Foreign Flow Dan Potensi Bottoming Pada IHSG ?

Apakah Mulai Ada Foreign Inflow Pada IHSG ?

IHSG mencatat kenaikan sebesar 15.5% dalam 2 hari terakhir setelah Kongres AS menyetujui paket stimulus dari pemerintah AS sebesar total ~USD2 triliun. Paket tersebut disetujui oleh House of Representative AS dan telah ditandatangani oleh Presiden Trump pada Jumat malam. Dengan demikian, setidaknya dapat diharapkan ekonomi AS tidak terpukul lebih dalam karena wabah Corona dan tentu dengan ekonomi AS yang bertahan, ekonomi dunia diharapkan dapat juga tertolong.

The Primary Trader belum melihat adanya Net Foreign Inflow pada IHSG meskipun dalam dua hari terakhir, ada Net Buy Asing dengan total sebesar Rp773 miliar. Angka tersebut masih relatif jauh dibanding Net Sell Asing dari awal tahun 2020 yaitu sebesar Rp12.6 triliun. Meski demikian, mengingat sentimen positif dari paket stimulus AS, tentu setelah resmi ditandatangani, maka Investor akan lebih optimis dari sebelum paket tersebut diresmikan.

Apakah IHSG Sudah Bottom ?

Dari beberapa estimasi penurunan IHSG, The Primary Trader menyukai Weekly Chart berikut :

IHSG telah bergerak dalam Downtrend Channel sejak tahun 2018. Memang Downtrend Channel tersebut terlihat sebagai bagian dari Tech. Correction dari Uptrend Jangka Panjang sehingga The Primary Trader masih optimis ketika IHSG mendekati Resistance dari Channel tersebut di 6,300an pada Januari 2020. Namun ternyata terjadi Black Swan (Serangan AS pada Jenderal Iran dan wabah Corona) yang pada akhirnya IHSG turun dan Breakdown Support Downtrend Channel di 5,300 pada awal Maret 2020.

Dengan terjadinya Breakdown tersebut, IHSG terancam turun setidaknya mencapai 4,300 yang merupakan tinggi dari Channel. Namun IHSG terus turun sampai bahkan menyentuh 3,910an (24 Maret 2020). IHSG pada level tersebut mengikuti Downward Projection dari Fibonacci Retracement yang ditarik dari Juli 2018 sampai Maret 2019 yaitu di level 261.8% atau 3,810an.

Berdasarkan garis Fibonacci tersebut, IHSG masih harus Breakout level 161.8% di 4,900an. Namun The Primary Trader meyakini bahwa level 261.8% adalah level yang cukup dalam dan jarang tercapai. Tentu lebih jarang lagi bagi pergerakan harga untuk turun (atau naik) di bawah (atau di atas) 261.8%. Oleh karena itu, The Primary Trader percaya bahwa IHSG sudah mendekati akhir dari Downtrend dan berpotensi segera Bottoming.

Untuk mengatakan Bottom relatif lebih gampang namun untuk mengatakan kapan mulai akan naik dan kembali Uptrend adalah pertanyaan terpentingnya. The Primary Trader percaya bahwa dari penurunan yang dalam dan cepat maka akan diikuti oleh kenaikan yang tinggi dan cepat juga. Namun perlu diingat bahwa tentu ada alasan yang membuat Investor Panic Selling dan alasan tersebut harus terlebih dahulu hilang.

Penurunan saat ini disebabkan oleh Pandemi Wabah Corona. Apabila wabah tersebut belum selesai, belum ditemukan obatnya atau vaksinnya, tentu ada kemungkinan Investor masih akan kembali Panic Selling atau belum memulai Buying yang membuat harga kembali dalam Uptrend.

Melihat ke pergerakan historis, The Primary Trader mencatat bahwa IHSG setidaknya perlu waktu 4x dari lamanya waktu penurunan untuk kembali melewati titik tertingginya sebelum terjadi penurunan. Berikut adalah Update Chart dari artikel tersebut :

Mungkin akan perlu waktu 44 bulan untuk dapat melewati level 6,636 (bukan All Time High) dari level saat ini – dengan asumsi level 3,911 adalah Bottom IHSG. The Primary Trader lebih memilih untuk membeli saham – saham yang memang sudah murah dan bersabar.

Investor Mulai Membeli Saham ?

The Primary Trader melihat IHSG sudah mulai kembali ke Safe Heaven dengan membeli aset Gold setelah sebelumnya terlihat Hoarding Cash. Penguatan USD Index (warna biru) di awal Maret 2020 mengindikasikan Investor sangat khawatir dengan kondisi pasar bahkan emas (XAUUSD, warna orange) pun dijual. Namun dengan adanya stimulus tersebut, dari sejak minggu lalu, emas mulai kembali naik dan USD Index mulai turun.

Live Chart Here

Seiring dengan Investor mulai masuk ke Safe Heaven, ada harapan Investor akan kembali lebih optimis sehingga kembali masuk ke Riskier Asset yaitu Emerging Market, baik Bond maupun Equity. The Primary Trader memperhatikan pergerakan Rupiah (USDIDR), Yield SUN10Yr dan IHSG :

Live Chart Here

The Primary Trader melihat perlemahan USDIDR dari sejak awal tahun mulai selesai dan Rupiah berpotensi mulai menguat terhadap US Dollar. Dengan kata lain, ada potensi Foreign Inflow yang sering dapat diasosiasikan setiap ada penguatan Rupiah.

Yield SUN10Yr yang dari awal tahun 2020 naik pun mulai terlihat berpotensi menurun. Penurunan Yield menandakan kenaikan harga SUN sehingga tentu ada potensi kenaikan harga SUN dalam waktu dekat.

Sesuai dengan teori dasar investasi, ada korelasi negatif antara Yield Obligasi dengan Indeks Saham. Hal ini perlu diingat kembali bahwa ada korelasi yang juga negatif antara Yield Obligasi dengan Harga Obligasi. Bila Yield Obligasi turun maka Harga Obligasi turun. Oleh karena itu, bila Yield Obligasi turun dan Indeks Saham naik (korelasi negatif) maka tentu ada korelasi yang positif antara Harga Obligasi dengan Indeks Saham.

