UNPUB : Big Bank “Menipu” IHSG. Fokus Ke-6 Saham Ini.

Bila melihat pergerakan IHSG dan membandingkannya dengan pergerakan Big Bank (BBCA, BBRI, BBNI dan BMRI) maka terlihat pergerakan Big Bank lebih Bullish dibanding IHSG itu sendiri. Sejak awal tahun 2018, Big Bank bergerak Uptrend sementara IHSG sudah bergerak Sideways. Ketika IHSG mengalami Breakdown yang menandakan arah tren berubah menjadi Downtrend, Big Bank masih belum mengindikasikan Breakdown. 1-2 minggu kemudian terjadi Breakdown pada Big Bank.

The Primary Trader mencoba melihat Big Cap lain yang relatif memiliki variasi sektor. Berikut adalah pilihannya : GGRM, INDF, ICBP, ASII, TLKM dan UNVR. Berikut adalah chartnya :

Other Big Caps tersebut mengindikasikan Uptrend – hanya sampai awal tahun 2019 atau sekitar akhir 1Q19. Setelah itu, Other Big Caps mulai bergerak Downtrend. Pada 3Q19, Other Big Caps mulai Breakdown dan mengonfirmasi Downtrend.

Apabila digabungkan, maka jelas terlihat Other Big Caps telah Downtrend dari 2019 sementara Big Bank tampaknya menopang IHSG sehingga IHSG masih bisa Sideways. Pada awal tahun 2020, terlihat Big Bank mulai naik namun tidak bertahan sementara Other Big Caps cenderung Flat sebelum IHSG jatuh yang disebabkan oleh Crash di Big Bank.

Kesimpulan

Per hari ini (28 April 2020), Big Bank memang memiliki Total Market Cap 22.5% dari IHSG. Sementara Other Big Caps memiliki total 19.27% dari IHSG. Cukup wajar bila Big Bank masih lebih mendominasi pergerakan IHSG.

Namun The Primary Trader lebih menyukai Other Big Caps karena setidaknya terdiri dari 5 sektor yaitu Cigarettes (GGRM), Food and Beverage (ICBP dan INDF), Automotive (ASII), Telecommunication (TLKM) dan Consumer Staples (UNVR). Sektor tersebut cenderung Cyclical (Auto) namun ada beberapa yang menjadi Backbone ekonomi Indonesia yaitu Consumer Related seperti Cigarettes, F&B dan Consumer Staples.

Oleh karena itu, untuk melihat kondisi IHSG lebih detil, selain Big Bank, sangat perlu juga dilihat Other Big Caps.

Beli Saham – Saham Yang Dibeli Oleh Manajemen / Owner-nya

The Primary Trader menyukai saham – saham yang dibeli oleh manajemen (direksi) maupun owner atau pemegang sahamnya. Hal ini menunjukkan beberapa hal yaitu :

  • Saham tersebut sudah sangat murah dibandingkan dengan valuasi wajarnya (walaupun setelah disesuaikan dengan kondisi yang mungkin sedang memburuk pada saat itu)
  • Penurunan harga saham tidak wajar dan tidak sesuai dengan kondisi pasar, kondisi perusahaan maupun kondisi ekonomi
  • Harga saham turun karena sentimen lain seperti dikeluarkan dari indeks acuan, karena Cover Short ataupun karena proses Repo

Perlu dicatat bahwa pihak yang pastinya paling memahami kondisi perusahaan dan bisnis sektor tersebut adalah manajemen dan atau pemilik / pemegang saham. Oleh karena itu, ketika mereka membeli atau menambah kepemilikannya tentunya adalah karena mereka mengetahui sesuatu yang tidak diketahui orang banyak.

Emiten memang wajib memberikan keterbukaan informasi namun aturan tersebut pun memberikan manajemen batasan dan rambu. Pemilik saham pun tentu memiliki rencana – rencana yang belum bisa dan belum perlu diumumkan ke publik sehingga ketika pemilik saham tersebut yakin (dan setelah mengikuti prosedur yang berlaku), pemilik saham serta manajemen dapat membeli saham tanpa menyalahi aturan. Masyarakat dapat mengikuti langkah – langkah manajemen dan pemilik saham.

