Trend&Pattern 210118 : IHSG Sudah Mahal ?

Dari sejak awal tahun 2021 IHSG telah naik sebesar 6.59%, IHSG sudah menyentuh Upper Bollinger Band bahkan sempat berada di atas (The Primary Trader menyebutnya Overshoot) dan RSI periode 14 mulai turun di bawah level 70 yang biasanya merupakan sinyal Sell. The Primary Trader ingin menjawab apakah IHSG sudah mahal dan akan mengakhiri Uptrend-nya menggunakan beberapa pendekatan Analisis Teknikal.

Complete Set Bollinger Band

Percentage BB memasuki level 84% setelah beberapa hari sebelumnya berada di atas level 100%. Artinya IHSG memang sempat berada di atas Upper Band dan terindikasi telah Overshoot. Namun perlu diingat bahwa Overshoot mengindikasikan adanya potensi penurunan jangka pendek ditengah Uptrend. Overshoot memprediksi akan ada penurunan lanjutan namun belum tentu merubah tren.

Bandwidth BB sedang naik yang kemungkinan merubah tren penurunan Bandwidth dari sejak akhir November 2020. Artinya ada potensi kenaikan Volatilitas dalam beberapa waktu ke depan. Memang volatilitas telah naik kembali dari sejak awal Januari 2021 setelah di akhir Desember 2020 cenderung Flat. The Primary Trader melihat Investor dan Trader mulai kembali aktif berinvestasi saham.

Dengan melihat Middle Band Direction yang masih positif (meski ada kecenderungan tren turun), The Primary Trader perkirakan IHSG masih akan mempertahankan Uptrend meskipun IHSG dapat turun mendekati 6,169 (Downside Potential ~3%).

Moving Average Techniques

Menggunakan analisis Moving Average periode 200 (MA200), terlihat bahwa saat ini IHSG ada di atas MA200 sebesar 19.5%. Secara visual, posisi mendekati 20% di atas MA200 cenderung menjadi rata – rata posisi relatif tertinggi IHSG terhadap MA200.

Berdasarkan indikasi posisi relatif terhadap IHSG, The Primary Trader menilai IHSG memang telah mahal. Namun MA200 baru saja secara resmi mengarah ke atas sejak awal Desember 2020 (MA200 Direction) sehingga The Primary Trader menilai Uptrend IHSG dalam jangka panjang (sesuai dengan karakterisik MA200) masih akan bertahan – meskipun IHSG bisa saja turun sebesar sebesar ~20% menuju level MA200 sebagai Support.

Menggunakan MA20 dan MA200 terhadap saham – saham IDX80, The Primary Trader melihat kenaikan IHSG dalam jangka pendek memang terancam tertahan karena semakin sedikit saham IDX80 yang berada di atas MA20-nya. Hal ini ditandai dengan garis biru (jumlah saham IDX80 yang berada di atas MA20) semakin turun dan berpotensi berada di bawah 40. Namun saham – saham IDX80 yang berada di atas MA200 masih tetap stabil di level > 70an sehingga The Primary Trader kembali meyakini potensi Uptrend IHSG belum terancam berakhir.

Sektor dan Saham Pilihan

Dari grafik “Trend and Momentum in Sectors” di atas, The Primary Trader menyukai sektor Retail, Residential, Oil&Gas, Precast, Mineral dan Pharmacy. Hal ini karena sektor tersebut berada di dalam Uptrend (Trend Meter > 50) sementara terindikasi netral (Momentum Meter di rentang 30 – 70).

Saham di sektor Industrial Area, Healthcare, FMCG, Telecom, Textile dan CPO dapat mulai diperhatikan karena sudah Oversold. Saham Construction, Paper dan Tol sebaiknya di waspadai karena Overbought, terlebih lagi sektor Construction yang sudah Overshoot.

Berdasarkan Dandy Rotation di atas (saham – saham IDX80 yang berada dalam kondisi Uptrend dan mendapat sinyal Buy), The Primary Trader menyukai KLBF, PTPP dan WSBP.

KLBF : Breakout Down Trendline Jangka Panjang

KLBF telah Breakout Resistance dari Down Trendline jangka panjang (dari sejak 2015) di level Rp 1,650an dan bahkan telah membentuk All Time High di Rp1,960. Dengan kondisi ini, The Primary Trader perkirakan KLBF setidaknya masih dapat naik menuju Rp1,960.

PTPP : Breakout Resistance

Walau sudah naik tinggi (dan curam) dari sejak November 2020 sebesar 149% (atau ~3% per hari), PTPP segera menguji Resistance di Rp2,250 yang menjadi level signifikan antara tahun 2017 dan 2019. Setelah Breakout Rp2,250, PTPP berpotensi naik menuju Rp2,700 yang merupakan level Resistance lanjutan.

Chart Coal Jelas Menunjukkan Bullish Namun Secara Logika Meragukan

Seorang Analis Teknikal yang fokus kepada pergerakan objek Analisis Teknikal (Close + Volume + Open Interest) memiliki keuntungan namun juga kekurangan. Salah satu kekurangan utama adalah Analis Teknikal akan kesulitan mencari penyebab pergerakan harga dan sering terjebak pada pergerakan palsu yang tidak logis. Namun keuntungannya adalah dapat mengurangi noise dari informasi yang kebanyakan tidak penting dan tidak signifikan berpengaruh.

Coal Mulai Bullish

The Primary Trader melihat chart Coal Newcastle dan jelas dapat disimpulkan bahwa Coal Newcastle sedang di awal Uptrend untuk jangka panjang (!). Setelah Breakout USD70, Coal Newcastle setidaknya dapat naik menuju USD95 – USD100. Memang secara Very Long Term (Secular Trend) dari sejak tahun 2011, Coal Newcastle masih dalam Secular Downtrend. Namun dengan Breakout USD70, Coal Newcastle masih sangat mungkin mengawali Uptrend jangka panjang menuju USD100 – USD105 (dalam 1-2 tahun ke depan).

Salah satu penyebabnya tentu karena Investor memperkirakan ekonomi dunia kembali bergerak dan karena teknologi belum terlalu maja maka batubara masih digunakan sebagai pembangkit listrik terutama di negara – negara berkembang (dan negara produsen) seperti China, India termasuk Indonesia. Terlebih lagi diberitakan bahwa China sedang bersitegang dengan Australia yang banyak mengekspor Coal ke China maka ada kekurangan suplai Coal ke China (yang mana dapat ditutupi oleh Indonesia). Menurut The Primary Trader, normalisasi ekonomi dunia di tahun 2021 dan ketegangan China – Australia akan menjadi katalis kenaikan Coal.

Green Investment Trend Akan Menekan Kenaikan Coal

The Primary Trader percaya bahwa dengan kemajuan teknologi dan kesadaran masyarakat dunia, kebutuhan Coal (dan bahan bakar fosil lain) perlahan akan berkurang. Dalam jangka pendek, Investor mulai mengambil perannya dengan tidak berinvestasi kepada bisnis atau emiten yang tidak ramah lingkungan. Dengan kata lain, Investor semakin giat untuk berinvestasi pada Green Business atau The Primary Trader lebih suka menggunakan istilah ESG Investing.

Esg assets as percentage of total

Diperkirakan pada tahun 2021, aset investasi yang berlabel ESG (Environment, Social and Governance) dapat mencapai 50% dari total aset kelolaan dan 10 tahun ke depan mencapai 95% – yang berarti hampir semua Investor hanya dapat berinvestasi pada aset yang ber-ESG.

Oleh karena itulah, The Primary Trader meragukan potensi kenaikan harga Coal Newcastle menuju USD95 – USD110 dalam 12 bulan ke depan. Dan disitulah kekurangan seorang Analis yang mencoba menjadi Generalist.

Combining Them All

Apabila menggunakan dasar Dow Theory, Volume Must Confirm The Trend. Lebih jauh mengenai pembahasan teori tersebut, Volume (dalam hal ini Investor) harus berbondong – bondong membeli Coal Newcastle agar harganya tetap naik (dan mempertahankan Uptrend). Tentu Investor harus memiliki alasan yang logis.

The Primary Trader melihat dalam jangka pendek – sampai ditemukan cara menghasilkan energi yang murah dan ramah lingkungan – harga Coal masih akan naik menuju USD100 dalam waktu 3-6 bulan ke depan. Dalam jangka panjang, tidak banyak lagi Investor yang berinvestasi pada Non-ESG Investment sehingga kenaikan harga Coal Newcastle akan tertahan dan kemudian kembali turun.

In the meantime, Sektor Coal tentu layak diperhatikan.

Memilih Sektor Yang Masih Berpotensi Naik Ditengah Kenaikan Drastis IHSG

Dari sejak Bottom di akhir Maret 2020, IHSG telah naik sebesar 44.7% atau sebesar 0.27% per hari (selama 160 hari perdagangan). IHSG sudah melewati Resistance penting di 5,500 dan 5,600 sehingga saat ini IHSG sedang menuju Resistance penting berikut-nya yaitu di 6,000.

The Primary Trader ingin mencoba melihat sektor yang masih dapat dipertimbangkan karena harganya masih belum terlalu naik atau belum Overbought.

Sector Multiple Return

Berdasarkan return dalam 1D, 5D, 20D dan YTD, terlihat hampir semua sektor naik tinggi terutama dalam 20D terakhir yaitu ketika IHSG naik drastis setelah sebelumnya Sideways di pertengahan Oktober 2020. Dalam 20D terakhir, hanya sektor Healthcare (MIKA dan SILO) yang turun. Namun demikian, sektor Healthcare dalam 5D terakhir tetap mencatat kenaikan. Ada harapan namun besar peluang sektor Healthcare sedang dalam Technical Rebound atau kenaikan di tengah Downtrend. Tampaknya Investor mulai meninggalkan saham dan sektor pandemi karena memperkirakan pandemi ini segera berakhir.

Berdasarkan data YTD Return, sektor Bank, Cement, FMCG, Mineral, Pharmacy dan Tower sudah mencatat Positive Return sehingga tentu sudah terlihat mahal. Masih banyak sektor lain yang mencatat YTD Negative Return dan The Primary Trader melihat hal ini sebagai opportunity yang masih tersedia (karena masih ada potensi Upside untuk sektor – sektor tersebut).

Beberapa sektor yang dapat dipertimbangkan karena mencatat 20D Positive Return namun 5D Negative Return adalah sektor Auto (ASII) dan Paper (INKP). Kondisi 20D Return yang positif sementara 5D Return yang negatif dapat dianggap sebagai Technical Correction atau penurunan sementara di tengah Uptrend.

Clustering Multiple Return Sector

Menggunakan K-Means Clustering, The Primary Trader membuat kluster Sektor berdasarkan kinerja Return dalam 1D, 5D, 20D dan YTD. Karena The Primary Trader menyukai sektor Auto dan Paper maka sektor yang dapat menjadi pilihan (karena serupa dengan kedua sektor tersebut) adalah Cluster 1 dan Cluster 3. Adapun sektor di Cluster 1 antara lain Oil&Gas, FMCG dan Healthcare dan Bank sementara sektor di Cluster 3 antara lain CPO, Retail, Telecom dan Multifinance.

