Cara Paling Mudah Dan Paling Baik Untuk Memilih Saham Yang Baik

The Primary Trader sering mendengar saran untuk memilih saham berdasarkan aspek – aspek yang masuk ke dalam koridor Analisis Fundamental. Tentu saran Warren Buffet dan Lo Kheng Hong (Warren Buffet-nya Indonesia) yang menjadi acuannya. The Primary Trader pun perlahan mengaplikasikan nasihat tersebut yang pada intinya memilih saham terbaik secara bisnis maupun valuasi dan menyimpannya dalam waktu yang lama. Meski saran tersebut nampaknya adalah saran terbaik namun The Primary Trader yakin bahwa saran tersebut tidak untuk semua orang.

Dalam hal memahami bisnis saja, tidak semua orang dapat memahami dengan komprehensif bisnis suatu emiten. Tidak terbayang seorang Ibu Rumah Tangga atau siswa SMA memahami laporan keuangan lalu menilai valuasi harga saham. Meskipun relatif mudah dan dapat dilakukan dalam waktu singkat, pada akhirnya masing – masing Investor / Trader akan berhadapan dengan konsensus pasar yaitu : “Kalau Saham ABCD Itu Bagus dan Murah Menurut Saya, Apakah Saham ABCD juga Bagus dan Murah Menurut Pasar?”

Pada akhirnya, Investor / Trader harus berhadapan dengan Fairness serta Keterbukaan (Full Disclosure) dari Emiten untuk melakukan Analisis Fundamental. Setelah itu, Investor / Trader akan berhadapan dengan Market Consensus untuk melihat apakah kebanyakan Investor / Trader juga melihat Emiten tersebut sebagai suatu investasi yang menarik. Bila Investor / Trader lain juga melihat Emiten tersebut sebagai suatu investasi yang menarik maka harga saham-nya akan naik, terlepas dari apakah aspek Fundamental-nya juga baik atau tidak.

The Primary Trader yang cenderung merupakan seorang Trader dibanding Investor melihat bahwa yang terpenting adalah Market Consensus. Sebagai satu pihak kecil ditengah struktur pasar modal, tentu kita juga harus melihat aktifitas Investor / Trader lain. Oleh karena itu, The Primary Trader meyakini bahwa tidaklah cukup bagi seorang Investor / Trader yang berpengalaman (terlebih lagi yang belum berpengalaman) untuk melakukan analisis sendiri dalam menentukan saham pilihan.

Dari pengalaman The Primary Trader sebagai bagian dari tim Research Analyst di sekuritas, banyak Analis Fundamental seringkali menjadikan Bloomberg Consensus Estimate sebagai acuan. Artinya, satu orang Analis Fundamental akan melihat target price dari Analis Fundamental lain berdasarkan data yang di-compile oleh Bloomberg. Nasihat bijak dari analis yang berpengalaman adalah sebagai berikut :”Kalau target price atau estimasi laporan keuangan kita jauh dari Consensus Bloomberg, kemungkinan besar ada yang salah dari model kita.”

Hal ini menunjukkan bahwa betapa pentingnya Consensus dan bahkan Consensus (suara banyak orang) dapat dianggap sebagai suatu kebenaran di pasar modal. Perlu dicatat bahwa kebenaran di dunia ini mungkin relatif namun di pasar modal, kebenaran berarti adalah harga saham Naik atau Turun. Jargon di dunia investasi adalah “Market Is Always Right”.

Konsensus Daftar Saham – Saham Terbaik

The Primary Trader memposting Instagram untuk membahas cara mudah memilih saham terbaik sebagai berikut :

Dari > 700 saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), The Primary Trader yakin tidak semua saham layak dipilih. Meskipun mungkin secara aspek Analisis Fundamental semua saham tersebut bagus (walau rasanya mustahil), tidak semua saham di Bursa Efek Indonesia memenuhi Likuiditas yang cukup untuk pantas di-Trading-kan. Dengan demikian, jelas kita harus lebih berhati – hati lagi dalam memilih.

Menurut The Primary Trader, cara termudah dan terbaik untuk memilih saham yang baik adalah dengan memilih saham yang masuk ke dalam indeks tertentu. Sebagai informasi, The Primary Trader banyak menggunakan materi dari BEI (Stock Index Handbook) yang sudah di upload di Slideshare berikut :

Ebook dapat di download di website BEI.

Menurut BEI, manfaat indeks antara lain 1) Mengukur Sentimen Pasar, 2) Dijadikan Investasi Pasif, 3) Benchmark Investasi Aktif, 4) Proksi Mengukur dan Membuat Return dan 5) Proksi untuk Alokasi Aset. The Primary Trader ingin mengelaborasi manfaat indeks nomor 2 dan 3 dan menyimpulkan bahwa memilih saham yang masuk ke dalam indeks adalah cara terbaik dalam melakukan seleksi saham.

Berdasarkan laporan tahun 2019, BEI memiliki indeks sebagai berikut :

Dari klasifikasi indeks di atas, ada beberapa jenis indeks yaitu Headline, Sector, Thematic dan Factor. Jenis indeks tersebut adalah penggolongan secara garis besar. Namun bila dilihat lebih lanjut, setidaknya ada dua penggolongan yang utama yaitu : 1) Likuiditas dan 2) Analisis Fundamental.

