Salah Satu Yang Terdalam Di 25 Tahun Terakhir. Ekonomi AS Di 1Q20 Turun Tapi Ada Potensi Kenaikan Bursa Saham AS dan Global.

Ekonomi AS di 1Q20 turun sebesar -4.8% QoQ. Penurunan ini adalah salah satu yang terdalam di 25 tahun terakhir. Tentu hal ini adalah sebagai dampak Lockdown di berbagai State di AS yang baru dilakukan pada akhir Maret 2020 (!).

United States GDP Growth Rate

Seiring dengan terjadinya Lockdown, pengangguran mulai meningkat yang diindikasikan dengan banyaknya klaim pengangguran. Pada 2 minggu di pertengahan Maret 2020, klaim pengangguran langsung melonjak menjadi 9 juta orang. Dalam 5 minggu terakhir, sudah sebanyak 26 juta orang mengajukan klaim pengangguran yang mengindikasikan jumlah orang yang di-PHK. Angka tersebut merupakan yang terbesar sepanjang data klaim pengangguran. Bila terus berlanjut maka hal ini akan merubah tren tingkat pengangguran yang dalam tren turun sejak tahun 2010. Pada bulan Maret 2020, tingkat pengangguran sudah naik menjadi 4.4%.

Meski demikian, S&P500 tampaknya bergerak naik dan telah Breakout Fibonacci Retracement di 61.8% yang diproyeksikan ke bawah. Dengan demikian, masih ada ancaman S&P500 melanjutkan Downtrend (dengan potensi lebih dalam dari 2,200 – sampai kemarin ketika S&P500 berhasil (atau sedang) Breakout ~2,950 yang merupakan level Fibonacci 61.8%.

Dengan melewati Fibonacci 61.8% proyeksi ke bawah maka penurunan S&P500 ke depan adalah sebagai Tech. Correction dari Uptrend S&P500 yang dimulai dari akhir Maret 2020 di 2,190. Bila terjadi penurunan, The Primary Trader perkirakan akan berada di antara rentang Fibonacci Retracement 61.8% – 38.2% dengan proyeksi ke atas yaitu di ~2,500 – ~2,650.

Meski demikian, kenaikan S&P500 memang yang paling tinggi dibanding indeks AS lain seperti Russell2000, Dow Jones Industrial dan Transportation. Namun kenaikan S&P500 masih kalah dibanding Nasdaq100.

Di Nasdaq100, ada 2 saham yang saat ini sedang menarik (selain Amazon yang ada di S&P500) yaitu Gilead Science yang memproduksi obat Remdesivir dan Zoom Video Telecommunication yang membuat aplikasi Online Meeting Zoom.

Hal yang membuat positif pasar saham AS (dan mungkin pasar saham dunia dalam waktu dekat) adalah obat Remdisivir kemungkinan akan disetujui oleh FDA sebagai obat COVID-19, sesuai dengan pemberitaan CNN.

Semoga.

UNPUB : Pandangan IHSG Dengan Bollinger Band Complete Set. Ada Harapan!

IHSG + Bollinger Band : Segera Berada di atas Middle Band

Penurunan IHSG dari sejak awal April 2020 dapat dikatakan sebagai Tech. Correction bila dilihat dari kenaikan sejak akhir Maret 2020 (dari ~3,900). IHSG pun saat ini sedang terlihat naik untuk melewati Middle Band (MA20) yang saat ini di 4,595.

%BB : Uptrend Untuk Melewati >50

Hal ini didukung oleh %BB dimana sejak awal Maret 2020 telah bergerak naik dan terindikasi membentuk Uptrend. Ada potensi %BB segera berada di atas level 50 yang berarti IHSG berada di atas Middle Band.

Middle Band Direction : Mulai Mengarah Ke Atas

Middle Band Direction yang menunjukkan posisi arah pergerakan Middle Band atau MA20. Saat ini Middle Band Direction berada di angka positif yang artinya Middle Band sedang mengarah ke atas. Dengan mengarah ke atas maka ada indikasi IHSG akan Uptrend.

Bandwidth : Volatilitas Sedang Rendah

Bandwidth BB terlihat sedang turun dan dilevel yang relatif rendah. Hal ini menunjukkan volatilitas pergerakan IHSG sedang rendah. Dengan demikian, pergerakan IHSG (baik ke atas atau ke bawah) akan relatif tidak banyak (Less Volatile).

Bandwidth Histogram : Volatilitas Akan Meningkat

Bandwidth Histogram yang memperkirakan arah dari Bandwidth menunjukkan tren angka yang positif dari sebelumnya di angka negatif. Hal ini mengindikasikan adanya potensi pergerakan arah indikator Bandwidth. Bila indikator Bandwidth meningkat maka volatilitas akan meningkat. Indikator Bandwidth Histogram memperkirakan volatilitas IHSG akan meningkat.

Kesimpulan : Segera Rally

Ringkasan masing – masing indikator adalah sebagai berikut :

  • IHSG + Bollinger Band : Segera Berada di atas Middle Band
  • %BB : Uptrend Untuk Melewati >50
  • Middle Band Direction : Mulai Mengarah Ke Atas
  • Bandwidth : Volatilitas Sedang Rendah
  • Bandwidth Histogram : Volatilitas Akan Meningkat

Oleh karena itu, dapat disimpulkan IHSG berpotensi segera naik ke atas dengan volatilitas yang meningkat (Rally sebagai bagian dari Uptrend).

Pertanyaannya adalah, apakah Rally IHSG akan merubah Downtrend dari sejak awal tahun 2020 ?

The Primary Trader melihat pergerakan IHSG sejak April 2020 berada dalam pola Bullish Continuation yang sangat mungkin mengindikasikan kenaikan sejak akhir Maret 2020 (dari 3,900 ke 4,900) kembali terjadi. Ada potensi IHSG naik menuju 5,700 setelah Breakout 4,650 (dengan mengonfirmasi pola Bullish Continuation tersebut).

Namun untuk mengatakan akhir Downtrend dari sejak awal tahun 2020, IHSG perlu Breakout 5,400 dan The Primary Trader meragukan hal tersebut. The Primary Trader masih memperkirakan akan ada One Last Drop yang mengakhiri Downtrend dan memulai proses pembentukan pola Bullish Reversal.

Yield SUN10Yr Bersiap Kembali Naik Menuju 9%

Pada Selasa, 28 April 2020, Pemerintah melakukan lelang obligasi dan diperoleh total permintaan yang terus meningkat serta tertinggi sejak pertengahan Maret 2020.

Hal ini cukup bagus karena semenjak pemerintah mengumumkan rencana stimulus sebesar ~Rp400 triliun dan defisit anggaran mencapai -5.07%, pasar obligasi mencatat penurunan harga dan kenaikan Yield. Investor mengkhawatirkan akan terjadi suplai yang besar dari obligasi karena pemerintah akan menerbitkan Rp549 triliun surat hutang, lebih tinggi Rp160 triliun dari APBN2020 yang awal.

Indonesia sendiri akhirnya di Downgrade Outlook-nya oleh S&P dari Stable menjadi Negative. Artinya adalah ada potensi S&P menurunkan Rating Indonesia dari BBB menjadi BBB- dalam 12 bulan ke depan. Tentu hal ini karena adanya kenaikan defisit anggaran sebesar -5.07% dan dengan kehati-hatian dalam mengelola anggaran, ada harapan S&P menaikkan kembali Outlook-nya menjadi Stable.

Selain itu, pandangan Investor global terhadap Indonesia masih baik karena saat Pemerintah menerbitkan Pandemo Bond sebesar USD4.3 miliar, Yield yang diminta relatif rendah dibanding 5 tahun terakhir.

Meski demikian, dalam jangka pendek (1-2 bulan ke depan), The Primary Trader melihat potensi Yield SUN10Yr naik menuju 9%, melanjutkan tren kenaikan Yield dari 6.5% di awal Maret 2020. Tentu ada harapan Yield kembali ke level 7% – 7.5% di 2H20. Namun menurut The Primary Trader, hal tersebut akan sangat tergantung dalam kebijakan Pemerintah dan ketaatan masyarakat untuk mengendalikan wabah COVID-19 di Indonesia.

Semoga studi dari Singapore University of Technology and Design yang memperkirakan wabah COVID-19 berakhir di awal Juni 2020 benar.

Data Penting Yang Jarang Dilirik Investor : Laporan Statistik Bursa Efek Indonesia

Setiap periode (Weekly, Monthly, Quarterly dan Yearly), Bursa Efek Indonesia mengeluarkan laporan statistik perdagangan di bursa. Laporan tersebut dapat diunduh di website IDX. Menurut The Primary Trader, laporan tersebut sangat penting untuk diperhatikan karena mengandung Market Data yang relatif jarang ada bagi sebagian besar Investor (kecuali Investor Individu maupun Institusi yang telah berlangganan Bloomberg Desktop maupun Thomson Reuters / Refinitif atau Cogencies).

Mengacu dari laporan bulan Maret 2020, berikut adalah informasi yang The Primary Trader sangat penting : Kenaikan Trading Value

The Primary Trader melihat ada kenaikan Trading Value mulai dari 20 Maret 2020, seiring dengan kenaikan IHSG. Hal ini pertanda baik karena Uptrend harus didukung oleh Trading Value.

Rata – rata Trading Value harian IHSG di bulan Maret 2020 adalah sebesar Rp7.9 triliun, lebih besar dari Januari dan Februari 2020 sebesar Rp6.3 – Rp6.5 triliun. Hal ini pertanda bagus. Namun bila dilihat dari tahun 2019, angka Rp7.9 triliun relatif sangat kecil karena rata – rata Trading Value harian sepanjang tahun 2019 adalah sebesar Rp9.1 triliun sementara di tahun 2020 (sampai Maret 2020) hanyalah sebesar Rp6.9 triliun. Oleh karena itu, The Primary Trader masih belum melihat adanya kenaikan Trading Value yang dapat berpotensi membuat IHSG berada dalam Uptrend.

Namun tentu itu adalah data sampai akhir Maret 2020.

