Find Your Own Katana – Lessons From “Ghost Of Tsushima”

Ghost of Tsushima: its creators explain how we will clean the blood of the  katana

The Primary Trader baru saja menyelesaikan game Ghost of Tsushima dan selama bermain, filosofi seorang Samurai sangat terasa sehingga sepanjang permainan, The Primary Trader (dan Gamer lain) merasa mendapat pelajaran hidup yang penting. Tentu pelajaran tersebut dapat diterapkan dalam proses Trading dan Investing.

The Primary Trader mengasumsikan pembaca sudah pernah bermain Ghost of Tsushima. Meskipun pembelajarannya dapat berbeda namun setidaknya kita sama – sama mendapatkan kebahagiaan yang sama dalam bermain game tersebut.

The time you enjoy wasting is not wasted time

Bertrand Russell

Katana Adalah Lethal Weapon. Begitupun Metode Standar Yang Kita Pelajari Di Awal Pembelajaran. Percayalah.

Kadang Gamer lupa bahwa Katana yang menjadi satu – satunya senjata utama di game adalah senjata yang sangat mematikan. Semua musuh dapat dikalahkan dengan Katana, tanpa perlu bantuan senjata lain – apalagi Ghost Weapon. Gamer bahkan tidak perlu selalu menggunakan Heavy Attack karena Quick Attack sudah cukup untuk mengalahkan musuh atau untuk memberikan serangan terakhir.

Ghost of Tsushima Combat Guide: 7 steps to mastery

Seringkali Trader atau Investor yang sudah mendapatkan ilmu dasarnya ragu untuk menerapkan ilmu dasar tersebut. Percayalah bahwa ilmu dasar tersebut sudah cukup untuk membantu Trader dan Investor mencapai tujuan investasi. Meskipun hanyalah sebuah Bullish Crossover pada Moving Average ataupun Actual Price to Earning Ration yang lebih murah dari Peers, hal tersebut cukup untuk menjadi alasan untuk melakukan Action Buy.

Pada saat kesempatan tersebut muncul, lakukan Quick Attactk.

Lebih Baik Pandangan Mata Dibanding Guiding Wind. Jangan Terlalu Banyak Mendengarkan Kata Orang Lain.

Hal menarik dari game ini adalah petunjuk arah menggunakan arah angin.

Ghost of Tsushima: 5 Hal Menarik di Dalamnya! | Medium

Namun beberapa kali The Primary Trader bingung dalam mencari lokasi dengan hanya menggunakan Guiding Wind. Pada akhirnya, pandangan secara visual lebih membantu dalam mencari lokasi yang diinginkan, baik itu menggunakan peta maupun dengan melihat sekeliling (memanfaatkan Camera Movement). Bonus memanfaatkan Camera Movement adalah Gamer dapat benar – benar menikmati pemandangan Jepang yang masih alami.

Trader dan Investor seringkali membaca riset atau bahkan mendengar dari orang lain terkait saham atau aset yang menarik. Lebih fatal lagi adalah untuk Trader yang bahkan tidak melihat Chart dari saham tersebut. Untuk Investor, apabila hanya melihat rasio dan kinerja keuangan perusahaan tanpa melihat kondisi makro ekonomi atau industri, hal tersebut pun cukup berbahaya.

Jangan lupa untuk melihat langsung “lingkungan” Trader atau Investor. Lihat Chart atau Laporan Tahunan misalnya.

Tujuan Utama Adalah Melindungi Warganya. Menjadi Samurai Atau “Ghost” Adalah Pilihan. Trading Atau Investing, Yang Paling Penting Adalah Pertambahan Dana Investasi.

The Primary Trader kurang setuju Jin Sakai dipaksa melakukan Stealth Attack (ini bukan Assasin’s Creed!!) atau menggunakan Poison Dart. Namun pada akhirnya, dalam melawan Mongols, Straw Hat atau Bandit yang seringkali berjumlah 3 – 5 orang dalam satu waktu, beberapa senjata seperti Kunai atau teknik Dance of Wrath seringkali menjadi andalan. Setidaknya Stealth Attack jarang digunakan karena kurang terlihat “Honor”-nya.

Apa sedikit perbedaan antara Kaku dan Konsisten. Menurut The Primary Trader, Kaku itu adalah ketika Lord Shimura, paman Jin Sakai, memaksakan diri untuk memperbaiki jembatan dalam menyerang Castle Shimura. Konsisten itu adalah ketika Sakai akhirnya menjadi Ghost (alias ninja) sepanjang sisa game dengan tujuan mengalahkan pasukan Mongol dan melindungi warganya.

Ghost of Tsushima Gameplay -Jin's Unanticipated Narrative

Seringkali kita berdebat lebih baik menjadi Trader atau Investor. Pada saat itulah kita lupa tujuan utama saat membuka akun dan menempatan dana investasi kita. Tentu kita ingin agar dana investasi awal berkembang yang membuat kita sejahtera pada waktunya nanti.

