Invest In Health Then Wealth

Tulisan ini berbentuk pribadi sehingga kata “The Primary Trader” yang digunakan menggantikan kata “saya” tidak digunakan di dalam posting ini. Dengan demikian, kata “saya” kembali digunakan untuk mewakili penulis.

Sepanjang karir saya, investasi untuk meningkatkan kesejahteraan (alias kekayaan) melalui peningkatan aset menjadi perhatian utama. Saya mempelajari bagaimana Investor dapat mengembangkan dana investasinya di pasar modal terutama saham. Saya membantu klien individu maupun institusi bagaimana memilih aset investasi, kapan membeli atau menjual suatu aset, strategi seperti apa yang tepat digunakan pada suatu waktu serta cara mengatur dana investasi.

Posisi yang saya selama 10 tahun karir saya terbagi menjadi dua yaitu Analis Teknikal dan Manajer Investasi. Tentunya hal ini berbeda dengan Family Financial Planning namun saya dengan mudah mempelajari ilmu tersebut. Saya memahami bahwa sebelum memiliki dana investasi untuk dikembangkan di pasar modal, seseorang harus memiliki dana darurat (Contigency Planning) dan asuransi (Risk Management). Saya menggarisbawahi asuransi karena hal ini berkaitan dengan Wealth Protection. Sebaik apapun strategi Wealth Accumulation (Investasi) tidak akan ada gunanya bila Wealth Protection-nya lemah. Perhatikan bahwa Wealth Protection menjadi fondasi dasar terbesar dari diagram Wealth Creation and Management (Financial Planning).

Saya memahami hal tersebut sehingga sebelum memiliki rekening investasi sendiri (dimana Istri sudah diinformasikan username dan ID serta PIN agar memudahkan proses Wealth Distribution), saya menyusun program asuransi pribadi. Kebetulan saya dan Istri kerja serta mendapat program asuransi dari kantor dan asuransi kantor tersebut menjadi Asuransi Lapis Pertama.

Saya juga menggunakan asuransi yang preminya saya bayar pribadi dan menjadi Asuransi Lapis Kedua dengan asumsi apabila suatu saat nanti kantor kami tidak memiliki asuransi yang bagus atau malah kami tidak lagi menjadi pegawai kantoran maka asuransi pribadi ini sudah cukup murah premi-nya (karena dimulai ketika masih muda). Tentu sebagai warga negara yang baik, saya juga memanfaatkan program BPJS Kesehatan sebagai Asuransi Lapis Ketiga atau Last Resort.

Dengan demikian, saya merasa bahwa sebagai manusia, dari sisi Family Financial Planning, saya dan keluarga sudah cukup sesuai. Namun menjelang akhir tahun 2020, di saat pandemi Covid-19 masih merajalela, saya mempelajari hal penting yang juga masih merupakan bagian dari Familiy Financial Planning.

Health is not everything

But everything without Health is nothing

someone

Saya banyak melakukan investasi sesuai dengan diagram Wealth Creation and Management dan “membayar” mahal untuk menemukan fondasi terpenting yang belum ada di diagram tersebut. Fondasi ini seharusnya tetap masuk ke dalam diagram Wealth Creation and Management karena quote dari seseorang di atas.

Health Maintenance atau mempertahankan kondisi Sehat ternyata sangatlah penting karena pada akhirnya Wealth Protection (asuransi) adalah untuk melindungi aset yang ada setelah Wealth Accumulation. Namun demikian, saya rasa kita perlu berpikir sebelum mencari pihak yang membayar biaya ketika kita sakit, sebaiknya diri kita sendiri terlebih dahulu menjadi pihak untuk menghindari kita sakit.

Start Investment from Health Maintenance Fondation before Investment in Wealth Protection

The Primary Trader

UU Omnibus Law : Indonesia Is (Finally) Open For Business

The Primary Trader meyakini bahwa UU ini akan menjadi solusi masalah utama dan (salah satu) cara untuk Indonesia menjadi negara maju – dan keluar dari jebakan Middle Income Trap. The Primary Trader memang bukan ekonom namun setidaknya ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan kenapa The Primary Trader menyukai UU ini.

Lupakan Investor Besar. Investor Kecil Lokal (Termasuk The The Primary Trader) Pun Ingin Menjadi Pengusaha.

Penyederhanaan izin berusaha (membuat PT sampai label Halal) dapat mendorong makin banyak pengusaha resmi yang membangun badan hukum. Dengan demikian, seharusnya nanti makin banyak pengusaha kecil yang perlahan menjadi besar – dan membuka lapangan kerja.

Indonesia mungkin butuh 100 Investor besar yang berinvestasi triliunan Rupiah. Namun jangan lupa, kemunculan 1 juta Pengusaha yang memperkerjakan 10 orang dengan investasi Rp 10 juta berpotensi memiliki dampak yang lebih besar.

The Primary Trader rasanya bila ada ada kemudahan, Informal Employment dapat berubah menjadi Formal Employment (sementara Formal Employment pun tetap bertambah). Tantangan terbesar tenaga kerja Indonesia adalah banyaknya Labor Force dengan pendidikan Vokasi (SMK ?). Namun justru hal ini menjadi modal untuk bekerja menghasilkan sesuai – baik itu secara formal maupun informal. The Primary Trader rasa di UU Omnibus Law lah ada jawabannya.

