Ancaman dan Harapan Pada IHSG

The Primary Trader tidak terlalu yakin IHSG masih dapat turun menuju 4,400 namun bila melihat kondisi global maupun domestik, ada kemungkinan IHSG turun dan Breakdown Support 4,800 untuk menuju 4,400. Meski kurang kuat untuk membentuk pola Bullish Reversal, setidaknya The Primary Trader yakin, dengan kondisi saat ini, rasanya sudah sulit untuk turun menuju 4,000 (terlebih lagi menuju 3,900).

Meski demikian, The Primary Trader masih percaya ada harapan IHSG tidak turun di bawah 4,800 atau setidaknya turun mendekati 4,400 namun tidak Breakdown 4,400 tersebut. Dengan demikian, IHSG hanya turun sebesar -10% dari sejak PSBB ke-2 DKI Jakarta diumumkan. Tentunya penurunan mendekati 4,400 tersebut adalah sebagai 2nd Leg untuk menyempurkan pola Bullish Reversal IHSG seperti yang telah The Primary Trader tulis sebelumnya.

Market Breadth IHSG

Dari saham – saham IDX80, The Primary Trader mencatat ada 69 saham bergerak dalam kondisi Trading Value yang lebih kecil dari biasanya. Pergerakan harga tanpa Trading Value dapat dikatakan kurang valid. Investor / Trader dapat melihat ini sebagai bukti bahwa tidak banyak Minat atau Aktifitas sehingga pergerakan naik atau turun bukan berarti merupakan bagian dari Trend. Meski demikian, perlu diingat bahwa penurunan harga dapat terus terjadi tanpa Trading Value atau Volume (Falling On Its Own Weight).

Sementara dari sisi Stochastic Oscillator, 50 saham IDX80 mencatat kondisi Oversold dimana berarti penurunan dari saham tersebut berpotensi mulai terbatas (karena Jenuh Jual atau Minat Jual sudah terbatas). Akan tetapi, dalam kondisi Downtrend yang kuat maka akan sangat mudah ditemukan saham dengan kondisi Oversold tersebut (seperti pada kondisi di Februari 2020 – Maret 2020). Satu hal yang mungkin positif adalah mulai ada peningkatan saham – saham yang mencatat sinyal Alert Buy.

The Primary Trader sempat optimis mengingat di pertengahan September 2020, lebih dari 50% saham IDX80 yang mencatat 5D Return yang positif. Melihat historis 2 bulan terakhir, bila lebih dari 50% saham IDX80 mencatat 5D Return positif maka ada potensi IHSG naik 2-4 minggu ke depan. Akan tetap, tidak lama kemudian, justru lebih dari 50% saham IDX80 yang mencatat 5D Return yang negatif ^.^

Simple Traditional Indicators

Kembali menggunakan indikator tradisional pada IHSG, The Primary Trader ingin mencatat 2 ancaman pada IHSG (berdasarkan Ichimoku Kinko Hyo) yaitu adanya Red Cloud (yang telah muncul 2 minggu lalu) serta Breakdown Green Cloud (sejak 3 hari lalu). Dua hal ini mengindikasikan ancaman Downtrend namun terlihat ada Support kuat di 4,400 yang berasa dari Kumo-nya Ichimoku.

Ancaman kedua adalah adanya potensi Death Cross antara MA20 dengan MA60. Menggunakan MA60 Direction, ada potensi MA60 dalam waktu dekat akan bergerak ke bawah (turun) sehingga semakin memperjelas ancaman potensi penurunan IHSG yang mungkin dalam bentuk Downtrend (setidaknya Intermediate Downtrend atau Downtrend Jangka Menengah).

Harapan Pada IHSG

The Primary Trader melihat salah satu harapan IHSG terlihat pada kondisi Under-owned Asing. Bila tidak ada lagi Investor Asing yang mau jual, apakah Investor Domestik (katakanlah BPJS Ketenagakerjaan, Taspen atau Mandiri Manajemen Investasi) mau jual investasi sahamnya? Rasanya tidak.

Secara sentimen, The Primary Trader berhadap pada dua hal : Vaksin dan Omnibus Law. Semoga.

CPO : Saham Yang Berpotensi Mengawali Primary Uptrend

Harga CPO Malaysia masih terindikasi berpotensi mempertahankan Uptrend untuk menguji kembali Resistance di MYR3,200. Penurunan saat ini terindikasi sebagai Technical Correction, tentu dengan asumsi akan tetap bertahan di atas MYR2,850.

CPO Malaysia seharusnya masih berpotensi kembali menguji Resistance kuat dari 3 tahun terakhir yaitu di MYR3,200. The Primary Trader melihat di tahun 2020, ada kesempatan CPO Malaysia berpotensi Breakout Resistance jangka panjang tersebut sehingga benar – benar mengawali Primary Uptrend.

Salah satu katalis yang penting bagi CPO adalah keseriusan Indonesia untuk menggunakan CPO produksi domesti menjadi Biodiesel. Saat ini Indonesia sudah menerapkan B30 yaitu kandungan 30% CPO. Namun ada rencana yang sudah mulai terbukti untuk melanjutkannya menjadi B50 sampai B100. Mungkin akan sulit untuk sampai B100 tapi The Primary Trader melihat kemungkinan Biodiesel akan menjadi B50. Pemerintahpun tampaknya setuju.

Dengan kondisi global, The Primary Trader tidak yakin harga CPO dapat kembali naik menuju MYR4,000 namun The Primary Trader cukup yakin ada kemungkinan besar untuk sampai ke level MYR3,500an.

Setidaknya ada tiga kemungkinan katalis kenaikan CPO Malaysia dalam 6 bulan ke depan yaitu permintaan China (paska Recovery dari Pandemi Covid-19), festival Diwali di India serta ancaman La Nina. Karena kebijakan Lockdown di banyak negara, impor menjadi rendah sekali termasuk minyak konsumsi (Vegetable Oil). Oleh karena itu, The Primary Trader meyakini hal ini akan menjadi katalis kenaikan harga CPO Malaysia atau setidaknya mencegah harga CPO Malaysia kembali turun drastis.

Saham CPO Pilihan The Primary Trader

Ada dua saham yang The Primary Trader lihat sedang bersiap untuk mengakhiri Primary Downtrend-nya yaitu TBLA dan DSNG.

The Primary Trader melihat TBLA diuntungkan dari sektor CPO dan Gula. Dua bisnis ini seharusnya menjadi katalis positif bagi TBLA karena selain memiliki kebun sawit dan tebu, TBLA juga mampu mengolah komoditas tersebut. Selain itu, TBLA juga merupakan pemasok B30 dan importir gula.

Hal yang membuat The Primary Trader menyukai TBLA adalah fakta bahwa TBLA sedang Breakout Down Trendline di Rp800 yang juga merupakan area Resistance jangka panjang. Dengan potensi Breakout maka TBLA berpeluang mengawali Primary Uptrend menuju Rp1,300.

DSNG adalah salah satu emiten CPO yang masih relatif kecil tapi kurang lebih sama seperti TBLA. Sebagai salah satu emiten muda, The Primary Trader melihat mulai banyak minat dan partisipasi Investor sehingga ada potensi sentimen terhadap DSNG mulai positif.

Meskipun masih muda namun pohon sawit DSNG yang memasuki Prime Mature akan terus bertambah dalam 3 tahun ke depan. Hal ini membuat DSNG berpotensi menjadi emiten CPO yang menarik.

The Primary Trader melihat DSNG sedang menguji Resistance penting di Rp500 yang menahan DSNG sejak tahun 2018. DSNG sendiri mulai berhasil Breakout Primary Downtrend di Rp450an sehingga peluang Breakout Rp500 terlihat membesar. Setelah Breakout Rp500, DSNG berpotensi mengawali Primary Uptrend menuju Rp700.

Market Dan Saham Pilihan 200921

Berikut materi dalam video :

Pembahasannya antara lain :

  • IHSG dan Market Breadth terhadap Saham di IDX80. IHSG berpotensi melanjutkan kenaikan sampe 2-3 minggu ke depan dilihat dari saham – saham IDX80 yang banyak mencatat Positive 5D Return
  • Technical Data Viz, termasuk Dandy Rotation. Sektor Tower dan Industrial Area masih menarik. Sektor Healthcare dan Auto sebaiknya diwaspadai
  • Chart (Saham) Pilihan : UNTR, INKP, ACES dan TBIG

Berikut video di Youtube :

Untuk Investor dan Trader yang ingin memahami Dandy Rotation, silahkan cek video di Youtube berikut :

Semoga bermanfaat.

Microscopic Technical Analysis Concept (Include Dandy Rotation). Also Youtube Videos.

Beberapa tahun lalu, The Primary Trader mengembangkan metode untuk melihat pergerakan indikator. Pada akhirnya, metode tersebut digabungkan dan dikembangkan dalam konsep Microscopic Technical Analysis yang pada intinya mengkuantifikasikan gambar visual yang biasa dilakukan apabila kita melakukan Zoom In suatu chart.

Sejak Agustus 2020, The Primary Trader membuat video mengenai Microscopic Technical Analysis untuk memberikan inspirasi dan ide bagi Investor, Trader dan Analis Teknikal. Posting ini adalah untuk menjembatani vide di Youtube tersebut.

Keseluruhan materi Microscopic Technical Analysis dapat dibaca di Slideshare berikut :

Ada download di : https://www.slideshare.net/MMDandytraCSACFTe/microscopic-technical-analysis-238518628

Susunan Microscopic Technical Analysis

Dasar dan awal Microscopic Technical Analysis adalah ketika The Primary Trader terinspirasi dari indikator Moving Average Convergence Divergence (MACD). Untuk informasi, MACD terdiri dari MACD Line dan Signal Line. Inspirasi utama The Primary Trader adalah bahwa MACD masih memiliki Histogram MACD yang merupakan pengurangan dari MACD Line dan Signal Line.

Metode simple tersebut (dengan makna yang sangat mendalam dan luas) memberikan inspirasi utama bahwa Simplicity Is Just As Good or Even Better Than The Complex One.

Link Video Youtube Seri Microscopic Technical Analysis

Berikut adalah video Youtube yang membahas 5 bagian Microscopic Technical Analysis :


MACD

Video ini menjelaskan sumber inspirasi utama Microscopic Technical Analysis sekaligus sebagai perkenalan dengan indikator Moving Average Convergence Divergence (MACD).


Previous Line dan MA Direction

Video ini adalah dasar dari Microscopic Technical Analysis dan sebagai konsep awal.


