Mencari Sektor Terbaik Saat Ini Dan Beberapa Saat Kedepan

Indeks Sektoral

The Primary Trader memiliki indeks sektoral tersendiri yang berbeda dengan Sectoral Index di IDX dan bukan juga indeks ala GICS atau BICS versi Bloomberg. Sektor tersebut adalah sebagai berikut :

  • Cement
  • Cigarettes
  • Coal
  • Construction
  • CPO
  • FMCG
  • Hospital
  • Industrial Area
  • Media
  • Mineral
  • Oil&Gas
  • Pharmacy
  • Poultry
  • Residential
  • Retail
  • Telecom
  • Tower

Tentu sektor yang memilki satu saham yang sangat dominan seperti Auto (ASII) dan Toll (JSMR) tidak The Primary Trader sebutkan.

Sektor Yang Berpotensi Uptrend

Dari daftar sektor tersebut, secara manual dan memperhatikan Chart, The Primary Trader melihat beberapat sektor yang berpotensi Uptrend dan menarik adalah Hospital Sector. The Primary Trader melihat sektor tersebut telah mengonfirmasi Bullish Continuation Pattern dari sejak Mei 2020 sehingga berpotensi melanjutkan Uptrend yang telah terjadi dari Maret 2020.

Sektor Poultry memang masih berada dalam Sideways namun The Primary Trader memonitor erat karena selain Sideways-nya terlihat sebagai Bullish Continuation Pattern, sektor tersebut mendekati Down Trendline dari sejak akhir 2018 (!). Dengan demikian, bila terjadi kenaikan yang tidak banyak maka sektor Poultry mengonfirmasi Bullish Continuation Pattern sekaligus mengakhiri Downtrend jangka panjang. Tentunya dengan demikian, sektor Poultry semakin berpeluang mengawali Primary Uptrend.

Sektor Tower sempat Breakout Resistance dari 3Q17 namun gagal namun The Primary Trader melihat sektor ini tetap mempertahankan Uptrend-nya dari sejak 4Q18 (!). Dengan demikian, perlahan tapi pasti, sektor Tower tetap Uptrend sehingga The Primary Trader yakin kali ini Sektor Tower mampu Breakout valid Resistance dari 3Q17 tersebut.

Sektor Yang Berpotensi Outperform IHSG

Menggunakan metode Relative Performing dan pembuatan indeks sektoral (menggunakan metode Price Weighting atau Equal Weight), The Primary Trader membandingkan semua indeks sektoral dengan IHSG. Dari Ratio Chart Sektor – IHSG tersebut, The Primary Trader menerapkan metode Analisis Teknikal tradisional untuk melihat potensi chart tersebut bergerak Uptrend (yang berarti Outperform terhadap IHSG).

Chart RC FMCG – IHSG masih terlihat Uptrend dari sejak 4Q18 sehingga sektor FMCG masih berada dalam Outperform Trend terhadap IHSG – sampai saat ini.

Selain sektor Hospital berada dalam Uptrend, RC Hospital – IHSG yang mempertahakan Uptrend dari sejak 2019 mengindikasikan saham – saham Rumah Sakit bergerak Outperform IHSG. Dengan demikian, sektor ini sangatlah menarik.

Chart RC Mineral – IHSG berhasil melewati Resistance sepanjang 2018 dan 2019 sehingga tentu mengindikasikan Uptrend dari sejak Maret 2020 sangatlah kuat. Dengan demikian, sektor Mineral masih tetap berpotensi Outperform IHSG.

RC Pharmacy – IHSG sangat jelas terlihat dalam Uptrend setelah Breakout Resistance dari sejak 3Q17. Dengan demikian, sektor Pharmacy tetap berpeluang Outperform IHSG.

The Primary Trader melihat RC Poultry – IHSG sebagai Sideways yang berpotensi melanjutkan Uptrend dari sejak awal 2018. Dengan demikian, meski sering bergantian Outperform – Underperform IHSG, ada potensi dalam waktu dekat sektor Poultry akan terus mempertahankan kondisi Outperform terhadap IHSG.