Sector dan Multiple Timeframe + Multiple Indicators

Menggunakan data Stochastic Oscillator dan %B (sebagai perwakilan dari Bollinger Band) maka terlihat sektor – sektor yang Overbought dan Overshoot adalah Textile, Cigarettes, Media, Precast, Coal, Cement dan Oil&Gas. Sektor tersebut sebaiknya diwaspadai atau bersiap untuk Sell On Strength. Hal ini karena Upside sudah terbatas (Overbought) dan ada kecenderungan untuk turun di bawah Upper Band namun masih tetap Uptrend.

Sektor yang dalam kondisi terbaik (tidak Overbought namun dalam Uptrend) antara lain : Paper, Mineral, FMCG, Pharmacy, Retail, CPO, Toll dan Industrial Area serta Residential. The Primary menyukai Industrial Area, Residential dan CPO.

Semoga terinpirasi.

Sektor Telekomunikasi Berpotensi Outperform IHSG. EXCL Layak Menjadi Pilihan.

Ratio Chart Sektor Telecom dengan IHSG terlihat berada di Support dari sejak 2Q19. MA20-nya memang masih turun namun mulai melandai dan hampir terjadi Golden Cross yang artinya Sektor Telecom berpotensi memasuki Outperform Trend terhadap IHSG. Bila melihat kejadi dari sejak 2Q19 lalu, kecenderung saham – saham Telekomunikasi (TLKM, EXCL dan ISAT) bergerak Outperform IHSG dapat bertahan 3 – 6 bulan.

Dari tiga saham Telekomunikasi yang masuk menjadi bagian dari Sektor Telekomunikasi di atas, The Primary Trader melihat saham EXCL memulai Outperform Trend terhadap IHSG. Pada awal Oktober 2020, Ratio Chart EXCL – IHSG berhasil Breakout MA20 atau Golden Cross sehingga menurut The Primary Trader, saham EXCL memasuki Outperform Trend terhadap IHSG.

Saham – saham lain di sektor Telekomunikasi seperti TLKM dan ISAT masih dalam Underperform Trend karena Ratio Chart TLKM – IHSG serta Ratio Chart ISAT – IHSG masih di bawah MA20.

Dengan demikian, The Primary Trader melihat adanya potensi yang menarik di Sektor Telekomunikasi khususnya EXCL. Secara Analisis Teknikal tradisional, EXCL sedang menguji Resistance dari Downtrend Channel yang terbentuk sejak Juli 2020 yaitu di Rp2,200. Segera setelah Breakout Rp2,200, EXCL berpotensi naik menguji Resistance di Rp2,700 yang cukup kuat dan merupakan bagian dari Down Trendline dari sejak November 2019 (!).

Net Sell Asing di EXCL pun terlihat mulai melandai dan mulai muncul beberapa kali Net Buy Asing dalam 2 minggu terakhir. Cukup menjanjikan – menurut The Primary Trader.

Menggunakan analisis Bollinger Band Complete (ditambah dengan Microscopic Technical Analysis), The Primary Trader dapat menyimpulkan bahwa EXCL yang sudah berada di atas Middle Band atau MA20 berpotensi terus naik karena MA20-nya sendiri mulai mengarah ke atas (dilihat dari Middle Band Direction yang mulai positif). Selain itu, volatilitas berpotensi meningkat karena Bandwidth BB berpotensi mengarah ke atas – yang menandakan jarak antara Upper Band dan Lower Band mulai melebar. The Primary Trader menyimpulkan demikian karena Bandwidth Histogram mulai kembali positif – tanda Bandwidth BB mulai mengarah ke atas.

Menurut Analis, Sektor Telekomunikasi adalah salah satu yang diuntungkan dari UU Omnibus Law karena akan semakin memperkecil persaingan antara pemain Telekomunikasi. Singkatnya, ada potensi industri ini semakin efisien.

Satu hal penting yang The Primary Trader sukai dari EXCL adalah bahwa emiten ini sangat bergantung dengan pendapatan Data. The Primary Trader menyukai pertumbuhan pendapatan Data EXCL di 1H20 sebesar 16.5% setelah tumbuh 4.6% QoQ dan 14.9% YoY di 2Q20 – Thanks to WFH Trend. Persaingan memang makin ketat sehingga pelanggan EXCL berkurang. Namun demikian, tetap pendapatan EXCL secara keseluruhan bertambah.

Perlu diperhatikan bahwa Investor masih menantikan perkembangan UU Omnibus Law yang baru saja disahkan. Perlawanan dari masyarakat tampaknya menjadi kekhawatiran tersebut. The Primary Trader berharap situasi dapat kondusif dan memberikan keyakinan akan sentimen positif dari implementasi UU Omnibus Law ini. Semoga.

Mencari Sektor Terbaik Saat Ini Dan Beberapa Saat Kedepan

Indeks Sektoral

The Primary Trader memiliki indeks sektoral tersendiri yang berbeda dengan Sectoral Index di IDX dan bukan juga indeks ala GICS atau BICS versi Bloomberg. Sektor tersebut adalah sebagai berikut :

  • Cement
  • Cigarettes
  • Coal
  • Construction
  • CPO
  • FMCG
  • Hospital
  • Industrial Area
  • Media
  • Mineral
  • Oil&Gas
  • Pharmacy
  • Poultry
  • Residential
  • Retail
  • Telecom
  • Tower

Tentu sektor yang memilki satu saham yang sangat dominan seperti Auto (ASII) dan Toll (JSMR) tidak The Primary Trader sebutkan.

Sektor Yang Berpotensi Uptrend

Dari daftar sektor tersebut, secara manual dan memperhatikan Chart, The Primary Trader melihat beberapat sektor yang berpotensi Uptrend dan menarik adalah Hospital Sector. The Primary Trader melihat sektor tersebut telah mengonfirmasi Bullish Continuation Pattern dari sejak Mei 2020 sehingga berpotensi melanjutkan Uptrend yang telah terjadi dari Maret 2020.

Sektor Poultry memang masih berada dalam Sideways namun The Primary Trader memonitor erat karena selain Sideways-nya terlihat sebagai Bullish Continuation Pattern, sektor tersebut mendekati Down Trendline dari sejak akhir 2018 (!). Dengan demikian, bila terjadi kenaikan yang tidak banyak maka sektor Poultry mengonfirmasi Bullish Continuation Pattern sekaligus mengakhiri Downtrend jangka panjang. Tentunya dengan demikian, sektor Poultry semakin berpeluang mengawali Primary Uptrend.

Sektor Tower sempat Breakout Resistance dari 3Q17 namun gagal namun The Primary Trader melihat sektor ini tetap mempertahankan Uptrend-nya dari sejak 4Q18 (!). Dengan demikian, perlahan tapi pasti, sektor Tower tetap Uptrend sehingga The Primary Trader yakin kali ini Sektor Tower mampu Breakout valid Resistance dari 3Q17 tersebut.

Sektor Yang Berpotensi Outperform IHSG

Menggunakan metode Relative Performing dan pembuatan indeks sektoral (menggunakan metode Price Weighting atau Equal Weight), The Primary Trader membandingkan semua indeks sektoral dengan IHSG. Dari Ratio Chart Sektor – IHSG tersebut, The Primary Trader menerapkan metode Analisis Teknikal tradisional untuk melihat potensi chart tersebut bergerak Uptrend (yang berarti Outperform terhadap IHSG).

Chart RC FMCG – IHSG masih terlihat Uptrend dari sejak 4Q18 sehingga sektor FMCG masih berada dalam Outperform Trend terhadap IHSG – sampai saat ini.

Selain sektor Hospital berada dalam Uptrend, RC Hospital – IHSG yang mempertahakan Uptrend dari sejak 2019 mengindikasikan saham – saham Rumah Sakit bergerak Outperform IHSG. Dengan demikian, sektor ini sangatlah menarik.

Chart RC Mineral – IHSG berhasil melewati Resistance sepanjang 2018 dan 2019 sehingga tentu mengindikasikan Uptrend dari sejak Maret 2020 sangatlah kuat. Dengan demikian, sektor Mineral masih tetap berpotensi Outperform IHSG.

RC Pharmacy – IHSG sangat jelas terlihat dalam Uptrend setelah Breakout Resistance dari sejak 3Q17. Dengan demikian, sektor Pharmacy tetap berpeluang Outperform IHSG.

The Primary Trader melihat RC Poultry – IHSG sebagai Sideways yang berpotensi melanjutkan Uptrend dari sejak awal 2018. Dengan demikian, meski sering bergantian Outperform – Underperform IHSG, ada potensi dalam waktu dekat sektor Poultry akan terus mempertahankan kondisi Outperform terhadap IHSG.

RC Tower – IHSG tampaknya sudah mengonfirmasi Bullish Continuation Pattern dari sejak April 2020. Dengan demikian, sektor Tower akan kembali mempertahankan kondisi Outperform terhadap IHSG.

Pilih Sektor Apa ?

Berikut adalah sektor yang berpotensi Uptrend : Hospital, Poultry dan Tower. Sementara berikut adalah sektor yang berpotensi Outperform IHSG : FMCG, Hospital, Mineral, Pharmacy, Poultry dan Tower. Dengan demikian, setidaknya ada tiga sektor yang dapat diperhatikan yaitu sektor Hospital, Poultry dan Tower.

Dengan saling membandingkan satu sama lain (dengan metode Relative Performing yang sama) maka dapat dipilih satu sektor yang berpotensi Outperform sektor lain.

RC Hospital – Poultry

Membandingkan sektor Hospital dengan sektor Poultry maka terbentuklah chart RC Hospital – Poultry seperti di bawah. Chart RC tersebut masih terlihat Uptrend sejak 2019 dan berpotensi mempertahankan Uptrend karena terlihat membentuk Bullish Continuation dari sejak 3Q19. Dengan kata lain, sektor Hospital berpotensi mempertahakan kondisi Outperform terhadap sektor Poultry.

RC Hospital – Tower

Bila sektor Hospital dibandingkan dengan sektor Tower maka RC Hospital – Tower terlihat masih Uptrend (dari sejak 2018) namun sangat Downtrend dari sejak 4Q18. The Primary Trader belum melihat adanya potensi Bullish Reversal karena terlihat RC Hospital – Tower masih berada di Bottom (atau Support dari Up Trendline yang landai dari sejak 2018 tersebut). Oleh karena itu, sektor Tower kemungkinan besar masih akan Outperform sektor Hospital.

RC Tower – Poultry

Sampai saat ini, dapat diambil kesimpulan bahwa sektor Tower lebih menarik dari sektor Hospital dan sektor Hospital sendiri lebih menarik dari sektor Poultry. Kali ini The Primary Trader membandingkan sektor Tower dengan sektor Poultry dan terlihat RC Tower – Poultry yang jelas Uptrend dari sejak awal 2019. Bila dilihat dari tahun 2017 (atau tepatnya 3Q17), sektor Poultry masih Outperform sektor Tower. Namun Outperform Trend sektor Tower (terhadap sektor Poultry) dari sejak 2019 terlihat lebih valid sehingga The Primary Trader menyimpulkan sektor Tower masih akan Outperform sektor Poultry.