Kenaikan Harga Obligasi dan Harga (Indeks) Saham menandakan Investor mulai membeli Risky dan Riskier Asset. Diikuti dengan penguatan Rupiah (nantinya), The Primary Trader akan menyimpulkan Investor (terutama Investor Asing) akan mulai masuk ke pasar Indonesia. Oleh karena itu, The Primary Trader akan memperhatikan dengan seksama chart Indonesia Three Musketeers.

Stay Healthy and at Home.

Recovery Time Untuk IHSG

Setelah melihat Recovery Time pada Dow Jones, The Primary Trader ingin melihat Recovery Time yang dibutuhkan pada IHSG. Berikut adalah informasi yang The Primary Trader rangkum :

Asian Crisis 1997 – 2004

Krisis keuangan Asia di tahun 1997 – 1998 memicu terjadinya reformasi besar bagi Indonesia. Oleh karena itu, IHSG memerlukan waktu yang relatif lebih lama untuk pulih (dibanding Singapura meskipun IHSG lebih cepat Recovery dari Malaysia dan Thailand). IHSG turun sebesar -65% dalam waktu 15 bulan (dihitung dari Highest ke Lowest) dan perlu waktu 63 bulan untuk melewati level tertinggi sebelum Market Crash.

Global Financial Crisis 2008

Pada tahun 2008, seluruh dunia ikut mengalami penurunan termasuk IHSG. Saat itu, IHSG turun sebesar -62% dalam waktu 9 bulan. Perlu waktu selama 17 bulan untuk berhasil melewati level tertinggi dari tahun 2008. Ekonomi Indonesia relatif bertahan karena banyak mengandalkan konsumsi domestik. Namun karena Hot Money yang tinggi maka IHSG pun menderita penurunan yang sangat dalam.

Small Crisis 2013 – 2015

Ada beberapa penyebab terjadinya krisis di tahun 2013 dan 2015 antara lain : China Slowdown, Fed Rate Uncertainty sampai US Govt. Shutdown. IHSG mengalami penurunan sebesar -26% di tahun 2013 dan bertahan hanya dalam waktu 3 bulan. Namun IHSG perlu waktu 16 bulan untuk melewati level tertinggi sebelum Bear Market (yang resmi terjadi setelah turun -20%). Tidak lama setelah IHSG berhasil melewati level tertinggi dari tahun 2013, kembali terjadi krisis tahun 2015 yang membuat IHSG turun -26% dalam waktu 5 bulan. IHSG pun membutuhkan 24 bulan untuk melewati level tertinggi dari tahun 2015.

Kesimpulan

Melihat sejarah singkat IHSG, The Primary Trader mencoba melihat Recovery Time Ratio atau waktu yang dibutuhkan untuk Recovery setelah terjadinya Bear Market. Setelah melihat empat kali krisis, The Primary Trader menghitung IHSG perlu waktu 4x lebih lama untuk dapat melewati level tertinggi dari awal terjadinya penurunan atau krisis.

CrisisDrawdownMonthsRecovery MonthsRecovery Time Ratio
Asian Crisis-65%15634.2
Global Financial Crisis-62%9171.9
Small Crisis 2013-26%3165.3
Small Crisis 2015-26%5244.8
Average4.1
Crisis dan Recovery Time Pada IHSG

Mengasumsikan IHSG saat ini (di 3,911) adalah Bottom dan menggunakan Recovery Time Ratio rata – rata yaitu 4x dari waktu penurunan maka IHSG perlu waktu selama 44 bulan untuk dapat melewati level tertinggi dari sebelum penurunan (di level 6,636) di April 2019. Perlu diingat bahwa level tersebut bukanlah level All Time High IHSG. Di Februari 2018, IHSG mencapai level tertingginya yaitu di 6,693. Sejak saat itu, IHSG terus berada dalam Downtrend hingga saat ini. Dengan demikian, bila mengacu pada titik All Time High tersebut maka IHSG perlu waktu 25 bulan x 4 atau 100 bulan untuk dapat membentuk New All Time High baru – dan itupun apabila Lowest dari Covid-19 Crisis ini di level 3,911.

Semoga wabah Covid-19 segera selesai.

Salah Satu Kenaikan Terbaik DJIA dan S&P500

Harapan adanya stimulus fiskal yang sangat besar (~USD2 triliun) dari pemerintah AS membuat Investor optimis sehingga terjadi kenaikan yang tinggi pada bursa saham AS (kenaikan terbesar Dow Jones dari sejak tahun 1933 dan kenaikan terbesar S&P500 dari sejak tahun 2008). Perlu dicatat bahwa meskipun stimulus belum disetujui namun dapat diharapkan akan disetujui dalam waktu dekat.

S&P500 naik sebesar 9.3% dan berhasil Breakout Down Trendline dari sejak awal Maret 2020. Breakout ini mengindikasikan Downtrend yang telah terjadi sejak akhir Februari 2020 berpotensi selesai. Namun The Primary Trader melihat adanya ancaman Dead Cat Bounce atau mungkin kenaikan tersebut adalah bagian dari Technical Rebound (kenaikan ditengah Downtrend).

Untuk dapat mengakhiri Downtrend, menggunakan Fibonacci Retracement dari pertengahan Februari 2020 (S&P500 di level 3,400) sampai level terendah tahun 2020 di 2,180an, S&P500 harus bisa melewati area 2,930 atau Fibonacci Ratio di 0.62%. Selama S&P500 tidak dapat melewati 2,930 (perlu kenaikan ~20% dari level saat ini), maka The Primary Trader percaya kenaikan tersebut adalah Technical Rebound yang belum merubah Downtrend.

S&P500 telah turun sebesar -35% dalam waktu ~23 hari perdagangan sehingga penurunan ini adalah salah satu yang tercepat sepanjang sejarah S&P500. Begitupun dengan Dow Jones Industrial Average (DJIA) yang telah turun sebesar -38% dalam waktu ~26 hari perdagangan. S&P500 saat ini berada di level tahun 2016 (2,130) yang tampaknya dapat menjadi Support kuat.

The Primary Trader percaya bahwa aksi yang cepat akan mendapat reaksi yang cepat juga. Oleh karena itu, penurunan yang cepat seperti saat ini maka akan diikuti juga dengan kenaikan yang cepat. Dengan asumsi bahwa penurunan yang cepat disebabkan oleh wabah Covid-19 maka kenaikan cepat juga disebabkan oleh wabah Covid-19 tersebut berangsung – angsur berakhir.

