Trend&Pattern 210118 : IHSG Sudah Mahal ?

Dari sejak awal tahun 2021 IHSG telah naik sebesar 6.59%, IHSG sudah menyentuh Upper Bollinger Band bahkan sempat berada di atas (The Primary Trader menyebutnya Overshoot) dan RSI periode 14 mulai turun di bawah level 70 yang biasanya merupakan sinyal Sell. The Primary Trader ingin menjawab apakah IHSG sudah mahal dan akan mengakhiri Uptrend-nya menggunakan beberapa pendekatan Analisis Teknikal.

Complete Set Bollinger Band

Percentage BB memasuki level 84% setelah beberapa hari sebelumnya berada di atas level 100%. Artinya IHSG memang sempat berada di atas Upper Band dan terindikasi telah Overshoot. Namun perlu diingat bahwa Overshoot mengindikasikan adanya potensi penurunan jangka pendek ditengah Uptrend. Overshoot memprediksi akan ada penurunan lanjutan namun belum tentu merubah tren.

Bandwidth BB sedang naik yang kemungkinan merubah tren penurunan Bandwidth dari sejak akhir November 2020. Artinya ada potensi kenaikan Volatilitas dalam beberapa waktu ke depan. Memang volatilitas telah naik kembali dari sejak awal Januari 2021 setelah di akhir Desember 2020 cenderung Flat. The Primary Trader melihat Investor dan Trader mulai kembali aktif berinvestasi saham.

Dengan melihat Middle Band Direction yang masih positif (meski ada kecenderungan tren turun), The Primary Trader perkirakan IHSG masih akan mempertahankan Uptrend meskipun IHSG dapat turun mendekati 6,169 (Downside Potential ~3%).

Moving Average Techniques

Menggunakan analisis Moving Average periode 200 (MA200), terlihat bahwa saat ini IHSG ada di atas MA200 sebesar 19.5%. Secara visual, posisi mendekati 20% di atas MA200 cenderung menjadi rata – rata posisi relatif tertinggi IHSG terhadap MA200.

Berdasarkan indikasi posisi relatif terhadap IHSG, The Primary Trader menilai IHSG memang telah mahal. Namun MA200 baru saja secara resmi mengarah ke atas sejak awal Desember 2020 (MA200 Direction) sehingga The Primary Trader menilai Uptrend IHSG dalam jangka panjang (sesuai dengan karakterisik MA200) masih akan bertahan – meskipun IHSG bisa saja turun sebesar sebesar ~20% menuju level MA200 sebagai Support.

Menggunakan MA20 dan MA200 terhadap saham – saham IDX80, The Primary Trader melihat kenaikan IHSG dalam jangka pendek memang terancam tertahan karena semakin sedikit saham IDX80 yang berada di atas MA20-nya. Hal ini ditandai dengan garis biru (jumlah saham IDX80 yang berada di atas MA20) semakin turun dan berpotensi berada di bawah 40. Namun saham – saham IDX80 yang berada di atas MA200 masih tetap stabil di level > 70an sehingga The Primary Trader kembali meyakini potensi Uptrend IHSG belum terancam berakhir.

Sektor dan Saham Pilihan

Dari grafik “Trend and Momentum in Sectors” di atas, The Primary Trader menyukai sektor Retail, Residential, Oil&Gas, Precast, Mineral dan Pharmacy. Hal ini karena sektor tersebut berada di dalam Uptrend (Trend Meter > 50) sementara terindikasi netral (Momentum Meter di rentang 30 – 70).

Saham di sektor Industrial Area, Healthcare, FMCG, Telecom, Textile dan CPO dapat mulai diperhatikan karena sudah Oversold. Saham Construction, Paper dan Tol sebaiknya di waspadai karena Overbought, terlebih lagi sektor Construction yang sudah Overshoot.

Berdasarkan Dandy Rotation di atas (saham – saham IDX80 yang berada dalam kondisi Uptrend dan mendapat sinyal Buy), The Primary Trader menyukai KLBF, PTPP dan WSBP.

KLBF : Breakout Down Trendline Jangka Panjang

KLBF telah Breakout Resistance dari Down Trendline jangka panjang (dari sejak 2015) di level Rp 1,650an dan bahkan telah membentuk All Time High di Rp1,960. Dengan kondisi ini, The Primary Trader perkirakan KLBF setidaknya masih dapat naik menuju Rp1,960.

PTPP : Breakout Resistance

Walau sudah naik tinggi (dan curam) dari sejak November 2020 sebesar 149% (atau ~3% per hari), PTPP segera menguji Resistance di Rp2,250 yang menjadi level signifikan antara tahun 2017 dan 2019. Setelah Breakout Rp2,250, PTPP berpotensi naik menuju Rp2,700 yang merupakan level Resistance lanjutan.

Net Buy Asing Dan Saham Pilihan

The Primary Trader mencoba melihat pergerakan Investor Asing terhadap IHSG. Seiring dengan Investor Global bersiap masuk ke Asia termasuk Indonesia, ada beberapa peluang yang menarik menurut The Primary Trader.

Masih Dalam Tren Net Sell Asing

Investor Asing mulai Net Buy cukup signifikan pada IHSG sejak awal November 2020. The Primary Trader mencatat Net Buy Asing sebesar Rp 5.6 triliun dari November 2020.

Namun demikian, angka tersebut masih sangat kecil sekali dibandingkan Net Sell sebesar Rp 57.8 triliun dari awal tahun 2020. Dengan demikian, tren Net Buy Sell Asing masih belum beruah yaitu tren Net Sell.

Net Buy Asing Pada Saham IDX80

The Primary Trader memilih saham – saham IDX80 yang sudah mencatat Net Buy Asing dalam 5 dan 20 hari terakhir. Dengan demikian, Net Buy tersebut bukan merupakan Investor Asing yang “telat” masuk.

Berikut adalah grafik Net Buy Asing dalam 1 dan 5 hari terakhir :

Terlihat bahwa saham BBCA sangat jauh mencatat Net Buy Asing dibandingkan saham – saham IDX80 lain. Hal ini dapat dimaklumi karena Market Weight BBCA sangatlah besar dengan fundamental yang sangat kuat sehingga Investor Asing (maupun Investor Institusi lain) yang berinvestasi dengan dana banyak pasti harus membeli BBCA.

Dari grafik di atas, masih terlihat ada 3 saham yang Outlier yaitu MDKA, ASII dan BBRI. Dari 3 saham tersebut, hanya MDKA yang patut dicatat karena merupakan saham Small – Medium Cap yang memang memiliki “Good Investment Story”. Selain itu, ketidakpastian dianggap masih ada ditengah Pandemi Covid-19 dan berita 2 vaksin besar yang diyakini aman. Dengan demikian, berinvestasi emas atau emiten produsen emas masih dapat dipertimbangkan. Oleh karena itulah MDKA memang wajar menjadi incaran Investor termasuk Investor Asing.

Bila ketiga saham Outlier tersebut dikeluarkan maka saham – saham IDX80 yang mencatat Net Buy Asing dalam 5 dan 20 hari terakhir adalah sebagai berikut :

Dari grafik di atas, The Primary Trader melihat saham SMGR, SMSM, MYOR, KLBF, BBTN dan INTP mendapat sinyal AlertBuyNow. Dengan demikian, dapat dipertimbangkan untuk transaksi besok (18 November 2020). Dari saham – saham tersebut, ada beberapa saham yang menarik menurut The Primary Trader.

BBTN : Potensi Inverted Head And Shoulders

BBTN mencatat Downtrend sejak awal 2018. Namun Down Trendline yang menandakan Downtrend tersebut telah di-Breakout pada awal November 2020 lalu. Dengan demikian, sangat besar peluang BBTN untuk mengakhiri Downtrend jangka panjang dan tentu berpotensi memulai Uptrend jangka panjang.

The Primary Trader pun melihat BBTN membentuk Bullish Reversal (Inverted Head and Shoulders). Volume pada saat Right Shoulder secara signifikan lebih tinggi dari sebelumnya yang menunjukkan kondisi yang ideal. Dengan demikian, selain Breakout Down Trendline-nya berarti valid, pembentukan Right Shoulder pun valid yang ikut memvalidasi Inverted Head and Shoulders.

Paska Breakout Rp1,400, BBTN berpotensi mengawali Uptrend jangka panjang dengan target minimum di Rp2,400. Perlu dicatat bahwa level Rp2,000 – Rp2,100 sangatlah signifikan melihat pergerakan BBTN sejak tahun 2010.

KLBF : Long Term Bullish Continuation (!)

Melihat pergerakan KLBF dari sejak tahun 2015, terlihat Downtrend jangka panjang yang mungkin tidak menarik – kecuali dalam jangka pendek kemarin dimana KLBF berhasil naik dari 86% dari Rp830 menuju Rp1,600. Namun The Primary Trader menyukai potensi KLBF dalam jangka (sangat) panjang sekali.

Apabila dilihat menggunakan Monthly Chart dan Line Chart maka KLBF akan terlihat sebagai berikut :

Chart KLBF di atas terlihat seperti Bullish Continuation dari sejak tahun 2014. Sideways sejak 6 tahun terakhir terindikasi berpotensi melanjutkan kenaikan dari sejak tahun 2008 (!) dari Rp100an sampai Rp1,900an. Sambil berangan – angan, KLBF berpotensi naik menuju Rp3,400 (dalam jangka 5 – 10 tahun ke depan) setelah Bullish Continuation-nya divalidasi dengan Breakout di level Rp1,600an.

MYOR : Uptrend Belum Selesai

MYOR adalah cerita saham yang telah Breakout Long Term Down Trendline (dari sejak Juli 2018) di Rp2,100 pada April 2020 lalu sehingga sampai saat ini MYOR masih berada dalam Uptrend. Potensi terdekat MYOR ada di Rp2,700 namun melihat Breakout April 2020 lalu, ada potensi MYOR menuju Resistance di kisaran Rp2,900 yang merupakan level signfikan pada Maret – Juli 2018.

Semoga terinspirasi.

3 Interesting Charts

The Primary Trader melihat 3 saham dengan grafik yang menarik. Tentunya hal ini berarti ketiga saham tersebut berpotensi Uptrend meski The Primary Trader tidak menyukai semuanya.

BULL : Ascending Triangle

The Primary Trader melihat adanya pola Ascending Triangle yang terbentuk sejak Juli 2020. Terlepas dari BULL yang rawan digoreng karena Market Cap yang kecil, The Primary Trader melihat pola ini mengindikasikan masih ada potensi kenaikan sebesar 25% lagi setelah BULL Breakout Rp360 (menuju Rp450).

Potensi BULL Breakout Rp360 tentu cukup besar melihat kenaikan Lower Low dari sejak Agustus 2020. Volume tentu tidak perlu dikhawatirkan karena jelas naik (terutama sejak April 2020).

The Primary Trader tidak menyukai BULL karena Market Cap yang relatif kecil, berada di bisnis Oil&Gas yang rasanya sudah tidak cerah masa depannya serta sangat tergantung dengan klien tunggal (Pertamina). Meski demikian, chart dari BULL layak masuk ke dalam posting ini.