Dengan demikian, kesimpulan akhir yang The Primary Trader dapat simpulkan adalah sektor Tower sangatlah menarik. Selain Uptrend, sektor dengan saham TOWR dan TBIG masih akan Outperform IHSG dan (kemungkinan besar) sektor – sektor lain termasuk sektor Hospital seperti MIKA dan Poultry seperti JPFA dan CPIN.

Pilih TOWR atau TBIG ?

Dengan membentuk RC TOWR – TBIG, The Primary Trader melihat TBIG saat ini sedang Outperorm TOWR. Namun The Primary Trader percaya RC TOWR – TBIG masih berpotensi Uptrend karena penurunan tersebut terlihat sebagai Bullish Continuation pattern. Dengan demikian, dalam jangka menengah – panjang, TOWR masih akan Outperform TBIG.

Semoga bermanfaat dan memberi inspirasi.

Sekilas mengenai Multi – Level Charts (RC Saham – IHSG, RC Saham – Sektor dan sebagainya), silahkan ditonton video Youtube ini :

Market Dan Saham Pilihan 200928

The Primary Trader ingin membagikan template Technical Analysis yang menggabungkan sedikit Data Science sebagai inspirasi. Klik di sini untuk melihat secara keseluruhannya. Berikut adalah ringkasan untuk digunakan pada tanggal 28 September 2020.

Sektor Pilihan Berdasarkan Trend & Momentum Quadrant

The Primary Trader melihat sektor Industrial Area, Pharmacy, Tower dan Healthcare berada dalam kondisi Uptrend (dimana %BB di atas 50) sementara belum terindikasi Overbought (dilihat dari Stochastic Oscillator-nya). Berikut adalah saham – saham dari ketiga sektor tersebut yang mendapatkan sinyal Buy : MIKA, KAEF dan SSIA.

Sektor Toll (JSMR) perlu diwaspadai karena berada dalam kondisi Overbought sementara masih dalam kondisi Downtrend (%BB di bawah 50).

Meski masih dalam Downtrend namun kondisi Oversold dari sektor Telecom, Precast, CPO, Residential, Media dan Cigarettes mulai dapat diperhatikan karena kemungkinan besar ancaman penurunan sudah mulai terbatas. The Primary Trader menyukai sektor CPO (baca tulisan di sini). Sektor Media dan Telecom (yang disebut sebagai sektor di Indonesia yang dapat dianggap sebagai New Economy) pun seharusnya mulai menarik.

Saham Pilihan Berdasarkan Dandy Rotation

Berdasarkan Dandy Rotation, saham yang berada di kuadran Outperform dan mendapat sinyal Buy (Alert Buy atau Buy Now) adalah :

Saham ASII, CPIN dan JPFA mendapat sinyal Downtrend sehingga perlu dipertimbangkan kembali. The Primary Trader menyukai HOKI, SIDO, ACES dan BSDE.

Saham Undershoot

Undershoot adalah istilah yang The Primary Trader gunakan untuk menggambarkan kondisi dimana harga saham berada di bawah Lower Band. Secara statistika, kondisi tersebut tersebut hanya terjadi ~5% dari seluruh kejadian. Saham yang berada dalam kondisi Undershoot antara lain : TINS, INDF, TLKM dan BNLI. Keempatnya mendapat sinyal Buy sehingga dapat dipertimbangkan untuk Very Short Term Trading. Perlu diwaspadai karena tentunya saham Undershoot berarti sedang dalam Downtrend.

Kesimpulan

Berikut adalah saham yang The Primary Trader sukai berdasarkan kondisi di atas :

MIKA, KAEF dan SSIA
HOKI, SIDO, ACES dan BSDE
TINS, INDF, TLKM dan BNLI

The Primary Trader kurang menyukai Undershoot namun diantara keempat saham yang Undershoot, TINS dan INDF terlihat menarik.

Berdasarkan analisis teknikal klasik, The Primary Trader menyukai SSIA yang terlihat pola Bullish Reversal. Meski perlu Breakout Rp460 namun perlu dicatat bahwa Breakout Resistance Rp460 bukan hanya mengonfirmasi pola Bullish Reversal namun juga membatalkan Down Trendline dari sejak Oktober 2019. Target SSIA ada di Rp460 setelah Breakout.

Pelabuhan Patimban yang akan beroperasi di bulan November 2020 tentu menjadi katalis positif bagi kawasan industri di kawasan sekitar dan salah satunya SSIA yang memiliki kawasan industri di Subang. Selain itu, dilihat dari APBN tahun 2021, pemerintah akan mendorong kembali pembangunan infrastruktur yang tentu akan menjadi pendorong utama pendapatan SSIA. Selain itu, harapan Omnibus Law akan disahkan dalam waktu dekat akan mendorong permintaan kawasan industri sehingga diharapkan pendapatan kawasan industri SSIA pun terdorong.

The Primary Trader mencatat salah satu pembelian selama PSBB dan Work From Home adalah pembelian untuk kerja (meja dan kursi). Perabotan rumah tangga tersebut adalah salah satu produk dari ACES. The Primary Trader melihat hal tersebut menjadi sentimen positif sehingga terlihat ACES menarik dan berpotensi mengakhiri Technical Correction (dari sejak Juli 2020 di level Rp1,800) dan kembali naik menuju Rp1,800 – Rp1,900 yang merupakan Resistance kuat. ACES perlu Breakout Rp1,600 namun The Primary Trader yakin dalam waktu dekat akan terjadi Breakout – ditopang dengan adanya sentimen vaksin segera tiba di akhir tahun (yang juga membuat IHSG semakin menarik).

Semoga.

CPO : Saham Yang Berpotensi Mengawali Primary Uptrend

Harga CPO Malaysia masih terindikasi berpotensi mempertahankan Uptrend untuk menguji kembali Resistance di MYR3,200. Penurunan saat ini terindikasi sebagai Technical Correction, tentu dengan asumsi akan tetap bertahan di atas MYR2,850.

CPO Malaysia seharusnya masih berpotensi kembali menguji Resistance kuat dari 3 tahun terakhir yaitu di MYR3,200. The Primary Trader melihat di tahun 2020, ada kesempatan CPO Malaysia berpotensi Breakout Resistance jangka panjang tersebut sehingga benar – benar mengawali Primary Uptrend.

Salah satu katalis yang penting bagi CPO adalah keseriusan Indonesia untuk menggunakan CPO produksi domesti menjadi Biodiesel. Saat ini Indonesia sudah menerapkan B30 yaitu kandungan 30% CPO. Namun ada rencana yang sudah mulai terbukti untuk melanjutkannya menjadi B50 sampai B100. Mungkin akan sulit untuk sampai B100 tapi The Primary Trader melihat kemungkinan Biodiesel akan menjadi B50. Pemerintahpun tampaknya setuju.

Dengan kondisi global, The Primary Trader tidak yakin harga CPO dapat kembali naik menuju MYR4,000 namun The Primary Trader cukup yakin ada kemungkinan besar untuk sampai ke level MYR3,500an.

Setidaknya ada tiga kemungkinan katalis kenaikan CPO Malaysia dalam 6 bulan ke depan yaitu permintaan China (paska Recovery dari Pandemi Covid-19), festival Diwali di India serta ancaman La Nina. Karena kebijakan Lockdown di banyak negara, impor menjadi rendah sekali termasuk minyak konsumsi (Vegetable Oil). Oleh karena itu, The Primary Trader meyakini hal ini akan menjadi katalis kenaikan harga CPO Malaysia atau setidaknya mencegah harga CPO Malaysia kembali turun drastis.

Saham CPO Pilihan The Primary Trader

Ada dua saham yang The Primary Trader lihat sedang bersiap untuk mengakhiri Primary Downtrend-nya yaitu TBLA dan DSNG.

The Primary Trader melihat TBLA diuntungkan dari sektor CPO dan Gula. Dua bisnis ini seharusnya menjadi katalis positif bagi TBLA karena selain memiliki kebun sawit dan tebu, TBLA juga mampu mengolah komoditas tersebut. Selain itu, TBLA juga merupakan pemasok B30 dan importir gula.

Hal yang membuat The Primary Trader menyukai TBLA adalah fakta bahwa TBLA sedang Breakout Down Trendline di Rp800 yang juga merupakan area Resistance jangka panjang. Dengan potensi Breakout maka TBLA berpeluang mengawali Primary Uptrend menuju Rp1,300.

DSNG adalah salah satu emiten CPO yang masih relatif kecil tapi kurang lebih sama seperti TBLA. Sebagai salah satu emiten muda, The Primary Trader melihat mulai banyak minat dan partisipasi Investor sehingga ada potensi sentimen terhadap DSNG mulai positif.

Meskipun masih muda namun pohon sawit DSNG yang memasuki Prime Mature akan terus bertambah dalam 3 tahun ke depan. Hal ini membuat DSNG berpotensi menjadi emiten CPO yang menarik.

The Primary Trader melihat DSNG sedang menguji Resistance penting di Rp500 yang menahan DSNG sejak tahun 2018. DSNG sendiri mulai berhasil Breakout Primary Downtrend di Rp450an sehingga peluang Breakout Rp500 terlihat membesar. Setelah Breakout Rp500, DSNG berpotensi mengawali Primary Uptrend menuju Rp700.

Market Dan Saham Pilihan 200921

Berikut materi dalam video :

Pembahasannya antara lain :

  • IHSG dan Market Breadth terhadap Saham di IDX80. IHSG berpotensi melanjutkan kenaikan sampe 2-3 minggu ke depan dilihat dari saham – saham IDX80 yang banyak mencatat Positive 5D Return
  • Technical Data Viz, termasuk Dandy Rotation. Sektor Tower dan Industrial Area masih menarik. Sektor Healthcare dan Auto sebaiknya diwaspadai
  • Chart (Saham) Pilihan : UNTR, INKP, ACES dan TBIG

Berikut video di Youtube :

Untuk Investor dan Trader yang ingin memahami Dandy Rotation, silahkan cek video di Youtube berikut :

Semoga bermanfaat.

UNPUB : Big Bank “Menipu” IHSG. Fokus Ke-6 Saham Ini.

Bila melihat pergerakan IHSG dan membandingkannya dengan pergerakan Big Bank (BBCA, BBRI, BBNI dan BMRI) maka terlihat pergerakan Big Bank lebih Bullish dibanding IHSG itu sendiri. Sejak awal tahun 2018, Big Bank bergerak Uptrend sementara IHSG sudah bergerak Sideways. Ketika IHSG mengalami Breakdown yang menandakan arah tren berubah menjadi Downtrend, Big Bank masih belum mengindikasikan Breakdown. 1-2 minggu kemudian terjadi Breakdown pada Big Bank.

The Primary Trader mencoba melihat Big Cap lain yang relatif memiliki variasi sektor. Berikut adalah pilihannya : GGRM, INDF, ICBP, ASII, TLKM dan UNVR. Berikut adalah chartnya :

Other Big Caps tersebut mengindikasikan Uptrend – hanya sampai awal tahun 2019 atau sekitar akhir 1Q19. Setelah itu, Other Big Caps mulai bergerak Downtrend. Pada 3Q19, Other Big Caps mulai Breakdown dan mengonfirmasi Downtrend.