PHK Adalah Bagian Dari Risiko Menjadi Karyawan. Lowongan Pekerjaan Yang Semakin Kecil Adalah Risiko Sebenarnya.

The Primary Trader sendiri adalah seorang karyawan yang saat ini bekerja di perusahaan asuransi lokal. Dengan pengalaman kerja 10 tahun, The Primary Trader telah bekerja di 10 perusahaan (!). Dalam satu tahun, The Primary Trader pernah pindah 3 kali. Dan hal tersebut pernah dua kali terjadi. Kondisi tersebut terjadi pada saat Booming di pasar modal.

Saat ini The Primary Trader merasa bahwa kondisi lapangan pekerjaan semakin berkurang. Dan dibanding PHK, The Primary Trader lebih mengkhawatirkan kondisi tersebut.

Bila di PHK ? Tentu akan semakin tinggi dorongan untuk berusaha atau mencari pekerjaan baru. Akan tetapi, bila sewaktu masih bekerja saja The Primary Trader tahu bahwa jumlah pekerjaan semakin berkurang, tentu The Primary Trader sudah khawatir – bahkan sebelum dan itupun jika The Primary Trader terkena PHK.

Tingkat pengangguran mungkin dalam tren turun (walau pasti meningkat karena Pandemi Covid-19 namun datanya belum rilis). Pada 1Q20, tingkat pengangguran Indonesia di level 4.99%, belum mencerminkan dampak Pandemi Covid-19. The Primary Trader lebih mengkhawatirkan Labor Participant Rate yang terus naik dari tahun 2015. Hal ini menandakan akan semakin banyak warga Indonesia yang produktif dan aktif mencari kerja. Tentu bila tidak tertampung (mendapat pekerjaan atau membangun usaha), hal ini akan menjadi problem – bukannya menjadi Bonus Demography.

Indonesia Labor Force Participation Rate

The Primary Trader rasa tidak akan ada aturan dari Pemerintah yang 100% sesuai dengan keinginan banyak pihak. Akan tetapi, setidaknya dengan UU Omnibus Law ini, ada tambahan harapan untuk perubahan bagi Indonesia. The Primary Trader juga bagian dari pihak yang masih mendapat gaji. Namun tentu ada keinginan untuk tidak seumur hidup menjadi pihak yang menunggu gaji bulanan.

The Primary Trader menyukai UU Omnibus Law karena berharap ada perubahan yang lebih baik untuk Indonesia. Semoga

The Day To (Re)Start

Happy New Year 2020 !

Photo by Rakicevic Nenad on Pexels.com

The Primary Trader mengucapkan Selamat Tahun Baru 2020. Semoga di tahun ini, IHSG mencatat Return yang lebih besar dari Return tahun 2019 sebesar 1.91%. Semoga di tahun 2020, IHSG berhasil mengikuti Return Developed Market seperti S&P500 yang mencatat Yearly Return 28.46% dan Nikkei225 sebesar 17.8%.

Di tahun 2020, The Primary Trader pun ingin lebih banyak berkontribusi memberikan opini dan pandangan serta berbagi pengetahuan mengenai investasi saham pilihan dan analisis teknikal. Menutup layanan Primary Trader Advisory, The Primary Trader akan lebih banyak menulis tulisan di website ini dan membaginya di media sosial khusus The Primary Trader. Silahkan bergabung untuk lebih cepat mendapatkannya.

Secara pribadi, di tahun 2019, The Primary Trader banyak mengasah ilmu dan dapat dikatakan ilmu tersebut belum sepenuhnya dipraktikan secara maksimal. Oleh karena itu, di tahun 2020, The Primary Trader bertekad untuk mempraktikan ilmu – ilmu tersebut.

Semoga apa yang The Primary Trader bagikan di website ini dan media sosial lainnya dapat berguna bagi semua yang membacanya.

Sebuah Awal

Photo by Anna Auza on Unsplash

The Primary Trader mencoba untuk berpikir ulang mengenai bisnis Primary Trader Advisory yang telah dijalani sejak tahun 2016. Setelah bermitra dengan sahabat di Bandung dan menjalankan bisnis yang sama secara mandiri, The Primary Trader akhirnya terpanggil untuk tetap melakukan yang sama namun kali ini bukan bisnis melainkan berbagi sebagai panggilan sosial.

The Primary Trader banyak membaca rekomendasi dan pembahasan saham (umumnya menggunakan analisis teknikal) yang menurut The Primary Trader kurang pas. Memang analisis serta tulisan yang ada pada Primary Trader Advisory selama pastinya bukanlah yang terbaik namun setidaknya The Primary Trader berani katakan bahwa analisis yang tercantum dan digunakan serta pemilihan saham pada Primary Trader Advisory dilakukan dengan dasar dan pertimbangan yang benar. Oleh karena itu, The Primary Trader rasa sangatlah baik dan membantu bila informasi yang sama diberikan kepada masyarakat luas serta Investor Ritel yang sulit mendapat akses informasi yang bagus.

The Primary Trader secara resmi akan memulai blog ini di 1 Januari 2020 namun per 10 November 2019 dapat dikatakan The Primary Trader mengadakan Soft Launching. Ditandai dengan posting tulisan ini serta perubahan theme di blog.