JSMR : Breakout Down Trendline

JSMR telah Breakout Resistance Area di Rp3,800 – Rp4,000 yang juga adalah Resistance dari Down Trendline sejak Juli 2019. Dengan demikian, ada potensi JSMR berada dalam Uptrend. Melihat kondisi Up Trendline minor dari sejak Maret 2020, target kenaikan terdekat JSMR adalah Rp4,600. Meski demikian, Up Trendline tersebut tetap menunjukkan fakta JSMR sedang Uptrend sehingga tentu terbuka peluang menuju Rp6,000 yang merupakan Down Trendline jangka panjang JSMR (dari sejak 2015).

The Primary Trader pun ingin mencatat bahwa Resistance Area di Rp3,900 – Rp4,000 cukup penting karena merupakan level penting di tahun 2010 – 2011 serta menjadi Support di tahun 2016 dan 2018. Bila level ini berhasil di-Breakout, tentu ada bibit Uptrend untuk jangka panjang.

HOKI : Long-Term Bullish Continuation

Sejak Juli 2018, HOKI terlihat bergerak Sideways di rentang Rp580 – Rp1,000. The Primary Trader melihat adanya bentuk Double Bottom namun tentu seorang Analis Teknikal yang memiliki ilmu dasar tidak dapat menyebutkan hal tersebut (karena Double Bottom adalah Bullish Reversal Pattern yang berarti harus di dahului dengan Downtrend).

Bullish Continuation Pattern – apapun namanya – terlihat terbentuk pada HOKI sejak Juli 2018 tersebut sehingga kenaikan dari sejak awal tahun 2018 masih berpotensi berlanjut. The Primary Trader perkirakan HOKI segera menguji Resistance di Rp1,000. Volume masih terlihat rendah sehingga mungkin akan sulit Breakout Rp1,000 (terlebih lagi Resistance ini cukup kuat karena terbukti menahan kenaikan HOKI sebanyak 3 kali sejak Juli 2018). Bila ternyata HOKI berhasil Breakout Rp1,000, ada peluang kenaikan menuju Rp1,400.

Sektor Telekomunikasi Berpotensi Outperform IHSG. EXCL Layak Menjadi Pilihan.

Ratio Chart Sektor Telecom dengan IHSG terlihat berada di Support dari sejak 2Q19. MA20-nya memang masih turun namun mulai melandai dan hampir terjadi Golden Cross yang artinya Sektor Telecom berpotensi memasuki Outperform Trend terhadap IHSG. Bila melihat kejadi dari sejak 2Q19 lalu, kecenderung saham – saham Telekomunikasi (TLKM, EXCL dan ISAT) bergerak Outperform IHSG dapat bertahan 3 – 6 bulan.

Dari tiga saham Telekomunikasi yang masuk menjadi bagian dari Sektor Telekomunikasi di atas, The Primary Trader melihat saham EXCL memulai Outperform Trend terhadap IHSG. Pada awal Oktober 2020, Ratio Chart EXCL – IHSG berhasil Breakout MA20 atau Golden Cross sehingga menurut The Primary Trader, saham EXCL memasuki Outperform Trend terhadap IHSG.

Saham – saham lain di sektor Telekomunikasi seperti TLKM dan ISAT masih dalam Underperform Trend karena Ratio Chart TLKM – IHSG serta Ratio Chart ISAT – IHSG masih di bawah MA20.

Dengan demikian, The Primary Trader melihat adanya potensi yang menarik di Sektor Telekomunikasi khususnya EXCL. Secara Analisis Teknikal tradisional, EXCL sedang menguji Resistance dari Downtrend Channel yang terbentuk sejak Juli 2020 yaitu di Rp2,200. Segera setelah Breakout Rp2,200, EXCL berpotensi naik menguji Resistance di Rp2,700 yang cukup kuat dan merupakan bagian dari Down Trendline dari sejak November 2019 (!).

Net Sell Asing di EXCL pun terlihat mulai melandai dan mulai muncul beberapa kali Net Buy Asing dalam 2 minggu terakhir. Cukup menjanjikan – menurut The Primary Trader.

Menggunakan analisis Bollinger Band Complete (ditambah dengan Microscopic Technical Analysis), The Primary Trader dapat menyimpulkan bahwa EXCL yang sudah berada di atas Middle Band atau MA20 berpotensi terus naik karena MA20-nya sendiri mulai mengarah ke atas (dilihat dari Middle Band Direction yang mulai positif). Selain itu, volatilitas berpotensi meningkat karena Bandwidth BB berpotensi mengarah ke atas – yang menandakan jarak antara Upper Band dan Lower Band mulai melebar. The Primary Trader menyimpulkan demikian karena Bandwidth Histogram mulai kembali positif – tanda Bandwidth BB mulai mengarah ke atas.

Menurut Analis, Sektor Telekomunikasi adalah salah satu yang diuntungkan dari UU Omnibus Law karena akan semakin memperkecil persaingan antara pemain Telekomunikasi. Singkatnya, ada potensi industri ini semakin efisien.

Satu hal penting yang The Primary Trader sukai dari EXCL adalah bahwa emiten ini sangat bergantung dengan pendapatan Data. The Primary Trader menyukai pertumbuhan pendapatan Data EXCL di 1H20 sebesar 16.5% setelah tumbuh 4.6% QoQ dan 14.9% YoY di 2Q20 – Thanks to WFH Trend. Persaingan memang makin ketat sehingga pelanggan EXCL berkurang. Namun demikian, tetap pendapatan EXCL secara keseluruhan bertambah.

Perlu diperhatikan bahwa Investor masih menantikan perkembangan UU Omnibus Law yang baru saja disahkan. Perlawanan dari masyarakat tampaknya menjadi kekhawatiran tersebut. The Primary Trader berharap situasi dapat kondusif dan memberikan keyakinan akan sentimen positif dari implementasi UU Omnibus Law ini. Semoga.

Mencari Sektor Terbaik Saat Ini Dan Beberapa Saat Kedepan

Indeks Sektoral

The Primary Trader memiliki indeks sektoral tersendiri yang berbeda dengan Sectoral Index di IDX dan bukan juga indeks ala GICS atau BICS versi Bloomberg. Sektor tersebut adalah sebagai berikut :

  • Cement
  • Cigarettes
  • Coal
  • Construction
  • CPO
  • FMCG
  • Hospital
  • Industrial Area
  • Media
  • Mineral
  • Oil&Gas
  • Pharmacy
  • Poultry
  • Residential
  • Retail
  • Telecom
  • Tower

Tentu sektor yang memilki satu saham yang sangat dominan seperti Auto (ASII) dan Toll (JSMR) tidak The Primary Trader sebutkan.

Sektor Yang Berpotensi Uptrend

Dari daftar sektor tersebut, secara manual dan memperhatikan Chart, The Primary Trader melihat beberapat sektor yang berpotensi Uptrend dan menarik adalah Hospital Sector. The Primary Trader melihat sektor tersebut telah mengonfirmasi Bullish Continuation Pattern dari sejak Mei 2020 sehingga berpotensi melanjutkan Uptrend yang telah terjadi dari Maret 2020.

Sektor Poultry memang masih berada dalam Sideways namun The Primary Trader memonitor erat karena selain Sideways-nya terlihat sebagai Bullish Continuation Pattern, sektor tersebut mendekati Down Trendline dari sejak akhir 2018 (!). Dengan demikian, bila terjadi kenaikan yang tidak banyak maka sektor Poultry mengonfirmasi Bullish Continuation Pattern sekaligus mengakhiri Downtrend jangka panjang. Tentunya dengan demikian, sektor Poultry semakin berpeluang mengawali Primary Uptrend.

Sektor Tower sempat Breakout Resistance dari 3Q17 namun gagal namun The Primary Trader melihat sektor ini tetap mempertahankan Uptrend-nya dari sejak 4Q18 (!). Dengan demikian, perlahan tapi pasti, sektor Tower tetap Uptrend sehingga The Primary Trader yakin kali ini Sektor Tower mampu Breakout valid Resistance dari 3Q17 tersebut.

Sektor Yang Berpotensi Outperform IHSG

Menggunakan metode Relative Performing dan pembuatan indeks sektoral (menggunakan metode Price Weighting atau Equal Weight), The Primary Trader membandingkan semua indeks sektoral dengan IHSG. Dari Ratio Chart Sektor – IHSG tersebut, The Primary Trader menerapkan metode Analisis Teknikal tradisional untuk melihat potensi chart tersebut bergerak Uptrend (yang berarti Outperform terhadap IHSG).

Chart RC FMCG – IHSG masih terlihat Uptrend dari sejak 4Q18 sehingga sektor FMCG masih berada dalam Outperform Trend terhadap IHSG – sampai saat ini.

Selain sektor Hospital berada dalam Uptrend, RC Hospital – IHSG yang mempertahakan Uptrend dari sejak 2019 mengindikasikan saham – saham Rumah Sakit bergerak Outperform IHSG. Dengan demikian, sektor ini sangatlah menarik.

Chart RC Mineral – IHSG berhasil melewati Resistance sepanjang 2018 dan 2019 sehingga tentu mengindikasikan Uptrend dari sejak Maret 2020 sangatlah kuat. Dengan demikian, sektor Mineral masih tetap berpotensi Outperform IHSG.

RC Pharmacy – IHSG sangat jelas terlihat dalam Uptrend setelah Breakout Resistance dari sejak 3Q17. Dengan demikian, sektor Pharmacy tetap berpeluang Outperform IHSG.

The Primary Trader melihat RC Poultry – IHSG sebagai Sideways yang berpotensi melanjutkan Uptrend dari sejak awal 2018. Dengan demikian, meski sering bergantian Outperform – Underperform IHSG, ada potensi dalam waktu dekat sektor Poultry akan terus mempertahankan kondisi Outperform terhadap IHSG.

RC Tower – IHSG tampaknya sudah mengonfirmasi Bullish Continuation Pattern dari sejak April 2020. Dengan demikian, sektor Tower akan kembali mempertahankan kondisi Outperform terhadap IHSG.

Pilih Sektor Apa ?

Berikut adalah sektor yang berpotensi Uptrend : Hospital, Poultry dan Tower. Sementara berikut adalah sektor yang berpotensi Outperform IHSG : FMCG, Hospital, Mineral, Pharmacy, Poultry dan Tower. Dengan demikian, setidaknya ada tiga sektor yang dapat diperhatikan yaitu sektor Hospital, Poultry dan Tower.

Dengan saling membandingkan satu sama lain (dengan metode Relative Performing yang sama) maka dapat dipilih satu sektor yang berpotensi Outperform sektor lain.

RC Hospital – Poultry

Membandingkan sektor Hospital dengan sektor Poultry maka terbentuklah chart RC Hospital – Poultry seperti di bawah. Chart RC tersebut masih terlihat Uptrend sejak 2019 dan berpotensi mempertahankan Uptrend karena terlihat membentuk Bullish Continuation dari sejak 3Q19. Dengan kata lain, sektor Hospital berpotensi mempertahakan kondisi Outperform terhadap sektor Poultry.