Apabila digabungkan, maka jelas terlihat Other Big Caps telah Downtrend dari 2019 sementara Big Bank tampaknya menopang IHSG sehingga IHSG masih bisa Sideways. Pada awal tahun 2020, terlihat Big Bank mulai naik namun tidak bertahan sementara Other Big Caps cenderung Flat sebelum IHSG jatuh yang disebabkan oleh Crash di Big Bank.

Kesimpulan

Per hari ini (28 April 2020), Big Bank memang memiliki Total Market Cap 22.5% dari IHSG. Sementara Other Big Caps memiliki total 19.27% dari IHSG. Cukup wajar bila Big Bank masih lebih mendominasi pergerakan IHSG.

Namun The Primary Trader lebih menyukai Other Big Caps karena setidaknya terdiri dari 5 sektor yaitu Cigarettes (GGRM), Food and Beverage (ICBP dan INDF), Automotive (ASII), Telecommunication (TLKM) dan Consumer Staples (UNVR). Sektor tersebut cenderung Cyclical (Auto) namun ada beberapa yang menjadi Backbone ekonomi Indonesia yaitu Consumer Related seperti Cigarettes, F&B dan Consumer Staples.

Oleh karena itu, untuk melihat kondisi IHSG lebih detil, selain Big Bank, sangat perlu juga dilihat Other Big Caps.

Dua Sektor Yang Berpotensi Menarik Di Tengah Trend WFH : Tower Dan Telekomunikasi

Ditengah PSBB karena wabah Covid-19 di banyak daerah serta mulai larangan mudik dalam rangka mengendalikan penyebaran wabah, The Primary Trader ingin melihat dua sektor yang mungkin mendapat sentimen sentimen positif yaitu sektor Tower dan sektor Telekomunikasi.

Sektor Tower dapat terus berjalan seperti biasa dan memperluas jaringan dan pembangunan menara karena sektor ini termasuk yang diizinkan berjalan ditengah PSBB. Selain itu, saat ini pembangunan menara dilakukan di daerah yang relatif terpencil sehingga masih relatif aman. Peningkatan permintaan Data (yang dipicu oleh tren WFH) yang pasti akan menjamin kebutuhan akan menara.

Data Traffic tumbuh secara eksponensial dan sangat mungkin di 1Q20 ini tumbuh lebih tinggi dari sebelumnya. Mirae perkirakan pertumbuhan data sebesar 17% per tahun dari 2019 – 2021. Permintaan data yang terus tumbuh (tinggi) inilah yang menjamin permintaan menara akan tetap ada dan menjaga bisnis di Sektor Tower tetap baik.

Meski demikian, bukan berarti emiten Sektor Tower dan Sektor Telekomunikasi tidak terpukul karena wabah Covid-19 dan PSBB. Ada potensi penurunan karena aktifitas komunikasi ikut turun. Namun seiring dengan tren Work From Home, kebutuhan internet sangat mungkin meningkat terutama untuk emiten Telekomunikasi yang fokus di Data yaitu EXCL. Pendapatan EXCL dari bisnis Data mencapai 76% sehingga tren WFH yang memaksa menggunakan internet sendiri berpotensi mendorong permintaan Data.

Menurut estimasi Mandiri Sekuritas, permintaan Indihome dari TLKM berpotensi meningkat dari Rp17.8 triliun di tahun 2019 menjadi Rp22 triliun (naik 23% YoY). Namun kontribusi Indihome terhadap pendapatan TLKM hanya ~15% sehingga relatif kecil. Sehingga meskipun ada penambahan yang tinggi dari Indihome, mungkin kontribusinya terhadap TLKM relatif tidak signifikan – terlebih lagi bila aktifitas komunikasi dari Telkomsel berkurang. Porsi pendapatan Telkomsel terhadap TLKM mencapai 70%. Hal ini sempat membuat Menteri BUMN Erick Thohir mengatakan lebih baik tidak ada Telkom Tbk.

Oleh karena itu, The Primary Trader melihat pergerakan Sektor Tower di tahun 2020 sangat bagus dibanding IHSG dan Sektor Telekomunikasi. The Primary Trader menyimpulkan permintaan Data yang tinggi mungkin lebih positif untuk sektor Tower dibanding sektor Telekomunikasi.

Sektor Tower berpotensi berada dalam trend Outperform IHSG setelah berhasil melewati Resistance dari level tertinggi di 3Q17. Sementara Sektor Telekomunikasi masih harus bergerak naik dan menguji Resistance yang cukup kuat dari sejak 3Q18. Resistance ini berhasil menahan 2x kenaikan Sektor Telekomunikasi.

Saham TOWR dari sektor Tower berhasil mencatat Return 10% YTD dan menjadi satu – satunya saham yang mencatat Return Positive di 2 sektor yang dibahas. Saham TBIG, meski mencatat Negative Return YTD namun lebih tinggi dari Negative Return IHSG dan saham – saham sektor Telekomunikasi.

The Primary Trader melihat saham TOWR sedang menghadapi Resistance kuat di ~Rp915. Level ini berhasil menahan TOWR dari sejak akhir 2015 dan telah kurang lebih 3x diuji namun masih gagal di-Breakout. Menggunakan Fibonacci Retracement, setelah TOWR berhasil Breakout Rp915, ada potensi Uptrend jangka panjang menuju setidaknya Rp1,050. The Primary Trader perkirakan TOWR gagal Breakout dalam waktu dekat namun masih memerlukan satu kali Tech. Correction (turun mendekati Rp750 – Rp850) sebelum berhasil Breakout Rp915.

The Primary Trader melihat TBIG bergerak dalam Downtrend Channel dari sejak Oktober 2019. Namun Downtrend Channel tersebut terlihat sebagai Bullish Continuation dari Uptrend sejak 2Q19 (dari Rp600). Ada potensi lanjutan Uptrend jangka panjang untuk TBIG menuju Rp1,500 namun tidak dalam waktu dekat. TBIG masih harus Breakout Resistance dari Downtrend Channel (yang saat ini) di Rp1,100. The Primary Trader perkirakan TBIG akan terkoreksi terlebih dahulu mendekati Rp900 – Rp1,000 untuk kemudian mengakhiri Downtrend Channel dan menguji Resistance kuat di Rp1,350 sebelum ke Rp1,500.

Sektor Menarik Di Tengah Krisis COVID-19 : Farmasi Dan Rumah Sakit

Pergerakan emiten di sektor Farmasi dan Rumah Sakit sepanjang tahun 2020 ini dapat menjadi pilihan. Hal ini tentu karena selain menjadi sektor terdepat dalam menangani wabah Covid-19, tentu diharapkan ada potensi keuntungan (setidaknya ada potensi kenaikan pendapatan).

The Primary Trader mencatat pergerakan 7 saham yaitu : Sektor Farmasi (KAEF, INAF dan KLBF) serta Sektor Rumah Sakit (MIKA, HEAL dan SILO) sebagai berikut :

Secara relatif, The Primary Trader melihat potensi yang sangat menarik pada sektor Farmasi (garis orange). Hal ini karena setelah bergerak Downtrend sejak 2Q19, terlihat pola Bullish Reversal yang cukup menjanjikan untuk merubah Downtrend menjadi Uptrend. Oleh karena itu, sektor Farmasi sangat berpotensi dan layak diperhatikan.

Sektor Rumah Sakit (garis hijau) masih terlihat dalam Downtrend namun The Primary Trader menyukai potensi kenaikan dari saham – saham RS. Hal ini terlihat dari penurunan yang terjadi dalam 3 minggu terakhir tidak lebih rendah dari titik penurunan terakhir. Namun saham – saham RS masih harus naik melewati garis Resistance terdekat.

Sejak awal Maret 2020, sektor Farmasi terlihat sangat Outperform IHSG sementara sektor Rumah Sakit relatif sedikit Undeperform IHSG.

Meski demikian, The Primary Trader melihat secara jangka panjang, sektor Farmasi berpotensi baru saja memulai Trend Outperform terhadap IHSG. Sementara sektor Rumah Sakit mungkin mengakhiri Trend Outperform-nya terhadap IHSG. Pergerakan sektor Rumah Sakit relatif terhadap IHSG menunjukkan potensi pembentukan pola Bearish Reversal (Double Top).

Pilih Mana?

The Primary Trader menyukai tidak hanya saham yang dalam Uptrend namun juga dalam Trend Outperform terhadap IHSG. Bila melihat masing – masing pergerakan saham (relatif terhadap IHSG) maka terlihat saham Farmasi BUMN (INAF dan KAEF) sangat Outperform sementara saham – saham Farmasi dan Rumah Sakit lain cukup Outperform IHSG.

Hal ini cukup wajar mengingat INAF dan KAEF mungkin akan diminta pemerintah untuk memproduksi obat – obat untuk penyakit Covid-19 ini. Ditengah wabah Covid-19 ini, The Primary Trader melihat saham keduanya cukup menarik.

Minggu Earning Season Penentu : Melanjutkan Downtrend Atau Mempertahankan Bottoming

Indikasi Dari Data Ekonomi

The Primary Trader mencoba melihat indikator ekonomi dari awal tahun 2020 untuk melihat potensi pendapatan emiten – emiten. Tiga indikator tersebut adalah :

  • Manufacturing PMI
  • Retail Sales YoY
  • Tourist Arrivals

Dari data ekonomi di atas, aktifitas pabrik (Manufacturing PMI) di bulan Maret 2020 terlihat turun drastis dari 51.9 di bulan Februari 2020. Penurunan tersebut adalah yang tertajam dan menunjukkan output produksi serta order baru turun tajam. Dampaknya adalah penurunan pendapatan dan peningkatan pengangguran yang tentu kurang baik bagi ekonomi. Data Manufacturing PMI di bawah 50 pun mengindikasikan kontraksi ekonomi.

Retail Sales Indonesia di bulan Februari 2020 turun -0.8% YoY dan merupakan kelanjutan dari bulan Desember 2020 (-0.5% YoY). Biasanya Retail Sales di akhir tahun cenderung naik (belanja Natal dan Liburan Tahun Baru) dan cukup jarang penjualan ritel turun di Desember kecuali Desember 2019. Hal ini cukup mengkhawatirkan karena berarti Retail Sales sudah melemah di akhir tahun 2019. The Primary Trader perkirakan Retail Sales akan semakin turun setelah dimulai PSBB Jakarta pada bulan April 2020. Siklus perbaikan Retail Sales dari bulan ke bulan – dimulai dari awal tahun tampaknya tidak terjadi di tahun 2020 ini.

Indonesia Retail Sales YoY

Terjadi penurunan wistawan global ke Indonesia di bulan Februari 2020 semenjak banyak negara mulai memberi Travel Warning sampai tidak memberikan izin keluar masuk. Indonesia mulai membatasi izin visa sejak Maret 2020 dan menutup sepenuhnya di awal April 2020. Dengan demikian, tentu Tourist Arrival akan semakin turun dan dampaknya terhadap industri perhotelan akan cukup besar.

Occupancy Rates hotel di Indonesia pada awal tahun 2020 diperkirakan berada di kisaran 40% – 50% dengan tendensi terus turun. Hal ini relatif lebih parah dari tahun 2014 dan 2015.

