Dua (Potensi) Bottom Untuk IHSG

The Primary Trader melihat ada harapan IHSG berhenti turun di 5,450 karena posisi IHSG di level tersebut berada pada 12% di bawah MA200 atau rata – rata tahunan. Sejak tahun 2011, posisi IHSG 12% di bawah MA200 mengindikasikan tingkat Jenuh Jual atau Oversold yang pada akhirnya membuat IHSG kembali naik mendekati atau bahkan melewati MA200.

Namun pada tahun 2015 akhir, IHSG ternyata terus turun dan mencapai level 23% di bawah MA200. Ada harapan IHSG bertahan di 5,450 karena kecenderungan IHSG yang Oversold pada posisi 12% di bawah MA200 (dimana saat ini MA200 di 6,186 maka 88% dari level tersebut adalah ~5,450). Namun mengingat kondisi saat ini dapat dikatakan sudah dalam keadaan Panic Selling maka The Primary Trader tidak heran bila IHSG terus turun mendekati level 23% di bawah MA200 yaitu di 4,770.

The Primary Trader perkirakan pada hari Senin, 2 Maret 2020, akan menjadi penentu apakah IHSG bertahan di 5,450 atau kembali “Stretch” ke 4,770.

Manufacturing PMI Menjadi Kunci Utama

China, Indonesia dan AS dijadwalkan mengumumkan Manufacturing PMI bulan Februari 2020 pada Senin, 2 Maret 2020. Manufacturing PMI adalah salah satu indikator ekonomi utama untuk mengestimasikan pertumbuhan ekonomi suatu negara. Manufacturing PMI menunjukkan aktifitas sektor manufaktur (pabrik) dan angka indeks Manufacturing PMI di atas 50 menunjukkan potensi ekonomi berekspansi dan di bawah 50 menunjukkan potensi ekonomi berkontraksi.

Ekonom memperkirakan Manufacturing PMI China di bulan Februari 2020 turun di level 46.1 dari 51.1 di bulan Januari 2020. Bila indeks tersebut di bawah 50 maka ada potensi ekonomi China berkontraksi.

Kontraksi ekonomi China inilah yang menjadi kekhawatiran Investor Global karena saat ini ekonomi China hampir mencapai 20% dari ekonomi dunia. Bila ekonomi China kembali turun maka ekonomi dunia pun akan ikut turun.

Di satu sisi, ekonomi AS di tahun 2020 cukup baik. Bahkan The Fed terdengar yakin akan mempertahankan Fed Fund Rate di saat bank sentral lain (termasuk BI) menurunkan suku bunga dalam menghadapi dampak negatif ekonomi karena wabah Corona. Tentu pernyataan tersebut dapat terganggu mengingat minggu ini AS mengumumkan 15 kasus infeksi Corona yang tidak diketahui asalnya (!). Namun data Manufacturing PMI AS pada Senin, 2 Maret 2020, tentu akan menjadi pertimbangan awal bagi Investor maupun The Fed dalam menilai dampak wabah Corona terkini.

Kembali ke China, ada harapan data Manufacturing PMI bulan Februari 2020 tidak turun sejauh 46.1 dari 51.1. Hal ini karena pabrik – pabrik di Hubei (provinsi dimana Wuhan berada) sudah mulai kembali beraktifitas dipertengahan Februari. Menjelang akhir Februari 2020, kapasitas pabrik sudah berjalan 30% – 50% dan ditargetkan berjalan 70% di awal Maret 2020. Dan tentu meskipun China menyumbang ekonomi dunia sebesar ~20%, ekonomi provinsi Hubei sendiri hanya mencapai 4.6% dari total GDP China sehingga gangguan terhadap keseluruhan ekonomi China diharapkan tidak sebesar penurunan Manufacturing PMI tersebut.

