The Primary Trader sempat melihat potensi S&P500 untuk Breakout 2,950 dan memasuki potensi Uptrend. Namun melihat pergerakan kemarin dimana yang kedua kalinya S&P500 tertahan di 2,950 maka The Primary Trader kembali meyakini bahwa Downtrend masih akan terjadi.

Sampai kapan?

Timing Analysis tidak pernah mudah dan cabang Analisis Teknikal yang fokus pada Timing Analysis (seperti Astrology Trading, Gann atau Elliot Wave tidak mudah dipercaya Investor dan The Primary Trader tidak mendalaminya). Namun The Primary Trader mencoba mengemukakan potensi Bottoming Global Market termasuk IHSG di tahun 2020 ini dengan melihat Seasonality dan data ekonomi.

The Worst Has Yet To Come

Di pertengahan April dan Mei ini, Investor terkejut dengan data pertumbuhan ekonomi di 1Q20 yang mana terlihat dampak awal dari Pandemi COVID-19. Ekonomi China di 1Q20 turun -6.8% YoY, lebih dalam dari estimasi sebesar -6.5% YoY. Hal ini wajar karena China mulai Lockdown di akhir Januari 2020 atau bertepatan dengan Chinese New Year dimana terjadi mudik masal terbesar di dunia. Selain tidak ada konsumsi di berbagai kota, praktis aktifitas bisnis pun ditutup sehingga cukup wajar ada pukulan yang telak bagi ekonomi China di 1Q20.

Amerika Serikat yang sebenarnya baru mulai Lockdown di akhir Maret 2020 namun pada akhir Januari 2020 sudah mulai ada pembatasan terutama dari sisi imigrasi. Di akhir April 2020, data awal pertumbuhan ekonomi AS di 1Q20 turun sebesar -4.8% QoQ (di-annualized), jauh dari estimasi sebesar -4% QoQ. Ekonomi AS di 1Q20 hanya tumbuh 0.3% YoY, sangat jauh dari rentang 2.1% – 3.2% dari 2Q18 – 4Q19.

AS tampaknya adalah bukti bahwa apabila ekonomi China kurang baik maka negara lain pun demikian. China sebagai Supply-Side memegang peranan penting di era globalisasi ekonomi ini karena Impor China akan bahan mentah berperan sebagai pendapatan signifikan bagi ekonomi seperti Indonesia dan bahkan negara AS sendiri.

Indonesia sendiri pun mengalami pukulan karena di awal Mei 2020, BPS melaporkan ekonomi Indonesia hanya naik sebesar 2.97% YoY di 1Q20, terendah sejak 1Q01. Tentu hal ini jauh di bawah estimasi sebesar 4.04% YoY dan hal inilah yang pertama kali membuat ekonom (termasuk pemerintah) melihat potensi ekonomi Indonesia bisa negatif di akhir tahun. Artinya adalah nilai GDP Indonesia tahun 2020 bisa lebih rendah dari tahun 2019 (sebesar USD1,12 miliar). Indonesia sendiri pernah setidaknya 2 kali mengalami Resesi (penurunan pertumbuhan ekonomi dalam 2 kuartal berturut – turut) yaitu di antara tahun 2020 dan 2013.

Ekonom pun mulai melihat bahwa ini masih dampak awal Pandemi COVID-19 sehingga masih ada dampak lanjutan pada ekonomi di 2Q20. Oleh karena itu, pada awal Mei 2020, ekonom dan Investor mulai bersiap untuk kehilangan kesempatan adanya V-Shape Recovery pada ekonomi global.

Data GDP di 2Q20 : Potensi Bottom

Karena Investor mulai kehilangan harapan akan V-Shape Recovery, tentu Investor akan menunggu pengumuman GDP berikutnya di 2Q20 yaitu sekitar bulan Juli 2020 (China dan AS) dan Agustus 2020 (Indonesia). Data GDP 2Q20 akan menjadi pemicu apakah justifikasi Forward Looking Investor sudah benar.

