IHSG : Bottom – Up Approach Mengindikasikan (Masih Ada) Ancaman Downtrend

IHSG terlihat Breakout dari Sideways sejak April 2020 yang menandakan potensi kenaikan menuju 5,700. Bila IHSG berhasil naik di atas Fibonacci Retracement 61.8% di 5,400 maka ancaman Downtrend berkurang dan IHSG berpotensi berada dalam Uptrend menuju (minimal) 5,700. Bahkan sangat terbuka kemungkinan IHSG kembali ke level 6,400 – 6,700. Hal ini berpotensi terjadi bila IHSG berhasil naik melewati 5,400 yang mana hal tersebut terjadi setelah IHSG Breakout 4,650 (Breakout Sideways sejak April 2020).

Breakout 4,650 tampaknya telah terjadi sejak akhir April 2020 namun sepanjang Mei 2020, IHSG terlihat kembali Sideways di level 4,500-an. Hal ini yang membuat The Primary Trader masih meyakini Downtrend belum selesai dan masih ada potensi penurunan sebagai One Last Drop untuk IHSG membentuk Bottoming atau Bullish Reversal Pattern.

Menggunakan pendekatan Bottom – Up Analysis, The Primary Trader ingin melihat saham – saham konstituen IHSG yang berpengaruh (Big Caps). Dapat disimpulkan bahwa saham – saham Big Caps tersebut relatif membentuk Bearish Continuation Pattern yang menunjukkan saham tersebut masih berpotensi Downtrend. Bila demikian maka seharusnya IHSG pun sedang bersiap kembali Downtrend.

Berikut adalah saham – saham dengan masing – masing kategori yang semuanya mengindikasikan kelanjutan dari Downtrend :

Descending Triangle (atau menyerupai) : BBRI dan BMRI

Symmetrical Triangle (atau menyerupai) : ASII, INTP, PGAS dan SMGR

Strong Down Trendline : HMSP, ICBP, GGRM dan UNTR

Saham – saham Big Caps di atas menunjukkan ancaman Downtrend atau segera kembali turun dalam Downtrend. Dengan demikian, IHSG tentu akan turun mengikuti saham – saham tersebut. The Primary Trader masih berhati – hati dan waspada.

UNPUB : Big Bank “Menipu” IHSG. Fokus Ke-6 Saham Ini.

Bila melihat pergerakan IHSG dan membandingkannya dengan pergerakan Big Bank (BBCA, BBRI, BBNI dan BMRI) maka terlihat pergerakan Big Bank lebih Bullish dibanding IHSG itu sendiri. Sejak awal tahun 2018, Big Bank bergerak Uptrend sementara IHSG sudah bergerak Sideways. Ketika IHSG mengalami Breakdown yang menandakan arah tren berubah menjadi Downtrend, Big Bank masih belum mengindikasikan Breakdown. 1-2 minggu kemudian terjadi Breakdown pada Big Bank.

The Primary Trader mencoba melihat Big Cap lain yang relatif memiliki variasi sektor. Berikut adalah pilihannya : GGRM, INDF, ICBP, ASII, TLKM dan UNVR. Berikut adalah chartnya :

Other Big Caps tersebut mengindikasikan Uptrend – hanya sampai awal tahun 2019 atau sekitar akhir 1Q19. Setelah itu, Other Big Caps mulai bergerak Downtrend. Pada 3Q19, Other Big Caps mulai Breakdown dan mengonfirmasi Downtrend.

Apabila digabungkan, maka jelas terlihat Other Big Caps telah Downtrend dari 2019 sementara Big Bank tampaknya menopang IHSG sehingga IHSG masih bisa Sideways. Pada awal tahun 2020, terlihat Big Bank mulai naik namun tidak bertahan sementara Other Big Caps cenderung Flat sebelum IHSG jatuh yang disebabkan oleh Crash di Big Bank.

Kesimpulan

Per hari ini (28 April 2020), Big Bank memang memiliki Total Market Cap 22.5% dari IHSG. Sementara Other Big Caps memiliki total 19.27% dari IHSG. Cukup wajar bila Big Bank masih lebih mendominasi pergerakan IHSG.

