Ekonomi China Turun -6.8% YoY. Apakah Global Bearish Market Berlanjut?

Ekonomi China di 1Q20 turun sebesar -6.8% YoY, penurunan pertama sejak tahun 1992. Di saat yang sama, Retail Sales China bulan Maret 2020 pun turun -15.8% YoY. Namun data tersebut cenderung membaik karena Retail Sales bulan Januari dan Februari 2020 turun sebesar -20.5% YoY. Pada bulan Maret 2020, Wuhan masih Lockdown sementara data Retail Sales sudah membaik. Ada harapan setelah Lockdown dibuka (di bulan April 2020), Retail Sales China pun membaik yang mendorong pertumbuhan ekonomi China di 2Q20.

China GDP Annual Growth Rate

The Primary Trader ingin mencatat bahwa setelah Lockdown, ternyata di Wuhan tidak ‘business as usual. Memang Manufacturing PMI China di bulan Maret 2020 sudah kembali di level 50 sehingga aktifitas produksi seperti pabrik berjalan seperti biasa, bahkan cenderung mengejar target produksi di awal tahun 2020 (atau setidaknya paska Chinese New Year). Namun industri yang berorientasi konsumsi seperti restoran dan ritel di mal masih relatif sepi. Hal ini dikhawatirkan akan ada perubahan tren konsumsi masyarakat untuk jangka panjang. Kebiasaan akan memasak dirumah selama Lockdown atau (yang The Primary Trader perkirakan) membeli barang lokal karena barang impor sempat langka atau mahal akan mempengaruhi banyak bisnis.

Shanghai Composite (Shcomp) masih dalam Downtrend Channel sejak April 2019 (periode Trade War AS – China). Di awal tahun 2020, Shcomp hampir Breakout Resistance dari Downtrend Channel di ~3,100 untuk mengakhiri Downtrend dan mengawali Uptrend menuju 3,600, level tertinggi sebelum Trump mengancam Trade War. Saat ini Shcomp masih harus Breakout 3,100 untuk mengawali Uptrend menuju level tersebut.

Shcomp memang bursa saham utama global dengan kinerja yang terbaik sejak awal tahun 2020 (bahkan ketika COVID-19 menjadi Pandemi global di Maret 2020). Sejak pertengahan Maret 2020, bursa global cenderung bertahan dan perlahan naik – meskipun belum kembali ke level awal tahun 2020.

Live Chart here

S&P500 sendiri berhasil naik 30% dari pertengahan Maret 2020 dan ada kemungkinan S&P500 terus naik menuju 3,000 setelah Investor memperkirakan laporan keuangan 1Q20 dapat lebih baik dari estimasi. Selain itu, rencana re-opening ekonomi (dengan membuka Lockdown) menjadi katalis positif karena Investor mengharapkan wabah COVID-19 di AS telah terkendali. The Primary Trader mengkhawatirkan Lockdown yang terlalu dini dapat kembali meningkatkan penyebaran wabah.

Untuk dapat mengonfirmasi akhir Downtrend, S&P500 perlu naik dan Breakout 2,930 yang merupakan level Fibonacci 61.8% yang diproyeksikan ke bawah (Downtrend Projection). The Primary Trader masih perkirakan S&P500 akan tertahan di kisaran 2,900an, tidak jadi Breakout 2,930 dan kembali melanjutkan Downtrend menuju 1,400.

Ada kemungkinan S&P500 kembali turun sebagai One Last Drop dan The Primary Trader melihat kemungkinan yang cukup besar S&P500 tidak turun lebih dalam dari 2,180 – 2,350. Dengan demikian, S&P500 membentuk Bottoming untuk mengakhiri Downtrend dan mengawali Uptrend. Kunci utamanya adalah S&P500 harus turun di bawah 2,700 dalam 2 minggu ke depan untuk melihat ancaman penurunan S&P500. Di bulan April 2020 ini pun The Primary Trader akan memperhatikan apakah S&P500 berhasil Breakout 2,930 untuk melihat potensi Uptrend.

Emiten di Indonesia pun segera memasuki musim laporan keuangan 1Q20. Tentu ada kemungkinan perlambatan namun pertanyaannya apakah sesuai dengan estimasi, lebih baik atau justru lebih buruk dari estimasi. The Primary Trader akan mencoba melihat informasi dan chart-nya terlebih dahulu.

Semoga wabah cepat selesai.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s