RC Hospital – Tower

Bila sektor Hospital dibandingkan dengan sektor Tower maka RC Hospital – Tower terlihat masih Uptrend (dari sejak 2018) namun sangat Downtrend dari sejak 4Q18. The Primary Trader belum melihat adanya potensi Bullish Reversal karena terlihat RC Hospital – Tower masih berada di Bottom (atau Support dari Up Trendline yang landai dari sejak 2018 tersebut). Oleh karena itu, sektor Tower kemungkinan besar masih akan Outperform sektor Hospital.

RC Tower – Poultry

Sampai saat ini, dapat diambil kesimpulan bahwa sektor Tower lebih menarik dari sektor Hospital dan sektor Hospital sendiri lebih menarik dari sektor Poultry. Kali ini The Primary Trader membandingkan sektor Tower dengan sektor Poultry dan terlihat RC Tower – Poultry yang jelas Uptrend dari sejak awal 2019. Bila dilihat dari tahun 2017 (atau tepatnya 3Q17), sektor Poultry masih Outperform sektor Tower. Namun Outperform Trend sektor Tower (terhadap sektor Poultry) dari sejak 2019 terlihat lebih valid sehingga The Primary Trader menyimpulkan sektor Tower masih akan Outperform sektor Poultry.

Dengan demikian, kesimpulan akhir yang The Primary Trader dapat simpulkan adalah sektor Tower sangatlah menarik. Selain Uptrend, sektor dengan saham TOWR dan TBIG masih akan Outperform IHSG dan (kemungkinan besar) sektor – sektor lain termasuk sektor Hospital seperti MIKA dan Poultry seperti JPFA dan CPIN.

Pilih TOWR atau TBIG ?

Dengan membentuk RC TOWR – TBIG, The Primary Trader melihat TBIG saat ini sedang Outperorm TOWR. Namun The Primary Trader percaya RC TOWR – TBIG masih berpotensi Uptrend karena penurunan tersebut terlihat sebagai Bullish Continuation pattern. Dengan demikian, dalam jangka menengah – panjang, TOWR masih akan Outperform TBIG.

Semoga bermanfaat dan memberi inspirasi.

Sekilas mengenai Multi – Level Charts (RC Saham – IHSG, RC Saham – Sektor dan sebagainya), silahkan ditonton video Youtube ini :

Market Dan Saham Pilihan 200928

The Primary Trader ingin membagikan template Technical Analysis yang menggabungkan sedikit Data Science sebagai inspirasi. Klik di sini untuk melihat secara keseluruhannya. Berikut adalah ringkasan untuk digunakan pada tanggal 28 September 2020.

Sektor Pilihan Berdasarkan Trend & Momentum Quadrant

The Primary Trader melihat sektor Industrial Area, Pharmacy, Tower dan Healthcare berada dalam kondisi Uptrend (dimana %BB di atas 50) sementara belum terindikasi Overbought (dilihat dari Stochastic Oscillator-nya). Berikut adalah saham – saham dari ketiga sektor tersebut yang mendapatkan sinyal Buy : MIKA, KAEF dan SSIA.

Sektor Toll (JSMR) perlu diwaspadai karena berada dalam kondisi Overbought sementara masih dalam kondisi Downtrend (%BB di bawah 50).

Meski masih dalam Downtrend namun kondisi Oversold dari sektor Telecom, Precast, CPO, Residential, Media dan Cigarettes mulai dapat diperhatikan karena kemungkinan besar ancaman penurunan sudah mulai terbatas. The Primary Trader menyukai sektor CPO (baca tulisan di sini). Sektor Media dan Telecom (yang disebut sebagai sektor di Indonesia yang dapat dianggap sebagai New Economy) pun seharusnya mulai menarik.

Saham Pilihan Berdasarkan Dandy Rotation

Berdasarkan Dandy Rotation, saham yang berada di kuadran Outperform dan mendapat sinyal Buy (Alert Buy atau Buy Now) adalah :

Saham ASII, CPIN dan JPFA mendapat sinyal Downtrend sehingga perlu dipertimbangkan kembali. The Primary Trader menyukai HOKI, SIDO, ACES dan BSDE.

Saham Undershoot

Undershoot adalah istilah yang The Primary Trader gunakan untuk menggambarkan kondisi dimana harga saham berada di bawah Lower Band. Secara statistika, kondisi tersebut tersebut hanya terjadi ~5% dari seluruh kejadian. Saham yang berada dalam kondisi Undershoot antara lain : TINS, INDF, TLKM dan BNLI. Keempatnya mendapat sinyal Buy sehingga dapat dipertimbangkan untuk Very Short Term Trading. Perlu diwaspadai karena tentunya saham Undershoot berarti sedang dalam Downtrend.

Kesimpulan

Berikut adalah saham yang The Primary Trader sukai berdasarkan kondisi di atas :

MIKA, KAEF dan SSIA
HOKI, SIDO, ACES dan BSDE
TINS, INDF, TLKM dan BNLI

The Primary Trader kurang menyukai Undershoot namun diantara keempat saham yang Undershoot, TINS dan INDF terlihat menarik.

Berdasarkan analisis teknikal klasik, The Primary Trader menyukai SSIA yang terlihat pola Bullish Reversal. Meski perlu Breakout Rp460 namun perlu dicatat bahwa Breakout Resistance Rp460 bukan hanya mengonfirmasi pola Bullish Reversal namun juga membatalkan Down Trendline dari sejak Oktober 2019. Target SSIA ada di Rp460 setelah Breakout.

Pelabuhan Patimban yang akan beroperasi di bulan November 2020 tentu menjadi katalis positif bagi kawasan industri di kawasan sekitar dan salah satunya SSIA yang memiliki kawasan industri di Subang. Selain itu, dilihat dari APBN tahun 2021, pemerintah akan mendorong kembali pembangunan infrastruktur yang tentu akan menjadi pendorong utama pendapatan SSIA. Selain itu, harapan Omnibus Law akan disahkan dalam waktu dekat akan mendorong permintaan kawasan industri sehingga diharapkan pendapatan kawasan industri SSIA pun terdorong.

The Primary Trader mencatat salah satu pembelian selama PSBB dan Work From Home adalah pembelian untuk kerja (meja dan kursi). Perabotan rumah tangga tersebut adalah salah satu produk dari ACES. The Primary Trader melihat hal tersebut menjadi sentimen positif sehingga terlihat ACES menarik dan berpotensi mengakhiri Technical Correction (dari sejak Juli 2020 di level Rp1,800) dan kembali naik menuju Rp1,800 – Rp1,900 yang merupakan Resistance kuat. ACES perlu Breakout Rp1,600 namun The Primary Trader yakin dalam waktu dekat akan terjadi Breakout – ditopang dengan adanya sentimen vaksin segera tiba di akhir tahun (yang juga membuat IHSG semakin menarik).

Semoga.

CPO : Saham Yang Berpotensi Mengawali Primary Uptrend

Harga CPO Malaysia masih terindikasi berpotensi mempertahankan Uptrend untuk menguji kembali Resistance di MYR3,200. Penurunan saat ini terindikasi sebagai Technical Correction, tentu dengan asumsi akan tetap bertahan di atas MYR2,850.

CPO Malaysia seharusnya masih berpotensi kembali menguji Resistance kuat dari 3 tahun terakhir yaitu di MYR3,200. The Primary Trader melihat di tahun 2020, ada kesempatan CPO Malaysia berpotensi Breakout Resistance jangka panjang tersebut sehingga benar – benar mengawali Primary Uptrend.

Salah satu katalis yang penting bagi CPO adalah keseriusan Indonesia untuk menggunakan CPO produksi domesti menjadi Biodiesel. Saat ini Indonesia sudah menerapkan B30 yaitu kandungan 30% CPO. Namun ada rencana yang sudah mulai terbukti untuk melanjutkannya menjadi B50 sampai B100. Mungkin akan sulit untuk sampai B100 tapi The Primary Trader melihat kemungkinan Biodiesel akan menjadi B50. Pemerintahpun tampaknya setuju.

Dengan kondisi global, The Primary Trader tidak yakin harga CPO dapat kembali naik menuju MYR4,000 namun The Primary Trader cukup yakin ada kemungkinan besar untuk sampai ke level MYR3,500an.

Setidaknya ada tiga kemungkinan katalis kenaikan CPO Malaysia dalam 6 bulan ke depan yaitu permintaan China (paska Recovery dari Pandemi Covid-19), festival Diwali di India serta ancaman La Nina. Karena kebijakan Lockdown di banyak negara, impor menjadi rendah sekali termasuk minyak konsumsi (Vegetable Oil). Oleh karena itu, The Primary Trader meyakini hal ini akan menjadi katalis kenaikan harga CPO Malaysia atau setidaknya mencegah harga CPO Malaysia kembali turun drastis.

Saham CPO Pilihan The Primary Trader

Ada dua saham yang The Primary Trader lihat sedang bersiap untuk mengakhiri Primary Downtrend-nya yaitu TBLA dan DSNG.

The Primary Trader melihat TBLA diuntungkan dari sektor CPO dan Gula. Dua bisnis ini seharusnya menjadi katalis positif bagi TBLA karena selain memiliki kebun sawit dan tebu, TBLA juga mampu mengolah komoditas tersebut. Selain itu, TBLA juga merupakan pemasok B30 dan importir gula.

Hal yang membuat The Primary Trader menyukai TBLA adalah fakta bahwa TBLA sedang Breakout Down Trendline di Rp800 yang juga merupakan area Resistance jangka panjang. Dengan potensi Breakout maka TBLA berpeluang mengawali Primary Uptrend menuju Rp1,300.

DSNG adalah salah satu emiten CPO yang masih relatif kecil tapi kurang lebih sama seperti TBLA. Sebagai salah satu emiten muda, The Primary Trader melihat mulai banyak minat dan partisipasi Investor sehingga ada potensi sentimen terhadap DSNG mulai positif.

Meskipun masih muda namun pohon sawit DSNG yang memasuki Prime Mature akan terus bertambah dalam 3 tahun ke depan. Hal ini membuat DSNG berpotensi menjadi emiten CPO yang menarik.

The Primary Trader melihat DSNG sedang menguji Resistance penting di Rp500 yang menahan DSNG sejak tahun 2018. DSNG sendiri mulai berhasil Breakout Primary Downtrend di Rp450an sehingga peluang Breakout Rp500 terlihat membesar. Setelah Breakout Rp500, DSNG berpotensi mengawali Primary Uptrend menuju Rp700.

Market Dan Saham Pilihan 200921

Berikut materi dalam video :

Pembahasannya antara lain :

  • IHSG dan Market Breadth terhadap Saham di IDX80. IHSG berpotensi melanjutkan kenaikan sampe 2-3 minggu ke depan dilihat dari saham – saham IDX80 yang banyak mencatat Positive 5D Return
  • Technical Data Viz, termasuk Dandy Rotation. Sektor Tower dan Industrial Area masih menarik. Sektor Healthcare dan Auto sebaiknya diwaspadai
  • Chart (Saham) Pilihan : UNTR, INKP, ACES dan TBIG

Berikut video di Youtube :

Untuk Investor dan Trader yang ingin memahami Dandy Rotation, silahkan cek video di Youtube berikut :

Semoga bermanfaat.

