(Ternyata) Masih Perlu Diwaspadai

IHSG Menuju 4,700 ?

The Primary Trader masih mewaspadai potensi IHSG turun menuju 4,700 karena dampak nyata dari wabah Covid-19 terhadap ekonomi global dan Indonesia.

Wabah Covid-19 sendiri mulai mereda di Wuhan, Hubei dan China sebagai pusatnya. Saat ini justru negara – negara lain seperti Korea Selatan, Italia, Iran dan juga Indonesia sedang berjuang menahan penyebaran penyakit Covid-19. China pun dikabarkan khawatir akan kembali terjadi wabah akibat warga negara asing yang masuk ke negara China. Diperkirakan dalam sebulan ke depan, kasus infeksi Covid-10 di China mendekati nol.

Manufacturing PMI Indonesia di bulan Februari 2020 ternyata berhasil melonjak dari 49.3 menjadi 51.9. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh backloading dari pabrik seiring dengan aktifitas yang memang sudah turun beberapa bulan terakhir. Selain itu, adanya estimasi kenaikan harga bahan baku karena gangguan suplai akibat wabah Covid-19. Dengan demikian, kenaikan Manufacturing PMI tersebut tampaknya tidak bertahan sehingga ekonomi Indonesia (begitupun dengan ekonomi global) masih terancam.

The Fed sendiri akhirnya memutuskan untuk melakukan aksi yang dramatis yaitu dengan menurunkan Fed Fund Rate sebesar 0.5% dan diluar jadwal FOMC Meeting tanggal 19 Maret 2020. Meski Powell mengatakan ekonomi AS masih tumbuh sesuai estimasi The Fed namun wabah Covid-19 menjadi tantangan besar yang jelas di depan mata sehingga The Fed perlu mengantisipasinya. Investor melihat hal ini sebagai aksi ‘panik’ The Fed sehingga bereaksi negatif dengan menjual saham dan membeli obligasi (US Treasury).

Multi-View Technical Analysis Terhadap IHSG

Berdasarkan Bollinger Band, volatilitas IHSG mulai mendekati puncak karena melihat kondisi 2 tahun terakhir. Pada indikator Bandwidth BB yang mengukur jarak antara Upper Band dengan Lower Band, puncak volatilitas IHSG dalam 2 terakhir adalah ketika Bandwidth BB di level 13. Setelah itu, IHSG cenderung Bottoming dan membentuk U-Shape Recovery di tahun 2018 dan V-Shape Recovery di tahun 2019. Namun bila melihat 5 tahun terakhir, Bandwidth BB pernah mencapai level 18 di tahun 2015 sehingga masih ada potensi IHSG bergerak secara volatile dalam Downtrend (baca : masih akan turun dengan tajam).

Menggunakan Weekly Chart dan melihat Long Term Trend, IHSG telah Breakdown Support penting di ~5,750. Setelah ‘berhenti’ di 5,300, kenaikan IHSG saat ini tampaknya adalah Pullback atau kenaikan setelah Breakdown Support (5,750) namun akan tertahan di level Support tersebut yang kali ini menjadi Resistance.

Memang IHSG tampaknya bergerak dalam Downtrend Channel dari sejak akhir 2017 sampai awal 2020 (garis hitam tebal). Namun bila demikian, IHSG berpotensi naik menuju 6,200 dan The Primary Trader meyakini peluangnya kecil.

Satu hal yang penting adalah bila melihat dari sejak GFC 2008, IHSG masih mempertahankan Secular Uptrend selama Up Trendline dari sejak 2011 bertahan. Dengan kata lain, IHSG harus Breakdown 5,000 untuk merubah Secular Uptrend tersebut.

Untuk menuju 4,700 atau bahkan untuk Breakdown 5,000, IHSG tampaknya perlu Selling Power yang kuat. Di minggu ini, Investor Instutisi Indonesia dikabarkan menambah alokasi di pasar saham sehingga ada kenaikan sebesar ~5% dalam seminggu atau ~2.5% per hari. The Primary Trader meyakini Investor Lokal tidaklah cukup untuk mengangkat IHSG.

Sejak tahun 2017, ada Tren Net Sell Asing yang menahan kenaikan IHSG dan cenderung membuat IHSG Downtrend dari 1H17. Namun demikian, saat ini, posisi Akumulasi Asing sudah di bawah level sebelum GFC 2008. Dapat disebut bahwa Investor Asing saat ini sudah Under Owned IHSG. Arguably, ekonomi Indonesia masih sangat menarik sehingga tentu Investor Asing yang ingin mendiversifikasikan portofolio ke Emerging Market harus juga berinvestasi di IHSG. Kita semua masih menunggu saatnya Investor Asing masuk kembali ke Indonesia dan IHSG.

Menggunakan MACD untuk jangka panjang (menggunakan SMA60 dan SMA200 instead of EMA12 dan EMA26), The Primary Trader melihat masih ada ancaman turun karena MACD dalam 2 tahun terakhir masih dapat turun ke level -250 (tahun 2018) dan bahkan ke level -520 (tahun 2015). Flat IHSG di level 6,000an pada pertengahan Februari 2020 tampaknya adalah sinyal Sell dari MACD tersebut.

Kondisi saat ini memang mostly karena ketakutan dan Panic Selling dari Investor. Namun The Primary Trader berargumen bahwa dampak nyata dari wabah Covid-19 belum terlihat sehingga dampaknya dapat lebih rendah dari yang ditakutkan atau justru bahkan lebih besar dari yang diperkirakan. Satu hal yang pasti. Fear masih mendominasi sehingga Investor sedang bersikap Rasional. Kondisi seperti ini membuat prediksi dan analisis kurang berguna namun tentu sikap waspada dan antisipasi akan sangat bermanfaat untuk diterapkan (dalam segala kondisi).

The Primary Trader masih akan mewaspadai pasar saham dan lebih memilih pasar obligasi.

One comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s