Hampir semua saham yang masuk ke dalam indeks (terlebih lagi apabila tujuan indeks tersebut adalah memilih saham yang “cair”) memiliki likuiditas yang tinggi. Dengan demikian, sebenarnya sudah cukup untuk memilih saham – saham yang masuk ke dalam indeks tertentu. The Primary Trader meyakini sebagus apapun bisnis emiten atau semenarik apapun valuasi saham tersebut, semuanya akan percuma bila saham tersebut tidak memiliki likuiditas yang cukup. Artinya adalah akan percuma bila Investor / Trader sulit membeli atau menjual saham tersebut. Dengan demikian, memilih saham yang masuk ke dalam indeks berarti kita sudah melakukan seleksi hal paling krusial dalam investasi dan trading yaitu likuiditas.

Fundamental Sesuai Konsensus Atau Sebaliknya

Dalam hal menentukan saham dengan aspek fundamental yang bagus atau tidak, Investor atau Trader dapat memilih mana saham yang baik. Namun apabila Investor atau Trader lain (konsensus) tidak setuju – dan tidak membelinya maka tentu saham tersebut tidak naik. Hal inilah yang menurut The Primary Trader akan kurang optimal apabila opini kita tidak sama dengan opini pasar (Market Consensus). Salah satu cara untuk optimal yaitu memilih saham yang “disukai” pasar adalah dengan memilih saham – saham yang ada di indeks.

Kenapa ? Jawabannya ada di tujuan indeks itu sendiri.

BEI ingin agar indeks yang sudah disediakan dapat dijadikan produk investasi pasif dan benchmark (acuan) investasi aktif. Artinya adalah BEI ingin ada Fund Manager yang membuat Reksa Dana yang kinerjanya mengacu pada indeks tersebut. Arti yang lebih jelasnya lagi adalah BEI ingin agar Fund Manager memilih (alias membeli) saham – saham yang ada di dalam indeks tersebut untuk masuk ke Reksa Dana yang kinerjanya mengacu pada indeks tersebut.

Dengan demikian, suka atau tidak suka, bagus atau tidak bagus, hampir semua saham – saham yang ada di indeks tersebut akan dibeli oleh Fund Manager. Dengan demikian lagi, karena dana yang dikelola para Fund Manager sangat besar, maka The Primary Trader menganggap Fund Manager sebagai Market Consensus yang mudah dibaca (!).

Selain dari likuiditas, pembuat indeks seperti BEI, media massa Bisnis Indonesia dan Investor, MNC Group dan Pefindo pun menyusun suatu indeks dimana faktor Analisis Fundamental sebagai salah satu faktor utama dalam seleksi saham. Diambil dari dokumen di atas, berikut adalah beberapa deskripsi dari MNC36, Investor33, Pefindo25 dan Pefindo I-Grade :

Salah satu faktor dari keempat indeks tersebut adalah berdasarkan aspek fundamental yaitu rasio dan kinerja keuangan serta peringkat dari obligasi emiten. Dengan demikian, saham yang masuk ke dalam indeks (misalnya) Investor33 berarti sudah dapat dianggap bagus secara fundamental. Namun seperti tadi pemikiran The Primary Trader, saham yang dianggap bagus oleh Majalah Investor (pembuat indeks Investor33) bukan berarti dianggap bagus dan dibeli juga oleh Investor lain. Disinilah pentingnya dan perannya Fund Manager.

Fund Manager yang mengelola Passive Fund seperti Reksa Dana Indeks atau ETF Indeks adalah pihak yang “membeli” saham – saham yang masuk ke dalam indeks tertentu tersebut. Dengan kata lain, apabila Reksa Dana Indeks tersebut mengacu kepada indeks Investor33 maka Fund Manager akan membeli semua atau sebagian besar saham- saham yang ada di Investor33.

Berdasarkan data OJK, pada Desember 2020, ada sedikitnya Rp 20 triliun Reksa Dana yang telah membeli saham – saham sesuai indeks tertentu (antara lain IDX30, LQ45, MNC36, Bisnis27, SMInfra18, SRI-Kehati, JII, Pefindo I-Grade, IDX Value30 dan IDX High Dividend 20). Dengan demikian tentunya saham – saham yang masuk ke dalam indeks – indeks tersebut dapat dikatakan baik secara fundamental dan dianggap baik oleh pasar (karena dibeli oleh Fund Manager yang mengelola Reksa Dana dan ETF tersebut).

Kesimpulan

The Primary Trader akan selalu menggunakan saham – saham yang telah masuk ke dalam suatu indeks dalam rangka membuat Stock Watchlist. Saat ini The Primary Trader telah memfokuskan Stock Watchlist pada saham IDX80. Namun seiring dengan semakin banyak Reksa Dana atau ETF yang mengacu kepada indeks tertentu, The Primary Trader akan menambah Stock Watchlist-nya tidak hanya terhadap saham IDX80.

The Primary Trader memaklumi apabila Investor atau Trader, terutama pemula, yang ingin melakukan analisis terhadap semua saham BEI atau diluar indeks – indeks tertentu. Namun karena Learning Curve-nya yang panjang, sebaiknya waktu untuk membuat Stock Watchlist atau saham – saham incaran dikurangi dan tenaga untuk melakukan komprehensif analisis (terutama bila menggunakan Analisis Fundamental) ditambah.

Bagi para Trader yang seringkali memiliki appetite lebih terhadap Risiko, pada saham – saham yang masuk ke dalam suatu indeks, jangan ragu untuk membeli dalam jumlah banyak apabila kondisi Analisis Teknikal-nya mendukung. The Primary Trader tidak akan ragu untuk merekomendasikan suatu saham IDX80 (misalnya) ketika mendapat sinyal Alert Buy dalam kondisi New Uptrend.

Akhir kata, The Primary Trader ingin berpesan untuk menghabiskan tenaga pada hal yang kritikal dan penting.

Happy Hunting !

Author: MM Dandytra

Professional Tactical Asset Allocator, Internationally Awarded Technical Analyst, Private Investor / Trader, Amateur Blogger

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s