Salah Satu Yang Terdalam Di 25 Tahun Terakhir. Ekonomi AS Di 1Q20 Turun Tapi Ada Potensi Kenaikan Bursa Saham AS dan Global.

Ekonomi AS di 1Q20 turun sebesar -4.8% QoQ. Penurunan ini adalah salah satu yang terdalam di 25 tahun terakhir. Tentu hal ini adalah sebagai dampak Lockdown di berbagai State di AS yang baru dilakukan pada akhir Maret 2020 (!).

United States GDP Growth Rate

Seiring dengan terjadinya Lockdown, pengangguran mulai meningkat yang diindikasikan dengan banyaknya klaim pengangguran. Pada 2 minggu di pertengahan Maret 2020, klaim pengangguran langsung melonjak menjadi 9 juta orang. Dalam 5 minggu terakhir, sudah sebanyak 26 juta orang mengajukan klaim pengangguran yang mengindikasikan jumlah orang yang di-PHK. Angka tersebut merupakan yang terbesar sepanjang data klaim pengangguran. Bila terus berlanjut maka hal ini akan merubah tren tingkat pengangguran yang dalam tren turun sejak tahun 2010. Pada bulan Maret 2020, tingkat pengangguran sudah naik menjadi 4.4%.

Meski demikian, S&P500 tampaknya bergerak naik dan telah Breakout Fibonacci Retracement di 61.8% yang diproyeksikan ke bawah. Dengan demikian, masih ada ancaman S&P500 melanjutkan Downtrend (dengan potensi lebih dalam dari 2,200 – sampai kemarin ketika S&P500 berhasil (atau sedang) Breakout ~2,950 yang merupakan level Fibonacci 61.8%.

Dengan melewati Fibonacci 61.8% proyeksi ke bawah maka penurunan S&P500 ke depan adalah sebagai Tech. Correction dari Uptrend S&P500 yang dimulai dari akhir Maret 2020 di 2,190. Bila terjadi penurunan, The Primary Trader perkirakan akan berada di antara rentang Fibonacci Retracement 61.8% – 38.2% dengan proyeksi ke atas yaitu di ~2,500 – ~2,650.

Meski demikian, kenaikan S&P500 memang yang paling tinggi dibanding indeks AS lain seperti Russell2000, Dow Jones Industrial dan Transportation. Namun kenaikan S&P500 masih kalah dibanding Nasdaq100.

Di Nasdaq100, ada 2 saham yang saat ini sedang menarik (selain Amazon yang ada di S&P500) yaitu Gilead Science yang memproduksi obat Remdesivir dan Zoom Video Telecommunication yang membuat aplikasi Online Meeting Zoom.

Hal yang membuat positif pasar saham AS (dan mungkin pasar saham dunia dalam waktu dekat) adalah obat Remdisivir kemungkinan akan disetujui oleh FDA sebagai obat COVID-19, sesuai dengan pemberitaan CNN.

Semoga.

Yield SUN10Yr Bersiap Kembali Naik Menuju 9%

Pada Selasa, 28 April 2020, Pemerintah melakukan lelang obligasi dan diperoleh total permintaan yang terus meningkat serta tertinggi sejak pertengahan Maret 2020.

Hal ini cukup bagus karena semenjak pemerintah mengumumkan rencana stimulus sebesar ~Rp400 triliun dan defisit anggaran mencapai -5.07%, pasar obligasi mencatat penurunan harga dan kenaikan Yield. Investor mengkhawatirkan akan terjadi suplai yang besar dari obligasi karena pemerintah akan menerbitkan Rp549 triliun surat hutang, lebih tinggi Rp160 triliun dari APBN2020 yang awal.

Indonesia sendiri akhirnya di Downgrade Outlook-nya oleh S&P dari Stable menjadi Negative. Artinya adalah ada potensi S&P menurunkan Rating Indonesia dari BBB menjadi BBB- dalam 12 bulan ke depan. Tentu hal ini karena adanya kenaikan defisit anggaran sebesar -5.07% dan dengan kehati-hatian dalam mengelola anggaran, ada harapan S&P menaikkan kembali Outlook-nya menjadi Stable.

Selain itu, pandangan Investor global terhadap Indonesia masih baik karena saat Pemerintah menerbitkan Pandemo Bond sebesar USD4.3 miliar, Yield yang diminta relatif rendah dibanding 5 tahun terakhir.

Meski demikian, dalam jangka pendek (1-2 bulan ke depan), The Primary Trader melihat potensi Yield SUN10Yr naik menuju 9%, melanjutkan tren kenaikan Yield dari 6.5% di awal Maret 2020. Tentu ada harapan Yield kembali ke level 7% – 7.5% di 2H20. Namun menurut The Primary Trader, hal tersebut akan sangat tergantung dalam kebijakan Pemerintah dan ketaatan masyarakat untuk mengendalikan wabah COVID-19 di Indonesia.