IDX juga mengeluarkan data mingguan dan The Primary Trader mengambil data transaksi harian di minggu 21-24 April 2020 sebagai berikut :

Terlihat bahwa ada kencenderungan Trading Value IHSG Flat di kisaran rendah yaitu Rp4.5 triliun. IHSG-nya sendiri pun relatif Flat sehingga kemungkinan besar menghapus potensi Uptrend di bulan Maret 2020.

Masih banyak data dan informasi lain yang terdapat pada Laporan Statistitk tersebut – terutama Monthly Edition-nya antara lain :

  • Financial Datas & Ratios
  • Jakarta Composite Index Activity

Semoga bermanfaat.

UNPUB : Big Bank “Menipu” IHSG. Fokus Ke-6 Saham Ini.

Bila melihat pergerakan IHSG dan membandingkannya dengan pergerakan Big Bank (BBCA, BBRI, BBNI dan BMRI) maka terlihat pergerakan Big Bank lebih Bullish dibanding IHSG itu sendiri. Sejak awal tahun 2018, Big Bank bergerak Uptrend sementara IHSG sudah bergerak Sideways. Ketika IHSG mengalami Breakdown yang menandakan arah tren berubah menjadi Downtrend, Big Bank masih belum mengindikasikan Breakdown. 1-2 minggu kemudian terjadi Breakdown pada Big Bank.

The Primary Trader mencoba melihat Big Cap lain yang relatif memiliki variasi sektor. Berikut adalah pilihannya : GGRM, INDF, ICBP, ASII, TLKM dan UNVR. Berikut adalah chartnya :

Other Big Caps tersebut mengindikasikan Uptrend – hanya sampai awal tahun 2019 atau sekitar akhir 1Q19. Setelah itu, Other Big Caps mulai bergerak Downtrend. Pada 3Q19, Other Big Caps mulai Breakdown dan mengonfirmasi Downtrend.

Apabila digabungkan, maka jelas terlihat Other Big Caps telah Downtrend dari 2019 sementara Big Bank tampaknya menopang IHSG sehingga IHSG masih bisa Sideways. Pada awal tahun 2020, terlihat Big Bank mulai naik namun tidak bertahan sementara Other Big Caps cenderung Flat sebelum IHSG jatuh yang disebabkan oleh Crash di Big Bank.

Kesimpulan

Per hari ini (28 April 2020), Big Bank memang memiliki Total Market Cap 22.5% dari IHSG. Sementara Other Big Caps memiliki total 19.27% dari IHSG. Cukup wajar bila Big Bank masih lebih mendominasi pergerakan IHSG.

Namun The Primary Trader lebih menyukai Other Big Caps karena setidaknya terdiri dari 5 sektor yaitu Cigarettes (GGRM), Food and Beverage (ICBP dan INDF), Automotive (ASII), Telecommunication (TLKM) dan Consumer Staples (UNVR). Sektor tersebut cenderung Cyclical (Auto) namun ada beberapa yang menjadi Backbone ekonomi Indonesia yaitu Consumer Related seperti Cigarettes, F&B dan Consumer Staples.

Oleh karena itu, untuk melihat kondisi IHSG lebih detil, selain Big Bank, sangat perlu juga dilihat Other Big Caps.

Unpub : Harga Minyak Dunia Mungkin Tidak Akan Kembali Tinggi Lagi

The Primary Trader melihat Brent mulai berpotensi membentuk Bottoming. Brent masih harus naik atau setidaknya bertahan di atas USD15 – USD20 per barel dalam 1-2 bulan ke depan. Brent juga masih harus Breakout USD35 untuk mengawali kenaikan (yang mungkin sebagai Uptrend) menuju setidaknya USD55.

Selama ini harga Brent relatif lebih tinggi USD8 per barel dari WTI. Namun karena adanya spekulasi yang tinggi dari WTI dan tiba – tiba ada keterbatasan Storage, tidak ada pembeli Oil yang ingin mengeksekusi kontrak sehingga terjadilah harga minus pada kontrak WTI – yang membuat selisih harga Brent dengan WTI melonjak mencapai USD26 per barel (hampir 3x lipat dari biasanya).

The Primary Trader melihat harga minyak yang terus rendah akan menjadi pukulan terhadap banyak negara. Di harga USD20, negara seperti US, Rusia dan Indonesia mungkin hanya cukup untuk Break Even Point. Arab Saudi, Irak dan Iran mungkin masih menikmati keuntungan kotor (Gross Profit).

Live Chart here

Namun bagi suatu negara, Gross Profit tidaklah cukup karena untuk negara yang mengandalkan ekspor Oil sebagai pendapatan maka harga Oil harus jauh di atas Production Cost.

Contoh kasus, untuk Arab Saudi, dalam rangka menjaga Fiskal-nya maka harga Oil harus di atas USD83 per barel. Tentu sebagai negara yang berpengaruh dalam industri minyak dunia, Arab Saudi harus melakukan sesuatu.

The Primary Trader membaca estimasi BNP Paribas bahwa Oil mungkin tidak akan kembali di level normal (let say USD50, USD80 atau bahkan USD100 lagi).

Salah satu alasannya adalah bahwa kemajuan teknologi seperti Tenaga Matahari dan Baterei Listrik sudah semakin murah. Hal ini tentu semakin mendorong peralihan dari tenaga fosil (Oil).

Efisiensi mobil berbahan bakar fosil pun cukup baik sehingga puncak permintaan minyak di AS itu adalah tahun 2005. Meski ada penambahan masyarakat dan mobilitas di tahun 2019, permintaan minyak masih lebih rendah dari tahun 2005. Ke depan, mobil listrik yang lebih efisien (Tesla dan produsen lainnya) akan semakin mengurangi permintaan minyak.

Permintaan lain yang sangat mungkin berkurang adalah penerbangan. Memang industri pariwisata akan tetap mendorong permintaan minyak untuk penerbangan. Namun Business Meeting yang sebelumnya harus dilakukan dengan penerbangan antar kota, antar provinsi, antar negara sampai antar benua, saat ini sudah nyaman dilakukan dengan Online Meeting seperti menggunakan Zoom.

Zoom Meeting - Everything You Need to Know in 2020

S&P500 Masih Terancam Turun -40%. Berikut alasannya

The Primary Trader melihat S&P500 masih terancam turun menuju 1,670 atau -40% dari level saat ini. S&P500 memang telah naik 30% dari akhir Maret 2020 namun kenaikan tersebut dapat dianggap sebagai Tech. Rebound yaitu kenaikan ditengah Downtrend. The Primary Trader belum melihat ada akhir dari Downtrend.

S&P500 dapat dikatakan berhasil mengakhiri Downtrend dan berpeluang besar untuk Uptrend bila dapat naik di atas 2,930 yang merupakan Fibonacci Retracement 61.8% dengan proyeksi ke bawah. Dengan melewati 2,930 maka kenaikan dari akhir Maret 2020 tersebut bukan merupakan Tech. Rebound.

Kenaikan S&P500 sejak awal tahun tampaknya karena kenaikan saham Amazon dan Netflix yang memang menjadi pemenang ditengah Pandemi COVID-19 dan Lockdown di berbagai belahan dunia. Namun bila melihat indeks Russell2000 (berisi 2 ribu saham di New York Stock Exchange), terlihat bahwa mayoritas saham tidak sebagus pergerakan S&P500. Amazon dan Netflix (serta 3 saham lain seperti Alphabet dan Facebook) hampir mewakili 20% dari total Market Cap S&P500).

Sementara itu, dilihat dari Market Breadth S&P500, saat ini lebih banyak saham – saham S&P500 yang turun. Dari chart di bawah, jumlah saham – saham yang di bawah level High 52Wk semakin banyak dan beberapa kali menjadi indikasi penurunan dalam pada S&P500 seperti di tahun 1990, 2008, 2011 dan 2016. Artikelnya dapat dilihat di Bloomberg.

relates to Goldman Says Narrow Breadth in S&P 500 a Bad Sign for Stocks

Minggu Penting

Di minggu terakhir April 2020 ini, Investor menunggu data ekonomi penting yaitu :

  • US GDP Growth Rate 1Q20 di 29 April 2020
  • FOMC Meeting di 30 April 2020
  • China NBS Manufacturing PMI di 30 April 2020

Trading Economics memperkirakan ekonomi AS di 1Q20 kontraksi sebesar -4% QoQ. Penurunan tersebut lebih dalam dari 25 tahun terakhir dan hanya dikalahkan oleh penurunan pada tahun 2008 (Global Financial Crisis).

United States GDP Growth Rate

The Primary Trader perkirakan data – data tersebut akan menjadi katalis penurunan S&P500. Selain itu, setelah wabah COVID-19 di suatu negara selesai dan Lockdown mulai berakhir, masih ada tantangan lagi karena masyarakat belum belanja dan konsumsi seperti biasanya. Hal ini terjadi di Wuhan dan Jerman.

DOW THEORY – TEORI DASAR TERPENTING MENURUT THE PRIMARY TRADER (3)

Artikel edukasi ini adalah bagian ketiga. Lihat bagian pertama di sini dan bagian kedua di sini.

Masih ada 3 poin Dow Theory yang relatif jarang digunakan namun menurut The Primary Trader juga merupakan hal penting.

Line indicates movement

Dow ingin mengatakan bahwa setiap pergerakan harga saham memiliki arti penting dalam analisis bagi itu pergerakan ke atas, ke bawah maupun mendatar. Untuk pergerakan mendatar ini biasa disebut Sideways, Flat atau Trend-less. Yang terpenting adalah walaupun harga tidak berubah dari hari – hari sebelumnya namun pergerakan tersebut tetap perlu diperhatikan dan dianalisis karena dapat menjadi petunjuk untuk memperkirakan pergerakan berikutnya.

Pada dasarnya, The Primary Trader melihat Sideways sebagai pola Continuation. Cukup jarang Sideways menjadi pola Reversal. Dengan demikian, setiap menemukan pergerakan Sideways atau Flat, The Primary Trader langsung menganggap tren sebelumnya masih akan berlanjut.