IHSG : Bottom – Up Approach Mengindikasikan (Masih Ada) Ancaman Downtrend

IHSG terlihat Breakout dari Sideways sejak April 2020 yang menandakan potensi kenaikan menuju 5,700. Bila IHSG berhasil naik di atas Fibonacci Retracement 61.8% di 5,400 maka ancaman Downtrend berkurang dan IHSG berpotensi berada dalam Uptrend menuju (minimal) 5,700. Bahkan sangat terbuka kemungkinan IHSG kembali ke level 6,400 – 6,700. Hal ini berpotensi terjadi bila IHSG berhasil naik melewati 5,400 yang mana hal tersebut terjadi setelah IHSG Breakout 4,650 (Breakout Sideways sejak April 2020).

Breakout 4,650 tampaknya telah terjadi sejak akhir April 2020 namun sepanjang Mei 2020, IHSG terlihat kembali Sideways di level 4,500-an. Hal ini yang membuat The Primary Trader masih meyakini Downtrend belum selesai dan masih ada potensi penurunan sebagai One Last Drop untuk IHSG membentuk Bottoming atau Bullish Reversal Pattern.

Menggunakan pendekatan Bottom – Up Analysis, The Primary Trader ingin melihat saham – saham konstituen IHSG yang berpengaruh (Big Caps). Dapat disimpulkan bahwa saham – saham Big Caps tersebut relatif membentuk Bearish Continuation Pattern yang menunjukkan saham tersebut masih berpotensi Downtrend. Bila demikian maka seharusnya IHSG pun sedang bersiap kembali Downtrend.

Berikut adalah saham – saham dengan masing – masing kategori yang semuanya mengindikasikan kelanjutan dari Downtrend :

Descending Triangle (atau menyerupai) : BBRI dan BMRI

Symmetrical Triangle (atau menyerupai) : ASII, INTP, PGAS dan SMGR

Strong Down Trendline : HMSP, ICBP, GGRM dan UNTR

Saham – saham Big Caps di atas menunjukkan ancaman Downtrend atau segera kembali turun dalam Downtrend. Dengan demikian, IHSG tentu akan turun mengikuti saham – saham tersebut. The Primary Trader masih berhati – hati dan waspada.

UNPUB : Big Bank “Menipu” IHSG. Fokus Ke-6 Saham Ini.

Bila melihat pergerakan IHSG dan membandingkannya dengan pergerakan Big Bank (BBCA, BBRI, BBNI dan BMRI) maka terlihat pergerakan Big Bank lebih Bullish dibanding IHSG itu sendiri. Sejak awal tahun 2018, Big Bank bergerak Uptrend sementara IHSG sudah bergerak Sideways. Ketika IHSG mengalami Breakdown yang menandakan arah tren berubah menjadi Downtrend, Big Bank masih belum mengindikasikan Breakdown. 1-2 minggu kemudian terjadi Breakdown pada Big Bank.

The Primary Trader mencoba melihat Big Cap lain yang relatif memiliki variasi sektor. Berikut adalah pilihannya : GGRM, INDF, ICBP, ASII, TLKM dan UNVR. Berikut adalah chartnya :

Other Big Caps tersebut mengindikasikan Uptrend – hanya sampai awal tahun 2019 atau sekitar akhir 1Q19. Setelah itu, Other Big Caps mulai bergerak Downtrend. Pada 3Q19, Other Big Caps mulai Breakdown dan mengonfirmasi Downtrend.

Apabila digabungkan, maka jelas terlihat Other Big Caps telah Downtrend dari 2019 sementara Big Bank tampaknya menopang IHSG sehingga IHSG masih bisa Sideways. Pada awal tahun 2020, terlihat Big Bank mulai naik namun tidak bertahan sementara Other Big Caps cenderung Flat sebelum IHSG jatuh yang disebabkan oleh Crash di Big Bank.

Kesimpulan

Per hari ini (28 April 2020), Big Bank memang memiliki Total Market Cap 22.5% dari IHSG. Sementara Other Big Caps memiliki total 19.27% dari IHSG. Cukup wajar bila Big Bank masih lebih mendominasi pergerakan IHSG.

Namun The Primary Trader lebih menyukai Other Big Caps karena setidaknya terdiri dari 5 sektor yaitu Cigarettes (GGRM), Food and Beverage (ICBP dan INDF), Automotive (ASII), Telecommunication (TLKM) dan Consumer Staples (UNVR). Sektor tersebut cenderung Cyclical (Auto) namun ada beberapa yang menjadi Backbone ekonomi Indonesia yaitu Consumer Related seperti Cigarettes, F&B dan Consumer Staples.

Oleh karena itu, untuk melihat kondisi IHSG lebih detil, selain Big Bank, sangat perlu juga dilihat Other Big Caps.

Dua Sektor Yang Berpotensi Menarik Di Tengah Trend WFH : Tower Dan Telekomunikasi

Ditengah PSBB karena wabah Covid-19 di banyak daerah serta mulai larangan mudik dalam rangka mengendalikan penyebaran wabah, The Primary Trader ingin melihat dua sektor yang mungkin mendapat sentimen sentimen positif yaitu sektor Tower dan sektor Telekomunikasi.

Sektor Tower dapat terus berjalan seperti biasa dan memperluas jaringan dan pembangunan menara karena sektor ini termasuk yang diizinkan berjalan ditengah PSBB. Selain itu, saat ini pembangunan menara dilakukan di daerah yang relatif terpencil sehingga masih relatif aman. Peningkatan permintaan Data (yang dipicu oleh tren WFH) yang pasti akan menjamin kebutuhan akan menara.

Data Traffic tumbuh secara eksponensial dan sangat mungkin di 1Q20 ini tumbuh lebih tinggi dari sebelumnya. Mirae perkirakan pertumbuhan data sebesar 17% per tahun dari 2019 – 2021. Permintaan data yang terus tumbuh (tinggi) inilah yang menjamin permintaan menara akan tetap ada dan menjaga bisnis di Sektor Tower tetap baik.

Meski demikian, bukan berarti emiten Sektor Tower dan Sektor Telekomunikasi tidak terpukul karena wabah Covid-19 dan PSBB. Ada potensi penurunan karena aktifitas komunikasi ikut turun. Namun seiring dengan tren Work From Home, kebutuhan internet sangat mungkin meningkat terutama untuk emiten Telekomunikasi yang fokus di Data yaitu EXCL. Pendapatan EXCL dari bisnis Data mencapai 76% sehingga tren WFH yang memaksa menggunakan internet sendiri berpotensi mendorong permintaan Data.

Menurut estimasi Mandiri Sekuritas, permintaan Indihome dari TLKM berpotensi meningkat dari Rp17.8 triliun di tahun 2019 menjadi Rp22 triliun (naik 23% YoY). Namun kontribusi Indihome terhadap pendapatan TLKM hanya ~15% sehingga relatif kecil. Sehingga meskipun ada penambahan yang tinggi dari Indihome, mungkin kontribusinya terhadap TLKM relatif tidak signifikan – terlebih lagi bila aktifitas komunikasi dari Telkomsel berkurang. Porsi pendapatan Telkomsel terhadap TLKM mencapai 70%. Hal ini sempat membuat Menteri BUMN Erick Thohir mengatakan lebih baik tidak ada Telkom Tbk.

Oleh karena itu, The Primary Trader melihat pergerakan Sektor Tower di tahun 2020 sangat bagus dibanding IHSG dan Sektor Telekomunikasi. The Primary Trader menyimpulkan permintaan Data yang tinggi mungkin lebih positif untuk sektor Tower dibanding sektor Telekomunikasi.

Sektor Tower berpotensi berada dalam trend Outperform IHSG setelah berhasil melewati Resistance dari level tertinggi di 3Q17. Sementara Sektor Telekomunikasi masih harus bergerak naik dan menguji Resistance yang cukup kuat dari sejak 3Q18. Resistance ini berhasil menahan 2x kenaikan Sektor Telekomunikasi.

Saham TOWR dari sektor Tower berhasil mencatat Return 10% YTD dan menjadi satu – satunya saham yang mencatat Return Positive di 2 sektor yang dibahas. Saham TBIG, meski mencatat Negative Return YTD namun lebih tinggi dari Negative Return IHSG dan saham – saham sektor Telekomunikasi.

The Primary Trader melihat saham TOWR sedang menghadapi Resistance kuat di ~Rp915. Level ini berhasil menahan TOWR dari sejak akhir 2015 dan telah kurang lebih 3x diuji namun masih gagal di-Breakout. Menggunakan Fibonacci Retracement, setelah TOWR berhasil Breakout Rp915, ada potensi Uptrend jangka panjang menuju setidaknya Rp1,050. The Primary Trader perkirakan TOWR gagal Breakout dalam waktu dekat namun masih memerlukan satu kali Tech. Correction (turun mendekati Rp750 – Rp850) sebelum berhasil Breakout Rp915.

The Primary Trader melihat TBIG bergerak dalam Downtrend Channel dari sejak Oktober 2019. Namun Downtrend Channel tersebut terlihat sebagai Bullish Continuation dari Uptrend sejak 2Q19 (dari Rp600). Ada potensi lanjutan Uptrend jangka panjang untuk TBIG menuju Rp1,500 namun tidak dalam waktu dekat. TBIG masih harus Breakout Resistance dari Downtrend Channel (yang saat ini) di Rp1,100. The Primary Trader perkirakan TBIG akan terkoreksi terlebih dahulu mendekati Rp900 – Rp1,000 untuk kemudian mengakhiri Downtrend Channel dan menguji Resistance kuat di Rp1,350 sebelum ke Rp1,500.

Sektor Menarik Di Tengah Krisis COVID-19 : Farmasi Dan Rumah Sakit

Pergerakan emiten di sektor Farmasi dan Rumah Sakit sepanjang tahun 2020 ini dapat menjadi pilihan. Hal ini tentu karena selain menjadi sektor terdepat dalam menangani wabah Covid-19, tentu diharapkan ada potensi keuntungan (setidaknya ada potensi kenaikan pendapatan).

The Primary Trader mencatat pergerakan 7 saham yaitu : Sektor Farmasi (KAEF, INAF dan KLBF) serta Sektor Rumah Sakit (MIKA, HEAL dan SILO) sebagai berikut :

Secara relatif, The Primary Trader melihat potensi yang sangat menarik pada sektor Farmasi (garis orange). Hal ini karena setelah bergerak Downtrend sejak 2Q19, terlihat pola Bullish Reversal yang cukup menjanjikan untuk merubah Downtrend menjadi Uptrend. Oleh karena itu, sektor Farmasi sangat berpotensi dan layak diperhatikan.

Sektor Rumah Sakit (garis hijau) masih terlihat dalam Downtrend namun The Primary Trader menyukai potensi kenaikan dari saham – saham RS. Hal ini terlihat dari penurunan yang terjadi dalam 3 minggu terakhir tidak lebih rendah dari titik penurunan terakhir. Namun saham – saham RS masih harus naik melewati garis Resistance terdekat.

Sejak awal Maret 2020, sektor Farmasi terlihat sangat Outperform IHSG sementara sektor Rumah Sakit relatif sedikit Undeperform IHSG.

