Dow Theory – Teori Dasar Terpenting Menurut The Primary Trader (2)

Artikel edukasi ini adalah bagian kedua. Lihat bagian pertama di sini.

Indexes Must Confirm Each Other

Pada awal pembentukan Dow Theory, saat itu hanya adalah dua indeks yaitu Dow Jones Industrial Index (DJIA) dan Dow Jones Transportation Index (DJTA). Secara umum, kondisi pasar modal mewakili kondisi ekonomi negara tersebut. Dan pada saat itu, Amerika Serikat sedang dalam fase bertumbuh sebagai negara berkembang yang ditopang oleh sektor industri (besi dan baja) serta sektor transportasi (kereta api). Oleh karena itu, untuk mengatakan bahwa ekonomi AS sedang bertumbuh maka kondisi kedua sektor tersebut harus tumbuh. Tentu kedua indeks, DJIA dan DJTA harus juga dalam kondisi naik.

Menurut The Primary Trader, kalimat Dow Theory tersebut tidak harus diwakili oleh berbagai indeks (dalam hal ini DJIA dan DJTA) namun dapat juga mewakili baik saham maupun aset lain. The Primary Trader ingin mengganti kata “Indexes” menjadi “Asset Classes” sehingga :

Asset Classes Must Confirm Each Other

The Primary Trader

Tentu kalimat tersebut memperluas arti Uptrend maupun Downtrend secara umum yang memang awalnya dikhususkan pada pasar saham.

Untuk bursa saham Indonesia (IHSG), The Primary Trader melihat indeks sektoral dengan kapitalisasi besar seperti Finance, Consumer, Misc. Industry (ASII) dan Basic Industry harus bergerak dalam arah (trend) yang sama.

Pada poin Dow Theory ini, ada beberapa hal penting yang dapat dikembangkan :

  1. Intermarket Analysis
  2. Stock Weight
  3. Stock Correlation to Index

Masing – masing poin tersebut mungkin akan dibahas The Primary Trader di artikel terpisah.

Volume Must Confirm The Trend

The Primary Trader ingin merubah poin Dow Theory tersebut menjadi :

Volume Must Confirm The Uptrend

The Primary Trader

Volume disini memang menunjukkan jumlah lembaran saham yang diperdagangkan. Namun dalam arti lebih jauh, volume diartikan juga sebagai uang yang diinvestasikan yang pada akhirnya juga berarti banyaknya Investor yang berinvestasi pada aset tersebut. Untuk mengonfirmasi suatu trend maka perlu dilihat apakah banyak Investor yang ikut membeli atau banyak uang yang masuk ke suatu aset tersebut.

Istilah “Falling On It’s Own Weight” diaplikasikan ke Downtrend sehingga ketika terjadi Downtrend, Volume tidak penting diperhatikan. Kenaikan Volume tidak berarti Downtrend telah terkonfirmasi, begitupun apabila Downtrend terjadi dengan Volume tinggi, tidak berarti Downtrend terkonfirmasi.

Uptrend dan Downtrend sebenarnya dikonfirmasi berdasarkan Price Action (sesuai dengan Dow Theory yang jarang disebut : Price Action determine the trend). Namun khusus untuk Uptrend, Volume perlu digunakan untuk memberi konfirmasi tambahan. Sementara untuk Downtrend, Volume dapat dihiraukan karena apabila terjadi Panic Selling, harga bisa turun hanya karena beberapa Investor besar menjual aset tersebut diharga diskon (sementara Investor lain tidak ikut menjual atau meminta harga beli yang sangat rendah).

A Trend Is Assumed To Be In Effect Until It Gives Definite Signals It Has Reversed

Ini adalah poin dari Dow Theory yang terpenting dan harus menjadi “Habit” bagi setiap Analis Teknikal. Selain itu, hal ini menunjukkan bahwa pada dasarnya tidak mudah untuk merubah pandangan Investor terhadap suatu aset. Tentu wajar karena Investor yang telah mengeluarkan dana banyak untuk membeli suatu aset pastinya sudah berdasarkan riset yang mendalam dan sudah banyak membuat estimasi untuk beberapa tahun ke depan. Oleh karena itu, ketika Investor memutuskan untuk membeli suatu aset (dalam jumlah banyak), tidak banyak hal kecil yang dapat membuat Investor ingin menjual aset tersebut, apalagi dalam waktu singkat. Perlu hal besar (dan biasanya dalam waktu yang tidak pendek) untuk merubah opini tersebut dan membuat (atau memaksa) Investor menjual aset tersebut. Keyakinan The Primary Trader tersebut adalah berdasarkan pengalaman pribadi sebagai Analis maupun Investment Manager.

Analisis Teknikal harus percaya bahwa Primary Uptrend (atau Primary Downtrend) akan terjadi setidaknya 9 – 12 bulan ke depan. Dan selama Primary Trend masih bertahan, pergerakan – pergerakan kecil (terutama yang berlawanan arah) harus dianggap sebagai Intermediate Trend atau Minor Trend. Sekalipun ternyata ada pergerakan Intermediate atau Minor yang terlihat melewati (Breakout atau Breakdown) Primary Trendline, Analis Teknikal sebaiknya menganggap hal tersebut sebagai False Break (salah satu karakteristik harga ketika mendekati Support atau Resistance). Dan khusus untuk perubahan dari Downtrend ke Uptrend, harus memperhatikan poin Dow Theory “Volume Must Confirm The Trend”.

The Primary Trader menyukai perubahan tren yang diikuti oleh pola Reversal. Apabila melihat lagi teori umum Chart Pattern maka dapat disimpulkan bahwa pola Reversal adalah suatu Major Pattern yang waktu terbentuknya tidaklah singkat (atau setidaknya lebih lama dari Minor Pattern yang umumnya adalah pola Continuation). Definisi Analisis Teknikal dari buku terpenting bagi The Primary Trader adalah :

The study of market action, primarily through the use of charts, for the purpose of forecasting future price trends

Technical analysis of the financial markets
by john murphy

Jelas terlihat bahwa trend menjadi sangat penting bagi Analis Teknikal dan salah satu cara untuk memperhatikan trend adalah dengan menganggap bahwa tren itu tidak berubah sampai ada konfirmasi mengenai perubahan trend itu sendiri.


Bagian ketiga akan membahas mengenai 3 poin terakhir dari Dow Theory yang jarang digunakan namun cukup penting menurut The Primary Trader.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s