Dampak dari semua itu adalah peningkatan pengganguran yang berarti penurunan daya beli masyarakat. Tercatat ada sebesar 2.8 juta pekerja yang terkena dampak dimana 60% diantaranya dirumahkan tanpa gaji (Unpaid Leave) dan 27%-nya terkena PHK.

wabah PHK
https://katadata.co.id/infografik/2020/04/18/wabah-phk-akibat-covid-19

Indikasi Dari Data Sektor Dan Emiten

Bank Indonesia memang telah menurunkan BI 7DRR Rate cukup agresif dari awal tahun 2020 sebesar 50 bps (2x) dari 5% menjadi 4.5%. Hal ini diharapkan dapat mendorong pertumbuhan kredit (dan menjaga NPL) namun tampaknya kredit terus turun dari 2H19 baik kredit Investment dan Micro – bahkan untuk kredit Working Capital yang sempat tumbuh tinggi akhir 2018, kali ini turun tajam sepanjang tahun 2019 sampai 1Q20. Tentu hal ini bukan indikasi bagus untuk kinerja sama Bank di 1Q20.

Pangsa pasar mobil merek ASII memang meningkat menjadi 60% di awal tahun 2020 (dari ~45% di akhir 2019). Namun hal ini karena penjualan merek mobil non-ASII di bulan Maret 2020 turun -15.4% dari bulan Februari 2020 dan bahkan -22.9% dari Maret 2019. Penjualan mobil ASII di Maret 2020 naik 6.6% MoM sehingga dapat meningkatkan pangsa pasar. Namun kenaikan penjualan mobil ASII didominasi oleh mobil LCGC (naik 22% MoM dan 4.4% YoY) yang mungkin tidak banyak menolong Revenue maupun Net Income ASII.

Penjualan semen nasional di 1Q20 turun -4.9% dari 1Q19 setelah sempat naik 6.1% YoY pada 4Q19. Hal ini tentu akan membuat kinerja semen kurang baik. Seiring dengan penggunaan semen di Indonesia banyak untuk properti, maka dapat dikatakan penjualan properti di awal tahun 2020 pun akan kurang baik. Pemberlakuan PSAK 72 mengenai pengakuan pendapatan properti pun menjadi salah sentimen penurunan Marketing Sales. Seperti contoh, Marketing Sales CTRA di 2Q10 memang baik (2% YoY) namun tentu kemungkinan besar Marketing Sales akan turun di bulan Maret 2020.

Potensi Pergerakan IHSG

The Primary Trader masih meyakini akan ada One Last Drop sebelum IHSG mengawali Uptrend. One Last Drop tersebut adalah bagian dari pembentukan Bottoming (Bullish Reversal) untuk mengakhiri Downtrend sekaligus mengawali Uptrend. The Primary Trader perkirakan One Last Drop IHSG dapat menuju 3,750 – 4,000.

Tentu ada kemungkinan IHSG ternyata tidak lagi turun mendekati 4,000 namun segera kembali menuju level di atas 6,000. Untuk dapat mengawali kenaikan menuju 6,000, The Primary Trader ingin melihat IHSG Breakout 4,850 karena di level tersebut adalah Lower High sejak awal tahun 2020.

Dengan bantuan indikator, memang ada potensi kenaikan untuk IHSG dalam waktu dekat. Menggunakan Bollinger Band, saat ini IHSG berada di atas Middle Band yang artinya dalam Uptrend – yang kemungkinan adalah Uptrend jangka pendek. Selain itu, potensi kenaikan diperkuat dengan indikator Stochastic Oscillator yang menunjukkan sinyal Buy dan dari level Oversold. The Primary Trader pun menyukai fakta bahwa Bollinger Band cenderung melebar yang artinya volatilitas akan kembali datang. Tentu diharapkan akan ada volatilitas saat IHSG sedang bergerak naik (walau ada juga risiko dimana IHSG turun dalam). Ada harapan volatilitas meningkat dan IHSG sedang dalam kenaikan karena tren Middle Band – yang tidak lain ada MA20 – sedang perlahan mengarah ke atas (dilihat dari Middle Band Direction yang mulai mencatat nilai positif).

Dengan bantuan indikator Ichimoku Kinko Hyo, ada potensi IHSG bergerak naik karena indikator Tenkan-Sen dan Kijun-Sen telah Bullish Crossover. Namun Downtrend tampaknya masih akan terjadi karena IHSG dihalangi oleh Red Cloud yang cukup tebal dan seringkali menjadi Resistance yang kuat. Ichimoku Kinko Hyo memperkuat ekspektasi The Primary Trader bahwa Downtrend masih mungkin terjadi, IHSG berpotensi mencatat One Last Drop sebelum terbentuk Bullish Reversal yang akan mengawali Uptrend.

Semoga wabah pandemi segera selesai.

Kembali Menuju MA200

Menuju MA200

Salah satu sifat harga terhadap Moving Average (MA) adalah bahwa harga cenderung akan kembali menuju MA setelah naik atau turun sampai level tertentu. Oleh karena itu, ada peluang Beli ketika harga sudah di bawah MA.

The Primary mencatat beberapa saham yang saat ini harganya sudah di bawah MA200 namun apabila saham tersebut naik menuju MA200 maka perlu kenaikan > 100% (dari harga saat ini). Dengan kata lain, apabila harga saham naik menuju MA200 atau Rata – Rata 200 Hari Terakhir (seperti sifat harga terhadap MA) maka ada potensi Return sebesar > 100%. Berikut adalah saham – sahamnya :

SectorStocksCloseMA200% Rise to MA200
CPOAALI      4,400      11,064151.45%
CPOLSIP         530        1,195125.56%
MineralTINS         358           885147.21%
MineralANTM         352           852142.11%
MineralINCO      1,460        3,226120.96%
Oil&GasPGAS         650        1,918195.02%
Oil&GasMEDC         314           732133.13%
Oil&GasBRPT         490        1,004104.86%
AutoGJTL         244           597144.76%
PaperTKIM      4,030      10,226153.76%
PoultryMAIN         428           972127.01%
RetailRALS         470        1,154145.52%
RetailWOOD         300           697132.47%
RetailMAPI         446           970117.60%
TextileSRIL         132           283114.19%
ConstructionWSKT         422        1,532262.97%
ConstructionPTPP         520        1,674221.95%
ConstructionADHI         388        1,232217.53%
ConstructionWIKA         775        2,034162.42%
Industrial AreaBEST          98           239144.03%
Industrial AreaDMAS         127           285124.63%
Oil&GasELSA         132           309134.41%
Oil&GasAKRA      1,590        3,678131.33%
Oil&GasESSA         120           260116.40%
PrecastWSBP         115           315173.96%
PrecastWTON         194           464139.10%
TelecomEXCL      1,485        3,118109.98%
TollJSMR      2,510        5,284110.51%
BankingBBTN         880        2,072135.41%
BankingBBNI      3,390        7,623124.88%
BankingPNBN         630        1,261100.21%
ResidentialSMRA         428        1,068149.56%
ResidentialPWON         292           612109.71%
ResidentialCTRA         520        1,057103.18%
ResidentialBSDE         640        1,295102.39%
ResidentialBKSL          50           100100.50%
Berdasarkan harga penutupan sesi 1 – 23 Maret 2020

Memang ketika Downtrend maka harga saham akan turun dan tentunya MA200 pun akan ikut turun. Oleh karena itu, untuk memastikan potensi Return (selisih antara harga saham dengan MA200) tetap sebesar > 100% maka The Primary Trader memilih saham – saham yang dapat naik di atas 120%. Dengan demikian, berikut adalah saham – saham tersebut :

SectorStocksCloseMA200% Rise to MA200
CPOAALI      4,400      11,064151.45%
CPOLSIP         530        1,195125.56%
MineralTINS         358           885147.21%
MineralANTM         352           852142.11%
MineralINCO      1,460        3,226120.96%
Oil&GasPGAS         650        1,918195.02%
Oil&GasMEDC         314           732133.13%
AutoGJTL         244           597144.76%
PaperTKIM      4,030      10,226153.76%
PoultryMAIN         428           972127.01%
RetailRALS         470        1,154145.52%
RetailWOOD         300           697132.47%
ConstructionWSKT         422        1,532262.97%
ConstructionPTPP         520        1,674221.95%
ConstructionADHI         388        1,232217.53%
ConstructionWIKA         775        2,034162.42%
Industrial AreaBEST          98           239144.03%
Industrial AreaDMAS         127           285124.63%
Oil&GasELSA         132           309134.41%
Oil&GasAKRA      1,590        3,678131.33%
PrecastWSBP         115           315173.96%
PrecastWTON         194           464139.10%
BankingBBTN         880        2,072135.41%
BankingBBNI      3,390        7,623124.88%
ResidentialSMRA         428        1,068149.56%

The Primary Trader menyukai Sektor CPO karena secara domestik, permintaan CPO berpotensi tinggi seiring dengan adanya program pemerintah yaitu B30 tahun 2020 dan B50 di tahun 2021. Terlepas dari permintaan internasional (dan adanya diskriminasi Eropa), dengan adanya permintaan domestik tersebut, harga CPO diharapkan dapat terjaga. The Primary Trader menyukai LSIP namun AALI menarik karena masuk ke dalam indeks SRI-Kehati yang secara otomatis (berdasarkan sentimen) akan lebih menarik. LSIP adalah pemain CPO murni (~91% pendapatan berasal dari CPO) serta memiliki korelasi tertinggi dengan harga CPO.

Sebagai negara dengan ekonomi domestik konsumsi dan yang sangat mungkin lebih cepat pulih setelah wabah Covid-19 selesai adalah sektor Consumer antara lain Poultry (MAIN) dan Retail (RALS). Saham MAIN banyak menjual daging unggas (ayam) yang memang menjadi protein hewani utama masyarakat Indonesia. Selain itu, dengan adanya stimulus untuk masyarakat kelas bawah, RALS berpotensi menjaga penjualannya untuk tidak turun terlalu dalam. The primary Trader lebih memilih MAIN dibanding RALS karena sektor Poultry (konsumsi makanan) seharusnya akan lebih dahulu membaik.

Di saat suku bunga rendah saat ini (BI 7DRR Rate sebesar 4.5% dan stimulus – stimulus di sektor properti), tentu sektor Properti (SMRA) dapat menjadi pilihan utama. SMRA pun cukup banyak menjual properti berupa rumah tapak (Landed House) dengan harga yang relatif murah dibanding BSDE (meski tetap CTRA yang paling murah).

Sektor yang paling The Primary Trader sukai adalah Industrial Area yaitu DMAS. Dengan cadangan lahan terluas (~1,430 ha) diantara emiten Industrial Area, DMAS seharusnya mendapat keuntungan dari tren industrialisasi Indonesia. Setelah disahkannya Omnibus Law, seharusnya akan banyak Foreign Direct Investment dalam bentuk pembangunan pabrik.. Di tahun 2020, DMAS memiliki Inquiries sebanyak 150 ha (relatif sama seperti tahun 2019).