4 Signals

Video ini menambahkan dua sinyal diluar sinyal Buy dan Sell (Crossover) yaitu Alert Buy dan Warning Sell atau “A Moment Before” Crossover


Relative Performing

Video ini menjelaskan penerapan konsep Microscopic Technical Analysis pada metode Relative Performance menggunakan Ratio Chart atau Relative Strength Comparison.


Dandy Rotation

Video ini membagikan metode dan perhitungan serta cara The Primary Trader membuat Dandy Rotation yang merupakan pengembangan dari Relative Rotation Graph menggunakan konsep – konsep di dalam Microscopic Technical Analysis.


Semoga bermanfaat, berguna dan menginsipirasi.

PSBB Kedua DKI Jakarta = 2nd Leg Untuk Menyempurnakan Pola Bullish Reversal Pada IHSG

How Emergency Brakes Work - All Tech Automotive

9 September 2020, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengumumkan PSBB Total pada 14 September 2020. Hal ini membatalkan PSBB Transisi dan kembali mengulang PSBB seperti pada 10 April – 4 Juni 2020. Kebijakan Emergency Brake diambil karena laju pertumbuhan kasus aktif di Jakarta kembali meningkat selama PSBB Transisi dari awal Juni 2020. Kasus aktif terbukti melanda ketika dilakukan PSBB (selama April – Juni 2020).

Pada perdagangan 10 September 2020, IHSG langsung mencatat penurunan dalam dan di sesi 1, IHSG pun mengalami Emergency Break atau Trading Halt karena mengalami penurunan sebesar -5%. Penurunan tersebut terus terjadi sehingga di akhir sesi, IHSG tetap mencatat penurunan -5%.

Perlemahan IHSG sebenarnya sudah mulai terjadi pada dari akhir Agustus 2020 setelah IHSG gagal Breakout Resistance di 5,400an yang merupakan Resistance dari Fibonacci Retracement di level 61.8% (ditarik dari mid Januari 2020 – akhir Maret 2020). The Primary Trader melihat Resistance ini cukup penting (dan terbukti kuat) sehingga gagalnya IHSG untuk Breakout level tersebut mengindikasikan perlemahan dari kekuatan Uptrend sejak akhir Maret 2020. Meski tidak berharap adanya PSBB, tampaknya berita tersebut menjadi katalis penurunannya.

Berpotensi Sebagai Bagian Dari Bullish Reversal

Meskipun secara YTD IHSG masih mencatat negatif return yaitu sebesar IHSG sebenarnya -22.3% (thanks to penurunan -5% pada 10 September 2020), IHSG sendiri masih mencatat positive return sebesar 24% dari sejak akhir Maret 2020. Pada puncaknya di akhir Agustus 2020 lalu, IHSG bahkan sempat mencatat positive return sebesar 36% (sementara penurunan IHSG dari awal tahun 2020 sampai Bottom di 2020 adalah sebesar -37%). Artinya IHSG sendiri telah membalikkan kerugian yang terjadi akibat penurunan di awal pandemi global. Cukup lucu apabila melihat IHSG yang mulai naik justru di masa awal PSBB Total DKI Jakarta (awal April 2020).

Secara jangka panjang, dari sejak awal tahun 2018, IHSG masih berada dalam Downtrend (jangka panjang). IHSG tercatat mengalami penurunan sebesar -39% apabila dihitung dari All Time High (di tahun 2018 tersebut) sampai Bottom 2020.

IHSG gagal menguji Resistance kuat di area 5,400 – 5,550 yang terbukti menjadi level kritis sejak tahun 2015. Beberapa kali level tersebut menjadi Resistance kuat di 2H16 dan Support kuat di Mid 2018. The Primary Trader melihat cukup wajar apabila di tahun ini IHSG tidak mampu Breakout area Resistance tersebut dalam satu kali percobaan.

Karena Resistance tersebut cukup kuat dan mengingat IHSG kemungkinan sedang ingin membalikkan Downtrend Jangka Panjang yang telah terjadi sejak tahun 2018 maka The Primary Trader melihat diperlukan penurunan sebagai bagian dari persiapan untuk IHSG kembali menguji Resistance 5,400 – 5,550. Apabila kali ini IHSG ‘ingin’ berhasil maka The Primary Trader ingin melihat adanya pola Bullish Reversal yang kuat mengingat IHSG harus membalikkan Downtrend Jangka Panjang yang telah terjadi selama setidaknya 28 bulan (!).

Salah satu pola Bullish Reversal yang The Primary Trader sukai adalah Double Bottom. Namun bila IHSG sedang membentuk Double Bottom maka IHSG masih terancam turun sebesar -18% dari level saat ini (menuju level 4,000an). The Primary Trader percaya PSBB Total yang kedua kali ini memberikan dampak negatif yang relatif kecil dibanding PSBB Total yang pertama. Hal ini karena Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah dan (terutama) pelaku bisnis sudah lebih siap. Selain itu, masyarakat pun sudah mulai terbiasa tetap Spending secara Online yang tentu menolong untuk melakukan konsumsi (bahkan membeli mobil dan rumah secara online).

Salah satu harapan adalah IHSG masih turun -10% menuju Support di 4,400. Meski hanya turun -10% lagi, namun The Primary Trader melihat pola Bullish Reversal IHSG akan kurang kuat bila IHSG mencatat 2nd Bottom di 4,400an. Akan tetap, hal ini pernah terjadi (setidaknya) dua kali di tahun 2013 dan 2015. Kondisi Makro maupun Analisis Teknikal pada tahun tersebut memang tidak sama seperti tahun 2020 ini. Namun setidaknya hal ini memberikan harapan agar IHSG tidak turun lagi mendekati level 4,000.

Dimanapun Bottom kedua IHSG, The Primary Trader berharap Pandemi Covid-19 segera berlalu dan Vaksin dapat segera diberikan kepada masyarakat luas. Semoga.

Melihat Rencana Indonesia Di Tahun 2021

Presiden Joko Widodo dijadwalkan akan memberikan pidato kenegaraan dalam Sidang Tahunan MPR / DPR pada 14 Agustus 2020. Seperti biasa, pada pidato ini, Presiden akan mengumumkan RUU tentang APBN tahun depan yaitu tahun 2021 yang tentunya akan sangat berubah dibandingkan tahun – tahun sebelumnya. Hal ini karena adanya pandemi Covid-19 yang membuat banyak perubahan. Semua pemerintahan saat ini akan memikirkan 2 hal yaitu : 1) Kebijakan Countercylical untuk melawan ancaman resesi dan 2) Kebijakan penanganan kesehatan (penyediaan vaksin, obat – obatan, tenaga kesehatan). Dengan demikian, salah satu ciri khas pemerintahan Presiden Jokowi yaitu pembangunan infrastruktur kemungkinan akan berkurang di tahun 2021.

The Primary Trader ingin mencatat beberapa hal yang ingin didengar oleh Investor pada pidato tahun ini :

  • Anggaran Infrastruktur Tahun 2021
  • Anggaran Kesehatan Tahun 2021
  • Defisit APBN 2021
  • Kebijakan perpindahan Ibu Kota Negara (IKN)
  • Kelanjutan dari RUU Omnibus Law / Cipta Kerja
  • Rencana menarik Pelaku Bisnis yang ingin relokasi dari China

Pada 3Q20, Investor yang Forward Looking seharusnya sudah mulai meng-adjust dan men-discount kondisi tahun 2021 saat ini dimana tentunya diharapkan Pandemi Covid-19 akan berkurang atau berakhir karena diharapkan vaksin sudah mulai beredar.

Perlu diketahui bahwa meskipun pemerintah meningkatkan defisit dari 3% batas maksimum menjadi ~6%, pemeringkat efek internasional seperti Moody’s dan Fitch tetap mempertahankan rating Indonesia yaitu 2nd level Investment Grade dengan Outlook Stabil. Hanya S&P yang menurunkan rating Indonesia dari Stable ke Negatif.

Namun seiring dengan adanya Burden Sharing oleh BI dan BI menjadi Stand-by Buyer penerbitan obligasi dari pemerintah, risiko fiskal tampaknya berkurang sehingga mendapat respon positif dari pihak internasional.

Yield SUN 10Yr yang menjadi barometer pasar obligasi negara pun terus turun yang menandakan harga SUN terus naik. Ada pontensi Yield SUN 10Yr kembali ke level terendah sejak tahun 2018 yaitu 6.5% dalam waktu dekat.

Pada lelang obligasi 11 Agustus 2020, permintaan yang masuk untuk membeli Surat Utang Negara (SUN) adalah sebesar Rp106 triliun, salah satu yang tertinggi di tahun ini. Pada lelang kemarin pun menandakan Bank Indonesia mulai membeli SUN dengan skema Burden Sharing dimana salah satunya adalah BI akan mengembalikan kupon yang diterimanya kepada pemerintah. Tentu hal ini akan dapat menghemat fiskal pemerintah. Arguably, duet Perry Warjiyo sebagai Gubernur Bank Indonesia dan Sri Mulyani sebagai Menteri Keuangan adalah salah satu yang terbaik sepanjang sejarah negara Indonesia.

Semoga.

Money Flow menjadi katalis positif. akankah tetap bertahan ?

Pada empat bulan pertama tahun 2020, Rupiah melemah sebesar 22% terhadap US Dollar. Perlemahan dua bulan terakhir (Maret – April 2020) disebabkan karena Investor global khawatir akan kondisi dunia sehingga memilih untuk keluar dari Emerging Market, termasuk Indonesia dan bahkan aset – aset di Developing Market termasuk US. Bahkan Investor panic buying membeli obligasi negara maju meskipun Yield-nya sudah negatif. Harga emas dunia bahkan terus naik mencapai level tertinggi dari tahun 2012.

Sejak April 2020, IHSG dan SUN mulai naik sebesar 29% sampai awal Juni 2020 sementara Yield SUN10Yr telah turun dari 8.3% ke 7% yang membuat harga FR82 (Benchmark SUN 10Yr) telah naik dari harga 92% ke 99% (naik ~7.6%) . Penguatan dari harga saham dan SUN dapat dilihat dari penguatan Rupiah terhadap US Dollar yang dapat diartikan adanya Capital Inflow dari Investor Asing.