Sideways dapat juga dianggap sebagai “temporary pause” dari pergerakan sebelumnya. Anggaplah suatu berita bagus telah tersebar sehingga Investor berbondong – bondong membelinya (Panic Buying) sebelum menganalisis berita tersebut. Pada suatu waktu, Investor merasa perlu Cooling Down dan benar – benar menganalisis berita tersebut, dampaknya terhadap emiten dan apakah valuasi masih wajar atau tidak. Kondisi Cooling Down inilah yang biasanya membentuk pergerakan Sideways yang The Primary Trader perkirakan sebagai bagian dari pola Continuation.

Price Action determine the trend

Poin ini menekankan bahwa Analisis Teknikal harus menggunakan metode Analisis Teknikal (Price Action) untuk menentukan kondisi yang diamati oleh Analisis Teknikal (Trend). Hal ini karena seringkali Trend adalah suatu “akibat” oleh suatu “sebab” yang berasal dari ilmu Makro Ekonomi maupun ilmu Analisis Fundamental. Mungkin benar bahwa suatu Uptrend disebabkan oleh siklus ekonomi ekspansif atau ketika harga saham sudah sangat murah. Namun seorang Analisis Teknikal sebaiknya tidak menyebutkan alasan – alasan tersebut untuk mengatakan pasar saham sedang Uptrend atau Downtrend.

Sebagaimana yang telah disebutkan dalam ilmu dasar Analisis Teknikal mengenai Trend, untuk dapat mengatakan harga aset sedang dalam Uptrend maka harus ada kondisi “Higher High – Higher Low“. Untuk dapat mengatakan harga aset sedang dalam Downtrend maka harus ada kondisi “Lower High – Lower Low“.

Analis Teknikal sudah harus percaya bahwa ketika terjadi kondisi (katakanlah) Lower High – Lower Low maka Investor memperkirakan akan ada kondisi yang buruk pada aset tersebut. Dengan demikian, harga aset tersebut akan bergerak Downtrend.

Only closing price is used

Hal ini juga memperjelas bahwa objek studi dari Analisis Teknikal adalah harga aset. Oleh karena itu, penggunaan objek selain harga oleh Analis Teknikal dapat diperdebatkan. Namun tentu suatu ilmu terlebih lagi pengguna ilmu tersebut juga harus tetap terbuka menerima perkembangan zaman.

The Primary Trader merasa cukup terbuka sehingga poin ini dapat dikembangkan menjadi tidak hanya Closing Price saja yang digunakan tapi juga Open Price, Low Price, High Price serta Volume (jumlah lembar), Value (nilai transaksi dalam mata uang tertentu) hingga Open Interest (total kontrak berjangka yang tidak diselesaikan).

Namun tetap objek harga terpenting dalam Analisis Teknikal adalah Closing Price.


Demikian pembahasan Dow Theory dari The Primary Trader. Nantikan edukasi selanjutnya. Semoga bermanfaat.

Dua Sektor Yang Berpotensi Menarik Di Tengah Trend WFH : Tower Dan Telekomunikasi

Ditengah PSBB karena wabah Covid-19 di banyak daerah serta mulai larangan mudik dalam rangka mengendalikan penyebaran wabah, The Primary Trader ingin melihat dua sektor yang mungkin mendapat sentimen sentimen positif yaitu sektor Tower dan sektor Telekomunikasi.

Sektor Tower dapat terus berjalan seperti biasa dan memperluas jaringan dan pembangunan menara karena sektor ini termasuk yang diizinkan berjalan ditengah PSBB. Selain itu, saat ini pembangunan menara dilakukan di daerah yang relatif terpencil sehingga masih relatif aman. Peningkatan permintaan Data (yang dipicu oleh tren WFH) yang pasti akan menjamin kebutuhan akan menara.

Data Traffic tumbuh secara eksponensial dan sangat mungkin di 1Q20 ini tumbuh lebih tinggi dari sebelumnya. Mirae perkirakan pertumbuhan data sebesar 17% per tahun dari 2019 – 2021. Permintaan data yang terus tumbuh (tinggi) inilah yang menjamin permintaan menara akan tetap ada dan menjaga bisnis di Sektor Tower tetap baik.

Meski demikian, bukan berarti emiten Sektor Tower dan Sektor Telekomunikasi tidak terpukul karena wabah Covid-19 dan PSBB. Ada potensi penurunan karena aktifitas komunikasi ikut turun. Namun seiring dengan tren Work From Home, kebutuhan internet sangat mungkin meningkat terutama untuk emiten Telekomunikasi yang fokus di Data yaitu EXCL. Pendapatan EXCL dari bisnis Data mencapai 76% sehingga tren WFH yang memaksa menggunakan internet sendiri berpotensi mendorong permintaan Data.

Menurut estimasi Mandiri Sekuritas, permintaan Indihome dari TLKM berpotensi meningkat dari Rp17.8 triliun di tahun 2019 menjadi Rp22 triliun (naik 23% YoY). Namun kontribusi Indihome terhadap pendapatan TLKM hanya ~15% sehingga relatif kecil. Sehingga meskipun ada penambahan yang tinggi dari Indihome, mungkin kontribusinya terhadap TLKM relatif tidak signifikan – terlebih lagi bila aktifitas komunikasi dari Telkomsel berkurang. Porsi pendapatan Telkomsel terhadap TLKM mencapai 70%. Hal ini sempat membuat Menteri BUMN Erick Thohir mengatakan lebih baik tidak ada Telkom Tbk.

Oleh karena itu, The Primary Trader melihat pergerakan Sektor Tower di tahun 2020 sangat bagus dibanding IHSG dan Sektor Telekomunikasi. The Primary Trader menyimpulkan permintaan Data yang tinggi mungkin lebih positif untuk sektor Tower dibanding sektor Telekomunikasi.

Sektor Tower berpotensi berada dalam trend Outperform IHSG setelah berhasil melewati Resistance dari level tertinggi di 3Q17. Sementara Sektor Telekomunikasi masih harus bergerak naik dan menguji Resistance yang cukup kuat dari sejak 3Q18. Resistance ini berhasil menahan 2x kenaikan Sektor Telekomunikasi.

Saham TOWR dari sektor Tower berhasil mencatat Return 10% YTD dan menjadi satu – satunya saham yang mencatat Return Positive di 2 sektor yang dibahas. Saham TBIG, meski mencatat Negative Return YTD namun lebih tinggi dari Negative Return IHSG dan saham – saham sektor Telekomunikasi.

The Primary Trader melihat saham TOWR sedang menghadapi Resistance kuat di ~Rp915. Level ini berhasil menahan TOWR dari sejak akhir 2015 dan telah kurang lebih 3x diuji namun masih gagal di-Breakout. Menggunakan Fibonacci Retracement, setelah TOWR berhasil Breakout Rp915, ada potensi Uptrend jangka panjang menuju setidaknya Rp1,050. The Primary Trader perkirakan TOWR gagal Breakout dalam waktu dekat namun masih memerlukan satu kali Tech. Correction (turun mendekati Rp750 – Rp850) sebelum berhasil Breakout Rp915.

The Primary Trader melihat TBIG bergerak dalam Downtrend Channel dari sejak Oktober 2019. Namun Downtrend Channel tersebut terlihat sebagai Bullish Continuation dari Uptrend sejak 2Q19 (dari Rp600). Ada potensi lanjutan Uptrend jangka panjang untuk TBIG menuju Rp1,500 namun tidak dalam waktu dekat. TBIG masih harus Breakout Resistance dari Downtrend Channel (yang saat ini) di Rp1,100. The Primary Trader perkirakan TBIG akan terkoreksi terlebih dahulu mendekati Rp900 – Rp1,000 untuk kemudian mengakhiri Downtrend Channel dan menguji Resistance kuat di Rp1,350 sebelum ke Rp1,500.

Sektor Menarik Di Tengah Krisis COVID-19 : Farmasi Dan Rumah Sakit

Pergerakan emiten di sektor Farmasi dan Rumah Sakit sepanjang tahun 2020 ini dapat menjadi pilihan. Hal ini tentu karena selain menjadi sektor terdepat dalam menangani wabah Covid-19, tentu diharapkan ada potensi keuntungan (setidaknya ada potensi kenaikan pendapatan).

The Primary Trader mencatat pergerakan 7 saham yaitu : Sektor Farmasi (KAEF, INAF dan KLBF) serta Sektor Rumah Sakit (MIKA, HEAL dan SILO) sebagai berikut :

Secara relatif, The Primary Trader melihat potensi yang sangat menarik pada sektor Farmasi (garis orange). Hal ini karena setelah bergerak Downtrend sejak 2Q19, terlihat pola Bullish Reversal yang cukup menjanjikan untuk merubah Downtrend menjadi Uptrend. Oleh karena itu, sektor Farmasi sangat berpotensi dan layak diperhatikan.

Sektor Rumah Sakit (garis hijau) masih terlihat dalam Downtrend namun The Primary Trader menyukai potensi kenaikan dari saham – saham RS. Hal ini terlihat dari penurunan yang terjadi dalam 3 minggu terakhir tidak lebih rendah dari titik penurunan terakhir. Namun saham – saham RS masih harus naik melewati garis Resistance terdekat.

Sejak awal Maret 2020, sektor Farmasi terlihat sangat Outperform IHSG sementara sektor Rumah Sakit relatif sedikit Undeperform IHSG.

Meski demikian, The Primary Trader melihat secara jangka panjang, sektor Farmasi berpotensi baru saja memulai Trend Outperform terhadap IHSG. Sementara sektor Rumah Sakit mungkin mengakhiri Trend Outperform-nya terhadap IHSG. Pergerakan sektor Rumah Sakit relatif terhadap IHSG menunjukkan potensi pembentukan pola Bearish Reversal (Double Top).

Pilih Mana?

The Primary Trader menyukai tidak hanya saham yang dalam Uptrend namun juga dalam Trend Outperform terhadap IHSG. Bila melihat masing – masing pergerakan saham (relatif terhadap IHSG) maka terlihat saham Farmasi BUMN (INAF dan KAEF) sangat Outperform sementara saham – saham Farmasi dan Rumah Sakit lain cukup Outperform IHSG.