RC Tower – IHSG tampaknya sudah mengonfirmasi Bullish Continuation Pattern dari sejak April 2020. Dengan demikian, sektor Tower akan kembali mempertahankan kondisi Outperform terhadap IHSG.

Pilih Sektor Apa ?

Berikut adalah sektor yang berpotensi Uptrend : Hospital, Poultry dan Tower. Sementara berikut adalah sektor yang berpotensi Outperform IHSG : FMCG, Hospital, Mineral, Pharmacy, Poultry dan Tower. Dengan demikian, setidaknya ada tiga sektor yang dapat diperhatikan yaitu sektor Hospital, Poultry dan Tower.

Dengan saling membandingkan satu sama lain (dengan metode Relative Performing yang sama) maka dapat dipilih satu sektor yang berpotensi Outperform sektor lain.

RC Hospital – Poultry

Membandingkan sektor Hospital dengan sektor Poultry maka terbentuklah chart RC Hospital – Poultry seperti di bawah. Chart RC tersebut masih terlihat Uptrend sejak 2019 dan berpotensi mempertahankan Uptrend karena terlihat membentuk Bullish Continuation dari sejak 3Q19. Dengan kata lain, sektor Hospital berpotensi mempertahakan kondisi Outperform terhadap sektor Poultry.

RC Hospital – Tower

Bila sektor Hospital dibandingkan dengan sektor Tower maka RC Hospital – Tower terlihat masih Uptrend (dari sejak 2018) namun sangat Downtrend dari sejak 4Q18. The Primary Trader belum melihat adanya potensi Bullish Reversal karena terlihat RC Hospital – Tower masih berada di Bottom (atau Support dari Up Trendline yang landai dari sejak 2018 tersebut). Oleh karena itu, sektor Tower kemungkinan besar masih akan Outperform sektor Hospital.

RC Tower – Poultry

Sampai saat ini, dapat diambil kesimpulan bahwa sektor Tower lebih menarik dari sektor Hospital dan sektor Hospital sendiri lebih menarik dari sektor Poultry. Kali ini The Primary Trader membandingkan sektor Tower dengan sektor Poultry dan terlihat RC Tower – Poultry yang jelas Uptrend dari sejak awal 2019. Bila dilihat dari tahun 2017 (atau tepatnya 3Q17), sektor Poultry masih Outperform sektor Tower. Namun Outperform Trend sektor Tower (terhadap sektor Poultry) dari sejak 2019 terlihat lebih valid sehingga The Primary Trader menyimpulkan sektor Tower masih akan Outperform sektor Poultry.

Dengan demikian, kesimpulan akhir yang The Primary Trader dapat simpulkan adalah sektor Tower sangatlah menarik. Selain Uptrend, sektor dengan saham TOWR dan TBIG masih akan Outperform IHSG dan (kemungkinan besar) sektor – sektor lain termasuk sektor Hospital seperti MIKA dan Poultry seperti JPFA dan CPIN.

Pilih TOWR atau TBIG ?

Dengan membentuk RC TOWR – TBIG, The Primary Trader melihat TBIG saat ini sedang Outperorm TOWR. Namun The Primary Trader percaya RC TOWR – TBIG masih berpotensi Uptrend karena penurunan tersebut terlihat sebagai Bullish Continuation pattern. Dengan demikian, dalam jangka menengah – panjang, TOWR masih akan Outperform TBIG.

Semoga bermanfaat dan memberi inspirasi.