Meski demikian, The Primary Trader melihat secara jangka panjang, sektor Farmasi berpotensi baru saja memulai Trend Outperform terhadap IHSG. Sementara sektor Rumah Sakit mungkin mengakhiri Trend Outperform-nya terhadap IHSG. Pergerakan sektor Rumah Sakit relatif terhadap IHSG menunjukkan potensi pembentukan pola Bearish Reversal (Double Top).

Pilih Mana?

The Primary Trader menyukai tidak hanya saham yang dalam Uptrend namun juga dalam Trend Outperform terhadap IHSG. Bila melihat masing – masing pergerakan saham (relatif terhadap IHSG) maka terlihat saham Farmasi BUMN (INAF dan KAEF) sangat Outperform sementara saham – saham Farmasi dan Rumah Sakit lain cukup Outperform IHSG.

Hal ini cukup wajar mengingat INAF dan KAEF mungkin akan diminta pemerintah untuk memproduksi obat – obat untuk penyakit Covid-19 ini. Ditengah wabah Covid-19 ini, The Primary Trader melihat saham keduanya cukup menarik.

Beli Saham – Saham Yang Dibeli Oleh Manajemen / Owner-nya

The Primary Trader menyukai saham – saham yang dibeli oleh manajemen (direksi) maupun owner atau pemegang sahamnya. Hal ini menunjukkan beberapa hal yaitu :

  • Saham tersebut sudah sangat murah dibandingkan dengan valuasi wajarnya (walaupun setelah disesuaikan dengan kondisi yang mungkin sedang memburuk pada saat itu)
  • Penurunan harga saham tidak wajar dan tidak sesuai dengan kondisi pasar, kondisi perusahaan maupun kondisi ekonomi
  • Harga saham turun karena sentimen lain seperti dikeluarkan dari indeks acuan, karena Cover Short ataupun karena proses Repo

Perlu dicatat bahwa pihak yang pastinya paling memahami kondisi perusahaan dan bisnis sektor tersebut adalah manajemen dan atau pemilik / pemegang saham. Oleh karena itu, ketika mereka membeli atau menambah kepemilikannya tentunya adalah karena mereka mengetahui sesuatu yang tidak diketahui orang banyak.

Emiten memang wajib memberikan keterbukaan informasi namun aturan tersebut pun memberikan manajemen batasan dan rambu. Pemilik saham pun tentu memiliki rencana – rencana yang belum bisa dan belum perlu diumumkan ke publik sehingga ketika pemilik saham tersebut yakin (dan setelah mengikuti prosedur yang berlaku), pemilik saham serta manajemen dapat membeli saham tanpa menyalahi aturan. Masyarakat dapat mengikuti langkah – langkah manajemen dan pemilik saham.

Direksi Beli Saham

Bisnis.com melaporkan empat direksi membeli sahamnya yaitu :

  • Jahja Setiaatmadja : Presiden Direksi BBCA
  • Andre Sukendra : Direktur Utama MYOR
  • Prijono Sugiarto : Presiden Direktur ASII
  • Harry Sanusi : Presiden Direktur KINO
View this post on Instagram

Direksi Emiten Belanja Saham Saat Pandemi, Kamu Gimana? 🤔 _ Sejumlah direksi dari perusahaan terbuka menambah kepemilikan sahamnya di tengah pandemi Covid-19. Nah, kali ini Bisnismin ingin mengumpulkan direksi dari 4 emiten yang sudah menambah kepemilikan saham mereka nih. _ Misalnya, ada Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk. Jahja Setiaatmadja, Direktur Utama PT Mayora Indah Tbk. Andre Sukendra, Presiden Direktur PT Astra International Tbk. Prijono Sugairto, dan Presiden Direktur PT Kino Indonesia Tbk. Harry Sanusi. _ Corporate Secretary BCA Raymon Yonarto menjelaskan bahwa tujuan bertambahnya saham jajaran direksi emiten berkode BBCA adalah untuk investasi jangka panjang. _ Sementara itu, Corporate Secretary MYOR Yuni Gunawan mengatakan bahwa bertambahnya kepemilikan saham Direktur Utama MYOR bertujuan untuk investasi dengan status kepemilikan saham langsung. _ Di tempat yang berbeda, turunnya harga saham ASII pada Maret 2020 seakan jadi momentum bagi para direksi menambah kepemilikan sahamnya. Presiden Direktur ASII Prijono Sugiarto tercatat memborong 5,92 juta lembar saham ASII sepanjang 2020. _ Adapun demikian, Presiden Direktur Kino Indonesia Harry Sanusi menilai tertekannya IHSG akibat pandemi Covid-19 bukanlah karena fundamental bisnis dan bubble. "Kalau [pandemi Covid-19] selesai, pasti ekonomi akan balik kembali," demikan ungkapnya. _ Melihat sejumlah direksi perusahaan terbuka yang justru berbelanja saham di tengah pandemi Covid-19, gimana nih pendapat Sobat Bisnis? Ingin ikut beli juga atau justru punya pendapat lain? 🤔 _ Kita obrolin di kolom komentar yuk, tapi jangan lupa baca berita lengkapnya dengan klik link di bio @bisniscom ya. 🤗 _ #InfografikHarianBisnisCom #DireksiPerusahaanTerbuka #ASII #KINO MYOR #BBCA #Covid19 #VirusCorona #BelanjaSahamSaatPandemi

A post shared by Bisnis.com (@bisniscom) on

Dari keempat emiten tersebut (BBCA, MYOR, ASII dan KINO) dan dengan menggunakan Ichimoku Kinko Hyo, The Primary Trader ingin melihat saham MYOR sangat menarik dalam jangka pendek – menengah karena satu – satunya dari keempat saham tersebut yang telah berada di atas Red Cloud (mengindikasikan Uptrend). Selanjutnya ada KINO yang saat ini sedang mendekati Red Cloud atau Resistance di kisaran Rp2,900 – 3,200.

Di antara ASII dan BBCA, The Primary Trader lebih memilih BBCA karena Red Cloud-nya relatif lebih kecil dibanding ASII. Ketebalan Red Cloud pada Ichimoku Kinko Hyo menunjukkan kekuatan Resistance dimana semakin tebal maka Resistance semakin kuat.

Secara urut, dari keempat emiten tersebut, berikut adalah preferensi The Primary Trader : MYOR > KINO > BBCA > ASII.

Sekilas menggunakan Analisis Fundamental, tentu sektor Konsumsi terbukti yang paling bertahan dalam kondisi krisis. Memang MYOR dan KINO bukanlah konsumsi utama seperti UNVR, INDF ataupun ICBP. Namun disaat banyak pegawai (kelas menengah ke atas) yang Work From Home, permintaan kopi (dan makanan ringan) meningkat. Tentu hal ini menjadi sentimen positif untuk MYOR dan KINO.

Di saat PSBB dan Pandemi serta paska Pandemi di tahun 2020, permintaan mobil sangat mungkin turun sehingga kondisi ini menjadi sentimen negatif bagi ASII maupun grupnya seperti AALI dan UNTR. Mungkin untuk AALI masih ditopang oleh sentimen B30 di Indonesia dan B20 di Malaysia serta persiapan B50 dalam 2-3 tahun ke depan di Indonesia. Namun untuk UNTR, permintaan alat berat serta harga batubara sedang tidak bagus. Penjualan Komatsu turun -70% YoY di 4Q19 (!). Bisnis tambang emas UNTR mungkin bagus namun porsinya dari pendapatan UNTR masih relatif kecil (17% di tahun 2019).

Secara umum, BBCA adalah proxy bagi IHSG serta menjadi saham utama bagi Investor Asing dan Investor Institusi Domestik. Terlepas dari kondisi sektor Perbankan dan BBCA itu sendiri, bila Investor berminat membeli saham maka BBCA pasti menjadi incaran.

Lihat pembahasan ASII dan BBCA sebelumnya di sini.

Owner Menambah Kepemilikan

The Primary Trader menyukai TP Rachmat dan saham – sahamnya. Oleh karena itu ketika diberitakan Teddy Rachmat (panggilannya) membeli ASSA, ada potensi saham tersebut menarik. Pada bulan Februari 2020, kepemilikan TP Rachmat naik dari 5.02% menjadi 5.14%.

Saham Adi Sarana (ASSA) Diborong TP Rachmat, Harganya Langsung Bergerak Naik

Menggunakan indikator yang sama, tampaknya ASSA masih dalam Downtrend dan akan sulit berubah menjadi Uptrend karena Red Cloud-nya cukup tebal di rentang Rp360 – Rp440. Meskipun bergerak di bisnis otomotif namun The Primary Trader menyukainya karena ada kemungkinan tren ke depan adalah masyarakat tidak lagi membeli mobil namun menyewa. Begitupun dengan perusahaan yang terbukti lebih hemat dengan menyewakan mobil ke pegawainya dibanding membeli lalu meminjamkan mobil tersebut ke pegawai atau untuk operasional.

Tentang Kami

Pendapatan ASSA di tahun 2019 naik 25% YoY dengan pertumbuhan bisnis penyewaan kendaraan sebesar 12% YoY. Memang ASSA mencatat penurunan laba bersih sebesar -23% YoY dari Rp142 miliar menjadi Rp92 miliar. Namun hal tersebut dikarenakan investasi bisnis baru antara lain logistik Anteraja (yang harusnya mencatat kinerja yang bagus di saat WFH dan PSBB saat ini). ASSA masih akan ekspansi (senilai Rp2 triliun) untuk membeli armada baru serta untuk mengembangkan bisnis logistik dan automotive marketplace.

Masih ada beberapa cerita dimana owner menambah kepemilikan sahamnya yaitu keluarga Riady menambah kepemilikan di LPKR serta Pieter Tanuri memborong BOLA (Bali United). Namun The Primary Trader lebih memilih MYOR, KINO, BBCA, ASII dan ASSA. Diantara kelima saham tersebut, The Primary Trader menyukai MYOR dan KINO.

Technically Speaking Untuk MYOR dan KINO

MYOR berpotensi segera Breakout Down Trendline dari sejak Juli 2018 di Rp3,240. Dengan Breakout Down Trendline tersebut, ada potensi Downtrend berakhir. Namun The Primary Trader melihat pergerakan MYOR dari sejak awal tahun 2020 hampir membentuk pola Bullish Reversal (mirip Inverted Head and Shoulders). Namun untuk itu, MYOR perlu terkoreksi sedikit mendekati Rp1,800an. Memang MYOR bisa mengawali Uptrend menuju Rp2,500 langsung setelah Breakout Rp2,100 namun The Primary Trader tetap memperkirakan (atau mengharap) ada penurunan untuk mengonfirmasi Bullish Reversal sehingga Uptrend yang terjadi cukup kuat dan stabil.

KINO masih perlu pergerakan lagi untuk mengakhiri Downtrend dari sejak Oktober 2019. Namun The Primary Trader cukup menyukai lowest KINO di Rp2,000 karena apabila dilihat dari Oktober 2018 (Rp1,500), KINO membentuk Higher Low yang merupakan ciri Uptrend. Untuk mengakhiri Downtrend jangka menengah dan melanjutkan Uptrend jangka panjang, KINO harus Breakout Rp2,950 atau turun (Tech. Correction) tapi tidak lebih dalam dari Rp2,000. Setelah Breakout Rp2,950, KINO setidaknya dapat naik menuju Rp3,800.

