Bukti Validitas IHSG Breakout ~5,500 Sebagai Awal Uptrend Jangka Panjang

Resistance di ~5,500

IHSG telah berhasil Breakout Resistance penting di 5,550. Seperti yang terlihat pada grafik di bawah, level ~5,500 adalah level signifikan sejak tahun 2015 karena beberapa kali menjadi Resistance dan Support. Breakout level 5,500 seperti saat ini seharusnya memberikan indikasi yang signifikan positif pada IHSG.

IHSG berhasil Breakout ~5,550 pada pertengahan November 2020.Menjelang akhir November 2020, terjadi penurunan drastis (hampir -3% dalam sehari) yang menyebabkan IHSG dari 5,600 kembali menyentuh level 5,550. Belakangan diketahui bahwa penurunan tersebut dikarenakan Hacking yang membuat berita negatif signifikan di September 2020 kembali muncul sebagai berita terbaru.

Breakout dan Throwback

The Primary Trader melihat penurunan tersebut sebagai bagian dari Throwback atau penurunan paska Breakout Resistance. Level 5,550 yang sebelumnya menjadi Resistance, pada saat Throwback menjadi Support. Dan karena IHSG tetap bertahan di atas 5,550 maka dapat dikatakan Support tersebut terbukti kuat menahan IHSG sehingga Throwback dapat dikatakan Valid.

The Primary Trader meyakini Throwback menunjukkan Validitas Breakout. Dengan demikian, IHSG telah Breakout dengan meyakinkan sehingga kesimpulan utamanya adalah bahwa IHSG memasuki fase Uptrend jangka menengah dan panjang. The Primary Trader cenderung melihat sebagai Breakout 5,550 adalah awal dari Uptrend jangka panjang IHSG untuk membuat New All Time High.

Validitas Breakout

Validitas Breakout dapat dilihat dari pergerakan OHLC serta Volume atau Value pada saat Breakout. Menggunakan data Laporan Statistik mingguan dari IDX, terlihat bahwa pada tanggal 10, 11 dan 12 November 2020, Value transaksi IHSG sangat besar (Rp15 – 16 triliun per hari). Frekuensinya pun mencapai 1 juta transaksi dari normal sekitar 800 – 900 ribu transaksi. Hal ini menambah indikasi Validitas Breakout.

Karena IHSG sendiri adalah Indeks yang terdiri dari konstituennya maka sudah seharusnya konstituen IHSG pun naik – terutama saat Breakout. Berikut adalah Return saham – saham Biggest Cap IHSG dari November 2020 :

Terlihat bahwa pada tanggal 10 – 12 November, saham ASII, TLKM, BBRI menjadi pengangkat utama IHSG. Saham – saham lain pun telah sebelumnya mendukung seperti BBCA dan BMRI. Dengan adanya kenaikan Big Cap tersebut tentu menandakan kenaikan IHSG disebabkanya oleh adanya Big Money yang masuk. Dan The Primary Trader meyakini hal tersebut memperkuat bukti bahwa IHSG telah secara Valid Breakout Resistance ~5,500 dan memulai Uptrend jangka panjang untuk membuat New All Time High.

Semoga.

Market Breadth Model Untuk Menilai Potensi Koreksi Dalam Waktu Dekat Pada IHSG

Photo by Pixabay on Pexels.com

Market Breadth di dalam Analisis Teknikal memiliki makna berapa banyak saham yang berpartisipasi dalam satu tema tertentu dan memberi dampak terhadap pergerakan indeks. Umumnya, metode Market Breadth menganalisis berapa banyak saham yang naik dan turun. The Primary Trader ingin menganalisis Market Breadth IHSG dengan berbagai macam tema. Saham – saham yang dianalisis adalah saham yang tergolong IDX80.

Sinyal AlertBuyNow Dari Stochastic Oscillator

The Primary Trader menghitung kondisi Stochastic Oscillator dan sinyalnya dari saham – saham IDX80. Berikut adalah grafiknya :

IHSG hampir didominasi oleh saham yang Overbought di awal November 2020 lalu. Namun seiring waktu, saat ini kondisi IHSG berdasarkan Market Breadth dari indikator Stochastic Oscillator cenderung netral dan The Primary Trader tidak melihat ancaman tertentu dalam waktu dekat terhadap IHSG.

Investor Asing Semakin Banyak Membeli Beragam Saham

Grafik di bawah adalah Net Buy Sell Asing terhadap saham – saham IDX80 atau Market Breadth Net Buy Sell Asing :

Dapat disimpulkan bahwa Investor Asing mendominasi Buy di awal November 2020 sampai saat ini. Ada potensi Net Sell Asing terhadap mayoritas saham IDX80 dalam waktu dekat namun sangat mungkin Investor Asing masih akan mempertahankan Net Buy – setidaknya untuk jangka pendek. The Primary Trader ingin menyukai fakta bahwa semakin banyak saham IDX80 yang mencatat Net Buy dalam 20 hari terakhir.

Terhindar Dari Overshoot Versi Bollinger Band

Di minggu ke-dua November 2020, IHSG berada dalam kondisi yang rawan karena mayoritas saham IDX80 ada di atas Upper Band. The Primary Trader menyebut kondisi tersebut dengan Overshoot. Saat Overshoot, suatu aset rawan terkoreksi dalam jangka pendek (turun untuk masuk kembali ke dalam Bollinger Band). Namun karena berhasil berada di atas Upper Band maka sudah pasti saham yang Overshoot berarti berada di atas Middle Band alias Moving Average 20. Dengan demikian, meski ada potensi turun dalam jangka pendek, saham yang Overshoot berarti berada dalam Uptrend atau di atas MA20.

Penurunan IHSG tanggal 9 dan 12 November 2020 merupakan ‘normalisasi’ agar saham – saham IDX80 kembali ke rentang Upper dan Lower Band. Saat ini, saham IDX80 berada di bawah level aman (20 saham dari 80 saham) sehingga The Primary Trader melihat masih ada potensi kenaikan bagi IHSG.

Mayoritas Saham IDX80 Berada Di Atas MA200

Dalam ilmu dasar Analisis Teknikal, bila suatu saham berada di atas MA200 maka dapat disimpulkan saham tersebut bersiap atau sudah berada dalam Uptrend jangka panjang. Hal ini karena Investor memperhatikan level MA200 atau rata – rata dalam setahun terakhir.

Oleh karena itu, The Primary Trader paling menyukai fakta bahwa 72 saham IDX80 saat ini berada di atas MA200 (!). Dari fakta ini dapat disimpulkan bahwa IHSG secara garis besar bersiap atau sudah berada dalam Uptrend jangka panjang.

Kesimpulan

IHSG telah naik sebesar 8.3% sepanjang November 2020 atau rata – rata 0.64% per hari. Hal ini cukup tinggi dan cepat sehingga memang IHSG rawan terkoreksi. Terlebih lagi, Stochastic Oscillator periode 5 hari sudah memasuki area di atas 80 yang berarti Overbought.

Namun perlu diingat bahwa dalam kondisi Uptrend, Stochastic Oscillator (dan Momentum Indicators lainnya) sangat mudah berada di atas Overbought. Beberapa Trader yang berpengalaman justru baru akan membeli atau meng-akumulasi ketika Momentum Indicators berada dalam kondisi Overbought.

Saat ini Stochastic Oscillator mengindikasikan Buy Now karena terjadi Golden Cross antara %K dengan %D. The Primary Trader akan mewaspadai koreksi jangka pendek pada IHSG bila muncul sinyal Warning Sell dimana momentum kenaikan %K berkurang dan %K semakin mendekati %D dari atas ke bawah.

Dengan demikian, The Primary Trader perkirakan koreksi pada IHSG belum akan terjadi di minggu ini. The Primary Trader akan mewaspadai koreksi IHSG pada akhir November 2020. Namun tentu perlu juga diperhatikan berita – berita yang berasal dari global dan domestik yang dapat berpengaruh signifikan dan muncul secara tiba – tiba.

Semoga terinspirasi.

Find Your Own Katana – Lessons From “Ghost Of Tsushima”

Ghost of Tsushima: its creators explain how we will clean the blood of the  katana

The Primary Trader baru saja menyelesaikan game Ghost of Tsushima dan selama bermain, filosofi seorang Samurai sangat terasa sehingga sepanjang permainan, The Primary Trader (dan Gamer lain) merasa mendapat pelajaran hidup yang penting. Tentu pelajaran tersebut dapat diterapkan dalam proses Trading dan Investing.

The Primary Trader mengasumsikan pembaca sudah pernah bermain Ghost of Tsushima. Meskipun pembelajarannya dapat berbeda namun setidaknya kita sama – sama mendapatkan kebahagiaan yang sama dalam bermain game tersebut.

The time you enjoy wasting is not wasted time

Bertrand Russell

Katana Adalah Lethal Weapon. Begitupun Metode Standar Yang Kita Pelajari Di Awal Pembelajaran. Percayalah.

Kadang Gamer lupa bahwa Katana yang menjadi satu – satunya senjata utama di game adalah senjata yang sangat mematikan. Semua musuh dapat dikalahkan dengan Katana, tanpa perlu bantuan senjata lain – apalagi Ghost Weapon. Gamer bahkan tidak perlu selalu menggunakan Heavy Attack karena Quick Attack sudah cukup untuk mengalahkan musuh atau untuk memberikan serangan terakhir.

Ghost of Tsushima Combat Guide: 7 steps to mastery

Seringkali Trader atau Investor yang sudah mendapatkan ilmu dasarnya ragu untuk menerapkan ilmu dasar tersebut. Percayalah bahwa ilmu dasar tersebut sudah cukup untuk membantu Trader dan Investor mencapai tujuan investasi. Meskipun hanyalah sebuah Bullish Crossover pada Moving Average ataupun Actual Price to Earning Ration yang lebih murah dari Peers, hal tersebut cukup untuk menjadi alasan untuk melakukan Action Buy.

Pada saat kesempatan tersebut muncul, lakukan Quick Attactk.

Lebih Baik Pandangan Mata Dibanding Guiding Wind. Jangan Terlalu Banyak Mendengarkan Kata Orang Lain.

Hal menarik dari game ini adalah petunjuk arah menggunakan arah angin.

Ghost of Tsushima: 5 Hal Menarik di Dalamnya! | Medium

Namun beberapa kali The Primary Trader bingung dalam mencari lokasi dengan hanya menggunakan Guiding Wind. Pada akhirnya, pandangan secara visual lebih membantu dalam mencari lokasi yang diinginkan, baik itu menggunakan peta maupun dengan melihat sekeliling (memanfaatkan Camera Movement). Bonus memanfaatkan Camera Movement adalah Gamer dapat benar – benar menikmati pemandangan Jepang yang masih alami.

Trader dan Investor seringkali membaca riset atau bahkan mendengar dari orang lain terkait saham atau aset yang menarik. Lebih fatal lagi adalah untuk Trader yang bahkan tidak melihat Chart dari saham tersebut. Untuk Investor, apabila hanya melihat rasio dan kinerja keuangan perusahaan tanpa melihat kondisi makro ekonomi atau industri, hal tersebut pun cukup berbahaya.

Jangan lupa untuk melihat langsung “lingkungan” Trader atau Investor. Lihat Chart atau Laporan Tahunan misalnya.

Tujuan Utama Adalah Melindungi Warganya. Menjadi Samurai Atau “Ghost” Adalah Pilihan. Trading Atau Investing, Yang Paling Penting Adalah Pertambahan Dana Investasi.

The Primary Trader kurang setuju Jin Sakai dipaksa melakukan Stealth Attack (ini bukan Assasin’s Creed!!) atau menggunakan Poison Dart. Namun pada akhirnya, dalam melawan Mongols, Straw Hat atau Bandit yang seringkali berjumlah 3 – 5 orang dalam satu waktu, beberapa senjata seperti Kunai atau teknik Dance of Wrath seringkali menjadi andalan. Setidaknya Stealth Attack jarang digunakan karena kurang terlihat “Honor”-nya.

Apa sedikit perbedaan antara Kaku dan Konsisten. Menurut The Primary Trader, Kaku itu adalah ketika Lord Shimura, paman Jin Sakai, memaksakan diri untuk memperbaiki jembatan dalam menyerang Castle Shimura. Konsisten itu adalah ketika Sakai akhirnya menjadi Ghost (alias ninja) sepanjang sisa game dengan tujuan mengalahkan pasukan Mongol dan melindungi warganya.