Sekilas mengenai Multi – Level Charts (RC Saham – IHSG, RC Saham – Sektor dan sebagainya), silahkan ditonton video Youtube ini :

Ancaman dan Harapan Pada IHSG

The Primary Trader tidak terlalu yakin IHSG masih dapat turun menuju 4,400 namun bila melihat kondisi global maupun domestik, ada kemungkinan IHSG turun dan Breakdown Support 4,800 untuk menuju 4,400. Meski kurang kuat untuk membentuk pola Bullish Reversal, setidaknya The Primary Trader yakin, dengan kondisi saat ini, rasanya sudah sulit untuk turun menuju 4,000 (terlebih lagi menuju 3,900).

Meski demikian, The Primary Trader masih percaya ada harapan IHSG tidak turun di bawah 4,800 atau setidaknya turun mendekati 4,400 namun tidak Breakdown 4,400 tersebut. Dengan demikian, IHSG hanya turun sebesar -10% dari sejak PSBB ke-2 DKI Jakarta diumumkan. Tentunya penurunan mendekati 4,400 tersebut adalah sebagai 2nd Leg untuk menyempurkan pola Bullish Reversal IHSG seperti yang telah The Primary Trader tulis sebelumnya.

Market Breadth IHSG

Dari saham – saham IDX80, The Primary Trader mencatat ada 69 saham bergerak dalam kondisi Trading Value yang lebih kecil dari biasanya. Pergerakan harga tanpa Trading Value dapat dikatakan kurang valid. Investor / Trader dapat melihat ini sebagai bukti bahwa tidak banyak Minat atau Aktifitas sehingga pergerakan naik atau turun bukan berarti merupakan bagian dari Trend. Meski demikian, perlu diingat bahwa penurunan harga dapat terus terjadi tanpa Trading Value atau Volume (Falling On Its Own Weight).

Sementara dari sisi Stochastic Oscillator, 50 saham IDX80 mencatat kondisi Oversold dimana berarti penurunan dari saham tersebut berpotensi mulai terbatas (karena Jenuh Jual atau Minat Jual sudah terbatas). Akan tetapi, dalam kondisi Downtrend yang kuat maka akan sangat mudah ditemukan saham dengan kondisi Oversold tersebut (seperti pada kondisi di Februari 2020 – Maret 2020). Satu hal yang mungkin positif adalah mulai ada peningkatan saham – saham yang mencatat sinyal Alert Buy.

The Primary Trader sempat optimis mengingat di pertengahan September 2020, lebih dari 50% saham IDX80 yang mencatat 5D Return yang positif. Melihat historis 2 bulan terakhir, bila lebih dari 50% saham IDX80 mencatat 5D Return positif maka ada potensi IHSG naik 2-4 minggu ke depan. Akan tetap, tidak lama kemudian, justru lebih dari 50% saham IDX80 yang mencatat 5D Return yang negatif ^.^

Simple Traditional Indicators

Kembali menggunakan indikator tradisional pada IHSG, The Primary Trader ingin mencatat 2 ancaman pada IHSG (berdasarkan Ichimoku Kinko Hyo) yaitu adanya Red Cloud (yang telah muncul 2 minggu lalu) serta Breakdown Green Cloud (sejak 3 hari lalu). Dua hal ini mengindikasikan ancaman Downtrend namun terlihat ada Support kuat di 4,400 yang berasa dari Kumo-nya Ichimoku.

Ancaman kedua adalah adanya potensi Death Cross antara MA20 dengan MA60. Menggunakan MA60 Direction, ada potensi MA60 dalam waktu dekat akan bergerak ke bawah (turun) sehingga semakin memperjelas ancaman potensi penurunan IHSG yang mungkin dalam bentuk Downtrend (setidaknya Intermediate Downtrend atau Downtrend Jangka Menengah).

Harapan Pada IHSG

The Primary Trader melihat salah satu harapan IHSG terlihat pada kondisi Under-owned Asing. Bila tidak ada lagi Investor Asing yang mau jual, apakah Investor Domestik (katakanlah BPJS Ketenagakerjaan, Taspen atau Mandiri Manajemen Investasi) mau jual investasi sahamnya? Rasanya tidak.

Secara sentimen, The Primary Trader berhadap pada dua hal : Vaksin dan Omnibus Law. Semoga.

