Dampak Terburuk Wabah Corona

Wabah Virus Corona di Wuhan dan China tampaknya telah terisolasi dan tidak semakin menyebar. Tingkat kematian akibat virus Corona memang lebih tinggi dari SARS namun persentasi tingkat kematian masih relatif rendah dibanding wabah penyakit – penyakit berat lainnya (seperti Ebola). Beberapa Analis memprediksikan puncak wabah Corona akan segera tercapai dalam waktu dekat sehingga diharapkan pasien yang terinfeksi virus serta tingkat kematian mulai menurun.

Meski puncak wabah sudah dekat namun The Primary Trader setuju bahwa dampak ekonomi virus Corona baru akan dirasakan setelahnya. Industri yang paling dahulu merasakan dampak negatif wabah Corona adalah pariwisata. Saat ini para ekonomi tampaknya mulai melihat bahwa pabrik manufaktur (terutama automotif dan elektronik) sudah terdampak karena produksinya yang turun sehingga ke depan, penjualan pun akan turun.

Pada akhirnya, seperti yang ditakuti Investor, wabah Corona dapat memicu perlambatan ekonomi global yang lebih parah dari perkiraan. Memang China (dan AS) tetap bertekad untuk terus menjalankan kesepakatan dagang fase pertama (yang ditandatangani seminggu sebelum awal wabah Corona) namun ada kemungkinan negara lain masih enggan bertransaksi dengan China sampai setidaknya di bulan Maret 2020. Hal ini terlihat dari larangan industri penerbangan. Dengan porsi terhadap ekonomi sebesar 18%, tentu hal ini akan berdampak signifikan baik China, negara tersebut dan ekonomi global.

The Primary Trader setuju bahwa pada akhirnya, bank sentral perlu untuk ikut campur seperti kembali menurunkan suku bunga atau stimulus moneter lainnya. People’s Bank of China (PBOC) cukup cepat menurunkan suku bunga dan menyuntikkan likuiditas untuk mempermudah pemulihan ekonomi. Bank Indonesia disebutkan akan mengantisipasi dampak wabah Corona dan siap untuk menurunkan suku bunga dan memberi stimulus moneter. BI sebelumnya sempat mengintervensi pasar obligasi dengan membeli obligasi pada masa awal wabah Corona (disaat Investor Asing keluar dari Indonesia karena kekhawatiran wabah tersebut). The Primary Trader perkirakan BI akan menurunkan suku bunga di bulan Maret 2020 atau paling tidak di 1H20.

Berita buruk cenderung merupakan berita baik untuk pasar obligasi. Dengan adanya harapan penurunan suku bunga maka pasar obligasi akan menjadi menarik dalam rangka menjamin Return yang lebih tinggi dari Deposito. The Primary Trader masih percaya Yield SUN10Yr dapat turun di bawah 6.5%. Yield berpotensi turun sampai 5.9% dalam jangka menengah namun perlu katalis – katalis tambahan untuk dapat Breakdown Support di 6.5%.

Katalis Positif Untuk Indonesia

Setelah Japan Credit Rating Agency (JCRA) menaikkan Rating Indonesia dari BBB menjadi BBB+, ada harapan pemeringkat efek atau pemberi rating lainnya ikut menaikkan rating. Di minggu ini, Moody’s mempertahankan rating Indonesia dan memberi Outlook Stabil. Artinya adalah rating Indonesia versi Moody’s masih di Baa2 atau setara BBB. Memang di level Investment Grade namun berarti di tahun 2020 ini, Moody’s kemungkinan besar tidak mengupgrade rating Indonesia seperti JCRA. The Primary Trader menilai Moody’s dan S&P relatif lebih ‘pelit’ dalam memberikan rating. The Primary Trader berharap dan memperkirakan Fitch akan mengupgrade rating Indonesia di tahun ini terutama setelah Omnibus Law selesai disahkan (dimana diharapkan) pada 1H20.

Menurut The Primary Trader, ada hal lain yang setidaknya dapat menjadi katalis positif untuk Capital Inflow yaitu Current Account. Saat ini Current Account Deficit Indonesia (2019) berada di level 2.72% dari GDP, membaik dari CAD 2018 sebesar 2.98% dari GDP.

Di tahun 2020, ada potensi CAD kembali membaik karena dua kebijakan utama yaitu : 1) Program B30 dimana ada kandungan CPO (lokal) sebesar 30% dan 2) Kuota Impor Minyak dari Pertamina dipotong 30 juta barel agar Pertamina lebih banyak membeli dari tambang minyak lokal. Hal ini tentu akan mengurangi impor minyak yang cukup signifikan sehingga mengurangi Trade Balance dan memperbaiki Current Account.

Perbaikan pada sisi moneter akan terlihat jelas pada Rupiah. The Primary Trader masih percaya Rupiah dalam tren menguat dengan potensi Rp13,250 – bila tidak ditahan oleh BI. Setidaknya Rupiah masih dapat stabil di kisaran Rp13,600 – Rp13,800 dan akan sulit untuk kembali melemah di atas Rp13,900.

Mulai Beli Saham ?

The Primary Trader melihat IHSG masih memiliki risiko dari pertumbuhan ekonomi Indonesia (dan global). Perlu diwaspada karena Annual Return IHSG sejak tahun 2011 relatif sempit yaitu berkisar antara -13% s.d 20% (bandingkan dengan Annual Return 2003 – 2010).

Annual Return yang tinggi pada IHSG beriringan dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tinggi pada periode tersebut dengan kisaran 6% – 7% per tahun. Perlu diperhatikan bahwa pada tahun 2011, pertumbuhan ekonomi Indonesia mulai (sangat) stabil di 5%. Pertumbuhan stabil di level rendah kurang bagus untuk pasar saham.

Indonesia GDP Annual Growth Rate

The Primary Trader setuju bahwa IHSG sudah murah dan mulai menarik untuk berinvestasi pada saham. Namun pergerakan IHSG dalam seminggu terakhir belum menunjukkan potensi awal Bottom.

IHSG lebih cenderung naik sebagai Tech. Rebound atau kenaikan di tengah Downtrend (menuju 6,000 kemarin). Saat ini IHSG terancam turun sebagai penurunan dalam Downtrend yang berpotensi menuju 5,700 – menggunakan Fibonacci Retracement.

Valuasi murah memang namun pada akhirnya Trend is Our Friend. The Primary Trader masih lebih menyukai pasar obligasi untuk saat ini sampai setidaknya ada katalis yang positif untuk pasar saham yang salah satunya adalah Omnibus Law.