Indikasi Dari Data Ekonomi

The Primary Trader mencoba melihat indikator ekonomi dari awal tahun 2020 untuk melihat potensi pendapatan emiten – emiten. Tiga indikator tersebut adalah :

  • Manufacturing PMI
  • Retail Sales YoY
  • Tourist Arrivals

Dari data ekonomi di atas, aktifitas pabrik (Manufacturing PMI) di bulan Maret 2020 terlihat turun drastis dari 51.9 di bulan Februari 2020. Penurunan tersebut adalah yang tertajam dan menunjukkan output produksi serta order baru turun tajam. Dampaknya adalah penurunan pendapatan dan peningkatan pengangguran yang tentu kurang baik bagi ekonomi. Data Manufacturing PMI di bawah 50 pun mengindikasikan kontraksi ekonomi.

Retail Sales Indonesia di bulan Februari 2020 turun -0.8% YoY dan merupakan kelanjutan dari bulan Desember 2020 (-0.5% YoY). Biasanya Retail Sales di akhir tahun cenderung naik (belanja Natal dan Liburan Tahun Baru) dan cukup jarang penjualan ritel turun di Desember kecuali Desember 2019. Hal ini cukup mengkhawatirkan karena berarti Retail Sales sudah melemah di akhir tahun 2019. The Primary Trader perkirakan Retail Sales akan semakin turun setelah dimulai PSBB Jakarta pada bulan April 2020. Siklus perbaikan Retail Sales dari bulan ke bulan – dimulai dari awal tahun tampaknya tidak terjadi di tahun 2020 ini.

Indonesia Retail Sales YoY

Terjadi penurunan wistawan global ke Indonesia di bulan Februari 2020 semenjak banyak negara mulai memberi Travel Warning sampai tidak memberikan izin keluar masuk. Indonesia mulai membatasi izin visa sejak Maret 2020 dan menutup sepenuhnya di awal April 2020. Dengan demikian, tentu Tourist Arrival akan semakin turun dan dampaknya terhadap industri perhotelan akan cukup besar.

Occupancy Rates hotel di Indonesia pada awal tahun 2020 diperkirakan berada di kisaran 40% – 50% dengan tendensi terus turun. Hal ini relatif lebih parah dari tahun 2014 dan 2015.

Dampak dari semua itu adalah peningkatan pengganguran yang berarti penurunan daya beli masyarakat. Tercatat ada sebesar 2.8 juta pekerja yang terkena dampak dimana 60% diantaranya dirumahkan tanpa gaji (Unpaid Leave) dan 27%-nya terkena PHK.

wabah PHK
https://katadata.co.id/infografik/2020/04/18/wabah-phk-akibat-covid-19

Indikasi Dari Data Sektor Dan Emiten

Bank Indonesia memang telah menurunkan BI 7DRR Rate cukup agresif dari awal tahun 2020 sebesar 50 bps (2x) dari 5% menjadi 4.5%. Hal ini diharapkan dapat mendorong pertumbuhan kredit (dan menjaga NPL) namun tampaknya kredit terus turun dari 2H19 baik kredit Investment dan Micro – bahkan untuk kredit Working Capital yang sempat tumbuh tinggi akhir 2018, kali ini turun tajam sepanjang tahun 2019 sampai 1Q20. Tentu hal ini bukan indikasi bagus untuk kinerja sama Bank di 1Q20.

Pangsa pasar mobil merek ASII memang meningkat menjadi 60% di awal tahun 2020 (dari ~45% di akhir 2019). Namun hal ini karena penjualan merek mobil non-ASII di bulan Maret 2020 turun -15.4% dari bulan Februari 2020 dan bahkan -22.9% dari Maret 2019. Penjualan mobil ASII di Maret 2020 naik 6.6% MoM sehingga dapat meningkatkan pangsa pasar. Namun kenaikan penjualan mobil ASII didominasi oleh mobil LCGC (naik 22% MoM dan 4.4% YoY) yang mungkin tidak banyak menolong Revenue maupun Net Income ASII.

Penjualan semen nasional di 1Q20 turun -4.9% dari 1Q19 setelah sempat naik 6.1% YoY pada 4Q19. Hal ini tentu akan membuat kinerja semen kurang baik. Seiring dengan penggunaan semen di Indonesia banyak untuk properti, maka dapat dikatakan penjualan properti di awal tahun 2020 pun akan kurang baik. Pemberlakuan PSAK 72 mengenai pengakuan pendapatan properti pun menjadi salah sentimen penurunan Marketing Sales. Seperti contoh, Marketing Sales CTRA di 2Q10 memang baik (2% YoY) namun tentu kemungkinan besar Marketing Sales akan turun di bulan Maret 2020.

Potensi Pergerakan IHSG

The Primary Trader masih meyakini akan ada One Last Drop sebelum IHSG mengawali Uptrend. One Last Drop tersebut adalah bagian dari pembentukan Bottoming (Bullish Reversal) untuk mengakhiri Downtrend sekaligus mengawali Uptrend. The Primary Trader perkirakan One Last Drop IHSG dapat menuju 3,750 – 4,000.

Tentu ada kemungkinan IHSG ternyata tidak lagi turun mendekati 4,000 namun segera kembali menuju level di atas 6,000. Untuk dapat mengawali kenaikan menuju 6,000, The Primary Trader ingin melihat IHSG Breakout 4,850 karena di level tersebut adalah Lower High sejak awal tahun 2020.

Dengan bantuan indikator, memang ada potensi kenaikan untuk IHSG dalam waktu dekat. Menggunakan Bollinger Band, saat ini IHSG berada di atas Middle Band yang artinya dalam Uptrend – yang kemungkinan adalah Uptrend jangka pendek. Selain itu, potensi kenaikan diperkuat dengan indikator Stochastic Oscillator yang menunjukkan sinyal Buy dan dari level Oversold. The Primary Trader pun menyukai fakta bahwa Bollinger Band cenderung melebar yang artinya volatilitas akan kembali datang. Tentu diharapkan akan ada volatilitas saat IHSG sedang bergerak naik (walau ada juga risiko dimana IHSG turun dalam). Ada harapan volatilitas meningkat dan IHSG sedang dalam kenaikan karena tren Middle Band – yang tidak lain ada MA20 – sedang perlahan mengarah ke atas (dilihat dari Middle Band Direction yang mulai mencatat nilai positif).

Dengan bantuan indikator Ichimoku Kinko Hyo, ada potensi IHSG bergerak naik karena indikator Tenkan-Sen dan Kijun-Sen telah Bullish Crossover. Namun Downtrend tampaknya masih akan terjadi karena IHSG dihalangi oleh Red Cloud yang cukup tebal dan seringkali menjadi Resistance yang kuat. Ichimoku Kinko Hyo memperkuat ekspektasi The Primary Trader bahwa Downtrend masih mungkin terjadi, IHSG berpotensi mencatat One Last Drop sebelum terbentuk Bullish Reversal yang akan mengawali Uptrend.

Semoga wabah pandemi segera selesai.