Reaksi cepat yang muncul tentu tidak sama persis dengan aksi cepat. Investor perlu waktu untuk mempercayai bahwa hal – hal yang membuat Panic Selling telah berakhir. Oleh karena itu, setidaknya perlu waktu 2-10x lebih lama untuk perlahan membuat Investor kembali berinvestasi. Berdasarkan sejarah pada Dow Jones, berikut adalah waktu yang dibutuhkan untuk Recovery :

Tentu ada harapan pasar saham dan pasar keuangan lain akan Recovery setelah Market memperbaiki kekurangannya (yang menjadi alasan terjadi krisis). Namun tentu Bear Market perlu waktu untuk berubah menjadi Bull Market dan Investor umumnya lebih waspada dan tidak mudah percaya sehingga memperlama terbentuknya Bull Market.

Kembali Menuju MA200

Menuju MA200

Salah satu sifat harga terhadap Moving Average (MA) adalah bahwa harga cenderung akan kembali menuju MA setelah naik atau turun sampai level tertentu. Oleh karena itu, ada peluang Beli ketika harga sudah di bawah MA.

The Primary mencatat beberapa saham yang saat ini harganya sudah di bawah MA200 namun apabila saham tersebut naik menuju MA200 maka perlu kenaikan > 100% (dari harga saat ini). Dengan kata lain, apabila harga saham naik menuju MA200 atau Rata – Rata 200 Hari Terakhir (seperti sifat harga terhadap MA) maka ada potensi Return sebesar > 100%. Berikut adalah saham – sahamnya :

SectorStocksCloseMA200% Rise to MA200
CPOAALI      4,400      11,064151.45%
CPOLSIP         530        1,195125.56%
MineralTINS         358           885147.21%
MineralANTM         352           852142.11%
MineralINCO      1,460        3,226120.96%
Oil&GasPGAS         650        1,918195.02%
Oil&GasMEDC         314           732133.13%
Oil&GasBRPT         490        1,004104.86%
AutoGJTL         244           597144.76%
PaperTKIM      4,030      10,226153.76%
PoultryMAIN         428           972127.01%
RetailRALS         470        1,154145.52%
RetailWOOD         300           697132.47%
RetailMAPI         446           970117.60%
TextileSRIL         132           283114.19%
ConstructionWSKT         422        1,532262.97%
ConstructionPTPP         520        1,674221.95%
ConstructionADHI         388        1,232217.53%
ConstructionWIKA         775        2,034162.42%
Industrial AreaBEST          98           239144.03%
Industrial AreaDMAS         127           285124.63%
Oil&GasELSA         132           309134.41%
Oil&GasAKRA      1,590        3,678131.33%
Oil&GasESSA         120           260116.40%
PrecastWSBP         115           315173.96%
PrecastWTON         194           464139.10%
TelecomEXCL      1,485        3,118109.98%
TollJSMR      2,510        5,284110.51%
BankingBBTN         880        2,072135.41%
BankingBBNI      3,390        7,623124.88%
BankingPNBN         630        1,261100.21%
ResidentialSMRA         428        1,068149.56%
ResidentialPWON         292           612109.71%
ResidentialCTRA         520        1,057103.18%
ResidentialBSDE         640        1,295102.39%
ResidentialBKSL          50           100100.50%
Berdasarkan harga penutupan sesi 1 – 23 Maret 2020

Memang ketika Downtrend maka harga saham akan turun dan tentunya MA200 pun akan ikut turun. Oleh karena itu, untuk memastikan potensi Return (selisih antara harga saham dengan MA200) tetap sebesar > 100% maka The Primary Trader memilih saham – saham yang dapat naik di atas 120%. Dengan demikian, berikut adalah saham – saham tersebut :

SectorStocksCloseMA200% Rise to MA200
CPOAALI      4,400      11,064151.45%
CPOLSIP         530        1,195125.56%
MineralTINS         358           885147.21%
MineralANTM         352           852142.11%
MineralINCO      1,460        3,226120.96%
Oil&GasPGAS         650        1,918195.02%
Oil&GasMEDC         314           732133.13%
AutoGJTL         244           597144.76%
PaperTKIM      4,030      10,226153.76%
PoultryMAIN         428           972127.01%
RetailRALS         470        1,154145.52%
RetailWOOD         300           697132.47%
ConstructionWSKT         422        1,532262.97%
ConstructionPTPP         520        1,674221.95%
ConstructionADHI         388        1,232217.53%
ConstructionWIKA         775        2,034162.42%
Industrial AreaBEST          98           239144.03%
Industrial AreaDMAS         127           285124.63%
Oil&GasELSA         132           309134.41%
Oil&GasAKRA      1,590        3,678131.33%
PrecastWSBP         115           315173.96%
PrecastWTON         194           464139.10%
BankingBBTN         880        2,072135.41%
BankingBBNI      3,390        7,623124.88%
ResidentialSMRA         428        1,068149.56%

The Primary Trader menyukai Sektor CPO karena secara domestik, permintaan CPO berpotensi tinggi seiring dengan adanya program pemerintah yaitu B30 tahun 2020 dan B50 di tahun 2021. Terlepas dari permintaan internasional (dan adanya diskriminasi Eropa), dengan adanya permintaan domestik tersebut, harga CPO diharapkan dapat terjaga. The Primary Trader menyukai LSIP namun AALI menarik karena masuk ke dalam indeks SRI-Kehati yang secara otomatis (berdasarkan sentimen) akan lebih menarik. LSIP adalah pemain CPO murni (~91% pendapatan berasal dari CPO) serta memiliki korelasi tertinggi dengan harga CPO.

Sebagai negara dengan ekonomi domestik konsumsi dan yang sangat mungkin lebih cepat pulih setelah wabah Covid-19 selesai adalah sektor Consumer antara lain Poultry (MAIN) dan Retail (RALS). Saham MAIN banyak menjual daging unggas (ayam) yang memang menjadi protein hewani utama masyarakat Indonesia. Selain itu, dengan adanya stimulus untuk masyarakat kelas bawah, RALS berpotensi menjaga penjualannya untuk tidak turun terlalu dalam. The primary Trader lebih memilih MAIN dibanding RALS karena sektor Poultry (konsumsi makanan) seharusnya akan lebih dahulu membaik.