CPO : Saham Yang Berpotensi Mengawali Primary Uptrend

Harga CPO Malaysia masih terindikasi berpotensi mempertahankan Uptrend untuk menguji kembali Resistance di MYR3,200. Penurunan saat ini terindikasi sebagai Technical Correction, tentu dengan asumsi akan tetap bertahan di atas MYR2,850.

CPO Malaysia seharusnya masih berpotensi kembali menguji Resistance kuat dari 3 tahun terakhir yaitu di MYR3,200. The Primary Trader melihat di tahun 2020, ada kesempatan CPO Malaysia berpotensi Breakout Resistance jangka panjang tersebut sehingga benar – benar mengawali Primary Uptrend.

Salah satu katalis yang penting bagi CPO adalah keseriusan Indonesia untuk menggunakan CPO produksi domesti menjadi Biodiesel. Saat ini Indonesia sudah menerapkan B30 yaitu kandungan 30% CPO. Namun ada rencana yang sudah mulai terbukti untuk melanjutkannya menjadi B50 sampai B100. Mungkin akan sulit untuk sampai B100 tapi The Primary Trader melihat kemungkinan Biodiesel akan menjadi B50. Pemerintahpun tampaknya setuju.

Dengan kondisi global, The Primary Trader tidak yakin harga CPO dapat kembali naik menuju MYR4,000 namun The Primary Trader cukup yakin ada kemungkinan besar untuk sampai ke level MYR3,500an.

Setidaknya ada tiga kemungkinan katalis kenaikan CPO Malaysia dalam 6 bulan ke depan yaitu permintaan China (paska Recovery dari Pandemi Covid-19), festival Diwali di India serta ancaman La Nina. Karena kebijakan Lockdown di banyak negara, impor menjadi rendah sekali termasuk minyak konsumsi (Vegetable Oil). Oleh karena itu, The Primary Trader meyakini hal ini akan menjadi katalis kenaikan harga CPO Malaysia atau setidaknya mencegah harga CPO Malaysia kembali turun drastis.

Saham CPO Pilihan The Primary Trader

Ada dua saham yang The Primary Trader lihat sedang bersiap untuk mengakhiri Primary Downtrend-nya yaitu TBLA dan DSNG.

The Primary Trader melihat TBLA diuntungkan dari sektor CPO dan Gula. Dua bisnis ini seharusnya menjadi katalis positif bagi TBLA karena selain memiliki kebun sawit dan tebu, TBLA juga mampu mengolah komoditas tersebut. Selain itu, TBLA juga merupakan pemasok B30 dan importir gula.

Hal yang membuat The Primary Trader menyukai TBLA adalah fakta bahwa TBLA sedang Breakout Down Trendline di Rp800 yang juga merupakan area Resistance jangka panjang. Dengan potensi Breakout maka TBLA berpeluang mengawali Primary Uptrend menuju Rp1,300.

DSNG adalah salah satu emiten CPO yang masih relatif kecil tapi kurang lebih sama seperti TBLA. Sebagai salah satu emiten muda, The Primary Trader melihat mulai banyak minat dan partisipasi Investor sehingga ada potensi sentimen terhadap DSNG mulai positif.

Meskipun masih muda namun pohon sawit DSNG yang memasuki Prime Mature akan terus bertambah dalam 3 tahun ke depan. Hal ini membuat DSNG berpotensi menjadi emiten CPO yang menarik.

The Primary Trader melihat DSNG sedang menguji Resistance penting di Rp500 yang menahan DSNG sejak tahun 2018. DSNG sendiri mulai berhasil Breakout Primary Downtrend di Rp450an sehingga peluang Breakout Rp500 terlihat membesar. Setelah Breakout Rp500, DSNG berpotensi mengawali Primary Uptrend menuju Rp700.

Microscopic Technical Analysis Concept (Include Dandy Rotation). Also Youtube Videos.