Sejak Juli 2019, Manufacturing PMI Indonesia di bawah 50 sehingga menandakan ekonomi sedang berkontraksi. Meski demikian, Manufacturing PMI Indonesia sebenarnya mulai naik sejak Oktober 2019 namun sedikit turun di Januari 2020 akibat banjir di awal tahun dan dampak awal wabah Corona. The Primary Trader melihat bila nanti Manufacturing PMI Indonesia tidak lebih rendah dari posisi di bulan Oktober 2019 di level 47.5 maka dapat disimpulkan dampak wabah Corona di Indonesia tidak separah di negara – negara lain. Seharusnya hal tersebut akan menjadi katalis positif bagi IHSG untuk tidak turun menuju 4,770.

Indonesia Manufacturing PMI

Sentimen Bullish Dari Candlestick Pada IHSG

IHSG membentuk pola single candle dari Candlestick yaitu Hammer. Menariknya, Hammer terbentuk di Fibonacci Extension level 261.8% sehingga dapat diharapkan indikasi untuk naik. Meskipun ada indikasi naik namun pertanyaan pentingnya adalah apakah kenaikan yang ada adalah sebagai Technical Rebound saja atau akan ada perubahan dari Downtrend saat ini menjadi Uptrend. The Primary Trader perkirakan kenaikan yang terjadi (bila kondisi mendukung, antara lain Manufacturing PMI yang tidak seburuk perkiraan) adalah sebagai Tech. Rebound saja dengan kenaikan tidak lebih tinggi dari 5,700 (level Fibonacci Extension di 161.8%).

Investor Global Masih Panik

The Primary Trader melihat VIX Index dan menyimpulkan bahwa Investor global masih dalam Panic Mode sehingga tampaknya Downtrend masih akan berlanjut. Saat ini VIX berada di level 40 atau lebih yang sama yang terjadi pada setiap Bearish Market.

Beberapa kali kejdian dimana VIX berada di level 40 yaitu pada Downtrend S&P500 di 2H11, 3Q15, 1Q18 dan 1Q19. Meski demikian, Downtrend pada waktu – waktu tersebut dapat dianggap sebagai Tech. Correction di tengah Uptrend Jangka Panjang. Dengan demikian, S&P500 masih dapat diharapkan terus mempertahankan Uptrend Jangka Panjang-nya.

S&P500 mungkin sudah mendekati Support di 2,800 dan terlihat membentuk Hammer sehinggga dapat diharapkan terjadi kenaikan. The Primary Trader masih perkirakan kenaikan tersebut (bila naik) adalah sebagai Tech. Rebound dan masih dapat naik sampai mendekati 3,100. S&P500 telah Breakdown Up Trendline di 3,300 pada pertengahan Februari 2020 dan hal tersebut menjadi tanda Downtrend Jangka Pendek – Menengah (sebagai bagian dari Tech. Correction dari Uptrend Jangka Panjang).

Investor di China sendiri sebenarnya terlihat optimis tidak lama setelah bursa dibuka (paska libur Chinese New Year yang diperpanjang). Memang Shanghai Composite sempat turun ~9% dihari pertama perdagangan paska ditutup pada awal wabah Corona. Namun setelah itu, Shcomp berhasil naik mendekati level sebelum wabah Corona (naik dari level 2,800 ke level 3,080). Ternyata Shcomp terlihat gagal naik di atas 3,080 – 3,120 sehingga The Primary Trader perkirakan tren harga Shcomp masih Downtrend dan Shcomp berpotensi turun menuju level 2,400 dengan Breakdown Support 2,730.

The Primary Trader meyakini di tahun 2020 ini, wabah Corona akan berakhir setelah penyebaran penyakit dapat diatasi dan obat serta vaksin sudah dapat diproduksi (meski masih dalam tahap awal). Namun dampak ekonomi akibat pembatasan aktifitas masyarakat akan terasa di tahun 2020 dan cukup signifikan. Bank sentral serta pemerintah akan mengeluarkan stimulus moneter maupun fiskal dimana hal tersebut akan berdampak positif langsung pada obligasi (di tahun 2020 ini). Namun demikian, dampak positif pada pasar saham kemungkinan baru akan terlihat di 2H20 atau bahkan di tahun 2021 nanti.

Sebelum berbicara pergerakan jangka panjang IHSG dan bursa saham lain, tentu data di hari Senin, 2 Maret 2020 berpotensi menjadi penentu awal yang signifikan.