Hal ini cukup wajar mengingat INAF dan KAEF mungkin akan diminta pemerintah untuk memproduksi obat – obat untuk penyakit Covid-19 ini. Ditengah wabah Covid-19 ini, The Primary Trader melihat saham keduanya cukup menarik.

Beli Saham – Saham Yang Dibeli Oleh Manajemen / Owner-nya

The Primary Trader menyukai saham – saham yang dibeli oleh manajemen (direksi) maupun owner atau pemegang sahamnya. Hal ini menunjukkan beberapa hal yaitu :

  • Saham tersebut sudah sangat murah dibandingkan dengan valuasi wajarnya (walaupun setelah disesuaikan dengan kondisi yang mungkin sedang memburuk pada saat itu)
  • Penurunan harga saham tidak wajar dan tidak sesuai dengan kondisi pasar, kondisi perusahaan maupun kondisi ekonomi
  • Harga saham turun karena sentimen lain seperti dikeluarkan dari indeks acuan, karena Cover Short ataupun karena proses Repo

Perlu dicatat bahwa pihak yang pastinya paling memahami kondisi perusahaan dan bisnis sektor tersebut adalah manajemen dan atau pemilik / pemegang saham. Oleh karena itu, ketika mereka membeli atau menambah kepemilikannya tentunya adalah karena mereka mengetahui sesuatu yang tidak diketahui orang banyak.

Emiten memang wajib memberikan keterbukaan informasi namun aturan tersebut pun memberikan manajemen batasan dan rambu. Pemilik saham pun tentu memiliki rencana – rencana yang belum bisa dan belum perlu diumumkan ke publik sehingga ketika pemilik saham tersebut yakin (dan setelah mengikuti prosedur yang berlaku), pemilik saham serta manajemen dapat membeli saham tanpa menyalahi aturan. Masyarakat dapat mengikuti langkah – langkah manajemen dan pemilik saham.

Direksi Beli Saham

Bisnis.com melaporkan empat direksi membeli sahamnya yaitu :

  • Jahja Setiaatmadja : Presiden Direksi BBCA
  • Andre Sukendra : Direktur Utama MYOR
  • Prijono Sugiarto : Presiden Direktur ASII
  • Harry Sanusi : Presiden Direktur KINO
View this post on Instagram

Direksi Emiten Belanja Saham Saat Pandemi, Kamu Gimana? 🤔 _ Sejumlah direksi dari perusahaan terbuka menambah kepemilikan sahamnya di tengah pandemi Covid-19. Nah, kali ini Bisnismin ingin mengumpulkan direksi dari 4 emiten yang sudah menambah kepemilikan saham mereka nih. _ Misalnya, ada Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk. Jahja Setiaatmadja, Direktur Utama PT Mayora Indah Tbk. Andre Sukendra, Presiden Direktur PT Astra International Tbk. Prijono Sugairto, dan Presiden Direktur PT Kino Indonesia Tbk. Harry Sanusi. _ Corporate Secretary BCA Raymon Yonarto menjelaskan bahwa tujuan bertambahnya saham jajaran direksi emiten berkode BBCA adalah untuk investasi jangka panjang. _ Sementara itu, Corporate Secretary MYOR Yuni Gunawan mengatakan bahwa bertambahnya kepemilikan saham Direktur Utama MYOR bertujuan untuk investasi dengan status kepemilikan saham langsung. _ Di tempat yang berbeda, turunnya harga saham ASII pada Maret 2020 seakan jadi momentum bagi para direksi menambah kepemilikan sahamnya. Presiden Direktur ASII Prijono Sugiarto tercatat memborong 5,92 juta lembar saham ASII sepanjang 2020. _ Adapun demikian, Presiden Direktur Kino Indonesia Harry Sanusi menilai tertekannya IHSG akibat pandemi Covid-19 bukanlah karena fundamental bisnis dan bubble. "Kalau [pandemi Covid-19] selesai, pasti ekonomi akan balik kembali," demikan ungkapnya. _ Melihat sejumlah direksi perusahaan terbuka yang justru berbelanja saham di tengah pandemi Covid-19, gimana nih pendapat Sobat Bisnis? Ingin ikut beli juga atau justru punya pendapat lain? 🤔 _ Kita obrolin di kolom komentar yuk, tapi jangan lupa baca berita lengkapnya dengan klik link di bio @bisniscom ya. 🤗 _ #InfografikHarianBisnisCom #DireksiPerusahaanTerbuka #ASII #KINO MYOR #BBCA #Covid19 #VirusCorona #BelanjaSahamSaatPandemi

A post shared by Bisnis.com (@bisniscom) on

Dari keempat emiten tersebut (BBCA, MYOR, ASII dan KINO) dan dengan menggunakan Ichimoku Kinko Hyo, The Primary Trader ingin melihat saham MYOR sangat menarik dalam jangka pendek – menengah karena satu – satunya dari keempat saham tersebut yang telah berada di atas Red Cloud (mengindikasikan Uptrend). Selanjutnya ada KINO yang saat ini sedang mendekati Red Cloud atau Resistance di kisaran Rp2,900 – 3,200.

Di antara ASII dan BBCA, The Primary Trader lebih memilih BBCA karena Red Cloud-nya relatif lebih kecil dibanding ASII. Ketebalan Red Cloud pada Ichimoku Kinko Hyo menunjukkan kekuatan Resistance dimana semakin tebal maka Resistance semakin kuat.

Secara urut, dari keempat emiten tersebut, berikut adalah preferensi The Primary Trader : MYOR > KINO > BBCA > ASII.

Sekilas menggunakan Analisis Fundamental, tentu sektor Konsumsi terbukti yang paling bertahan dalam kondisi krisis. Memang MYOR dan KINO bukanlah konsumsi utama seperti UNVR, INDF ataupun ICBP. Namun disaat banyak pegawai (kelas menengah ke atas) yang Work From Home, permintaan kopi (dan makanan ringan) meningkat. Tentu hal ini menjadi sentimen positif untuk MYOR dan KINO.

Di saat PSBB dan Pandemi serta paska Pandemi di tahun 2020, permintaan mobil sangat mungkin turun sehingga kondisi ini menjadi sentimen negatif bagi ASII maupun grupnya seperti AALI dan UNTR. Mungkin untuk AALI masih ditopang oleh sentimen B30 di Indonesia dan B20 di Malaysia serta persiapan B50 dalam 2-3 tahun ke depan di Indonesia. Namun untuk UNTR, permintaan alat berat serta harga batubara sedang tidak bagus. Penjualan Komatsu turun -70% YoY di 4Q19 (!). Bisnis tambang emas UNTR mungkin bagus namun porsinya dari pendapatan UNTR masih relatif kecil (17% di tahun 2019).

Secara umum, BBCA adalah proxy bagi IHSG serta menjadi saham utama bagi Investor Asing dan Investor Institusi Domestik. Terlepas dari kondisi sektor Perbankan dan BBCA itu sendiri, bila Investor berminat membeli saham maka BBCA pasti menjadi incaran.

Lihat pembahasan ASII dan BBCA sebelumnya di sini.

Owner Menambah Kepemilikan

The Primary Trader menyukai TP Rachmat dan saham – sahamnya. Oleh karena itu ketika diberitakan Teddy Rachmat (panggilannya) membeli ASSA, ada potensi saham tersebut menarik. Pada bulan Februari 2020, kepemilikan TP Rachmat naik dari 5.02% menjadi 5.14%.

Saham Adi Sarana (ASSA) Diborong TP Rachmat, Harganya Langsung Bergerak Naik

Menggunakan indikator yang sama, tampaknya ASSA masih dalam Downtrend dan akan sulit berubah menjadi Uptrend karena Red Cloud-nya cukup tebal di rentang Rp360 – Rp440. Meskipun bergerak di bisnis otomotif namun The Primary Trader menyukainya karena ada kemungkinan tren ke depan adalah masyarakat tidak lagi membeli mobil namun menyewa. Begitupun dengan perusahaan yang terbukti lebih hemat dengan menyewakan mobil ke pegawainya dibanding membeli lalu meminjamkan mobil tersebut ke pegawai atau untuk operasional.

Tentang Kami

Pendapatan ASSA di tahun 2019 naik 25% YoY dengan pertumbuhan bisnis penyewaan kendaraan sebesar 12% YoY. Memang ASSA mencatat penurunan laba bersih sebesar -23% YoY dari Rp142 miliar menjadi Rp92 miliar. Namun hal tersebut dikarenakan investasi bisnis baru antara lain logistik Anteraja (yang harusnya mencatat kinerja yang bagus di saat WFH dan PSBB saat ini). ASSA masih akan ekspansi (senilai Rp2 triliun) untuk membeli armada baru serta untuk mengembangkan bisnis logistik dan automotive marketplace.

Masih ada beberapa cerita dimana owner menambah kepemilikan sahamnya yaitu keluarga Riady menambah kepemilikan di LPKR serta Pieter Tanuri memborong BOLA (Bali United). Namun The Primary Trader lebih memilih MYOR, KINO, BBCA, ASII dan ASSA. Diantara kelima saham tersebut, The Primary Trader menyukai MYOR dan KINO.

Technically Speaking Untuk MYOR dan KINO

MYOR berpotensi segera Breakout Down Trendline dari sejak Juli 2018 di Rp3,240. Dengan Breakout Down Trendline tersebut, ada potensi Downtrend berakhir. Namun The Primary Trader melihat pergerakan MYOR dari sejak awal tahun 2020 hampir membentuk pola Bullish Reversal (mirip Inverted Head and Shoulders). Namun untuk itu, MYOR perlu terkoreksi sedikit mendekati Rp1,800an. Memang MYOR bisa mengawali Uptrend menuju Rp2,500 langsung setelah Breakout Rp2,100 namun The Primary Trader tetap memperkirakan (atau mengharap) ada penurunan untuk mengonfirmasi Bullish Reversal sehingga Uptrend yang terjadi cukup kuat dan stabil.