Pada April 2020, di saat Indonesia masih dalam lockdown (PSBB) dan dunia masih berpacu melawan Covid-19 dengan Lockdown, ada tren penguatan Rupiah serta aset saham US (yang diwakili oleh S&P500). Saat ini, Ekonom masih mengkhawatirkan terjadinya resesi global dan semakin percaya V-Shape Recovery tidak mungkin terjadi. Namun ada indikasi bahwa Covid-19 dapat dihadapi dengan baik tanpa perlu Lockdown ketat yaitu dengan Physical Distancing dan menggunakan masker non-medis (yang sudah banyak tersedia dengan harga murah). Saat itulah aset Safe Heaven seperti emas mulai melemah dan Risky Asset termasuk aset keuangan Emerging Market seperti Indonesia mulai menguat.

Money Flow dan Investor Asing memang sangat berpengaruh terhadap pergerakan aset keuangan di Indonesia. Oleh karena itu, dengan adanya Foreign Outflow pada 5M20 (dan sangat besar dibanding 10 tahun terakhir), maka wajar terjadi penurunan yang dalam pada saham dan obligasi. Namun perlu diingat bahwa secara historis, Foreign Outflow tersebut pada tahun berikutnya diikuti oleh Foreign Inflow – dan lebih besar dari sebelumnya.

Optimisme Masyarakat

Tidak banyak negara – negara yang masyarakatnya Optimis. Bila dilihat dari Consumer Confidence negara Asia Tenggara seperti Malaysia, Filipina, Thailand dan Vietnam, Indonesia relatif tinggi dan optimis. Indonesia relatif sama seperti Thailand namun mengingat sektor Tourism (yang sangat berkaitan erat dengan ekonomi Thailand) memerlukan waktu yang lama untuk Recovery maka tampaknya Consumer Confidence Thailand akan lebih lambat pulih dibanding Indonesia. Vietnam adalah salah satu negara yang berhasil melawan Covid-19 sehingga wajar Consumer Confidence-nya tinggi (dan bertahan di level tinggi).

Optimisme masyarakat yang baik akan sangat penting pada masa pelonggaran atau Re-Opening atau PSBB Transisi (yang sedang dijalankan di DKI Jakarta + Bodetabek). Saat ini mal – mal mulai kembali buka dan aktifitas ekonomi perlahan kembali diizinkan. Dengan demikian, tentu masyarakat mulai memperoleh pendapatan lagi yang sangat positif untuk perekonomian – dan harga saham serta SUN.

Survei yang dilakukan oleh Mandiri Sekuritas menunjukkan pada minggu pertama PSBB Transisi, mal yang High Class cukup banyak dikunjungi. Memang kemungkinan besar, berdasarkan survei Mirae Asset, masyarakat menengah ke atas yang akan tetap berkunjung ke mal namun masyarakat menengah ke bawah bukan berarti tidak berbelanja.

Peningkatan aktifitas masyarakat pada PSBB Transisi meningkat. Hal ini saja sudah dapat memberikan harapan bagi pekerja yang mengandalkan penghasil dari pergerakan masyarakat (seperti Driver Online, warung makan dan pedagang kaki lima). Oleh karena itu, ada potensi ekonomi Indonesia di 2H20 dapat tumbuh dan tidak seburuk yang dikhawatirkan.

Ekonomi Indonesia di 2Q20.

Berdasarkan estimasi, ekonomi Indonesia diperkirakan tumbuh 4.18% YoY di 1Q20 namun ternyata ekonomi Indonesia hanya tumbuh 2.97% YoY. Ekonomi Indonesia sendiri sudah dua kuartal turun (bila dibandingkan dua kuartal sebelumnya atau QoQ). Pada 4Q19, ekonomi Indonesia turun -1.74% QoQ dan di 1Q20 turun -2.41% QoQ. Secara historis, ada pertumbuhan di 2Q20 dan disinilah letak masalahnya.

Ekonomi di 1Q20 memang masih tumbuh (2.97% YoY) namun perlu diingat bahwa PSBB di DKI Jakarta baru berlaku awal April 2020 sehingga penurunan ekonomi di 1Q20 adalah dampak langsung dari Lockdown dari beberapa negara seperti China dan Uni Eropa. Memang di Februari 2020, pemerintah Indonesia juga melakukan Lockdown dan membatasi arus manusia namun belum ada penutupan tempat bisnis yang masif seperti penutupan mal dan kantor. Oleh karena itu, dampak PSBB terhadap ekonomi baru akan terlihat pada 2Q20.

Dengan demikian, tentu ada potensi pertumbuhan ekonomi di 2Q20 dapat turun lebih dalam lagi dan bahkan mencatat pertumbuhan negatif bila dibandingkan 2Q19 (YoY). Hampir pasti ekonomi Indonesia kembali mencatat pertumbuhan negatif dibanding 1Q19 (QoQ). Pemerintah Indonesia dan Bank Indonesia relatif cukup responsif dalam menghadapi ancaman tersebut sehingga The Primary Trader melihat adanya katalis positif.

Pemerintah Indonesia memang telah bersiap untuk menghadapi kondisi yang buruk dengan menaikkan Defisit Anggaran dari maksimal -3% menjadi -5.07% yang kemudian direvisi lagi menjadi -6.72%. Pemerintah juga bersiap memberikan stimulus terbesar sepanjang sejarah yaitu Rp405 triliun. Stimulus inilah yang diharapkan dapat meminimalisir dampak negatif dari langkah pencegahan penyebaran Covid-19 terhadap ekonomi.

Sampai 10 Juni 2020, pemerintah disebutkan telah menyebarkan stimulus sebesar 34% dari target. Salah satu stimulus terpenting yaitu pemberian kas kepada warga selain Jabodetabek meningkat dari Rp4 triliun di akhir April 2020 menjadi Rp12 triliun di Juni 2020. Pemberian THR kepada PNS, TNI dan Polri serta karyawan pun memberikan dukungan tambahan ditengah PSBB ini.

Senada dengan pemerintah, BI pun memberikan “stimulus”-nya dimana pada RDG Juni 2020, BI 7DRR Rate dipotong sebesar 0.25% menjadi 4.25%. BI telah mempertahankan BI 7DRR Rate selama dua bulan April dan Mei 2020 dengan alasan yang tepat yaitu untuk menjaga stabilitas serta mendukung PSBB pemerintah. Di bulan Maret 2020, BI sebenarnya telah memotong BI 7DRR Rate sebesar 0.25% dari 4.75% menjadi 4.5%.

Indonesia Interest Rate

Seiring dengan adanya pelonggaran PSBB (menjadi PSBB Transisi) serta diharapkan adanya perlambatan penyebaran infeksi Covid-19 dan niat pemerintah untuk perlahan mendorong perekonomian (dalam rangka menjaga penghasilan masyarakat), BI diperkirakan akan kembali memotong BI 7DRR Rate. Selain karena adanya kecenderungan BI terus melakukan Cut Rate berturut – turut, secara perbandingan, Yield Indonesia masih relatif menarik dibanding negara – negara berkembang lainnya.

Menunggu Foreign Inflow Setelah Indikator Analisis Teknikal Cenderung Positif

Seiring dengan perlemahan VIX yang menjadi indikasi risiko bagi Investor global (Investor US) maka S&P500 berpotensi terus naik. Bullish pada S&P500 secara langsung memberikan sentimen positif bagi bursa global termasuk Indonesia.

IHSG telah naik sebesar 27% dari akhir Maret 2020 sementara baru pada pertengahan Mei 2020 kenaikan IHSG diikuti oleh Foreign Flow. Memang Foreign Inflow dari Mei 2020 belum terlihat akan membalikkan tren Foreign Outflow yang telah terjadi sejak tahun 2017 namun setidaknya bila dibandingkan dari tahun 2020, ada harapan terjadi Net Foreign Inflow. Setidaknya di awal tahun 2020, Foreign Flow sempat Flat yang menandakan tren Foreign Outflow sempat tertahan (sehingga ada harapan pembalikan tren menjadi Foreign Inflow di awal tahun 2020).

Selain dilihat dari Foreign Flow, indikator lain yang bersifat Trend Following pun mengindikasikan hal yang positif pada IHSG.

Menggunakan indikator Ichimoku Kinko Hyo, IHSG sudah mulai berada di dalam Red Cloud setelah sejak awal tahun 2020 berada di bawah Cloud. Bahkan di awal Juni, IHSG sempat Breakout dan berada di atas Red Cloud. Meski kembali turun di dalam Red Cloud, IHSG masih membentuk Green Cloud yang mengindikasikan ada potensi Bullish dalam waktu dekat.

Menggunakan Moving Average 20, 60 dan 200, saat ini IHSG berada di atas MA20 dan MA60. Selain itu, MA20 pun sudah berada di atas MA60 yang mengindikasikan telah terjadi Golden Cross (pada awal Juni 2020). Indikator jangka panjang pilihan The Primary Trader yaitu selisih antara MA60 dengan MA200 menunjukkan Flat (sejak akhir Mei 2020). Hal ini menunjukkan peluang tren Bearish sudah berkurang. Worst Case Scenario untuk IHSG adalah bahwa IHSG bergerak Flat.

Semoga.

Menunggu Data Ekonomi 2Q20 Untuk Antisipasi Bottom

The Primary Trader sempat melihat potensi S&P500 untuk Breakout 2,950 dan memasuki potensi Uptrend. Namun melihat pergerakan kemarin dimana yang kedua kalinya S&P500 tertahan di 2,950 maka The Primary Trader kembali meyakini bahwa Downtrend masih akan terjadi.

Sampai kapan?

Timing Analysis tidak pernah mudah dan cabang Analisis Teknikal yang fokus pada Timing Analysis (seperti Astrology Trading, Gann atau Elliot Wave tidak mudah dipercaya Investor dan The Primary Trader tidak mendalaminya). Namun The Primary Trader mencoba mengemukakan potensi Bottoming Global Market termasuk IHSG di tahun 2020 ini dengan melihat Seasonality dan data ekonomi.

The Worst Has Yet To Come

Di pertengahan April dan Mei ini, Investor terkejut dengan data pertumbuhan ekonomi di 1Q20 yang mana terlihat dampak awal dari Pandemi COVID-19. Ekonomi China di 1Q20 turun -6.8% YoY, lebih dalam dari estimasi sebesar -6.5% YoY. Hal ini wajar karena China mulai Lockdown di akhir Januari 2020 atau bertepatan dengan Chinese New Year dimana terjadi mudik masal terbesar di dunia. Selain tidak ada konsumsi di berbagai kota, praktis aktifitas bisnis pun ditutup sehingga cukup wajar ada pukulan yang telak bagi ekonomi China di 1Q20.