Ghost of Tsushima Gameplay -Jin's Unanticipated Narrative

Seringkali kita berdebat lebih baik menjadi Trader atau Investor. Pada saat itulah kita lupa tujuan utama saat membuka akun dan menempatan dana investasi kita. Tentu kita ingin agar dana investasi awal berkembang yang membuat kita sejahtera pada waktunya nanti.

Ada beberapa poin penting yaitu : 1) dana investasi awal, 2) sejahtera dan 3) pada waktunya nanti. Tiga poin tersebutlah yang membuat tidak ada posisi yang lebih baik, Trader atau Investor.

Ada beberapa misi yang pada akhirnya harus dilakukan Stealth (The Primary Trader sangat kesulitan ketika harus mengendap – endap menaruh surat untuk Lord Shimura di kamarnya di dalam Castle Shimura). Selebihnya, Gamer dapat bebas menentukan kapan menjadi Samurai atau mengaktifkan Ghost Mode.


Masih banyak pelajaran dari Ghost of Tsushima yang dapat diterapkan pada Trading atau Investing seperti sikap kalem Jin Sakai (yang sebagian orang menganggap “Boring”) dan tanpa emosi pada sebagian besar pertempuran atau duel dengan musuh. Setidaknya tiga hal tersebut yang cukup membekas bagi The Primary Trader.

Semoga bermanfaat.

Mencari Sektor Terbaik Saat Ini Dan Beberapa Saat Kedepan

Indeks Sektoral

The Primary Trader memiliki indeks sektoral tersendiri yang berbeda dengan Sectoral Index di IDX dan bukan juga indeks ala GICS atau BICS versi Bloomberg. Sektor tersebut adalah sebagai berikut :

  • Cement
  • Cigarettes
  • Coal
  • Construction
  • CPO
  • FMCG
  • Hospital
  • Industrial Area
  • Media
  • Mineral
  • Oil&Gas
  • Pharmacy
  • Poultry
  • Residential
  • Retail
  • Telecom
  • Tower

Tentu sektor yang memilki satu saham yang sangat dominan seperti Auto (ASII) dan Toll (JSMR) tidak The Primary Trader sebutkan.

Sektor Yang Berpotensi Uptrend

Dari daftar sektor tersebut, secara manual dan memperhatikan Chart, The Primary Trader melihat beberapat sektor yang berpotensi Uptrend dan menarik adalah Hospital Sector. The Primary Trader melihat sektor tersebut telah mengonfirmasi Bullish Continuation Pattern dari sejak Mei 2020 sehingga berpotensi melanjutkan Uptrend yang telah terjadi dari Maret 2020.

Sektor Poultry memang masih berada dalam Sideways namun The Primary Trader memonitor erat karena selain Sideways-nya terlihat sebagai Bullish Continuation Pattern, sektor tersebut mendekati Down Trendline dari sejak akhir 2018 (!). Dengan demikian, bila terjadi kenaikan yang tidak banyak maka sektor Poultry mengonfirmasi Bullish Continuation Pattern sekaligus mengakhiri Downtrend jangka panjang. Tentunya dengan demikian, sektor Poultry semakin berpeluang mengawali Primary Uptrend.

Sektor Tower sempat Breakout Resistance dari 3Q17 namun gagal namun The Primary Trader melihat sektor ini tetap mempertahankan Uptrend-nya dari sejak 4Q18 (!). Dengan demikian, perlahan tapi pasti, sektor Tower tetap Uptrend sehingga The Primary Trader yakin kali ini Sektor Tower mampu Breakout valid Resistance dari 3Q17 tersebut.

Sektor Yang Berpotensi Outperform IHSG

Menggunakan metode Relative Performing dan pembuatan indeks sektoral (menggunakan metode Price Weighting atau Equal Weight), The Primary Trader membandingkan semua indeks sektoral dengan IHSG. Dari Ratio Chart Sektor – IHSG tersebut, The Primary Trader menerapkan metode Analisis Teknikal tradisional untuk melihat potensi chart tersebut bergerak Uptrend (yang berarti Outperform terhadap IHSG).

Chart RC FMCG – IHSG masih terlihat Uptrend dari sejak 4Q18 sehingga sektor FMCG masih berada dalam Outperform Trend terhadap IHSG – sampai saat ini.

Selain sektor Hospital berada dalam Uptrend, RC Hospital – IHSG yang mempertahakan Uptrend dari sejak 2019 mengindikasikan saham – saham Rumah Sakit bergerak Outperform IHSG. Dengan demikian, sektor ini sangatlah menarik.

Chart RC Mineral – IHSG berhasil melewati Resistance sepanjang 2018 dan 2019 sehingga tentu mengindikasikan Uptrend dari sejak Maret 2020 sangatlah kuat. Dengan demikian, sektor Mineral masih tetap berpotensi Outperform IHSG.

RC Pharmacy – IHSG sangat jelas terlihat dalam Uptrend setelah Breakout Resistance dari sejak 3Q17. Dengan demikian, sektor Pharmacy tetap berpeluang Outperform IHSG.

The Primary Trader melihat RC Poultry – IHSG sebagai Sideways yang berpotensi melanjutkan Uptrend dari sejak awal 2018. Dengan demikian, meski sering bergantian Outperform – Underperform IHSG, ada potensi dalam waktu dekat sektor Poultry akan terus mempertahankan kondisi Outperform terhadap IHSG.

RC Tower – IHSG tampaknya sudah mengonfirmasi Bullish Continuation Pattern dari sejak April 2020. Dengan demikian, sektor Tower akan kembali mempertahankan kondisi Outperform terhadap IHSG.

Pilih Sektor Apa ?

Berikut adalah sektor yang berpotensi Uptrend : Hospital, Poultry dan Tower. Sementara berikut adalah sektor yang berpotensi Outperform IHSG : FMCG, Hospital, Mineral, Pharmacy, Poultry dan Tower. Dengan demikian, setidaknya ada tiga sektor yang dapat diperhatikan yaitu sektor Hospital, Poultry dan Tower.

Dengan saling membandingkan satu sama lain (dengan metode Relative Performing yang sama) maka dapat dipilih satu sektor yang berpotensi Outperform sektor lain.

RC Hospital – Poultry

Membandingkan sektor Hospital dengan sektor Poultry maka terbentuklah chart RC Hospital – Poultry seperti di bawah. Chart RC tersebut masih terlihat Uptrend sejak 2019 dan berpotensi mempertahankan Uptrend karena terlihat membentuk Bullish Continuation dari sejak 3Q19. Dengan kata lain, sektor Hospital berpotensi mempertahakan kondisi Outperform terhadap sektor Poultry.

RC Hospital – Tower

Bila sektor Hospital dibandingkan dengan sektor Tower maka RC Hospital – Tower terlihat masih Uptrend (dari sejak 2018) namun sangat Downtrend dari sejak 4Q18. The Primary Trader belum melihat adanya potensi Bullish Reversal karena terlihat RC Hospital – Tower masih berada di Bottom (atau Support dari Up Trendline yang landai dari sejak 2018 tersebut). Oleh karena itu, sektor Tower kemungkinan besar masih akan Outperform sektor Hospital.

RC Tower – Poultry

Sampai saat ini, dapat diambil kesimpulan bahwa sektor Tower lebih menarik dari sektor Hospital dan sektor Hospital sendiri lebih menarik dari sektor Poultry. Kali ini The Primary Trader membandingkan sektor Tower dengan sektor Poultry dan terlihat RC Tower – Poultry yang jelas Uptrend dari sejak awal 2019. Bila dilihat dari tahun 2017 (atau tepatnya 3Q17), sektor Poultry masih Outperform sektor Tower. Namun Outperform Trend sektor Tower (terhadap sektor Poultry) dari sejak 2019 terlihat lebih valid sehingga The Primary Trader menyimpulkan sektor Tower masih akan Outperform sektor Poultry.

Dengan demikian, kesimpulan akhir yang The Primary Trader dapat simpulkan adalah sektor Tower sangatlah menarik. Selain Uptrend, sektor dengan saham TOWR dan TBIG masih akan Outperform IHSG dan (kemungkinan besar) sektor – sektor lain termasuk sektor Hospital seperti MIKA dan Poultry seperti JPFA dan CPIN.

Pilih TOWR atau TBIG ?

Dengan membentuk RC TOWR – TBIG, The Primary Trader melihat TBIG saat ini sedang Outperorm TOWR. Namun The Primary Trader percaya RC TOWR – TBIG masih berpotensi Uptrend karena penurunan tersebut terlihat sebagai Bullish Continuation pattern. Dengan demikian, dalam jangka menengah – panjang, TOWR masih akan Outperform TBIG.

Semoga bermanfaat dan memberi inspirasi.

Sekilas mengenai Multi – Level Charts (RC Saham – IHSG, RC Saham – Sektor dan sebagainya), silahkan ditonton video Youtube ini :

Microscopic Technical Analysis Concept (Include Dandy Rotation). Also Youtube Videos.

Beberapa tahun lalu, The Primary Trader mengembangkan metode untuk melihat pergerakan indikator. Pada akhirnya, metode tersebut digabungkan dan dikembangkan dalam konsep Microscopic Technical Analysis yang pada intinya mengkuantifikasikan gambar visual yang biasa dilakukan apabila kita melakukan Zoom In suatu chart.

Sejak Agustus 2020, The Primary Trader membuat video mengenai Microscopic Technical Analysis untuk memberikan inspirasi dan ide bagi Investor, Trader dan Analis Teknikal. Posting ini adalah untuk menjembatani vide di Youtube tersebut.

Keseluruhan materi Microscopic Technical Analysis dapat dibaca di Slideshare berikut :

Ada download di : https://www.slideshare.net/MMDandytraCSACFTe/microscopic-technical-analysis-238518628

Susunan Microscopic Technical Analysis

Dasar dan awal Microscopic Technical Analysis adalah ketika The Primary Trader terinspirasi dari indikator Moving Average Convergence Divergence (MACD). Untuk informasi, MACD terdiri dari MACD Line dan Signal Line. Inspirasi utama The Primary Trader adalah bahwa MACD masih memiliki Histogram MACD yang merupakan pengurangan dari MACD Line dan Signal Line.

Metode simple tersebut (dengan makna yang sangat mendalam dan luas) memberikan inspirasi utama bahwa Simplicity Is Just As Good or Even Better Than The Complex One.

Link Video Youtube Seri Microscopic Technical Analysis

Berikut adalah video Youtube yang membahas 5 bagian Microscopic Technical Analysis :


MACD

Video ini menjelaskan sumber inspirasi utama Microscopic Technical Analysis sekaligus sebagai perkenalan dengan indikator Moving Average Convergence Divergence (MACD).


Previous Line dan MA Direction

Video ini adalah dasar dari Microscopic Technical Analysis dan sebagai konsep awal.


4 Signals

Video ini menambahkan dua sinyal diluar sinyal Buy dan Sell (Crossover) yaitu Alert Buy dan Warning Sell atau “A Moment Before” Crossover


Relative Performing

Video ini menjelaskan penerapan konsep Microscopic Technical Analysis pada metode Relative Performance menggunakan Ratio Chart atau Relative Strength Comparison.


Dandy Rotation

Video ini membagikan metode dan perhitungan serta cara The Primary Trader membuat Dandy Rotation yang merupakan pengembangan dari Relative Rotation Graph menggunakan konsep – konsep di dalam Microscopic Technical Analysis.


Semoga bermanfaat, berguna dan menginsipirasi.

UNPUB : Ekonomi Indonesia 1Q20 Turun Dalam Namun Dapat Menjadi Awal Suatu Dekade Baru.

Ekonomi Indonesia di 1Q20 turun -2.41% QoQ namun masih naik sebesar 2.97% YoY. Meski demikian, pertumbuhan ekonomi ternyata lebih rendah dari estimasi para ekonom. Hal ini tentu mengkhawatirkan karena dampak wabah COVID-19 sebenarnya baru terasa pada bulan Maret 2020, bulan terakhir di 1Q20. Oleh karena itu, ekonom tampaknya mengkhawatirkan masih ada ancaman penurunan yang lebih dalam lagi pada 2Q20 dimana terjadi PSBB di beberapa kota besar di Indonesia (di bulan April 2020, awal 2Q20). Selain itu, pada 2Q20 juga bertepatan dengan bulan Ramadhan yang menjadi puncak konsumsi masyarakat (karena tertolong dengan THR). Namun sekalipun dari Demand Side ada tapi bila Supply Side tidak ada, tampaknya Consumption akan relatif tidak naik sehingga ekonomi pun sulit tumbuh.