Beberapa tahun lalu, The Primary Trader mengembangkan metode untuk melihat pergerakan indikator. Pada akhirnya, metode tersebut digabungkan dan dikembangkan dalam konsep Microscopic Technical Analysis yang pada intinya mengkuantifikasikan gambar visual yang biasa dilakukan apabila kita melakukan Zoom In suatu chart.

Sejak Agustus 2020, The Primary Trader membuat video mengenai Microscopic Technical Analysis untuk memberikan inspirasi dan ide bagi Investor, Trader dan Analis Teknikal. Posting ini adalah untuk menjembatani vide di Youtube tersebut.

Keseluruhan materi Microscopic Technical Analysis dapat dibaca di Slideshare berikut :

Ada download di : https://www.slideshare.net/MMDandytraCSACFTe/microscopic-technical-analysis-238518628

Susunan Microscopic Technical Analysis

Dasar dan awal Microscopic Technical Analysis adalah ketika The Primary Trader terinspirasi dari indikator Moving Average Convergence Divergence (MACD). Untuk informasi, MACD terdiri dari MACD Line dan Signal Line. Inspirasi utama The Primary Trader adalah bahwa MACD masih memiliki Histogram MACD yang merupakan pengurangan dari MACD Line dan Signal Line.

Metode simple tersebut (dengan makna yang sangat mendalam dan luas) memberikan inspirasi utama bahwa Simplicity Is Just As Good or Even Better Than The Complex One.

Link Video Youtube Seri Microscopic Technical Analysis

Berikut adalah video Youtube yang membahas 5 bagian Microscopic Technical Analysis :


MACD

Video ini menjelaskan sumber inspirasi utama Microscopic Technical Analysis sekaligus sebagai perkenalan dengan indikator Moving Average Convergence Divergence (MACD).


Previous Line dan MA Direction

Video ini adalah dasar dari Microscopic Technical Analysis dan sebagai konsep awal.


4 Signals

Video ini menambahkan dua sinyal diluar sinyal Buy dan Sell (Crossover) yaitu Alert Buy dan Warning Sell atau “A Moment Before” Crossover


Relative Performing

Video ini menjelaskan penerapan konsep Microscopic Technical Analysis pada metode Relative Performance menggunakan Ratio Chart atau Relative Strength Comparison.


Dandy Rotation

Video ini membagikan metode dan perhitungan serta cara The Primary Trader membuat Dandy Rotation yang merupakan pengembangan dari Relative Rotation Graph menggunakan konsep – konsep di dalam Microscopic Technical Analysis.


Semoga bermanfaat, berguna dan menginsipirasi.

PSBB Kedua DKI Jakarta = 2nd Leg Untuk Menyempurnakan Pola Bullish Reversal Pada IHSG

How Emergency Brakes Work - All Tech Automotive

9 September 2020, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengumumkan PSBB Total pada 14 September 2020. Hal ini membatalkan PSBB Transisi dan kembali mengulang PSBB seperti pada 10 April – 4 Juni 2020. Kebijakan Emergency Brake diambil karena laju pertumbuhan kasus aktif di Jakarta kembali meningkat selama PSBB Transisi dari awal Juni 2020. Kasus aktif terbukti melanda ketika dilakukan PSBB (selama April – Juni 2020).

Pada perdagangan 10 September 2020, IHSG langsung mencatat penurunan dalam dan di sesi 1, IHSG pun mengalami Emergency Break atau Trading Halt karena mengalami penurunan sebesar -5%. Penurunan tersebut terus terjadi sehingga di akhir sesi, IHSG tetap mencatat penurunan -5%.

Perlemahan IHSG sebenarnya sudah mulai terjadi pada dari akhir Agustus 2020 setelah IHSG gagal Breakout Resistance di 5,400an yang merupakan Resistance dari Fibonacci Retracement di level 61.8% (ditarik dari mid Januari 2020 – akhir Maret 2020). The Primary Trader melihat Resistance ini cukup penting (dan terbukti kuat) sehingga gagalnya IHSG untuk Breakout level tersebut mengindikasikan perlemahan dari kekuatan Uptrend sejak akhir Maret 2020. Meski tidak berharap adanya PSBB, tampaknya berita tersebut menjadi katalis penurunannya.