Namun The Primary Trader lebih menyukai Other Big Caps karena setidaknya terdiri dari 5 sektor yaitu Cigarettes (GGRM), Food and Beverage (ICBP dan INDF), Automotive (ASII), Telecommunication (TLKM) dan Consumer Staples (UNVR). Sektor tersebut cenderung Cyclical (Auto) namun ada beberapa yang menjadi Backbone ekonomi Indonesia yaitu Consumer Related seperti Cigarettes, F&B dan Consumer Staples.

Oleh karena itu, untuk melihat kondisi IHSG lebih detil, selain Big Bank, sangat perlu juga dilihat Other Big Caps.

Beli Saham – Saham Yang Dibeli Oleh Manajemen / Owner-nya

The Primary Trader menyukai saham – saham yang dibeli oleh manajemen (direksi) maupun owner atau pemegang sahamnya. Hal ini menunjukkan beberapa hal yaitu :

  • Saham tersebut sudah sangat murah dibandingkan dengan valuasi wajarnya (walaupun setelah disesuaikan dengan kondisi yang mungkin sedang memburuk pada saat itu)
  • Penurunan harga saham tidak wajar dan tidak sesuai dengan kondisi pasar, kondisi perusahaan maupun kondisi ekonomi
  • Harga saham turun karena sentimen lain seperti dikeluarkan dari indeks acuan, karena Cover Short ataupun karena proses Repo

Perlu dicatat bahwa pihak yang pastinya paling memahami kondisi perusahaan dan bisnis sektor tersebut adalah manajemen dan atau pemilik / pemegang saham. Oleh karena itu, ketika mereka membeli atau menambah kepemilikannya tentunya adalah karena mereka mengetahui sesuatu yang tidak diketahui orang banyak.

Emiten memang wajib memberikan keterbukaan informasi namun aturan tersebut pun memberikan manajemen batasan dan rambu. Pemilik saham pun tentu memiliki rencana – rencana yang belum bisa dan belum perlu diumumkan ke publik sehingga ketika pemilik saham tersebut yakin (dan setelah mengikuti prosedur yang berlaku), pemilik saham serta manajemen dapat membeli saham tanpa menyalahi aturan. Masyarakat dapat mengikuti langkah – langkah manajemen dan pemilik saham.

Direksi Beli Saham

Bisnis.com melaporkan empat direksi membeli sahamnya yaitu :

  • Jahja Setiaatmadja : Presiden Direksi BBCA
  • Andre Sukendra : Direktur Utama MYOR
  • Prijono Sugiarto : Presiden Direktur ASII
  • Harry Sanusi : Presiden Direktur KINO
View this post on Instagram

Direksi Emiten Belanja Saham Saat Pandemi, Kamu Gimana? 🤔 _ Sejumlah direksi dari perusahaan terbuka menambah kepemilikan sahamnya di tengah pandemi Covid-19. Nah, kali ini Bisnismin ingin mengumpulkan direksi dari 4 emiten yang sudah menambah kepemilikan saham mereka nih. _ Misalnya, ada Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk. Jahja Setiaatmadja, Direktur Utama PT Mayora Indah Tbk. Andre Sukendra, Presiden Direktur PT Astra International Tbk. Prijono Sugairto, dan Presiden Direktur PT Kino Indonesia Tbk. Harry Sanusi. _ Corporate Secretary BCA Raymon Yonarto menjelaskan bahwa tujuan bertambahnya saham jajaran direksi emiten berkode BBCA adalah untuk investasi jangka panjang. _ Sementara itu, Corporate Secretary MYOR Yuni Gunawan mengatakan bahwa bertambahnya kepemilikan saham Direktur Utama MYOR bertujuan untuk investasi dengan status kepemilikan saham langsung. _ Di tempat yang berbeda, turunnya harga saham ASII pada Maret 2020 seakan jadi momentum bagi para direksi menambah kepemilikan sahamnya. Presiden Direktur ASII Prijono Sugiarto tercatat memborong 5,92 juta lembar saham ASII sepanjang 2020. _ Adapun demikian, Presiden Direktur Kino Indonesia Harry Sanusi menilai tertekannya IHSG akibat pandemi Covid-19 bukanlah karena fundamental bisnis dan bubble. "Kalau [pandemi Covid-19] selesai, pasti ekonomi akan balik kembali," demikan ungkapnya. _ Melihat sejumlah direksi perusahaan terbuka yang justru berbelanja saham di tengah pandemi Covid-19, gimana nih pendapat Sobat Bisnis? Ingin ikut beli juga atau justru punya pendapat lain? 🤔 _ Kita obrolin di kolom komentar yuk, tapi jangan lupa baca berita lengkapnya dengan klik link di bio @bisniscom ya. 🤗 _ #InfografikHarianBisnisCom #DireksiPerusahaanTerbuka #ASII #KINO MYOR #BBCA #Covid19 #VirusCorona #BelanjaSahamSaatPandemi