KINO masih perlu pergerakan lagi untuk mengakhiri Downtrend dari sejak Oktober 2019. Namun The Primary Trader cukup menyukai lowest KINO di Rp2,000 karena apabila dilihat dari Oktober 2018 (Rp1,500), KINO membentuk Higher Low yang merupakan ciri Uptrend. Untuk mengakhiri Downtrend jangka menengah dan melanjutkan Uptrend jangka panjang, KINO harus Breakout Rp2,950 atau turun (Tech. Correction) tapi tidak lebih dalam dari Rp2,000. Setelah Breakout Rp2,950, KINO setidaknya dapat naik menuju Rp3,800.

Minggu Earning Season Penentu : Melanjutkan Downtrend Atau Mempertahankan Bottoming

Indikasi Dari Data Ekonomi

The Primary Trader mencoba melihat indikator ekonomi dari awal tahun 2020 untuk melihat potensi pendapatan emiten – emiten. Tiga indikator tersebut adalah :

  • Manufacturing PMI
  • Retail Sales YoY
  • Tourist Arrivals

Dari data ekonomi di atas, aktifitas pabrik (Manufacturing PMI) di bulan Maret 2020 terlihat turun drastis dari 51.9 di bulan Februari 2020. Penurunan tersebut adalah yang tertajam dan menunjukkan output produksi serta order baru turun tajam. Dampaknya adalah penurunan pendapatan dan peningkatan pengangguran yang tentu kurang baik bagi ekonomi. Data Manufacturing PMI di bawah 50 pun mengindikasikan kontraksi ekonomi.

Retail Sales Indonesia di bulan Februari 2020 turun -0.8% YoY dan merupakan kelanjutan dari bulan Desember 2020 (-0.5% YoY). Biasanya Retail Sales di akhir tahun cenderung naik (belanja Natal dan Liburan Tahun Baru) dan cukup jarang penjualan ritel turun di Desember kecuali Desember 2019. Hal ini cukup mengkhawatirkan karena berarti Retail Sales sudah melemah di akhir tahun 2019. The Primary Trader perkirakan Retail Sales akan semakin turun setelah dimulai PSBB Jakarta pada bulan April 2020. Siklus perbaikan Retail Sales dari bulan ke bulan – dimulai dari awal tahun tampaknya tidak terjadi di tahun 2020 ini.

Indonesia Retail Sales YoY

Terjadi penurunan wistawan global ke Indonesia di bulan Februari 2020 semenjak banyak negara mulai memberi Travel Warning sampai tidak memberikan izin keluar masuk. Indonesia mulai membatasi izin visa sejak Maret 2020 dan menutup sepenuhnya di awal April 2020. Dengan demikian, tentu Tourist Arrival akan semakin turun dan dampaknya terhadap industri perhotelan akan cukup besar.

Occupancy Rates hotel di Indonesia pada awal tahun 2020 diperkirakan berada di kisaran 40% – 50% dengan tendensi terus turun. Hal ini relatif lebih parah dari tahun 2014 dan 2015.

Dampak dari semua itu adalah peningkatan pengganguran yang berarti penurunan daya beli masyarakat. Tercatat ada sebesar 2.8 juta pekerja yang terkena dampak dimana 60% diantaranya dirumahkan tanpa gaji (Unpaid Leave) dan 27%-nya terkena PHK.

wabah PHK
https://katadata.co.id/infografik/2020/04/18/wabah-phk-akibat-covid-19

Indikasi Dari Data Sektor Dan Emiten

Bank Indonesia memang telah menurunkan BI 7DRR Rate cukup agresif dari awal tahun 2020 sebesar 50 bps (2x) dari 5% menjadi 4.5%. Hal ini diharapkan dapat mendorong pertumbuhan kredit (dan menjaga NPL) namun tampaknya kredit terus turun dari 2H19 baik kredit Investment dan Micro – bahkan untuk kredit Working Capital yang sempat tumbuh tinggi akhir 2018, kali ini turun tajam sepanjang tahun 2019 sampai 1Q20. Tentu hal ini bukan indikasi bagus untuk kinerja sama Bank di 1Q20.

Pangsa pasar mobil merek ASII memang meningkat menjadi 60% di awal tahun 2020 (dari ~45% di akhir 2019). Namun hal ini karena penjualan merek mobil non-ASII di bulan Maret 2020 turun -15.4% dari bulan Februari 2020 dan bahkan -22.9% dari Maret 2019. Penjualan mobil ASII di Maret 2020 naik 6.6% MoM sehingga dapat meningkatkan pangsa pasar. Namun kenaikan penjualan mobil ASII didominasi oleh mobil LCGC (naik 22% MoM dan 4.4% YoY) yang mungkin tidak banyak menolong Revenue maupun Net Income ASII.

Penjualan semen nasional di 1Q20 turun -4.9% dari 1Q19 setelah sempat naik 6.1% YoY pada 4Q19. Hal ini tentu akan membuat kinerja semen kurang baik. Seiring dengan penggunaan semen di Indonesia banyak untuk properti, maka dapat dikatakan penjualan properti di awal tahun 2020 pun akan kurang baik. Pemberlakuan PSAK 72 mengenai pengakuan pendapatan properti pun menjadi salah sentimen penurunan Marketing Sales. Seperti contoh, Marketing Sales CTRA di 2Q10 memang baik (2% YoY) namun tentu kemungkinan besar Marketing Sales akan turun di bulan Maret 2020.

Potensi Pergerakan IHSG

The Primary Trader masih meyakini akan ada One Last Drop sebelum IHSG mengawali Uptrend. One Last Drop tersebut adalah bagian dari pembentukan Bottoming (Bullish Reversal) untuk mengakhiri Downtrend sekaligus mengawali Uptrend. The Primary Trader perkirakan One Last Drop IHSG dapat menuju 3,750 – 4,000.

Tentu ada kemungkinan IHSG ternyata tidak lagi turun mendekati 4,000 namun segera kembali menuju level di atas 6,000. Untuk dapat mengawali kenaikan menuju 6,000, The Primary Trader ingin melihat IHSG Breakout 4,850 karena di level tersebut adalah Lower High sejak awal tahun 2020.

Dengan bantuan indikator, memang ada potensi kenaikan untuk IHSG dalam waktu dekat. Menggunakan Bollinger Band, saat ini IHSG berada di atas Middle Band yang artinya dalam Uptrend – yang kemungkinan adalah Uptrend jangka pendek. Selain itu, potensi kenaikan diperkuat dengan indikator Stochastic Oscillator yang menunjukkan sinyal Buy dan dari level Oversold. The Primary Trader pun menyukai fakta bahwa Bollinger Band cenderung melebar yang artinya volatilitas akan kembali datang. Tentu diharapkan akan ada volatilitas saat IHSG sedang bergerak naik (walau ada juga risiko dimana IHSG turun dalam). Ada harapan volatilitas meningkat dan IHSG sedang dalam kenaikan karena tren Middle Band – yang tidak lain ada MA20 – sedang perlahan mengarah ke atas (dilihat dari Middle Band Direction yang mulai mencatat nilai positif).

Dengan bantuan indikator Ichimoku Kinko Hyo, ada potensi IHSG bergerak naik karena indikator Tenkan-Sen dan Kijun-Sen telah Bullish Crossover. Namun Downtrend tampaknya masih akan terjadi karena IHSG dihalangi oleh Red Cloud yang cukup tebal dan seringkali menjadi Resistance yang kuat. Ichimoku Kinko Hyo memperkuat ekspektasi The Primary Trader bahwa Downtrend masih mungkin terjadi, IHSG berpotensi mencatat One Last Drop sebelum terbentuk Bullish Reversal yang akan mengawali Uptrend.

Semoga wabah pandemi segera selesai.

Dow Theory – Teori Dasar Terpenting Menurut The Primary Trader (2)

Artikel edukasi ini adalah bagian kedua. Lihat bagian pertama di sini.

Indexes Must Confirm Each Other

Pada awal pembentukan Dow Theory, saat itu hanya adalah dua indeks yaitu Dow Jones Industrial Index (DJIA) dan Dow Jones Transportation Index (DJTA). Secara umum, kondisi pasar modal mewakili kondisi ekonomi negara tersebut. Dan pada saat itu, Amerika Serikat sedang dalam fase bertumbuh sebagai negara berkembang yang ditopang oleh sektor industri (besi dan baja) serta sektor transportasi (kereta api). Oleh karena itu, untuk mengatakan bahwa ekonomi AS sedang bertumbuh maka kondisi kedua sektor tersebut harus tumbuh. Tentu kedua indeks, DJIA dan DJTA harus juga dalam kondisi naik.

Menurut The Primary Trader, kalimat Dow Theory tersebut tidak harus diwakili oleh berbagai indeks (dalam hal ini DJIA dan DJTA) namun dapat juga mewakili baik saham maupun aset lain. The Primary Trader ingin mengganti kata “Indexes” menjadi “Asset Classes” sehingga :

Asset Classes Must Confirm Each Other

The Primary Trader

Tentu kalimat tersebut memperluas arti Uptrend maupun Downtrend secara umum yang memang awalnya dikhususkan pada pasar saham.

Untuk bursa saham Indonesia (IHSG), The Primary Trader melihat indeks sektoral dengan kapitalisasi besar seperti Finance, Consumer, Misc. Industry (ASII) dan Basic Industry harus bergerak dalam arah (trend) yang sama.

Pada poin Dow Theory ini, ada beberapa hal penting yang dapat dikembangkan :

  1. Intermarket Analysis
  2. Stock Weight
  3. Stock Correlation to Index

Masing – masing poin tersebut mungkin akan dibahas The Primary Trader di artikel terpisah.

Volume Must Confirm The Trend

The Primary Trader ingin merubah poin Dow Theory tersebut menjadi :

Volume Must Confirm The Uptrend

The Primary Trader

Volume disini memang menunjukkan jumlah lembaran saham yang diperdagangkan. Namun dalam arti lebih jauh, volume diartikan juga sebagai uang yang diinvestasikan yang pada akhirnya juga berarti banyaknya Investor yang berinvestasi pada aset tersebut. Untuk mengonfirmasi suatu trend maka perlu dilihat apakah banyak Investor yang ikut membeli atau banyak uang yang masuk ke suatu aset tersebut.