Aktifitas pabrik di Indonesia yang tercatat oleh PMI Manufacturing Index di bulan April 2020 jatuh ke level 27.5 (Maret 2020 : 45.3). Mulai terlihat tekanan di bulan Maret 2020 karena di bawah 50 namun bila melihat beberapa tahun terakhir, sejak tahun 2016, PMI Manufacturing Indonesia relatif hovering di level antara 47 – 53. Ada kestabilan dalam 4 tahun terakhir namun The Primary Trader melihat level ini menunjukkan industri manufaktur yang relatif jalan di tempat.

Ekonomi Indonesia di 1Q20 (awal dekade 2020 – 2030) mungkin mengulang level di tahun 2001 dimana pada saat itu ekonomi Indonesia hanya tumbuh sebesar 1.6% YoY di 4Q01. Setelah itu, ekonomi Indonesia tumbuh sampai 8 tahun ke depan.

The Primary Trader ingin optimis bahwa reformasi infrastruktur dan Omnibus Law dapat memperlancar pertumbuhan ekonomi terutama untuk mendorong Konsumsi Domestik (lewat UMKM). Memang banyak yang mengatakan Omnibus Law adalah UU yang tidak tepat namun The Primary Trader termasuk golongan yang percaya UU Sapu Jagad ini akan menjadi pemicu utama pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan terutama apabila aturan – aturan bisnis dapat disederhanakan. Tentu apabila ada kemudahan dari sisi ketenagakerjaan, The Primary Trader percaya UU ini akan semakin mendorong pertumbuhan ekonomi.

Apapun itu, semoga Indonesia semakin maju.

UNPUB : Decompose IHSG

The Primary Trader ingin melakukan Decompose IHSG dengan menggunakan beberapa metode Decompose yaitu :

  1. Classical Decompose
  2. X11 Decompose
  3. SEATS Decompose
  4. STL Decompose

The Primary Trader ingin mempraktikan metode Decomposition terhadap IHSG sehingga dapat ditemukan karakteristik dan seasonality-nya. Penjelasan detil ada di sumber buku “Forecasting: Principles and Practice” dari Rob J Hyndman.

File

The Primary Trader menggunakan data IHSG bulanan dari tahun 2000 sampai Maret 2020 (ihsg.ts) dan dari tahun 2015 sampai Maret 2020 (ihsg.ts.2015).

Classical Decompose

Classical Decomposition mengasumsikan komponen Seasonal berulang setiap tahun.

Multiplicative Classical Decompose

ihsg.mult <- decompose(ihsg.ts, type = "multiplicative")
autoplot(ihsg.mult)+ 
  xlab("Year")+
  ggtitle("Classical Multiplicative Decompose IHSG")

plot of chunk unnamed-chunk-3

Additive Classical Decompose

ihsg.add <- decompose(ihsg.ts, type = "additive")
autoplot(ihsg.add)+ 
  xlab("Year")+
  ggtitle("Classical Additive Decompose IHSG")

plot of chunk unnamed-chunk-4

Ada setidaknya 3 metode lagi untuk Decompose yaitu X11, SEATS dan STL dimana ketiganya cukup rumit. Untuk artikel ini, The Primary Trader hanya mempraktikan menggunakan Classical Decomposition. Namun beberapa poin dibawah ini menunjukkan plot Decomposition dari ketiga metode tersebut.

X11 Decompose

X11 menggunakan dasar Classical Decomposition namun untuk Trend dan Cycle-nya, X11 memperhatikan seluruh observasi dari titik awal sampai akhir (tidak hanya tahun ke tahun seperti Classical Decomposition). X11 juga langsung menyesuaikan metode Additive dan Multiplicative yang mana pada Classical Decompose, pemilihan metode tersebut harus dilakukan secara manual.

ihsg.x11 <- seas(ihsg.ts, x11="")
autoplot(ihsg.x11)+ 
  xlab("Year")+
  ggtitle("X11 Decompose IHSG")

plot of chunk unnamed-chunk-5

SEATS Decompose

SEATS atau SEasonal Extraction in ARIMA Time Series adalah Decomposition yang hanya berlaku pada Quarterly maupun Monthly data.

ihsg.seats <- seas(ihsg.ts)
autoplot(ihsg.seats)+
  ggtitle("SEATS decomposition of electrical equipment index")

plot of chunk unnamed-chunk-6

STL Decompose

STL atau Seasonal and Trend Decomposition using Loess dimana Loess adalah metode untuk mengestimasi hubungan nonlinear dari data. Beberapa keunggulan STL dibanding metode Decompose yang lain adalah STL dapat menghitung data seasonality lain (tidak hanya bulanan maupun kuartalan seperti SEATS). Komponen Seasonal-nya serta Rate of Change-nya dapat diganti serta dirubah manual begitupun dengan Smoothness dari Trend-Cycle nya.

ihsg.stl <- stl(ihsg.mo, t.window = 13, s.window = "periodic", robust = TRUE)
autoplot(ihsg.stl)+
  ggtitle("STL decomposition of electrical equipment index")

plot of chunk unnamed-chunk-7

Peak and Trough

The Primary Trader menyukai salah satu penggunaan metode Decompose adalah untuk mengetahui Peak and Trough dari suatu data – menggunakan unsur Seasonal yang dihitung dalam metode Decompose.

Berikut adalah contoh Peak and Trough menggunakan unsur Seasonal pada Classical Decompose dan X11 Decompose :

ihsg.mult.2015 <- decompose(window(ihsg.ts.2015, start = c(2015,1)), type = "multiplicative")
ihsg.add.2015 <- decompose(window(ihsg.ts.2015, start = c(2015,1)), type = "additive")
ihsg.x11.2015 <- seas(window(ihsg.ts.2015, start = c(2015,1)), x11="")

autoplot(ihsg.mult$seasonal)+
  ggtitle("Seasonality of Multiplicative Classical Decomposition")

plot of chunk unnamed-chunk-8
autoplot(ihsg.add$seasonal)+
  ggtitle("Seasonality of Additive Classical Decomposition")

plot of chunk unnamed-chunk-8
autoplot(seasonal(ihsg.x11))+
  ggtitle("Seasonality of X11 Decomposition")

plot of chunk unnamed-chunk-8
autoplot(ihsg.mult.2015$seasonal)+
  ggtitle("Seasonality of Multiplicative Classical Decomposition since 2015")

plot of chunk unnamed-chunk-8
autoplot(ihsg.add.2015$seasonal)+
  ggtitle("Seasonality of Additive Classical Decomposition since 2015")

plot of chunk unnamed-chunk-8
autoplot(seasonal(ihsg.x11.2015))+
  ggtitle("Seasonality of X11 Decomposition since 2015")

plot of chunk unnamed-chunk-8

Bila melihat kedua metode (Classical dan X11), terlihat X11 lebih rumit karena Seasonality X11 sepanjang periode tidak stabil. Hal ini karena metode X11 benar – benar melihat data secara detil, tidak terpaku dengan data tahun ke tahun seperti Classical Decomposition.

Grafik di atas juga menunjukkan bahwa angka siklus Peak and Trough IHSG berbeda – beda setiap metode. Hal ini cukup wajar namun pada satu metode, ada perbedaan apabila total periodenya berbeda.

Untuk melihat Peak and Trough, berikut adalah angka Seasonal dari Classical Decomposition metode (Multiplicative dan Additive) dengan periode yang berbeda. Angka Seasonal tertinggi adalah Peak sementara angka Seasonal terendah adalah Trough.

### Classical Decompose Multiplicative : July and Oct 
range(ihsg.mult$seasonal)

## [1] 0.9681424 1.0253185
head(ihsg.mult$seasonal, 12)

##            Jan       Feb       Mar       Apr       May       Jun       Jul
## 2000 1.0012314 1.0039945 1.0057929 1.0223423 1.0182244 1.0125698 1.0253185
##            Aug       Sep       Oct       Nov       Dec
## 2000 0.9930703 0.9860049 0.9681424 0.9683132 0.9949955
### Classical Decompose Multiplicative 2015 : Feb and Nov
range(ihsg.mult.2015$seasonal)

## [1] 0.9727762 1.0266903
head(ihsg.mult.2015$seasonal, 12)

##            Jan       Feb       Mar       Apr       May       Jun       Jul
## 2015 1.0247965 1.0266903 1.0154625 1.0044016 0.9878793 0.9949372 1.0036845
##            Aug       Sep       Oct       Nov       Dec
## 2015 0.9986347 0.9818674 0.9834012 0.9727762 1.0054689
### Classical Decompose Additive : Apr and Nov
range(ihsg.add$seasonal)

## [1] -83.57064  55.17163
head(ihsg.add$seasonal, 12)

##             Jan        Feb        Mar        Apr        May        Jun
## 2000   7.160684  32.889453  50.837431  55.171632  22.153855   2.141557
##             Jul        Aug        Sep        Oct        Nov        Dec
## 2000  49.218353 -30.365464 -43.315344 -49.307086 -83.570639 -13.014433
### Classical Decompose Additive 2015 : Feb and Nov
range(ihsg.add.2015$seasonal)

## [1] -149.884  156.214
head(ihsg.add.2015$seasonal, 12)

##              Jan         Feb         Mar         Apr         May
## 2015  154.118949  156.213976   85.252963   22.170138  -74.133527
##              Jun         Jul         Aug         Sep         Oct
## 2015  -39.096942   12.300302   -9.089981  -94.200776  -97.398817
##              Nov         Dec
## 2015 -149.884031   33.747744

Menggunakan metode Classical Decomposition Multiplicative dari tahun 2000, terdeteksi bahwa Peak and Trough IHSG ada di bulan Juli dan Oktober. Sementara dengan metode yang sama namun pada periode 2015, Peak and Trough IHSG terdeteksi di bulan Februari dan November.

Hal ini tentu karena adanya perubahan yang terjadi dari IHSG itu sendiri. Perubahan Seasonality serta Cycle pada pasar modal dapat terjadi karena perubahan rezim pemerintahan dan teknologi. Periode dari tahun 2000 sampai 2020 adalah periode yang cukup panjang.

The Primary Trader lebih percaya pada metode yang menggunakan data pendek terbaru (yaitu untuk periode dari 2015). Berikut adalah IHSG dengan Peak and Trough pada bulan April dan November (menggunakan Classical Decompose Additive) :

IHSG <- getSymbols("^JKSE", from = "2000-01-01", to = "2020-04-30", auto.assign = FALSE)
IHSG.mo <- na.omit(to.monthly(IHSG))
ihsg.mo <- IHSG.mo$IHSG.Adjusted
ihsg.ts <- ts(ihsg.mo, frequency = 12, start = c(2000,1))

ihsg.df <- data.frame(ihsg.mo, date = index(ihsg.mo))
ihsg.df <- ihsg.df %>%
  mutate(dates = as.Date(date), month = month(date))

plot(ihsg.df$date, ihsg.df$IHSG.Adjusted, type = "l")
points(x = ihsg.df[ihsg.df$month ==4, "date"],
       y = ihsg.df[ihsg.df$month ==4, "IHSG.Adjusted"], col = "blue", pch = 19)
points(x = ihsg.df[ihsg.df$month ==11, "date"],
       y = ihsg.df[ihsg.df$month ==11, "IHSG.Adjusted"], col = "red", pch = 19)

plot of chunk unnamed-chunk-10

Seasonality Line

Setiap metode Decompose menghasilkan dua komponen penting yaitu Seasonally Adjusted serta Trend. Keduanya pun dapat di-plot bersama dengan data IHSG.