Dengan demikian, mengandalkan kemungkinan harga saham akan berbalik mendekati MA20-nya maka The Primary Trader menyukai saham LSIP, MAIN, SMRA dan DMAS.

PTPP : Emiten Konstruksi Sehat

Pemain Konstruksi BUMN Yang Relatif Lebih Aman

Kinerja PTPP di 2019 mungkin akan sedikit tertekan namun PTPP seharusnya bisa mencatat kinerja yang lebih baik di tahun 2020. PTPP menargetkan kontrak baru di tahun 2020 sebesar Rp 40.5 triliun, tumbuh 21% dari pencapaian tahun 2019 sebesar Rp 33.5 triliun. Angka Rp33.5 triliun di 9M19 adalah 74% dari target Rp45 triliun. Angka ini tampaknya relatif achieve-able. Perlu dicatat juga bahwa PTPP (dan WIKA) memiliki proyek multi-years yang cukup besar sehingga di tahun berjalan, PTPP masih mengerjakan proyek tahun sebelumnya dan berpotensi mencatat bagian pendapatan dari penyelesaian proyek tersebut di tahun berjalan. Hal ini membuat pendapatan dan laba PTPP lebih mudah dan pasti.

Untuk menjaga marjin keuntungan dimana sejak tahun 2017 relatif turun, PTPP berencana mendivestasi 4 proyek seperti kepemilikan ruas tol Pandaan – Malang dan ruas tol Cisumdawu. Divestasi ini dapat meningkatkan laba bersih sebesar 33% YoY.

Meski sebagai perusahaan Konstruksi BUMN, proyek PTPP yang berasal dari pemerintah (tahun 2018) sangatlah kecil. Investor tampaknya mengkhawatirkan sentimen bahwa pelunasan proyek pemerintah cenderung lambat sehingga menimbulkan biaya tambahan. Oleh karena itu, seringkali PTPP dianggap sebagai emiten Konstruksi BUMN yang paling sehat.

Potensi Sektor Infrastruktur

Presiden Jokowi masih menggenjot pembangunan infrastruktur di periode ke-2 dengan proyek raksasa seperti Tol Trans Sumatera, Tol Trans Kalimantan dan (tentu) Ibukota Baru. Pada periode pertama (2014 – 2019), pertumbuhan nilai proyek Sektor Infrastruktur adalah sebesar 30% per tahun (CAGR). Diperkirakan pada periode kedua (2019 – 2024), ada potensi pertumbuhan 11% per tahun (CAGR). Cukup tinggi karena masih Double Digit.

Namun menurut The Primary Trader, yang terpenting adalah bahwa kali ini, pemerintah akan banyak menggandeng pihak swasta untuk berinvestasi pada proyek pembangunan infrastruktur. Salah satu yang sedang ramai adalah Softbank (Investor Grab dan Tokopedia) yang diberikan kesempatan untuk ikut membangun Ibukota yang baru nanti. Hal ini tentu membuat emiten Konstruksi relatif lebih ‘bebas’ menentukan kapasitasnya untuk berkontribusi dalam proyek tersebut. Dengan demikian, selain masih tersedia kesempatan untuk tumbuh, kali ini emiten pun berkesempatan untuk tumbuh sesuai dengan kemampuan.

Mengakhiri Downtrend

The Primary Trader melihat PTPP dalam proses membentuk Double Bottom. Untuk itu, PTPP perlu bertahan di Support penting di Rp1,300 yang telah menahan PTPP di Oktober 2018. PTPP masih harus Breakout Rp1,680 untuk mengonfirmasi pola Bullish Reversal untuk memperbesar potensi mengawali Uptrend. Dengan bertahan di Rp1,300, The Primary Trader mulai meyakini potensi Uptrend PTPP.

PTPP saat ini berada di bawah Cloud dari Ichimoku Kinko Hyo namun perlu diperhatikan bahwa masih ada Green Cloud yang menandakan potensi awal Uptrend (setelah muncul dominasi Red Cloud dari sejak September 2019). The Primary Trader melihat ancaman karena mulai ada bibit Red Cloud. Tentunya dengan PTPP bertahan di atas Rp1,300, Red Cloud seharusnya tidak terbentuk.

The Primary Trader pun melihat berdasarkan posisi relatif PTPP saat ini dengan MA200 atau rata – rata setahun terakhir. PTPP relatif lebih dekat dengan MA200 dibanding pada posisi terendah dalam 2 tahun terakhir yaitu di Rp1,300 atau pada Oktober 2018. Berdasarkan Distance Close to MA200, PTPP kali ini berada -32% di bawah MA200 sementara pada Oktober 2018, PTPP mencapai 74% di bawah MA200. Posisi yang lebih kecil tersebut menandakan Downtrend PTPP mulai melemah.

PTPP pun dapat dikatakan sudah murah bila dilihat dari PE TTM (4 kuartal terakhir) di -1 SD dalam 5 tahun terakhir. Membeli PTPP saat ini berarti membeli karena Cheap Valuation dan potensi Bottoming atau akhir dari Downtrend. Perlu kesabaran namun ada harapan dan potensi yang menarik.

Deal (Or No Deal?)

Menunggu Peresmian (Atau Setidaknya Detil) Trade Deal Fase 1

Investor (dan The Primary Trader) masih menunggu rencana penandatanganan serta detil dari Trade Deal Fase 1 antara AS – China. AS kemudian disebutkan tidak akan memotong tarif lebih lanjut (Trade Deal Fase 2 ?) sebelum Pemilu Presiden di awal November 2020. Hal ini mengisyaratkan bahwa Trade Deal Fase 2 mungkin tidak dapat dilaksanakan segera (ketika awal Trade Deal Fase 1 disepakati di Desember 2019 lalu).

IHSG Menuju 6,450 (Bagian Dari January Effect)

The Primary Trader melihat IHSG sedang dalam kenaikan menuju 6,450 sebagai bagian dari January Effect. Kenaikan tersebut pun seiring dengan penguatan Rupiah yang menandakan masuknya Investor Asing. Salah satu sentimen positifnya adalah kuota impor minyak Pertamina dipotong sebesar 30 juta barel di tahun 2020 ini. Dengan demikian, Neraca Perdagangan Indonesia di tahun 2020 berpotensi positif dan hal tersebut akan positif untuk Rupiah.

Investor Asing sudah masuk ke IHSG sejak pertengahan Desember 2019. Kemungkinan karena ada perkembangan dari Omnibus Law (dengan Cut Tax Rate). The Primary Trader melihat tren Net Buy Asing telah dimulai sehingga di Januari 2020 ini akan ada Akumulasi Net Buy Asing yang lebih tinggi lagi.

Perhatikan Sektor Consumer (Poultry dan Media) dan Banking

Berdasarkan grafik Trend and Momentum, sektor yang sahamnya rata – rata dalam kondisi Uptrend (namun belum Overbought) adalah Media, Poultry dan Banking.

Kolaborasi SCMA dan MNCN. Perhatikan SCMA

The Primary Trader menyukai sektor Media karena dua pemain besar (SCMA dan MNCN) berkolaborasi. Hal ini sebagai strategi melawan bisnis Streaming seperti Netflix, Hooq dan iflix. The Primary Trader memperhatikan SCMA yang saat ini terlihat hampir menyelesaikan pola mengakhiri Downtrend (Bottoming) dari sejak Juli 2019.

SCMA harus Breakout Rp1,500 untuk mengonfirmasi akhir Downtrend dan membuka potensi naik menuju Resistance penting di Rp2,000. Uptrend SCMA diawali dengan Breakout Rp2,000 tersebut.

SCMA sebenarnya terus Undeperform IHSG dan MNCN. The Primary Trader cenderung menghindari saham yang Underperform namun untuk SCMA kali ini dapat diperhatikan karena sentimen positif dari kolaborasi antara SCMA dan MNCN tentu adalah hal positif bagi keduanya.

Rencana Afkir Dini Positif Untuk Sektor Poultry. Pantau CPIN.

CPIN telah Breakout Bullish Continuation di Rp7,000 pada awal Januari 2020 dan saat ini ada potensi CPIN segera mengawali kenaikan sebagai lanjutan Uptrend dari sejak Oktober 2019 di Rp5,000. CPIN berpeluang naik menguji Resistance penting di Rp8,800.

Ada sentimen negatif dari kenaikan harga jagung karena panen jagung berpotensi mundur. Hal ini mengakibatkan harga jagung naik dan meningkatkan biaya pakan ternak dan menjadi sentimen negatif untuk sektor Poultry seperti CPIN. Rencana afkir dini berpotensi menjadi sentimen positif kembali (seperti yang terjadi di pertengahan tahun 2019 lalu).

De-eskalasi Di Valuasi Tinggi. Penguatan Rupiah, Katalis IHSG.

De-eskalasi Konflik Namun Bukan Berarti Tenang Karena S&P500 Mahal

The Primary Trader melihat potensi perang Iran – AS semakin berkurang seiring dengan kedua belak pihak tidak melanjutkan serangan balasan (terakhir adalah Iran melontarkan rudal yang dengan ‘sengaja’ tidak mengenai pangkalan militer AS). Saat ini Iran justru sedang dalam tekanan internasional karena ‘tidak sengaja’ menembak pesawat komersial Ukraina. Bahkan karena kecerobahan tersebut, ada tekanan dari masyarakat Iran untuk Ayatollah Khamenei.

Untuk pasar modal, hal tersebut terlihat pada index VIX yang menunjukkan risiko pada S&P500. Tampaknya VIX berhasil kembali melemah mendekati level standar minim risiko di 10. VIX terlihat telah bergerak Downtrend dari sejak Agustus 2019 lalu. Saat ini ancaman – ancaman Trump terhadap China semakin gencar (peningkatan tegangan Trade War). The Primary Trader melihat Down Trendline dari sejak itu sampai saat ini. Perlu dicatat bahwa bila terjadi kejadian yang berisiko tinggi dan VIX naik melewati (Breakout) Down Trendline tersebut maka VIX berpotensi terus naik menguji Resistance – Resistance penting di level 20 dan 24.

Kenaikan VIX selanjutnya dapat mengancam pergerakan S&P500 yang saat ini sudah mendekati level 3,300. Level 3,300 adalah target S&P500 sewaktu S&P500 Breakout Resistance di 2,950 pada Juli 2019. Setelah Breakout 2,950, S&P500 mengindikasikan pola Bullish Continuation (dari sejak Juni 2019) dan mengonfirmasi pola tersebut dengan Breakout 3,000 di akhir Oktober 2019. Pada saat inilah S&P50 semakin memperkuat target di 3,300.

Dengan demikian, setelah mendekati 3,300, The Primary Trader mengkhawatirkan Uptrend S&P500 dapat terganggu. Memang akan sulit untuk langsung berubah menjadi Downtrend namun setidaknya ada fase Technical Correction yaitu penurunan wajar ditengah Uptrend. Namun tentu penurunan wajar tersebut dapat mencapai ~5% atau mungkin mencapai 3,000an lagi. Investor lain pun menganggap valuasi S&P500 sudah mahal.

Rupiah Menguat Menuju Rp13,600 Menjadi Katalis Kenaikan IHSG.

