IHSG : More Seasonality Analysis

IHSG Seasonality

Setelah menulis Seasonality IHSG di 2H21 (baca di sini), The Primary Trader ingin melihat lebih jauh Seasonality IHSG dari tahun 1994 dengan berbagai skenario Seasonality yaitu :

  • Presidential Cycle dari Bapak Susilo Bambang Yudhoyono (Oktober 2004 – Oktober 2014)
  • Before and After Online Trading era di tahun 2003
  • After Global Financial Crisis (GFC) tahun 2008

Untuk Chart yang interaktif, silahkan lihat di RPubs.

Presiden Cycle Bapak Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)

Pada masa pemerintahan SBY terjadi Global Financial Crisis (GFC) tahun 2008 sehingga ada penurunan dalam (Outliers) pada bulan September dan Oktober 2008. The Primary Trader melihat sepanjang Oktober 2004 – 2014, IHSG cenderung mencatat Monthly Positive Return di Maret dan April. Sangat berbeda dengan Presidential Cycle Bapak Joko Widodo dimana IHSG pada bulan Maret dan April cenderung mencatat Monthly Negative Return.

Namun pada bulan Mei, di masa Presidential Cycle SBY ini lah dapat disebut “Sell in May and Go Away” karena meskipun tidak banyak terjadi penurunan di bulan Mei namun penurunan yang ada relatif sangat dalam.

Satu hal yang relatif signifikan juga adalah meskipun IHSG tetap Bottoming di 3Q namun ada perbedaan bulan. Sejak tahun 2014 (Presidential Cycle Jokowi), Bottom terjadi di bulan September. Presidential Cycle SBY , Bottom terjadi di bulan Agustus. Perbedaan satu bulan ini menghasilkan Return yang sangat berbeda apabila diterpakan strategi Buy and Hold (setidaknya sampai akhir Desember).

Before And After Online Trading Era (2003)

The Primary Trader mulai belajar saham di tahun 2004 setelah muncul tiga sekuritas dengan Online Trading System pertama di Indonesia yaitu E-Trading (sekarang Mirae Asset), Indopremier dan Samuel. The Primary Trader yakin dengan adanya Online Trading, Transaction Value IHSG meningkat – begitupun dengan Volatilitas-nya. The Primary Trader ingin melihat Seasonality sebelum dan sesudah Online Trading itu di tahun 2003.

Sebelum The Primary Trader munculkan grafik, perkiraan bahwa Volatilitas meningkat paska Online Trading ternyata tidak benar.

Perhitungan Standard Deviation (Monthly Return) IHSG sebelum Januari 2003 menghasilkan nilai yang lebih besar (0.10) dari setelah Januari 2003 (0.058). Hal ini mengindikasikan IHSG bergerak lebih Volatile sebelum era Online Trading.

Secara logika, Online Trading memberikan Investor dan Trader informasi terpenting yaitu Market Data sehingga transaksi bisa lebih efisien (tidak membeli di harga yang terlalu mahal dan juga tidak menjual di harga yang lebih murah). Rasanya hal itulah yang membuat volatilitas IHSG paska Online Trading lebih kecil.

Pada masa sebelum Online Trading, terlihat bahwa volatilitas di bulan April sangat lebar dengan Outliers yang besar. Terlihat penurunan yang merata sepanjang 3Q (Juli s.d Agustus) dengan Bottom di September. Mungkin dari sinilah masa munculnya “Sell in May and Go Away” pada IHSG. Terlihat juga Return di bulan Januari yang relatif Positif (seperti halnya Return di bulan Desember). Tampaknya era sebelum Online Trading lah muncul istilah January Effect – yang bahkan lebih memberikan Positive Return daripada bulan Desember.

Terjadi perubahan yang cukup besar setelah masa Online Trading. The Primary Trader melihat January Effect relatif tidak dapat diandalkan untuk memberikan Return. Sementara Sell in May and Go Away pun relatif tidak memberikan penurunan yang berarti. Bottom pada IHSG sedikit lebih cepat yaitu di bulan Agustus, tidak lagi di September. Sejak era Online Trading, September justru relatif sangat volatile. Hal yang paling menarik adalah berinvestasi saham di akhir bulan November lalu dijual di akhir bulan Desember SELALU memberikan Capital Gain.

Global Financial Crisis (2008)

Pada tahun 2008, IHSG mulai turun drastis sejak Mei sampai Bottom di Oktober. Setelah itu, sampai hari ini, IHSG masih dalam Seculer Uptrend atau Very Long Term Uptrend.