Seasonally Adjusted dan Trend dari X11 Decompose

autoplot(ihsg.ts, series="Data") +
  autolayer(trendcycle(ihsg.x11), series="Trend") +
  autolayer(seasadj(ihsg.x11), series="Seasonally Adjusted") +
  xlab("Year") +
  ggtitle("X11 Decompose IHSG") +
  scale_colour_manual(values=c("green","blue","red"),
             breaks=c("Data","Seasonally Adjusted","Trend"))

plot of chunk unnamed-chunk-11

Agar terlihat jelas garis Seasonally Adjusted dan Trend – nya maka The Primary Trader melakukan zoom in dengan melihat data IHSG dari tahun 2015 :

ihsg.ts.2015 <- window(ihsg.ts, start = 2015)

autoplot(ihsg.ts.2015, series="Data") +
  autolayer(trendcycle(seas(ihsg.ts.2015, x11="")), series="Trend") +
  autolayer(seasadj(seas(ihsg.ts.2015, x11="")), series="Seasonally Adjusted") +
  xlab("Year") +
  ggtitle("X11 Decompose IHSG") +
  scale_colour_manual(values=c("green","blue","red"),
             breaks=c("Data","Seasonally Adjusted","Trend"))

plot of chunk unnamed-chunk-12

Seasonally Adjusted dan Trend dari Classical Decompose

Berikut adalah Seasonality dan Trend line dari Classical Decomposition secara Additive dan Multiplicative dari tahun 2015 :

autoplot(ihsg.ts.2015, series="Data") +
  autolayer(trendcycle(decompose(ihsg.ts.2015, type = "additive")), series="Trend") +
  autolayer(seasadj(decompose(ihsg.ts.2015, type = "additive")), series="Seasonally Adjusted") +
  xlab("Year") +
  ggtitle("Additive Classical Decompose IHSG") +
  scale_colour_manual(values=c("green","blue","red"),
             breaks=c("Data","Seasonally Adjusted","Trend"))

plot of chunk unnamed-chunk-13
autoplot(ihsg.ts.2015, series="Data") +
  autolayer(trendcycle(decompose(ihsg.ts.2015, type = "multiplicative")), series="Trend") +
  autolayer(seasadj(decompose(ihsg.ts.2015, type = "multiplicative")), series="Seasonally Adjusted") +
  xlab("Year") +
  ggtitle("Multiplicative Classical Decompose IHSG") +
  scale_colour_manual(values=c("green","blue","red"),
             breaks=c("Data","Seasonally Adjusted","Trend"))

plot of chunk unnamed-chunk-14

Seasonal Sub-Series dari Seasonal X11 IHSG

Beberapa metode memberikan coding untuk lebih menspesifikan Seasonal atau Sub-Series Seaonal yang ada seperti metode X11 Decomposition berikut :

ihsg.x11 %>% seasonal() %>% ggsubseriesplot() + ylab("Seasonal X11")

plot of chunk unnamed-chunk-15

Berdasarkan metode Decompose menggunakan X11, The Primary Trader melihat kecenderungan IHSG Sideways cenderung Uptrend di 1Q. Terlihat jelas bahwa IHSG lebih sering jatuh (Crash) di 2Q dan Bottoming di 3Q. Ada tendensi naik di 4Q.

Bila disimpulkan, Market cenderung naik mulai dari 4Q sampai 1Q dimana 2Q adalah puncak kenaikan dan awal kejatuhan sampai 3Q.

Kesimpulan

Menemukan titik Peak and Trough adalah suatu hal. Namun tentu pembuktian mana Peak and Trough yang terbaik menggunakan Backtesting adalah hal penting lainnya. The Primary Trader akan menuliskan Backtesting di artikel selanjutnya.

UNPUB : Pandangan IHSG Dengan Bollinger Band Complete Set. Ada Harapan!

IHSG + Bollinger Band : Segera Berada di atas Middle Band

Penurunan IHSG dari sejak awal April 2020 dapat dikatakan sebagai Tech. Correction bila dilihat dari kenaikan sejak akhir Maret 2020 (dari ~3,900). IHSG pun saat ini sedang terlihat naik untuk melewati Middle Band (MA20) yang saat ini di 4,595.

%BB : Uptrend Untuk Melewati >50

Hal ini didukung oleh %BB dimana sejak awal Maret 2020 telah bergerak naik dan terindikasi membentuk Uptrend. Ada potensi %BB segera berada di atas level 50 yang berarti IHSG berada di atas Middle Band.

Middle Band Direction : Mulai Mengarah Ke Atas

Middle Band Direction yang menunjukkan posisi arah pergerakan Middle Band atau MA20. Saat ini Middle Band Direction berada di angka positif yang artinya Middle Band sedang mengarah ke atas. Dengan mengarah ke atas maka ada indikasi IHSG akan Uptrend.

Bandwidth : Volatilitas Sedang Rendah

Bandwidth BB terlihat sedang turun dan dilevel yang relatif rendah. Hal ini menunjukkan volatilitas pergerakan IHSG sedang rendah. Dengan demikian, pergerakan IHSG (baik ke atas atau ke bawah) akan relatif tidak banyak (Less Volatile).

Bandwidth Histogram : Volatilitas Akan Meningkat

Bandwidth Histogram yang memperkirakan arah dari Bandwidth menunjukkan tren angka yang positif dari sebelumnya di angka negatif. Hal ini mengindikasikan adanya potensi pergerakan arah indikator Bandwidth. Bila indikator Bandwidth meningkat maka volatilitas akan meningkat. Indikator Bandwidth Histogram memperkirakan volatilitas IHSG akan meningkat.

Kesimpulan : Segera Rally

Ringkasan masing – masing indikator adalah sebagai berikut :

  • IHSG + Bollinger Band : Segera Berada di atas Middle Band
  • %BB : Uptrend Untuk Melewati >50
  • Middle Band Direction : Mulai Mengarah Ke Atas
  • Bandwidth : Volatilitas Sedang Rendah
  • Bandwidth Histogram : Volatilitas Akan Meningkat

Oleh karena itu, dapat disimpulkan IHSG berpotensi segera naik ke atas dengan volatilitas yang meningkat (Rally sebagai bagian dari Uptrend).

Pertanyaannya adalah, apakah Rally IHSG akan merubah Downtrend dari sejak awal tahun 2020 ?

The Primary Trader melihat pergerakan IHSG sejak April 2020 berada dalam pola Bullish Continuation yang sangat mungkin mengindikasikan kenaikan sejak akhir Maret 2020 (dari 3,900 ke 4,900) kembali terjadi. Ada potensi IHSG naik menuju 5,700 setelah Breakout 4,650 (dengan mengonfirmasi pola Bullish Continuation tersebut).

Namun untuk mengatakan akhir Downtrend dari sejak awal tahun 2020, IHSG perlu Breakout 5,400 dan The Primary Trader meragukan hal tersebut. The Primary Trader masih memperkirakan akan ada One Last Drop yang mengakhiri Downtrend dan memulai proses pembentukan pola Bullish Reversal.

Data Penting Yang Jarang Dilirik Investor : Laporan Statistik Bursa Efek Indonesia

Setiap periode (Weekly, Monthly, Quarterly dan Yearly), Bursa Efek Indonesia mengeluarkan laporan statistik perdagangan di bursa. Laporan tersebut dapat diunduh di website IDX. Menurut The Primary Trader, laporan tersebut sangat penting untuk diperhatikan karena mengandung Market Data yang relatif jarang ada bagi sebagian besar Investor (kecuali Investor Individu maupun Institusi yang telah berlangganan Bloomberg Desktop maupun Thomson Reuters / Refinitif atau Cogencies).

Mengacu dari laporan bulan Maret 2020, berikut adalah informasi yang The Primary Trader sangat penting : Kenaikan Trading Value

The Primary Trader melihat ada kenaikan Trading Value mulai dari 20 Maret 2020, seiring dengan kenaikan IHSG. Hal ini pertanda baik karena Uptrend harus didukung oleh Trading Value.

Rata – rata Trading Value harian IHSG di bulan Maret 2020 adalah sebesar Rp7.9 triliun, lebih besar dari Januari dan Februari 2020 sebesar Rp6.3 – Rp6.5 triliun. Hal ini pertanda bagus. Namun bila dilihat dari tahun 2019, angka Rp7.9 triliun relatif sangat kecil karena rata – rata Trading Value harian sepanjang tahun 2019 adalah sebesar Rp9.1 triliun sementara di tahun 2020 (sampai Maret 2020) hanyalah sebesar Rp6.9 triliun. Oleh karena itu, The Primary Trader masih belum melihat adanya kenaikan Trading Value yang dapat berpotensi membuat IHSG berada dalam Uptrend.

Namun tentu itu adalah data sampai akhir Maret 2020.

IDX juga mengeluarkan data mingguan dan The Primary Trader mengambil data transaksi harian di minggu 21-24 April 2020 sebagai berikut :

Terlihat bahwa ada kencenderungan Trading Value IHSG Flat di kisaran rendah yaitu Rp4.5 triliun. IHSG-nya sendiri pun relatif Flat sehingga kemungkinan besar menghapus potensi Uptrend di bulan Maret 2020.

Masih banyak data dan informasi lain yang terdapat pada Laporan Statistitk tersebut – terutama Monthly Edition-nya antara lain :

  • Financial Datas & Ratios
  • Jakarta Composite Index Activity

Semoga bermanfaat.

UNPUB : Big Bank “Menipu” IHSG. Fokus Ke-6 Saham Ini.

Bila melihat pergerakan IHSG dan membandingkannya dengan pergerakan Big Bank (BBCA, BBRI, BBNI dan BMRI) maka terlihat pergerakan Big Bank lebih Bullish dibanding IHSG itu sendiri. Sejak awal tahun 2018, Big Bank bergerak Uptrend sementara IHSG sudah bergerak Sideways. Ketika IHSG mengalami Breakdown yang menandakan arah tren berubah menjadi Downtrend, Big Bank masih belum mengindikasikan Breakdown. 1-2 minggu kemudian terjadi Breakdown pada Big Bank.

The Primary Trader mencoba melihat Big Cap lain yang relatif memiliki variasi sektor. Berikut adalah pilihannya : GGRM, INDF, ICBP, ASII, TLKM dan UNVR. Berikut adalah chartnya :

Other Big Caps tersebut mengindikasikan Uptrend – hanya sampai awal tahun 2019 atau sekitar akhir 1Q19. Setelah itu, Other Big Caps mulai bergerak Downtrend. Pada 3Q19, Other Big Caps mulai Breakdown dan mengonfirmasi Downtrend.

Apabila digabungkan, maka jelas terlihat Other Big Caps telah Downtrend dari 2019 sementara Big Bank tampaknya menopang IHSG sehingga IHSG masih bisa Sideways. Pada awal tahun 2020, terlihat Big Bank mulai naik namun tidak bertahan sementara Other Big Caps cenderung Flat sebelum IHSG jatuh yang disebabkan oleh Crash di Big Bank.

Kesimpulan

Per hari ini (28 April 2020), Big Bank memang memiliki Total Market Cap 22.5% dari IHSG. Sementara Other Big Caps memiliki total 19.27% dari IHSG. Cukup wajar bila Big Bank masih lebih mendominasi pergerakan IHSG.

Namun The Primary Trader lebih menyukai Other Big Caps karena setidaknya terdiri dari 5 sektor yaitu Cigarettes (GGRM), Food and Beverage (ICBP dan INDF), Automotive (ASII), Telecommunication (TLKM) dan Consumer Staples (UNVR). Sektor tersebut cenderung Cyclical (Auto) namun ada beberapa yang menjadi Backbone ekonomi Indonesia yaitu Consumer Related seperti Cigarettes, F&B dan Consumer Staples.

Oleh karena itu, untuk melihat kondisi IHSG lebih detil, selain Big Bank, sangat perlu juga dilihat Other Big Caps.

DOW THEORY – TEORI DASAR TERPENTING MENURUT THE PRIMARY TRADER (3)

Artikel edukasi ini adalah bagian ketiga. Lihat bagian pertama di sini dan bagian kedua di sini.

Masih ada 3 poin Dow Theory yang relatif jarang digunakan namun menurut The Primary Trader juga merupakan hal penting.

Line indicates movement

Dow ingin mengatakan bahwa setiap pergerakan harga saham memiliki arti penting dalam analisis bagi itu pergerakan ke atas, ke bawah maupun mendatar. Untuk pergerakan mendatar ini biasa disebut Sideways, Flat atau Trend-less. Yang terpenting adalah walaupun harga tidak berubah dari hari – hari sebelumnya namun pergerakan tersebut tetap perlu diperhatikan dan dianalisis karena dapat menjadi petunjuk untuk memperkirakan pergerakan berikutnya.

Pada dasarnya, The Primary Trader melihat Sideways sebagai pola Continuation. Cukup jarang Sideways menjadi pola Reversal. Dengan demikian, setiap menemukan pergerakan Sideways atau Flat, The Primary Trader langsung menganggap tren sebelumnya masih akan berlanjut.

Sideways dapat juga dianggap sebagai “temporary pause” dari pergerakan sebelumnya. Anggaplah suatu berita bagus telah tersebar sehingga Investor berbondong – bondong membelinya (Panic Buying) sebelum menganalisis berita tersebut. Pada suatu waktu, Investor merasa perlu Cooling Down dan benar – benar menganalisis berita tersebut, dampaknya terhadap emiten dan apakah valuasi masih wajar atau tidak. Kondisi Cooling Down inilah yang biasanya membentuk pergerakan Sideways yang The Primary Trader perkirakan sebagai bagian dari pola Continuation.