Sentimen positif di awal tahun membuat Rupiah menguat dan berhasil Breakdown Support di Rp13,900 yang menahan penguatan Rupiah dari sejak awal tahun 2019. Rupiah berpotensi menguat menuju Rp13,600. Salah satu alasan Rupiah menguat adalah optimisme terhadap ekonomi Indonesia yang membuat Investor Asing masuk ke pasar keuangan Indonesia.

Penguatan Rupiah karena masuknya Investor Asing tentu akan menjadi katalis kenaikan IHSG. The Primary Trader melihat ada kemungkinan (kecil) bagi IHSG untuk mengakhiri Technical Correction di 6,218 pada minggu lalu untuk kemudian naik menuju Resistance penting di 6,450.

The Primary Trader percaya Tech. Correction wajar IHSG dapat mencapai 6,150 – 6,200. Meski demikian, tentu ada katalis – katalis tertentu yang dapat membatalkan perkirakan tersebut. Salah satunya adalah de-eskalasi tensi Timur Tengah tersebut.

Uptrend + Sinyal Buy. Perhatikan TOWR.

The Primary Trader melihat beberapa saham yang dalam kondisi Uptrend dan mendapat sinyal Alert Buy yaitu : TOWR, MEDC dan ANTM. Selain itu, ada beberapa saham dalam kondisi Uptrend dan mendapat sinyal Buy Now yaitu : PTPP, BIRD dan Saham Sektor Coal (UNTR, PTBA dan ITMG).

The Primary Trader menyukai MEDC dan percaya ANTM akan mendapat sentimen positif karena kenaikan harga emas dan nikel. Namun The Primary Trader memperhatikan TOWR karena terlihat TOWR masih berpotensi Uptrend dalam jangka panjang. Setidaknya TOWR dalam jangka pendek dapat naik menuju Resistance penting di Rp920.

Saat ini TOWR sedang dalam Tech. Correction atau Throwback dengan maksimum turun menuju Rp750. TOWR yang telah Breakout Resistance di Rp750 mengindikasikan kelanjutan dari Uptrend karena The Primary Trader melihat penurunan TOWR dari tahun 2019 adalah sebagai Bullish Continuation. TOWR berpotensi melanjutkan Uptrend dari sejak Oktober 2019 di Rp450 sampai Rp850 di awal tahun 2019. TOWR berpotensi naik dalam Uptrend jangka panjang menuju Rp1,200.

Katalis utama untuk Sektor Menara Telekomunikasi di tahun 2020 adalah kemungkinan para operator telekomunikasi mengurangi kepemilikan menara dalam rangka efisiensi operasional. Selain itu, tren G5 tampaknya akan meningkatkan permintaan menara. Strategi perluasan jaringan dari para operator pun masih menjadi katalis pendorong penambahan menara. Dalam waktu dekat, TOWR sedang mengincar menara dari EXCL.

The Primary Trader Daily 6 January 2020

Photo by Pixabay on Pexels.com

Ancaman Perang AS vs Iran

Serangan AS yang menewaskan jendral Iran Qasem Soleimani membuat Investor khawatir akan terjadinya perang dunia 3. Investor juga khawatir mengenai adanya krisis minyak karena Iran ‘menguasai’ selat Hormutz yang merupakan jalur 35% dari seluruh minyak mentah yang diproduksi secara global (2011). Mayoritas dari minyak mentah tersebut akan didistribusikan ke negara di Asia seperti Jepang, China, India, Korea Selatan dan China.

The Primary Trader merasa wajar bila Investor merasa khawatir akan terjadinya kekurangan suplai minyak secara signifikan sehingga harga minyak (yang diwakili oleh Brent) melonjak. The Primary Trader melihat harga Brent berpotensi mengawali Uptrend menuju setidaknya US$80 setelah Breakout US$70.

Meski demikian, perlu diingat bahwa AS saat ini sudah menjadi eksportir minyak (dan terbesar melebihi Arab Saudi). Oleh karena itu, AS sebagai salah satu negara yang paling membutuhkan minyak, mungkin tidak terlalu terganggu dengan potensi turunnya suplai minyak dari negara – negara Timur Tengah (karena selat Hormutz terganggu). The Primary Trader merasa Brent akan sulit untuk naik melewati US$80 atau bahkan mendekati US$87. Kenaikan harga minyak yang tinggi pun akan mengancam pertumbuhan ekonomi global yang mungkin baru mulai pulih karena adanya Trade Deal fase 1 (yang baru mau ditantandangi tanggal 15 Januari 2020 nanti oleh AS dan China).

Investor juga tampaknya khawatir akan terjadinya perang dunia ke-3 yang dipicu oleh AS vs Iran. Oleh karena itu, adanya kenaikan harga emas yang dianggap sebagai Safe Heaven ketika terjadi perang menunjukkan kekhawatiran tersebut.

Harga emas telah Breakout US$1,500 yang menandakan pola Bullish Continuation yang telah terjadi sejak Agustus 2019 terkonfirmasi. Dengan kata lain, kenaikan harga emas dari Juni 2019 di US$1,260 ke US$1,550 akan kembali berlanjut.

Secara jangka panjang, di tahun 2020 ini, emas berpotensi terus Uptrend menuju US$1,800, level tertinggi sejak November 2011. Emas sendiri sedang dalam Uptrend menuju US$,1700 setelah Breakout US$1,370 di Juni 2019 lalu. Resistance US$1,370 adalah Resistance yang menahan harga emas sejak tahun 2014 sehingga setelah di-Breakout, level tersebut akan menjadi Support kuat. Selain karena ancaman perang, The Primary Trader perkirakan Investor masih berhati – hati akan ancaman Trade War AS – China yang belum sepenuhnya hilang.

Harga BBM Turun. Positif Untuk Saham Sektor Konsumsi dan Retail.

Di awal tahun 2020, harga BBM dari Pertamina, Shell dan Total turun dengan besaran yang cukup besar yaitu sekitar Rp1,000an lebih. Hal ini terjadi karena harga minyak di 2H19 berkisar antara US$56 – US$68. Selain itu, menurut Erick Thohir, Menteri BUMN, harga BBM bisa turun karena pengaruh B30 yang membuat impor minyak mentah berkurang.

Penurunan harga BBM tentu dapat menjaga konsumsi masyarkat sehingga ada potensi positif untuk saham sektor Konsumsi dan Ritel. Memang ada katalis positif juga untuk sektor Rokok namun The Primary Trader melihat, kenaikan harga eceran sebesar 35% dan tren hidup sehat yang semakin menjamur, pada akhirnya akan mengurangi konsumsi rokok.

The Primary Trader memperhatikan saham INDF karena sedang dalam bentuk Bullish Continuation. INDF perlu Breakout Rp8,050 untuk melanjutkan Uptrend menuju setidaknya Rp9,150. INDF pun sedang dalam proses Breakout Rp7,850 yang mengindikasikan awal Uptrend jangka panjang dengan potensi menuju Rp10,000. Selain mie instan, konsumsi tepung serta adanya bisnis CPO menjadi katalis utama INDF. Saham INDF pun termasuk saham Big Caps yang harus dibeli oleh Investor Asing bila ingin berinvestasi di IHSG.

Lebih lanjut mengenai INDF.

Meningkatnya kelas menengah di Indonesia serta mulai banyak kaum milenial yang memasuki kelas produktif (bekerja atau berusaha) akan meningkatkan konsumsi ritel yang popular. MAPI sebagai emiten yang memiliki pangsa pasar di pakaian bermerek serta F&B yang popular seharusnya diuntungkan dari demografi tersebut. Selain itu, dengan turunnya harga BBM, ada harapan dan peluang peningkatan konsumsi tersebut.

The Primary Trader melihat MAPI sedang membentuk Bullish Continuation yang meningindikasikan masih ada harapan Uptrend. MAPI harus Breakout Rp1,100 untuk melanjutkan Uptrend menuju Rp1,300. Ada Resistance dari All Time High di Rp1,180 yang seharusnya dapat di-Breakout bila MAPI berhasil Breakout Rp1,100 dengan baik.

IHSG : Di Awal Uptrend Menguji Resistance di 6,450

IHSG semakin terindikasi Breakout 6,300 karena berhasil bertahan di atas 6,300 tersebut dalam penurunan di 2 hari awal tahun 2020. The Primary Trader perkirakan IHSG akan dapat mendekati level 6,400 di Januari 2020 untuk kemudian menguji Resistance 6,450 di Februari 2020.

Mengenai January Effect dan perkirakan The Primary Trader di bulan Januari 2020.

The Primary Trader juga melihat mulai adanya Foreign Inflow ke IHSG sejak akhir Desember 2019. Hal ini menandakan Investor Asing positif terhadap kabinet Indonesia Maju dimana antara lain ada Sri Mulyani di pos Menteri Keuangan (lagi), Erick Thohir di pos Menteri BUMN dan Basuki Hadimuljono di Menteri PUPR (lagi). Selain itu, ada harapan pemerintah dan DPR segera mensahkan Omnibus Law yang isinya antara lain menyederhanakan aturan – aturan pembentukan usaha serta yang paling penting pemotongan tarif pajak.

The Primary Trader Daily 03 January 2019

Photo by Aleksandar Pasaric on Pexels.com

Inflasi Indonesia Bulan Desember 2019

BPS melaporkan inflasi di bulan Desember 2019 sebesar 2.72% YoY dan 0.34% MoM, lebih rendah dari estimasi sebesar 2.9% YoY dan 0.49% MoM. Sementara inflasi inti hanya sebesar 3.02% YoY, lebih rendah dari estimasi 3.11% YoY.

Indonesia Inflation Rate

Rendahnya inflasi ini cukup mengkhawatirkan karena hal ini berarti ekonomi Indonesia terancam tidak tumbuh dan bahkan turun. Apalagi inflasi di 2019 (setahun) adalah yang terendah sejak krisis 1999 atau hanya 2.78%. Memang salah satu penyebab utama inflasi rendah adalah ketersediaan beras di Bulog yang cukup, bahkan melimpah sehingga terancam busuk. Harga bahan bakar pun cenderung stabil rendah karena harga minyak dunia yang juga rendah.

Kekhawatiran utama muncul karena inflasi inti juga lebih rendah dari estimasi. Inflasi inti adalah inflasi yang terkait dengan faktor utama seperti penawaran dan permintaan. Penurunan inflasi inti menunjukkan ada sesuatu yang perlu diwaspadai dalam ekonomi. Inflasi inti di tahun 2019 telah turun dari September 2019 sebesar 3.32% dan pada bulan Desember 2019 kemarin adalah yang terendah sepanjang tahun 2019.

Indonesia Core Inflation Rate

IHSG : Dalam Fase Throwback

Di hari pertama perdagangan tahun 2020, IHSG ditutup melemah -0.3%. Menurut The Primary Trader, penurunan tersebut adalah fase Throwback atau penurunan singkat setelah Breakout. Penurunan tersebut kurang lebih berhenti di level Support (atau Resistance yang sebelumnya telah di-Breakout). Level Resistance yang telah di-Breakout adalah di 6,300an sehingga The Primary Trader prediksi IHSG sudah mendekati akhir dari fase Throwback. Dalam waktu dekat, seharusnya IHSG akan segera mengawali kenaikan sebagai bagian dari January Effect. The Primary Trader percaya IHSG akan naik dan kembali mengalami January Effect di tahun 2020.

