Chart Coal Jelas Menunjukkan Bullish Namun Secara Logika Meragukan

Seorang Analis Teknikal yang fokus kepada pergerakan objek Analisis Teknikal (Close + Volume + Open Interest) memiliki keuntungan namun juga kekurangan. Salah satu kekurangan utama adalah Analis Teknikal akan kesulitan mencari penyebab pergerakan harga dan sering terjebak pada pergerakan palsu yang tidak logis. Namun keuntungannya adalah dapat mengurangi noise dari informasi yang kebanyakan tidak penting dan tidak signifikan berpengaruh.

Coal Mulai Bullish

The Primary Trader melihat chart Coal Newcastle dan jelas dapat disimpulkan bahwa Coal Newcastle sedang di awal Uptrend untuk jangka panjang (!). Setelah Breakout USD70, Coal Newcastle setidaknya dapat naik menuju USD95 – USD100. Memang secara Very Long Term (Secular Trend) dari sejak tahun 2011, Coal Newcastle masih dalam Secular Downtrend. Namun dengan Breakout USD70, Coal Newcastle masih sangat mungkin mengawali Uptrend jangka panjang menuju USD100 – USD105 (dalam 1-2 tahun ke depan).

Salah satu penyebabnya tentu karena Investor memperkirakan ekonomi dunia kembali bergerak dan karena teknologi belum terlalu maja maka batubara masih digunakan sebagai pembangkit listrik terutama di negara – negara berkembang (dan negara produsen) seperti China, India termasuk Indonesia. Terlebih lagi diberitakan bahwa China sedang bersitegang dengan Australia yang banyak mengekspor Coal ke China maka ada kekurangan suplai Coal ke China (yang mana dapat ditutupi oleh Indonesia). Menurut The Primary Trader, normalisasi ekonomi dunia di tahun 2021 dan ketegangan China – Australia akan menjadi katalis kenaikan Coal.

Green Investment Trend Akan Menekan Kenaikan Coal

The Primary Trader percaya bahwa dengan kemajuan teknologi dan kesadaran masyarakat dunia, kebutuhan Coal (dan bahan bakar fosil lain) perlahan akan berkurang. Dalam jangka pendek, Investor mulai mengambil perannya dengan tidak berinvestasi kepada bisnis atau emiten yang tidak ramah lingkungan. Dengan kata lain, Investor semakin giat untuk berinvestasi pada Green Business atau The Primary Trader lebih suka menggunakan istilah ESG Investing.

Esg assets as percentage of total

Diperkirakan pada tahun 2021, aset investasi yang berlabel ESG (Environment, Social and Governance) dapat mencapai 50% dari total aset kelolaan dan 10 tahun ke depan mencapai 95% – yang berarti hampir semua Investor hanya dapat berinvestasi pada aset yang ber-ESG.

Oleh karena itulah, The Primary Trader meragukan potensi kenaikan harga Coal Newcastle menuju USD95 – USD110 dalam 12 bulan ke depan. Dan disitulah kekurangan seorang Analis yang mencoba menjadi Generalist.

Combining Them All

Apabila menggunakan dasar Dow Theory, Volume Must Confirm The Trend. Lebih jauh mengenai pembahasan teori tersebut, Volume (dalam hal ini Investor) harus berbondong – bondong membeli Coal Newcastle agar harganya tetap naik (dan mempertahankan Uptrend). Tentu Investor harus memiliki alasan yang logis.

The Primary Trader melihat dalam jangka pendek – sampai ditemukan cara menghasilkan energi yang murah dan ramah lingkungan – harga Coal masih akan naik menuju USD100 dalam waktu 3-6 bulan ke depan. Dalam jangka panjang, tidak banyak lagi Investor yang berinvestasi pada Non-ESG Investment sehingga kenaikan harga Coal Newcastle akan tertahan dan kemudian kembali turun.

In the meantime, Sektor Coal tentu layak diperhatikan.

Author: MM Dandytra

Professional Tactical Asset Allocator, Internationally Awarded Technical Analyst, Private Investor / Trader, Amateur Blogger

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s