Trend&Pattern 210118 : IHSG Sudah Mahal ?

Dari sejak awal tahun 2021 IHSG telah naik sebesar 6.59%, IHSG sudah menyentuh Upper Bollinger Band bahkan sempat berada di atas (The Primary Trader menyebutnya Overshoot) dan RSI periode 14 mulai turun di bawah level 70 yang biasanya merupakan sinyal Sell. The Primary Trader ingin menjawab apakah IHSG sudah mahal dan akan mengakhiri Uptrend-nya menggunakan beberapa pendekatan Analisis Teknikal.

Complete Set Bollinger Band

Percentage BB memasuki level 84% setelah beberapa hari sebelumnya berada di atas level 100%. Artinya IHSG memang sempat berada di atas Upper Band dan terindikasi telah Overshoot. Namun perlu diingat bahwa Overshoot mengindikasikan adanya potensi penurunan jangka pendek ditengah Uptrend. Overshoot memprediksi akan ada penurunan lanjutan namun belum tentu merubah tren.

Bandwidth BB sedang naik yang kemungkinan merubah tren penurunan Bandwidth dari sejak akhir November 2020. Artinya ada potensi kenaikan Volatilitas dalam beberapa waktu ke depan. Memang volatilitas telah naik kembali dari sejak awal Januari 2021 setelah di akhir Desember 2020 cenderung Flat. The Primary Trader melihat Investor dan Trader mulai kembali aktif berinvestasi saham.

Dengan melihat Middle Band Direction yang masih positif (meski ada kecenderungan tren turun), The Primary Trader perkirakan IHSG masih akan mempertahankan Uptrend meskipun IHSG dapat turun mendekati 6,169 (Downside Potential ~3%).

Moving Average Techniques

Menggunakan analisis Moving Average periode 200 (MA200), terlihat bahwa saat ini IHSG ada di atas MA200 sebesar 19.5%. Secara visual, posisi mendekati 20% di atas MA200 cenderung menjadi rata – rata posisi relatif tertinggi IHSG terhadap MA200.

Berdasarkan indikasi posisi relatif terhadap IHSG, The Primary Trader menilai IHSG memang telah mahal. Namun MA200 baru saja secara resmi mengarah ke atas sejak awal Desember 2020 (MA200 Direction) sehingga The Primary Trader menilai Uptrend IHSG dalam jangka panjang (sesuai dengan karakterisik MA200) masih akan bertahan – meskipun IHSG bisa saja turun sebesar sebesar ~20% menuju level MA200 sebagai Support.

Menggunakan MA20 dan MA200 terhadap saham – saham IDX80, The Primary Trader melihat kenaikan IHSG dalam jangka pendek memang terancam tertahan karena semakin sedikit saham IDX80 yang berada di atas MA20-nya. Hal ini ditandai dengan garis biru (jumlah saham IDX80 yang berada di atas MA20) semakin turun dan berpotensi berada di bawah 40. Namun saham – saham IDX80 yang berada di atas MA200 masih tetap stabil di level > 70an sehingga The Primary Trader kembali meyakini potensi Uptrend IHSG belum terancam berakhir.

Sektor dan Saham Pilihan

Dari grafik “Trend and Momentum in Sectors” di atas, The Primary Trader menyukai sektor Retail, Residential, Oil&Gas, Precast, Mineral dan Pharmacy. Hal ini karena sektor tersebut berada di dalam Uptrend (Trend Meter > 50) sementara terindikasi netral (Momentum Meter di rentang 30 – 70).

Saham di sektor Industrial Area, Healthcare, FMCG, Telecom, Textile dan CPO dapat mulai diperhatikan karena sudah Oversold. Saham Construction, Paper dan Tol sebaiknya di waspadai karena Overbought, terlebih lagi sektor Construction yang sudah Overshoot.

Berdasarkan Dandy Rotation di atas (saham – saham IDX80 yang berada dalam kondisi Uptrend dan mendapat sinyal Buy), The Primary Trader menyukai KLBF, PTPP dan WSBP.

KLBF : Breakout Down Trendline Jangka Panjang

KLBF telah Breakout Resistance dari Down Trendline jangka panjang (dari sejak 2015) di level Rp 1,650an dan bahkan telah membentuk All Time High di Rp1,960. Dengan kondisi ini, The Primary Trader perkirakan KLBF setidaknya masih dapat naik menuju Rp1,960.

PTPP : Breakout Resistance

Walau sudah naik tinggi (dan curam) dari sejak November 2020 sebesar 149% (atau ~3% per hari), PTPP segera menguji Resistance di Rp2,250 yang menjadi level signifikan antara tahun 2017 dan 2019. Setelah Breakout Rp2,250, PTPP berpotensi naik menuju Rp2,700 yang merupakan level Resistance lanjutan.

EDA : January Effect Pada IHSG

January Effect adalah salah satu fenomena Seasonal dimana pasar saham cenderung naik. Pada S&P500 dari tahun 1928 – 2018, January Effect tercatat terjadi 56 kali (dari 91 kali bulan Januari). Bagaimana fenomena January Effect pada IHSG ? The Primary Trader ingin menjawabnya menggunakan model EDA atau Explanatory Data Analysis menggunakan R.

Berikut adalah distribusi frekuensi Return IHSG di bulan Januari :

Sekilas terlihat ada kecenderungan IHSG mencatat Return (akhir bulan Desember ke akhir bulan Januari) yang positif di bulan Januari. Apabila distribusi tersebut di filter sehingga hanya mencatat IHSG pada saat January Effect saja (Return di Januari > 0%) maka distribusi adalah sebagai berikut :

Return IHSG di atas 0% pada bulan Januari dari 1995 – 2020 adalah sebanyak 17 kali. Dengan demikian, dari 26 kali perdagangan IHSG di bulan Januari, terjadi 17 kali January Effect atau sebanyak 65.3%.

Rata – rata Return IHSG di bulan Januari adalah sebesar 0.24% dengan standar deviasi sebesar 1.08%. Deviasi yang cukup lebar ini menandakan volatilitas yang tinggi juga pada bulan Januari. Median Return IHSG di bulan Januari secara umum ada di angka 0.267%.

Apabila dilihat Return IHSG pada January Effect maka Mean Return ada di angka 0.83% dengan standar deviasi 0.69%. Standar deviasi lebih kecil karena nilai Return-nya tidak ada yang negatif (January Effect only). Median Return pada January Effect dari sejak 1995 adalah sebesar 0.6%.

Dengan porsi terjadinya January Effect sebesar 65.3%, Mean sebesar 0.8% dan Median sebesar 0.6%, The Primary Trader meyakini peluang terjadinya January Effect di tahun 2021 cukup besar.

Ada Pengaruh dari Bulan Desember ?

The Primary Trader ingin mencoba melihat apakah pergerakan di Januari dipengaruhi oleh pergerakan di Desember sebelumnya. Menggunakan korelasi antara pergerakan Januari (dari Januari 1995) dengan Desember (dari Desember 1994) diperoleh angka 0.412%. Berikut adalah Scatterplot Return IHSG antara bulan Desember dengan Januari :

Angka korelasi sebesar 0.41% adalah relatif kecil dan dari grafik pun terlihat tidak ada pengaruh yang kuat antara Return bulan Desember dan Januari. Dengan demikian, meskipun IHSG naik sebesar 6.53% di Desember 2020, karena tidak ada korelasi kuat, IHSG tidak berarti akan mencatat January Effect di Januari 2021.

Chart Coal Jelas Menunjukkan Bullish Namun Secara Logika Meragukan

Seorang Analis Teknikal yang fokus kepada pergerakan objek Analisis Teknikal (Close + Volume + Open Interest) memiliki keuntungan namun juga kekurangan. Salah satu kekurangan utama adalah Analis Teknikal akan kesulitan mencari penyebab pergerakan harga dan sering terjebak pada pergerakan palsu yang tidak logis. Namun keuntungannya adalah dapat mengurangi noise dari informasi yang kebanyakan tidak penting dan tidak signifikan berpengaruh.

Coal Mulai Bullish

The Primary Trader melihat chart Coal Newcastle dan jelas dapat disimpulkan bahwa Coal Newcastle sedang di awal Uptrend untuk jangka panjang (!). Setelah Breakout USD70, Coal Newcastle setidaknya dapat naik menuju USD95 – USD100. Memang secara Very Long Term (Secular Trend) dari sejak tahun 2011, Coal Newcastle masih dalam Secular Downtrend. Namun dengan Breakout USD70, Coal Newcastle masih sangat mungkin mengawali Uptrend jangka panjang menuju USD100 – USD105 (dalam 1-2 tahun ke depan).

Salah satu penyebabnya tentu karena Investor memperkirakan ekonomi dunia kembali bergerak dan karena teknologi belum terlalu maja maka batubara masih digunakan sebagai pembangkit listrik terutama di negara – negara berkembang (dan negara produsen) seperti China, India termasuk Indonesia. Terlebih lagi diberitakan bahwa China sedang bersitegang dengan Australia yang banyak mengekspor Coal ke China maka ada kekurangan suplai Coal ke China (yang mana dapat ditutupi oleh Indonesia). Menurut The Primary Trader, normalisasi ekonomi dunia di tahun 2021 dan ketegangan China – Australia akan menjadi katalis kenaikan Coal.