Minggu Earning Season Penentu : Melanjutkan Downtrend Atau Mempertahankan Bottoming

Indikasi Dari Data Ekonomi

The Primary Trader mencoba melihat indikator ekonomi dari awal tahun 2020 untuk melihat potensi pendapatan emiten – emiten. Tiga indikator tersebut adalah :

  • Manufacturing PMI
  • Retail Sales YoY
  • Tourist Arrivals

Dari data ekonomi di atas, aktifitas pabrik (Manufacturing PMI) di bulan Maret 2020 terlihat turun drastis dari 51.9 di bulan Februari 2020. Penurunan tersebut adalah yang tertajam dan menunjukkan output produksi serta order baru turun tajam. Dampaknya adalah penurunan pendapatan dan peningkatan pengangguran yang tentu kurang baik bagi ekonomi. Data Manufacturing PMI di bawah 50 pun mengindikasikan kontraksi ekonomi.

Retail Sales Indonesia di bulan Februari 2020 turun -0.8% YoY dan merupakan kelanjutan dari bulan Desember 2020 (-0.5% YoY). Biasanya Retail Sales di akhir tahun cenderung naik (belanja Natal dan Liburan Tahun Baru) dan cukup jarang penjualan ritel turun di Desember kecuali Desember 2019. Hal ini cukup mengkhawatirkan karena berarti Retail Sales sudah melemah di akhir tahun 2019. The Primary Trader perkirakan Retail Sales akan semakin turun setelah dimulai PSBB Jakarta pada bulan April 2020. Siklus perbaikan Retail Sales dari bulan ke bulan – dimulai dari awal tahun tampaknya tidak terjadi di tahun 2020 ini.

Indonesia Retail Sales YoY

Terjadi penurunan wistawan global ke Indonesia di bulan Februari 2020 semenjak banyak negara mulai memberi Travel Warning sampai tidak memberikan izin keluar masuk. Indonesia mulai membatasi izin visa sejak Maret 2020 dan menutup sepenuhnya di awal April 2020. Dengan demikian, tentu Tourist Arrival akan semakin turun dan dampaknya terhadap industri perhotelan akan cukup besar.

Occupancy Rates hotel di Indonesia pada awal tahun 2020 diperkirakan berada di kisaran 40% – 50% dengan tendensi terus turun. Hal ini relatif lebih parah dari tahun 2014 dan 2015.

Dampak dari semua itu adalah peningkatan pengganguran yang berarti penurunan daya beli masyarakat. Tercatat ada sebesar 2.8 juta pekerja yang terkena dampak dimana 60% diantaranya dirumahkan tanpa gaji (Unpaid Leave) dan 27%-nya terkena PHK.

wabah PHK
https://katadata.co.id/infografik/2020/04/18/wabah-phk-akibat-covid-19

Indikasi Dari Data Sektor Dan Emiten

Bank Indonesia memang telah menurunkan BI 7DRR Rate cukup agresif dari awal tahun 2020 sebesar 50 bps (2x) dari 5% menjadi 4.5%. Hal ini diharapkan dapat mendorong pertumbuhan kredit (dan menjaga NPL) namun tampaknya kredit terus turun dari 2H19 baik kredit Investment dan Micro – bahkan untuk kredit Working Capital yang sempat tumbuh tinggi akhir 2018, kali ini turun tajam sepanjang tahun 2019 sampai 1Q20. Tentu hal ini bukan indikasi bagus untuk kinerja sama Bank di 1Q20.

Pangsa pasar mobil merek ASII memang meningkat menjadi 60% di awal tahun 2020 (dari ~45% di akhir 2019). Namun hal ini karena penjualan merek mobil non-ASII di bulan Maret 2020 turun -15.4% dari bulan Februari 2020 dan bahkan -22.9% dari Maret 2019. Penjualan mobil ASII di Maret 2020 naik 6.6% MoM sehingga dapat meningkatkan pangsa pasar. Namun kenaikan penjualan mobil ASII didominasi oleh mobil LCGC (naik 22% MoM dan 4.4% YoY) yang mungkin tidak banyak menolong Revenue maupun Net Income ASII.

Penjualan semen nasional di 1Q20 turun -4.9% dari 1Q19 setelah sempat naik 6.1% YoY pada 4Q19. Hal ini tentu akan membuat kinerja semen kurang baik. Seiring dengan penggunaan semen di Indonesia banyak untuk properti, maka dapat dikatakan penjualan properti di awal tahun 2020 pun akan kurang baik. Pemberlakuan PSAK 72 mengenai pengakuan pendapatan properti pun menjadi salah sentimen penurunan Marketing Sales. Seperti contoh, Marketing Sales CTRA di 2Q10 memang baik (2% YoY) namun tentu kemungkinan besar Marketing Sales akan turun di bulan Maret 2020.

Potensi Pergerakan IHSG

The Primary Trader masih meyakini akan ada One Last Drop sebelum IHSG mengawali Uptrend. One Last Drop tersebut adalah bagian dari pembentukan Bottoming (Bullish Reversal) untuk mengakhiri Downtrend sekaligus mengawali Uptrend. The Primary Trader perkirakan One Last Drop IHSG dapat menuju 3,750 – 4,000.

Tentu ada kemungkinan IHSG ternyata tidak lagi turun mendekati 4,000 namun segera kembali menuju level di atas 6,000. Untuk dapat mengawali kenaikan menuju 6,000, The Primary Trader ingin melihat IHSG Breakout 4,850 karena di level tersebut adalah Lower High sejak awal tahun 2020.

Dengan bantuan indikator, memang ada potensi kenaikan untuk IHSG dalam waktu dekat. Menggunakan Bollinger Band, saat ini IHSG berada di atas Middle Band yang artinya dalam Uptrend – yang kemungkinan adalah Uptrend jangka pendek. Selain itu, potensi kenaikan diperkuat dengan indikator Stochastic Oscillator yang menunjukkan sinyal Buy dan dari level Oversold. The Primary Trader pun menyukai fakta bahwa Bollinger Band cenderung melebar yang artinya volatilitas akan kembali datang. Tentu diharapkan akan ada volatilitas saat IHSG sedang bergerak naik (walau ada juga risiko dimana IHSG turun dalam). Ada harapan volatilitas meningkat dan IHSG sedang dalam kenaikan karena tren Middle Band – yang tidak lain ada MA20 – sedang perlahan mengarah ke atas (dilihat dari Middle Band Direction yang mulai mencatat nilai positif).

Dengan bantuan indikator Ichimoku Kinko Hyo, ada potensi IHSG bergerak naik karena indikator Tenkan-Sen dan Kijun-Sen telah Bullish Crossover. Namun Downtrend tampaknya masih akan terjadi karena IHSG dihalangi oleh Red Cloud yang cukup tebal dan seringkali menjadi Resistance yang kuat. Ichimoku Kinko Hyo memperkuat ekspektasi The Primary Trader bahwa Downtrend masih mungkin terjadi, IHSG berpotensi mencatat One Last Drop sebelum terbentuk Bullish Reversal yang akan mengawali Uptrend.

Semoga wabah pandemi segera selesai.

Kembali Menuju MA200

Menuju MA200

Salah satu sifat harga terhadap Moving Average (MA) adalah bahwa harga cenderung akan kembali menuju MA setelah naik atau turun sampai level tertentu. Oleh karena itu, ada peluang Beli ketika harga sudah di bawah MA.

The Primary mencatat beberapa saham yang saat ini harganya sudah di bawah MA200 namun apabila saham tersebut naik menuju MA200 maka perlu kenaikan > 100% (dari harga saat ini). Dengan kata lain, apabila harga saham naik menuju MA200 atau Rata – Rata 200 Hari Terakhir (seperti sifat harga terhadap MA) maka ada potensi Return sebesar > 100%. Berikut adalah saham – sahamnya :

SectorStocksCloseMA200% Rise to MA200
CPOAALI      4,400      11,064151.45%
CPOLSIP         530        1,195125.56%
MineralTINS         358           885147.21%
MineralANTM         352           852142.11%
MineralINCO      1,460        3,226120.96%
Oil&GasPGAS         650        1,918195.02%
Oil&GasMEDC         314           732133.13%
Oil&GasBRPT         490        1,004104.86%
AutoGJTL         244           597144.76%
PaperTKIM      4,030      10,226153.76%
PoultryMAIN         428           972127.01%
RetailRALS         470        1,154145.52%
RetailWOOD         300           697132.47%
RetailMAPI         446           970117.60%
TextileSRIL         132           283114.19%
ConstructionWSKT         422        1,532262.97%
ConstructionPTPP         520        1,674221.95%
ConstructionADHI         388        1,232217.53%
ConstructionWIKA         775        2,034162.42%
Industrial AreaBEST          98           239144.03%
Industrial AreaDMAS         127           285124.63%
Oil&GasELSA         132           309134.41%
Oil&GasAKRA      1,590        3,678131.33%
Oil&GasESSA         120           260116.40%
PrecastWSBP         115           315173.96%
PrecastWTON         194           464139.10%
TelecomEXCL      1,485        3,118109.98%
TollJSMR      2,510        5,284110.51%
BankingBBTN         880        2,072135.41%
BankingBBNI      3,390        7,623124.88%
BankingPNBN         630        1,261100.21%
ResidentialSMRA         428        1,068149.56%
ResidentialPWON         292           612109.71%
ResidentialCTRA         520        1,057103.18%
ResidentialBSDE         640        1,295102.39%
ResidentialBKSL          50           100100.50%
Berdasarkan harga penutupan sesi 1 – 23 Maret 2020

Memang ketika Downtrend maka harga saham akan turun dan tentunya MA200 pun akan ikut turun. Oleh karena itu, untuk memastikan potensi Return (selisih antara harga saham dengan MA200) tetap sebesar > 100% maka The Primary Trader memilih saham – saham yang dapat naik di atas 120%. Dengan demikian, berikut adalah saham – saham tersebut :

SectorStocksCloseMA200% Rise to MA200
CPOAALI      4,400      11,064151.45%
CPOLSIP         530        1,195125.56%
MineralTINS         358           885147.21%
MineralANTM         352           852142.11%
MineralINCO      1,460        3,226120.96%
Oil&GasPGAS         650        1,918195.02%
Oil&GasMEDC         314           732133.13%
AutoGJTL         244           597144.76%
PaperTKIM      4,030      10,226153.76%
PoultryMAIN         428           972127.01%
RetailRALS         470        1,154145.52%
RetailWOOD         300           697132.47%
ConstructionWSKT         422        1,532262.97%
ConstructionPTPP         520        1,674221.95%
ConstructionADHI         388        1,232217.53%
ConstructionWIKA         775        2,034162.42%
Industrial AreaBEST          98           239144.03%
Industrial AreaDMAS         127           285124.63%
Oil&GasELSA         132           309134.41%
Oil&GasAKRA      1,590        3,678131.33%
PrecastWSBP         115           315173.96%
PrecastWTON         194           464139.10%
BankingBBTN         880        2,072135.41%
BankingBBNI      3,390        7,623124.88%
ResidentialSMRA         428        1,068149.56%

The Primary Trader menyukai Sektor CPO karena secara domestik, permintaan CPO berpotensi tinggi seiring dengan adanya program pemerintah yaitu B30 tahun 2020 dan B50 di tahun 2021. Terlepas dari permintaan internasional (dan adanya diskriminasi Eropa), dengan adanya permintaan domestik tersebut, harga CPO diharapkan dapat terjaga. The Primary Trader menyukai LSIP namun AALI menarik karena masuk ke dalam indeks SRI-Kehati yang secara otomatis (berdasarkan sentimen) akan lebih menarik. LSIP adalah pemain CPO murni (~91% pendapatan berasal dari CPO) serta memiliki korelasi tertinggi dengan harga CPO.