Istilah “Falling On It’s Own Weight” diaplikasikan ke Downtrend sehingga ketika terjadi Downtrend, Volume tidak penting diperhatikan. Kenaikan Volume tidak berarti Downtrend telah terkonfirmasi, begitupun apabila Downtrend terjadi dengan Volume tinggi, tidak berarti Downtrend terkonfirmasi.

Uptrend dan Downtrend sebenarnya dikonfirmasi berdasarkan Price Action (sesuai dengan Dow Theory yang jarang disebut : Price Action determine the trend). Namun khusus untuk Uptrend, Volume perlu digunakan untuk memberi konfirmasi tambahan. Sementara untuk Downtrend, Volume dapat dihiraukan karena apabila terjadi Panic Selling, harga bisa turun hanya karena beberapa Investor besar menjual aset tersebut diharga diskon (sementara Investor lain tidak ikut menjual atau meminta harga beli yang sangat rendah).

A Trend Is Assumed To Be In Effect Until It Gives Definite Signals It Has Reversed

Ini adalah poin dari Dow Theory yang terpenting dan harus menjadi “Habit” bagi setiap Analis Teknikal. Selain itu, hal ini menunjukkan bahwa pada dasarnya tidak mudah untuk merubah pandangan Investor terhadap suatu aset. Tentu wajar karena Investor yang telah mengeluarkan dana banyak untuk membeli suatu aset pastinya sudah berdasarkan riset yang mendalam dan sudah banyak membuat estimasi untuk beberapa tahun ke depan. Oleh karena itu, ketika Investor memutuskan untuk membeli suatu aset (dalam jumlah banyak), tidak banyak hal kecil yang dapat membuat Investor ingin menjual aset tersebut, apalagi dalam waktu singkat. Perlu hal besar (dan biasanya dalam waktu yang tidak pendek) untuk merubah opini tersebut dan membuat (atau memaksa) Investor menjual aset tersebut. Keyakinan The Primary Trader tersebut adalah berdasarkan pengalaman pribadi sebagai Analis maupun Investment Manager.

Analisis Teknikal harus percaya bahwa Primary Uptrend (atau Primary Downtrend) akan terjadi setidaknya 9 – 12 bulan ke depan. Dan selama Primary Trend masih bertahan, pergerakan – pergerakan kecil (terutama yang berlawanan arah) harus dianggap sebagai Intermediate Trend atau Minor Trend. Sekalipun ternyata ada pergerakan Intermediate atau Minor yang terlihat melewati (Breakout atau Breakdown) Primary Trendline, Analis Teknikal sebaiknya menganggap hal tersebut sebagai False Break (salah satu karakteristik harga ketika mendekati Support atau Resistance). Dan khusus untuk perubahan dari Downtrend ke Uptrend, harus memperhatikan poin Dow Theory “Volume Must Confirm The Trend”.

The Primary Trader menyukai perubahan tren yang diikuti oleh pola Reversal. Apabila melihat lagi teori umum Chart Pattern maka dapat disimpulkan bahwa pola Reversal adalah suatu Major Pattern yang waktu terbentuknya tidaklah singkat (atau setidaknya lebih lama dari Minor Pattern yang umumnya adalah pola Continuation). Definisi Analisis Teknikal dari buku terpenting bagi The Primary Trader adalah :

The study of market action, primarily through the use of charts, for the purpose of forecasting future price trends

Technical analysis of the financial markets
by john murphy

Jelas terlihat bahwa trend menjadi sangat penting bagi Analis Teknikal dan salah satu cara untuk memperhatikan trend adalah dengan menganggap bahwa tren itu tidak berubah sampai ada konfirmasi mengenai perubahan trend itu sendiri.


Bagian ketiga akan membahas mengenai 3 poin terakhir dari Dow Theory yang jarang digunakan namun cukup penting menurut The Primary Trader.

Ekonomi China Turun -6.8% YoY. Apakah Global Bearish Market Berlanjut?

Ekonomi China di 1Q20 turun sebesar -6.8% YoY, penurunan pertama sejak tahun 1992. Di saat yang sama, Retail Sales China bulan Maret 2020 pun turun -15.8% YoY. Namun data tersebut cenderung membaik karena Retail Sales bulan Januari dan Februari 2020 turun sebesar -20.5% YoY. Pada bulan Maret 2020, Wuhan masih Lockdown sementara data Retail Sales sudah membaik. Ada harapan setelah Lockdown dibuka (di bulan April 2020), Retail Sales China pun membaik yang mendorong pertumbuhan ekonomi China di 2Q20.

China GDP Annual Growth Rate

The Primary Trader ingin mencatat bahwa setelah Lockdown, ternyata di Wuhan tidak ‘business as usual. Memang Manufacturing PMI China di bulan Maret 2020 sudah kembali di level 50 sehingga aktifitas produksi seperti pabrik berjalan seperti biasa, bahkan cenderung mengejar target produksi di awal tahun 2020 (atau setidaknya paska Chinese New Year). Namun industri yang berorientasi konsumsi seperti restoran dan ritel di mal masih relatif sepi. Hal ini dikhawatirkan akan ada perubahan tren konsumsi masyarakat untuk jangka panjang. Kebiasaan akan memasak dirumah selama Lockdown atau (yang The Primary Trader perkirakan) membeli barang lokal karena barang impor sempat langka atau mahal akan mempengaruhi banyak bisnis.

Shanghai Composite (Shcomp) masih dalam Downtrend Channel sejak April 2019 (periode Trade War AS – China). Di awal tahun 2020, Shcomp hampir Breakout Resistance dari Downtrend Channel di ~3,100 untuk mengakhiri Downtrend dan mengawali Uptrend menuju 3,600, level tertinggi sebelum Trump mengancam Trade War. Saat ini Shcomp masih harus Breakout 3,100 untuk mengawali Uptrend menuju level tersebut.

Shcomp memang bursa saham utama global dengan kinerja yang terbaik sejak awal tahun 2020 (bahkan ketika COVID-19 menjadi Pandemi global di Maret 2020). Sejak pertengahan Maret 2020, bursa global cenderung bertahan dan perlahan naik – meskipun belum kembali ke level awal tahun 2020.

Live Chart here

S&P500 sendiri berhasil naik 30% dari pertengahan Maret 2020 dan ada kemungkinan S&P500 terus naik menuju 3,000 setelah Investor memperkirakan laporan keuangan 1Q20 dapat lebih baik dari estimasi. Selain itu, rencana re-opening ekonomi (dengan membuka Lockdown) menjadi katalis positif karena Investor mengharapkan wabah COVID-19 di AS telah terkendali. The Primary Trader mengkhawatirkan Lockdown yang terlalu dini dapat kembali meningkatkan penyebaran wabah.

Untuk dapat mengonfirmasi akhir Downtrend, S&P500 perlu naik dan Breakout 2,930 yang merupakan level Fibonacci 61.8% yang diproyeksikan ke bawah (Downtrend Projection). The Primary Trader masih perkirakan S&P500 akan tertahan di kisaran 2,900an, tidak jadi Breakout 2,930 dan kembali melanjutkan Downtrend menuju 1,400.

Ada kemungkinan S&P500 kembali turun sebagai One Last Drop dan The Primary Trader melihat kemungkinan yang cukup besar S&P500 tidak turun lebih dalam dari 2,180 – 2,350. Dengan demikian, S&P500 membentuk Bottoming untuk mengakhiri Downtrend dan mengawali Uptrend. Kunci utamanya adalah S&P500 harus turun di bawah 2,700 dalam 2 minggu ke depan untuk melihat ancaman penurunan S&P500. Di bulan April 2020 ini pun The Primary Trader akan memperhatikan apakah S&P500 berhasil Breakout 2,930 untuk melihat potensi Uptrend.

Emiten di Indonesia pun segera memasuki musim laporan keuangan 1Q20. Tentu ada kemungkinan perlambatan namun pertanyaannya apakah sesuai dengan estimasi, lebih baik atau justru lebih buruk dari estimasi. The Primary Trader akan mencoba melihat informasi dan chart-nya terlebih dahulu.

Semoga wabah cepat selesai.

Melihat Potensi Bottoming IHSG Dari Saham – Saham Dengan Market Cap Terbesar

Berikut adalah Top 10 saham dengan Market Cap terbesar pada IHSG (per tanggal 16 April 2020) :

The Primary Trader hanya mengambil 7 dari saham tersebut dan membandingkannya dengan IHSG sejak awal tahun 2020 :

Live Chart here

Dari chart di atas, ada dua golongan yaitu Outperform (BBCA, TLKM, UNVR dan HMSP) dengan bobot total sebesar 26.55% dari IHSG serta Underperform (BBRI, BMRI dan ASII) dengan bobot total sebesar 12.7% dari IHSG.

The Primary Trader melihat prospek bisnis TLKM di tengah pandemi ini cukup baik karena ditopang oleh Telkomsel serta Indihome yang sangat diperlukan ketika tren Work From Home (WFH) meningkat. Sebagai perbandingan, pada minggu terakhir bulan Maret 2020, Data Traffic internet EXCL meningkat 15% dari minggu sebelumnya. Saat itu adalah dimana tren WFH mulai terjadi.

Sementara bisnis UNVR mungkin sedikit terganggu namun setidaknya tidak berkurang banyak karena produknya adalah kebutuhan sehari – hari (yang tentu tetap diperlukan). The Primary Trader tidak ingin banyak berkomentar mengenai HMSP tapi sepertinya ancaman wabah Covid-19 tidak mengurungkan niat perokok untuk tetap merokok.

Dengan demikian, keempat saham di golongan Outperform memiliki prospek yang menarik sehingga mungkin akan terus menjaga IHSG untuk tidak turun lebih dalam. Ancaman utama saat ini terletak pada bisnis saham di golongan Underperform yaitu BBRI, BMRI dan ASII.