Direksi Beli Saham

Bisnis.com melaporkan empat direksi membeli sahamnya yaitu :

  • Jahja Setiaatmadja : Presiden Direksi BBCA
  • Andre Sukendra : Direktur Utama MYOR
  • Prijono Sugiarto : Presiden Direktur ASII
  • Harry Sanusi : Presiden Direktur KINO
View this post on Instagram

Direksi Emiten Belanja Saham Saat Pandemi, Kamu Gimana? 🤔 _ Sejumlah direksi dari perusahaan terbuka menambah kepemilikan sahamnya di tengah pandemi Covid-19. Nah, kali ini Bisnismin ingin mengumpulkan direksi dari 4 emiten yang sudah menambah kepemilikan saham mereka nih. _ Misalnya, ada Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk. Jahja Setiaatmadja, Direktur Utama PT Mayora Indah Tbk. Andre Sukendra, Presiden Direktur PT Astra International Tbk. Prijono Sugairto, dan Presiden Direktur PT Kino Indonesia Tbk. Harry Sanusi. _ Corporate Secretary BCA Raymon Yonarto menjelaskan bahwa tujuan bertambahnya saham jajaran direksi emiten berkode BBCA adalah untuk investasi jangka panjang. _ Sementara itu, Corporate Secretary MYOR Yuni Gunawan mengatakan bahwa bertambahnya kepemilikan saham Direktur Utama MYOR bertujuan untuk investasi dengan status kepemilikan saham langsung. _ Di tempat yang berbeda, turunnya harga saham ASII pada Maret 2020 seakan jadi momentum bagi para direksi menambah kepemilikan sahamnya. Presiden Direktur ASII Prijono Sugiarto tercatat memborong 5,92 juta lembar saham ASII sepanjang 2020. _ Adapun demikian, Presiden Direktur Kino Indonesia Harry Sanusi menilai tertekannya IHSG akibat pandemi Covid-19 bukanlah karena fundamental bisnis dan bubble. "Kalau [pandemi Covid-19] selesai, pasti ekonomi akan balik kembali," demikan ungkapnya. _ Melihat sejumlah direksi perusahaan terbuka yang justru berbelanja saham di tengah pandemi Covid-19, gimana nih pendapat Sobat Bisnis? Ingin ikut beli juga atau justru punya pendapat lain? 🤔 _ Kita obrolin di kolom komentar yuk, tapi jangan lupa baca berita lengkapnya dengan klik link di bio @bisniscom ya. 🤗 _ #InfografikHarianBisnisCom #DireksiPerusahaanTerbuka #ASII #KINO MYOR #BBCA #Covid19 #VirusCorona #BelanjaSahamSaatPandemi

A post shared by Bisnis.com (@bisniscom) on

Dari keempat emiten tersebut (BBCA, MYOR, ASII dan KINO) dan dengan menggunakan Ichimoku Kinko Hyo, The Primary Trader ingin melihat saham MYOR sangat menarik dalam jangka pendek – menengah karena satu – satunya dari keempat saham tersebut yang telah berada di atas Red Cloud (mengindikasikan Uptrend). Selanjutnya ada KINO yang saat ini sedang mendekati Red Cloud atau Resistance di kisaran Rp2,900 – 3,200.

Di antara ASII dan BBCA, The Primary Trader lebih memilih BBCA karena Red Cloud-nya relatif lebih kecil dibanding ASII. Ketebalan Red Cloud pada Ichimoku Kinko Hyo menunjukkan kekuatan Resistance dimana semakin tebal maka Resistance semakin kuat.

Secara urut, dari keempat emiten tersebut, berikut adalah preferensi The Primary Trader : MYOR > KINO > BBCA > ASII.

Sekilas menggunakan Analisis Fundamental, tentu sektor Konsumsi terbukti yang paling bertahan dalam kondisi krisis. Memang MYOR dan KINO bukanlah konsumsi utama seperti UNVR, INDF ataupun ICBP. Namun disaat banyak pegawai (kelas menengah ke atas) yang Work From Home, permintaan kopi (dan makanan ringan) meningkat. Tentu hal ini menjadi sentimen positif untuk MYOR dan KINO.