The Primary Trader tidak melihat perbedaan Seasonal Monthly Return pada era setelah Online Trading dengan setelah GFC. Menggunakan Standard Deviation, berikut adalah sedikit perbedaan volatilitas :

Sejak era Online Trading, Standard Deviation IHSG adalah sebesar 0.0585 sementara paska GFC, Standard Deviation IHSG menurun menjadi 0.0568. Hal ini mengindikasikan ada penurunan Volatilitas pada IHSG sejak GFC. Setidaknya hal itulah yang tergambar dari data statistik yang minim.

Summary

Salah satu yang dapat The Primary Trader simpulkan adalah setetah tahun 2014, Trader sebaiknya tidak lagi berharap pada January Effect dan dapat memanfaatkan bulan Desember untuk mencari Capital Gain.

Subscribe To Our Newsletter

The Primary Trader akan merangkum informasi ini (dan dari media sosial lainnya) di dalam Newsletter “The Accumulation” (setidaknya) setiap minggu.

Subscribe di sini.

Semoga terinsipirasi.

IHSG : Seasonality Pada 2H21

Memasuki 2H21, The Primary Trader ingin melihat karakteristik IHSG pada bulan – bulan di Semester 2 tahun 2021. The Primary Trader menggunakan teknik Data Visualization yang biasa dipakai oleh Data Scientist. Untuk melihat chart yang interaktif, silahkan klik website RPubs.

Monthly Return

Berikut adalah Monthly Return IHSG dalam bentuk Boxplot :

Melihat pergerakan bulanan IHSG sepanjang masa, terlihat bahwa ada beberapa bulan di 2H21 yang sangat volatile (banyak Outliers-nya) yaitu bulan Agustus, September dan November. Ada beberapa rata – rata Monthly Return yang negatif yaitu Agustus, September dan November. Perlu dicatat bahwa pergerakan bulan Desember hampir pasti positif (mencatat Monthly Return yang positif).

The Primary Trader mencoba menggunakan grafik yang sama namun kali ini sejak Oktober 2014 atau Presidential Cycle Bapak Joko Widowo. Berikut adalah boxplot-nya :

IHSG cenderung mencatat kinerja positif secara bulanan pada Juli dan Agustus namun perlu berhati – hati di bulan September karena sejak tahun 2014, ada penurunan dalam di akhir 3Q. Meski demikian, ada tren meningkat di 4Q terutama di bulan Desember (100% peluang untung!) sehingga tampaknya strategi Buy on Weakness di setiap bulan September adalah ide baik. Apabila telat membeli, masih ada kesempatan di bulan November untuk kemudian dijual di Desember.

Berikut adalah Monthly Return IHSG di bulan September dan Desember sejak tahun 2014 :

Terlihat bahwa kecenderungan IHSG mencatat penurunan di bulan September untuk kemudian naik sampai Desember. Ada potensi Buy on Weakness di bulan November – bila telat membeli di September.

Quarterly Return

Berikut adalah data Quarterly Return IHSG atau QoQ Return menggunakan berbagai visualisasi yang sama dengan Monthly Return.

Sepanjang tahun 2014 – 2020, ada empat tahun dimana terjadi penurunan dari 2Q ke 3Q yaitu 2015, 2017, 2019 dan 2020. Sementara ada tiga tahun dimana terjadi kenaikan antara 2Q ke 3Q yaitu tahun 2014, 2016 dan 2018.

Dengan demikian, peluang IHSG turun di 3Q21 relatif lebih besar daripada potensi kenaikan IHSG. Namun perlu dilihat kembali bahwa penurunan yang terjadi di 3Q akan dikompensasi dengan kenaikan di 4Q. Sementara di tahun 2014, 2016 dan 2018 dimana ada kenaikan di 3Q justru mencatat penurunan di 4Q.

Senada dengan asumsi vaksinasi masal yang digenjot di 3Q21, ada kemungkinan hasilnya mulai terlihat di 4Q21 dimana (diharapkan) terjadi Herd Immunity dan ekonomi Indonesia mulai Re-Opening kembali. Dengan demikian, skenario IHSG turun di 3Q21 dan naik di 4Q21 menurut The Primary Trader layak dipercaya.

Semoga terinsipirasi.

Subscribe To Our Newsletter

The Primary Trader akan merangkum informasi ini (dan dari media sosial lainnya) di dalam Newsletter “The Accumulation” (setidaknya) setiap minggu.

Subscribe di sini.

Review Sektor IHSG Menjelang Akhir 1H21

The Primary Trader ingin melihat kinerja IDX Sector menjelang akhir 1H21 karena hal ini dapat memberikan ide untuk 2H21. The Primary Trader memfokuskan pembahasan saham yang termasuk IDX80+SMC-Liq serta menggunakan klasifikasi IDX-IC.