Sebagai negara dengan ekonomi domestik konsumsi dan yang sangat mungkin lebih cepat pulih setelah wabah Covid-19 selesai adalah sektor Consumer antara lain Poultry (MAIN) dan Retail (RALS). Saham MAIN banyak menjual daging unggas (ayam) yang memang menjadi protein hewani utama masyarakat Indonesia. Selain itu, dengan adanya stimulus untuk masyarakat kelas bawah, RALS berpotensi menjaga penjualannya untuk tidak turun terlalu dalam. The primary Trader lebih memilih MAIN dibanding RALS karena sektor Poultry (konsumsi makanan) seharusnya akan lebih dahulu membaik.

Di saat suku bunga rendah saat ini (BI 7DRR Rate sebesar 4.5% dan stimulus – stimulus di sektor properti), tentu sektor Properti (SMRA) dapat menjadi pilihan utama. SMRA pun cukup banyak menjual properti berupa rumah tapak (Landed House) dengan harga yang relatif murah dibanding BSDE (meski tetap CTRA yang paling murah).

Sektor yang paling The Primary Trader sukai adalah Industrial Area yaitu DMAS. Dengan cadangan lahan terluas (~1,430 ha) diantara emiten Industrial Area, DMAS seharusnya mendapat keuntungan dari tren industrialisasi Indonesia. Setelah disahkannya Omnibus Law, seharusnya akan banyak Foreign Direct Investment dalam bentuk pembangunan pabrik.. Di tahun 2020, DMAS memiliki Inquiries sebanyak 150 ha (relatif sama seperti tahun 2019).

Dengan demikian, mengandalkan kemungkinan harga saham akan berbalik mendekati MA20-nya maka The Primary Trader menyukai saham LSIP, MAIN, SMRA dan DMAS.

PTPP : Emiten Konstruksi Sehat

Pemain Konstruksi BUMN Yang Relatif Lebih Aman

Kinerja PTPP di 2019 mungkin akan sedikit tertekan namun PTPP seharusnya bisa mencatat kinerja yang lebih baik di tahun 2020. PTPP menargetkan kontrak baru di tahun 2020 sebesar Rp 40.5 triliun, tumbuh 21% dari pencapaian tahun 2019 sebesar Rp 33.5 triliun. Angka Rp33.5 triliun di 9M19 adalah 74% dari target Rp45 triliun. Angka ini tampaknya relatif achieve-able. Perlu dicatat juga bahwa PTPP (dan WIKA) memiliki proyek multi-years yang cukup besar sehingga di tahun berjalan, PTPP masih mengerjakan proyek tahun sebelumnya dan berpotensi mencatat bagian pendapatan dari penyelesaian proyek tersebut di tahun berjalan. Hal ini membuat pendapatan dan laba PTPP lebih mudah dan pasti.

Untuk menjaga marjin keuntungan dimana sejak tahun 2017 relatif turun, PTPP berencana mendivestasi 4 proyek seperti kepemilikan ruas tol Pandaan – Malang dan ruas tol Cisumdawu. Divestasi ini dapat meningkatkan laba bersih sebesar 33% YoY.

Meski sebagai perusahaan Konstruksi BUMN, proyek PTPP yang berasal dari pemerintah (tahun 2018) sangatlah kecil. Investor tampaknya mengkhawatirkan sentimen bahwa pelunasan proyek pemerintah cenderung lambat sehingga menimbulkan biaya tambahan. Oleh karena itu, seringkali PTPP dianggap sebagai emiten Konstruksi BUMN yang paling sehat.

Potensi Sektor Infrastruktur

Presiden Jokowi masih menggenjot pembangunan infrastruktur di periode ke-2 dengan proyek raksasa seperti Tol Trans Sumatera, Tol Trans Kalimantan dan (tentu) Ibukota Baru. Pada periode pertama (2014 – 2019), pertumbuhan nilai proyek Sektor Infrastruktur adalah sebesar 30% per tahun (CAGR). Diperkirakan pada periode kedua (2019 – 2024), ada potensi pertumbuhan 11% per tahun (CAGR). Cukup tinggi karena masih Double Digit.

Namun menurut The Primary Trader, yang terpenting adalah bahwa kali ini, pemerintah akan banyak menggandeng pihak swasta untuk berinvestasi pada proyek pembangunan infrastruktur. Salah satu yang sedang ramai adalah Softbank (Investor Grab dan Tokopedia) yang diberikan kesempatan untuk ikut membangun Ibukota yang baru nanti. Hal ini tentu membuat emiten Konstruksi relatif lebih ‘bebas’ menentukan kapasitasnya untuk berkontribusi dalam proyek tersebut. Dengan demikian, selain masih tersedia kesempatan untuk tumbuh, kali ini emiten pun berkesempatan untuk tumbuh sesuai dengan kemampuan.

Mengakhiri Downtrend

The Primary Trader melihat PTPP dalam proses membentuk Double Bottom. Untuk itu, PTPP perlu bertahan di Support penting di Rp1,300 yang telah menahan PTPP di Oktober 2018. PTPP masih harus Breakout Rp1,680 untuk mengonfirmasi pola Bullish Reversal untuk memperbesar potensi mengawali Uptrend. Dengan bertahan di Rp1,300, The Primary Trader mulai meyakini potensi Uptrend PTPP.

PTPP saat ini berada di bawah Cloud dari Ichimoku Kinko Hyo namun perlu diperhatikan bahwa masih ada Green Cloud yang menandakan potensi awal Uptrend (setelah muncul dominasi Red Cloud dari sejak September 2019). The Primary Trader melihat ancaman karena mulai ada bibit Red Cloud. Tentunya dengan PTPP bertahan di atas Rp1,300, Red Cloud seharusnya tidak terbentuk.

The Primary Trader pun melihat berdasarkan posisi relatif PTPP saat ini dengan MA200 atau rata – rata setahun terakhir. PTPP relatif lebih dekat dengan MA200 dibanding pada posisi terendah dalam 2 tahun terakhir yaitu di Rp1,300 atau pada Oktober 2018. Berdasarkan Distance Close to MA200, PTPP kali ini berada -32% di bawah MA200 sementara pada Oktober 2018, PTPP mencapai 74% di bawah MA200. Posisi yang lebih kecil tersebut menandakan Downtrend PTPP mulai melemah.

PTPP pun dapat dikatakan sudah murah bila dilihat dari PE TTM (4 kuartal terakhir) di -1 SD dalam 5 tahun terakhir. Membeli PTPP saat ini berarti membeli karena Cheap Valuation dan potensi Bottoming atau akhir dari Downtrend. Perlu kesabaran namun ada harapan dan potensi yang menarik.

SIDO : Uptrend Yang Sehat

(Masih Dalam) Bullish Continuation Menuju Rp1,500

The Primary Trader melihat SIDO masih mempertahankan pola Bullish Continuation dari bulan Agustus 2019 dengan potensi menuju Rp1,500 – setelah Breakout Rp1,300. Idealnya SIDO Breakout Rp1,300 di bulan November 2019 namun Sideways SIDO di kisaran Rp1,280 sejak bulan Desember 2019 dapat dilihat sebagai Bullish Continuation minor (sebagai bagian dari Bullish Continuation dari bulan Agustus 2019 tersebut).

Uptrend Jangka Panjang Yang Kuat

Ichimoku Kinko Hyo mengonfirmasi Uptrend yang sangat sehat. Hal ini terlihat bahwa Red Cloud terakhir yang cukup panjang terjadi pada Oktober 2017. Sejak saat itu, Red Cloud terjadi relatif singkat dan SIDO terus di dominasi oleh Green Cloud.

Uptrend jangka panjang juga terlihat jelas setelah SIDO Breakout Rp1,000an pada awal tahun 2019. Mengunakan Fibonacci Retracement, SIDO sebenarnya sudah mencapai target jangka panjang pertama di Rp1,300an atau 161.8%. Masih ada target berikut di 261.8% atau di Rp1,800. The Primary Trader melihat setidaknya SIDO dapat kembali Uptrend menuju Rp1,500 yang merupakan level 200% atau 2x dari Rp1,000 (di level 100% dari Fibonacci).

Valuasi (Memang) Mahal

The Primary Trader menyukai valuasi menggunakan PE TTM. Saat ini PE TTM SIDO berada di 25x dan di atas 2x Standar Deviasi dalam 5 tahun terakhir. Memang sudah mahal.

Namun demikian, dalam hal saham Uptrend, tentu terkadang valuasi mahal karena ada justifikasi. The Primary Trader menggunakan acuan “selama Uptrend terjaga maka harga mahal masih dapat ditoleransi”. Selama SIDO masih bertahan di Up Trendline maka masih ada harapan SIDO terus naik. The Primary Trader akan mewaspadai SIDO bila terjadi Breakdown Up Trendline di Rp1,200 dan Rp1,000.

Deal (Or No Deal?)

Menunggu Peresmian (Atau Setidaknya Detil) Trade Deal Fase 1

Investor (dan The Primary Trader) masih menunggu rencana penandatanganan serta detil dari Trade Deal Fase 1 antara AS – China. AS kemudian disebutkan tidak akan memotong tarif lebih lanjut (Trade Deal Fase 2 ?) sebelum Pemilu Presiden di awal November 2020. Hal ini mengisyaratkan bahwa Trade Deal Fase 2 mungkin tidak dapat dilaksanakan segera (ketika awal Trade Deal Fase 1 disepakati di Desember 2019 lalu).

IHSG Menuju 6,450 (Bagian Dari January Effect)

The Primary Trader melihat IHSG sedang dalam kenaikan menuju 6,450 sebagai bagian dari January Effect. Kenaikan tersebut pun seiring dengan penguatan Rupiah yang menandakan masuknya Investor Asing. Salah satu sentimen positifnya adalah kuota impor minyak Pertamina dipotong sebesar 30 juta barel di tahun 2020 ini. Dengan demikian, Neraca Perdagangan Indonesia di tahun 2020 berpotensi positif dan hal tersebut akan positif untuk Rupiah.

Investor Asing sudah masuk ke IHSG sejak pertengahan Desember 2019. Kemungkinan karena ada perkembangan dari Omnibus Law (dengan Cut Tax Rate). The Primary Trader melihat tren Net Buy Asing telah dimulai sehingga di Januari 2020 ini akan ada Akumulasi Net Buy Asing yang lebih tinggi lagi.