Green Investment Trend Akan Menekan Kenaikan Coal

The Primary Trader percaya bahwa dengan kemajuan teknologi dan kesadaran masyarakat dunia, kebutuhan Coal (dan bahan bakar fosil lain) perlahan akan berkurang. Dalam jangka pendek, Investor mulai mengambil perannya dengan tidak berinvestasi kepada bisnis atau emiten yang tidak ramah lingkungan. Dengan kata lain, Investor semakin giat untuk berinvestasi pada Green Business atau The Primary Trader lebih suka menggunakan istilah ESG Investing.

Esg assets as percentage of total

Diperkirakan pada tahun 2021, aset investasi yang berlabel ESG (Environment, Social and Governance) dapat mencapai 50% dari total aset kelolaan dan 10 tahun ke depan mencapai 95% – yang berarti hampir semua Investor hanya dapat berinvestasi pada aset yang ber-ESG.

Oleh karena itulah, The Primary Trader meragukan potensi kenaikan harga Coal Newcastle menuju USD95 – USD110 dalam 12 bulan ke depan. Dan disitulah kekurangan seorang Analis yang mencoba menjadi Generalist.

Combining Them All

Apabila menggunakan dasar Dow Theory, Volume Must Confirm The Trend. Lebih jauh mengenai pembahasan teori tersebut, Volume (dalam hal ini Investor) harus berbondong – bondong membeli Coal Newcastle agar harganya tetap naik (dan mempertahankan Uptrend). Tentu Investor harus memiliki alasan yang logis.

The Primary Trader melihat dalam jangka pendek – sampai ditemukan cara menghasilkan energi yang murah dan ramah lingkungan – harga Coal masih akan naik menuju USD100 dalam waktu 3-6 bulan ke depan. Dalam jangka panjang, tidak banyak lagi Investor yang berinvestasi pada Non-ESG Investment sehingga kenaikan harga Coal Newcastle akan tertahan dan kemudian kembali turun.

In the meantime, Sektor Coal tentu layak diperhatikan.

Bukti Validitas IHSG Breakout ~5,500 Sebagai Awal Uptrend Jangka Panjang

Resistance di ~5,500

IHSG telah berhasil Breakout Resistance penting di 5,550. Seperti yang terlihat pada grafik di bawah, level ~5,500 adalah level signifikan sejak tahun 2015 karena beberapa kali menjadi Resistance dan Support. Breakout level 5,500 seperti saat ini seharusnya memberikan indikasi yang signifikan positif pada IHSG.

IHSG berhasil Breakout ~5,550 pada pertengahan November 2020.Menjelang akhir November 2020, terjadi penurunan drastis (hampir -3% dalam sehari) yang menyebabkan IHSG dari 5,600 kembali menyentuh level 5,550. Belakangan diketahui bahwa penurunan tersebut dikarenakan Hacking yang membuat berita negatif signifikan di September 2020 kembali muncul sebagai berita terbaru.

Breakout dan Throwback

The Primary Trader melihat penurunan tersebut sebagai bagian dari Throwback atau penurunan paska Breakout Resistance. Level 5,550 yang sebelumnya menjadi Resistance, pada saat Throwback menjadi Support. Dan karena IHSG tetap bertahan di atas 5,550 maka dapat dikatakan Support tersebut terbukti kuat menahan IHSG sehingga Throwback dapat dikatakan Valid.

The Primary Trader meyakini Throwback menunjukkan Validitas Breakout. Dengan demikian, IHSG telah Breakout dengan meyakinkan sehingga kesimpulan utamanya adalah bahwa IHSG memasuki fase Uptrend jangka menengah dan panjang. The Primary Trader cenderung melihat sebagai Breakout 5,550 adalah awal dari Uptrend jangka panjang IHSG untuk membuat New All Time High.

Validitas Breakout

Validitas Breakout dapat dilihat dari pergerakan OHLC serta Volume atau Value pada saat Breakout. Menggunakan data Laporan Statistik mingguan dari IDX, terlihat bahwa pada tanggal 10, 11 dan 12 November 2020, Value transaksi IHSG sangat besar (Rp15 – 16 triliun per hari). Frekuensinya pun mencapai 1 juta transaksi dari normal sekitar 800 – 900 ribu transaksi. Hal ini menambah indikasi Validitas Breakout.

Karena IHSG sendiri adalah Indeks yang terdiri dari konstituennya maka sudah seharusnya konstituen IHSG pun naik – terutama saat Breakout. Berikut adalah Return saham – saham Biggest Cap IHSG dari November 2020 :

Terlihat bahwa pada tanggal 10 – 12 November, saham ASII, TLKM, BBRI menjadi pengangkat utama IHSG. Saham – saham lain pun telah sebelumnya mendukung seperti BBCA dan BMRI. Dengan adanya kenaikan Big Cap tersebut tentu menandakan kenaikan IHSG disebabkanya oleh adanya Big Money yang masuk. Dan The Primary Trader meyakini hal tersebut memperkuat bukti bahwa IHSG telah secara Valid Breakout Resistance ~5,500 dan memulai Uptrend jangka panjang untuk membuat New All Time High.

Semoga.

Market Breadth Model Untuk Menilai Potensi Koreksi Dalam Waktu Dekat Pada IHSG

Photo by Pixabay on Pexels.com

Market Breadth di dalam Analisis Teknikal memiliki makna berapa banyak saham yang berpartisipasi dalam satu tema tertentu dan memberi dampak terhadap pergerakan indeks. Umumnya, metode Market Breadth menganalisis berapa banyak saham yang naik dan turun. The Primary Trader ingin menganalisis Market Breadth IHSG dengan berbagai macam tema. Saham – saham yang dianalisis adalah saham yang tergolong IDX80.

Sinyal AlertBuyNow Dari Stochastic Oscillator

The Primary Trader menghitung kondisi Stochastic Oscillator dan sinyalnya dari saham – saham IDX80. Berikut adalah grafiknya :

IHSG hampir didominasi oleh saham yang Overbought di awal November 2020 lalu. Namun seiring waktu, saat ini kondisi IHSG berdasarkan Market Breadth dari indikator Stochastic Oscillator cenderung netral dan The Primary Trader tidak melihat ancaman tertentu dalam waktu dekat terhadap IHSG.

Investor Asing Semakin Banyak Membeli Beragam Saham

Grafik di bawah adalah Net Buy Sell Asing terhadap saham – saham IDX80 atau Market Breadth Net Buy Sell Asing :

Dapat disimpulkan bahwa Investor Asing mendominasi Buy di awal November 2020 sampai saat ini. Ada potensi Net Sell Asing terhadap mayoritas saham IDX80 dalam waktu dekat namun sangat mungkin Investor Asing masih akan mempertahankan Net Buy – setidaknya untuk jangka pendek. The Primary Trader ingin menyukai fakta bahwa semakin banyak saham IDX80 yang mencatat Net Buy dalam 20 hari terakhir.

Terhindar Dari Overshoot Versi Bollinger Band

Di minggu ke-dua November 2020, IHSG berada dalam kondisi yang rawan karena mayoritas saham IDX80 ada di atas Upper Band. The Primary Trader menyebut kondisi tersebut dengan Overshoot. Saat Overshoot, suatu aset rawan terkoreksi dalam jangka pendek (turun untuk masuk kembali ke dalam Bollinger Band). Namun karena berhasil berada di atas Upper Band maka sudah pasti saham yang Overshoot berarti berada di atas Middle Band alias Moving Average 20. Dengan demikian, meski ada potensi turun dalam jangka pendek, saham yang Overshoot berarti berada dalam Uptrend atau di atas MA20.

Penurunan IHSG tanggal 9 dan 12 November 2020 merupakan ‘normalisasi’ agar saham – saham IDX80 kembali ke rentang Upper dan Lower Band. Saat ini, saham IDX80 berada di bawah level aman (20 saham dari 80 saham) sehingga The Primary Trader melihat masih ada potensi kenaikan bagi IHSG.

Mayoritas Saham IDX80 Berada Di Atas MA200

Dalam ilmu dasar Analisis Teknikal, bila suatu saham berada di atas MA200 maka dapat disimpulkan saham tersebut bersiap atau sudah berada dalam Uptrend jangka panjang. Hal ini karena Investor memperhatikan level MA200 atau rata – rata dalam setahun terakhir.

Oleh karena itu, The Primary Trader paling menyukai fakta bahwa 72 saham IDX80 saat ini berada di atas MA200 (!). Dari fakta ini dapat disimpulkan bahwa IHSG secara garis besar bersiap atau sudah berada dalam Uptrend jangka panjang.

Kesimpulan

IHSG telah naik sebesar 8.3% sepanjang November 2020 atau rata – rata 0.64% per hari. Hal ini cukup tinggi dan cepat sehingga memang IHSG rawan terkoreksi. Terlebih lagi, Stochastic Oscillator periode 5 hari sudah memasuki area di atas 80 yang berarti Overbought.

Namun perlu diingat bahwa dalam kondisi Uptrend, Stochastic Oscillator (dan Momentum Indicators lainnya) sangat mudah berada di atas Overbought. Beberapa Trader yang berpengalaman justru baru akan membeli atau meng-akumulasi ketika Momentum Indicators berada dalam kondisi Overbought.

Saat ini Stochastic Oscillator mengindikasikan Buy Now karena terjadi Golden Cross antara %K dengan %D. The Primary Trader akan mewaspadai koreksi jangka pendek pada IHSG bila muncul sinyal Warning Sell dimana momentum kenaikan %K berkurang dan %K semakin mendekati %D dari atas ke bawah.

Dengan demikian, The Primary Trader perkirakan koreksi pada IHSG belum akan terjadi di minggu ini. The Primary Trader akan mewaspadai koreksi IHSG pada akhir November 2020. Namun tentu perlu juga diperhatikan berita – berita yang berasal dari global dan domestik yang dapat berpengaruh signifikan dan muncul secara tiba – tiba.