Multiple Returns

Dari grafik di atas, terlihat bahwa sektor Technology mencatat Return 20D yang paling tinggi (~20%), jauh di atas sektor lainnya. Sebagai informasi, IHSG mencatat Return 20D sebesar 2.6%. Ada tiga sektor (selain Technology) yang mencatat Return 20D yang positif yaitu Consumer Cyclicals dan Healthcare. Tentu dapat dimaklumi kondisi saham – saham di sektor Healthcare yang relatif positif di tengah krisis kesehatan.

Di tengah isu PKPM Darurat (atau bahkan Lockdown), sektor Properties & Real Estate, Infrastructures dan Energy terlihat paling terpukul. Meskipun memiliki karakteristik yang relatif sama (bersentuhan dengan Consumer), Consumer Non-Cyclicals mencatat Return 20D yang jauh di bawah Consumer Cyclicals.

Beberapa saham yang menyumbang Return 20D masing – masing sektor antara lain :

  • MTDL sebesar 20.6% (satu – satunya di sektor Technology)
  • MIKA (6.2%) dan KAEF (24.6) di sektor Healthcare
  • SCMA (0.89%), LPPF (9.8%), RALS (3.85%) dan ERAA (12.5%) di sektor Consumer Cyclicals

Clustering Analysis

Melihat lebih dalam, The Primary Trader menggunakan Cluster Analysis (K-Means Clustering) untuk mencari aset yang “menyerupai” aset tertentu. The Primary Trader percaya aset yang (dianggap) bagus (oleh Investor) akan mencatat Return yang baik – karena berarti Investor berbondong – bondong membeli (dan tidak menjualnya). Oleh karena itu, industri Computer Hardward (MTDL) yang merupakan sektor Technology layak dipilih atau dicari yang memiliki kinerja serupa.

Dari 4 kluster di atas, industri Computer Hardware tergolong kluster 1. Berikut adalah industri lainnya di kluster 1 :

Industri Bank, Pharmaceuticals dan Wired Telecommunication Service (dianggap) mencatat kinerja yang menyerupai industri Computer Hardware. Berikut adalah saham – saham dari setiap industri (selain Bank) yang serupa dengan industri Computer Hardware :

  • Pharmaceuticals : KAEF, KLBF dan SIDO
  • Wired Telecommunication Service : LINK

Industri lain yang saham – sahamnya mencatat Return 20D sebesar ~20% adalah Basic Chemicals sementara Return YTD sebesar ~9% adalah Home Furnishing.

Stochastic Oscillator dan %BB

Menggunakan rata – rata Stochastic Oscillator dan %BB, terlihat sektor Healthcare dan Technology menarik karena tetap dalam kondisi Uptrend (%BB > 50). Mayoritas sektor berada dalam kondisi Downtrend (%BB < 50) namun menarik karena cenderung Oversold (Stoch. Oscillator < 25%). Meski demikian, The Primary Trader tidak menyukai saham atau sektor dengan %BB < 50 karena dapat dikatakan sedang Downtrend.

Summary

Sektor Technology jelas menang di saat tren WFH dan Remote Working. Krisis kesehatan menyebabkan permintaan jasa kesehatan melonjak sehingga sektor Healthcare dapat diperhatikan.

The Primary Trader menyukai kedua sektor tersebut namun juga memperhatikan sektor Consumer baik Cyclicals dan Non-Cyclicals.

Semoga terinspirasi.

IHSG : Melanjutkan Uptrend Di 2H21

The Primary Trader ingin melihat potensi pergerakan IHSG di 2H21 menggunakan metode Analisis Teknikal yaitu Klasik Analisis Teknikal, Ichimoku Kinko Hyo dan Moving Average.

Bullish Continuation Pattern

Berbentuk menyerupai Descending Triangle namun pergerakan IHSG sejak Desember 2020 tidak dapat disebut demikian karena Descending Triangle adalah pola Bearish Continuation dan harus didahului oleh Downtrend. The Primary Trader melihat Down Trendline-nya saja dan menyimpulkan IHSG sedang dalam Bullish Continuation. Perlu Breakout Down Trendline tersebut yang menjadi Resistance di 6,100 untuk melanjutkan Uptrend dari sejak Maret 2020.

Ichimoku Kinko Hyo

Menggunakan indikator “super lengkap” Ichimoku Kinko Hyo, terlihat bahwa IHSG sedang terancam Downtrend karena sejak Maret 2021 berada di bawah Cloud namun sejak pertengahan Mei 2021 sedang berada di Red Cloud. Ada harapan IHSG dapat keluar dan berada di atas Red Cloud karena “di ujung” Ichimoku Kinko Hyo mulai muncul Green Cloud.

Tenkan Sen (haris merah) dan Kijun Sen (garis biru) telah Bullish Crossover di awal Mei 2021. Hal ini memberi peluang tambahan untuk IHSG keluar ke atas Red Cloud.