Dandy Rotation : Perhatikan Saham Bank dan Saham Konsumsi. Saham Komoditas Masih Layak Buy on Weakness

Berdasarkan Dandy Rotation, The Primary Trader melihat saham sektor Bank seperti BMRI dan BBCA serta saham sektor Konsumsi seperti UNVR cukup menarik. Saham UNVR efektif Stock Split di tanggal 2 Januari 2020 dengan rasio 1:5 sehingga saat ini harganya di Rp8,550an (Closing Price).

The Primary Trader melihat UNVR berpotensi naik menuju Resistance di Rp9,200 dan Rp10,000. Hal ini karena UNVR telah berada dalam Support kuat yang telah menahan kejatuhan UNVR dari sejak akhir 2016 yaitu di level Rp7,500 – Rp8,000an. Level tersebut dapat dikatakan sebagai Bottom UNVR. The Primary Trader kurang yakin UNVR dapat Breakout Rp10,000 namun dari Rp8,550 saat ini sampai Rp10,000, ada potensi kenaikan sebesar ~16% dan cukup menarik.

SMGR : Dalam Kuadran Fast Namun Sudah Mulai Uptrend

The Primary Trader melihat SMGR sedang dalam proses Bullish Continuation. Artinya adalah SMGR berpotensi melanjutkan Uptrend yang telah terjadi dari Juli 2018 (Rp6,500) sampai April 2019 (Rp14,500) dengan besaran yang sama (!). SMGR harus Breakout Rp13,000 untuk kembali melanjutkan Uptrend jangka panjang tersebut. Setidaknya SMGR berpotensi kembali menguji Resistance di Rp14,500 (setelah Breakout Rp13,000). The Primary Trader akan menghindari SMGR bila ternyata terjadi Breakdown Rp11,500.

The Primary Trader Daily 02 January 2020

Photo by Abhiram Prakash on Pexels.com

Sentimen Positif di awal tahun 2020

Peresmian Trade Deal fase 1 pada 15 Jan’20 tentu akan menjadi katalis positif karena dengan demikian, AS akan menurunkan tarif impor dari 15% menjadi 7.5% terhadap barang dari China senilai US$120 miliar dan mempertahankan tarif sebesar 25% terhadap barang China senilai US$250 miliar. Rencana pengenaan barang terhadap US$160 miliar yang efektif 15 Des’19 lalu pun batal karena adanya kesepakatan tersebut.

China dikabarkan akan menambah impor barang komoditas dari AS sebesar US$16 miliar dari US$24 miliar yang rutin diimpor dari AS (seperti Soybean). Dengan demikian, dalam 2 tahun ke depan, China setidaknya akan mengimpor barang koomidtas senilai total US$50 miliar dari AS.

The primary Trader melihat hal ini akan positif untuk pasar komoditas terutama Coal dan Oil&Gas. China dapat memulai kembali produksi pabriknya dan hal tersebut memerlukan komoditas energi seperti Coal dan Oil&Gas.

IHSG : Breakout Down Trendline Jangka Menengah

Dari sejak Jul’19, IHSG telah beberapa kali mencoba naik menuju 6,500 namun gagal sehingga terus turun membentuk Down Trendline jangka menengah (dari 6,460an). Menjelang akhir tahun 2019, IHSG berhasil Breakout Down Trendline tersebut di level 6,300. The Primary Trader melihat hal ini sebagai sinyal bahwa IHSG siap untuk Breakout Down Trendline yang lebih besar lagi (dari sejak Feb’18 di 6,680an).

IHSG masih perlu naik menuju 6,450 untuk Breakout Down Trendline besar dari sejak Feb’18 di 6,680an. Oleh karena itu, Breakout 6,300 menjadi penting karena dapat memperbesar peluang IHSG naik mendekati 6,450 lalu Breakout Resistance tersebut.

Memperbesar Peluang January Effect

Penandatanganan Trade Deal fase 1 tampaknya disukai oleh Investor karena akhirnya berhasil menjadi katalis pendorong IHSG Breakout 6,300. The Primary Trader percaya January Effect di bulan Januari 2020 akan terjadi. The Primary Trader perkirakan IHSG akan kembali mencatat January Effect di Januari 2020 ini. The Primary Trader perkirakan besaran Monthly Return IHSG di Januari 2020 adalah sebesar 1.4% – 1.6% (sesuai dengan kisaran Average Monthly Return IHSG pada saat terjadi January Effect dalam 10 tahun terakhir).

Cek di sini mengenai January Effect pada IHSG.

Mengasumsikan IHSG akan mengalami January Effect dengan Monthly Return yang berkisar antara 1.3% (Average Monthly Return IHSG dalam 10 tahun terakhir) sampai 3.1% (Average Monthly Return IHSG sejak 1996 hanya pada saat terjadi January Effect) maka IHSG pada akhir Januari 2020 berada pada rentang 6,381 – 6,494. IHSG baru dapat Breakout Resistance 6,450 bila ada kenaikan lebih dari 2.5%. Bila melihat IHSG hanya naik sebesar 1.6% pada January Effect dalam 10 tahun terakhir maka setidaknya IHSG masih dapat menyentuh 6,400 di akhir Januari 2020 dan The Primary Trader rasa hal tersebut cukup bagus.

Sektor Pilihan : Komoditas Seperti Coal, Oil&Gas dan Mineral

Memasuki awal tahun 2020 dan mengikuti perkembangan pasar terkini, The Primary Trader memperhatikan sektor Komoditas seperti Coal, Oil&Gas dan Mineral yang memang berada di area Uptrend dengan Momentum yang masih sehat (naik tapi belum Overbought). Sektor CPO dan Plantation sudah memasuki Overbought sehingga rawan terkoreksi. The Primary Trader pun rasa sudah saatnya Sell On News pada sektor tersebut karena program B30 sudah berjalan.

Sektor Uptrend dengan Momentum sehat lainnya adalah Bank dan FMCG yang menjadi Backbone IHSG. Waspada terhadap sektor Cigarettes karena kenaikan harga eceran sebesar 35%.

Sektor yang dapat menjadi perhatian lain adalah Industrial Area yang saat ini berada di dalam kondisi Downtrend namun mulai terlihat kenaikan (Momentum-nya positif).

The Primary Trader Daily 18 Nov’19

Menunggu RDG BI di 21 November 2019

Pertanyaan pentingnya adalah apakah BI akan kembali menurunkan BI Rate lagi setelah menurunkan sebanyak 100 bps (1%) dari sejak Jul’19 ? BI memang mengatakan akan mendukung usaha pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia. Inflasi Indonesia yang stabil rendah serta Rupiah yang terjaga pun semakin membuat BI berani untuk menurunkan suku bunga.

Indonesia Interest Rate

The Primary Trader percaya penurunan suku bunga masih akan terjadi 1x lagi di tahun 2019 sehingga menutup tahun ini, BI 7DRR Rate akan berada di level 4.75% dan artinya ada penurunan sebesar 125 bps atau 1.25% di tahun 2019.

Positif untuk Pasar Obligasi

The Primary Trader masih meyakini Yield SUN10Yr, acuan pasar obligasi, masih dalam tren turun. Artinya adalah harga obligasi masih naik (yang membuat Yield turun). The Primary Trader perkirakan Yield sedang dalam tren turun menuju 6.5% dan saat ini sedang dalam tahap Tech. Rebound atau kenaikan di tengah Downtrend. Kenaikan tersebut setidaknya dapat membuat Yield naik mencapai 7.1% namun tidak lebih karena merupakan kenaikan singkat. Ada Support Psikologis di 7% namun seharusnya dalam waktu dekat, seiring dengan Yield memulai kembali penurunan, Support di 7% dapat di-Breakdown.

Ikuti Live Chart di sini.

Selain karena tren penurunan suku bunga, tampaknya Investor mengantisipasi tidak ada lagi lelang obligasi di Des’19 sehingga mereka mengincar di pasar sekunder. Selain itu, harapan akan kenaikan rating Indonesia dari pemeringkat efek internasional pun tampaknya perlahan diantisipasi oleh Investor.

Positif juga untuk IHSG

Meskipun penurunan suku bunga serta membaiknya kondisi makro Indonesia akan berdampak langsung terhadap pasar obligasi, pasar saham seperti IHSG tentu juga akan mendapat katalis positif berupa kenaikan harga. Untuk IHSG sendiri, setidaknya masih bisa bertahan di atas 6,100 yang artinya adalah IHSG masih mempertahankan peluang Uptrend paska mengakhiri Bullish Continuation dari tahun 2018 (jangka panjang). Uptrend IHSG dalam jangka panjang pula akan diawali dengan Breakout 6,500.

Penurunan IHSG dari sejak pertengahan Okt’19 kemungkinan besar adalah sebagai respon dari kinerja laporan keuangan emiten 3Q19 yang memang tidak dapat dikatakan bagus namun tidak juga dikatakan buruk. Investor dalam waktu dekat seharusnya sudah mengantisipasi sentimen dan katalis positif di tahun 2020. Saat ini pun IHSG sudah di level murah

Dandy Rotation Untuk 18 November 2019

Saham berbasis Komoditas seperti Coal dan CPO menarik untuk diperhatikan karena banyak yang berada dalam kondisi Outperform dan dalam kuadran Outperform (PTBA dan ADRO) atau Buy On Weakness (UNTR dan AALI). Menjelang akhir tahun, China umumnya memerlukan banyak Coal karena masuk musim dingin sehingga pembangkit listrik di sana perlu persediaan Coal.

The Primary Trader menyukai sektor CPO karena adanya peningkatan permintaan karena aturan B30 di Indonesia dan mungkin Malaysia akan mengikuti kebijakan serupa. Selain itu, suplai CPO sendiri sudah berkurang karena penurunan harga yang terus terjadi sejak awal tahun 2017 (-40% sampai Jul’19). Harga CPO telah naik 38% dari sejak Jul’19 dan karena dalam Uptrend maka harga CPO Malaysia berpotensi kembali menuju puncak di tahun 2017. Selain AALI, LSIP dan TBLA pun layak diperhatikan.

Saham berbasis Consumer terutama Poultry, Media dan FMCG pun dapat diperhatikan karena berada dalam kondisi Outperform. Saham dalam kuadran Outperform seperti MYOR, INDF, CPIN dan SIDO dapat menjadi pilihan lalu saham di kuadran Buy on Weakness seperti MNCN dan SCMA pun dapat dipertimbangkan.

The Primary Trader menyukai sektor FMCG karena bila pemerintah menggenjot pengeluaran di awal tahun 2020 (berdasarkan keinginan dan paksaan Presiden kepada Kementerian dan Pemerintah Daerah) maka tentu pengeluaran masyarakat (belanja masyarakat) pun akan naik dari sejak awal tahun dan akan berulang beberapa kali di tahun 2020. Ada potensi pertumbuhan penjualan sektor Consumer di tahun 2020 lebih tinggi dibanding 3Q19 sebesar 5.2% YoY. MYOR, INDF, SIDO, HOKI dan CPIN layak menjadi pilihan.