Semoga studi dari Singapore University of Technology and Design yang memperkirakan wabah COVID-19 berakhir di awal Juni 2020 benar.

Data Penting Yang Jarang Dilirik Investor : Laporan Statistik Bursa Efek Indonesia

Setiap periode (Weekly, Monthly, Quarterly dan Yearly), Bursa Efek Indonesia mengeluarkan laporan statistik perdagangan di bursa. Laporan tersebut dapat diunduh di website IDX. Menurut The Primary Trader, laporan tersebut sangat penting untuk diperhatikan karena mengandung Market Data yang relatif jarang ada bagi sebagian besar Investor (kecuali Investor Individu maupun Institusi yang telah berlangganan Bloomberg Desktop maupun Thomson Reuters / Refinitif atau Cogencies).

Mengacu dari laporan bulan Maret 2020, berikut adalah informasi yang The Primary Trader sangat penting : Kenaikan Trading Value

The Primary Trader melihat ada kenaikan Trading Value mulai dari 20 Maret 2020, seiring dengan kenaikan IHSG. Hal ini pertanda baik karena Uptrend harus didukung oleh Trading Value.

Rata – rata Trading Value harian IHSG di bulan Maret 2020 adalah sebesar Rp7.9 triliun, lebih besar dari Januari dan Februari 2020 sebesar Rp6.3 – Rp6.5 triliun. Hal ini pertanda bagus. Namun bila dilihat dari tahun 2019, angka Rp7.9 triliun relatif sangat kecil karena rata – rata Trading Value harian sepanjang tahun 2019 adalah sebesar Rp9.1 triliun sementara di tahun 2020 (sampai Maret 2020) hanyalah sebesar Rp6.9 triliun. Oleh karena itu, The Primary Trader masih belum melihat adanya kenaikan Trading Value yang dapat berpotensi membuat IHSG berada dalam Uptrend.

Namun tentu itu adalah data sampai akhir Maret 2020.

IDX juga mengeluarkan data mingguan dan The Primary Trader mengambil data transaksi harian di minggu 21-24 April 2020 sebagai berikut :

Terlihat bahwa ada kencenderungan Trading Value IHSG Flat di kisaran rendah yaitu Rp4.5 triliun. IHSG-nya sendiri pun relatif Flat sehingga kemungkinan besar menghapus potensi Uptrend di bulan Maret 2020.

Masih banyak data dan informasi lain yang terdapat pada Laporan Statistitk tersebut – terutama Monthly Edition-nya antara lain :

  • Financial Datas & Ratios
  • Jakarta Composite Index Activity

Semoga bermanfaat.

S&P500 Masih Terancam Turun -40%. Berikut alasannya

The Primary Trader melihat S&P500 masih terancam turun menuju 1,670 atau -40% dari level saat ini. S&P500 memang telah naik 30% dari akhir Maret 2020 namun kenaikan tersebut dapat dianggap sebagai Tech. Rebound yaitu kenaikan ditengah Downtrend. The Primary Trader belum melihat ada akhir dari Downtrend.

S&P500 dapat dikatakan berhasil mengakhiri Downtrend dan berpeluang besar untuk Uptrend bila dapat naik di atas 2,930 yang merupakan Fibonacci Retracement 61.8% dengan proyeksi ke bawah. Dengan melewati 2,930 maka kenaikan dari akhir Maret 2020 tersebut bukan merupakan Tech. Rebound.

Kenaikan S&P500 sejak awal tahun tampaknya karena kenaikan saham Amazon dan Netflix yang memang menjadi pemenang ditengah Pandemi COVID-19 dan Lockdown di berbagai belahan dunia. Namun bila melihat indeks Russell2000 (berisi 2 ribu saham di New York Stock Exchange), terlihat bahwa mayoritas saham tidak sebagus pergerakan S&P500. Amazon dan Netflix (serta 3 saham lain seperti Alphabet dan Facebook) hampir mewakili 20% dari total Market Cap S&P500).

Sementara itu, dilihat dari Market Breadth S&P500, saat ini lebih banyak saham – saham S&P500 yang turun. Dari chart di bawah, jumlah saham – saham yang di bawah level High 52Wk semakin banyak dan beberapa kali menjadi indikasi penurunan dalam pada S&P500 seperti di tahun 1990, 2008, 2011 dan 2016. Artikelnya dapat dilihat di Bloomberg.

relates to Goldman Says Narrow Breadth in S&P 500 a Bad Sign for Stocks

Minggu Penting

Di minggu terakhir April 2020 ini, Investor menunggu data ekonomi penting yaitu :

  • US GDP Growth Rate 1Q20 di 29 April 2020
  • FOMC Meeting di 30 April 2020
  • China NBS Manufacturing PMI di 30 April 2020

Trading Economics memperkirakan ekonomi AS di 1Q20 kontraksi sebesar -4% QoQ. Penurunan tersebut lebih dalam dari 25 tahun terakhir dan hanya dikalahkan oleh penurunan pada tahun 2008 (Global Financial Crisis).