Di saat PSBB dan Pandemi serta paska Pandemi di tahun 2020, permintaan mobil sangat mungkin turun sehingga kondisi ini menjadi sentimen negatif bagi ASII maupun grupnya seperti AALI dan UNTR. Mungkin untuk AALI masih ditopang oleh sentimen B30 di Indonesia dan B20 di Malaysia serta persiapan B50 dalam 2-3 tahun ke depan di Indonesia. Namun untuk UNTR, permintaan alat berat serta harga batubara sedang tidak bagus. Penjualan Komatsu turun -70% YoY di 4Q19 (!). Bisnis tambang emas UNTR mungkin bagus namun porsinya dari pendapatan UNTR masih relatif kecil (17% di tahun 2019).

Secara umum, BBCA adalah proxy bagi IHSG serta menjadi saham utama bagi Investor Asing dan Investor Institusi Domestik. Terlepas dari kondisi sektor Perbankan dan BBCA itu sendiri, bila Investor berminat membeli saham maka BBCA pasti menjadi incaran.

Lihat pembahasan ASII dan BBCA sebelumnya di sini.

Owner Menambah Kepemilikan

The Primary Trader menyukai TP Rachmat dan saham – sahamnya. Oleh karena itu ketika diberitakan Teddy Rachmat (panggilannya) membeli ASSA, ada potensi saham tersebut menarik. Pada bulan Februari 2020, kepemilikan TP Rachmat naik dari 5.02% menjadi 5.14%.

Saham Adi Sarana (ASSA) Diborong TP Rachmat, Harganya Langsung Bergerak Naik

Menggunakan indikator yang sama, tampaknya ASSA masih dalam Downtrend dan akan sulit berubah menjadi Uptrend karena Red Cloud-nya cukup tebal di rentang Rp360 – Rp440. Meskipun bergerak di bisnis otomotif namun The Primary Trader menyukainya karena ada kemungkinan tren ke depan adalah masyarakat tidak lagi membeli mobil namun menyewa. Begitupun dengan perusahaan yang terbukti lebih hemat dengan menyewakan mobil ke pegawainya dibanding membeli lalu meminjamkan mobil tersebut ke pegawai atau untuk operasional.

Tentang Kami

Pendapatan ASSA di tahun 2019 naik 25% YoY dengan pertumbuhan bisnis penyewaan kendaraan sebesar 12% YoY. Memang ASSA mencatat penurunan laba bersih sebesar -23% YoY dari Rp142 miliar menjadi Rp92 miliar. Namun hal tersebut dikarenakan investasi bisnis baru antara lain logistik Anteraja (yang harusnya mencatat kinerja yang bagus di saat WFH dan PSBB saat ini). ASSA masih akan ekspansi (senilai Rp2 triliun) untuk membeli armada baru serta untuk mengembangkan bisnis logistik dan automotive marketplace.

Masih ada beberapa cerita dimana owner menambah kepemilikan sahamnya yaitu keluarga Riady menambah kepemilikan di LPKR serta Pieter Tanuri memborong BOLA (Bali United). Namun The Primary Trader lebih memilih MYOR, KINO, BBCA, ASII dan ASSA. Diantara kelima saham tersebut, The Primary Trader menyukai MYOR dan KINO.

Technically Speaking Untuk MYOR dan KINO

MYOR berpotensi segera Breakout Down Trendline dari sejak Juli 2018 di Rp3,240. Dengan Breakout Down Trendline tersebut, ada potensi Downtrend berakhir. Namun The Primary Trader melihat pergerakan MYOR dari sejak awal tahun 2020 hampir membentuk pola Bullish Reversal (mirip Inverted Head and Shoulders). Namun untuk itu, MYOR perlu terkoreksi sedikit mendekati Rp1,800an. Memang MYOR bisa mengawali Uptrend menuju Rp2,500 langsung setelah Breakout Rp2,100 namun The Primary Trader tetap memperkirakan (atau mengharap) ada penurunan untuk mengonfirmasi Bullish Reversal sehingga Uptrend yang terjadi cukup kuat dan stabil.

KINO masih perlu pergerakan lagi untuk mengakhiri Downtrend dari sejak Oktober 2019. Namun The Primary Trader cukup menyukai lowest KINO di Rp2,000 karena apabila dilihat dari Oktober 2018 (Rp1,500), KINO membentuk Higher Low yang merupakan ciri Uptrend. Untuk mengakhiri Downtrend jangka menengah dan melanjutkan Uptrend jangka panjang, KINO harus Breakout Rp2,950 atau turun (Tech. Correction) tapi tidak lebih dalam dari Rp2,000. Setelah Breakout Rp2,950, KINO setidaknya dapat naik menuju Rp3,800.