Ada beberapa poin penting yaitu : 1) dana investasi awal, 2) sejahtera dan 3) pada waktunya nanti. Tiga poin tersebutlah yang membuat tidak ada posisi yang lebih baik, Trader atau Investor.

Ada beberapa misi yang pada akhirnya harus dilakukan Stealth (The Primary Trader sangat kesulitan ketika harus mengendap – endap menaruh surat untuk Lord Shimura di kamarnya di dalam Castle Shimura). Selebihnya, Gamer dapat bebas menentukan kapan menjadi Samurai atau mengaktifkan Ghost Mode.


Masih banyak pelajaran dari Ghost of Tsushima yang dapat diterapkan pada Trading atau Investing seperti sikap kalem Jin Sakai (yang sebagian orang menganggap “Boring”) dan tanpa emosi pada sebagian besar pertempuran atau duel dengan musuh. Setidaknya tiga hal tersebut yang cukup membekas bagi The Primary Trader.

Semoga bermanfaat.

Market Review 201016

The Primary Trader ingin membagikan beberapa grafik untuk memberikan Review singkat mengenai kondisi pasar dan saham IDX80.

Sektor Construction mulai dapat diperhatikan karena Momentum kenaikan-nya mulai muncul. Sektor Mineral dan Kesehatan (Healthcare dan Pharmacy) mulai mencatat kenaikan yang sangat tinggi sehingga perlu diwaspadai.

Hanya sektor Paper yang mencatat Downtrend. Sektor FMCG, Telecom, Cigarettes dan Multifinance dalam Uptrend namun Oversold. Mulai layak diperhatikan.

Sektor yang berbasis Commodity (biru) dan Infrastructure (kuning) mulai menarik karena berada dalam Uptrend dan Stochastic Oscillator-nya masih netral atau belum Overbought.

BRIS dan ANTM mendapat sinyal Alert Buy. Meski sudah tinggi namun masih ada peluang naik.

BRIS memang mencatat Net Foreign Buy namun MDKA, BULL dan BTPS mencatat Net Foreign Buy yang lebih besar dari BRIS. BULL yang juga mendapat sinyal Alert Buy memiliki kemungkinan naik yang menarik dibanding MDKA dan BTPS.

Sektor Telekomunikasi Berpotensi Outperform IHSG. EXCL Layak Menjadi Pilihan.

Ratio Chart Sektor Telecom dengan IHSG terlihat berada di Support dari sejak 2Q19. MA20-nya memang masih turun namun mulai melandai dan hampir terjadi Golden Cross yang artinya Sektor Telecom berpotensi memasuki Outperform Trend terhadap IHSG. Bila melihat kejadi dari sejak 2Q19 lalu, kecenderung saham – saham Telekomunikasi (TLKM, EXCL dan ISAT) bergerak Outperform IHSG dapat bertahan 3 – 6 bulan.

Dari tiga saham Telekomunikasi yang masuk menjadi bagian dari Sektor Telekomunikasi di atas, The Primary Trader melihat saham EXCL memulai Outperform Trend terhadap IHSG. Pada awal Oktober 2020, Ratio Chart EXCL – IHSG berhasil Breakout MA20 atau Golden Cross sehingga menurut The Primary Trader, saham EXCL memasuki Outperform Trend terhadap IHSG.

Saham – saham lain di sektor Telekomunikasi seperti TLKM dan ISAT masih dalam Underperform Trend karena Ratio Chart TLKM – IHSG serta Ratio Chart ISAT – IHSG masih di bawah MA20.

Dengan demikian, The Primary Trader melihat adanya potensi yang menarik di Sektor Telekomunikasi khususnya EXCL. Secara Analisis Teknikal tradisional, EXCL sedang menguji Resistance dari Downtrend Channel yang terbentuk sejak Juli 2020 yaitu di Rp2,200. Segera setelah Breakout Rp2,200, EXCL berpotensi naik menguji Resistance di Rp2,700 yang cukup kuat dan merupakan bagian dari Down Trendline dari sejak November 2019 (!).

Net Sell Asing di EXCL pun terlihat mulai melandai dan mulai muncul beberapa kali Net Buy Asing dalam 2 minggu terakhir. Cukup menjanjikan – menurut The Primary Trader.

Menggunakan analisis Bollinger Band Complete (ditambah dengan Microscopic Technical Analysis), The Primary Trader dapat menyimpulkan bahwa EXCL yang sudah berada di atas Middle Band atau MA20 berpotensi terus naik karena MA20-nya sendiri mulai mengarah ke atas (dilihat dari Middle Band Direction yang mulai positif). Selain itu, volatilitas berpotensi meningkat karena Bandwidth BB berpotensi mengarah ke atas – yang menandakan jarak antara Upper Band dan Lower Band mulai melebar. The Primary Trader menyimpulkan demikian karena Bandwidth Histogram mulai kembali positif – tanda Bandwidth BB mulai mengarah ke atas.

Menurut Analis, Sektor Telekomunikasi adalah salah satu yang diuntungkan dari UU Omnibus Law karena akan semakin memperkecil persaingan antara pemain Telekomunikasi. Singkatnya, ada potensi industri ini semakin efisien.