A post shared by Bisnis.com (@bisniscom) on

Dari keempat emiten tersebut (BBCA, MYOR, ASII dan KINO) dan dengan menggunakan Ichimoku Kinko Hyo, The Primary Trader ingin melihat saham MYOR sangat menarik dalam jangka pendek – menengah karena satu – satunya dari keempat saham tersebut yang telah berada di atas Red Cloud (mengindikasikan Uptrend). Selanjutnya ada KINO yang saat ini sedang mendekati Red Cloud atau Resistance di kisaran Rp2,900 – 3,200.

Di antara ASII dan BBCA, The Primary Trader lebih memilih BBCA karena Red Cloud-nya relatif lebih kecil dibanding ASII. Ketebalan Red Cloud pada Ichimoku Kinko Hyo menunjukkan kekuatan Resistance dimana semakin tebal maka Resistance semakin kuat.

Secara urut, dari keempat emiten tersebut, berikut adalah preferensi The Primary Trader : MYOR > KINO > BBCA > ASII.

Sekilas menggunakan Analisis Fundamental, tentu sektor Konsumsi terbukti yang paling bertahan dalam kondisi krisis. Memang MYOR dan KINO bukanlah konsumsi utama seperti UNVR, INDF ataupun ICBP. Namun disaat banyak pegawai (kelas menengah ke atas) yang Work From Home, permintaan kopi (dan makanan ringan) meningkat. Tentu hal ini menjadi sentimen positif untuk MYOR dan KINO.

Di saat PSBB dan Pandemi serta paska Pandemi di tahun 2020, permintaan mobil sangat mungkin turun sehingga kondisi ini menjadi sentimen negatif bagi ASII maupun grupnya seperti AALI dan UNTR. Mungkin untuk AALI masih ditopang oleh sentimen B30 di Indonesia dan B20 di Malaysia serta persiapan B50 dalam 2-3 tahun ke depan di Indonesia. Namun untuk UNTR, permintaan alat berat serta harga batubara sedang tidak bagus. Penjualan Komatsu turun -70% YoY di 4Q19 (!). Bisnis tambang emas UNTR mungkin bagus namun porsinya dari pendapatan UNTR masih relatif kecil (17% di tahun 2019).

Secara umum, BBCA adalah proxy bagi IHSG serta menjadi saham utama bagi Investor Asing dan Investor Institusi Domestik. Terlepas dari kondisi sektor Perbankan dan BBCA itu sendiri, bila Investor berminat membeli saham maka BBCA pasti menjadi incaran.

Lihat pembahasan ASII dan BBCA sebelumnya di sini.

Owner Menambah Kepemilikan

The Primary Trader menyukai TP Rachmat dan saham – sahamnya. Oleh karena itu ketika diberitakan Teddy Rachmat (panggilannya) membeli ASSA, ada potensi saham tersebut menarik. Pada bulan Februari 2020, kepemilikan TP Rachmat naik dari 5.02% menjadi 5.14%.

Saham Adi Sarana (ASSA) Diborong TP Rachmat, Harganya Langsung Bergerak Naik

Menggunakan indikator yang sama, tampaknya ASSA masih dalam Downtrend dan akan sulit berubah menjadi Uptrend karena Red Cloud-nya cukup tebal di rentang Rp360 – Rp440. Meskipun bergerak di bisnis otomotif namun The Primary Trader menyukainya karena ada kemungkinan tren ke depan adalah masyarakat tidak lagi membeli mobil namun menyewa. Begitupun dengan perusahaan yang terbukti lebih hemat dengan menyewakan mobil ke pegawainya dibanding membeli lalu meminjamkan mobil tersebut ke pegawai atau untuk operasional.

Tentang Kami

Pendapatan ASSA di tahun 2019 naik 25% YoY dengan pertumbuhan bisnis penyewaan kendaraan sebesar 12% YoY. Memang ASSA mencatat penurunan laba bersih sebesar -23% YoY dari Rp142 miliar menjadi Rp92 miliar. Namun hal tersebut dikarenakan investasi bisnis baru antara lain logistik Anteraja (yang harusnya mencatat kinerja yang bagus di saat WFH dan PSBB saat ini). ASSA masih akan ekspansi (senilai Rp2 triliun) untuk membeli armada baru serta untuk mengembangkan bisnis logistik dan automotive marketplace.