Semoga terinspirasi.

Net Buy Asing Dan Saham Pilihan

The Primary Trader mencoba melihat pergerakan Investor Asing terhadap IHSG. Seiring dengan Investor Global bersiap masuk ke Asia termasuk Indonesia, ada beberapa peluang yang menarik menurut The Primary Trader.

Masih Dalam Tren Net Sell Asing

Investor Asing mulai Net Buy cukup signifikan pada IHSG sejak awal November 2020. The Primary Trader mencatat Net Buy Asing sebesar Rp 5.6 triliun dari November 2020.

Namun demikian, angka tersebut masih sangat kecil sekali dibandingkan Net Sell sebesar Rp 57.8 triliun dari awal tahun 2020. Dengan demikian, tren Net Buy Sell Asing masih belum beruah yaitu tren Net Sell.

Net Buy Asing Pada Saham IDX80

The Primary Trader memilih saham – saham IDX80 yang sudah mencatat Net Buy Asing dalam 5 dan 20 hari terakhir. Dengan demikian, Net Buy tersebut bukan merupakan Investor Asing yang “telat” masuk.

Berikut adalah grafik Net Buy Asing dalam 1 dan 5 hari terakhir :

Terlihat bahwa saham BBCA sangat jauh mencatat Net Buy Asing dibandingkan saham – saham IDX80 lain. Hal ini dapat dimaklumi karena Market Weight BBCA sangatlah besar dengan fundamental yang sangat kuat sehingga Investor Asing (maupun Investor Institusi lain) yang berinvestasi dengan dana banyak pasti harus membeli BBCA.

Dari grafik di atas, masih terlihat ada 3 saham yang Outlier yaitu MDKA, ASII dan BBRI. Dari 3 saham tersebut, hanya MDKA yang patut dicatat karena merupakan saham Small – Medium Cap yang memang memiliki “Good Investment Story”. Selain itu, ketidakpastian dianggap masih ada ditengah Pandemi Covid-19 dan berita 2 vaksin besar yang diyakini aman. Dengan demikian, berinvestasi emas atau emiten produsen emas masih dapat dipertimbangkan. Oleh karena itulah MDKA memang wajar menjadi incaran Investor termasuk Investor Asing.

Bila ketiga saham Outlier tersebut dikeluarkan maka saham – saham IDX80 yang mencatat Net Buy Asing dalam 5 dan 20 hari terakhir adalah sebagai berikut :

Dari grafik di atas, The Primary Trader melihat saham SMGR, SMSM, MYOR, KLBF, BBTN dan INTP mendapat sinyal AlertBuyNow. Dengan demikian, dapat dipertimbangkan untuk transaksi besok (18 November 2020). Dari saham – saham tersebut, ada beberapa saham yang menarik menurut The Primary Trader.

BBTN : Potensi Inverted Head And Shoulders

BBTN mencatat Downtrend sejak awal 2018. Namun Down Trendline yang menandakan Downtrend tersebut telah di-Breakout pada awal November 2020 lalu. Dengan demikian, sangat besar peluang BBTN untuk mengakhiri Downtrend jangka panjang dan tentu berpotensi memulai Uptrend jangka panjang.

The Primary Trader pun melihat BBTN membentuk Bullish Reversal (Inverted Head and Shoulders). Volume pada saat Right Shoulder secara signifikan lebih tinggi dari sebelumnya yang menunjukkan kondisi yang ideal. Dengan demikian, selain Breakout Down Trendline-nya berarti valid, pembentukan Right Shoulder pun valid yang ikut memvalidasi Inverted Head and Shoulders.

Paska Breakout Rp1,400, BBTN berpotensi mengawali Uptrend jangka panjang dengan target minimum di Rp2,400. Perlu dicatat bahwa level Rp2,000 – Rp2,100 sangatlah signifikan melihat pergerakan BBTN sejak tahun 2010.

KLBF : Long Term Bullish Continuation (!)

Melihat pergerakan KLBF dari sejak tahun 2015, terlihat Downtrend jangka panjang yang mungkin tidak menarik – kecuali dalam jangka pendek kemarin dimana KLBF berhasil naik dari 86% dari Rp830 menuju Rp1,600. Namun The Primary Trader menyukai potensi KLBF dalam jangka (sangat) panjang sekali.

Apabila dilihat menggunakan Monthly Chart dan Line Chart maka KLBF akan terlihat sebagai berikut :

Chart KLBF di atas terlihat seperti Bullish Continuation dari sejak tahun 2014. Sideways sejak 6 tahun terakhir terindikasi berpotensi melanjutkan kenaikan dari sejak tahun 2008 (!) dari Rp100an sampai Rp1,900an. Sambil berangan – angan, KLBF berpotensi naik menuju Rp3,400 (dalam jangka 5 – 10 tahun ke depan) setelah Bullish Continuation-nya divalidasi dengan Breakout di level Rp1,600an.

MYOR : Uptrend Belum Selesai

MYOR adalah cerita saham yang telah Breakout Long Term Down Trendline (dari sejak Juli 2018) di Rp2,100 pada April 2020 lalu sehingga sampai saat ini MYOR masih berada dalam Uptrend. Potensi terdekat MYOR ada di Rp2,700 namun melihat Breakout April 2020 lalu, ada potensi MYOR menuju Resistance di kisaran Rp2,900 yang merupakan level signfikan pada Maret – Juli 2018.

Semoga terinspirasi.

Menakar Potensi Penguatan Rupiah

Rupiah Menguat 6% Dalam 30 Hari

Rupiah saat ini berada di level Rp14,135 setelah di bulan September 2020 berada mendekati Rp15,000. Setelah UU Omnibus Law disahkan di awal Oktober 2020, Rupiah yang saat itu berada di Rp14,700 langsung menguat mendekati Rp14,000. The Primary Trader melihat masih ada katalis yang dapat mendorong penguatan Rupiah antara lain sebagai berikut :

  1. Disahkan Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) yang merupakan perjanjian dagang Asia Pasific dengan nilai ekonomi terbesar di dunia. Tentu Indonesai termasuk di dalam RCEP ini.
  2. Kemenangan Joe Biden sebagai Presiden AS yang diharapkan mendorong pertumbuhan ekonomi global dengan AS (dan China) sebagai motornya
  3. Vaksin Covid-19 dari Pfizer dan Moderna yang disebutkan aman dengan tingkat keberhasilan 90% dan 94%

Potensi Penguatan Rupiah Secara Analisis Teknikal

Penguatan Rupiah yang terlalu cepat terbukti tidak baik bagi Indonesia dan Bank Indonesia pun akan mengambil langkah untuk mengerem laju Rupiah. Oleh karena itu, dalam jangka pendek sampai menengah (3-6 bulan ke depan), The Primary Trader perkirakan Rupiah dapat menguat sampai Rp13,600 – Rp13,800.

The Primary Trader melihat level Rp13,600 adalah level signifikan bagi Rupiah sejak tahun 2016 karena level ini menjadi Resistace selama 2 tahun (!). Setelah Breakout Rp13,600 di awal 2018, Rupiah melemah (terhadap US Dollar) sampai Rp15,200. Level ini kemudian dilewati karena Pandemi Covid-19 karena di tahun 2020, Rupiah melemah sampai Rp16,600.

Support di Rp13,800 adalah Up Trendline Rupiah dari sejak akhir 2016 tersebut. Up Trendline ini menunjukkan secara jangka panjang, Rupiah masih berada dalam tren melemah terhadap US Dollar (atau chart USDIDR masih dalam Uptrend).

Peluang Penguatan Rupiah Di Bawah Rp13,600

Melihat historis, Rupiah memiliki level signifikan di Rp12,300, Rp12,900 (dan Rp13,600). Apabila ternyata Rupiah berhasil turun di bawah Rp13,600, Support berikut yang menahan penurunan USDIDR ada di Rp12,900 lalu berikutnya di Rp12,300.

Menurut The Primary Trader, agar Rupiah dapat turun di bawah Rp13,600, kekuatan UU Omnibus Law harus dijalankan dengan baik sehingga mendatangkan banyak investasi asing dan produksi dalam negeri meningkat. Mungkin agak terlalu muluk bila bermimpi Indonesia menjadi negara eksportir seperti negara maju (atau negara berkembang seperti Korea Selatan dan China). Tapi setidaknya, bila Indonesia berhasil mengurangi impor barang “remeh”, Rupiah sudah hampir dipastikan dapat menguat. Tentu penurunan impor yang diharapkan bukan karena Global Lockdown atau PSBB seperti yang terjadi saat ini karena Pandemi Covid-19.

Indonesia Balance of Trade

This Time For Asia

Sekilas teringat theme song Piala Dunia Afrika Selatan tahun 2010 yang dinyanyikan Shakira. The Primary Trader melihat MSCI Index Emerging Market Asia (EEMA) berhasil Breakout Highest Level di 2018 sehingga membuka Uptrend baru untuk jangka panjang. Tentu Indonesia (IHSG) termasuk di dalam EEMA ini.

Dengan membandingkan dengan MSCI All Country World Index (ACWI) sehingga terbentuk Ratio Chart EEMA – ACWI, terlihat bahwa EEMA berpotensi Outperform ACWI dalam jangka menengah – panjang menuju level tertinggi di tahun 2018.