Amerika Serikat yang sebenarnya baru mulai Lockdown di akhir Maret 2020 namun pada akhir Januari 2020 sudah mulai ada pembatasan terutama dari sisi imigrasi. Di akhir April 2020, data awal pertumbuhan ekonomi AS di 1Q20 turun sebesar -4.8% QoQ (di-annualized), jauh dari estimasi sebesar -4% QoQ. Ekonomi AS di 1Q20 hanya tumbuh 0.3% YoY, sangat jauh dari rentang 2.1% – 3.2% dari 2Q18 – 4Q19.

AS tampaknya adalah bukti bahwa apabila ekonomi China kurang baik maka negara lain pun demikian. China sebagai Supply-Side memegang peranan penting di era globalisasi ekonomi ini karena Impor China akan bahan mentah berperan sebagai pendapatan signifikan bagi ekonomi seperti Indonesia dan bahkan negara AS sendiri.

Indonesia sendiri pun mengalami pukulan karena di awal Mei 2020, BPS melaporkan ekonomi Indonesia hanya naik sebesar 2.97% YoY di 1Q20, terendah sejak 1Q01. Tentu hal ini jauh di bawah estimasi sebesar 4.04% YoY dan hal inilah yang pertama kali membuat ekonom (termasuk pemerintah) melihat potensi ekonomi Indonesia bisa negatif di akhir tahun. Artinya adalah nilai GDP Indonesia tahun 2020 bisa lebih rendah dari tahun 2019 (sebesar USD1,12 miliar). Indonesia sendiri pernah setidaknya 2 kali mengalami Resesi (penurunan pertumbuhan ekonomi dalam 2 kuartal berturut – turut) yaitu di antara tahun 2020 dan 2013.

Ekonom pun mulai melihat bahwa ini masih dampak awal Pandemi COVID-19 sehingga masih ada dampak lanjutan pada ekonomi di 2Q20. Oleh karena itu, pada awal Mei 2020, ekonom dan Investor mulai bersiap untuk kehilangan kesempatan adanya V-Shape Recovery pada ekonomi global.

Data GDP di 2Q20 : Potensi Bottom

Karena Investor mulai kehilangan harapan akan V-Shape Recovery, tentu Investor akan menunggu pengumuman GDP berikutnya di 2Q20 yaitu sekitar bulan Juli 2020 (China dan AS) dan Agustus 2020 (Indonesia). Data GDP 2Q20 akan menjadi pemicu apakah justifikasi Forward Looking Investor sudah benar.

Apabila ternyata GDP di 2Q20 lebih baik dari perkiraan, tentu hal ini akan menjadi Timing untuk mengakhiri Downtrend dan mengawali Uptrend. Apabila GDP di 2Q20 jauh lebih buruk dari perkiraan, The Primary Trader melihat pada akhirnya valuasi sudah akan murah sekali sehingga ancaman penurunan sudah relatif kecil. Pada saat itulah menurut The Primary Trader akan terjadi Bottom pada Global Market. Dua kondisi yang terjadi adalah “Better Than Estimate” bila GDP lebih baik dari estimasi atau “Underowned dan Very Undemanding Valuation” bila GDP lebih buruk dari estimasi.

The Primary Trader perkirakan masih akan ada penurunan karena shock terhadap GDP 2Q20 di US, China dan Indonesia (karena The Primary Trader ingin membahas aset investasi di Indonesia). Oleh karena itu, pergerakan di 2Q20 sampai 3Q20 (menjelang pengumuman GDP 2Q20 di bulan Juli dan Agustus 2020) akan sangat volatile. Namun menjelang atau pada 3Q20 tersebutlah seharusnya mulai ada indikasi Bottoming setelah semuanya ter-Priced In baik keburukan di 2Q20 maupun harapan di 2H20.

Seasonality

The Primary Trader ingin melihat pergerakan S&P500, Shanghai Composite dan IHSG secara kuartalan untuk melihat Seasonality dan fakta Bottoming ketiga indeks tersebut.

Bila dilihat pada Seasonal Plot S&P500, ada kecenderungan Bottoming di 3Q meskipun di beberapa tahun terakhir ini, kenaikan dari 3Q ke 4Q tidak setinggi di awal – awal tahun 2010an. Namun mengacu pada SubSeries Seasonal Plot, ada kecenderungan S&P500 naik (dari Bottom) pada 3Q untuk kemudian relatif Sideways pada 4Q.

Pada Shanghai Composite, Seasonal Plot menunjukkan kecenderungan terjadinya Bottoming (dengan peluang lebih besar) di 3Q untuk kemudian naik sampai 4Q. SubSeries Seasonal Plot pun menunjukkan kecenderungan untuk naik dari 3Q ke 4Q.

Untuk IHSG, Seasonal Plot menunjukkan peluang yang sama besar antara Bottoming di 2Q untuk naik ke 3Q dan Bottoming di 3Q untuk naik ke 4Q. Melihat SubSeries Seasonal Plot, IHSG cenderung bergerak dengan volatilitas rendah di 3Q dan hal ini menunjukkan kecenderungan terbentuknya Bottom (yaitu di 3Q). Berdasarkan garis rata – rata (garis biru), selisih antara rata – rata 2Q dengan 3Q tidak berbeda jauh. Dapat disimpulkan jalan tengah bahwa IHSG cenderung Bottoming di 2Q – 3Q (dua kuartal).

Kesimpulan

Bahayanya percaya prediksi berakhir Pandemi adalah membuat kita lengah dan terjebak untuk melonggarkan Lockdown atau PSBB lebih cepat dari kondisi aman. Hal tersebut dapat mengancam peningkatan kasus baru lagi. Dengan demikian, hal yang paling penting adalah menunggu relaksasi Lockdown atau PSBB setelah ada bukti bahwa kasus baru mulai melandai dan cukup jauh dari puncak.

Oleh karenanya, The Primary Trader lebih percaya untuk tidak melihat Peak dari New Case sebagai Timing To Entry karena pada akhirnya hal tersebut menjebak. Resesi dan Market Crash kali ini terjadi karena wabah penyakit dan selama wabahnya belum terkendali, tampaknya akan sulit untuk memprediksi Bottoming atau awal Uptrend.

Namun demikian, berdasarkan data (GDP 2Q20) dan Seasonality di atas, setidaknya perkiraan The Primary Trader bahwa Bottom akan terjadi di akhir 2Q20 atau 3Q20 juga merupakan harapan. Semoga.

IHSG : Bottom – Up Approach Mengindikasikan (Masih Ada) Ancaman Downtrend

IHSG terlihat Breakout dari Sideways sejak April 2020 yang menandakan potensi kenaikan menuju 5,700. Bila IHSG berhasil naik di atas Fibonacci Retracement 61.8% di 5,400 maka ancaman Downtrend berkurang dan IHSG berpotensi berada dalam Uptrend menuju (minimal) 5,700. Bahkan sangat terbuka kemungkinan IHSG kembali ke level 6,400 – 6,700. Hal ini berpotensi terjadi bila IHSG berhasil naik melewati 5,400 yang mana hal tersebut terjadi setelah IHSG Breakout 4,650 (Breakout Sideways sejak April 2020).

Breakout 4,650 tampaknya telah terjadi sejak akhir April 2020 namun sepanjang Mei 2020, IHSG terlihat kembali Sideways di level 4,500-an. Hal ini yang membuat The Primary Trader masih meyakini Downtrend belum selesai dan masih ada potensi penurunan sebagai One Last Drop untuk IHSG membentuk Bottoming atau Bullish Reversal Pattern.

Menggunakan pendekatan Bottom – Up Analysis, The Primary Trader ingin melihat saham – saham konstituen IHSG yang berpengaruh (Big Caps). Dapat disimpulkan bahwa saham – saham Big Caps tersebut relatif membentuk Bearish Continuation Pattern yang menunjukkan saham tersebut masih berpotensi Downtrend. Bila demikian maka seharusnya IHSG pun sedang bersiap kembali Downtrend.

Berikut adalah saham – saham dengan masing – masing kategori yang semuanya mengindikasikan kelanjutan dari Downtrend :

Descending Triangle (atau menyerupai) : BBRI dan BMRI

Symmetrical Triangle (atau menyerupai) : ASII, INTP, PGAS dan SMGR

Strong Down Trendline : HMSP, ICBP, GGRM dan UNTR

Saham – saham Big Caps di atas menunjukkan ancaman Downtrend atau segera kembali turun dalam Downtrend. Dengan demikian, IHSG tentu akan turun mengikuti saham – saham tersebut. The Primary Trader masih berhati – hati dan waspada.

UNPUB : Ekonomi Indonesia 1Q20 Turun Dalam Namun Dapat Menjadi Awal Suatu Dekade Baru.

Ekonomi Indonesia di 1Q20 turun -2.41% QoQ namun masih naik sebesar 2.97% YoY. Meski demikian, pertumbuhan ekonomi ternyata lebih rendah dari estimasi para ekonom. Hal ini tentu mengkhawatirkan karena dampak wabah COVID-19 sebenarnya baru terasa pada bulan Maret 2020, bulan terakhir di 1Q20. Oleh karena itu, ekonom tampaknya mengkhawatirkan masih ada ancaman penurunan yang lebih dalam lagi pada 2Q20 dimana terjadi PSBB di beberapa kota besar di Indonesia (di bulan April 2020, awal 2Q20). Selain itu, pada 2Q20 juga bertepatan dengan bulan Ramadhan yang menjadi puncak konsumsi masyarakat (karena tertolong dengan THR). Namun sekalipun dari Demand Side ada tapi bila Supply Side tidak ada, tampaknya Consumption akan relatif tidak naik sehingga ekonomi pun sulit tumbuh.

Aktifitas pabrik di Indonesia yang tercatat oleh PMI Manufacturing Index di bulan April 2020 jatuh ke level 27.5 (Maret 2020 : 45.3). Mulai terlihat tekanan di bulan Maret 2020 karena di bawah 50 namun bila melihat beberapa tahun terakhir, sejak tahun 2016, PMI Manufacturing Indonesia relatif hovering di level antara 47 – 53. Ada kestabilan dalam 4 tahun terakhir namun The Primary Trader melihat level ini menunjukkan industri manufaktur yang relatif jalan di tempat.

Ekonomi Indonesia di 1Q20 (awal dekade 2020 – 2030) mungkin mengulang level di tahun 2001 dimana pada saat itu ekonomi Indonesia hanya tumbuh sebesar 1.6% YoY di 4Q01. Setelah itu, ekonomi Indonesia tumbuh sampai 8 tahun ke depan.