Price Action determine the trend

Poin ini menekankan bahwa Analisis Teknikal harus menggunakan metode Analisis Teknikal (Price Action) untuk menentukan kondisi yang diamati oleh Analisis Teknikal (Trend). Hal ini karena seringkali Trend adalah suatu “akibat” oleh suatu “sebab” yang berasal dari ilmu Makro Ekonomi maupun ilmu Analisis Fundamental. Mungkin benar bahwa suatu Uptrend disebabkan oleh siklus ekonomi ekspansif atau ketika harga saham sudah sangat murah. Namun seorang Analisis Teknikal sebaiknya tidak menyebutkan alasan – alasan tersebut untuk mengatakan pasar saham sedang Uptrend atau Downtrend.

Sebagaimana yang telah disebutkan dalam ilmu dasar Analisis Teknikal mengenai Trend, untuk dapat mengatakan harga aset sedang dalam Uptrend maka harus ada kondisi “Higher High – Higher Low“. Untuk dapat mengatakan harga aset sedang dalam Downtrend maka harus ada kondisi “Lower High – Lower Low“.

Analis Teknikal sudah harus percaya bahwa ketika terjadi kondisi (katakanlah) Lower High – Lower Low maka Investor memperkirakan akan ada kondisi yang buruk pada aset tersebut. Dengan demikian, harga aset tersebut akan bergerak Downtrend.

Only closing price is used

Hal ini juga memperjelas bahwa objek studi dari Analisis Teknikal adalah harga aset. Oleh karena itu, penggunaan objek selain harga oleh Analis Teknikal dapat diperdebatkan. Namun tentu suatu ilmu terlebih lagi pengguna ilmu tersebut juga harus tetap terbuka menerima perkembangan zaman.

The Primary Trader merasa cukup terbuka sehingga poin ini dapat dikembangkan menjadi tidak hanya Closing Price saja yang digunakan tapi juga Open Price, Low Price, High Price serta Volume (jumlah lembar), Value (nilai transaksi dalam mata uang tertentu) hingga Open Interest (total kontrak berjangka yang tidak diselesaikan).

Namun tetap objek harga terpenting dalam Analisis Teknikal adalah Closing Price.


Demikian pembahasan Dow Theory dari The Primary Trader. Nantikan edukasi selanjutnya. Semoga bermanfaat.

Beli Saham – Saham Yang Dibeli Oleh Manajemen / Owner-nya

The Primary Trader menyukai saham – saham yang dibeli oleh manajemen (direksi) maupun owner atau pemegang sahamnya. Hal ini menunjukkan beberapa hal yaitu :

  • Saham tersebut sudah sangat murah dibandingkan dengan valuasi wajarnya (walaupun setelah disesuaikan dengan kondisi yang mungkin sedang memburuk pada saat itu)
  • Penurunan harga saham tidak wajar dan tidak sesuai dengan kondisi pasar, kondisi perusahaan maupun kondisi ekonomi
  • Harga saham turun karena sentimen lain seperti dikeluarkan dari indeks acuan, karena Cover Short ataupun karena proses Repo

Perlu dicatat bahwa pihak yang pastinya paling memahami kondisi perusahaan dan bisnis sektor tersebut adalah manajemen dan atau pemilik / pemegang saham. Oleh karena itu, ketika mereka membeli atau menambah kepemilikannya tentunya adalah karena mereka mengetahui sesuatu yang tidak diketahui orang banyak.

Emiten memang wajib memberikan keterbukaan informasi namun aturan tersebut pun memberikan manajemen batasan dan rambu. Pemilik saham pun tentu memiliki rencana – rencana yang belum bisa dan belum perlu diumumkan ke publik sehingga ketika pemilik saham tersebut yakin (dan setelah mengikuti prosedur yang berlaku), pemilik saham serta manajemen dapat membeli saham tanpa menyalahi aturan. Masyarakat dapat mengikuti langkah – langkah manajemen dan pemilik saham.

Direksi Beli Saham

Bisnis.com melaporkan empat direksi membeli sahamnya yaitu :

  • Jahja Setiaatmadja : Presiden Direksi BBCA
  • Andre Sukendra : Direktur Utama MYOR
  • Prijono Sugiarto : Presiden Direktur ASII
  • Harry Sanusi : Presiden Direktur KINO
View this post on Instagram

Direksi Emiten Belanja Saham Saat Pandemi, Kamu Gimana? 🤔 _ Sejumlah direksi dari perusahaan terbuka menambah kepemilikan sahamnya di tengah pandemi Covid-19. Nah, kali ini Bisnismin ingin mengumpulkan direksi dari 4 emiten yang sudah menambah kepemilikan saham mereka nih. _ Misalnya, ada Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk. Jahja Setiaatmadja, Direktur Utama PT Mayora Indah Tbk. Andre Sukendra, Presiden Direktur PT Astra International Tbk. Prijono Sugairto, dan Presiden Direktur PT Kino Indonesia Tbk. Harry Sanusi. _ Corporate Secretary BCA Raymon Yonarto menjelaskan bahwa tujuan bertambahnya saham jajaran direksi emiten berkode BBCA adalah untuk investasi jangka panjang. _ Sementara itu, Corporate Secretary MYOR Yuni Gunawan mengatakan bahwa bertambahnya kepemilikan saham Direktur Utama MYOR bertujuan untuk investasi dengan status kepemilikan saham langsung. _ Di tempat yang berbeda, turunnya harga saham ASII pada Maret 2020 seakan jadi momentum bagi para direksi menambah kepemilikan sahamnya. Presiden Direktur ASII Prijono Sugiarto tercatat memborong 5,92 juta lembar saham ASII sepanjang 2020. _ Adapun demikian, Presiden Direktur Kino Indonesia Harry Sanusi menilai tertekannya IHSG akibat pandemi Covid-19 bukanlah karena fundamental bisnis dan bubble. "Kalau [pandemi Covid-19] selesai, pasti ekonomi akan balik kembali," demikan ungkapnya. _ Melihat sejumlah direksi perusahaan terbuka yang justru berbelanja saham di tengah pandemi Covid-19, gimana nih pendapat Sobat Bisnis? Ingin ikut beli juga atau justru punya pendapat lain? 🤔 _ Kita obrolin di kolom komentar yuk, tapi jangan lupa baca berita lengkapnya dengan klik link di bio @bisniscom ya. 🤗 _ #InfografikHarianBisnisCom #DireksiPerusahaanTerbuka #ASII #KINO MYOR #BBCA #Covid19 #VirusCorona #BelanjaSahamSaatPandemi

A post shared by Bisnis.com (@bisniscom) on

Dari keempat emiten tersebut (BBCA, MYOR, ASII dan KINO) dan dengan menggunakan Ichimoku Kinko Hyo, The Primary Trader ingin melihat saham MYOR sangat menarik dalam jangka pendek – menengah karena satu – satunya dari keempat saham tersebut yang telah berada di atas Red Cloud (mengindikasikan Uptrend). Selanjutnya ada KINO yang saat ini sedang mendekati Red Cloud atau Resistance di kisaran Rp2,900 – 3,200.

Di antara ASII dan BBCA, The Primary Trader lebih memilih BBCA karena Red Cloud-nya relatif lebih kecil dibanding ASII. Ketebalan Red Cloud pada Ichimoku Kinko Hyo menunjukkan kekuatan Resistance dimana semakin tebal maka Resistance semakin kuat.

Secara urut, dari keempat emiten tersebut, berikut adalah preferensi The Primary Trader : MYOR > KINO > BBCA > ASII.

Sekilas menggunakan Analisis Fundamental, tentu sektor Konsumsi terbukti yang paling bertahan dalam kondisi krisis. Memang MYOR dan KINO bukanlah konsumsi utama seperti UNVR, INDF ataupun ICBP. Namun disaat banyak pegawai (kelas menengah ke atas) yang Work From Home, permintaan kopi (dan makanan ringan) meningkat. Tentu hal ini menjadi sentimen positif untuk MYOR dan KINO.

Di saat PSBB dan Pandemi serta paska Pandemi di tahun 2020, permintaan mobil sangat mungkin turun sehingga kondisi ini menjadi sentimen negatif bagi ASII maupun grupnya seperti AALI dan UNTR. Mungkin untuk AALI masih ditopang oleh sentimen B30 di Indonesia dan B20 di Malaysia serta persiapan B50 dalam 2-3 tahun ke depan di Indonesia. Namun untuk UNTR, permintaan alat berat serta harga batubara sedang tidak bagus. Penjualan Komatsu turun -70% YoY di 4Q19 (!). Bisnis tambang emas UNTR mungkin bagus namun porsinya dari pendapatan UNTR masih relatif kecil (17% di tahun 2019).

Secara umum, BBCA adalah proxy bagi IHSG serta menjadi saham utama bagi Investor Asing dan Investor Institusi Domestik. Terlepas dari kondisi sektor Perbankan dan BBCA itu sendiri, bila Investor berminat membeli saham maka BBCA pasti menjadi incaran.

Lihat pembahasan ASII dan BBCA sebelumnya di sini.

Owner Menambah Kepemilikan

The Primary Trader menyukai TP Rachmat dan saham – sahamnya. Oleh karena itu ketika diberitakan Teddy Rachmat (panggilannya) membeli ASSA, ada potensi saham tersebut menarik. Pada bulan Februari 2020, kepemilikan TP Rachmat naik dari 5.02% menjadi 5.14%.

Saham Adi Sarana (ASSA) Diborong TP Rachmat, Harganya Langsung Bergerak Naik

Menggunakan indikator yang sama, tampaknya ASSA masih dalam Downtrend dan akan sulit berubah menjadi Uptrend karena Red Cloud-nya cukup tebal di rentang Rp360 – Rp440. Meskipun bergerak di bisnis otomotif namun The Primary Trader menyukainya karena ada kemungkinan tren ke depan adalah masyarakat tidak lagi membeli mobil namun menyewa. Begitupun dengan perusahaan yang terbukti lebih hemat dengan menyewakan mobil ke pegawainya dibanding membeli lalu meminjamkan mobil tersebut ke pegawai atau untuk operasional.

Tentang Kami

Pendapatan ASSA di tahun 2019 naik 25% YoY dengan pertumbuhan bisnis penyewaan kendaraan sebesar 12% YoY. Memang ASSA mencatat penurunan laba bersih sebesar -23% YoY dari Rp142 miliar menjadi Rp92 miliar. Namun hal tersebut dikarenakan investasi bisnis baru antara lain logistik Anteraja (yang harusnya mencatat kinerja yang bagus di saat WFH dan PSBB saat ini). ASSA masih akan ekspansi (senilai Rp2 triliun) untuk membeli armada baru serta untuk mengembangkan bisnis logistik dan automotive marketplace.

Masih ada beberapa cerita dimana owner menambah kepemilikan sahamnya yaitu keluarga Riady menambah kepemilikan di LPKR serta Pieter Tanuri memborong BOLA (Bali United). Namun The Primary Trader lebih memilih MYOR, KINO, BBCA, ASII dan ASSA. Diantara kelima saham tersebut, The Primary Trader menyukai MYOR dan KINO.

Technically Speaking Untuk MYOR dan KINO

MYOR berpotensi segera Breakout Down Trendline dari sejak Juli 2018 di Rp3,240. Dengan Breakout Down Trendline tersebut, ada potensi Downtrend berakhir. Namun The Primary Trader melihat pergerakan MYOR dari sejak awal tahun 2020 hampir membentuk pola Bullish Reversal (mirip Inverted Head and Shoulders). Namun untuk itu, MYOR perlu terkoreksi sedikit mendekati Rp1,800an. Memang MYOR bisa mengawali Uptrend menuju Rp2,500 langsung setelah Breakout Rp2,100 namun The Primary Trader tetap memperkirakan (atau mengharap) ada penurunan untuk mengonfirmasi Bullish Reversal sehingga Uptrend yang terjadi cukup kuat dan stabil.

KINO masih perlu pergerakan lagi untuk mengakhiri Downtrend dari sejak Oktober 2019. Namun The Primary Trader cukup menyukai lowest KINO di Rp2,000 karena apabila dilihat dari Oktober 2018 (Rp1,500), KINO membentuk Higher Low yang merupakan ciri Uptrend. Untuk mengakhiri Downtrend jangka menengah dan melanjutkan Uptrend jangka panjang, KINO harus Breakout Rp2,950 atau turun (Tech. Correction) tapi tidak lebih dalam dari Rp2,000. Setelah Breakout Rp2,950, KINO setidaknya dapat naik menuju Rp3,800.

Dow Theory – Teori Dasar Terpenting Menurut The Primary Trader (2)

Artikel edukasi ini adalah bagian kedua. Lihat bagian pertama di sini.