Mungkin dapat dikatakan kondisi bursa saham Asia akan seperti ketika Presiden Trump tidak melakukan Trade War dengan China. Selain itu, katalis utama lainnya adalah mulai berlaku Regional Comprehensive Economic Partnership agreement (RCEP).

Regional Comprehensive Economic Partnership - Wikipedia

Karena dibandingkan dengan ACWI yang mewakili bursa saham secara global, maka dapat dikatakan tahun 2021 adalah saatnya bursa saham Asia menjadi incaran.

Tsamina mina eh eh
Waka waka eh eh
Tsamina mina zangalewa
This time for Africa Asia

Ancaman dan Harapan Pada IHSG

The Primary Trader tidak terlalu yakin IHSG masih dapat turun menuju 4,400 namun bila melihat kondisi global maupun domestik, ada kemungkinan IHSG turun dan Breakdown Support 4,800 untuk menuju 4,400. Meski kurang kuat untuk membentuk pola Bullish Reversal, setidaknya The Primary Trader yakin, dengan kondisi saat ini, rasanya sudah sulit untuk turun menuju 4,000 (terlebih lagi menuju 3,900).

Meski demikian, The Primary Trader masih percaya ada harapan IHSG tidak turun di bawah 4,800 atau setidaknya turun mendekati 4,400 namun tidak Breakdown 4,400 tersebut. Dengan demikian, IHSG hanya turun sebesar -10% dari sejak PSBB ke-2 DKI Jakarta diumumkan. Tentunya penurunan mendekati 4,400 tersebut adalah sebagai 2nd Leg untuk menyempurkan pola Bullish Reversal IHSG seperti yang telah The Primary Trader tulis sebelumnya.

Market Breadth IHSG

Dari saham – saham IDX80, The Primary Trader mencatat ada 69 saham bergerak dalam kondisi Trading Value yang lebih kecil dari biasanya. Pergerakan harga tanpa Trading Value dapat dikatakan kurang valid. Investor / Trader dapat melihat ini sebagai bukti bahwa tidak banyak Minat atau Aktifitas sehingga pergerakan naik atau turun bukan berarti merupakan bagian dari Trend. Meski demikian, perlu diingat bahwa penurunan harga dapat terus terjadi tanpa Trading Value atau Volume (Falling On Its Own Weight).

Sementara dari sisi Stochastic Oscillator, 50 saham IDX80 mencatat kondisi Oversold dimana berarti penurunan dari saham tersebut berpotensi mulai terbatas (karena Jenuh Jual atau Minat Jual sudah terbatas). Akan tetapi, dalam kondisi Downtrend yang kuat maka akan sangat mudah ditemukan saham dengan kondisi Oversold tersebut (seperti pada kondisi di Februari 2020 – Maret 2020). Satu hal yang mungkin positif adalah mulai ada peningkatan saham – saham yang mencatat sinyal Alert Buy.

The Primary Trader sempat optimis mengingat di pertengahan September 2020, lebih dari 50% saham IDX80 yang mencatat 5D Return yang positif. Melihat historis 2 bulan terakhir, bila lebih dari 50% saham IDX80 mencatat 5D Return positif maka ada potensi IHSG naik 2-4 minggu ke depan. Akan tetap, tidak lama kemudian, justru lebih dari 50% saham IDX80 yang mencatat 5D Return yang negatif ^.^

Simple Traditional Indicators

Kembali menggunakan indikator tradisional pada IHSG, The Primary Trader ingin mencatat 2 ancaman pada IHSG (berdasarkan Ichimoku Kinko Hyo) yaitu adanya Red Cloud (yang telah muncul 2 minggu lalu) serta Breakdown Green Cloud (sejak 3 hari lalu). Dua hal ini mengindikasikan ancaman Downtrend namun terlihat ada Support kuat di 4,400 yang berasa dari Kumo-nya Ichimoku.

Ancaman kedua adalah adanya potensi Death Cross antara MA20 dengan MA60. Menggunakan MA60 Direction, ada potensi MA60 dalam waktu dekat akan bergerak ke bawah (turun) sehingga semakin memperjelas ancaman potensi penurunan IHSG yang mungkin dalam bentuk Downtrend (setidaknya Intermediate Downtrend atau Downtrend Jangka Menengah).

Harapan Pada IHSG

The Primary Trader melihat salah satu harapan IHSG terlihat pada kondisi Under-owned Asing. Bila tidak ada lagi Investor Asing yang mau jual, apakah Investor Domestik (katakanlah BPJS Ketenagakerjaan, Taspen atau Mandiri Manajemen Investasi) mau jual investasi sahamnya? Rasanya tidak.

Secara sentimen, The Primary Trader berhadap pada dua hal : Vaksin dan Omnibus Law. Semoga.

Market Dan Saham Pilihan 200921

Berikut materi dalam video :

Pembahasannya antara lain :

  • IHSG dan Market Breadth terhadap Saham di IDX80. IHSG berpotensi melanjutkan kenaikan sampe 2-3 minggu ke depan dilihat dari saham – saham IDX80 yang banyak mencatat Positive 5D Return
  • Technical Data Viz, termasuk Dandy Rotation. Sektor Tower dan Industrial Area masih menarik. Sektor Healthcare dan Auto sebaiknya diwaspadai
  • Chart (Saham) Pilihan : UNTR, INKP, ACES dan TBIG

Berikut video di Youtube :

Untuk Investor dan Trader yang ingin memahami Dandy Rotation, silahkan cek video di Youtube berikut :

Semoga bermanfaat.

PSBB Kedua DKI Jakarta = 2nd Leg Untuk Menyempurnakan Pola Bullish Reversal Pada IHSG

How Emergency Brakes Work - All Tech Automotive

9 September 2020, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengumumkan PSBB Total pada 14 September 2020. Hal ini membatalkan PSBB Transisi dan kembali mengulang PSBB seperti pada 10 April – 4 Juni 2020. Kebijakan Emergency Brake diambil karena laju pertumbuhan kasus aktif di Jakarta kembali meningkat selama PSBB Transisi dari awal Juni 2020. Kasus aktif terbukti melanda ketika dilakukan PSBB (selama April – Juni 2020).

Pada perdagangan 10 September 2020, IHSG langsung mencatat penurunan dalam dan di sesi 1, IHSG pun mengalami Emergency Break atau Trading Halt karena mengalami penurunan sebesar -5%. Penurunan tersebut terus terjadi sehingga di akhir sesi, IHSG tetap mencatat penurunan -5%.

Perlemahan IHSG sebenarnya sudah mulai terjadi pada dari akhir Agustus 2020 setelah IHSG gagal Breakout Resistance di 5,400an yang merupakan Resistance dari Fibonacci Retracement di level 61.8% (ditarik dari mid Januari 2020 – akhir Maret 2020). The Primary Trader melihat Resistance ini cukup penting (dan terbukti kuat) sehingga gagalnya IHSG untuk Breakout level tersebut mengindikasikan perlemahan dari kekuatan Uptrend sejak akhir Maret 2020. Meski tidak berharap adanya PSBB, tampaknya berita tersebut menjadi katalis penurunannya.

Berpotensi Sebagai Bagian Dari Bullish Reversal

Meskipun secara YTD IHSG masih mencatat negatif return yaitu sebesar IHSG sebenarnya -22.3% (thanks to penurunan -5% pada 10 September 2020), IHSG sendiri masih mencatat positive return sebesar 24% dari sejak akhir Maret 2020. Pada puncaknya di akhir Agustus 2020 lalu, IHSG bahkan sempat mencatat positive return sebesar 36% (sementara penurunan IHSG dari awal tahun 2020 sampai Bottom di 2020 adalah sebesar -37%). Artinya IHSG sendiri telah membalikkan kerugian yang terjadi akibat penurunan di awal pandemi global. Cukup lucu apabila melihat IHSG yang mulai naik justru di masa awal PSBB Total DKI Jakarta (awal April 2020).

Secara jangka panjang, dari sejak awal tahun 2018, IHSG masih berada dalam Downtrend (jangka panjang). IHSG tercatat mengalami penurunan sebesar -39% apabila dihitung dari All Time High (di tahun 2018 tersebut) sampai Bottom 2020.

IHSG gagal menguji Resistance kuat di area 5,400 – 5,550 yang terbukti menjadi level kritis sejak tahun 2015. Beberapa kali level tersebut menjadi Resistance kuat di 2H16 dan Support kuat di Mid 2018. The Primary Trader melihat cukup wajar apabila di tahun ini IHSG tidak mampu Breakout area Resistance tersebut dalam satu kali percobaan.

Karena Resistance tersebut cukup kuat dan mengingat IHSG kemungkinan sedang ingin membalikkan Downtrend Jangka Panjang yang telah terjadi sejak tahun 2018 maka The Primary Trader melihat diperlukan penurunan sebagai bagian dari persiapan untuk IHSG kembali menguji Resistance 5,400 – 5,550. Apabila kali ini IHSG ‘ingin’ berhasil maka The Primary Trader ingin melihat adanya pola Bullish Reversal yang kuat mengingat IHSG harus membalikkan Downtrend Jangka Panjang yang telah terjadi selama setidaknya 28 bulan (!).

Salah satu pola Bullish Reversal yang The Primary Trader sukai adalah Double Bottom. Namun bila IHSG sedang membentuk Double Bottom maka IHSG masih terancam turun sebesar -18% dari level saat ini (menuju level 4,000an). The Primary Trader percaya PSBB Total yang kedua kali ini memberikan dampak negatif yang relatif kecil dibanding PSBB Total yang pertama. Hal ini karena Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah dan (terutama) pelaku bisnis sudah lebih siap. Selain itu, masyarakat pun sudah mulai terbiasa tetap Spending secara Online yang tentu menolong untuk melakukan konsumsi (bahkan membeli mobil dan rumah secara online).