Masih ada beberapa cerita dimana owner menambah kepemilikan sahamnya yaitu keluarga Riady menambah kepemilikan di LPKR serta Pieter Tanuri memborong BOLA (Bali United). Namun The Primary Trader lebih memilih MYOR, KINO, BBCA, ASII dan ASSA. Diantara kelima saham tersebut, The Primary Trader menyukai MYOR dan KINO.

Technically Speaking Untuk MYOR dan KINO

MYOR berpotensi segera Breakout Down Trendline dari sejak Juli 2018 di Rp3,240. Dengan Breakout Down Trendline tersebut, ada potensi Downtrend berakhir. Namun The Primary Trader melihat pergerakan MYOR dari sejak awal tahun 2020 hampir membentuk pola Bullish Reversal (mirip Inverted Head and Shoulders). Namun untuk itu, MYOR perlu terkoreksi sedikit mendekati Rp1,800an. Memang MYOR bisa mengawali Uptrend menuju Rp2,500 langsung setelah Breakout Rp2,100 namun The Primary Trader tetap memperkirakan (atau mengharap) ada penurunan untuk mengonfirmasi Bullish Reversal sehingga Uptrend yang terjadi cukup kuat dan stabil.

KINO masih perlu pergerakan lagi untuk mengakhiri Downtrend dari sejak Oktober 2019. Namun The Primary Trader cukup menyukai lowest KINO di Rp2,000 karena apabila dilihat dari Oktober 2018 (Rp1,500), KINO membentuk Higher Low yang merupakan ciri Uptrend. Untuk mengakhiri Downtrend jangka menengah dan melanjutkan Uptrend jangka panjang, KINO harus Breakout Rp2,950 atau turun (Tech. Correction) tapi tidak lebih dalam dari Rp2,000. Setelah Breakout Rp2,950, KINO setidaknya dapat naik menuju Rp3,800.

Minggu Earning Season Penentu : Melanjutkan Downtrend Atau Mempertahankan Bottoming

Indikasi Dari Data Ekonomi

The Primary Trader mencoba melihat indikator ekonomi dari awal tahun 2020 untuk melihat potensi pendapatan emiten – emiten. Tiga indikator tersebut adalah :

  • Manufacturing PMI
  • Retail Sales YoY
  • Tourist Arrivals

Dari data ekonomi di atas, aktifitas pabrik (Manufacturing PMI) di bulan Maret 2020 terlihat turun drastis dari 51.9 di bulan Februari 2020. Penurunan tersebut adalah yang tertajam dan menunjukkan output produksi serta order baru turun tajam. Dampaknya adalah penurunan pendapatan dan peningkatan pengangguran yang tentu kurang baik bagi ekonomi. Data Manufacturing PMI di bawah 50 pun mengindikasikan kontraksi ekonomi.

Retail Sales Indonesia di bulan Februari 2020 turun -0.8% YoY dan merupakan kelanjutan dari bulan Desember 2020 (-0.5% YoY). Biasanya Retail Sales di akhir tahun cenderung naik (belanja Natal dan Liburan Tahun Baru) dan cukup jarang penjualan ritel turun di Desember kecuali Desember 2019. Hal ini cukup mengkhawatirkan karena berarti Retail Sales sudah melemah di akhir tahun 2019. The Primary Trader perkirakan Retail Sales akan semakin turun setelah dimulai PSBB Jakarta pada bulan April 2020. Siklus perbaikan Retail Sales dari bulan ke bulan – dimulai dari awal tahun tampaknya tidak terjadi di tahun 2020 ini.

Indonesia Retail Sales YoY

Terjadi penurunan wistawan global ke Indonesia di bulan Februari 2020 semenjak banyak negara mulai memberi Travel Warning sampai tidak memberikan izin keluar masuk. Indonesia mulai membatasi izin visa sejak Maret 2020 dan menutup sepenuhnya di awal April 2020. Dengan demikian, tentu Tourist Arrival akan semakin turun dan dampaknya terhadap industri perhotelan akan cukup besar.

