Kembali Menuju MA200

Menuju MA200

Salah satu sifat harga terhadap Moving Average (MA) adalah bahwa harga cenderung akan kembali menuju MA setelah naik atau turun sampai level tertentu. Oleh karena itu, ada peluang Beli ketika harga sudah di bawah MA.

The Primary mencatat beberapa saham yang saat ini harganya sudah di bawah MA200 namun apabila saham tersebut naik menuju MA200 maka perlu kenaikan > 100% (dari harga saat ini). Dengan kata lain, apabila harga saham naik menuju MA200 atau Rata – Rata 200 Hari Terakhir (seperti sifat harga terhadap MA) maka ada potensi Return sebesar > 100%. Berikut adalah saham – sahamnya :

SectorStocksCloseMA200% Rise to MA200
CPOAALI      4,400      11,064151.45%
CPOLSIP         530        1,195125.56%
MineralTINS         358           885147.21%
MineralANTM         352           852142.11%
MineralINCO      1,460        3,226120.96%
Oil&GasPGAS         650        1,918195.02%
Oil&GasMEDC         314           732133.13%
Oil&GasBRPT         490        1,004104.86%
AutoGJTL         244           597144.76%
PaperTKIM      4,030      10,226153.76%
PoultryMAIN         428           972127.01%
RetailRALS         470        1,154145.52%
RetailWOOD         300           697132.47%
RetailMAPI         446           970117.60%
TextileSRIL         132           283114.19%
ConstructionWSKT         422        1,532262.97%
ConstructionPTPP         520        1,674221.95%
ConstructionADHI         388        1,232217.53%
ConstructionWIKA         775        2,034162.42%
Industrial AreaBEST          98           239144.03%
Industrial AreaDMAS         127           285124.63%
Oil&GasELSA         132           309134.41%
Oil&GasAKRA      1,590        3,678131.33%
Oil&GasESSA         120           260116.40%
PrecastWSBP         115           315173.96%
PrecastWTON         194           464139.10%
TelecomEXCL      1,485        3,118109.98%
TollJSMR      2,510        5,284110.51%
BankingBBTN         880        2,072135.41%
BankingBBNI      3,390        7,623124.88%
BankingPNBN         630        1,261100.21%
ResidentialSMRA         428        1,068149.56%
ResidentialPWON         292           612109.71%
ResidentialCTRA         520        1,057103.18%
ResidentialBSDE         640        1,295102.39%
ResidentialBKSL          50           100100.50%
Berdasarkan harga penutupan sesi 1 – 23 Maret 2020

Memang ketika Downtrend maka harga saham akan turun dan tentunya MA200 pun akan ikut turun. Oleh karena itu, untuk memastikan potensi Return (selisih antara harga saham dengan MA200) tetap sebesar > 100% maka The Primary Trader memilih saham – saham yang dapat naik di atas 120%. Dengan demikian, berikut adalah saham – saham tersebut :

SectorStocksCloseMA200% Rise to MA200
CPOAALI      4,400      11,064151.45%
CPOLSIP         530        1,195125.56%
MineralTINS         358           885147.21%
MineralANTM         352           852142.11%
MineralINCO      1,460        3,226120.96%
Oil&GasPGAS         650        1,918195.02%
Oil&GasMEDC         314           732133.13%
AutoGJTL         244           597144.76%
PaperTKIM      4,030      10,226153.76%
PoultryMAIN         428           972127.01%
RetailRALS         470        1,154145.52%
RetailWOOD         300           697132.47%
ConstructionWSKT         422        1,532262.97%
ConstructionPTPP         520        1,674221.95%
ConstructionADHI         388        1,232217.53%
ConstructionWIKA         775        2,034162.42%
Industrial AreaBEST          98           239144.03%
Industrial AreaDMAS         127           285124.63%
Oil&GasELSA         132           309134.41%
Oil&GasAKRA      1,590        3,678131.33%
PrecastWSBP         115           315173.96%
PrecastWTON         194           464139.10%
BankingBBTN         880        2,072135.41%
BankingBBNI      3,390        7,623124.88%
ResidentialSMRA         428        1,068149.56%