Salah satu harapan adalah IHSG masih turun -10% menuju Support di 4,400. Meski hanya turun -10% lagi, namun The Primary Trader melihat pola Bullish Reversal IHSG akan kurang kuat bila IHSG mencatat 2nd Bottom di 4,400an. Akan tetap, hal ini pernah terjadi (setidaknya) dua kali di tahun 2013 dan 2015. Kondisi Makro maupun Analisis Teknikal pada tahun tersebut memang tidak sama seperti tahun 2020 ini. Namun setidaknya hal ini memberikan harapan agar IHSG tidak turun lagi mendekati level 4,000.

Dimanapun Bottom kedua IHSG, The Primary Trader berharap Pandemi Covid-19 segera berlalu dan Vaksin dapat segera diberikan kepada masyarakat luas. Semoga.

Melihat Rencana Indonesia Di Tahun 2021

Presiden Joko Widodo dijadwalkan akan memberikan pidato kenegaraan dalam Sidang Tahunan MPR / DPR pada 14 Agustus 2020. Seperti biasa, pada pidato ini, Presiden akan mengumumkan RUU tentang APBN tahun depan yaitu tahun 2021 yang tentunya akan sangat berubah dibandingkan tahun – tahun sebelumnya. Hal ini karena adanya pandemi Covid-19 yang membuat banyak perubahan. Semua pemerintahan saat ini akan memikirkan 2 hal yaitu : 1) Kebijakan Countercylical untuk melawan ancaman resesi dan 2) Kebijakan penanganan kesehatan (penyediaan vaksin, obat – obatan, tenaga kesehatan). Dengan demikian, salah satu ciri khas pemerintahan Presiden Jokowi yaitu pembangunan infrastruktur kemungkinan akan berkurang di tahun 2021.

The Primary Trader ingin mencatat beberapa hal yang ingin didengar oleh Investor pada pidato tahun ini :

  • Anggaran Infrastruktur Tahun 2021
  • Anggaran Kesehatan Tahun 2021
  • Defisit APBN 2021
  • Kebijakan perpindahan Ibu Kota Negara (IKN)
  • Kelanjutan dari RUU Omnibus Law / Cipta Kerja
  • Rencana menarik Pelaku Bisnis yang ingin relokasi dari China

Pada 3Q20, Investor yang Forward Looking seharusnya sudah mulai meng-adjust dan men-discount kondisi tahun 2021 saat ini dimana tentunya diharapkan Pandemi Covid-19 akan berkurang atau berakhir karena diharapkan vaksin sudah mulai beredar.

Perlu diketahui bahwa meskipun pemerintah meningkatkan defisit dari 3% batas maksimum menjadi ~6%, pemeringkat efek internasional seperti Moody’s dan Fitch tetap mempertahankan rating Indonesia yaitu 2nd level Investment Grade dengan Outlook Stabil. Hanya S&P yang menurunkan rating Indonesia dari Stable ke Negatif.

Namun seiring dengan adanya Burden Sharing oleh BI dan BI menjadi Stand-by Buyer penerbitan obligasi dari pemerintah, risiko fiskal tampaknya berkurang sehingga mendapat respon positif dari pihak internasional.

Yield SUN 10Yr yang menjadi barometer pasar obligasi negara pun terus turun yang menandakan harga SUN terus naik. Ada pontensi Yield SUN 10Yr kembali ke level terendah sejak tahun 2018 yaitu 6.5% dalam waktu dekat.

Pada lelang obligasi 11 Agustus 2020, permintaan yang masuk untuk membeli Surat Utang Negara (SUN) adalah sebesar Rp106 triliun, salah satu yang tertinggi di tahun ini. Pada lelang kemarin pun menandakan Bank Indonesia mulai membeli SUN dengan skema Burden Sharing dimana salah satunya adalah BI akan mengembalikan kupon yang diterimanya kepada pemerintah. Tentu hal ini akan dapat menghemat fiskal pemerintah. Arguably, duet Perry Warjiyo sebagai Gubernur Bank Indonesia dan Sri Mulyani sebagai Menteri Keuangan adalah salah satu yang terbaik sepanjang sejarah negara Indonesia.

Semoga.

Money Flow menjadi katalis positif. akankah tetap bertahan ?

Pada empat bulan pertama tahun 2020, Rupiah melemah sebesar 22% terhadap US Dollar. Perlemahan dua bulan terakhir (Maret – April 2020) disebabkan karena Investor global khawatir akan kondisi dunia sehingga memilih untuk keluar dari Emerging Market, termasuk Indonesia dan bahkan aset – aset di Developing Market termasuk US. Bahkan Investor panic buying membeli obligasi negara maju meskipun Yield-nya sudah negatif. Harga emas dunia bahkan terus naik mencapai level tertinggi dari tahun 2012.

Sejak April 2020, IHSG dan SUN mulai naik sebesar 29% sampai awal Juni 2020 sementara Yield SUN10Yr telah turun dari 8.3% ke 7% yang membuat harga FR82 (Benchmark SUN 10Yr) telah naik dari harga 92% ke 99% (naik ~7.6%) . Penguatan dari harga saham dan SUN dapat dilihat dari penguatan Rupiah terhadap US Dollar yang dapat diartikan adanya Capital Inflow dari Investor Asing.

Pada April 2020, di saat Indonesia masih dalam lockdown (PSBB) dan dunia masih berpacu melawan Covid-19 dengan Lockdown, ada tren penguatan Rupiah serta aset saham US (yang diwakili oleh S&P500). Saat ini, Ekonom masih mengkhawatirkan terjadinya resesi global dan semakin percaya V-Shape Recovery tidak mungkin terjadi. Namun ada indikasi bahwa Covid-19 dapat dihadapi dengan baik tanpa perlu Lockdown ketat yaitu dengan Physical Distancing dan menggunakan masker non-medis (yang sudah banyak tersedia dengan harga murah). Saat itulah aset Safe Heaven seperti emas mulai melemah dan Risky Asset termasuk aset keuangan Emerging Market seperti Indonesia mulai menguat.

Money Flow dan Investor Asing memang sangat berpengaruh terhadap pergerakan aset keuangan di Indonesia. Oleh karena itu, dengan adanya Foreign Outflow pada 5M20 (dan sangat besar dibanding 10 tahun terakhir), maka wajar terjadi penurunan yang dalam pada saham dan obligasi. Namun perlu diingat bahwa secara historis, Foreign Outflow tersebut pada tahun berikutnya diikuti oleh Foreign Inflow – dan lebih besar dari sebelumnya.

Optimisme Masyarakat

Tidak banyak negara – negara yang masyarakatnya Optimis. Bila dilihat dari Consumer Confidence negara Asia Tenggara seperti Malaysia, Filipina, Thailand dan Vietnam, Indonesia relatif tinggi dan optimis. Indonesia relatif sama seperti Thailand namun mengingat sektor Tourism (yang sangat berkaitan erat dengan ekonomi Thailand) memerlukan waktu yang lama untuk Recovery maka tampaknya Consumer Confidence Thailand akan lebih lambat pulih dibanding Indonesia. Vietnam adalah salah satu negara yang berhasil melawan Covid-19 sehingga wajar Consumer Confidence-nya tinggi (dan bertahan di level tinggi).

Optimisme masyarakat yang baik akan sangat penting pada masa pelonggaran atau Re-Opening atau PSBB Transisi (yang sedang dijalankan di DKI Jakarta + Bodetabek). Saat ini mal – mal mulai kembali buka dan aktifitas ekonomi perlahan kembali diizinkan. Dengan demikian, tentu masyarakat mulai memperoleh pendapatan lagi yang sangat positif untuk perekonomian – dan harga saham serta SUN.

Survei yang dilakukan oleh Mandiri Sekuritas menunjukkan pada minggu pertama PSBB Transisi, mal yang High Class cukup banyak dikunjungi. Memang kemungkinan besar, berdasarkan survei Mirae Asset, masyarakat menengah ke atas yang akan tetap berkunjung ke mal namun masyarakat menengah ke bawah bukan berarti tidak berbelanja.

Peningkatan aktifitas masyarakat pada PSBB Transisi meningkat. Hal ini saja sudah dapat memberikan harapan bagi pekerja yang mengandalkan penghasil dari pergerakan masyarakat (seperti Driver Online, warung makan dan pedagang kaki lima). Oleh karena itu, ada potensi ekonomi Indonesia di 2H20 dapat tumbuh dan tidak seburuk yang dikhawatirkan.

Ekonomi Indonesia di 2Q20.

Berdasarkan estimasi, ekonomi Indonesia diperkirakan tumbuh 4.18% YoY di 1Q20 namun ternyata ekonomi Indonesia hanya tumbuh 2.97% YoY. Ekonomi Indonesia sendiri sudah dua kuartal turun (bila dibandingkan dua kuartal sebelumnya atau QoQ). Pada 4Q19, ekonomi Indonesia turun -1.74% QoQ dan di 1Q20 turun -2.41% QoQ. Secara historis, ada pertumbuhan di 2Q20 dan disinilah letak masalahnya.