Di saat suku bunga rendah saat ini (BI 7DRR Rate sebesar 4.5% dan stimulus – stimulus di sektor properti), tentu sektor Properti (SMRA) dapat menjadi pilihan utama. SMRA pun cukup banyak menjual properti berupa rumah tapak (Landed House) dengan harga yang relatif murah dibanding BSDE (meski tetap CTRA yang paling murah).

Sektor yang paling The Primary Trader sukai adalah Industrial Area yaitu DMAS. Dengan cadangan lahan terluas (~1,430 ha) diantara emiten Industrial Area, DMAS seharusnya mendapat keuntungan dari tren industrialisasi Indonesia. Setelah disahkannya Omnibus Law, seharusnya akan banyak Foreign Direct Investment dalam bentuk pembangunan pabrik.. Di tahun 2020, DMAS memiliki Inquiries sebanyak 150 ha (relatif sama seperti tahun 2019).

Dengan demikian, mengandalkan kemungkinan harga saham akan berbalik mendekati MA20-nya maka The Primary Trader menyukai saham LSIP, MAIN, SMRA dan DMAS.

Menunggu Stimulus Dari Pemerintah AS

Investor sedang menunggu pengumuman stimulus yang sedang disiapkan oleh Pemerintah AS. Dikabarkan rencananya adalah sebesar USD2 triliun, lebih tinggi dari estimasi awal sebesar ~USD1 triliun. Diharapkan minggu depan akan ada pengumuman dan tentu stimulus ini diharapkan dapat mempercepat penganggulangan wabah Corona (di AS) dan mengurangi dampak negatif wabah terhadap ekonomi AS yang pada akhirnya dapat mempengaruhi ekonomi global.

The Primary Trader melihat Investor tampak optimis terhadap stimulus tersebut karena menjelang akhir pekan, VIX Index tampaknya turun di bawah 72 atau di bawah Up Trendline yang dapat membawa VIX naik menyentuh level yang sama seperti pada saat krisis 2008 (Global Financial Crisis).

Live Chart Here

Penurunan VIX mengindikasikan Investor melihat penurunan risiko pada pasar keuangan. Namun perlu diingat bahwa Bear Market yang terjadi saat ini disebabkan oleh virus Corona sehingga selama wabah dan penyakit tersebut belum dapat dikendalikan maka Bear Market masih dapat bertahan.

-30% Dalam Sebulan Adalah Tandanya

ROC 20 Sebesar -30% Di 2020 Dan 2008

Per hari ini, S&P500 telah turun sebesar -30% dalam 20 hari terakhir atau dari level tertingginya di 3,393 di tanggal 19 Februari 2020 – 1 bulan lalu. Menggunakan indikator Rate of Change (ROC) periode 20 atau menghitung persentase perubahan harga 20 hari terakhir, The Primary Trader melihat S&P500 cenderung mengakhiri penurunan setelah ROC 20 menyentuh angka -30%. Artinya adalah S&P500 berpotensi membentuk Bottom atau fase akhir dari penurunan setelah turun sebesar -30% dalam 20 hari terakhir.

Memang pada beberapa kasus, S&P500 masih tetap turun dalam 1-2 bulan ke depan namun dengan “kecepatan” yang lebih lambat. Bahkan sebelumnya menyentuh ROC 20 sebesar -30%, S&P500 pun sedang dalam kondisi Downtrend. Seperti pada Global Financial Crisis 2008, S&P500 menyentuh ROC 20 sebesar -30% pada pertengahan fase Downtrend. S&P500 pun masih turun sebesar -30% lagi dalam 3 bulan ke depan namun penurunan tersebut sebagai fase akhir dari Downtrend karena terbentuk Divergence antara ROC 20 dengan S&P500.

Pada kasus GFC 2008, perlu diketahui bahwa “kecepatan” atau persentase penurunan dari sejak September 2007 sampai Maret 2009 sangatlah lambat. Menggunakan derajat kemiringan, Downtrend S&P500 saat itu adalah sebesar –21 derajat atau dengan perubahan sebesar 0.16% / hari (-58% dibagi 353 hari perdagangan). The Primary Trader menilai, tren yang landai akan cenderung stabil. Hal ini karena Investor sadar bahwa kondisinya memang buruk namun relatif masih ada harapan (karena aksi The Fed dan Pemerintah AS) sehingga masih ada Minor Uptrend ditengah Major Downtrend saat itu.

Kondisi Panic Selling yang menurut The Primary Trader tidak stabil adalah ketika derajat kemiringan dari pergerakan harga mencapai > 45 derajat. Pada saat S&P500 mencatat ROC 20 sebesar -30%, saat itu derajat kemiringan S&P500 adalah sebesar -68 derajat dengan perubahan sebesar 1.3% / hari (-35% dibagi 27 hari perdagangan). Terlihat jelas bahwa pada saat itu, Investor sangat panik sehingga S&P500 mencatat volatilitas yang jau lebih besar selama GFC 2008.

Pada kondisi S&P500 di 2020, derajat kemiringan adalah sebesar -76 derajat (dilihat dari tahun 2019). Perubahan rata – rata harian adalah sebesar 1.57% / hari (-30% dibagi 19 hari perdagangan). Tentu The Primary Trader menilai Panic Selling ini tidaklah stabil. Dengan kata lain, dalam 3-6 bulan ke depan, The Primary Trader memperkirakan akan ada fase pergerakan yang menyerupai Bottoming atau Bullish Reversal dalam rangka mengakhiri Downtrend dan mempersiapkan kembali Uptrend.

ROC 20 Sebesar -30% Lainnya

The Primary Trader mencoba melihat ROC 20 sebesar -30% yang pernah dicapai S&P500 sepanjang sejarahnya (atau setidaknya sebanyak data yang tersedia di tradingview.com).

Di tahun 1987, S&P500 pernah turun sebesar -34% dalam waktu 12 hari perdagangan atau sebesar 2.8% / hari dengan derajat kemiringan sebesar -82 derajat dari awal tahun. ROC 20 saat ini menyentuh -30%. Kondisi saat itu (disebut Black Monday 1987) disebabkan antara lain oleh Computer Trading dan Derivative Instruments.

S&P500 dibuat tahun 1957 namun tradingview.com di akun The Primary Trader hanya sampai tahun 1970an. Oleh karena itu, The Primary Trader mencoba melihat Dow Jones meskipun tentu ada perbedaan dengan S&P500 namun ROC 20 dengan nilai sebesar -30% atau lebih tetap diperhatikan.