The Primary Trader ingin optimis bahwa reformasi infrastruktur dan Omnibus Law dapat memperlancar pertumbuhan ekonomi terutama untuk mendorong Konsumsi Domestik (lewat UMKM). Memang banyak yang mengatakan Omnibus Law adalah UU yang tidak tepat namun The Primary Trader termasuk golongan yang percaya UU Sapu Jagad ini akan menjadi pemicu utama pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan terutama apabila aturan – aturan bisnis dapat disederhanakan. Tentu apabila ada kemudahan dari sisi ketenagakerjaan, The Primary Trader percaya UU ini akan semakin mendorong pertumbuhan ekonomi.

Apapun itu, semoga Indonesia semakin maju.

UNPUB : Decompose IHSG

The Primary Trader ingin melakukan Decompose IHSG dengan menggunakan beberapa metode Decompose yaitu :

  1. Classical Decompose
  2. X11 Decompose
  3. SEATS Decompose
  4. STL Decompose

The Primary Trader ingin mempraktikan metode Decomposition terhadap IHSG sehingga dapat ditemukan karakteristik dan seasonality-nya. Penjelasan detil ada di sumber buku “Forecasting: Principles and Practice” dari Rob J Hyndman.

File

The Primary Trader menggunakan data IHSG bulanan dari tahun 2000 sampai Maret 2020 (ihsg.ts) dan dari tahun 2015 sampai Maret 2020 (ihsg.ts.2015).

Classical Decompose

Classical Decomposition mengasumsikan komponen Seasonal berulang setiap tahun.

Multiplicative Classical Decompose

ihsg.mult <- decompose(ihsg.ts, type = "multiplicative")
autoplot(ihsg.mult)+ 
  xlab("Year")+
  ggtitle("Classical Multiplicative Decompose IHSG")

plot of chunk unnamed-chunk-3

Additive Classical Decompose

ihsg.add <- decompose(ihsg.ts, type = "additive")
autoplot(ihsg.add)+ 
  xlab("Year")+
  ggtitle("Classical Additive Decompose IHSG")

plot of chunk unnamed-chunk-4

Ada setidaknya 3 metode lagi untuk Decompose yaitu X11, SEATS dan STL dimana ketiganya cukup rumit. Untuk artikel ini, The Primary Trader hanya mempraktikan menggunakan Classical Decomposition. Namun beberapa poin dibawah ini menunjukkan plot Decomposition dari ketiga metode tersebut.

X11 Decompose

X11 menggunakan dasar Classical Decomposition namun untuk Trend dan Cycle-nya, X11 memperhatikan seluruh observasi dari titik awal sampai akhir (tidak hanya tahun ke tahun seperti Classical Decomposition). X11 juga langsung menyesuaikan metode Additive dan Multiplicative yang mana pada Classical Decompose, pemilihan metode tersebut harus dilakukan secara manual.

ihsg.x11 <- seas(ihsg.ts, x11="")
autoplot(ihsg.x11)+ 
  xlab("Year")+
  ggtitle("X11 Decompose IHSG")

plot of chunk unnamed-chunk-5

SEATS Decompose

SEATS atau SEasonal Extraction in ARIMA Time Series adalah Decomposition yang hanya berlaku pada Quarterly maupun Monthly data.

ihsg.seats <- seas(ihsg.ts)
autoplot(ihsg.seats)+
  ggtitle("SEATS decomposition of electrical equipment index")

plot of chunk unnamed-chunk-6

STL Decompose

STL atau Seasonal and Trend Decomposition using Loess dimana Loess adalah metode untuk mengestimasi hubungan nonlinear dari data. Beberapa keunggulan STL dibanding metode Decompose yang lain adalah STL dapat menghitung data seasonality lain (tidak hanya bulanan maupun kuartalan seperti SEATS). Komponen Seasonal-nya serta Rate of Change-nya dapat diganti serta dirubah manual begitupun dengan Smoothness dari Trend-Cycle nya.

ihsg.stl <- stl(ihsg.mo, t.window = 13, s.window = "periodic", robust = TRUE)
autoplot(ihsg.stl)+
  ggtitle("STL decomposition of electrical equipment index")

plot of chunk unnamed-chunk-7

Peak and Trough

The Primary Trader menyukai salah satu penggunaan metode Decompose adalah untuk mengetahui Peak and Trough dari suatu data – menggunakan unsur Seasonal yang dihitung dalam metode Decompose.

Berikut adalah contoh Peak and Trough menggunakan unsur Seasonal pada Classical Decompose dan X11 Decompose :

ihsg.mult.2015 <- decompose(window(ihsg.ts.2015, start = c(2015,1)), type = "multiplicative")
ihsg.add.2015 <- decompose(window(ihsg.ts.2015, start = c(2015,1)), type = "additive")
ihsg.x11.2015 <- seas(window(ihsg.ts.2015, start = c(2015,1)), x11="")

autoplot(ihsg.mult$seasonal)+
  ggtitle("Seasonality of Multiplicative Classical Decomposition")

plot of chunk unnamed-chunk-8
autoplot(ihsg.add$seasonal)+
  ggtitle("Seasonality of Additive Classical Decomposition")

plot of chunk unnamed-chunk-8
autoplot(seasonal(ihsg.x11))+
  ggtitle("Seasonality of X11 Decomposition")

plot of chunk unnamed-chunk-8
autoplot(ihsg.mult.2015$seasonal)+
  ggtitle("Seasonality of Multiplicative Classical Decomposition since 2015")

plot of chunk unnamed-chunk-8
autoplot(ihsg.add.2015$seasonal)+
  ggtitle("Seasonality of Additive Classical Decomposition since 2015")

plot of chunk unnamed-chunk-8
autoplot(seasonal(ihsg.x11.2015))+
  ggtitle("Seasonality of X11 Decomposition since 2015")

plot of chunk unnamed-chunk-8

Bila melihat kedua metode (Classical dan X11), terlihat X11 lebih rumit karena Seasonality X11 sepanjang periode tidak stabil. Hal ini karena metode X11 benar – benar melihat data secara detil, tidak terpaku dengan data tahun ke tahun seperti Classical Decomposition.

Grafik di atas juga menunjukkan bahwa angka siklus Peak and Trough IHSG berbeda – beda setiap metode. Hal ini cukup wajar namun pada satu metode, ada perbedaan apabila total periodenya berbeda.

Untuk melihat Peak and Trough, berikut adalah angka Seasonal dari Classical Decomposition metode (Multiplicative dan Additive) dengan periode yang berbeda. Angka Seasonal tertinggi adalah Peak sementara angka Seasonal terendah adalah Trough.

### Classical Decompose Multiplicative : July and Oct 
range(ihsg.mult$seasonal)

## [1] 0.9681424 1.0253185
head(ihsg.mult$seasonal, 12)

##            Jan       Feb       Mar       Apr       May       Jun       Jul
## 2000 1.0012314 1.0039945 1.0057929 1.0223423 1.0182244 1.0125698 1.0253185
##            Aug       Sep       Oct       Nov       Dec
## 2000 0.9930703 0.9860049 0.9681424 0.9683132 0.9949955
### Classical Decompose Multiplicative 2015 : Feb and Nov
range(ihsg.mult.2015$seasonal)

## [1] 0.9727762 1.0266903
head(ihsg.mult.2015$seasonal, 12)

##            Jan       Feb       Mar       Apr       May       Jun       Jul
## 2015 1.0247965 1.0266903 1.0154625 1.0044016 0.9878793 0.9949372 1.0036845
##            Aug       Sep       Oct       Nov       Dec
## 2015 0.9986347 0.9818674 0.9834012 0.9727762 1.0054689
### Classical Decompose Additive : Apr and Nov
range(ihsg.add$seasonal)

## [1] -83.57064  55.17163
head(ihsg.add$seasonal, 12)

##             Jan        Feb        Mar        Apr        May        Jun
## 2000   7.160684  32.889453  50.837431  55.171632  22.153855   2.141557
##             Jul        Aug        Sep        Oct        Nov        Dec
## 2000  49.218353 -30.365464 -43.315344 -49.307086 -83.570639 -13.014433
### Classical Decompose Additive 2015 : Feb and Nov
range(ihsg.add.2015$seasonal)

## [1] -149.884  156.214
head(ihsg.add.2015$seasonal, 12)

##              Jan         Feb         Mar         Apr         May
## 2015  154.118949  156.213976   85.252963   22.170138  -74.133527
##              Jun         Jul         Aug         Sep         Oct
## 2015  -39.096942   12.300302   -9.089981  -94.200776  -97.398817
##              Nov         Dec
## 2015 -149.884031   33.747744

Menggunakan metode Classical Decomposition Multiplicative dari tahun 2000, terdeteksi bahwa Peak and Trough IHSG ada di bulan Juli dan Oktober. Sementara dengan metode yang sama namun pada periode 2015, Peak and Trough IHSG terdeteksi di bulan Februari dan November.

Hal ini tentu karena adanya perubahan yang terjadi dari IHSG itu sendiri. Perubahan Seasonality serta Cycle pada pasar modal dapat terjadi karena perubahan rezim pemerintahan dan teknologi. Periode dari tahun 2000 sampai 2020 adalah periode yang cukup panjang.

The Primary Trader lebih percaya pada metode yang menggunakan data pendek terbaru (yaitu untuk periode dari 2015). Berikut adalah IHSG dengan Peak and Trough pada bulan April dan November (menggunakan Classical Decompose Additive) :

IHSG <- getSymbols("^JKSE", from = "2000-01-01", to = "2020-04-30", auto.assign = FALSE)
IHSG.mo <- na.omit(to.monthly(IHSG))
ihsg.mo <- IHSG.mo$IHSG.Adjusted
ihsg.ts <- ts(ihsg.mo, frequency = 12, start = c(2000,1))

ihsg.df <- data.frame(ihsg.mo, date = index(ihsg.mo))
ihsg.df <- ihsg.df %>%
  mutate(dates = as.Date(date), month = month(date))

plot(ihsg.df$date, ihsg.df$IHSG.Adjusted, type = "l")
points(x = ihsg.df[ihsg.df$month ==4, "date"],
       y = ihsg.df[ihsg.df$month ==4, "IHSG.Adjusted"], col = "blue", pch = 19)
points(x = ihsg.df[ihsg.df$month ==11, "date"],
       y = ihsg.df[ihsg.df$month ==11, "IHSG.Adjusted"], col = "red", pch = 19)

plot of chunk unnamed-chunk-10

Seasonality Line

Setiap metode Decompose menghasilkan dua komponen penting yaitu Seasonally Adjusted serta Trend. Keduanya pun dapat di-plot bersama dengan data IHSG.