Melihat Potensi Bottoming IHSG Dari Saham – Saham Dengan Market Cap Terbesar

Berikut adalah Top 10 saham dengan Market Cap terbesar pada IHSG (per tanggal 16 April 2020) :

The Primary Trader hanya mengambil 7 dari saham tersebut dan membandingkannya dengan IHSG sejak awal tahun 2020 :

Live Chart here

Dari chart di atas, ada dua golongan yaitu Outperform (BBCA, TLKM, UNVR dan HMSP) dengan bobot total sebesar 26.55% dari IHSG serta Underperform (BBRI, BMRI dan ASII) dengan bobot total sebesar 12.7% dari IHSG.

The Primary Trader melihat prospek bisnis TLKM di tengah pandemi ini cukup baik karena ditopang oleh Telkomsel serta Indihome yang sangat diperlukan ketika tren Work From Home (WFH) meningkat. Sebagai perbandingan, pada minggu terakhir bulan Maret 2020, Data Traffic internet EXCL meningkat 15% dari minggu sebelumnya. Saat itu adalah dimana tren WFH mulai terjadi.

Sementara bisnis UNVR mungkin sedikit terganggu namun setidaknya tidak berkurang banyak karena produknya adalah kebutuhan sehari – hari (yang tentu tetap diperlukan). The Primary Trader tidak ingin banyak berkomentar mengenai HMSP tapi sepertinya ancaman wabah Covid-19 tidak mengurungkan niat perokok untuk tetap merokok.

Dengan demikian, keempat saham di golongan Outperform memiliki prospek yang menarik sehingga mungkin akan terus menjaga IHSG untuk tidak turun lebih dalam. Ancaman utama saat ini terletak pada bisnis saham di golongan Underperform yaitu BBRI, BMRI dan ASII.

Pada Maret 2020, ASII memang berhasil meningkatkan Market Share dari sekitar 45% di Desember 2019 menjadi 60%. Tampaknya hal ini disebabkan oleh persaingan di industri otomotif yang berkurang. Tren penjualan mobil sendiri memang terus turun dari September 2019 yang sempat tumbuh sebesar 25.9% (!). Pada Maret 2020, terjadi penurunan penjualan mobil yang wajar karena disebabkan wabah Covid-19.

Salah satu perhatian utama di sektor Bank adalah peningkatan kredit macet (NPL) karena semakin banyak tingkat pengangguran serta bisnis yang terganggu karena aktifitas masyarakat turun. OJK dan BI cukup cepat merespon hal ini salah satunya dengan aturan OJK untuk relaksaksi pembayaran kredit. BI telah menurunkan Reserve Ratio Bank sebesar 2% dan merupakan yang penurunan RR yang kedua di tahun 2020. Akan ada tambahan likuditas bagi Bank untuk memberikan kredit. Per Januari 2020, Loan to Deposit Ratio (LDR) sendiri berada di 92.6% dan masih ada ruang untuk dinaikkan. Namun tentu salah satu kekhawatiran saat ini adalah peningkatan NPL sehingga relaksasi dan usaha OJK serta BI mungkin cenderung tidak signifikan memberikan sentimen positif pada sektor Perbankan.

Oleh karena itu, The Primary Trader khawatir sektor Perbankan akan menjadi pemberat (terutama BBRI dan BMRI) bagi IHSG untuk mengawali Uptrend nantinya. Perlu sentimen yang signifikan menjaga agar NPL tidak melonjak ditengah pandemi Covid-10. Untuk BBCA, rasanya Investor akan kembali menggunakan BBCA sebagai Safe Heaven di IHSG.

Secara umum, The Primary Trader masih memperkirakan akan ada One Last Drop untuk IHSG menuju ~3,750 atau setidaknya di bawah Lowest 2020 di ~3,910.

The Primary Trader Daily 03 January 2019

Photo by Aleksandar Pasaric on Pexels.com

Inflasi Indonesia Bulan Desember 2019

BPS melaporkan inflasi di bulan Desember 2019 sebesar 2.72% YoY dan 0.34% MoM, lebih rendah dari estimasi sebesar 2.9% YoY dan 0.49% MoM. Sementara inflasi inti hanya sebesar 3.02% YoY, lebih rendah dari estimasi 3.11% YoY.