Occupancy Rates hotel di Indonesia pada awal tahun 2020 diperkirakan berada di kisaran 40% – 50% dengan tendensi terus turun. Hal ini relatif lebih parah dari tahun 2014 dan 2015.

Dampak dari semua itu adalah peningkatan pengganguran yang berarti penurunan daya beli masyarakat. Tercatat ada sebesar 2.8 juta pekerja yang terkena dampak dimana 60% diantaranya dirumahkan tanpa gaji (Unpaid Leave) dan 27%-nya terkena PHK.

wabah PHK
https://katadata.co.id/infografik/2020/04/18/wabah-phk-akibat-covid-19

Indikasi Dari Data Sektor Dan Emiten

Bank Indonesia memang telah menurunkan BI 7DRR Rate cukup agresif dari awal tahun 2020 sebesar 50 bps (2x) dari 5% menjadi 4.5%. Hal ini diharapkan dapat mendorong pertumbuhan kredit (dan menjaga NPL) namun tampaknya kredit terus turun dari 2H19 baik kredit Investment dan Micro – bahkan untuk kredit Working Capital yang sempat tumbuh tinggi akhir 2018, kali ini turun tajam sepanjang tahun 2019 sampai 1Q20. Tentu hal ini bukan indikasi bagus untuk kinerja sama Bank di 1Q20.

Pangsa pasar mobil merek ASII memang meningkat menjadi 60% di awal tahun 2020 (dari ~45% di akhir 2019). Namun hal ini karena penjualan merek mobil non-ASII di bulan Maret 2020 turun -15.4% dari bulan Februari 2020 dan bahkan -22.9% dari Maret 2019. Penjualan mobil ASII di Maret 2020 naik 6.6% MoM sehingga dapat meningkatkan pangsa pasar. Namun kenaikan penjualan mobil ASII didominasi oleh mobil LCGC (naik 22% MoM dan 4.4% YoY) yang mungkin tidak banyak menolong Revenue maupun Net Income ASII.

Penjualan semen nasional di 1Q20 turun -4.9% dari 1Q19 setelah sempat naik 6.1% YoY pada 4Q19. Hal ini tentu akan membuat kinerja semen kurang baik. Seiring dengan penggunaan semen di Indonesia banyak untuk properti, maka dapat dikatakan penjualan properti di awal tahun 2020 pun akan kurang baik. Pemberlakuan PSAK 72 mengenai pengakuan pendapatan properti pun menjadi salah sentimen penurunan Marketing Sales. Seperti contoh, Marketing Sales CTRA di 2Q10 memang baik (2% YoY) namun tentu kemungkinan besar Marketing Sales akan turun di bulan Maret 2020.

Potensi Pergerakan IHSG

The Primary Trader masih meyakini akan ada One Last Drop sebelum IHSG mengawali Uptrend. One Last Drop tersebut adalah bagian dari pembentukan Bottoming (Bullish Reversal) untuk mengakhiri Downtrend sekaligus mengawali Uptrend. The Primary Trader perkirakan One Last Drop IHSG dapat menuju 3,750 – 4,000.

Tentu ada kemungkinan IHSG ternyata tidak lagi turun mendekati 4,000 namun segera kembali menuju level di atas 6,000. Untuk dapat mengawali kenaikan menuju 6,000, The Primary Trader ingin melihat IHSG Breakout 4,850 karena di level tersebut adalah Lower High sejak awal tahun 2020.

Dengan bantuan indikator, memang ada potensi kenaikan untuk IHSG dalam waktu dekat. Menggunakan Bollinger Band, saat ini IHSG berada di atas Middle Band yang artinya dalam Uptrend – yang kemungkinan adalah Uptrend jangka pendek. Selain itu, potensi kenaikan diperkuat dengan indikator Stochastic Oscillator yang menunjukkan sinyal Buy dan dari level Oversold. The Primary Trader pun menyukai fakta bahwa Bollinger Band cenderung melebar yang artinya volatilitas akan kembali datang. Tentu diharapkan akan ada volatilitas saat IHSG sedang bergerak naik (walau ada juga risiko dimana IHSG turun dalam). Ada harapan volatilitas meningkat dan IHSG sedang dalam kenaikan karena tren Middle Band – yang tidak lain ada MA20 – sedang perlahan mengarah ke atas (dilihat dari Middle Band Direction yang mulai mencatat nilai positif).

