Menakar Potensi Penguatan Rupiah

Rupiah Menguat 6% Dalam 30 Hari

Rupiah saat ini berada di level Rp14,135 setelah di bulan September 2020 berada mendekati Rp15,000. Setelah UU Omnibus Law disahkan di awal Oktober 2020, Rupiah yang saat itu berada di Rp14,700 langsung menguat mendekati Rp14,000. The Primary Trader melihat masih ada katalis yang dapat mendorong penguatan Rupiah antara lain sebagai berikut :

  1. Disahkan Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) yang merupakan perjanjian dagang Asia Pasific dengan nilai ekonomi terbesar di dunia. Tentu Indonesai termasuk di dalam RCEP ini.
  2. Kemenangan Joe Biden sebagai Presiden AS yang diharapkan mendorong pertumbuhan ekonomi global dengan AS (dan China) sebagai motornya
  3. Vaksin Covid-19 dari Pfizer dan Moderna yang disebutkan aman dengan tingkat keberhasilan 90% dan 94%

Potensi Penguatan Rupiah Secara Analisis Teknikal

Penguatan Rupiah yang terlalu cepat terbukti tidak baik bagi Indonesia dan Bank Indonesia pun akan mengambil langkah untuk mengerem laju Rupiah. Oleh karena itu, dalam jangka pendek sampai menengah (3-6 bulan ke depan), The Primary Trader perkirakan Rupiah dapat menguat sampai Rp13,600 – Rp13,800.

The Primary Trader melihat level Rp13,600 adalah level signifikan bagi Rupiah sejak tahun 2016 karena level ini menjadi Resistace selama 2 tahun (!). Setelah Breakout Rp13,600 di awal 2018, Rupiah melemah (terhadap US Dollar) sampai Rp15,200. Level ini kemudian dilewati karena Pandemi Covid-19 karena di tahun 2020, Rupiah melemah sampai Rp16,600.

Support di Rp13,800 adalah Up Trendline Rupiah dari sejak akhir 2016 tersebut. Up Trendline ini menunjukkan secara jangka panjang, Rupiah masih berada dalam tren melemah terhadap US Dollar (atau chart USDIDR masih dalam Uptrend).

Peluang Penguatan Rupiah Di Bawah Rp13,600

Melihat historis, Rupiah memiliki level signifikan di Rp12,300, Rp12,900 (dan Rp13,600). Apabila ternyata Rupiah berhasil turun di bawah Rp13,600, Support berikut yang menahan penurunan USDIDR ada di Rp12,900 lalu berikutnya di Rp12,300.

Menurut The Primary Trader, agar Rupiah dapat turun di bawah Rp13,600, kekuatan UU Omnibus Law harus dijalankan dengan baik sehingga mendatangkan banyak investasi asing dan produksi dalam negeri meningkat. Mungkin agak terlalu muluk bila bermimpi Indonesia menjadi negara eksportir seperti negara maju (atau negara berkembang seperti Korea Selatan dan China). Tapi setidaknya, bila Indonesia berhasil mengurangi impor barang “remeh”, Rupiah sudah hampir dipastikan dapat menguat. Tentu penurunan impor yang diharapkan bukan karena Global Lockdown atau PSBB seperti yang terjadi saat ini karena Pandemi Covid-19.

Indonesia Balance of Trade

Author: MM Dandytra

Professional Tactical Asset Allocator, Internationally Awarded Technical Analyst, Private Investor / Trader, Amateur Blogger

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s