Indonesia Inflation Rate

Rendahnya inflasi ini cukup mengkhawatirkan karena hal ini berarti ekonomi Indonesia terancam tidak tumbuh dan bahkan turun. Apalagi inflasi di 2019 (setahun) adalah yang terendah sejak krisis 1999 atau hanya 2.78%. Memang salah satu penyebab utama inflasi rendah adalah ketersediaan beras di Bulog yang cukup, bahkan melimpah sehingga terancam busuk. Harga bahan bakar pun cenderung stabil rendah karena harga minyak dunia yang juga rendah.

Kekhawatiran utama muncul karena inflasi inti juga lebih rendah dari estimasi. Inflasi inti adalah inflasi yang terkait dengan faktor utama seperti penawaran dan permintaan. Penurunan inflasi inti menunjukkan ada sesuatu yang perlu diwaspadai dalam ekonomi. Inflasi inti di tahun 2019 telah turun dari September 2019 sebesar 3.32% dan pada bulan Desember 2019 kemarin adalah yang terendah sepanjang tahun 2019.

Indonesia Core Inflation Rate

IHSG : Dalam Fase Throwback

Di hari pertama perdagangan tahun 2020, IHSG ditutup melemah -0.3%. Menurut The Primary Trader, penurunan tersebut adalah fase Throwback atau penurunan singkat setelah Breakout. Penurunan tersebut kurang lebih berhenti di level Support (atau Resistance yang sebelumnya telah di-Breakout). Level Resistance yang telah di-Breakout adalah di 6,300an sehingga The Primary Trader prediksi IHSG sudah mendekati akhir dari fase Throwback. Dalam waktu dekat, seharusnya IHSG akan segera mengawali kenaikan sebagai bagian dari January Effect. The Primary Trader percaya IHSG akan naik dan kembali mengalami January Effect di tahun 2020.

Dandy Rotation : Perhatikan Saham Bank dan Saham Konsumsi. Saham Komoditas Masih Layak Buy on Weakness

Berdasarkan Dandy Rotation, The Primary Trader melihat saham sektor Bank seperti BMRI dan BBCA serta saham sektor Konsumsi seperti UNVR cukup menarik. Saham UNVR efektif Stock Split di tanggal 2 Januari 2020 dengan rasio 1:5 sehingga saat ini harganya di Rp8,550an (Closing Price).

The Primary Trader melihat UNVR berpotensi naik menuju Resistance di Rp9,200 dan Rp10,000. Hal ini karena UNVR telah berada dalam Support kuat yang telah menahan kejatuhan UNVR dari sejak akhir 2016 yaitu di level Rp7,500 – Rp8,000an. Level tersebut dapat dikatakan sebagai Bottom UNVR. The Primary Trader kurang yakin UNVR dapat Breakout Rp10,000 namun dari Rp8,550 saat ini sampai Rp10,000, ada potensi kenaikan sebesar ~16% dan cukup menarik.

SMGR : Dalam Kuadran Fast Namun Sudah Mulai Uptrend

The Primary Trader melihat SMGR sedang dalam proses Bullish Continuation. Artinya adalah SMGR berpotensi melanjutkan Uptrend yang telah terjadi dari Juli 2018 (Rp6,500) sampai April 2019 (Rp14,500) dengan besaran yang sama (!). SMGR harus Breakout Rp13,000 untuk kembali melanjutkan Uptrend jangka panjang tersebut. Setidaknya SMGR berpotensi kembali menguji Resistance di Rp14,500 (setelah Breakout Rp13,000). The Primary Trader akan menghindari SMGR bila ternyata terjadi Breakdown Rp11,500.

Bottoming-kah IHSG ?

Pergerakan Sektor Penggerak IHSG

Menggunakan grafik “Trend and Momentum in Sectors” pada 2 tanggal yaitu 11 – 12 Nov’19, The Primary Trader melihat ada potensi sektor – sektor Big Cap seperti Auto dan Telecom mendorong IHSG. Sektor Auto di 11 Nov’19 masih berada di dalam kondisi Downtrend namun Oversold.

Pada 12 Nov’19, sektor Auto sudah berada di luar kondisi Oversold yaitu Netral namun masih dalam kondisi Downtrend. Hal ini menandakan adanya kenaikan. Meski berada di area Netral pada 11 – 12 Nov’19, sektor Telecom mencatat kenaikan pada sumbu x yaitu Momentum Meter (menggunakan Stoch. Osc). Artinya adalah ada kenaikan harga pada sektor Telecom namun masih ada Upside Potential karena belum Overbought.