Ekonomi di 1Q20 memang masih tumbuh (2.97% YoY) namun perlu diingat bahwa PSBB di DKI Jakarta baru berlaku awal April 2020 sehingga penurunan ekonomi di 1Q20 adalah dampak langsung dari Lockdown dari beberapa negara seperti China dan Uni Eropa. Memang di Februari 2020, pemerintah Indonesia juga melakukan Lockdown dan membatasi arus manusia namun belum ada penutupan tempat bisnis yang masif seperti penutupan mal dan kantor. Oleh karena itu, dampak PSBB terhadap ekonomi baru akan terlihat pada 2Q20.

Dengan demikian, tentu ada potensi pertumbuhan ekonomi di 2Q20 dapat turun lebih dalam lagi dan bahkan mencatat pertumbuhan negatif bila dibandingkan 2Q19 (YoY). Hampir pasti ekonomi Indonesia kembali mencatat pertumbuhan negatif dibanding 1Q19 (QoQ). Pemerintah Indonesia dan Bank Indonesia relatif cukup responsif dalam menghadapi ancaman tersebut sehingga The Primary Trader melihat adanya katalis positif.

Pemerintah Indonesia memang telah bersiap untuk menghadapi kondisi yang buruk dengan menaikkan Defisit Anggaran dari maksimal -3% menjadi -5.07% yang kemudian direvisi lagi menjadi -6.72%. Pemerintah juga bersiap memberikan stimulus terbesar sepanjang sejarah yaitu Rp405 triliun. Stimulus inilah yang diharapkan dapat meminimalisir dampak negatif dari langkah pencegahan penyebaran Covid-19 terhadap ekonomi.

Sampai 10 Juni 2020, pemerintah disebutkan telah menyebarkan stimulus sebesar 34% dari target. Salah satu stimulus terpenting yaitu pemberian kas kepada warga selain Jabodetabek meningkat dari Rp4 triliun di akhir April 2020 menjadi Rp12 triliun di Juni 2020. Pemberian THR kepada PNS, TNI dan Polri serta karyawan pun memberikan dukungan tambahan ditengah PSBB ini.

Senada dengan pemerintah, BI pun memberikan “stimulus”-nya dimana pada RDG Juni 2020, BI 7DRR Rate dipotong sebesar 0.25% menjadi 4.25%. BI telah mempertahankan BI 7DRR Rate selama dua bulan April dan Mei 2020 dengan alasan yang tepat yaitu untuk menjaga stabilitas serta mendukung PSBB pemerintah. Di bulan Maret 2020, BI sebenarnya telah memotong BI 7DRR Rate sebesar 0.25% dari 4.75% menjadi 4.5%.

Indonesia Interest Rate

Seiring dengan adanya pelonggaran PSBB (menjadi PSBB Transisi) serta diharapkan adanya perlambatan penyebaran infeksi Covid-19 dan niat pemerintah untuk perlahan mendorong perekonomian (dalam rangka menjaga penghasilan masyarakat), BI diperkirakan akan kembali memotong BI 7DRR Rate. Selain karena adanya kecenderungan BI terus melakukan Cut Rate berturut – turut, secara perbandingan, Yield Indonesia masih relatif menarik dibanding negara – negara berkembang lainnya.

Menunggu Foreign Inflow Setelah Indikator Analisis Teknikal Cenderung Positif

Seiring dengan perlemahan VIX yang menjadi indikasi risiko bagi Investor global (Investor US) maka S&P500 berpotensi terus naik. Bullish pada S&P500 secara langsung memberikan sentimen positif bagi bursa global termasuk Indonesia.

IHSG telah naik sebesar 27% dari akhir Maret 2020 sementara baru pada pertengahan Mei 2020 kenaikan IHSG diikuti oleh Foreign Flow. Memang Foreign Inflow dari Mei 2020 belum terlihat akan membalikkan tren Foreign Outflow yang telah terjadi sejak tahun 2017 namun setidaknya bila dibandingkan dari tahun 2020, ada harapan terjadi Net Foreign Inflow. Setidaknya di awal tahun 2020, Foreign Flow sempat Flat yang menandakan tren Foreign Outflow sempat tertahan (sehingga ada harapan pembalikan tren menjadi Foreign Inflow di awal tahun 2020).

Selain dilihat dari Foreign Flow, indikator lain yang bersifat Trend Following pun mengindikasikan hal yang positif pada IHSG.

Menggunakan indikator Ichimoku Kinko Hyo, IHSG sudah mulai berada di dalam Red Cloud setelah sejak awal tahun 2020 berada di bawah Cloud. Bahkan di awal Juni, IHSG sempat Breakout dan berada di atas Red Cloud. Meski kembali turun di dalam Red Cloud, IHSG masih membentuk Green Cloud yang mengindikasikan ada potensi Bullish dalam waktu dekat.

Menggunakan Moving Average 20, 60 dan 200, saat ini IHSG berada di atas MA20 dan MA60. Selain itu, MA20 pun sudah berada di atas MA60 yang mengindikasikan telah terjadi Golden Cross (pada awal Juni 2020). Indikator jangka panjang pilihan The Primary Trader yaitu selisih antara MA60 dengan MA200 menunjukkan Flat (sejak akhir Mei 2020). Hal ini menunjukkan peluang tren Bearish sudah berkurang. Worst Case Scenario untuk IHSG adalah bahwa IHSG bergerak Flat.

Semoga.

Menunggu Data Ekonomi 2Q20 Untuk Antisipasi Bottom

The Primary Trader sempat melihat potensi S&P500 untuk Breakout 2,950 dan memasuki potensi Uptrend. Namun melihat pergerakan kemarin dimana yang kedua kalinya S&P500 tertahan di 2,950 maka The Primary Trader kembali meyakini bahwa Downtrend masih akan terjadi.

Sampai kapan?

Timing Analysis tidak pernah mudah dan cabang Analisis Teknikal yang fokus pada Timing Analysis (seperti Astrology Trading, Gann atau Elliot Wave tidak mudah dipercaya Investor dan The Primary Trader tidak mendalaminya). Namun The Primary Trader mencoba mengemukakan potensi Bottoming Global Market termasuk IHSG di tahun 2020 ini dengan melihat Seasonality dan data ekonomi.

The Worst Has Yet To Come

Di pertengahan April dan Mei ini, Investor terkejut dengan data pertumbuhan ekonomi di 1Q20 yang mana terlihat dampak awal dari Pandemi COVID-19. Ekonomi China di 1Q20 turun -6.8% YoY, lebih dalam dari estimasi sebesar -6.5% YoY. Hal ini wajar karena China mulai Lockdown di akhir Januari 2020 atau bertepatan dengan Chinese New Year dimana terjadi mudik masal terbesar di dunia. Selain tidak ada konsumsi di berbagai kota, praktis aktifitas bisnis pun ditutup sehingga cukup wajar ada pukulan yang telak bagi ekonomi China di 1Q20.

Amerika Serikat yang sebenarnya baru mulai Lockdown di akhir Maret 2020 namun pada akhir Januari 2020 sudah mulai ada pembatasan terutama dari sisi imigrasi. Di akhir April 2020, data awal pertumbuhan ekonomi AS di 1Q20 turun sebesar -4.8% QoQ (di-annualized), jauh dari estimasi sebesar -4% QoQ. Ekonomi AS di 1Q20 hanya tumbuh 0.3% YoY, sangat jauh dari rentang 2.1% – 3.2% dari 2Q18 – 4Q19.

AS tampaknya adalah bukti bahwa apabila ekonomi China kurang baik maka negara lain pun demikian. China sebagai Supply-Side memegang peranan penting di era globalisasi ekonomi ini karena Impor China akan bahan mentah berperan sebagai pendapatan signifikan bagi ekonomi seperti Indonesia dan bahkan negara AS sendiri.

Indonesia sendiri pun mengalami pukulan karena di awal Mei 2020, BPS melaporkan ekonomi Indonesia hanya naik sebesar 2.97% YoY di 1Q20, terendah sejak 1Q01. Tentu hal ini jauh di bawah estimasi sebesar 4.04% YoY dan hal inilah yang pertama kali membuat ekonom (termasuk pemerintah) melihat potensi ekonomi Indonesia bisa negatif di akhir tahun. Artinya adalah nilai GDP Indonesia tahun 2020 bisa lebih rendah dari tahun 2019 (sebesar USD1,12 miliar). Indonesia sendiri pernah setidaknya 2 kali mengalami Resesi (penurunan pertumbuhan ekonomi dalam 2 kuartal berturut – turut) yaitu di antara tahun 2020 dan 2013.

Ekonom pun mulai melihat bahwa ini masih dampak awal Pandemi COVID-19 sehingga masih ada dampak lanjutan pada ekonomi di 2Q20. Oleh karena itu, pada awal Mei 2020, ekonom dan Investor mulai bersiap untuk kehilangan kesempatan adanya V-Shape Recovery pada ekonomi global.

Data GDP di 2Q20 : Potensi Bottom

Karena Investor mulai kehilangan harapan akan V-Shape Recovery, tentu Investor akan menunggu pengumuman GDP berikutnya di 2Q20 yaitu sekitar bulan Juli 2020 (China dan AS) dan Agustus 2020 (Indonesia). Data GDP 2Q20 akan menjadi pemicu apakah justifikasi Forward Looking Investor sudah benar.

Apabila ternyata GDP di 2Q20 lebih baik dari perkiraan, tentu hal ini akan menjadi Timing untuk mengakhiri Downtrend dan mengawali Uptrend. Apabila GDP di 2Q20 jauh lebih buruk dari perkiraan, The Primary Trader melihat pada akhirnya valuasi sudah akan murah sekali sehingga ancaman penurunan sudah relatif kecil. Pada saat itulah menurut The Primary Trader akan terjadi Bottom pada Global Market. Dua kondisi yang terjadi adalah “Better Than Estimate” bila GDP lebih baik dari estimasi atau “Underowned dan Very Undemanding Valuation” bila GDP lebih buruk dari estimasi.