Dengan bantuan indikator Ichimoku Kinko Hyo, ada potensi IHSG bergerak naik karena indikator Tenkan-Sen dan Kijun-Sen telah Bullish Crossover. Namun Downtrend tampaknya masih akan terjadi karena IHSG dihalangi oleh Red Cloud yang cukup tebal dan seringkali menjadi Resistance yang kuat. Ichimoku Kinko Hyo memperkuat ekspektasi The Primary Trader bahwa Downtrend masih mungkin terjadi, IHSG berpotensi mencatat One Last Drop sebelum terbentuk Bullish Reversal yang akan mengawali Uptrend.

Semoga wabah pandemi segera selesai.

Melihat Potensi Bottoming IHSG Dari Saham – Saham Dengan Market Cap Terbesar

Berikut adalah Top 10 saham dengan Market Cap terbesar pada IHSG (per tanggal 16 April 2020) :

The Primary Trader hanya mengambil 7 dari saham tersebut dan membandingkannya dengan IHSG sejak awal tahun 2020 :

Live Chart here

Dari chart di atas, ada dua golongan yaitu Outperform (BBCA, TLKM, UNVR dan HMSP) dengan bobot total sebesar 26.55% dari IHSG serta Underperform (BBRI, BMRI dan ASII) dengan bobot total sebesar 12.7% dari IHSG.

The Primary Trader melihat prospek bisnis TLKM di tengah pandemi ini cukup baik karena ditopang oleh Telkomsel serta Indihome yang sangat diperlukan ketika tren Work From Home (WFH) meningkat. Sebagai perbandingan, pada minggu terakhir bulan Maret 2020, Data Traffic internet EXCL meningkat 15% dari minggu sebelumnya. Saat itu adalah dimana tren WFH mulai terjadi.

Sementara bisnis UNVR mungkin sedikit terganggu namun setidaknya tidak berkurang banyak karena produknya adalah kebutuhan sehari – hari (yang tentu tetap diperlukan). The Primary Trader tidak ingin banyak berkomentar mengenai HMSP tapi sepertinya ancaman wabah Covid-19 tidak mengurungkan niat perokok untuk tetap merokok.

Dengan demikian, keempat saham di golongan Outperform memiliki prospek yang menarik sehingga mungkin akan terus menjaga IHSG untuk tidak turun lebih dalam. Ancaman utama saat ini terletak pada bisnis saham di golongan Underperform yaitu BBRI, BMRI dan ASII.

Pada Maret 2020, ASII memang berhasil meningkatkan Market Share dari sekitar 45% di Desember 2019 menjadi 60%. Tampaknya hal ini disebabkan oleh persaingan di industri otomotif yang berkurang. Tren penjualan mobil sendiri memang terus turun dari September 2019 yang sempat tumbuh sebesar 25.9% (!). Pada Maret 2020, terjadi penurunan penjualan mobil yang wajar karena disebabkan wabah Covid-19.

Salah satu perhatian utama di sektor Bank adalah peningkatan kredit macet (NPL) karena semakin banyak tingkat pengangguran serta bisnis yang terganggu karena aktifitas masyarakat turun. OJK dan BI cukup cepat merespon hal ini salah satunya dengan aturan OJK untuk relaksaksi pembayaran kredit. BI telah menurunkan Reserve Ratio Bank sebesar 2% dan merupakan yang penurunan RR yang kedua di tahun 2020. Akan ada tambahan likuditas bagi Bank untuk memberikan kredit. Per Januari 2020, Loan to Deposit Ratio (LDR) sendiri berada di 92.6% dan masih ada ruang untuk dinaikkan. Namun tentu salah satu kekhawatiran saat ini adalah peningkatan NPL sehingga relaksasi dan usaha OJK serta BI mungkin cenderung tidak signifikan memberikan sentimen positif pada sektor Perbankan.

Oleh karena itu, The Primary Trader khawatir sektor Perbankan akan menjadi pemberat (terutama BBRI dan BMRI) bagi IHSG untuk mengawali Uptrend nantinya. Perlu sentimen yang signifikan menjaga agar NPL tidak melonjak ditengah pandemi Covid-10. Untuk BBCA, rasanya Investor akan kembali menggunakan BBCA sebagai Safe Heaven di IHSG.

Secara umum, The Primary Trader masih memperkirakan akan ada One Last Drop untuk IHSG menuju ~3,750 atau setidaknya di bawah Lowest 2020 di ~3,910.