Seasonally Adjusted dan Trend dari X11 Decompose

autoplot(ihsg.ts, series="Data") +
  autolayer(trendcycle(ihsg.x11), series="Trend") +
  autolayer(seasadj(ihsg.x11), series="Seasonally Adjusted") +
  xlab("Year") +
  ggtitle("X11 Decompose IHSG") +
  scale_colour_manual(values=c("green","blue","red"),
             breaks=c("Data","Seasonally Adjusted","Trend"))

plot of chunk unnamed-chunk-11

Agar terlihat jelas garis Seasonally Adjusted dan Trend – nya maka The Primary Trader melakukan zoom in dengan melihat data IHSG dari tahun 2015 :

ihsg.ts.2015 <- window(ihsg.ts, start = 2015)

autoplot(ihsg.ts.2015, series="Data") +
  autolayer(trendcycle(seas(ihsg.ts.2015, x11="")), series="Trend") +
  autolayer(seasadj(seas(ihsg.ts.2015, x11="")), series="Seasonally Adjusted") +
  xlab("Year") +
  ggtitle("X11 Decompose IHSG") +
  scale_colour_manual(values=c("green","blue","red"),
             breaks=c("Data","Seasonally Adjusted","Trend"))

plot of chunk unnamed-chunk-12

Seasonally Adjusted dan Trend dari Classical Decompose

Berikut adalah Seasonality dan Trend line dari Classical Decomposition secara Additive dan Multiplicative dari tahun 2015 :

autoplot(ihsg.ts.2015, series="Data") +
  autolayer(trendcycle(decompose(ihsg.ts.2015, type = "additive")), series="Trend") +
  autolayer(seasadj(decompose(ihsg.ts.2015, type = "additive")), series="Seasonally Adjusted") +
  xlab("Year") +
  ggtitle("Additive Classical Decompose IHSG") +
  scale_colour_manual(values=c("green","blue","red"),
             breaks=c("Data","Seasonally Adjusted","Trend"))

plot of chunk unnamed-chunk-13
autoplot(ihsg.ts.2015, series="Data") +
  autolayer(trendcycle(decompose(ihsg.ts.2015, type = "multiplicative")), series="Trend") +
  autolayer(seasadj(decompose(ihsg.ts.2015, type = "multiplicative")), series="Seasonally Adjusted") +
  xlab("Year") +
  ggtitle("Multiplicative Classical Decompose IHSG") +
  scale_colour_manual(values=c("green","blue","red"),
             breaks=c("Data","Seasonally Adjusted","Trend"))

plot of chunk unnamed-chunk-14

Seasonal Sub-Series dari Seasonal X11 IHSG

Beberapa metode memberikan coding untuk lebih menspesifikan Seasonal atau Sub-Series Seaonal yang ada seperti metode X11 Decomposition berikut :

ihsg.x11 %>% seasonal() %>% ggsubseriesplot() + ylab("Seasonal X11")

plot of chunk unnamed-chunk-15

Berdasarkan metode Decompose menggunakan X11, The Primary Trader melihat kecenderungan IHSG Sideways cenderung Uptrend di 1Q. Terlihat jelas bahwa IHSG lebih sering jatuh (Crash) di 2Q dan Bottoming di 3Q. Ada tendensi naik di 4Q.

Bila disimpulkan, Market cenderung naik mulai dari 4Q sampai 1Q dimana 2Q adalah puncak kenaikan dan awal kejatuhan sampai 3Q.

Kesimpulan

Menemukan titik Peak and Trough adalah suatu hal. Namun tentu pembuktian mana Peak and Trough yang terbaik menggunakan Backtesting adalah hal penting lainnya. The Primary Trader akan menuliskan Backtesting di artikel selanjutnya.

Salah Satu Yang Terdalam Di 25 Tahun Terakhir. Ekonomi AS Di 1Q20 Turun Tapi Ada Potensi Kenaikan Bursa Saham AS dan Global.

Ekonomi AS di 1Q20 turun sebesar -4.8% QoQ. Penurunan ini adalah salah satu yang terdalam di 25 tahun terakhir. Tentu hal ini adalah sebagai dampak Lockdown di berbagai State di AS yang baru dilakukan pada akhir Maret 2020 (!).

United States GDP Growth Rate

Seiring dengan terjadinya Lockdown, pengangguran mulai meningkat yang diindikasikan dengan banyaknya klaim pengangguran. Pada 2 minggu di pertengahan Maret 2020, klaim pengangguran langsung melonjak menjadi 9 juta orang. Dalam 5 minggu terakhir, sudah sebanyak 26 juta orang mengajukan klaim pengangguran yang mengindikasikan jumlah orang yang di-PHK. Angka tersebut merupakan yang terbesar sepanjang data klaim pengangguran. Bila terus berlanjut maka hal ini akan merubah tren tingkat pengangguran yang dalam tren turun sejak tahun 2010. Pada bulan Maret 2020, tingkat pengangguran sudah naik menjadi 4.4%.

Meski demikian, S&P500 tampaknya bergerak naik dan telah Breakout Fibonacci Retracement di 61.8% yang diproyeksikan ke bawah. Dengan demikian, masih ada ancaman S&P500 melanjutkan Downtrend (dengan potensi lebih dalam dari 2,200 – sampai kemarin ketika S&P500 berhasil (atau sedang) Breakout ~2,950 yang merupakan level Fibonacci 61.8%.

Dengan melewati Fibonacci 61.8% proyeksi ke bawah maka penurunan S&P500 ke depan adalah sebagai Tech. Correction dari Uptrend S&P500 yang dimulai dari akhir Maret 2020 di 2,190. Bila terjadi penurunan, The Primary Trader perkirakan akan berada di antara rentang Fibonacci Retracement 61.8% – 38.2% dengan proyeksi ke atas yaitu di ~2,500 – ~2,650.

Meski demikian, kenaikan S&P500 memang yang paling tinggi dibanding indeks AS lain seperti Russell2000, Dow Jones Industrial dan Transportation. Namun kenaikan S&P500 masih kalah dibanding Nasdaq100.

Di Nasdaq100, ada 2 saham yang saat ini sedang menarik (selain Amazon yang ada di S&P500) yaitu Gilead Science yang memproduksi obat Remdesivir dan Zoom Video Telecommunication yang membuat aplikasi Online Meeting Zoom.

Hal yang membuat positif pasar saham AS (dan mungkin pasar saham dunia dalam waktu dekat) adalah obat Remdisivir kemungkinan akan disetujui oleh FDA sebagai obat COVID-19, sesuai dengan pemberitaan CNN.

Semoga.

UNPUB : Pandangan IHSG Dengan Bollinger Band Complete Set. Ada Harapan!

IHSG + Bollinger Band : Segera Berada di atas Middle Band

Penurunan IHSG dari sejak awal April 2020 dapat dikatakan sebagai Tech. Correction bila dilihat dari kenaikan sejak akhir Maret 2020 (dari ~3,900). IHSG pun saat ini sedang terlihat naik untuk melewati Middle Band (MA20) yang saat ini di 4,595.

%BB : Uptrend Untuk Melewati >50

Hal ini didukung oleh %BB dimana sejak awal Maret 2020 telah bergerak naik dan terindikasi membentuk Uptrend. Ada potensi %BB segera berada di atas level 50 yang berarti IHSG berada di atas Middle Band.

Middle Band Direction : Mulai Mengarah Ke Atas

Middle Band Direction yang menunjukkan posisi arah pergerakan Middle Band atau MA20. Saat ini Middle Band Direction berada di angka positif yang artinya Middle Band sedang mengarah ke atas. Dengan mengarah ke atas maka ada indikasi IHSG akan Uptrend.

Bandwidth : Volatilitas Sedang Rendah

Bandwidth BB terlihat sedang turun dan dilevel yang relatif rendah. Hal ini menunjukkan volatilitas pergerakan IHSG sedang rendah. Dengan demikian, pergerakan IHSG (baik ke atas atau ke bawah) akan relatif tidak banyak (Less Volatile).

Bandwidth Histogram : Volatilitas Akan Meningkat

Bandwidth Histogram yang memperkirakan arah dari Bandwidth menunjukkan tren angka yang positif dari sebelumnya di angka negatif. Hal ini mengindikasikan adanya potensi pergerakan arah indikator Bandwidth. Bila indikator Bandwidth meningkat maka volatilitas akan meningkat. Indikator Bandwidth Histogram memperkirakan volatilitas IHSG akan meningkat.

Kesimpulan : Segera Rally

Ringkasan masing – masing indikator adalah sebagai berikut :

  • IHSG + Bollinger Band : Segera Berada di atas Middle Band
  • %BB : Uptrend Untuk Melewati >50
  • Middle Band Direction : Mulai Mengarah Ke Atas
  • Bandwidth : Volatilitas Sedang Rendah
  • Bandwidth Histogram : Volatilitas Akan Meningkat

Oleh karena itu, dapat disimpulkan IHSG berpotensi segera naik ke atas dengan volatilitas yang meningkat (Rally sebagai bagian dari Uptrend).

Pertanyaannya adalah, apakah Rally IHSG akan merubah Downtrend dari sejak awal tahun 2020 ?

The Primary Trader melihat pergerakan IHSG sejak April 2020 berada dalam pola Bullish Continuation yang sangat mungkin mengindikasikan kenaikan sejak akhir Maret 2020 (dari 3,900 ke 4,900) kembali terjadi. Ada potensi IHSG naik menuju 5,700 setelah Breakout 4,650 (dengan mengonfirmasi pola Bullish Continuation tersebut).

Namun untuk mengatakan akhir Downtrend dari sejak awal tahun 2020, IHSG perlu Breakout 5,400 dan The Primary Trader meragukan hal tersebut. The Primary Trader masih memperkirakan akan ada One Last Drop yang mengakhiri Downtrend dan memulai proses pembentukan pola Bullish Reversal.

Yield SUN10Yr Bersiap Kembali Naik Menuju 9%

Pada Selasa, 28 April 2020, Pemerintah melakukan lelang obligasi dan diperoleh total permintaan yang terus meningkat serta tertinggi sejak pertengahan Maret 2020.

Hal ini cukup bagus karena semenjak pemerintah mengumumkan rencana stimulus sebesar ~Rp400 triliun dan defisit anggaran mencapai -5.07%, pasar obligasi mencatat penurunan harga dan kenaikan Yield. Investor mengkhawatirkan akan terjadi suplai yang besar dari obligasi karena pemerintah akan menerbitkan Rp549 triliun surat hutang, lebih tinggi Rp160 triliun dari APBN2020 yang awal.