United States GDP Growth Rate

The Primary Trader perkirakan data – data tersebut akan menjadi katalis penurunan S&P500. Selain itu, setelah wabah COVID-19 di suatu negara selesai dan Lockdown mulai berakhir, masih ada tantangan lagi karena masyarakat belum belanja dan konsumsi seperti biasanya. Hal ini terjadi di Wuhan dan Jerman.

DOW THEORY – TEORI DASAR TERPENTING MENURUT THE PRIMARY TRADER (3)

Artikel edukasi ini adalah bagian ketiga. Lihat bagian pertama di sini dan bagian kedua di sini.

Masih ada 3 poin Dow Theory yang relatif jarang digunakan namun menurut The Primary Trader juga merupakan hal penting.

Line indicates movement

Dow ingin mengatakan bahwa setiap pergerakan harga saham memiliki arti penting dalam analisis bagi itu pergerakan ke atas, ke bawah maupun mendatar. Untuk pergerakan mendatar ini biasa disebut Sideways, Flat atau Trend-less. Yang terpenting adalah walaupun harga tidak berubah dari hari – hari sebelumnya namun pergerakan tersebut tetap perlu diperhatikan dan dianalisis karena dapat menjadi petunjuk untuk memperkirakan pergerakan berikutnya.

Pada dasarnya, The Primary Trader melihat Sideways sebagai pola Continuation. Cukup jarang Sideways menjadi pola Reversal. Dengan demikian, setiap menemukan pergerakan Sideways atau Flat, The Primary Trader langsung menganggap tren sebelumnya masih akan berlanjut.

Sideways dapat juga dianggap sebagai “temporary pause” dari pergerakan sebelumnya. Anggaplah suatu berita bagus telah tersebar sehingga Investor berbondong – bondong membelinya (Panic Buying) sebelum menganalisis berita tersebut. Pada suatu waktu, Investor merasa perlu Cooling Down dan benar – benar menganalisis berita tersebut, dampaknya terhadap emiten dan apakah valuasi masih wajar atau tidak. Kondisi Cooling Down inilah yang biasanya membentuk pergerakan Sideways yang The Primary Trader perkirakan sebagai bagian dari pola Continuation.

Price Action determine the trend

Poin ini menekankan bahwa Analisis Teknikal harus menggunakan metode Analisis Teknikal (Price Action) untuk menentukan kondisi yang diamati oleh Analisis Teknikal (Trend). Hal ini karena seringkali Trend adalah suatu “akibat” oleh suatu “sebab” yang berasal dari ilmu Makro Ekonomi maupun ilmu Analisis Fundamental. Mungkin benar bahwa suatu Uptrend disebabkan oleh siklus ekonomi ekspansif atau ketika harga saham sudah sangat murah. Namun seorang Analisis Teknikal sebaiknya tidak menyebutkan alasan – alasan tersebut untuk mengatakan pasar saham sedang Uptrend atau Downtrend.

Sebagaimana yang telah disebutkan dalam ilmu dasar Analisis Teknikal mengenai Trend, untuk dapat mengatakan harga aset sedang dalam Uptrend maka harus ada kondisi “Higher High – Higher Low“. Untuk dapat mengatakan harga aset sedang dalam Downtrend maka harus ada kondisi “Lower High – Lower Low“.

Analis Teknikal sudah harus percaya bahwa ketika terjadi kondisi (katakanlah) Lower High – Lower Low maka Investor memperkirakan akan ada kondisi yang buruk pada aset tersebut. Dengan demikian, harga aset tersebut akan bergerak Downtrend.

Only closing price is used

Hal ini juga memperjelas bahwa objek studi dari Analisis Teknikal adalah harga aset. Oleh karena itu, penggunaan objek selain harga oleh Analis Teknikal dapat diperdebatkan. Namun tentu suatu ilmu terlebih lagi pengguna ilmu tersebut juga harus tetap terbuka menerima perkembangan zaman.

The Primary Trader merasa cukup terbuka sehingga poin ini dapat dikembangkan menjadi tidak hanya Closing Price saja yang digunakan tapi juga Open Price, Low Price, High Price serta Volume (jumlah lembar), Value (nilai transaksi dalam mata uang tertentu) hingga Open Interest (total kontrak berjangka yang tidak diselesaikan).

Namun tetap objek harga terpenting dalam Analisis Teknikal adalah Closing Price.


Demikian pembahasan Dow Theory dari The Primary Trader. Nantikan edukasi selanjutnya. Semoga bermanfaat.