Indexes Must Confirm Each Other

Pada awal pembentukan Dow Theory, saat itu hanya adalah dua indeks yaitu Dow Jones Industrial Index (DJIA) dan Dow Jones Transportation Index (DJTA). Secara umum, kondisi pasar modal mewakili kondisi ekonomi negara tersebut. Dan pada saat itu, Amerika Serikat sedang dalam fase bertumbuh sebagai negara berkembang yang ditopang oleh sektor industri (besi dan baja) serta sektor transportasi (kereta api). Oleh karena itu, untuk mengatakan bahwa ekonomi AS sedang bertumbuh maka kondisi kedua sektor tersebut harus tumbuh. Tentu kedua indeks, DJIA dan DJTA harus juga dalam kondisi naik.

Menurut The Primary Trader, kalimat Dow Theory tersebut tidak harus diwakili oleh berbagai indeks (dalam hal ini DJIA dan DJTA) namun dapat juga mewakili baik saham maupun aset lain. The Primary Trader ingin mengganti kata “Indexes” menjadi “Asset Classes” sehingga :

Asset Classes Must Confirm Each Other

The Primary Trader

Tentu kalimat tersebut memperluas arti Uptrend maupun Downtrend secara umum yang memang awalnya dikhususkan pada pasar saham.

Untuk bursa saham Indonesia (IHSG), The Primary Trader melihat indeks sektoral dengan kapitalisasi besar seperti Finance, Consumer, Misc. Industry (ASII) dan Basic Industry harus bergerak dalam arah (trend) yang sama.

Pada poin Dow Theory ini, ada beberapa hal penting yang dapat dikembangkan :

  1. Intermarket Analysis
  2. Stock Weight
  3. Stock Correlation to Index

Masing – masing poin tersebut mungkin akan dibahas The Primary Trader di artikel terpisah.

Volume Must Confirm The Trend

The Primary Trader ingin merubah poin Dow Theory tersebut menjadi :

Volume Must Confirm The Uptrend

The Primary Trader

Volume disini memang menunjukkan jumlah lembaran saham yang diperdagangkan. Namun dalam arti lebih jauh, volume diartikan juga sebagai uang yang diinvestasikan yang pada akhirnya juga berarti banyaknya Investor yang berinvestasi pada aset tersebut. Untuk mengonfirmasi suatu trend maka perlu dilihat apakah banyak Investor yang ikut membeli atau banyak uang yang masuk ke suatu aset tersebut.

Istilah “Falling On It’s Own Weight” diaplikasikan ke Downtrend sehingga ketika terjadi Downtrend, Volume tidak penting diperhatikan. Kenaikan Volume tidak berarti Downtrend telah terkonfirmasi, begitupun apabila Downtrend terjadi dengan Volume tinggi, tidak berarti Downtrend terkonfirmasi.

Uptrend dan Downtrend sebenarnya dikonfirmasi berdasarkan Price Action (sesuai dengan Dow Theory yang jarang disebut : Price Action determine the trend). Namun khusus untuk Uptrend, Volume perlu digunakan untuk memberi konfirmasi tambahan. Sementara untuk Downtrend, Volume dapat dihiraukan karena apabila terjadi Panic Selling, harga bisa turun hanya karena beberapa Investor besar menjual aset tersebut diharga diskon (sementara Investor lain tidak ikut menjual atau meminta harga beli yang sangat rendah).

A Trend Is Assumed To Be In Effect Until It Gives Definite Signals It Has Reversed

Ini adalah poin dari Dow Theory yang terpenting dan harus menjadi “Habit” bagi setiap Analis Teknikal. Selain itu, hal ini menunjukkan bahwa pada dasarnya tidak mudah untuk merubah pandangan Investor terhadap suatu aset. Tentu wajar karena Investor yang telah mengeluarkan dana banyak untuk membeli suatu aset pastinya sudah berdasarkan riset yang mendalam dan sudah banyak membuat estimasi untuk beberapa tahun ke depan. Oleh karena itu, ketika Investor memutuskan untuk membeli suatu aset (dalam jumlah banyak), tidak banyak hal kecil yang dapat membuat Investor ingin menjual aset tersebut, apalagi dalam waktu singkat. Perlu hal besar (dan biasanya dalam waktu yang tidak pendek) untuk merubah opini tersebut dan membuat (atau memaksa) Investor menjual aset tersebut. Keyakinan The Primary Trader tersebut adalah berdasarkan pengalaman pribadi sebagai Analis maupun Investment Manager.

Analisis Teknikal harus percaya bahwa Primary Uptrend (atau Primary Downtrend) akan terjadi setidaknya 9 – 12 bulan ke depan. Dan selama Primary Trend masih bertahan, pergerakan – pergerakan kecil (terutama yang berlawanan arah) harus dianggap sebagai Intermediate Trend atau Minor Trend. Sekalipun ternyata ada pergerakan Intermediate atau Minor yang terlihat melewati (Breakout atau Breakdown) Primary Trendline, Analis Teknikal sebaiknya menganggap hal tersebut sebagai False Break (salah satu karakteristik harga ketika mendekati Support atau Resistance). Dan khusus untuk perubahan dari Downtrend ke Uptrend, harus memperhatikan poin Dow Theory “Volume Must Confirm The Trend”.

The Primary Trader menyukai perubahan tren yang diikuti oleh pola Reversal. Apabila melihat lagi teori umum Chart Pattern maka dapat disimpulkan bahwa pola Reversal adalah suatu Major Pattern yang waktu terbentuknya tidaklah singkat (atau setidaknya lebih lama dari Minor Pattern yang umumnya adalah pola Continuation). Definisi Analisis Teknikal dari buku terpenting bagi The Primary Trader adalah :

The study of market action, primarily through the use of charts, for the purpose of forecasting future price trends

Technical analysis of the financial markets
by john murphy

Jelas terlihat bahwa trend menjadi sangat penting bagi Analis Teknikal dan salah satu cara untuk memperhatikan trend adalah dengan menganggap bahwa tren itu tidak berubah sampai ada konfirmasi mengenai perubahan trend itu sendiri.


Bagian ketiga akan membahas mengenai 3 poin terakhir dari Dow Theory yang jarang digunakan namun cukup penting menurut The Primary Trader.

Dow Theory – Teori Dasar Terpenting Menurut The Primary Trader (1)

Pengantar

Ini adalah edukasi yang kurang lebih ditujukan bagi Investor yang sudah memahami Dow Theory. Untuk awal, silahkan baca mengenai Dow Theory di sini. Untuk lebih jauh lagi, dapat belajar mengenai Dow Theory di sini.

The Primary Trader (akan) menulis artikel edukasi dalam 3 bagian. Semoga berguna.

Sembilan (9) Poin Dalam Dow Theory

The Primary Trader menemukan Dow Theory terdiri dari 9 poin yaitu :

  1. Price discounts everything
  2. Market has 3 Trends
  3. Market has 3 Phases
  4. Index must confirm each other
  5. Volume must confirm trend
  6. Trend is assumed to be in effect until it gives definite signals it has changed
  7. Line indicates movement
  8. Price Action determine the trend
  9. Only closing price is used

Bagi sebagian, mungkin Dow Theory hanya sampai poin ke-6. Namun bila diperiksa lagi buku – buku Analisis Teknikal penting, maka tiga poin terakhir (poin no 7, 8 dan 9) dapat ditemukan.

Price Discounts Everything

Harga bergerak karena :

  1. Pembeli yang ingin membeli di harga yang ditawarkan oleh Penjual
  2. Penjual yang ingin menjual di harga yang ditawarkan oleh Pembeli

Dow Theory mengindikasikan bahwa pembeli atau penjual memiliki motivasi masing – masing antara lain :

  1. Mengetahui atau memperkirakan akan ada berita bagus (bagi pembeli) atau berita buruk (bagi penjual) yang mana berita tersebut belum tersebar ke publik (menurut masing – masing)
  2. Meyakini berita yang sudah tersebar ke publik belum direspon dengan baik oleh Investor lain

Namun masih ada hal lain yang kadang tidak dapat dijelaskan oleh kedua logika tersebut yaitu :

  1. Investor yang tidak mau tahu dan membeli atau menjual tanpa alasan yang jelas dan kuat
  2. Hal kecil yang berdampak signifikan (Mozaic Theory) seperti : Rebalancing, Subscription atau Redemption, Dividend Distribution, Owner yang meninggal dan lainnya

Tentu akan sulit untuk menganalisis pergerakan harga apabila alasannya adalah Ignorant Investor maupun Mozaic Theory. Seorang analis investasi yang hebat akan banyak menggunakan Mozaic Theory untuk menganalisis pergerakan aset investasi.

Market Has 3 Trends

Yaitu : Primary, Intermediate dan Minor Trend

Ini adalah salah satu hal terpenting bagi The Primary Trader karena nama The Primary Trader sendiri berarti salah satu dari 3 tren yaitu Primary Trend.

Secara pribadi, The Primary Trader bukanlah Investor yang suka mengambil risiko terlalu besar (Agresif) dengan bertransaksi aset yang volatile. Namun The Primary Trader akan sangat agresif ketika aset tersebut dalam Primary Uptrend. The Primary Trader hanya melihat dua tren yaitu Primary dan Intermediate Trend dan menghiraukan Minor Trend.

Mengetahui kondisi diri sendiri (Risk Profile) sangatlah penting sebelum menentukan kondisi tren yang akan dipilih untuk melakukan transaksi. Bila kita adalah Risk Taker, tentu tidak masalah bertransaksi dalam Minor Trend namun kesalahan besar untuk membeli dalam Minor Uptrend ditengah Primary atau Intermediate Downtrend.

Bila kita Risk Averse, pilihlah aset dalam Primary atau Intermediate Uptrend.

Market Has 3 Phases

Market terdiri dari 3 fase pada masing – masing tren.

  • Uptrend : Accumulation – Panic Buying – Excess.
  • Downtrend : Distribution – Panic Selling – Despair.

The Primary Trader menggunakan Panic Buying dan Panic Selling untuk menggantikan istilah Public Participation yang cenderung netral (tidak menunjukkan trend).

The Primary Trader akan memperhatikan fase – fase harga untuk menentukan sikap apakah harus Stay Alert, Wait Patiently atau bahkan Do Nothing. Jangan pernah meremehkan Do Nothing karena Warren Buffet mengatakan “If You Don’t Find A Way To Make Money While You Sleep, You Will Work Until You Die“. Tentu dengan berinvestasi di pasar modal, kita ingin uang kita bertambah dengan usaha yang minim. Warren Buffett Indonesia (Lo Kheng Hong) sendiri memiliki strategi “Menjadi Kaya Sambil Tidur”.

The Primary Trader akan sangat aktif dalam fase selain Public Participant. Aktif disini adalah untuk melakukan analisis dan memperhatikan kondisi portofolio. Tidak ada gunanya atau sudah telat apabila kita baru beraksi dalam fase Public Participant. Pada saat fase Accumulation dan Distribution, kita harus aktif melakukan analisis dan pembentukan portofolio. Pada saat fase Excess atau Despair, kita harus aktif melakukan Rebalancing Portfolio.

Do Nothing atau Wait Patiently sangat diperlukan pada saat fase Public Participation.


The Primary Trader membahas mengenai 3 poin lanjutan dan salah satunya adalah poin terpenting dari Dow Theory dan wajib menjadi Habit bagi Analisis Teknikal. Cek di sini.

Foreign Flow Dan Potensi Bottoming Pada IHSG ?

Apakah Mulai Ada Foreign Inflow Pada IHSG ?

IHSG mencatat kenaikan sebesar 15.5% dalam 2 hari terakhir setelah Kongres AS menyetujui paket stimulus dari pemerintah AS sebesar total ~USD2 triliun. Paket tersebut disetujui oleh House of Representative AS dan telah ditandatangani oleh Presiden Trump pada Jumat malam. Dengan demikian, setidaknya dapat diharapkan ekonomi AS tidak terpukul lebih dalam karena wabah Corona dan tentu dengan ekonomi AS yang bertahan, ekonomi dunia diharapkan dapat juga tertolong.

The Primary Trader belum melihat adanya Net Foreign Inflow pada IHSG meskipun dalam dua hari terakhir, ada Net Buy Asing dengan total sebesar Rp773 miliar. Angka tersebut masih relatif jauh dibanding Net Sell Asing dari awal tahun 2020 yaitu sebesar Rp12.6 triliun. Meski demikian, mengingat sentimen positif dari paket stimulus AS, tentu setelah resmi ditandatangani, maka Investor akan lebih optimis dari sebelum paket tersebut diresmikan.