Pada Maret 2020, ASII memang berhasil meningkatkan Market Share dari sekitar 45% di Desember 2019 menjadi 60%. Tampaknya hal ini disebabkan oleh persaingan di industri otomotif yang berkurang. Tren penjualan mobil sendiri memang terus turun dari September 2019 yang sempat tumbuh sebesar 25.9% (!). Pada Maret 2020, terjadi penurunan penjualan mobil yang wajar karena disebabkan wabah Covid-19.

Salah satu perhatian utama di sektor Bank adalah peningkatan kredit macet (NPL) karena semakin banyak tingkat pengangguran serta bisnis yang terganggu karena aktifitas masyarakat turun. OJK dan BI cukup cepat merespon hal ini salah satunya dengan aturan OJK untuk relaksaksi pembayaran kredit. BI telah menurunkan Reserve Ratio Bank sebesar 2% dan merupakan yang penurunan RR yang kedua di tahun 2020. Akan ada tambahan likuditas bagi Bank untuk memberikan kredit. Per Januari 2020, Loan to Deposit Ratio (LDR) sendiri berada di 92.6% dan masih ada ruang untuk dinaikkan. Namun tentu salah satu kekhawatiran saat ini adalah peningkatan NPL sehingga relaksasi dan usaha OJK serta BI mungkin cenderung tidak signifikan memberikan sentimen positif pada sektor Perbankan.

Oleh karena itu, The Primary Trader khawatir sektor Perbankan akan menjadi pemberat (terutama BBRI dan BMRI) bagi IHSG untuk mengawali Uptrend nantinya. Perlu sentimen yang signifikan menjaga agar NPL tidak melonjak ditengah pandemi Covid-10. Untuk BBCA, rasanya Investor akan kembali menggunakan BBCA sebagai Safe Heaven di IHSG.

Secara umum, The Primary Trader masih memperkirakan akan ada One Last Drop untuk IHSG menuju ~3,750 atau setidaknya di bawah Lowest 2020 di ~3,910.

Dipersimpangan “Mengawali Bottom” Atau “Melanjutkan Bearish”

Rupiah sedang berada di Support dari Uptrend Channel sejak Juli 2015. Bila ternyata Rupiah berhasil terus menguat dari saat ini di Rp15,700, ada potensi tren penguatan Rupiah berlanjut menuju Rp13,500 – Rp14,500. The Primary Trader percaya Rupiah dalam tren menguat namun mungkin akan stabil di kisaran Rp15,000/USD. Setidaknya, The Primary Trader perkirakan Rupiah akan sulit untuk kembali melemah mendekati Rp17,000.

Sentimen yang paling penting adalah dimana Bank Indonesia mendapatkan jalur untuk memperoleh US Dollar dari The Fed sebesar USD60 miliar. Lalu sentimen berikutnya adalah kemungkinan Neraca Perdagangan Indonesia di tahun 2020 surplus setelah Neraca Perdagangan bulan Februari dan Maret 2020 surplus.

Indonesia Balance of Trade

Membaiknya Rupiah tentu juga terlihat dari penguatan SUN. The Primary Trader sempat mengkhawatirkan Yield SUN10Yr dapat terus naik mendekati 9%. Sideways Yield SUN10Yr dari sejak pertengahan Maret 2020 terlihat sebagai Bullish Continuation yang menandakan kenaikan Yield dari 6.5% di awal Maret 2020 menuju 8.5% (dalam waktu 3 minggu) masih dapat berlangsung.

Namun demikian, pergerakan Yield dalam 2 hari terakhir yang turun dari 7.8% ke 7.7% menandakan pola Bullish Continuation (Symmetrical Triangle) berpotensi gagal. Untuk mengonfirmasi pola tersebut (dan membuat Yield naik menuju 9%), Yield harus melewati 8.2%. Tentu dengan kondisi level Yield saat ini (7.8%), ada harapan pola tersebut batal sehingga Yield berpotensi terus turun menuju Support di 7.35%.

The Primary Trader menyukai fakta bahwa ketika Pemerintah Indonesia menerbitkan Pandemic Bond, Yield yang diminta lebih rendah dari obligasi internasional Indonesia dari tahun 2015. Hal ini tentu menunjukkan kredibilatas dan kepercayaan Investor terhadap Indonesia.

Memang rencana Indonesia untuk menaikkan defisit anggaran tahun 2020 menjadi 5.07% dari GDP relatif mengkhawatirkan. Namun hal tersebut adalah Necessary Evil dalam rangka menghadapi Pandemi Corona dan mengurangi dampak negatif terhadap perekonomi Indonesia setelah wabah selesai.

Salah satu kekhawatiran Investor akan peningkatan defisit anggaran tersebut adalah Indonesia dapat kehilangan rating Investment Grade. The Primary Trader setuju dengan Mandiri Sekuritas bahwa peluang Downgrade Rating Indonesia relatif lebih kecil dan justru ada peluang Upgrade Investment Grade karena ekonomi Indonesia di tahun 2020 dapat relatif bertahan dibanding negara – negara lain.

The Primary Trader percaya masih ada potensi penurunan bagi IHSG (terlepas dari pergerakan Rupiah dan Yield SUN). Namun penurunan tersebut adalah One Last Drop dimana dapat dikatakan saat ini IHSG sedang dalam proses mengakhiri Downtrend (atau dalam proses Bottoming). The Primary Trader perkirakan IHSG masih akan turun menuju 3,750 atau lebih rendah dari level Lowest 2020 di ~3,911. Setelahnya, The Primary Trader prediksi IHSG akan mengonfirmasi pola Bottoming (Bullish Reversal) untuk mengakhiri Downtrend dan mengawali Uptrend.

Salah satu katalis penurunan adalah musim laporan keuangan 1Q20 yang mulai pertengahan April 2020 akan dirilis. Tentu The Primary Trader perkirakan kinerja emiten di 1Q20 akan kurang bagus karena mulai sejak Februari 2020, aktifitas ekonomi global dan domestik mulai perlahan terganggu karena wabah Covid-19 ini.

Semoga Pandemi ini cepat selesai. Stay Healthy.

Dow Theory – Teori Dasar Terpenting Menurut The Primary Trader (1)

Pengantar

Ini adalah edukasi yang kurang lebih ditujukan bagi Investor yang sudah memahami Dow Theory. Untuk awal, silahkan baca mengenai Dow Theory di sini. Untuk lebih jauh lagi, dapat belajar mengenai Dow Theory di sini.

The Primary Trader (akan) menulis artikel edukasi dalam 3 bagian. Semoga berguna.

Sembilan (9) Poin Dalam Dow Theory

The Primary Trader menemukan Dow Theory terdiri dari 9 poin yaitu :

  1. Price discounts everything
  2. Market has 3 Trends
  3. Market has 3 Phases
  4. Index must confirm each other
  5. Volume must confirm trend
  6. Trend is assumed to be in effect until it gives definite signals it has changed
  7. Line indicates movement
  8. Price Action determine the trend
  9. Only closing price is used

Bagi sebagian, mungkin Dow Theory hanya sampai poin ke-6. Namun bila diperiksa lagi buku – buku Analisis Teknikal penting, maka tiga poin terakhir (poin no 7, 8 dan 9) dapat ditemukan.

Price Discounts Everything

Harga bergerak karena :

  1. Pembeli yang ingin membeli di harga yang ditawarkan oleh Penjual
  2. Penjual yang ingin menjual di harga yang ditawarkan oleh Pembeli

Dow Theory mengindikasikan bahwa pembeli atau penjual memiliki motivasi masing – masing antara lain :

  1. Mengetahui atau memperkirakan akan ada berita bagus (bagi pembeli) atau berita buruk (bagi penjual) yang mana berita tersebut belum tersebar ke publik (menurut masing – masing)
  2. Meyakini berita yang sudah tersebar ke publik belum direspon dengan baik oleh Investor lain

Namun masih ada hal lain yang kadang tidak dapat dijelaskan oleh kedua logika tersebut yaitu :

  1. Investor yang tidak mau tahu dan membeli atau menjual tanpa alasan yang jelas dan kuat
  2. Hal kecil yang berdampak signifikan (Mozaic Theory) seperti : Rebalancing, Subscription atau Redemption, Dividend Distribution, Owner yang meninggal dan lainnya

Tentu akan sulit untuk menganalisis pergerakan harga apabila alasannya adalah Ignorant Investor maupun Mozaic Theory. Seorang analis investasi yang hebat akan banyak menggunakan Mozaic Theory untuk menganalisis pergerakan aset investasi.

Market Has 3 Trends

Yaitu : Primary, Intermediate dan Minor Trend

Ini adalah salah satu hal terpenting bagi The Primary Trader karena nama The Primary Trader sendiri berarti salah satu dari 3 tren yaitu Primary Trend.

Secara pribadi, The Primary Trader bukanlah Investor yang suka mengambil risiko terlalu besar (Agresif) dengan bertransaksi aset yang volatile. Namun The Primary Trader akan sangat agresif ketika aset tersebut dalam Primary Uptrend. The Primary Trader hanya melihat dua tren yaitu Primary dan Intermediate Trend dan menghiraukan Minor Trend.

Mengetahui kondisi diri sendiri (Risk Profile) sangatlah penting sebelum menentukan kondisi tren yang akan dipilih untuk melakukan transaksi. Bila kita adalah Risk Taker, tentu tidak masalah bertransaksi dalam Minor Trend namun kesalahan besar untuk membeli dalam Minor Uptrend ditengah Primary atau Intermediate Downtrend.

Bila kita Risk Averse, pilihlah aset dalam Primary atau Intermediate Uptrend.

Market Has 3 Phases

Market terdiri dari 3 fase pada masing – masing tren.

  • Uptrend : Accumulation – Panic Buying – Excess.
  • Downtrend : Distribution – Panic Selling – Despair.

The Primary Trader menggunakan Panic Buying dan Panic Selling untuk menggantikan istilah Public Participation yang cenderung netral (tidak menunjukkan trend).