Indonesia sendiri akhirnya di Downgrade Outlook-nya oleh S&P dari Stable menjadi Negative. Artinya adalah ada potensi S&P menurunkan Rating Indonesia dari BBB menjadi BBB- dalam 12 bulan ke depan. Tentu hal ini karena adanya kenaikan defisit anggaran sebesar -5.07% dan dengan kehati-hatian dalam mengelola anggaran, ada harapan S&P menaikkan kembali Outlook-nya menjadi Stable.

Selain itu, pandangan Investor global terhadap Indonesia masih baik karena saat Pemerintah menerbitkan Pandemo Bond sebesar USD4.3 miliar, Yield yang diminta relatif rendah dibanding 5 tahun terakhir.

Meski demikian, dalam jangka pendek (1-2 bulan ke depan), The Primary Trader melihat potensi Yield SUN10Yr naik menuju 9%, melanjutkan tren kenaikan Yield dari 6.5% di awal Maret 2020. Tentu ada harapan Yield kembali ke level 7% – 7.5% di 2H20. Namun menurut The Primary Trader, hal tersebut akan sangat tergantung dalam kebijakan Pemerintah dan ketaatan masyarakat untuk mengendalikan wabah COVID-19 di Indonesia.

Semoga studi dari Singapore University of Technology and Design yang memperkirakan wabah COVID-19 berakhir di awal Juni 2020 benar.

Data Penting Yang Jarang Dilirik Investor : Laporan Statistik Bursa Efek Indonesia

Setiap periode (Weekly, Monthly, Quarterly dan Yearly), Bursa Efek Indonesia mengeluarkan laporan statistik perdagangan di bursa. Laporan tersebut dapat diunduh di website IDX. Menurut The Primary Trader, laporan tersebut sangat penting untuk diperhatikan karena mengandung Market Data yang relatif jarang ada bagi sebagian besar Investor (kecuali Investor Individu maupun Institusi yang telah berlangganan Bloomberg Desktop maupun Thomson Reuters / Refinitif atau Cogencies).

Mengacu dari laporan bulan Maret 2020, berikut adalah informasi yang The Primary Trader sangat penting : Kenaikan Trading Value

The Primary Trader melihat ada kenaikan Trading Value mulai dari 20 Maret 2020, seiring dengan kenaikan IHSG. Hal ini pertanda baik karena Uptrend harus didukung oleh Trading Value.

Rata – rata Trading Value harian IHSG di bulan Maret 2020 adalah sebesar Rp7.9 triliun, lebih besar dari Januari dan Februari 2020 sebesar Rp6.3 – Rp6.5 triliun. Hal ini pertanda bagus. Namun bila dilihat dari tahun 2019, angka Rp7.9 triliun relatif sangat kecil karena rata – rata Trading Value harian sepanjang tahun 2019 adalah sebesar Rp9.1 triliun sementara di tahun 2020 (sampai Maret 2020) hanyalah sebesar Rp6.9 triliun. Oleh karena itu, The Primary Trader masih belum melihat adanya kenaikan Trading Value yang dapat berpotensi membuat IHSG berada dalam Uptrend.

Namun tentu itu adalah data sampai akhir Maret 2020.

IDX juga mengeluarkan data mingguan dan The Primary Trader mengambil data transaksi harian di minggu 21-24 April 2020 sebagai berikut :

Terlihat bahwa ada kencenderungan Trading Value IHSG Flat di kisaran rendah yaitu Rp4.5 triliun. IHSG-nya sendiri pun relatif Flat sehingga kemungkinan besar menghapus potensi Uptrend di bulan Maret 2020.

Masih banyak data dan informasi lain yang terdapat pada Laporan Statistitk tersebut – terutama Monthly Edition-nya antara lain :

  • Financial Datas & Ratios
  • Jakarta Composite Index Activity

Semoga bermanfaat.

UNPUB : Big Bank “Menipu” IHSG. Fokus Ke-6 Saham Ini.

Bila melihat pergerakan IHSG dan membandingkannya dengan pergerakan Big Bank (BBCA, BBRI, BBNI dan BMRI) maka terlihat pergerakan Big Bank lebih Bullish dibanding IHSG itu sendiri. Sejak awal tahun 2018, Big Bank bergerak Uptrend sementara IHSG sudah bergerak Sideways. Ketika IHSG mengalami Breakdown yang menandakan arah tren berubah menjadi Downtrend, Big Bank masih belum mengindikasikan Breakdown. 1-2 minggu kemudian terjadi Breakdown pada Big Bank.

The Primary Trader mencoba melihat Big Cap lain yang relatif memiliki variasi sektor. Berikut adalah pilihannya : GGRM, INDF, ICBP, ASII, TLKM dan UNVR. Berikut adalah chartnya :

Other Big Caps tersebut mengindikasikan Uptrend – hanya sampai awal tahun 2019 atau sekitar akhir 1Q19. Setelah itu, Other Big Caps mulai bergerak Downtrend. Pada 3Q19, Other Big Caps mulai Breakdown dan mengonfirmasi Downtrend.

Apabila digabungkan, maka jelas terlihat Other Big Caps telah Downtrend dari 2019 sementara Big Bank tampaknya menopang IHSG sehingga IHSG masih bisa Sideways. Pada awal tahun 2020, terlihat Big Bank mulai naik namun tidak bertahan sementara Other Big Caps cenderung Flat sebelum IHSG jatuh yang disebabkan oleh Crash di Big Bank.

Kesimpulan

Per hari ini (28 April 2020), Big Bank memang memiliki Total Market Cap 22.5% dari IHSG. Sementara Other Big Caps memiliki total 19.27% dari IHSG. Cukup wajar bila Big Bank masih lebih mendominasi pergerakan IHSG.

Namun The Primary Trader lebih menyukai Other Big Caps karena setidaknya terdiri dari 5 sektor yaitu Cigarettes (GGRM), Food and Beverage (ICBP dan INDF), Automotive (ASII), Telecommunication (TLKM) dan Consumer Staples (UNVR). Sektor tersebut cenderung Cyclical (Auto) namun ada beberapa yang menjadi Backbone ekonomi Indonesia yaitu Consumer Related seperti Cigarettes, F&B dan Consumer Staples.

Oleh karena itu, untuk melihat kondisi IHSG lebih detil, selain Big Bank, sangat perlu juga dilihat Other Big Caps.

Unpub : Harga Minyak Dunia Mungkin Tidak Akan Kembali Tinggi Lagi

The Primary Trader melihat Brent mulai berpotensi membentuk Bottoming. Brent masih harus naik atau setidaknya bertahan di atas USD15 – USD20 per barel dalam 1-2 bulan ke depan. Brent juga masih harus Breakout USD35 untuk mengawali kenaikan (yang mungkin sebagai Uptrend) menuju setidaknya USD55.

Selama ini harga Brent relatif lebih tinggi USD8 per barel dari WTI. Namun karena adanya spekulasi yang tinggi dari WTI dan tiba – tiba ada keterbatasan Storage, tidak ada pembeli Oil yang ingin mengeksekusi kontrak sehingga terjadilah harga minus pada kontrak WTI – yang membuat selisih harga Brent dengan WTI melonjak mencapai USD26 per barel (hampir 3x lipat dari biasanya).

The Primary Trader melihat harga minyak yang terus rendah akan menjadi pukulan terhadap banyak negara. Di harga USD20, negara seperti US, Rusia dan Indonesia mungkin hanya cukup untuk Break Even Point. Arab Saudi, Irak dan Iran mungkin masih menikmati keuntungan kotor (Gross Profit).

Live Chart here

Namun bagi suatu negara, Gross Profit tidaklah cukup karena untuk negara yang mengandalkan ekspor Oil sebagai pendapatan maka harga Oil harus jauh di atas Production Cost.

Contoh kasus, untuk Arab Saudi, dalam rangka menjaga Fiskal-nya maka harga Oil harus di atas USD83 per barel. Tentu sebagai negara yang berpengaruh dalam industri minyak dunia, Arab Saudi harus melakukan sesuatu.

The Primary Trader membaca estimasi BNP Paribas bahwa Oil mungkin tidak akan kembali di level normal (let say USD50, USD80 atau bahkan USD100 lagi).

Salah satu alasannya adalah bahwa kemajuan teknologi seperti Tenaga Matahari dan Baterei Listrik sudah semakin murah. Hal ini tentu semakin mendorong peralihan dari tenaga fosil (Oil).

Efisiensi mobil berbahan bakar fosil pun cukup baik sehingga puncak permintaan minyak di AS itu adalah tahun 2005. Meski ada penambahan masyarakat dan mobilitas di tahun 2019, permintaan minyak masih lebih rendah dari tahun 2005. Ke depan, mobil listrik yang lebih efisien (Tesla dan produsen lainnya) akan semakin mengurangi permintaan minyak.

Permintaan lain yang sangat mungkin berkurang adalah penerbangan. Memang industri pariwisata akan tetap mendorong permintaan minyak untuk penerbangan. Namun Business Meeting yang sebelumnya harus dilakukan dengan penerbangan antar kota, antar provinsi, antar negara sampai antar benua, saat ini sudah nyaman dilakukan dengan Online Meeting seperti menggunakan Zoom.

Zoom Meeting - Everything You Need to Know in 2020

S&P500 Masih Terancam Turun -40%. Berikut alasannya

The Primary Trader melihat S&P500 masih terancam turun menuju 1,670 atau -40% dari level saat ini. S&P500 memang telah naik 30% dari akhir Maret 2020 namun kenaikan tersebut dapat dianggap sebagai Tech. Rebound yaitu kenaikan ditengah Downtrend. The Primary Trader belum melihat ada akhir dari Downtrend.

S&P500 dapat dikatakan berhasil mengakhiri Downtrend dan berpeluang besar untuk Uptrend bila dapat naik di atas 2,930 yang merupakan Fibonacci Retracement 61.8% dengan proyeksi ke bawah. Dengan melewati 2,930 maka kenaikan dari akhir Maret 2020 tersebut bukan merupakan Tech. Rebound.

Kenaikan S&P500 sejak awal tahun tampaknya karena kenaikan saham Amazon dan Netflix yang memang menjadi pemenang ditengah Pandemi COVID-19 dan Lockdown di berbagai belahan dunia. Namun bila melihat indeks Russell2000 (berisi 2 ribu saham di New York Stock Exchange), terlihat bahwa mayoritas saham tidak sebagus pergerakan S&P500. Amazon dan Netflix (serta 3 saham lain seperti Alphabet dan Facebook) hampir mewakili 20% dari total Market Cap S&P500).