Apakah IHSG Sudah Bottom ?

Dari beberapa estimasi penurunan IHSG, The Primary Trader menyukai Weekly Chart berikut :

IHSG telah bergerak dalam Downtrend Channel sejak tahun 2018. Memang Downtrend Channel tersebut terlihat sebagai bagian dari Tech. Correction dari Uptrend Jangka Panjang sehingga The Primary Trader masih optimis ketika IHSG mendekati Resistance dari Channel tersebut di 6,300an pada Januari 2020. Namun ternyata terjadi Black Swan (Serangan AS pada Jenderal Iran dan wabah Corona) yang pada akhirnya IHSG turun dan Breakdown Support Downtrend Channel di 5,300 pada awal Maret 2020.

Dengan terjadinya Breakdown tersebut, IHSG terancam turun setidaknya mencapai 4,300 yang merupakan tinggi dari Channel. Namun IHSG terus turun sampai bahkan menyentuh 3,910an (24 Maret 2020). IHSG pada level tersebut mengikuti Downward Projection dari Fibonacci Retracement yang ditarik dari Juli 2018 sampai Maret 2019 yaitu di level 261.8% atau 3,810an.

Berdasarkan garis Fibonacci tersebut, IHSG masih harus Breakout level 161.8% di 4,900an. Namun The Primary Trader meyakini bahwa level 261.8% adalah level yang cukup dalam dan jarang tercapai. Tentu lebih jarang lagi bagi pergerakan harga untuk turun (atau naik) di bawah (atau di atas) 261.8%. Oleh karena itu, The Primary Trader percaya bahwa IHSG sudah mendekati akhir dari Downtrend dan berpotensi segera Bottoming.

Untuk mengatakan Bottom relatif lebih gampang namun untuk mengatakan kapan mulai akan naik dan kembali Uptrend adalah pertanyaan terpentingnya. The Primary Trader percaya bahwa dari penurunan yang dalam dan cepat maka akan diikuti oleh kenaikan yang tinggi dan cepat juga. Namun perlu diingat bahwa tentu ada alasan yang membuat Investor Panic Selling dan alasan tersebut harus terlebih dahulu hilang.

Penurunan saat ini disebabkan oleh Pandemi Wabah Corona. Apabila wabah tersebut belum selesai, belum ditemukan obatnya atau vaksinnya, tentu ada kemungkinan Investor masih akan kembali Panic Selling atau belum memulai Buying yang membuat harga kembali dalam Uptrend.

Melihat ke pergerakan historis, The Primary Trader mencatat bahwa IHSG setidaknya perlu waktu 4x dari lamanya waktu penurunan untuk kembali melewati titik tertingginya sebelum terjadi penurunan. Berikut adalah Update Chart dari artikel tersebut :

Mungkin akan perlu waktu 44 bulan untuk dapat melewati level 6,636 (bukan All Time High) dari level saat ini – dengan asumsi level 3,911 adalah Bottom IHSG. The Primary Trader lebih memilih untuk membeli saham – saham yang memang sudah murah dan bersabar.

Investor Mulai Membeli Saham ?

The Primary Trader melihat IHSG sudah mulai kembali ke Safe Heaven dengan membeli aset Gold setelah sebelumnya terlihat Hoarding Cash. Penguatan USD Index (warna biru) di awal Maret 2020 mengindikasikan Investor sangat khawatir dengan kondisi pasar bahkan emas (XAUUSD, warna orange) pun dijual. Namun dengan adanya stimulus tersebut, dari sejak minggu lalu, emas mulai kembali naik dan USD Index mulai turun.

Live Chart Here

Seiring dengan Investor mulai masuk ke Safe Heaven, ada harapan Investor akan kembali lebih optimis sehingga kembali masuk ke Riskier Asset yaitu Emerging Market, baik Bond maupun Equity. The Primary Trader memperhatikan pergerakan Rupiah (USDIDR), Yield SUN10Yr dan IHSG :

Live Chart Here

The Primary Trader melihat perlemahan USDIDR dari sejak awal tahun mulai selesai dan Rupiah berpotensi mulai menguat terhadap US Dollar. Dengan kata lain, ada potensi Foreign Inflow yang sering dapat diasosiasikan setiap ada penguatan Rupiah.

Yield SUN10Yr yang dari awal tahun 2020 naik pun mulai terlihat berpotensi menurun. Penurunan Yield menandakan kenaikan harga SUN sehingga tentu ada potensi kenaikan harga SUN dalam waktu dekat.

Sesuai dengan teori dasar investasi, ada korelasi negatif antara Yield Obligasi dengan Indeks Saham. Hal ini perlu diingat kembali bahwa ada korelasi yang juga negatif antara Yield Obligasi dengan Harga Obligasi. Bila Yield Obligasi turun maka Harga Obligasi turun. Oleh karena itu, bila Yield Obligasi turun dan Indeks Saham naik (korelasi negatif) maka tentu ada korelasi yang positif antara Harga Obligasi dengan Indeks Saham.

Kenaikan Harga Obligasi dan Harga (Indeks) Saham menandakan Investor mulai membeli Risky dan Riskier Asset. Diikuti dengan penguatan Rupiah (nantinya), The Primary Trader akan menyimpulkan Investor (terutama Investor Asing) akan mulai masuk ke pasar Indonesia. Oleh karena itu, The Primary Trader akan memperhatikan dengan seksama chart Indonesia Three Musketeers.

Stay Healthy and at Home.

Recovery Time Untuk IHSG

Setelah melihat Recovery Time pada Dow Jones, The Primary Trader ingin melihat Recovery Time yang dibutuhkan pada IHSG. Berikut adalah informasi yang The Primary Trader rangkum :

Asian Crisis 1997 – 2004

Krisis keuangan Asia di tahun 1997 – 1998 memicu terjadinya reformasi besar bagi Indonesia. Oleh karena itu, IHSG memerlukan waktu yang relatif lebih lama untuk pulih (dibanding Singapura meskipun IHSG lebih cepat Recovery dari Malaysia dan Thailand). IHSG turun sebesar -65% dalam waktu 15 bulan (dihitung dari Highest ke Lowest) dan perlu waktu 63 bulan untuk melewati level tertinggi sebelum Market Crash.

Global Financial Crisis 2008

Pada tahun 2008, seluruh dunia ikut mengalami penurunan termasuk IHSG. Saat itu, IHSG turun sebesar -62% dalam waktu 9 bulan. Perlu waktu selama 17 bulan untuk berhasil melewati level tertinggi dari tahun 2008. Ekonomi Indonesia relatif bertahan karena banyak mengandalkan konsumsi domestik. Namun karena Hot Money yang tinggi maka IHSG pun menderita penurunan yang sangat dalam.

Small Crisis 2013 – 2015

Ada beberapa penyebab terjadinya krisis di tahun 2013 dan 2015 antara lain : China Slowdown, Fed Rate Uncertainty sampai US Govt. Shutdown. IHSG mengalami penurunan sebesar -26% di tahun 2013 dan bertahan hanya dalam waktu 3 bulan. Namun IHSG perlu waktu 16 bulan untuk melewati level tertinggi sebelum Bear Market (yang resmi terjadi setelah turun -20%). Tidak lama setelah IHSG berhasil melewati level tertinggi dari tahun 2013, kembali terjadi krisis tahun 2015 yang membuat IHSG turun -26% dalam waktu 5 bulan. IHSG pun membutuhkan 24 bulan untuk melewati level tertinggi dari tahun 2015.

Kesimpulan

Melihat sejarah singkat IHSG, The Primary Trader mencoba melihat Recovery Time Ratio atau waktu yang dibutuhkan untuk Recovery setelah terjadinya Bear Market. Setelah melihat empat kali krisis, The Primary Trader menghitung IHSG perlu waktu 4x lebih lama untuk dapat melewati level tertinggi dari awal terjadinya penurunan atau krisis.

CrisisDrawdownMonthsRecovery MonthsRecovery Time Ratio
Asian Crisis-65%15634.2
Global Financial Crisis-62%9171.9
Small Crisis 2013-26%3165.3
Small Crisis 2015-26%5244.8
Average4.1
Crisis dan Recovery Time Pada IHSG

Mengasumsikan IHSG saat ini (di 3,911) adalah Bottom dan menggunakan Recovery Time Ratio rata – rata yaitu 4x dari waktu penurunan maka IHSG perlu waktu selama 44 bulan untuk dapat melewati level tertinggi dari sebelum penurunan (di level 6,636) di April 2019. Perlu diingat bahwa level tersebut bukanlah level All Time High IHSG. Di Februari 2018, IHSG mencapai level tertingginya yaitu di 6,693. Sejak saat itu, IHSG terus berada dalam Downtrend hingga saat ini. Dengan demikian, bila mengacu pada titik All Time High tersebut maka IHSG perlu waktu 25 bulan x 4 atau 100 bulan untuk dapat membentuk New All Time High baru – dan itupun apabila Lowest dari Covid-19 Crisis ini di level 3,911.

Semoga wabah Covid-19 segera selesai.

Salah Satu Kenaikan Terbaik DJIA dan S&P500

Harapan adanya stimulus fiskal yang sangat besar (~USD2 triliun) dari pemerintah AS membuat Investor optimis sehingga terjadi kenaikan yang tinggi pada bursa saham AS (kenaikan terbesar Dow Jones dari sejak tahun 1933 dan kenaikan terbesar S&P500 dari sejak tahun 2008). Perlu dicatat bahwa meskipun stimulus belum disetujui namun dapat diharapkan akan disetujui dalam waktu dekat.

S&P500 naik sebesar 9.3% dan berhasil Breakout Down Trendline dari sejak awal Maret 2020. Breakout ini mengindikasikan Downtrend yang telah terjadi sejak akhir Februari 2020 berpotensi selesai. Namun The Primary Trader melihat adanya ancaman Dead Cat Bounce atau mungkin kenaikan tersebut adalah bagian dari Technical Rebound (kenaikan ditengah Downtrend).

Untuk dapat mengakhiri Downtrend, menggunakan Fibonacci Retracement dari pertengahan Februari 2020 (S&P500 di level 3,400) sampai level terendah tahun 2020 di 2,180an, S&P500 harus bisa melewati area 2,930 atau Fibonacci Ratio di 0.62%. Selama S&P500 tidak dapat melewati 2,930 (perlu kenaikan ~20% dari level saat ini), maka The Primary Trader percaya kenaikan tersebut adalah Technical Rebound yang belum merubah Downtrend.

S&P500 telah turun sebesar -35% dalam waktu ~23 hari perdagangan sehingga penurunan ini adalah salah satu yang tercepat sepanjang sejarah S&P500. Begitupun dengan Dow Jones Industrial Average (DJIA) yang telah turun sebesar -38% dalam waktu ~26 hari perdagangan. S&P500 saat ini berada di level tahun 2016 (2,130) yang tampaknya dapat menjadi Support kuat.

The Primary Trader percaya bahwa aksi yang cepat akan mendapat reaksi yang cepat juga. Oleh karena itu, penurunan yang cepat seperti saat ini maka akan diikuti juga dengan kenaikan yang cepat. Dengan asumsi bahwa penurunan yang cepat disebabkan oleh wabah Covid-19 maka kenaikan cepat juga disebabkan oleh wabah Covid-19 tersebut berangsung – angsur berakhir.

Reaksi cepat yang muncul tentu tidak sama persis dengan aksi cepat. Investor perlu waktu untuk mempercayai bahwa hal – hal yang membuat Panic Selling telah berakhir. Oleh karena itu, setidaknya perlu waktu 2-10x lebih lama untuk perlahan membuat Investor kembali berinvestasi. Berdasarkan sejarah pada Dow Jones, berikut adalah waktu yang dibutuhkan untuk Recovery :

Tentu ada harapan pasar saham dan pasar keuangan lain akan Recovery setelah Market memperbaiki kekurangannya (yang menjadi alasan terjadi krisis). Namun tentu Bear Market perlu waktu untuk berubah menjadi Bull Market dan Investor umumnya lebih waspada dan tidak mudah percaya sehingga memperlama terbentuknya Bull Market.

Menunggu Stimulus Dari Pemerintah AS

Investor sedang menunggu pengumuman stimulus yang sedang disiapkan oleh Pemerintah AS. Dikabarkan rencananya adalah sebesar USD2 triliun, lebih tinggi dari estimasi awal sebesar ~USD1 triliun. Diharapkan minggu depan akan ada pengumuman dan tentu stimulus ini diharapkan dapat mempercepat penganggulangan wabah Corona (di AS) dan mengurangi dampak negatif wabah terhadap ekonomi AS yang pada akhirnya dapat mempengaruhi ekonomi global.