Satu hal penting yang The Primary Trader sukai dari EXCL adalah bahwa emiten ini sangat bergantung dengan pendapatan Data. The Primary Trader menyukai pertumbuhan pendapatan Data EXCL di 1H20 sebesar 16.5% setelah tumbuh 4.6% QoQ dan 14.9% YoY di 2Q20 – Thanks to WFH Trend. Persaingan memang makin ketat sehingga pelanggan EXCL berkurang. Namun demikian, tetap pendapatan EXCL secara keseluruhan bertambah.

Perlu diperhatikan bahwa Investor masih menantikan perkembangan UU Omnibus Law yang baru saja disahkan. Perlawanan dari masyarakat tampaknya menjadi kekhawatiran tersebut. The Primary Trader berharap situasi dapat kondusif dan memberikan keyakinan akan sentimen positif dari implementasi UU Omnibus Law ini. Semoga.

UU Omnibus Law : Indonesia Is (Finally) Open For Business

The Primary Trader meyakini bahwa UU ini akan menjadi solusi masalah utama dan (salah satu) cara untuk Indonesia menjadi negara maju – dan keluar dari jebakan Middle Income Trap. The Primary Trader memang bukan ekonom namun setidaknya ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan kenapa The Primary Trader menyukai UU ini.

Lupakan Investor Besar. Investor Kecil Lokal (Termasuk The The Primary Trader) Pun Ingin Menjadi Pengusaha.

Penyederhanaan izin berusaha (membuat PT sampai label Halal) dapat mendorong makin banyak pengusaha resmi yang membangun badan hukum. Dengan demikian, seharusnya nanti makin banyak pengusaha kecil yang perlahan menjadi besar – dan membuka lapangan kerja.

Indonesia mungkin butuh 100 Investor besar yang berinvestasi triliunan Rupiah. Namun jangan lupa, kemunculan 1 juta Pengusaha yang memperkerjakan 10 orang dengan investasi Rp 10 juta berpotensi memiliki dampak yang lebih besar.

The Primary Trader rasanya bila ada ada kemudahan, Informal Employment dapat berubah menjadi Formal Employment (sementara Formal Employment pun tetap bertambah). Tantangan terbesar tenaga kerja Indonesia adalah banyaknya Labor Force dengan pendidikan Vokasi (SMK ?). Namun justru hal ini menjadi modal untuk bekerja menghasilkan sesuai – baik itu secara formal maupun informal. The Primary Trader rasa di UU Omnibus Law lah ada jawabannya.

PHK Adalah Bagian Dari Risiko Menjadi Karyawan. Lowongan Pekerjaan Yang Semakin Kecil Adalah Risiko Sebenarnya.

The Primary Trader sendiri adalah seorang karyawan yang saat ini bekerja di perusahaan asuransi lokal. Dengan pengalaman kerja 10 tahun, The Primary Trader telah bekerja di 10 perusahaan (!). Dalam satu tahun, The Primary Trader pernah pindah 3 kali. Dan hal tersebut pernah dua kali terjadi. Kondisi tersebut terjadi pada saat Booming di pasar modal.

Saat ini The Primary Trader merasa bahwa kondisi lapangan pekerjaan semakin berkurang. Dan dibanding PHK, The Primary Trader lebih mengkhawatirkan kondisi tersebut.

Bila di PHK ? Tentu akan semakin tinggi dorongan untuk berusaha atau mencari pekerjaan baru. Akan tetapi, bila sewaktu masih bekerja saja The Primary Trader tahu bahwa jumlah pekerjaan semakin berkurang, tentu The Primary Trader sudah khawatir – bahkan sebelum dan itupun jika The Primary Trader terkena PHK.

Tingkat pengangguran mungkin dalam tren turun (walau pasti meningkat karena Pandemi Covid-19 namun datanya belum rilis). Pada 1Q20, tingkat pengangguran Indonesia di level 4.99%, belum mencerminkan dampak Pandemi Covid-19. The Primary Trader lebih mengkhawatirkan Labor Participant Rate yang terus naik dari tahun 2015. Hal ini menandakan akan semakin banyak warga Indonesia yang produktif dan aktif mencari kerja. Tentu bila tidak tertampung (mendapat pekerjaan atau membangun usaha), hal ini akan menjadi problem – bukannya menjadi Bonus Demography.

Indonesia Labor Force Participation Rate

The Primary Trader rasa tidak akan ada aturan dari Pemerintah yang 100% sesuai dengan keinginan banyak pihak. Akan tetapi, setidaknya dengan UU Omnibus Law ini, ada tambahan harapan untuk perubahan bagi Indonesia. The Primary Trader juga bagian dari pihak yang masih mendapat gaji. Namun tentu ada keinginan untuk tidak seumur hidup menjadi pihak yang menunggu gaji bulanan.

The Primary Trader menyukai UU Omnibus Law karena berharap ada perubahan yang lebih baik untuk Indonesia. Semoga