Sementara itu, dilihat dari Market Breadth S&P500, saat ini lebih banyak saham – saham S&P500 yang turun. Dari chart di bawah, jumlah saham – saham yang di bawah level High 52Wk semakin banyak dan beberapa kali menjadi indikasi penurunan dalam pada S&P500 seperti di tahun 1990, 2008, 2011 dan 2016. Artikelnya dapat dilihat di Bloomberg.

relates to Goldman Says Narrow Breadth in S&P 500 a Bad Sign for Stocks

Minggu Penting

Di minggu terakhir April 2020 ini, Investor menunggu data ekonomi penting yaitu :

  • US GDP Growth Rate 1Q20 di 29 April 2020
  • FOMC Meeting di 30 April 2020
  • China NBS Manufacturing PMI di 30 April 2020

Trading Economics memperkirakan ekonomi AS di 1Q20 kontraksi sebesar -4% QoQ. Penurunan tersebut lebih dalam dari 25 tahun terakhir dan hanya dikalahkan oleh penurunan pada tahun 2008 (Global Financial Crisis).

United States GDP Growth Rate

The Primary Trader perkirakan data – data tersebut akan menjadi katalis penurunan S&P500. Selain itu, setelah wabah COVID-19 di suatu negara selesai dan Lockdown mulai berakhir, masih ada tantangan lagi karena masyarakat belum belanja dan konsumsi seperti biasanya. Hal ini terjadi di Wuhan dan Jerman.

DOW THEORY – TEORI DASAR TERPENTING MENURUT THE PRIMARY TRADER (3)

Artikel edukasi ini adalah bagian ketiga. Lihat bagian pertama di sini dan bagian kedua di sini.

Masih ada 3 poin Dow Theory yang relatif jarang digunakan namun menurut The Primary Trader juga merupakan hal penting.

Line indicates movement

Dow ingin mengatakan bahwa setiap pergerakan harga saham memiliki arti penting dalam analisis bagi itu pergerakan ke atas, ke bawah maupun mendatar. Untuk pergerakan mendatar ini biasa disebut Sideways, Flat atau Trend-less. Yang terpenting adalah walaupun harga tidak berubah dari hari – hari sebelumnya namun pergerakan tersebut tetap perlu diperhatikan dan dianalisis karena dapat menjadi petunjuk untuk memperkirakan pergerakan berikutnya.

Pada dasarnya, The Primary Trader melihat Sideways sebagai pola Continuation. Cukup jarang Sideways menjadi pola Reversal. Dengan demikian, setiap menemukan pergerakan Sideways atau Flat, The Primary Trader langsung menganggap tren sebelumnya masih akan berlanjut.

Sideways dapat juga dianggap sebagai “temporary pause” dari pergerakan sebelumnya. Anggaplah suatu berita bagus telah tersebar sehingga Investor berbondong – bondong membelinya (Panic Buying) sebelum menganalisis berita tersebut. Pada suatu waktu, Investor merasa perlu Cooling Down dan benar – benar menganalisis berita tersebut, dampaknya terhadap emiten dan apakah valuasi masih wajar atau tidak. Kondisi Cooling Down inilah yang biasanya membentuk pergerakan Sideways yang The Primary Trader perkirakan sebagai bagian dari pola Continuation.

Price Action determine the trend

Poin ini menekankan bahwa Analisis Teknikal harus menggunakan metode Analisis Teknikal (Price Action) untuk menentukan kondisi yang diamati oleh Analisis Teknikal (Trend). Hal ini karena seringkali Trend adalah suatu “akibat” oleh suatu “sebab” yang berasal dari ilmu Makro Ekonomi maupun ilmu Analisis Fundamental. Mungkin benar bahwa suatu Uptrend disebabkan oleh siklus ekonomi ekspansif atau ketika harga saham sudah sangat murah. Namun seorang Analisis Teknikal sebaiknya tidak menyebutkan alasan – alasan tersebut untuk mengatakan pasar saham sedang Uptrend atau Downtrend.

Sebagaimana yang telah disebutkan dalam ilmu dasar Analisis Teknikal mengenai Trend, untuk dapat mengatakan harga aset sedang dalam Uptrend maka harus ada kondisi “Higher High – Higher Low“. Untuk dapat mengatakan harga aset sedang dalam Downtrend maka harus ada kondisi “Lower High – Lower Low“.

Analis Teknikal sudah harus percaya bahwa ketika terjadi kondisi (katakanlah) Lower High – Lower Low maka Investor memperkirakan akan ada kondisi yang buruk pada aset tersebut. Dengan demikian, harga aset tersebut akan bergerak Downtrend.

Only closing price is used

Hal ini juga memperjelas bahwa objek studi dari Analisis Teknikal adalah harga aset. Oleh karena itu, penggunaan objek selain harga oleh Analis Teknikal dapat diperdebatkan. Namun tentu suatu ilmu terlebih lagi pengguna ilmu tersebut juga harus tetap terbuka menerima perkembangan zaman.

The Primary Trader merasa cukup terbuka sehingga poin ini dapat dikembangkan menjadi tidak hanya Closing Price saja yang digunakan tapi juga Open Price, Low Price, High Price serta Volume (jumlah lembar), Value (nilai transaksi dalam mata uang tertentu) hingga Open Interest (total kontrak berjangka yang tidak diselesaikan).

Namun tetap objek harga terpenting dalam Analisis Teknikal adalah Closing Price.


Demikian pembahasan Dow Theory dari The Primary Trader. Nantikan edukasi selanjutnya. Semoga bermanfaat.

Dua Sektor Yang Berpotensi Menarik Di Tengah Trend WFH : Tower Dan Telekomunikasi

Ditengah PSBB karena wabah Covid-19 di banyak daerah serta mulai larangan mudik dalam rangka mengendalikan penyebaran wabah, The Primary Trader ingin melihat dua sektor yang mungkin mendapat sentimen sentimen positif yaitu sektor Tower dan sektor Telekomunikasi.

Sektor Tower dapat terus berjalan seperti biasa dan memperluas jaringan dan pembangunan menara karena sektor ini termasuk yang diizinkan berjalan ditengah PSBB. Selain itu, saat ini pembangunan menara dilakukan di daerah yang relatif terpencil sehingga masih relatif aman. Peningkatan permintaan Data (yang dipicu oleh tren WFH) yang pasti akan menjamin kebutuhan akan menara.

Data Traffic tumbuh secara eksponensial dan sangat mungkin di 1Q20 ini tumbuh lebih tinggi dari sebelumnya. Mirae perkirakan pertumbuhan data sebesar 17% per tahun dari 2019 – 2021. Permintaan data yang terus tumbuh (tinggi) inilah yang menjamin permintaan menara akan tetap ada dan menjaga bisnis di Sektor Tower tetap baik.

Meski demikian, bukan berarti emiten Sektor Tower dan Sektor Telekomunikasi tidak terpukul karena wabah Covid-19 dan PSBB. Ada potensi penurunan karena aktifitas komunikasi ikut turun. Namun seiring dengan tren Work From Home, kebutuhan internet sangat mungkin meningkat terutama untuk emiten Telekomunikasi yang fokus di Data yaitu EXCL. Pendapatan EXCL dari bisnis Data mencapai 76% sehingga tren WFH yang memaksa menggunakan internet sendiri berpotensi mendorong permintaan Data.

Menurut estimasi Mandiri Sekuritas, permintaan Indihome dari TLKM berpotensi meningkat dari Rp17.8 triliun di tahun 2019 menjadi Rp22 triliun (naik 23% YoY). Namun kontribusi Indihome terhadap pendapatan TLKM hanya ~15% sehingga relatif kecil. Sehingga meskipun ada penambahan yang tinggi dari Indihome, mungkin kontribusinya terhadap TLKM relatif tidak signifikan – terlebih lagi bila aktifitas komunikasi dari Telkomsel berkurang. Porsi pendapatan Telkomsel terhadap TLKM mencapai 70%. Hal ini sempat membuat Menteri BUMN Erick Thohir mengatakan lebih baik tidak ada Telkom Tbk.

Oleh karena itu, The Primary Trader melihat pergerakan Sektor Tower di tahun 2020 sangat bagus dibanding IHSG dan Sektor Telekomunikasi. The Primary Trader menyimpulkan permintaan Data yang tinggi mungkin lebih positif untuk sektor Tower dibanding sektor Telekomunikasi.

Sektor Tower berpotensi berada dalam trend Outperform IHSG setelah berhasil melewati Resistance dari level tertinggi di 3Q17. Sementara Sektor Telekomunikasi masih harus bergerak naik dan menguji Resistance yang cukup kuat dari sejak 3Q18. Resistance ini berhasil menahan 2x kenaikan Sektor Telekomunikasi.

Saham TOWR dari sektor Tower berhasil mencatat Return 10% YTD dan menjadi satu – satunya saham yang mencatat Return Positive di 2 sektor yang dibahas. Saham TBIG, meski mencatat Negative Return YTD namun lebih tinggi dari Negative Return IHSG dan saham – saham sektor Telekomunikasi.

The Primary Trader melihat saham TOWR sedang menghadapi Resistance kuat di ~Rp915. Level ini berhasil menahan TOWR dari sejak akhir 2015 dan telah kurang lebih 3x diuji namun masih gagal di-Breakout. Menggunakan Fibonacci Retracement, setelah TOWR berhasil Breakout Rp915, ada potensi Uptrend jangka panjang menuju setidaknya Rp1,050. The Primary Trader perkirakan TOWR gagal Breakout dalam waktu dekat namun masih memerlukan satu kali Tech. Correction (turun mendekati Rp750 – Rp850) sebelum berhasil Breakout Rp915.

The Primary Trader melihat TBIG bergerak dalam Downtrend Channel dari sejak Oktober 2019. Namun Downtrend Channel tersebut terlihat sebagai Bullish Continuation dari Uptrend sejak 2Q19 (dari Rp600). Ada potensi lanjutan Uptrend jangka panjang untuk TBIG menuju Rp1,500 namun tidak dalam waktu dekat. TBIG masih harus Breakout Resistance dari Downtrend Channel (yang saat ini) di Rp1,100. The Primary Trader perkirakan TBIG akan terkoreksi terlebih dahulu mendekati Rp900 – Rp1,000 untuk kemudian mengakhiri Downtrend Channel dan menguji Resistance kuat di Rp1,350 sebelum ke Rp1,500.