The Primary Trader melihat Investor tampak optimis terhadap stimulus tersebut karena menjelang akhir pekan, VIX Index tampaknya turun di bawah 72 atau di bawah Up Trendline yang dapat membawa VIX naik menyentuh level yang sama seperti pada saat krisis 2008 (Global Financial Crisis).

Live Chart Here

Penurunan VIX mengindikasikan Investor melihat penurunan risiko pada pasar keuangan. Namun perlu diingat bahwa Bear Market yang terjadi saat ini disebabkan oleh virus Corona sehingga selama wabah dan penyakit tersebut belum dapat dikendalikan maka Bear Market masih dapat bertahan.

-30% Dalam Sebulan Adalah Tandanya

ROC 20 Sebesar -30% Di 2020 Dan 2008

Per hari ini, S&P500 telah turun sebesar -30% dalam 20 hari terakhir atau dari level tertingginya di 3,393 di tanggal 19 Februari 2020 – 1 bulan lalu. Menggunakan indikator Rate of Change (ROC) periode 20 atau menghitung persentase perubahan harga 20 hari terakhir, The Primary Trader melihat S&P500 cenderung mengakhiri penurunan setelah ROC 20 menyentuh angka -30%. Artinya adalah S&P500 berpotensi membentuk Bottom atau fase akhir dari penurunan setelah turun sebesar -30% dalam 20 hari terakhir.

Memang pada beberapa kasus, S&P500 masih tetap turun dalam 1-2 bulan ke depan namun dengan “kecepatan” yang lebih lambat. Bahkan sebelumnya menyentuh ROC 20 sebesar -30%, S&P500 pun sedang dalam kondisi Downtrend. Seperti pada Global Financial Crisis 2008, S&P500 menyentuh ROC 20 sebesar -30% pada pertengahan fase Downtrend. S&P500 pun masih turun sebesar -30% lagi dalam 3 bulan ke depan namun penurunan tersebut sebagai fase akhir dari Downtrend karena terbentuk Divergence antara ROC 20 dengan S&P500.

Pada kasus GFC 2008, perlu diketahui bahwa “kecepatan” atau persentase penurunan dari sejak September 2007 sampai Maret 2009 sangatlah lambat. Menggunakan derajat kemiringan, Downtrend S&P500 saat itu adalah sebesar –21 derajat atau dengan perubahan sebesar 0.16% / hari (-58% dibagi 353 hari perdagangan). The Primary Trader menilai, tren yang landai akan cenderung stabil. Hal ini karena Investor sadar bahwa kondisinya memang buruk namun relatif masih ada harapan (karena aksi The Fed dan Pemerintah AS) sehingga masih ada Minor Uptrend ditengah Major Downtrend saat itu.

Kondisi Panic Selling yang menurut The Primary Trader tidak stabil adalah ketika derajat kemiringan dari pergerakan harga mencapai > 45 derajat. Pada saat S&P500 mencatat ROC 20 sebesar -30%, saat itu derajat kemiringan S&P500 adalah sebesar -68 derajat dengan perubahan sebesar 1.3% / hari (-35% dibagi 27 hari perdagangan). Terlihat jelas bahwa pada saat itu, Investor sangat panik sehingga S&P500 mencatat volatilitas yang jau lebih besar selama GFC 2008.

Pada kondisi S&P500 di 2020, derajat kemiringan adalah sebesar -76 derajat (dilihat dari tahun 2019). Perubahan rata – rata harian adalah sebesar 1.57% / hari (-30% dibagi 19 hari perdagangan). Tentu The Primary Trader menilai Panic Selling ini tidaklah stabil. Dengan kata lain, dalam 3-6 bulan ke depan, The Primary Trader memperkirakan akan ada fase pergerakan yang menyerupai Bottoming atau Bullish Reversal dalam rangka mengakhiri Downtrend dan mempersiapkan kembali Uptrend.

ROC 20 Sebesar -30% Lainnya

The Primary Trader mencoba melihat ROC 20 sebesar -30% yang pernah dicapai S&P500 sepanjang sejarahnya (atau setidaknya sebanyak data yang tersedia di tradingview.com).

Di tahun 1987, S&P500 pernah turun sebesar -34% dalam waktu 12 hari perdagangan atau sebesar 2.8% / hari dengan derajat kemiringan sebesar -82 derajat dari awal tahun. ROC 20 saat ini menyentuh -30%. Kondisi saat itu (disebut Black Monday 1987) disebabkan antara lain oleh Computer Trading dan Derivative Instruments.

S&P500 dibuat tahun 1957 namun tradingview.com di akun The Primary Trader hanya sampai tahun 1970an. Oleh karena itu, The Primary Trader mencoba melihat Dow Jones meskipun tentu ada perbedaan dengan S&P500 namun ROC 20 dengan nilai sebesar -30% atau lebih tetap diperhatikan.

Salah satu data terseram yang The Primary Trader lihat adalah pada saat The Great Depression tahun 1929 – 1939 (10 tahun!). Saat itu Dow Jones Industrial Average (DJIA) turun sebesar -90% dari September 1929 sampai Juli 1932 atau dengan derajat kemiringan sebesar -26 derajat. Sepanjang Major Downtrend tersebut, DJIA turun rata – rata sebesar 0.12% per hari (-90% selama 714 hari perdagangan).

Selama periode tersebut, ada sekitar 3x dimana ROC 20 mencapai -30% (bahkan -40% di awal periode The Great Depression). Meski masih Downtrend dalam jangka lama, setelah ROC 20 mencapai -30%, DJIA cenderung naik setidaknya setengah periode dari periode penurunan yang membuat ROC 20 mencapai angka -30%.

Tentu The Primary Trader tidak membandingkan S&P500 tahun 2020 dengan The Black Monday atau bahkan saat The Great Depression. Namun The Primary Trader ingin menunjukkan harapan bahwa S&P500 berpotensi mendekati akhir Downtrend atau setidaknya peluang penurunan rata – rata sebesar -1.57% / hari sudah mulai berkurang. The Fed sudah melakukan 2x Emergency Cut dalam sebulan terakhir yang memotong Fed Fund Rate sebesar total 150 bps (50 bps di awal Maret 2020 lalu 100 bps seminggu kemudian) dari 1.75% menjadi 0.25%. Pemerintah AS pun telah mendapat persetujuan DPR-nya AS untuk meminta stimulus dan saat ini sedang mengajukan stimulus sebesar USD1.1 triliun kepada Kongres AS.

Tentu akar masalah belum akan selesai dengan stimulus moneter dan stimulus fiskal. Namun setidaknya saat ini vaksin Covid-19 sudah mulai dilakukan tes pertama terhadap manusia. Hal tersebut tentu dapat membantu menimbulkan sentimen positif untuk Investor.

(Ternyata) Masih Perlu Diwaspadai

IHSG Menuju 4,700 ?

The Primary Trader masih mewaspadai potensi IHSG turun menuju 4,700 karena dampak nyata dari wabah Covid-19 terhadap ekonomi global dan Indonesia.

Wabah Covid-19 sendiri mulai mereda di Wuhan, Hubei dan China sebagai pusatnya. Saat ini justru negara – negara lain seperti Korea Selatan, Italia, Iran dan juga Indonesia sedang berjuang menahan penyebaran penyakit Covid-19. China pun dikabarkan khawatir akan kembali terjadi wabah akibat warga negara asing yang masuk ke negara China. Diperkirakan dalam sebulan ke depan, kasus infeksi Covid-10 di China mendekati nol.

Manufacturing PMI Indonesia di bulan Februari 2020 ternyata berhasil melonjak dari 49.3 menjadi 51.9. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh backloading dari pabrik seiring dengan aktifitas yang memang sudah turun beberapa bulan terakhir. Selain itu, adanya estimasi kenaikan harga bahan baku karena gangguan suplai akibat wabah Covid-19. Dengan demikian, kenaikan Manufacturing PMI tersebut tampaknya tidak bertahan sehingga ekonomi Indonesia (begitupun dengan ekonomi global) masih terancam.

The Fed sendiri akhirnya memutuskan untuk melakukan aksi yang dramatis yaitu dengan menurunkan Fed Fund Rate sebesar 0.5% dan diluar jadwal FOMC Meeting tanggal 19 Maret 2020. Meski Powell mengatakan ekonomi AS masih tumbuh sesuai estimasi The Fed namun wabah Covid-19 menjadi tantangan besar yang jelas di depan mata sehingga The Fed perlu mengantisipasinya. Investor melihat hal ini sebagai aksi ‘panik’ The Fed sehingga bereaksi negatif dengan menjual saham dan membeli obligasi (US Treasury).

Multi-View Technical Analysis Terhadap IHSG

Berdasarkan Bollinger Band, volatilitas IHSG mulai mendekati puncak karena melihat kondisi 2 tahun terakhir. Pada indikator Bandwidth BB yang mengukur jarak antara Upper Band dengan Lower Band, puncak volatilitas IHSG dalam 2 terakhir adalah ketika Bandwidth BB di level 13. Setelah itu, IHSG cenderung Bottoming dan membentuk U-Shape Recovery di tahun 2018 dan V-Shape Recovery di tahun 2019. Namun bila melihat 5 tahun terakhir, Bandwidth BB pernah mencapai level 18 di tahun 2015 sehingga masih ada potensi IHSG bergerak secara volatile dalam Downtrend (baca : masih akan turun dengan tajam).

Menggunakan Weekly Chart dan melihat Long Term Trend, IHSG telah Breakdown Support penting di ~5,750. Setelah ‘berhenti’ di 5,300, kenaikan IHSG saat ini tampaknya adalah Pullback atau kenaikan setelah Breakdown Support (5,750) namun akan tertahan di level Support tersebut yang kali ini menjadi Resistance.

Memang IHSG tampaknya bergerak dalam Downtrend Channel dari sejak akhir 2017 sampai awal 2020 (garis hitam tebal). Namun bila demikian, IHSG berpotensi naik menuju 6,200 dan The Primary Trader meyakini peluangnya kecil.

Satu hal yang penting adalah bila melihat dari sejak GFC 2008, IHSG masih mempertahankan Secular Uptrend selama Up Trendline dari sejak 2011 bertahan. Dengan kata lain, IHSG harus Breakdown 5,000 untuk merubah Secular Uptrend tersebut.

Untuk menuju 4,700 atau bahkan untuk Breakdown 5,000, IHSG tampaknya perlu Selling Power yang kuat. Di minggu ini, Investor Instutisi Indonesia dikabarkan menambah alokasi di pasar saham sehingga ada kenaikan sebesar ~5% dalam seminggu atau ~2.5% per hari. The Primary Trader meyakini Investor Lokal tidaklah cukup untuk mengangkat IHSG.

Sejak tahun 2017, ada Tren Net Sell Asing yang menahan kenaikan IHSG dan cenderung membuat IHSG Downtrend dari 1H17. Namun demikian, saat ini, posisi Akumulasi Asing sudah di bawah level sebelum GFC 2008. Dapat disebut bahwa Investor Asing saat ini sudah Under Owned IHSG. Arguably, ekonomi Indonesia masih sangat menarik sehingga tentu Investor Asing yang ingin mendiversifikasikan portofolio ke Emerging Market harus juga berinvestasi di IHSG. Kita semua masih menunggu saatnya Investor Asing masuk kembali ke Indonesia dan IHSG.

Menggunakan MACD untuk jangka panjang (menggunakan SMA60 dan SMA200 instead of EMA12 dan EMA26), The Primary Trader melihat masih ada ancaman turun karena MACD dalam 2 tahun terakhir masih dapat turun ke level -250 (tahun 2018) dan bahkan ke level -520 (tahun 2015). Flat IHSG di level 6,000an pada pertengahan Februari 2020 tampaknya adalah sinyal Sell dari MACD tersebut.

Kondisi saat ini memang mostly karena ketakutan dan Panic Selling dari Investor. Namun The Primary Trader berargumen bahwa dampak nyata dari wabah Covid-19 belum terlihat sehingga dampaknya dapat lebih rendah dari yang ditakutkan atau justru bahkan lebih besar dari yang diperkirakan. Satu hal yang pasti. Fear masih mendominasi sehingga Investor sedang bersikap Rasional. Kondisi seperti ini membuat prediksi dan analisis kurang berguna namun tentu sikap waspada dan antisipasi akan sangat bermanfaat untuk diterapkan (dalam segala kondisi).

The Primary Trader masih akan mewaspadai pasar saham dan lebih memilih pasar obligasi.