The Primary Trader perkirakan masih akan ada penurunan karena shock terhadap GDP 2Q20 di US, China dan Indonesia (karena The Primary Trader ingin membahas aset investasi di Indonesia). Oleh karena itu, pergerakan di 2Q20 sampai 3Q20 (menjelang pengumuman GDP 2Q20 di bulan Juli dan Agustus 2020) akan sangat volatile. Namun menjelang atau pada 3Q20 tersebutlah seharusnya mulai ada indikasi Bottoming setelah semuanya ter-Priced In baik keburukan di 2Q20 maupun harapan di 2H20.

Seasonality

The Primary Trader ingin melihat pergerakan S&P500, Shanghai Composite dan IHSG secara kuartalan untuk melihat Seasonality dan fakta Bottoming ketiga indeks tersebut.

Bila dilihat pada Seasonal Plot S&P500, ada kecenderungan Bottoming di 3Q meskipun di beberapa tahun terakhir ini, kenaikan dari 3Q ke 4Q tidak setinggi di awal – awal tahun 2010an. Namun mengacu pada SubSeries Seasonal Plot, ada kecenderungan S&P500 naik (dari Bottom) pada 3Q untuk kemudian relatif Sideways pada 4Q.

Pada Shanghai Composite, Seasonal Plot menunjukkan kecenderungan terjadinya Bottoming (dengan peluang lebih besar) di 3Q untuk kemudian naik sampai 4Q. SubSeries Seasonal Plot pun menunjukkan kecenderungan untuk naik dari 3Q ke 4Q.

Untuk IHSG, Seasonal Plot menunjukkan peluang yang sama besar antara Bottoming di 2Q untuk naik ke 3Q dan Bottoming di 3Q untuk naik ke 4Q. Melihat SubSeries Seasonal Plot, IHSG cenderung bergerak dengan volatilitas rendah di 3Q dan hal ini menunjukkan kecenderungan terbentuknya Bottom (yaitu di 3Q). Berdasarkan garis rata – rata (garis biru), selisih antara rata – rata 2Q dengan 3Q tidak berbeda jauh. Dapat disimpulkan jalan tengah bahwa IHSG cenderung Bottoming di 2Q – 3Q (dua kuartal).

Kesimpulan

Bahayanya percaya prediksi berakhir Pandemi adalah membuat kita lengah dan terjebak untuk melonggarkan Lockdown atau PSBB lebih cepat dari kondisi aman. Hal tersebut dapat mengancam peningkatan kasus baru lagi. Dengan demikian, hal yang paling penting adalah menunggu relaksasi Lockdown atau PSBB setelah ada bukti bahwa kasus baru mulai melandai dan cukup jauh dari puncak.

Oleh karenanya, The Primary Trader lebih percaya untuk tidak melihat Peak dari New Case sebagai Timing To Entry karena pada akhirnya hal tersebut menjebak. Resesi dan Market Crash kali ini terjadi karena wabah penyakit dan selama wabahnya belum terkendali, tampaknya akan sulit untuk memprediksi Bottoming atau awal Uptrend.

Namun demikian, berdasarkan data (GDP 2Q20) dan Seasonality di atas, setidaknya perkiraan The Primary Trader bahwa Bottom akan terjadi di akhir 2Q20 atau 3Q20 juga merupakan harapan. Semoga.

IHSG : Bottom – Up Approach Mengindikasikan (Masih Ada) Ancaman Downtrend

IHSG terlihat Breakout dari Sideways sejak April 2020 yang menandakan potensi kenaikan menuju 5,700. Bila IHSG berhasil naik di atas Fibonacci Retracement 61.8% di 5,400 maka ancaman Downtrend berkurang dan IHSG berpotensi berada dalam Uptrend menuju (minimal) 5,700. Bahkan sangat terbuka kemungkinan IHSG kembali ke level 6,400 – 6,700. Hal ini berpotensi terjadi bila IHSG berhasil naik melewati 5,400 yang mana hal tersebut terjadi setelah IHSG Breakout 4,650 (Breakout Sideways sejak April 2020).

Breakout 4,650 tampaknya telah terjadi sejak akhir April 2020 namun sepanjang Mei 2020, IHSG terlihat kembali Sideways di level 4,500-an. Hal ini yang membuat The Primary Trader masih meyakini Downtrend belum selesai dan masih ada potensi penurunan sebagai One Last Drop untuk IHSG membentuk Bottoming atau Bullish Reversal Pattern.

Menggunakan pendekatan Bottom – Up Analysis, The Primary Trader ingin melihat saham – saham konstituen IHSG yang berpengaruh (Big Caps). Dapat disimpulkan bahwa saham – saham Big Caps tersebut relatif membentuk Bearish Continuation Pattern yang menunjukkan saham tersebut masih berpotensi Downtrend. Bila demikian maka seharusnya IHSG pun sedang bersiap kembali Downtrend.

Berikut adalah saham – saham dengan masing – masing kategori yang semuanya mengindikasikan kelanjutan dari Downtrend :

Descending Triangle (atau menyerupai) : BBRI dan BMRI

Symmetrical Triangle (atau menyerupai) : ASII, INTP, PGAS dan SMGR

Strong Down Trendline : HMSP, ICBP, GGRM dan UNTR

Saham – saham Big Caps di atas menunjukkan ancaman Downtrend atau segera kembali turun dalam Downtrend. Dengan demikian, IHSG tentu akan turun mengikuti saham – saham tersebut. The Primary Trader masih berhati – hati dan waspada.

UNPUB : Ekonomi Indonesia 1Q20 Turun Dalam Namun Dapat Menjadi Awal Suatu Dekade Baru.

Ekonomi Indonesia di 1Q20 turun -2.41% QoQ namun masih naik sebesar 2.97% YoY. Meski demikian, pertumbuhan ekonomi ternyata lebih rendah dari estimasi para ekonom. Hal ini tentu mengkhawatirkan karena dampak wabah COVID-19 sebenarnya baru terasa pada bulan Maret 2020, bulan terakhir di 1Q20. Oleh karena itu, ekonom tampaknya mengkhawatirkan masih ada ancaman penurunan yang lebih dalam lagi pada 2Q20 dimana terjadi PSBB di beberapa kota besar di Indonesia (di bulan April 2020, awal 2Q20). Selain itu, pada 2Q20 juga bertepatan dengan bulan Ramadhan yang menjadi puncak konsumsi masyarakat (karena tertolong dengan THR). Namun sekalipun dari Demand Side ada tapi bila Supply Side tidak ada, tampaknya Consumption akan relatif tidak naik sehingga ekonomi pun sulit tumbuh.

Aktifitas pabrik di Indonesia yang tercatat oleh PMI Manufacturing Index di bulan April 2020 jatuh ke level 27.5 (Maret 2020 : 45.3). Mulai terlihat tekanan di bulan Maret 2020 karena di bawah 50 namun bila melihat beberapa tahun terakhir, sejak tahun 2016, PMI Manufacturing Indonesia relatif hovering di level antara 47 – 53. Ada kestabilan dalam 4 tahun terakhir namun The Primary Trader melihat level ini menunjukkan industri manufaktur yang relatif jalan di tempat.

Ekonomi Indonesia di 1Q20 (awal dekade 2020 – 2030) mungkin mengulang level di tahun 2001 dimana pada saat itu ekonomi Indonesia hanya tumbuh sebesar 1.6% YoY di 4Q01. Setelah itu, ekonomi Indonesia tumbuh sampai 8 tahun ke depan.

The Primary Trader ingin optimis bahwa reformasi infrastruktur dan Omnibus Law dapat memperlancar pertumbuhan ekonomi terutama untuk mendorong Konsumsi Domestik (lewat UMKM). Memang banyak yang mengatakan Omnibus Law adalah UU yang tidak tepat namun The Primary Trader termasuk golongan yang percaya UU Sapu Jagad ini akan menjadi pemicu utama pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan terutama apabila aturan – aturan bisnis dapat disederhanakan. Tentu apabila ada kemudahan dari sisi ketenagakerjaan, The Primary Trader percaya UU ini akan semakin mendorong pertumbuhan ekonomi.

Apapun itu, semoga Indonesia semakin maju.

Salah Satu Yang Terdalam Di 25 Tahun Terakhir. Ekonomi AS Di 1Q20 Turun Tapi Ada Potensi Kenaikan Bursa Saham AS dan Global.

Ekonomi AS di 1Q20 turun sebesar -4.8% QoQ. Penurunan ini adalah salah satu yang terdalam di 25 tahun terakhir. Tentu hal ini adalah sebagai dampak Lockdown di berbagai State di AS yang baru dilakukan pada akhir Maret 2020 (!).

United States GDP Growth Rate

Seiring dengan terjadinya Lockdown, pengangguran mulai meningkat yang diindikasikan dengan banyaknya klaim pengangguran. Pada 2 minggu di pertengahan Maret 2020, klaim pengangguran langsung melonjak menjadi 9 juta orang. Dalam 5 minggu terakhir, sudah sebanyak 26 juta orang mengajukan klaim pengangguran yang mengindikasikan jumlah orang yang di-PHK. Angka tersebut merupakan yang terbesar sepanjang data klaim pengangguran. Bila terus berlanjut maka hal ini akan merubah tren tingkat pengangguran yang dalam tren turun sejak tahun 2010. Pada bulan Maret 2020, tingkat pengangguran sudah naik menjadi 4.4%.