Apabila ternyata GDP di 2Q20 lebih baik dari perkiraan, tentu hal ini akan menjadi Timing untuk mengakhiri Downtrend dan mengawali Uptrend. Apabila GDP di 2Q20 jauh lebih buruk dari perkiraan, The Primary Trader melihat pada akhirnya valuasi sudah akan murah sekali sehingga ancaman penurunan sudah relatif kecil. Pada saat itulah menurut The Primary Trader akan terjadi Bottom pada Global Market. Dua kondisi yang terjadi adalah “Better Than Estimate” bila GDP lebih baik dari estimasi atau “Underowned dan Very Undemanding Valuation” bila GDP lebih buruk dari estimasi.

The Primary Trader perkirakan masih akan ada penurunan karena shock terhadap GDP 2Q20 di US, China dan Indonesia (karena The Primary Trader ingin membahas aset investasi di Indonesia). Oleh karena itu, pergerakan di 2Q20 sampai 3Q20 (menjelang pengumuman GDP 2Q20 di bulan Juli dan Agustus 2020) akan sangat volatile. Namun menjelang atau pada 3Q20 tersebutlah seharusnya mulai ada indikasi Bottoming setelah semuanya ter-Priced In baik keburukan di 2Q20 maupun harapan di 2H20.

Seasonality

The Primary Trader ingin melihat pergerakan S&P500, Shanghai Composite dan IHSG secara kuartalan untuk melihat Seasonality dan fakta Bottoming ketiga indeks tersebut.

Bila dilihat pada Seasonal Plot S&P500, ada kecenderungan Bottoming di 3Q meskipun di beberapa tahun terakhir ini, kenaikan dari 3Q ke 4Q tidak setinggi di awal – awal tahun 2010an. Namun mengacu pada SubSeries Seasonal Plot, ada kecenderungan S&P500 naik (dari Bottom) pada 3Q untuk kemudian relatif Sideways pada 4Q.

Pada Shanghai Composite, Seasonal Plot menunjukkan kecenderungan terjadinya Bottoming (dengan peluang lebih besar) di 3Q untuk kemudian naik sampai 4Q. SubSeries Seasonal Plot pun menunjukkan kecenderungan untuk naik dari 3Q ke 4Q.

Untuk IHSG, Seasonal Plot menunjukkan peluang yang sama besar antara Bottoming di 2Q untuk naik ke 3Q dan Bottoming di 3Q untuk naik ke 4Q. Melihat SubSeries Seasonal Plot, IHSG cenderung bergerak dengan volatilitas rendah di 3Q dan hal ini menunjukkan kecenderungan terbentuknya Bottom (yaitu di 3Q). Berdasarkan garis rata – rata (garis biru), selisih antara rata – rata 2Q dengan 3Q tidak berbeda jauh. Dapat disimpulkan jalan tengah bahwa IHSG cenderung Bottoming di 2Q – 3Q (dua kuartal).

Kesimpulan

Bahayanya percaya prediksi berakhir Pandemi adalah membuat kita lengah dan terjebak untuk melonggarkan Lockdown atau PSBB lebih cepat dari kondisi aman. Hal tersebut dapat mengancam peningkatan kasus baru lagi. Dengan demikian, hal yang paling penting adalah menunggu relaksasi Lockdown atau PSBB setelah ada bukti bahwa kasus baru mulai melandai dan cukup jauh dari puncak.

Oleh karenanya, The Primary Trader lebih percaya untuk tidak melihat Peak dari New Case sebagai Timing To Entry karena pada akhirnya hal tersebut menjebak. Resesi dan Market Crash kali ini terjadi karena wabah penyakit dan selama wabahnya belum terkendali, tampaknya akan sulit untuk memprediksi Bottoming atau awal Uptrend.

Namun demikian, berdasarkan data (GDP 2Q20) dan Seasonality di atas, setidaknya perkiraan The Primary Trader bahwa Bottom akan terjadi di akhir 2Q20 atau 3Q20 juga merupakan harapan. Semoga.