manufacturing PMI

Untungnya adalah para bank sentral global, termasuk Bank Indonesia, cepat melihat potensi ancaman tersebut. Saat ini para ekonom tampaknya sedang menghitung dampak negatif virus Corona terhadap pertumbuhan ekonomi di tahun 2020. Bank sentral pun seharusnya sedang menghitung perlunya stimulus moneter termasuk penurunan suku bunga. BI sendiri terus mengintervensi pasar sejak wabah terjadi dan mengatakan masih membuka peluang stimulus berupa penurunan suku bunga. Rapat Dewan Gubernur BI ada di 20 Februari 2020 dan 19 Maret 2020. The Primary Trader perkirakan BI akan menurunkan suku bunga di 19 Maret 2020.

Sentimen positif terhadap Indonesia kembali terlihat setelah Japan Credit Rating Agency (JCRA) menaikkan rating Indonesia dari BBB menjadi BBB+ atau level Investment Grade yang lebih tinggi. Tidak mengherankan karena memang JCRA lebih Bullish terhadap Indonesia (dan pihak Jepang banyak berinvestasi pada proyek raksasa di Indonesia seperti Pelabuhan Patimban dan Kereta Cepat Jakarta – Surabaya). Pada lelang SUN kemarin, permintaan yang masuk kembali mencatat rekor yaitu sebesar Rp 96 triliun (dari sebelumnya Rp 94 triliun). Tingginya minat membeli SUN tentu menunjukkan sentimen terhadap Indonesia.

Memang bagusnya lelang SUN akan berdampak pada harga SUN yang akan semakin naik. Kenaikan harga SUN berarti menurunkan Yield sehingga Yield acuan yaitu Yield SUN10Yr masih berpotensi turun menuju 5.9% setelah Breakdown Support kuat di 6.5%.

The Primary Trader melihat intervensi BI terhadap Rupiah menjaga Rupiah untuk tidak terus melemah di atas Rp13,800 namun Rupiah masih terlihat berpotensi menguatmenuju Rp13,250 – dengan Breakdown Support di Rp13,600. Seiring dengan intervensi BI tersebut (dan pandangan pemerintah agar Rupiah tidak menguat terlalu cepat), tampaknya Rupiah akan stabil di kisaran Rp13,600 – Rp13,800. Hal ini cukup baik karena yang terpenting adalah kestabilan mata uang (Rupiah).

IHSG Bottoming ?

Melihat jarak antara MA200 (annual average) dengan IHSG, sejak Oktober 2019, IHSG cenderung berada -5% bawah MA200 sebelum kembali naik. Saat ini IHSG sudah berada -5.2% di bawah MA200 sehingga ada potensi IHSG naik mendekati MA200. Ada potensi kenaikan sebesar 4.6%.

Berdasarkan momentum pergerakan IHSG, The Primary Trader melihat bahwa IHSG cenderung turun -6% dari pergerakan 60 hari lalu (Quarter on Quarter) dan IHSG telah turun sebesar tersebut pada 2 hari lalu. Dengan demikian, terlihat perlambatan momentum penurunan yang dapat diartikan bahwa kekuatan turun (Selling Power) atau minat jual mulai melemah.

Masih ada ancaman IHSG turun menuju 5,690 karena The Primary Trader belum melihat indikasi Bottoming dari Candlestick 2 hari terakhir. Dengan demikian, IHSG masih cenderung terlihat sedang dalam proses Breakdown Support di 5,940 ini.

Harapan kenaikan muncul karena IHSG berada di level terendah sejak 52Week terakhir. Investor jangka panjang terindikasi sering memperhatikan level ini (seperti mereka disebutkan memperhatikan MA200). Dengan demikian, meski belum terlihat indikasi Bottoming, harapan akan terbentuk Bottoming mulai ada karena IHSG cenderung Oversold atau Jenuh Jual dilihat dari posisi 52Wk terakhir.

Tentu katalis positif dari berakhirnya wabah Corona, terbitnya Omnibus Law yang sesuai dan benar serta stimulus berupa penurunan suku bunga BI 7DRR Rate (dan Fed Rate) di tahun 2020 yang akan menjadi katalis utama bagi IHSG.