Meski demikian, S&P500 tampaknya bergerak naik dan telah Breakout Fibonacci Retracement di 61.8% yang diproyeksikan ke bawah. Dengan demikian, masih ada ancaman S&P500 melanjutkan Downtrend (dengan potensi lebih dalam dari 2,200 – sampai kemarin ketika S&P500 berhasil (atau sedang) Breakout ~2,950 yang merupakan level Fibonacci 61.8%.

Dengan melewati Fibonacci 61.8% proyeksi ke bawah maka penurunan S&P500 ke depan adalah sebagai Tech. Correction dari Uptrend S&P500 yang dimulai dari akhir Maret 2020 di 2,190. Bila terjadi penurunan, The Primary Trader perkirakan akan berada di antara rentang Fibonacci Retracement 61.8% – 38.2% dengan proyeksi ke atas yaitu di ~2,500 – ~2,650.

Meski demikian, kenaikan S&P500 memang yang paling tinggi dibanding indeks AS lain seperti Russell2000, Dow Jones Industrial dan Transportation. Namun kenaikan S&P500 masih kalah dibanding Nasdaq100.

Di Nasdaq100, ada 2 saham yang saat ini sedang menarik (selain Amazon yang ada di S&P500) yaitu Gilead Science yang memproduksi obat Remdesivir dan Zoom Video Telecommunication yang membuat aplikasi Online Meeting Zoom.

Hal yang membuat positif pasar saham AS (dan mungkin pasar saham dunia dalam waktu dekat) adalah obat Remdisivir kemungkinan akan disetujui oleh FDA sebagai obat COVID-19, sesuai dengan pemberitaan CNN.

Semoga.

UNPUB : Pandangan IHSG Dengan Bollinger Band Complete Set. Ada Harapan!

IHSG + Bollinger Band : Segera Berada di atas Middle Band

Penurunan IHSG dari sejak awal April 2020 dapat dikatakan sebagai Tech. Correction bila dilihat dari kenaikan sejak akhir Maret 2020 (dari ~3,900). IHSG pun saat ini sedang terlihat naik untuk melewati Middle Band (MA20) yang saat ini di 4,595.

%BB : Uptrend Untuk Melewati >50

Hal ini didukung oleh %BB dimana sejak awal Maret 2020 telah bergerak naik dan terindikasi membentuk Uptrend. Ada potensi %BB segera berada di atas level 50 yang berarti IHSG berada di atas Middle Band.

Middle Band Direction : Mulai Mengarah Ke Atas

Middle Band Direction yang menunjukkan posisi arah pergerakan Middle Band atau MA20. Saat ini Middle Band Direction berada di angka positif yang artinya Middle Band sedang mengarah ke atas. Dengan mengarah ke atas maka ada indikasi IHSG akan Uptrend.

Bandwidth : Volatilitas Sedang Rendah

Bandwidth BB terlihat sedang turun dan dilevel yang relatif rendah. Hal ini menunjukkan volatilitas pergerakan IHSG sedang rendah. Dengan demikian, pergerakan IHSG (baik ke atas atau ke bawah) akan relatif tidak banyak (Less Volatile).

Bandwidth Histogram : Volatilitas Akan Meningkat

Bandwidth Histogram yang memperkirakan arah dari Bandwidth menunjukkan tren angka yang positif dari sebelumnya di angka negatif. Hal ini mengindikasikan adanya potensi pergerakan arah indikator Bandwidth. Bila indikator Bandwidth meningkat maka volatilitas akan meningkat. Indikator Bandwidth Histogram memperkirakan volatilitas IHSG akan meningkat.

Kesimpulan : Segera Rally

Ringkasan masing – masing indikator adalah sebagai berikut :

  • IHSG + Bollinger Band : Segera Berada di atas Middle Band
  • %BB : Uptrend Untuk Melewati >50
  • Middle Band Direction : Mulai Mengarah Ke Atas
  • Bandwidth : Volatilitas Sedang Rendah
  • Bandwidth Histogram : Volatilitas Akan Meningkat

Oleh karena itu, dapat disimpulkan IHSG berpotensi segera naik ke atas dengan volatilitas yang meningkat (Rally sebagai bagian dari Uptrend).

Pertanyaannya adalah, apakah Rally IHSG akan merubah Downtrend dari sejak awal tahun 2020 ?

The Primary Trader melihat pergerakan IHSG sejak April 2020 berada dalam pola Bullish Continuation yang sangat mungkin mengindikasikan kenaikan sejak akhir Maret 2020 (dari 3,900 ke 4,900) kembali terjadi. Ada potensi IHSG naik menuju 5,700 setelah Breakout 4,650 (dengan mengonfirmasi pola Bullish Continuation tersebut).

Namun untuk mengatakan akhir Downtrend dari sejak awal tahun 2020, IHSG perlu Breakout 5,400 dan The Primary Trader meragukan hal tersebut. The Primary Trader masih memperkirakan akan ada One Last Drop yang mengakhiri Downtrend dan memulai proses pembentukan pola Bullish Reversal.

Yield SUN10Yr Bersiap Kembali Naik Menuju 9%

Pada Selasa, 28 April 2020, Pemerintah melakukan lelang obligasi dan diperoleh total permintaan yang terus meningkat serta tertinggi sejak pertengahan Maret 2020.

Hal ini cukup bagus karena semenjak pemerintah mengumumkan rencana stimulus sebesar ~Rp400 triliun dan defisit anggaran mencapai -5.07%, pasar obligasi mencatat penurunan harga dan kenaikan Yield. Investor mengkhawatirkan akan terjadi suplai yang besar dari obligasi karena pemerintah akan menerbitkan Rp549 triliun surat hutang, lebih tinggi Rp160 triliun dari APBN2020 yang awal.

Indonesia sendiri akhirnya di Downgrade Outlook-nya oleh S&P dari Stable menjadi Negative. Artinya adalah ada potensi S&P menurunkan Rating Indonesia dari BBB menjadi BBB- dalam 12 bulan ke depan. Tentu hal ini karena adanya kenaikan defisit anggaran sebesar -5.07% dan dengan kehati-hatian dalam mengelola anggaran, ada harapan S&P menaikkan kembali Outlook-nya menjadi Stable.

Selain itu, pandangan Investor global terhadap Indonesia masih baik karena saat Pemerintah menerbitkan Pandemo Bond sebesar USD4.3 miliar, Yield yang diminta relatif rendah dibanding 5 tahun terakhir.

Meski demikian, dalam jangka pendek (1-2 bulan ke depan), The Primary Trader melihat potensi Yield SUN10Yr naik menuju 9%, melanjutkan tren kenaikan Yield dari 6.5% di awal Maret 2020. Tentu ada harapan Yield kembali ke level 7% – 7.5% di 2H20. Namun menurut The Primary Trader, hal tersebut akan sangat tergantung dalam kebijakan Pemerintah dan ketaatan masyarakat untuk mengendalikan wabah COVID-19 di Indonesia.

Semoga studi dari Singapore University of Technology and Design yang memperkirakan wabah COVID-19 berakhir di awal Juni 2020 benar.

Data Penting Yang Jarang Dilirik Investor : Laporan Statistik Bursa Efek Indonesia

Setiap periode (Weekly, Monthly, Quarterly dan Yearly), Bursa Efek Indonesia mengeluarkan laporan statistik perdagangan di bursa. Laporan tersebut dapat diunduh di website IDX. Menurut The Primary Trader, laporan tersebut sangat penting untuk diperhatikan karena mengandung Market Data yang relatif jarang ada bagi sebagian besar Investor (kecuali Investor Individu maupun Institusi yang telah berlangganan Bloomberg Desktop maupun Thomson Reuters / Refinitif atau Cogencies).

Mengacu dari laporan bulan Maret 2020, berikut adalah informasi yang The Primary Trader sangat penting : Kenaikan Trading Value

The Primary Trader melihat ada kenaikan Trading Value mulai dari 20 Maret 2020, seiring dengan kenaikan IHSG. Hal ini pertanda baik karena Uptrend harus didukung oleh Trading Value.

Rata – rata Trading Value harian IHSG di bulan Maret 2020 adalah sebesar Rp7.9 triliun, lebih besar dari Januari dan Februari 2020 sebesar Rp6.3 – Rp6.5 triliun. Hal ini pertanda bagus. Namun bila dilihat dari tahun 2019, angka Rp7.9 triliun relatif sangat kecil karena rata – rata Trading Value harian sepanjang tahun 2019 adalah sebesar Rp9.1 triliun sementara di tahun 2020 (sampai Maret 2020) hanyalah sebesar Rp6.9 triliun. Oleh karena itu, The Primary Trader masih belum melihat adanya kenaikan Trading Value yang dapat berpotensi membuat IHSG berada dalam Uptrend.

Namun tentu itu adalah data sampai akhir Maret 2020.

IDX juga mengeluarkan data mingguan dan The Primary Trader mengambil data transaksi harian di minggu 21-24 April 2020 sebagai berikut :

Terlihat bahwa ada kencenderungan Trading Value IHSG Flat di kisaran rendah yaitu Rp4.5 triliun. IHSG-nya sendiri pun relatif Flat sehingga kemungkinan besar menghapus potensi Uptrend di bulan Maret 2020.

Masih banyak data dan informasi lain yang terdapat pada Laporan Statistitk tersebut – terutama Monthly Edition-nya antara lain :

  • Financial Datas & Ratios
  • Jakarta Composite Index Activity

Semoga bermanfaat.