Berpotensi Sebagai Bagian Dari Bullish Reversal

Meskipun secara YTD IHSG masih mencatat negatif return yaitu sebesar IHSG sebenarnya -22.3% (thanks to penurunan -5% pada 10 September 2020), IHSG sendiri masih mencatat positive return sebesar 24% dari sejak akhir Maret 2020. Pada puncaknya di akhir Agustus 2020 lalu, IHSG bahkan sempat mencatat positive return sebesar 36% (sementara penurunan IHSG dari awal tahun 2020 sampai Bottom di 2020 adalah sebesar -37%). Artinya IHSG sendiri telah membalikkan kerugian yang terjadi akibat penurunan di awal pandemi global. Cukup lucu apabila melihat IHSG yang mulai naik justru di masa awal PSBB Total DKI Jakarta (awal April 2020).

Secara jangka panjang, dari sejak awal tahun 2018, IHSG masih berada dalam Downtrend (jangka panjang). IHSG tercatat mengalami penurunan sebesar -39% apabila dihitung dari All Time High (di tahun 2018 tersebut) sampai Bottom 2020.

IHSG gagal menguji Resistance kuat di area 5,400 – 5,550 yang terbukti menjadi level kritis sejak tahun 2015. Beberapa kali level tersebut menjadi Resistance kuat di 2H16 dan Support kuat di Mid 2018. The Primary Trader melihat cukup wajar apabila di tahun ini IHSG tidak mampu Breakout area Resistance tersebut dalam satu kali percobaan.

Karena Resistance tersebut cukup kuat dan mengingat IHSG kemungkinan sedang ingin membalikkan Downtrend Jangka Panjang yang telah terjadi sejak tahun 2018 maka The Primary Trader melihat diperlukan penurunan sebagai bagian dari persiapan untuk IHSG kembali menguji Resistance 5,400 – 5,550. Apabila kali ini IHSG ‘ingin’ berhasil maka The Primary Trader ingin melihat adanya pola Bullish Reversal yang kuat mengingat IHSG harus membalikkan Downtrend Jangka Panjang yang telah terjadi selama setidaknya 28 bulan (!).

Salah satu pola Bullish Reversal yang The Primary Trader sukai adalah Double Bottom. Namun bila IHSG sedang membentuk Double Bottom maka IHSG masih terancam turun sebesar -18% dari level saat ini (menuju level 4,000an). The Primary Trader percaya PSBB Total yang kedua kali ini memberikan dampak negatif yang relatif kecil dibanding PSBB Total yang pertama. Hal ini karena Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah dan (terutama) pelaku bisnis sudah lebih siap. Selain itu, masyarakat pun sudah mulai terbiasa tetap Spending secara Online yang tentu menolong untuk melakukan konsumsi (bahkan membeli mobil dan rumah secara online).

Salah satu harapan adalah IHSG masih turun -10% menuju Support di 4,400. Meski hanya turun -10% lagi, namun The Primary Trader melihat pola Bullish Reversal IHSG akan kurang kuat bila IHSG mencatat 2nd Bottom di 4,400an. Akan tetap, hal ini pernah terjadi (setidaknya) dua kali di tahun 2013 dan 2015. Kondisi Makro maupun Analisis Teknikal pada tahun tersebut memang tidak sama seperti tahun 2020 ini. Namun setidaknya hal ini memberikan harapan agar IHSG tidak turun lagi mendekati level 4,000.

Dimanapun Bottom kedua IHSG, The Primary Trader berharap Pandemi Covid-19 segera berlalu dan Vaksin dapat segera diberikan kepada masyarakat luas. Semoga.