The Primary Trader akan memperhatikan fase – fase harga untuk menentukan sikap apakah harus Stay Alert, Wait Patiently atau bahkan Do Nothing. Jangan pernah meremehkan Do Nothing karena Warren Buffet mengatakan “If You Don’t Find A Way To Make Money While You Sleep, You Will Work Until You Die“. Tentu dengan berinvestasi di pasar modal, kita ingin uang kita bertambah dengan usaha yang minim. Warren Buffett Indonesia (Lo Kheng Hong) sendiri memiliki strategi “Menjadi Kaya Sambil Tidur”.

The Primary Trader akan sangat aktif dalam fase selain Public Participant. Aktif disini adalah untuk melakukan analisis dan memperhatikan kondisi portofolio. Tidak ada gunanya atau sudah telat apabila kita baru beraksi dalam fase Public Participant. Pada saat fase Accumulation dan Distribution, kita harus aktif melakukan analisis dan pembentukan portofolio. Pada saat fase Excess atau Despair, kita harus aktif melakukan Rebalancing Portfolio.

Do Nothing atau Wait Patiently sangat diperlukan pada saat fase Public Participation.


The Primary Trader membahas mengenai 3 poin lanjutan dan salah satunya adalah poin terpenting dari Dow Theory dan wajib menjadi Habit bagi Analisis Teknikal. Cek di sini.

Melawan Dampak Negatif Covid-19 di Indonesia

Stimulus Fiskal Untuk Menanggulangi Dampak Negatif Covid-19 Terhadap Ekonomi Indonesia

Pemerintah Indonesia telah mengeluarkan stimulus fiskal dalam rangka menghadapi dampak negatifnya terhadap ekonomi Indonesia. Stimulus fiskal (ke-3 dari awal tahun) adalah dalam bentuk Peraturan Pemerintah (Perppu) No.1 Tahun 2020. Salah satu yang paling positif adalah pemotongan tarif pajak badan dari 25% menjadi 22%(dimana klausul ini sebenarnya sudah masuk ke dalam draft Omnibus Law – yang masih sedang dibahas oleh DPR saat ini). Namun ada klausul yang sedang menjadi perhatian karena dapat menjadi sentimen negatif dalam melawan Covid-19 yaitu rencana melonggarkan defisit anggaran dari 3% dari PDB per tahun menjadi 5%. Salah satu dampaknya adalah Indonesia dapat mengalami penurunan rating namun kemungkinan besar masih dalam rentang Investment Grade rating.

Pelebaran defisit anggaran akan berdampak yang paling utama pada pasar obligasi sehingga ada kemungkinan Yield SUN10Yr masih akan terus naik, melanjutkan kenaikan dari awal tahun 2020. Selain itu, perlemahan Rupiah (kenaikan USDIDR) pun berpotensi terus terjadi. The Primary Trader mengkhawatirkan kenaikan Yield SUN10Yr dan perlemahan Rupiah akan membuat IHSG kembali melemah.

Live Chart here

Pergerakan IHSG

Ada sentimen positif bagi IHSG dari pemotongan pajak dari 25% menjadi 22% di tahun 2020 dan 20% di tahun 2021 (untuk emiten dengan Free Float < 40%) serta dari 20% menjadi 19% di tahun 2020 dan 17% di tahun 2021 (untuk emiten dengan Free Float > 40%). Namun kenaikan laba bersih di tahun 2020 dari pemotongan pajak tersebut tampaknya terbatas antara sebesar 1.5% – 9%. Rata – rata emiten Big Caps diperkirakan mendapat kenaikan laba bersih (dengan asumsi semua tetap) sebesar 4%.

The Primary Trader melihat sentimen tersebut belum cukup menolong dan membuat IHSG mengakhiri Downtrend dan mengawali Uptrend. Sentimen negatif dari penurunan rating Indonesia serta perlemahan Rupiah karena kenaikan defisit anggaran tahun 2020 mencapai 5% berpotensi kembali melemahkan IHSG.

The Primary Trader melihat IHSG masih berpotensi naik dalam jangka pendek mendekati 4,850 – 5,400. Tampaknya masih ada yang melihat kenaikan defisit anggaran tersebut adalah hal yang wajar dan sebaiknya dilakukan untuk mempercepat restarting ekonomi Indonesia setelah berhenti karena wabah Covid-19.

Selama IHSG belum kuat untuk melewati level Fibonacci Retracement di 61.8% atau di 5,400, IHSG masih dalam fase Downtrend dengan potensi turun lebih dalam dari 3,911.

Bottom – Bottom IHSG

The Primary Trader mencoba melihat Support – Support IHSG sejak tahun 2007 sehingga dapat dikatakan level Support yang seharusnya signifikan untuk dapat menahan penurunan IHSG.

Saat ini IHSG sedang berada di Support sejak tahun 2013 dan 2015 yaitu di kisaran 4,000an. Namun bila IHSG kembali turun maka Support berikut yang dapat menahan IHSG antara lain :

  • Support (Resistance) tahun 2010 dan 2012 di 3750
  • Support di tahun 2011 di 3,250
  • Resistance tahun 2007 di 2,850

Saat ini The Primary Trader perkirakan IHSG masih akan melanjutkan Downtrend dengan potensi membentuk New Lowest 2020 dari saat ini di 3,911.72 yaitu di 3,750. The Primary Trader perkirakan IHSG akan mulai membentuk Bottoming dalam rangka mengakhiri Downtrend dan memulai proses Bullish Reversal untuk mengawali Uptrend. Perlu diingat bahwa dalam rangka Uptrend dan membentuk New All Time High baru (dari saat ini di 6,693 di Februari 2018), IHSG umumnya perlu waktu 4x dari lama penurunan. Dengan demikian, New All Time High dapat terbentuk setidaknya 44 bulan kemudian (~4 tahun yaitu di tahun 2024). Mengasumsikan kondisi paling Bullsih, IHSG perlu waktu 1.9x atau sekitar 22 bulan (~2 tahun yaitu di tahun 2022) untuk membentuk New All Time High. Semoga.

Usaha Untuk Mengurangi Dampak Negatif Wabah Covid-19

Lonjakan Klaim Pengangguran Di AS Menurunkan Sentimen Positif Paket Stimulus (yang Dianggap Tidak Cukup)

Ketika paket stimulus USD2 triliun telah disetujui, Investor sadar bahwa nilai tersebut tidaklah mencukupi. Seiring dengan wabah Covid-19 meluas dan membuat AS saat ini menjadi episentrum Covid-19 di dunia (menggantikan daratan Eropa), jumlah bisnis yang terganggu dan merumahkan (atau mem-PHK-kan karyawan) membuat tingkat pengangguran meningkat (dilihat dari klaim pengangguran). Klaim pengangguran secara normal berada di kisaran 200 ribuan orang. Namun dalam dua minggu terakhir, muncul lonjakan menjadi 3.3 juta orang dan terakhir 6.6 juta orang (!).

United States Initial Jobless Claims

The Primary Trader awalnya memperkirakan paket stimulus USD2 triliun (yang membuat Investor optimis di akhir Maret 2020) akan menjadi titik balik dari bursa saham. Di awal April 2020, terlihat indikasi bahwa kenaikan sejak akhir Maret 2020 adalah sebagai bagian dari Technical Rebound atau kenaikan sementara di tengah Downtrend. Dengan kata lain, bursa saham global masih dalam Downtrend dengan potensi turun lebih dalam dari level di bulan akhir Maret 2020.

Live Chart here

Trump Menjadi Penengah Antara MBS dan Putin

Presiden Trump turun tangan menengahi peselisihan antara Arab Saudi (Muhammad Bin Salman) dengan Rusia (Vladimir Putin). Disebutkan bahwa ada harapan pemotongan produksi minyak sebanyak 10 juta barel.

Twit tersebut membuat minyak (Brent) melonjak 5.4% dalam satu malam. The Primary Trader melihat harga Brent masih dalam Downtrend dan terancam kembali melemah di bawah USD30 per barel bila pemotongan produksi tersebut gagal disepakati dan menjadi keputusan resmi dari OPEC+ Rusia. Brent masih harus melewati Resistance di level USD43 per barel yang menjadi level Support penting pada 2Q16, 3Q16 dan 2Q17.

The Primary Trader menganggap kenaikan harga minyak akan positif bagi banyak negara karena setidaknya anggaran (banyak) negara tidak defisit lebar. Terlebih lagi, banyak negara mengandalkan fiskal stimulus dalam rangka menghadapi dampak negatif wabah Covid-19 terhadap ekonomi. Indonesia memberikan paket stimulus (ketiga !) sebesar USD25 miliar atau 2% dari GDP Indonesia.

Minyak yang cukup penting bagi penerimaan negara – negara (bahkan seperti AS dan Indonesia) dapat menolong kondisi fiskalnya sehingga efek samping dari stimulus fiskal tidak menjadi masalah dikemudian hari (setelah wabah Covid-19 selesai).

The Primary Trader percaya seiring dengan harga minyak relatif membaik, harapan bahwa Downtrend berakhir semakin membesar.

Live Chart here

Hal Positif Yang Ditunggu Investor

Tentu The Primary Trader tetap yakin bahwa selama Covid-19 belum terkendali penyebarannya serta belum ada vaksin yang dapat digunakan secara luas, sentimen negatif di pasar keuangan terutama pasar saham masih akan terjadi. Namun demikian, Investor terlihat sangat mengkhawatirkan dampak setelah wabah selesai karena disinilah terjadi kemungkinan Resesi yang diluar perhitungan Investor.

Oleh karena itu, langkah – langkah preventif bank sentral dunia serta peran aktif pemerintah sangat diperhatikan oleh Investor. Sejauh ini tampaknya Investor cukup puas dengan bank sentral (The Fed yang melaksanakan QE Unlimited misalnya) dan paket stimulus yang dikeluarkan pemerintah global.

Tentu Investor kemungkinan masih menunggu paket stimulus tambahan yang mungkin akan kembali dikeluarkan oleh pemerintah AS. Investor (lokal) pun tentu akan menunggu aksi bank sentral terutama BI yang kemungkinan masih akan memotong BI 7DRR Rate lagi (saat ini 4.5%).

Semoga wabah Covid-19 segera selesai di dunia dan, terutama, di Indonesia.