Salah satu data terseram yang The Primary Trader lihat adalah pada saat The Great Depression tahun 1929 – 1939 (10 tahun!). Saat itu Dow Jones Industrial Average (DJIA) turun sebesar -90% dari September 1929 sampai Juli 1932 atau dengan derajat kemiringan sebesar -26 derajat. Sepanjang Major Downtrend tersebut, DJIA turun rata – rata sebesar 0.12% per hari (-90% selama 714 hari perdagangan).

Selama periode tersebut, ada sekitar 3x dimana ROC 20 mencapai -30% (bahkan -40% di awal periode The Great Depression). Meski masih Downtrend dalam jangka lama, setelah ROC 20 mencapai -30%, DJIA cenderung naik setidaknya setengah periode dari periode penurunan yang membuat ROC 20 mencapai angka -30%.

Tentu The Primary Trader tidak membandingkan S&P500 tahun 2020 dengan The Black Monday atau bahkan saat The Great Depression. Namun The Primary Trader ingin menunjukkan harapan bahwa S&P500 berpotensi mendekati akhir Downtrend atau setidaknya peluang penurunan rata – rata sebesar -1.57% / hari sudah mulai berkurang. The Fed sudah melakukan 2x Emergency Cut dalam sebulan terakhir yang memotong Fed Fund Rate sebesar total 150 bps (50 bps di awal Maret 2020 lalu 100 bps seminggu kemudian) dari 1.75% menjadi 0.25%. Pemerintah AS pun telah mendapat persetujuan DPR-nya AS untuk meminta stimulus dan saat ini sedang mengajukan stimulus sebesar USD1.1 triliun kepada Kongres AS.

Tentu akar masalah belum akan selesai dengan stimulus moneter dan stimulus fiskal. Namun setidaknya saat ini vaksin Covid-19 sudah mulai dilakukan tes pertama terhadap manusia. Hal tersebut tentu dapat membantu menimbulkan sentimen positif untuk Investor.

Babak Baru Perlawanan Terhadap Covid-19

Stimulus Fiskal Sebagai Harapan Untuk Bursa Saham AS

Investor kembali optimis setelah ada harapan Pemerintah AS memberikan stimulus setelah ada kesepakatan antara Pemerintah dan DPR. Saat ini rencana stimulus akan dibawa ke Senat untuk disetujui. Stimulus Fiskal tersebut diperlukan untuk menangani wabah Corona serta untuk meminimalisir dampak negatifnya terhadap ekonomi AS.

S&P500 langsung mencatat (salah satu) kenaikan terbaik sebesas 9.3% dalam satu hari tersebut. Namun The Primary Trader melihat kenaikan S&P500 tersebut belumlah mengindikasikan akhir dari Downtrend yang terjadi sejak akhir Februari 2020. Seperti kenaikan pada awal Maret 2020 (dari ~2,800 ke ~2,890), belum ada indikasi yang cukup bahwa S&P500 dapat membatalkan Downtrend.

Pada awal Maret 2020 tersebut, S&P500 harus Breakout Resistance di ~2,900 untuk dapat membatalkan Downtrend. Oleh karena itu, Downtrend masih intact dan S&P500 kembali turun. Disaat S&P500 mencatat kenaikan sebesar 9.3% dalam satu hari, S&P%500 masih belum mampu Breakout Resistance yang diperlukan untuk membatalkan Downtrend yaitu di ~2,750.

Oleh karena itu, The Primary Trader masih menunggu S&P500 Breakout 2,750 yang membuka peluang untuk membatalkan Downtrend di minggu depan. Sampai saat ini, The Primary Trader masih melihat wabah Corona masih menjadi sentimen negatif yang belum akan selesai selama obat dan atau vaksinnya ditemukan.

VIX Masih Tinggi Tanda Investor Masih Khawatir

Meski wabah Corona belum akan selesai namun Investor tampaknya mulai melihat risiko pasar yang terjadi sedikit mereda dengan adanya paket stimulus fiskal dari AS. VIX menunjukkan penurunan meskipun sempat menyentuh level 80. Level VIX pada Global Financial Crisis (GCF) ada di 96.4 sehingga hanya tinggal 16 poin lagi maka Investor menganggap kondisi saat ini sama gentingnya dengan kondisi pada GFC 2008 lalu.

Penurunan kekhawatiran Investor akan kondisi pasar (yang ditunjukan dengan penurunan VIX) cukup penting mengingat baru – baru ini tampaknya Investor merasa sangat khawatir sehingga memilih Hoarding Cash (USD Index telah menguat ~4% dalam seminggu terakhir) instead of membeli Safe Heaven.

Jual Emas (Safe Heaven), Pegang (Hoarding) Kas

Harga emas saat ini turun dan terancam membatalkan Uptrend yang telah terjadi sejak awal tahun 2019. Emas perlu bertahan di atas USD1,550 untuk mempertahankan Uptrend menuju USD1,800. Breakdown valid di USD1,550 akan mengancam emas turun menuju USD1,370.

Penurunan harga emas adalah salah satu indikasi Investor tidak yakin akan adanya inflasi. Hal ini karena selama ini emas digunakan untuk Hedge Against Inflation. Dengan adanya potensi pertumbuhan ekonomi maka Investor mengincar emas sejak tahun 2018. Tentu harga emas juga naik karena antisipasi adanya perang (dimana pada saat perang, hanya aset emas yang dinilai berharga). Namun tampaknya Investor menganggap kondisi saat ini relatif aman setelah sempat dikhawatirkan terjadi perang AS – Iran di awal tahun 2020 (saat ini harga emas naik 6% di minggu pertama tahun 2020).

Menunggu Aksi Bank Sentral

Minggu depan akan ada jadwal FOMC Meeting The Fed dan RDG Bank Indonesia. Diestimasikan The Fed memotong Fed Fund Rate sebesar 0.75% dari 1.25% menjadi 0.5%. Sementara diestimasikan BI memotong 0.5% dari 4.75% menjadi 4.25%.