Perhatikan Sektor Consumer (Poultry dan Media) dan Banking

Berdasarkan grafik Trend and Momentum, sektor yang sahamnya rata – rata dalam kondisi Uptrend (namun belum Overbought) adalah Media, Poultry dan Banking.

Kolaborasi SCMA dan MNCN. Perhatikan SCMA

The Primary Trader menyukai sektor Media karena dua pemain besar (SCMA dan MNCN) berkolaborasi. Hal ini sebagai strategi melawan bisnis Streaming seperti Netflix, Hooq dan iflix. The Primary Trader memperhatikan SCMA yang saat ini terlihat hampir menyelesaikan pola mengakhiri Downtrend (Bottoming) dari sejak Juli 2019.

SCMA harus Breakout Rp1,500 untuk mengonfirmasi akhir Downtrend dan membuka potensi naik menuju Resistance penting di Rp2,000. Uptrend SCMA diawali dengan Breakout Rp2,000 tersebut.

SCMA sebenarnya terus Undeperform IHSG dan MNCN. The Primary Trader cenderung menghindari saham yang Underperform namun untuk SCMA kali ini dapat diperhatikan karena sentimen positif dari kolaborasi antara SCMA dan MNCN tentu adalah hal positif bagi keduanya.

Rencana Afkir Dini Positif Untuk Sektor Poultry. Pantau CPIN.

CPIN telah Breakout Bullish Continuation di Rp7,000 pada awal Januari 2020 dan saat ini ada potensi CPIN segera mengawali kenaikan sebagai lanjutan Uptrend dari sejak Oktober 2019 di Rp5,000. CPIN berpeluang naik menguji Resistance penting di Rp8,800.

Ada sentimen negatif dari kenaikan harga jagung karena panen jagung berpotensi mundur. Hal ini mengakibatkan harga jagung naik dan meningkatkan biaya pakan ternak dan menjadi sentimen negatif untuk sektor Poultry seperti CPIN. Rencana afkir dini berpotensi menjadi sentimen positif kembali (seperti yang terjadi di pertengahan tahun 2019 lalu).

De-eskalasi Di Valuasi Tinggi. Penguatan Rupiah, Katalis IHSG.

De-eskalasi Konflik Namun Bukan Berarti Tenang Karena S&P500 Mahal

The Primary Trader melihat potensi perang Iran – AS semakin berkurang seiring dengan kedua belak pihak tidak melanjutkan serangan balasan (terakhir adalah Iran melontarkan rudal yang dengan ‘sengaja’ tidak mengenai pangkalan militer AS). Saat ini Iran justru sedang dalam tekanan internasional karena ‘tidak sengaja’ menembak pesawat komersial Ukraina. Bahkan karena kecerobahan tersebut, ada tekanan dari masyarakat Iran untuk Ayatollah Khamenei.

Untuk pasar modal, hal tersebut terlihat pada index VIX yang menunjukkan risiko pada S&P500. Tampaknya VIX berhasil kembali melemah mendekati level standar minim risiko di 10. VIX terlihat telah bergerak Downtrend dari sejak Agustus 2019 lalu. Saat ini ancaman – ancaman Trump terhadap China semakin gencar (peningkatan tegangan Trade War). The Primary Trader melihat Down Trendline dari sejak itu sampai saat ini. Perlu dicatat bahwa bila terjadi kejadian yang berisiko tinggi dan VIX naik melewati (Breakout) Down Trendline tersebut maka VIX berpotensi terus naik menguji Resistance – Resistance penting di level 20 dan 24.

Kenaikan VIX selanjutnya dapat mengancam pergerakan S&P500 yang saat ini sudah mendekati level 3,300. Level 3,300 adalah target S&P500 sewaktu S&P500 Breakout Resistance di 2,950 pada Juli 2019. Setelah Breakout 2,950, S&P500 mengindikasikan pola Bullish Continuation (dari sejak Juni 2019) dan mengonfirmasi pola tersebut dengan Breakout 3,000 di akhir Oktober 2019. Pada saat inilah S&P50 semakin memperkuat target di 3,300.

Dengan demikian, setelah mendekati 3,300, The Primary Trader mengkhawatirkan Uptrend S&P500 dapat terganggu. Memang akan sulit untuk langsung berubah menjadi Downtrend namun setidaknya ada fase Technical Correction yaitu penurunan wajar ditengah Uptrend. Namun tentu penurunan wajar tersebut dapat mencapai ~5% atau mungkin mencapai 3,000an lagi. Investor lain pun menganggap valuasi S&P500 sudah mahal.

Rupiah Menguat Menuju Rp13,600 Menjadi Katalis Kenaikan IHSG.

Sentimen positif di awal tahun membuat Rupiah menguat dan berhasil Breakdown Support di Rp13,900 yang menahan penguatan Rupiah dari sejak awal tahun 2019. Rupiah berpotensi menguat menuju Rp13,600. Salah satu alasan Rupiah menguat adalah optimisme terhadap ekonomi Indonesia yang membuat Investor Asing masuk ke pasar keuangan Indonesia.

Penguatan Rupiah karena masuknya Investor Asing tentu akan menjadi katalis kenaikan IHSG. The Primary Trader melihat ada kemungkinan (kecil) bagi IHSG untuk mengakhiri Technical Correction di 6,218 pada minggu lalu untuk kemudian naik menuju Resistance penting di 6,450.

The Primary Trader percaya Tech. Correction wajar IHSG dapat mencapai 6,150 – 6,200. Meski demikian, tentu ada katalis – katalis tertentu yang dapat membatalkan perkirakan tersebut. Salah satunya adalah de-eskalasi tensi Timur Tengah tersebut.

Uptrend + Sinyal Buy. Perhatikan TOWR.

The Primary Trader melihat beberapa saham yang dalam kondisi Uptrend dan mendapat sinyal Alert Buy yaitu : TOWR, MEDC dan ANTM. Selain itu, ada beberapa saham dalam kondisi Uptrend dan mendapat sinyal Buy Now yaitu : PTPP, BIRD dan Saham Sektor Coal (UNTR, PTBA dan ITMG).

The Primary Trader menyukai MEDC dan percaya ANTM akan mendapat sentimen positif karena kenaikan harga emas dan nikel. Namun The Primary Trader memperhatikan TOWR karena terlihat TOWR masih berpotensi Uptrend dalam jangka panjang. Setidaknya TOWR dalam jangka pendek dapat naik menuju Resistance penting di Rp920.

Saat ini TOWR sedang dalam Tech. Correction atau Throwback dengan maksimum turun menuju Rp750. TOWR yang telah Breakout Resistance di Rp750 mengindikasikan kelanjutan dari Uptrend karena The Primary Trader melihat penurunan TOWR dari tahun 2019 adalah sebagai Bullish Continuation. TOWR berpotensi melanjutkan Uptrend dari sejak Oktober 2019 di Rp450 sampai Rp850 di awal tahun 2019. TOWR berpotensi naik dalam Uptrend jangka panjang menuju Rp1,200.

Katalis utama untuk Sektor Menara Telekomunikasi di tahun 2020 adalah kemungkinan para operator telekomunikasi mengurangi kepemilikan menara dalam rangka efisiensi operasional. Selain itu, tren G5 tampaknya akan meningkatkan permintaan menara. Strategi perluasan jaringan dari para operator pun masih menjadi katalis pendorong penambahan menara. Dalam waktu dekat, TOWR sedang mengincar menara dari EXCL.

The Primary Trader Daily 8 January 2020

Photo by John Guccione http://www.advergroup.com on Pexels.com

Lelang Perdana SUN Di Awal Tahun 2020 – Sangat Bagus !

Pemerintah melakukan lelang perdana SUN di awal tahun 2020 dan mendapatkan permintaan (Incoming Bid) sebesar Rp81.5 triliun. Target awal adalah sebesar Rp15 triliun sehingga Bid To Cover Ratio (perbandingan antara Incoming Bid dengan target) adalah sebesar 5.4x dan angka ini cukup besar. Permintaan yang tinggi menandakan minat berinvestasi di pasar modal terutama dari Investor Asing. Hal ini positif bagi pasar obligasi dan juga pasar saham.

Yield SUN10Yr masih di kisaran 7.12% namun The Primary Trader percaya Yield akan segera turun menuju 6.5% di pertengahan tahun 2020. Penurunan tersebut ditandai dengan Breakdown Support di level 7%. Terjaganya fiskal Indonesia (karena Ibu Menteri Keuangan, Sri Mulyani), Omnibus Law terutama Cut Tax Rate dan potensi Upgrade Rating Indonesia akan menjadi katalis turunnya Yield SUN (yang berarti kenaikan harga SUN) – menurut The Primary Trader.

Rupiah sendiri sedang bersiap untuk menguat menuju Rp13,600/USD. Namun tentu BI akan concern dan menjaga volatilitas Rupiah untuk stabil. The Primary Trader melihat potensi penguatan Rupiah sebagai minat berinvestasi di Indonesia di mata Investor Asing. Setidaknya untuk 1Q20 ini, Rupiah akan stabil di kisaran Rp13,900 – Rp14,000/USD.

Modal Untuk Penguatan IHSG Sepanjang 1H20

Sentimen saat ini masih negatif karena kekhawatiran perang dan gangguan suplai minyak. Terlebih lagi ternyata ‘balasan’ Iran sudah mulai terlihat. Oleh karena itu, The Primary Trader perkirakan IHSG masih akan kembali melemah setidaknya menyentuh 6,200.

IHSG berpotensi segera mengakhiri penurunan sebagai Tech. Correction dan melanjutkan kenaikan menuju 6,450. Namun tampaknya IHSG lebih cenderung kembali melemah – dalam koridor Tech. Correction. The Primary Trader perkirakan IHSG baru akan mengakhiri Tech. Correction di kisaran 6,150 – 6,200.

Katalis penguatan IHSG di 1H20 yang utama, menurut The Primary Trader, adalah Omnibus Law. Dengan demikian, selama tidak terlihat adanya hambatan berarti pada proses pembuatan UU tersebut maka Investor akan tetap optimis terhadap IHSG.

MEDC : Ophir Masih Berpotensi Menarik

Laporan keuangan MEDC di 9M19 mencatat kenaikan pendapatan sebesar 9% YoY namun ternyata hanya mencapai 45% dari estimasi para analis. Laba bersih di 9M19 pun turun sebesar -32% YoY karena ada biaya – biaya yang naik (seperti biaya depresiasi) tinggi. Laba bersih MEDC di 9M19 yang telah lama ditunggu hanya mencapai 29% dari estimasi para analis.

Namun dampak Ophir di 3Q19 lalu berhasil mendorong pendapatan MEDC sebesar 14% QoQ dan 19% YoY. Hal ini menurut The Primary Trader menunjukkan potensi Ophir terhadap MEDC.

The Primary Trader masih melihat MEDC dalam pola Bullish Continuation sehingga kenaikan dari Rp615 di November 2019 masih berpotensi berlanjut yang membuat MEDC menguji Resistance di Rp1,100. MEDC akan mengawali Uptrend jangka panjang (dengan potensi menuju Rp1,600) setelah Breakout Rp1,100.