The Primary Trader meyakini bahwa UU ini akan menjadi solusi masalah utama dan (salah satu) cara untuk Indonesia menjadi negara maju – dan keluar dari jebakan Middle Income Trap. The Primary Trader memang bukan ekonom namun setidaknya ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan kenapa The Primary Trader menyukai UU ini.

Lupakan Investor Besar. Investor Kecil Lokal (Termasuk The The Primary Trader) Pun Ingin Menjadi Pengusaha.

Penyederhanaan izin berusaha (membuat PT sampai label Halal) dapat mendorong makin banyak pengusaha resmi yang membangun badan hukum. Dengan demikian, seharusnya nanti makin banyak pengusaha kecil yang perlahan menjadi besar – dan membuka lapangan kerja.

Indonesia mungkin butuh 100 Investor besar yang berinvestasi triliunan Rupiah. Namun jangan lupa, kemunculan 1 juta Pengusaha yang memperkerjakan 10 orang dengan investasi Rp 10 juta berpotensi memiliki dampak yang lebih besar.

The Primary Trader rasanya bila ada ada kemudahan, Informal Employment dapat berubah menjadi Formal Employment (sementara Formal Employment pun tetap bertambah). Tantangan terbesar tenaga kerja Indonesia adalah banyaknya Labor Force dengan pendidikan Vokasi (SMK ?). Namun justru hal ini menjadi modal untuk bekerja menghasilkan sesuai – baik itu secara formal maupun informal. The Primary Trader rasa di UU Omnibus Law lah ada jawabannya.

PHK Adalah Bagian Dari Risiko Menjadi Karyawan. Lowongan Pekerjaan Yang Semakin Kecil Adalah Risiko Sebenarnya.

The Primary Trader sendiri adalah seorang karyawan yang saat ini bekerja di perusahaan asuransi lokal. Dengan pengalaman kerja 10 tahun, The Primary Trader telah bekerja di 10 perusahaan (!). Dalam satu tahun, The Primary Trader pernah pindah 3 kali. Dan hal tersebut pernah dua kali terjadi. Kondisi tersebut terjadi pada saat Booming di pasar modal.

Saat ini The Primary Trader merasa bahwa kondisi lapangan pekerjaan semakin berkurang. Dan dibanding PHK, The Primary Trader lebih mengkhawatirkan kondisi tersebut.

Bila di PHK ? Tentu akan semakin tinggi dorongan untuk berusaha atau mencari pekerjaan baru. Akan tetapi, bila sewaktu masih bekerja saja The Primary Trader tahu bahwa jumlah pekerjaan semakin berkurang, tentu The Primary Trader sudah khawatir – bahkan sebelum dan itupun jika The Primary Trader terkena PHK.

Tingkat pengangguran mungkin dalam tren turun (walau pasti meningkat karena Pandemi Covid-19 namun datanya belum rilis). Pada 1Q20, tingkat pengangguran Indonesia di level 4.99%, belum mencerminkan dampak Pandemi Covid-19. The Primary Trader lebih mengkhawatirkan Labor Participant Rate yang terus naik dari tahun 2015. Hal ini menandakan akan semakin banyak warga Indonesia yang produktif dan aktif mencari kerja. Tentu bila tidak tertampung (mendapat pekerjaan atau membangun usaha), hal ini akan menjadi problem – bukannya menjadi Bonus Demography.

Indonesia Labor Force Participation Rate

The Primary Trader rasa tidak akan ada aturan dari Pemerintah yang 100% sesuai dengan keinginan banyak pihak. Akan tetapi, setidaknya dengan UU Omnibus Law ini, ada tambahan harapan untuk perubahan bagi Indonesia. The Primary Trader juga bagian dari pihak yang masih mendapat gaji. Namun tentu ada keinginan untuk tidak seumur hidup menjadi pihak yang menunggu gaji bulanan.

The Primary Trader menyukai UU Omnibus Law karena berharap ada perubahan yang lebih baik untuk Indonesia. Semoga