Moving Averages

Menggunakan kombinasi 3 Moving Average : 20, 60 dan 200, IHSG mulai mantap berada di atas ketiganya. The Primary Trader memperhatikan “arah” dari Moving Average karena percaya Moving Average yang mengarah ke atas berarti menambah “kekuatan” Bullish dan sebaliknya.

MA200 telah mengarah ke atas sejak Desember 2020 lalu yang dapat dilihat dari indikator MA200 Direction (berada di zona positif sejak Desember 2020). MA20 telah mengarah ke atas sejak Mei 2021 dan terlihat dari MA20 Direction. The Primary Trader sedang menunggu MA60 Direction berada di zona positif yang berarti menandakan MA60 sedang mengarah ke atas (dari saat ini yang sedang mengarah ke bawah karena MA60 Direction di zona negatif).

The Primary Trader juga melihat adanya Bullish Crossover pada MA20 dan MA60 di bulan Juni 2021 dan terbukti dari MACD antara MA20 dan MA60 yang memasuki zona positif (setelah sejak April 2021 berada di zona negatif). Ada ancaman terjadinya Bearish Crossover antara MA60 dan MA200 namun The Primary Trader perkirakan peluangnya kecil.

Kesimpulan

The Primary Trader percaya IHSG akan melanjutkan Uptrend yang dimulai dari Maret 2020 lalu. IHSG harus Breakout 6,100 untuk memulai kelanjutkan Uptrend dan The Primary Trader perkirakan hal itu akan terjadi dalam 1-2 bulan ke depan.

Semoga.

Trend&Pattern 210607 : Mencoba Breakout Down Trendline (Dan Yang Sudah Breakout Down Trendline)

The Primary Trader melihat beberapa saham berada dalam fase Continuing Uptrend atau Technical Correction. Meski tidak terlihat pembentukan pola Bullish Continuation, ada indikasi saham – saham tersebut masih dalam kondisi Uptrend dan akan kembali Uptrend.

The Primary Trader membagi ke dalam dua golongan besar yaitu :

  • Testing Down Trendline
  • Breaking-Out Down Trendline

Saham yang dibahas adalah konstituen dari IDX80 dan SMC-Liquid. Seluruh saham tersebut pun berada dalam kondisi Uptrend dan Outperform Trend.

Testing Down Trendline

Berikut adalah saham yang sedang menguji Down Trendline (sebagai Resistance) dan menurut The Primary Trader memiliki peluang untuk Breakout dan melanjutkan Uptrend :

BBNI : Menuju Resistance Down Trendline di Rp6,000an

SMGR : Menguji Resistance Down Trendline di Rp10,500an

SSIA : Menguji Resistance Down Trendline di Rp480an

BMTR : Menguji Resistance Down Trendline di Rp300an

TLKM : Menguji Resistance Down Trendline di Rp3,500an Sebagai Bagian Dari Bullish Continuation

The Primary Trader melihat TLKM berpeluang menarik dan menjadi salah satu indikasi positif untuk IHSG karena sebagai Big Caps BUMN. Setelah Breakout Down Trendline di Rp3,500an dan memvalidasi Bullish Continuation, TLKM berpeluang Uptrend menuju Rp4,000 dan Rp4,600 dalam jangka menengah dan jangka panjang.

Breaking-Out Down Trendline

The Primary Trader melihat beberapa saham yang telah Breakout Down Trendline dan masih mempertahankan Uptrend jangka menengah atau panjangnya. Dengan demikian, setelah beberapa pergerakan untuk menguji validitas Breakout, saham berikut sangat mungkin kembali Uptrend :

MNCN : Breakout Rp980 Untuk Menuju Rp1,300an

BMRI : Breakout Rp6,000 Untuk Menuju Rp7,500

SCMA : Breakout Rp1,400 Untuk Menuju Rp2,500an

The Primary Trader menyukai SCMA karena selain Breakout Down Trendline dari sejak awal tahun 2021, SCMA pun bertahan di Fibonacci Retracement 61.8% yang berarti Uptrend jangka panjang SCMA dari Maret 2020 (dari Rp600) masih bertahan. Ada peluang yang menarik bagi SCMA untuk kembali menuju Rp2,500 serta Breakout level tersebut.

ACES : Breakout Rp1,490 Untuk Menuju Rp1,800

Summary

Dari saham – saham IDX80+SMC-LIQ, The Primary Trader memilih beberapa saham dalam kondisi Uptrend dan Outperform Trend lalu membagi kembali ke dalam dua bagian yaitu :

  • Testing Down Trendline : BBNI, SMGR, SSIA, BMTR dan TLKM
  • Breaking-Out Down Trendline : MNCN, BMRI, SCMA dan ACES

Di antara ke-8 saham tersebut, The Primary Trader menyukai TLKM dan SCMA.

Semoga terinspirasi.