Sektor lain yang menurut The Primary Trader menjadi pendorong IHSG adalah FMCG dan Banking dimana kedua relatif stabil berada di area Netral namun dalam kondisi Downtrend (di sebelah kiri sumbu y atau Trend Meter yang menggunakan indikator %B dari Bollinger Band). Masih ada potensi kenaikan sebelumnya kedua sektor masuk ke area Overbought seperti pada sektor Tower, Coal dan Paper.

Meski perlahan, sektor Industrial Area tampaknya mulai bergerak naik dan masih dapat diperhatikan karena masih dalam kondisi Netral. Begitupun dengan sektor Oil&Gas yang berbasis komoditas dimana ada kenaikan perlahan namun masih dalam kondis Netral. Kedua sektor tersebut masih memiliki Upside Potential sebelum mencatat Overbought.

Pergerakan Saham Penggerak IHSG

Pergerakan saham di sektor Auto (ASII) dan Telecom (TLKM, EXCL dan ISAT) menunjukkan potensi ASII dan TLKM sebagai pendorong IHSG. Dari pergerakan sejak Agus’19, ada indikasi ASII telah membentuk Bottoming karena penurunannya telah tertahan (indikasi Double Bottom dari Agust’19 dan Okt’19). Sementara itu, TLKM dari sejak Mei’19 telah berada dalam Uptrend. Dengan demikian, penurunan dari sejak Agust’19 terlihat sebagai bagian dari Tech. Correction atau penurunan singkat untuk melanjutkan Uptrend.

BBCA tidak diragukan lagi berhasil menopang IHSG selama ini. Dari Bank BUMN, BBRI bersama BBCA menjaga IHSG tidak turun jauh. Saham Bank BUMN yang berpotensi menopang dan mengangkat IHSG dalam waktu dekat adalah BBNI dan BMRI yang saat ini mencatat Negative Return (dari awal tahun ). Ada indikasi BBNI dan BMRI telah menyentuh Bottom di Okt’19 yang kemungkinan adalah sebagai reaksi antisipasi kinerja 3Q19 yang diperkirakan kurang bagus (namun ternyata hasilnya tidak terlalu mengecewakan).

Sektor FMCG seperti INDF dan ICBP bergerak menarik di 2H19 seiring dengan sentimen negatif atau faktor Pemilu selesai. Ekonomi Indonesia terbukti bertahan karena adanya Domestic Consumption yang memang menjadi sentimen positif untuk sektor FMCG. UNVR sebagai saham besar yang mulai kehilangan sentimen positif-nya tampaknya sulit diharapkan untuk naik dan mendorong IHSG. Hal ini karena menurut The Primary Trader, ada pertumbuhan pada sektor konsumsi makanan seperti INDF dan IBCP. Meksi kebutuhan semakin banyak namun sektor bisnis UNVR dapat dikatakan sudah dalam fase Mature sehingga sulit tumbuh.

Sudah Bottom – kah IHSG?

Volatilitas IHSG dari sejak awal tahun 2019 semakin mengecil. IHSG sempat naik sampai 6% di 1Q19 namun juga sempat turun -6% di 2Q19. Pergerakan IHSG di 2H19 relatif hanya naik sampai 4% – 5% dan hanya turun -3% (dari awal tahun 2019).

Penurunan volatilitas menurut The Primary Trader adalah awal dari suatu tren baik Uptrend maupun Downtrend. Oleh karena itu, The Primary Trader memperkirakan IHSG akan segera mengawali Uptrend. Perlu diingat juga bahwa penurunan volatilitas dapat juga mengindikasikan awal Downtrend. Oleh karena itu, perlu diwaspadai bila terjadi Breakdown pada IHSG.

Level Support Psikologis IHSG saat ini ada di 6,000 dan atau 6,100. The Primary Trader memilih menggunakan Support Psikologis di 6,100 untuk menandakan awal Downtrend – bila terjadi Breakdown 6,100. IHSG perlu Breakout 6,500 untuk memulai Uptrend. The Primary Trader percaya IHSG akan mengawali Uptrend (segera) yang ditandai dengan Breakout 6,500.