Perlu diingat bahwa BI telah menurunkan 0.25% pada bulan Februari dari 5% menjadi 4.75% – lebih cepat dari estimasi karena sebelumnya BI diperkirakan akan menunggu The Fed memotong suku bunganya. Kejadian diluar estimasi kembali terjadi dimana pada awal Maret 2020, The Fed memotong Fed Fund Rate sebesar 0.5% dari 1.75% menjadi 1.25%. Cukup jarang The Fed melakukan Cut Rate di luar FOMC Meeting dan Emergency Cut Rate The Fed terakhir adalah pada tahun 2008 lalu (saat Global Financial Crisis).

rbc

Apabila melihat respon dari The Fed (dan bank sentral lainnya), tentu Investor berpikir bahwa dampak wabah Corona terhadap ekonomi global cukup signifikan.

Bantuan Emiten + Dapen + Asuransi Untuk IHSG

Minggu lalu, secara resmi otoritas mengizinkan emiten buyback sahamnya sendiri tanpa persetujuan pemegang saham. Hal ini karena terjadi penurunan harga saham yang dalam tanpa disebabkan penurunan kinerja perusahaan. Oleh karena itu, banyak emiten yang sudah bersiap untuk buyback namun tampaknya baru terlihat terjadi pada Jum’at 13 Maret 2020. Hari itu, IHSG turun -5% dan memicu penghentian transaksi di awal sesi 1. Namun pada sesi 2, ada lonjakan sebesar 6% dimana tampaknya merupakan Investor Domestik.

Meski terlihat positif, The Primary Trader melihat kenaikan tersebut belum cukup untuk membalikkan tren yang sedang terjadi pada IHSG yaitu Downtrend.

The Primary Trader tidak heran bila IHSG menyentuh level ~4,700. Hal ini karena melihat pada akhir tahun 2015 dimana IHSG dapat turun dan mencapai ~23% di bawah MA200. Saat ini IHSG sudah mendekati ~25% di bawah MA200 dan memang ada indikasi IHSG sudah Bottoming – bila mengaca pada kondisi tahun 2015 tersebut. Memang pada kasus ekstrim seperti GFC 2008, IHSG pernah -105% di bawah MA200 dan tentu The Primary Trader yakin kondisi tersebut tidak akan tercapai di tahun 2020 karena wabah Corona ini.

Meskipun Investor Lokal + Emiten sedang melakukan Buyback untuk menyelamatkan IHSG, The Primary Trader tidak yakin IHSG dapat segera naik. Hal ini karena IHSG perlu dana asing dari Investor Asing untuk naik. Tren Net Sell Asing masih terus terjadi di tahun 2020 dan begitupun sepanjang Maret 2020. Hal ini yang akan menyulitkan IHSG untuk naik.

Namun demikian, perlu diingat bahwa Net Sell Asing yang masif tersebut membuat IHSG saat ini Under Owned Asing. Hal ini dapat memperkecil peluang IHSG kembali turun lebih dalam. Tentu karena tidak ada lagi Seller yang masih memiliki saham – saham IHSG dalam jumlah yang signifikan sehingga ketika Seller tersebut menjualnya maka tercipta penurunan harga.

Kapan IHSG Dapat Naik?

The Primary Trader menilai bahwa masalah saat ini adalah adanya wabah penyakit. Oleh karena itu tentu untuk menyelesaikan masalah maka wabah penyakitnya harus dihilangkan dengan adanya obat penyembuh sekaligus vaksin untuk menghindari penyakitnya. Sampai saat ini belum ada obat atau vaksin yang dapat digunakan secara luas dan aman. Diperkirakan baru akan tersedia di tahun 2020. Namun demikian, setidaknya penyakit tersebut dapat ditekan penyebarannya sehingga kondisi Pandemi dapat hilang.

Wabah Corona di China sudah mulai berkurang. Banyak pasien yang sudah sembuh dan bahkan ~13 RS Darurat sudah ditutup karena tidak ada pasien baru lagi yang membutuhkan RS tersebut.

Tantangannya adalah negara – negara lain karena saat ini penyebaran Corona ada di wilayah Eropa. Perlu diingat bahwa ekonomi Uni Eropa (yang terdiri dari banyak negara di Eropa) adalah ekonomi terbesar kedua di Dunia (lebih besar dari China). Bila ekonomi Uni Eropa menurun akibat wabah Corona maka tentu ekonomi global akan semakin tertekan.

Wabah Corona secara global masih dalam tren meningkat namun penyebaran di negara – negara setelah China seperti Korea Selatan dan Iran sudah mulai terlihat puncaknya. Diharapkan kedua negara tersebut segera pulih dan kasus baru terus menurun. The Primary Trader pun berharap negara Italia, Perancis dan Spanyol sudah mendekati puncak sehingga dalam waktu dekat akan terjadi tren penurunan kasus (tentu dengan pasien sembuh yang lebih banyak).

Investor domestik sedang memantau perkembangan kasus Corona di Indonesia. Per 15 Maret 2020, ada 117 pasien yang positif Corona di Indonesia. Sampai 14 Maret 2020, sudah ada 8 pasien yang sembuh dan dipulangkan sementara 5 pasien meninggal dunia. Bila melihat persentasenya, tingkat kematian Corona di Indonesia tampaknya tinggi (8 / 117 = 6.8%. Perlu diingat bahwa pasien yang terdeteksi positif tersebut baru mulai terjadi di awal Maret 2020. Dengan demikian, perawatan para pasien baru memasuki minggu ke-2. Mengaca pada kasus China, mulai terjadi peningkatan pasien yang dipulangkan dari RS pada pertengahan Februari 2020. Dengan demikian, setidaknya perlu 3-4 minggu untuk dirawat di RS. The Primary Trader berharap pasien yang dipulangkan mulai akan meningkat pada akhir Maret 2020 atau awal April 2020.

Pada saatnya nanti mulai terlihat penurunan kasus Corona, The Primary Trader yakin minat beli akan mulai muncul. Dengan demikian, harapan akan kenaikan IHSG mulai membesar. Untuk saat ini, The Primary Trader perkirakan sebagus apapun stimulus fiskal dan moneter masih belum akan mampu membalikkan tren IHSG dari Downtrend menjadi Uptrend.

Ada banyak Resistance – Resistance baik dari Down Trendline maupun dari Gap Down yang menahan IHSG untuk mengawali Uptrend. Resistance terpenting tentu adalah 5,700 yang merupakan Down Trendline dari sejak pertengahan Januari 2020 serta Lower High terakhir dari penurunan sejak pertengahan Januari tersebut. Resistance berikut adalah dari Gap Down yaitu di level 5,050 – 5,110 serta 5,360 – 5,500.

The Primary Trader sedang bersiap – siap untuk membeli saham karena memang sudah sangat murah sekali. Namun tentu dengan strategi Averaging Down karena saat ini sangat sulit sekali memperkirakan Bottom. Kenapa? Karena ketika terjadi sesuatu yang menakutkan maka Panic Selling akan terjadi dan saat ini, rasionalitas sudah berkurang.

Semoga wabah Corona segera berakhir dan masyarakat Indonesia (serta dunia) segera sehat dan aman.

Stimulus Fiskal Sebagai Penyelamat (Bila Dilaksanakan)

Investor mulai terlihat optimis setelah Presiden AS berencana untuk memberikan stimulus fiskal berupa pemotongan pajak penghasilan. Namun ternyata dalam satu malam, rencana tersebut ditunda. Hal ini mungkin akan membuat Investor kembali khawatir. Beberapa pihak pun memperkirakan pemotongan pajak penghasilan belum mampu membalikkan kekhawatiran akan wabah Covid-19.

Saat ini penyebaran wabah Covid-19 mulai melebar ke negara Eropa. Penyebaran di Korea Selatan dan Iran mungkin sudah mulai mereda namun penyebaran di Italia masih tinggi dan Perancis serta Spanyol mulai meningkat. Beberapa pejabat penting negara seperti Menteri Kesehatan Inggris, Jendral Polandia dan bahkan pejabat White House (yang sebelum dites positif Corona sempat berinteraksi dengan Presiden Trump).

Kekhawatiran Investor pandemik Covid-19 masih berlangsung membuat Investor memperkirakan resesi global akan terjadi. Index VIX mulai melewati level 50 yang merupakan “peak” dari beberapa kejadian kritis. Dengan melewati level 50, index VIX sepertinya menuju level 90 – 100 yang menyamai risiko pada waktu Global Financial Crisis 2008.

Kekhawatiran Investor memicu Panic Buying pada Safe Heaven, salah satunya adalah US Treasury dimana Yield US Treasury 10Yr terus turun dan sempat menyentuh 0.36%. Seperti halnya Ekonom dan Analis, The Primary Trader perkirakan tidak lama lagi Yield US Treasury 10Yr dapat berada di Negative Yield.

Saat ini Negative Yield terjadi pada obligasi negara Jepang, Jerman dan Perancis. Tampaknya Yield ketiga negara tersebut masih akan stabil berada di zona negatif dan negara AS akan segera ikut setelah Yield US Treasury 10Yr turun tajam dari sejak akhir Februari 2020.

The Primary Trader yakin kondisi saat ini hanya bisa dihadapi dengan ditemukannya obat Covid-19 yang dapat digunakan untuk menyembuhkan. Stimulus Moneter maupun Fiskal mungkin dapat menolong sementara namun data positif tersebut baru akan terlihat dalam 3 – 6 bulan ke depan pada data ekonomi maupun data laporan keuangan emiten. Sentimen positif yang akan membuat Investor kembali membeli pasar saham dan Risky Asset lainnya adalah ketika obat Covid-19 mulai dijual umum.

Berita bagusnya adalah hasil google search pagi ini (11 Maret 2020 pukul 08.13 WIB) menunjukkan hal yang positif sebagai berikut :

(Ternyata) Masih Perlu Diwaspadai

IHSG Menuju 4,700 ?

The Primary Trader masih mewaspadai potensi IHSG turun menuju 4,700 karena dampak nyata dari wabah Covid-19 terhadap ekonomi global dan Indonesia.

Wabah Covid-19 sendiri mulai mereda di Wuhan, Hubei dan China sebagai pusatnya. Saat ini justru negara – negara lain seperti Korea Selatan, Italia, Iran dan juga Indonesia sedang berjuang menahan penyebaran penyakit Covid-19. China pun dikabarkan khawatir akan kembali terjadi wabah akibat warga negara asing yang masuk ke negara China. Diperkirakan dalam sebulan ke depan, kasus infeksi Covid-10 di China mendekati nol.

Manufacturing PMI Indonesia di bulan Februari 2020 ternyata berhasil melonjak dari 49.3 menjadi 51.9. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh backloading dari pabrik seiring dengan aktifitas yang memang sudah turun beberapa bulan terakhir. Selain itu, adanya estimasi kenaikan harga bahan baku karena gangguan suplai akibat wabah Covid-19. Dengan demikian, kenaikan Manufacturing PMI tersebut tampaknya tidak bertahan sehingga ekonomi Indonesia (begitupun dengan ekonomi global) masih terancam.

The Fed sendiri akhirnya memutuskan untuk melakukan aksi yang dramatis yaitu dengan menurunkan Fed Fund Rate sebesar 0.5% dan diluar jadwal FOMC Meeting tanggal 19 Maret 2020. Meski Powell mengatakan ekonomi AS masih tumbuh sesuai estimasi The Fed namun wabah Covid-19 menjadi tantangan besar yang jelas di depan mata sehingga The Fed perlu mengantisipasinya. Investor melihat hal ini sebagai aksi ‘panik’ The Fed sehingga bereaksi negatif dengan menjual saham dan membeli obligasi (US Treasury).

Multi-View Technical Analysis Terhadap IHSG

Berdasarkan Bollinger Band, volatilitas IHSG mulai mendekati puncak karena melihat kondisi 2 tahun terakhir. Pada indikator Bandwidth BB yang mengukur jarak antara Upper Band dengan Lower Band, puncak volatilitas IHSG dalam 2 terakhir adalah ketika Bandwidth BB di level 13. Setelah itu, IHSG cenderung Bottoming dan membentuk U-Shape Recovery di tahun 2018 dan V-Shape Recovery di tahun 2019. Namun bila melihat 5 tahun terakhir, Bandwidth BB pernah mencapai level 18 di tahun 2015 sehingga masih ada potensi IHSG bergerak secara volatile dalam Downtrend (baca : masih akan turun dengan tajam).

Menggunakan Weekly Chart dan melihat Long Term Trend, IHSG telah Breakdown Support penting di ~5,750. Setelah ‘berhenti’ di 5,300, kenaikan IHSG saat ini tampaknya adalah Pullback atau kenaikan setelah Breakdown Support (5,750) namun akan tertahan di level Support tersebut yang kali ini menjadi Resistance.

Memang IHSG tampaknya bergerak dalam Downtrend Channel dari sejak akhir 2017 sampai awal 2020 (garis hitam tebal). Namun bila demikian, IHSG berpotensi naik menuju 6,200 dan The Primary Trader meyakini peluangnya kecil.

Satu hal yang penting adalah bila melihat dari sejak GFC 2008, IHSG masih mempertahankan Secular Uptrend selama Up Trendline dari sejak 2011 bertahan. Dengan kata lain, IHSG harus Breakdown 5,000 untuk merubah Secular Uptrend tersebut.

Untuk menuju 4,700 atau bahkan untuk Breakdown 5,000, IHSG tampaknya perlu Selling Power yang kuat. Di minggu ini, Investor Instutisi Indonesia dikabarkan menambah alokasi di pasar saham sehingga ada kenaikan sebesar ~5% dalam seminggu atau ~2.5% per hari. The Primary Trader meyakini Investor Lokal tidaklah cukup untuk mengangkat IHSG.

Sejak tahun 2017, ada Tren Net Sell Asing yang menahan kenaikan IHSG dan cenderung membuat IHSG Downtrend dari 1H17. Namun demikian, saat ini, posisi Akumulasi Asing sudah di bawah level sebelum GFC 2008. Dapat disebut bahwa Investor Asing saat ini sudah Under Owned IHSG. Arguably, ekonomi Indonesia masih sangat menarik sehingga tentu Investor Asing yang ingin mendiversifikasikan portofolio ke Emerging Market harus juga berinvestasi di IHSG. Kita semua masih menunggu saatnya Investor Asing masuk kembali ke Indonesia dan IHSG.

Menggunakan MACD untuk jangka panjang (menggunakan SMA60 dan SMA200 instead of EMA12 dan EMA26), The Primary Trader melihat masih ada ancaman turun karena MACD dalam 2 tahun terakhir masih dapat turun ke level -250 (tahun 2018) dan bahkan ke level -520 (tahun 2015). Flat IHSG di level 6,000an pada pertengahan Februari 2020 tampaknya adalah sinyal Sell dari MACD tersebut.

Kondisi saat ini memang mostly karena ketakutan dan Panic Selling dari Investor. Namun The Primary Trader berargumen bahwa dampak nyata dari wabah Covid-19 belum terlihat sehingga dampaknya dapat lebih rendah dari yang ditakutkan atau justru bahkan lebih besar dari yang diperkirakan. Satu hal yang pasti. Fear masih mendominasi sehingga Investor sedang bersikap Rasional. Kondisi seperti ini membuat prediksi dan analisis kurang berguna namun tentu sikap waspada dan antisipasi akan sangat bermanfaat untuk diterapkan (dalam segala kondisi).

The Primary Trader masih akan mewaspadai pasar saham dan lebih memilih pasar obligasi.

Akhir Atau Awal ?

Menjelang Akhir Dari Wabah Covid-19 di China

China melaporkan kenaikan pasien yang sembuh dan dipulangkan dari RS sejak akhir Februari 2020. Setelah itu, pasien baru yang dilaporkan terinfeksi mulai berkurang sehingga total pasien yang terinfeksi mulai stagnan di akhir Februari 2020 menjelang awal Maret 2020. Ada harapan wabah Covid-19 di China mulai mereda. Bahkan salah satu RS di China yang khusus menangani Covid-19 telah ditutup karena jumlah pasien baru turun drastis.

Namun ternyata, penyebaran Covid-19 di seluruh dunia mulai terlihat meningkat. Di Indonesia sendiri dilaporkan kasus pertama pada 2 pasien yang positif terkena infeksi Covid-19. AS melaporkan total ada 9 pasien meninggal dari 105 pasien yang positif terinfeksi. Tampaknya ada potensi pandemik meski WHO belum mengumumkan hal tersebut.

Emergency Cut Rate oleh The Fed

The Fed memotong Fed Fund Rate sebesar 0.5% menjadi 1.25% karena melihat wabah Covid-19 dapat mengganggu pertumbuhan ekonomi AS yang saat ini (menurut The Fed) masih terjaga baik. Oleh karena itu sebagai bagian dari antisipasi, The Fed memotong suku bunga di luar jadwal FOMC Meeting (dimana rencananya diadakan pada 19 Maret 2020, bersamaan dengan Rapat Dewan Gubernur BI).

United States Fed Funds Rate

Keputusan The Fed memotong suku bunga di awal Maret 2020 sejalan dengan estimasi Investor bahwa bank sentral lain (seperti ECB, BOJ dan BOE) akan ikut menurunkan suku bunga acuan pada jadwal rapat masing – masing. The Primary Trader perkirakan pada pertengahan Maret 2020 akan semakin tinggi aksi spekulasi Investor (menjelang pengumuman ECB dan BOJ).


Dampak langsung dari pemotongan suku bunga adalah penurunan Yield obligasi. Saat ini Yield UST 10Yr sudah di level 1%. Sejak bulan Februari 2020, Yield UST 10Yr berada di level terendah sepanjang sejarah dan The Primary Trader perkirakan sangat mungkin Yield UST 10Yr berada di area negatif mengikuti Yield negara besar lainnya.

VIX Memuncak – Tanda Berakhir (?)

Melihat reaksi bank sentral yang relatif cepat dan pemerintah yang juga responsif (saat ini pemerintah Indonesia sudah mempersiapkan stimulus kedua), The Primary Trader meyakini dampak negatif dari wabah Covid-19 terhadap ekonomi global dan Indonesia dapat diminimalisir. Pada akhirnya wabah Covid-19 hanya dapat diselesaikan oleh pihak medis dan diharapkan dapat segera ditemukan dan disebarluaskan obat serta vaksin Covid-19. Setidaknya sudah ada 3 obat yang berpotensi digunakan untuk terapi antara lain obat anti-HIV dan anti Malaria.

The Primary Trader melihat kembali indeks VIX yang sudah mencapai level 50an. Level tersebut adalah level Resistance yang mengindikasikan risiko tertinggi diluar dari Global Finance Crisis (yang dapat mengangkat VIX mendekati level 100). Setelah VIX mendekati 50 tentu akhirnya VIX kembali ke level normal yaitu di 20 – 30.

The Primary Trader optimis memasuki bulan April 2020 atau 2Q20, kondisi keuangan akan relatif membaik dan diharapkan wabah Covid-19 dapat terkendali.