The Primary Trader menyukai Sektor CPO karena secara domestik, permintaan CPO berpotensi tinggi seiring dengan adanya program pemerintah yaitu B30 tahun 2020 dan B50 di tahun 2021. Terlepas dari permintaan internasional (dan adanya diskriminasi Eropa), dengan adanya permintaan domestik tersebut, harga CPO diharapkan dapat terjaga. The Primary Trader menyukai LSIP namun AALI menarik karena masuk ke dalam indeks SRI-Kehati yang secara otomatis (berdasarkan sentimen) akan lebih menarik. LSIP adalah pemain CPO murni (~91% pendapatan berasal dari CPO) serta memiliki korelasi tertinggi dengan harga CPO.

Sebagai negara dengan ekonomi domestik konsumsi dan yang sangat mungkin lebih cepat pulih setelah wabah Covid-19 selesai adalah sektor Consumer antara lain Poultry (MAIN) dan Retail (RALS). Saham MAIN banyak menjual daging unggas (ayam) yang memang menjadi protein hewani utama masyarakat Indonesia. Selain itu, dengan adanya stimulus untuk masyarakat kelas bawah, RALS berpotensi menjaga penjualannya untuk tidak turun terlalu dalam. The primary Trader lebih memilih MAIN dibanding RALS karena sektor Poultry (konsumsi makanan) seharusnya akan lebih dahulu membaik.

Di saat suku bunga rendah saat ini (BI 7DRR Rate sebesar 4.5% dan stimulus – stimulus di sektor properti), tentu sektor Properti (SMRA) dapat menjadi pilihan utama. SMRA pun cukup banyak menjual properti berupa rumah tapak (Landed House) dengan harga yang relatif murah dibanding BSDE (meski tetap CTRA yang paling murah).

Sektor yang paling The Primary Trader sukai adalah Industrial Area yaitu DMAS. Dengan cadangan lahan terluas (~1,430 ha) diantara emiten Industrial Area, DMAS seharusnya mendapat keuntungan dari tren industrialisasi Indonesia. Setelah disahkannya Omnibus Law, seharusnya akan banyak Foreign Direct Investment dalam bentuk pembangunan pabrik.. Di tahun 2020, DMAS memiliki Inquiries sebanyak 150 ha (relatif sama seperti tahun 2019).

Dengan demikian, mengandalkan kemungkinan harga saham akan berbalik mendekati MA20-nya maka The Primary Trader menyukai saham LSIP, MAIN, SMRA dan DMAS.

The Primary Trader Daily 7 January 2020

Photo by Pixabay on Pexels.com

IHSG : Bukan Lagi Throwback Tapi Technical Correction

Penurunan IHSG di bawah 6,300 yang merupakan Suppot mengindikasikan fase Throwback batal. Namun potensi kenaikan IHSG menuju 6,450 masih ada karena penurunan IHSG masih dapat dianggap sebagai Technical Correction atau penurunan di tengah Uptrend (dari sejak akhir November 2019 di 5,900). Koridor wajar Tech. Correction IHSG antara 6,090 – 6,180 yang artinya potensi Uptrend menuju 6,450 masih ada selama IHSG tidak turun di bawah 6,090.

The Primary Trader melihat penurunan IHSG adalah bagian dari kekhawatiran akan tensi di Timur Tengah dan potensi perang AS – Iran. Dampak utamanya adalah kenaikan harga minyak dimana Brent saat ini sudah mencapai US$68, naik 5% dari sejak sebelum serangan AS. The Primary Trader perkirakan Brent akan sulit naik melewati US$80 sementara Brent di hari ini sudah terlihat tertahan di Resistance US$70. Kekhawatiran terjadinya perang dunia 3 tampaknya cukup berlebihan meskipun dampak kenaikan harga minyak perlu diwaspadai.

Cek opini The Primary Trader mengenai Brent di sini.

Program B30 yang baru saja diresmikan Pemerintah tampaknya diyakini menjadi penghemat impor BBM sehingga di awal tahun 2020, harga BBM diturunkan dengan cukup banyak (kurang lebih Rp1,000 per liter untuk semua jenis). Selain itu, kemungkinan besar program – program pengembangan kilang yang saat ini dimiliki Pertamina mulai banyak yang selesai di tahun 2020 yang diharapkan dapat memperbesar kapasitas produksi Pertamina. Dengan demikian, impor BBM yang sudah jadi dapat semakin dikurangi.

Perlu diingat bahwa Presiden telah meminta draf UU Omnibus Law selesai pekan depan sehingga dapat diserahkan ke DPR secepatnya. Omnibus Law yang salah satunya berisi Cut Tax Rate akan menjadi pendorong utama IHSG di tahun 2020. Bila Pemerintah dapat menyerahkan ke DPR di Januari 2020, diharapkan Omnibus Law dapat disahkan di 1H20. Bukan tidak mungkin IHSG dapat menyentuh 7,000 di tahun 2020 atau setidaknya berhasil membentuk New All Time High dari saat ini di 6,693.

Saham Undershoot

The Primary Trader melihat ada 5 saham yang mencatat Undershoot atau berada di bawah Lower Bollinger Band. Saham Undershoot dapat diartikan sudah turun terlalu dalam dan jauh dari ‘normal’-nya sehingga layak menjadi perhatian. Saham tersebut adalah GJTL, DMAS, BRPT, PWON dan SSIA. The Primary Trader menyukai DMAS, SSIA dan PWON.

Tampaknya PWON masih melanjutkan penurunan menuju Support kuat di kisaran Rp430 – Rp490. The Primary Trader meyakini proyek PWON di Bekasi akan menjadi katalis utama kenaikan saham tersebut – setelah Downtrend berakhir di kisaran Rp450an.

Ringkasan PWON sebelumnya di sini.

Meski The Primary Trader yakin dengan masuknya Foreign Direct Investment (FDI) di tahun 2020 dengan membeli lahan kawasan industri, dua saham kawasan industri DMAS dan SSIA masih perlu diwaspadai karena Downtrend-nya masih bertahan.

SSIA sedang menyentuh Support di Rp630 namun belum terlihat potensi berhenti dan ada ancaman Breakdown Rp630 untuk terus turun menuju Support berikut di Rp500. The Primary Trader menyukai kawasan industri SSIA di Subang dan potensi menariknya bila nanti tol Patimban – Subang selesai serta tentunya pelabuhan Patimban beroperasi.

DMAS adalah salah satu emiten kawasan industri yang paling menarik karena selain memiliki luas lahan yang terbesar, DMAS rutin membagikan dividen. Hyundai Motor Company pun dikonfirmasi membeli lahan 77 ha untuk membangun pabrik mobil pertama di Asia Tenggara.

The Primary Trader melihat DMAS terindikasi membentuk pola Bullish Continuation dari sejak November 2019 (dilihat dari penurunan dari Rp360 sampai Rp270). Namun pola tersebut dapat gagal bila dalam waktu dekat DMAS turun di bawah Rp260 – yang membuat DMAS terancam turun terus sampai Rp200. DMAS masih perlu naik dan Breakout Rp300 untuk mengonfirmasi pola Bullish Continuation tersebut. The Primary Trader masih akan terus pantau DMAS dan meyakini potensinya.

INCO : Menjadi Perhatian The Primary Trader

The Primary Trader meyakini potensi nikel yang menjadi bahan utama baterei mobil listrik sehingga harganya Nikel berpotensi terus naik. INCO sebagai salah satu produsen nikel nasional akan sangat berpotensi menikmati kenaikan harga nikel ke depan.

Saat ini The Primary Trader melihat INCO sedang dalam fase Bullish Continuation setelah Breakout Down Trendline yang membuat INCO berada dalam Downtrend jangka pendek (sejak September 2019 dari Rp4,200 sampai Rp2,900). INCO berpotensi naik dan menguji Resistance penting dan kuat di Rp4,000 untuk mengawali Uptrend jangka panjang menuju setidaknya Rp4,700.

The Primary Trader Daily 13 Nov’19

Sudah Bottom-kah IHSG ?

Pergerakan IHSG di 3Q19 tampaknya kurang bagus karena sentimen laporan keuangan serta adanya ketidakjelasan dari Trade War AS – China. Penurunan suku bunga The Fed pun tidak terlalu menolong karena The Fed tampaknya enggan melanjutkan kebijakan Cut Rate – yang sangat ditunggu Investor. Tren Cut Rate justru dilakukan oleh Bank Indonesia namun dampaknya kemungkinan besar baru akan terasa di tahun 2020 (untuk pasar saham).

The Primary Trader beropini bahwa IHSG sudah mengakhiri Sideways-nya dan bersiap untuk mengawali tren – baik Uptrend maupun Downtrend.

Dandy Rotation

Saham di kuadran Outperform yang layak menjadi pertimbangan utama adalah BRPT, MAIN, INTP, DMAS dan BPTS. Saham alternatif (diluar kuadran Outperform) yang dapat dipertimbangkan adalah BBNI dan MNCN.

DMAS sangat berpotensi menjadi incaran Investor seiring memasuki tahun 2020 dimana diperkirakan akan semakin banyak investasi yang masuk dimana salah satunya adalah dengan membangun pabrik di kawasan industri.

Ada indikasi perbaikan di sektor Cement yang mana berpengaruh juga dengan INTP (selain positif untuk SMGR). Harga jual semen INTP yang Flat di tahun 2019 (tidak turun) mengindikasikan kompetisi di sektor Cement mulai berkurang. Dengan kembalinya sifat Oligopoli di sektor Cement, seperti SMGR, INTP pun berpotensi mendapat keuntungan.

The Primary Trader menyukai potensi bisnis Media yang banyak terkait dengan unsur teknologi. MNCN tampaknya adalah yang paling siap untuk masuk ke bisnis Over The Top dibanding SCMA. Selain itu, ada sentimen positif pada MNCN karena Angela Tanoesoedibjo menjadi Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

The Primary Trader Daily 12 Nov’19

Dandy Rotation

Berdasarkan Dandy Rotation, DMAS dan INDF berada pada kuadran Outperform serta mendapat sinyal Buy (Alert Buy untuk DMAS dan Buy Now untuk INDF). The Primary Trader menyukai keduanya karena sektornya. Untuk DMAS tentu karena di sektor Industrial Area yang mulai tumbuh di tahun 2019 dan juga diperkirakan tahun 2020.

INDF tampaknya mulai semakin dilirik Investor karena Mass Market Product-nya yang berorientasi Domestic Consumption dimana terbukti kuat bertahan di tengah perlambatan ekonomi dunia. The Primary Trader mulai berpikir Investor mencari pengganti saham Consumer yang Defensif menggantikan UNVR dan Cigarettes (HMSP dan GGRM). INDF memilki bisnis Agribisnis khususnya CPO yang berasal dari anak usaha SIMP dan LSIP. Harga CPO yang mulai naik (38% dari Jul’19) pun menjadi katalis positif untuk INDF (selain tentu saham sektor CPO).

Banyaknya saham yang berwarna Merah (dalam Downtrend) serta berada di kuadran Underperform khususnya saham – saham berbasis Infrastructure dan Consumer perlu mendapat perhatian khusus. Hal ini akan menyebabkan IHSG masih terkendala untuk naik dan mungkin masih akan melemah (atau setidaknya masih dalam proses Bottoming di 6,100an).

Saham SCMA sudah naik cukup tinggi namun karena berada kuadran Outperform maka saham tersebut layak diperhatikan. Selain itu, ada harapan sektor Media mulai membaik yang didahului oleh MNCN. Memang The Primary Trader pun lebih menyukai MNCN dibanding SCMA namun tetap SCMA layak dipertimbangkan.

Technical Theme : Undershoot

The Primary Trader menyebut kondisi Undershoot adalah dimana harga saham berada di bawah Middle Band dari Bollinger Band. