Mulai Tenang

The Primary Trader melihat index VIX yang sempat naik di akhir Januari 2020 dari level 12 ke 20 (pada awal wabah Corona). Namun ternyata VIX tetap tidak naik di atas level 20 yang merupakan Resistance sejak Oktober 2019. Hal ini menandakan kekhawatiran Investor tidak berlarut. Selain karena wabah Corona dapat dikendalikan (dengan baik) oleh Pemerintah China, ilmuwan sudah berhasil menemukan obat dan vaksin meskipun harus melalui masa uji keamanan.

Bursa Shanghai (Shcomp) sendiri sejak di buka pertama kali setelah wabah Corona telah naik sebesar 7%. Memang pada waktu dibuka, Shcomp sempat turun -9% akan tetap sejak saat itu, Shcomp terus naik sebesar 7%. Saat ini Shcomp sedang menguji Resistance di 2,900an namun The Primary Trader perkirakan Shcomp masih belum akan berhasil Breakout untuk menguji Resistance penting berikutnya di 3,000.

The Primary Trader perkirakan Investor China masih ingin melihat dampak negatif dari wabah Corona terhadap ekonomi China. Selain itu, tampaknya Investor masih ingin melihat stimulus dan aksi pemerintah China untuk melawan ancaman penurunan ekonomi China karena terganggunya aktiftas bisnis di China. Meski demikian, The Primary Trader yakin Shcomp akan sulit untuk turun di bawah Support kuat 2,700 dan peluang turun menuju 2,400 relatif kecil.

IHSG Masih Terancam

The Primary Trader belum melihat awal pembentukan Bottom dari penurunan IHSG sejak Januari 2020. Oleh karena itu, ada potensi IHSG masih kembali turun menuju 5,600 – 5,700.

Memang terlihat bahwa Net Sell Asing mulai berkurang. Terlihat bahwa Net Akumulasi Asing di 2 bulan pertama 2020 tidak lebih turun dibanding Desember 2019 lalu. Namun belum terlihat Tren Net Sell Asing berkurang sehingga menurut The Primary Trader, hal tersebut perlu diwaspadai.

Pasar Obligasi Masih Menarik

Di saat IHSG masih kurang menarik, pasar obligasi – dilihat dari Yield SUN10Yr masih sangat menarik. Yield SUN10Yr masih dalam Downtrend sejak Oktober 2018 dan bahkan dimulai dari Desember 2019, Downtrend semakin kuat karena terlihat sudut penurunan semakin tajam. Dari 20 derajat (Oktober 2018 – Desember 2019) menjadi 49 derajat (mulai dari Desember 2019). Perlu diketahui bahwa tren dengan ~45 derajat menunjukkan tren yang kuat dan stabil. Oleh karena itu, The Primary Trader perkirakan Yield masih dapat turun menuju 5.9% dengan Breakout Support saat ini di 6.5%.

Investor tampaknya menganggap Indonesia semakin menarik setelah memasuki periode ke-2 Presiden Jokowi. Selain karena harapan reformasi perlahan mulai terlihat (dari aksi Menteri – Menteri Indonesia Maju seperti Menteri BUMN Erick Thohir), pemerintah pun sudah menyelesaikan draf RUU Cipta Kerja ke DPR dimingu kedua Februari 2020. Meski masih kontroversi namun The Primary Trader melihat RUU tersebut dapat mendorong investasi.

Yield SUN10Yr telah memberikan Return yang sangat menarik dibandingkan IHSG – sejak awal tahun 2019. Memang sesuai dengan teori dasar, pergerakan Yield Obligasi berbanding terbalik dengan IHSG. Bila Yield turun maka IHSG naik dan sebaliknya bila Yield naik maka IHSG turun. Secara teori, hal ini berarti harga Obligasi dan Saham bergerak bersamaan. Kenaikan harga Obligasi berarti penurunan Yield Obligasi.

Bila memang saat ini pasar obligasi masih menarik maka The Primary Trader berpikir bahwa di tahun 2020 ini adalah tahun akhir dari sebuah siklus “Hard Landing” dan di awal siklus “Soft Landing” (lihat Asset Allocation Clock dari Merril Lynch). Diperlukan Rate Cuts untuk berpindah siklus menuju “Recovery”.

Image result for investment asset cycle

The Primary Trader meyakini BI akan kembali menurunkan BI 7DRR Rate di tahun 2020 – setelah atau sebelum The Fed menurunkan Fed Fund Rate. Ekonomi Indonesia berpotensi kembali turun karena wabah Corona ini sehingga BI seharusnya kembali melakukan stimulus moneter.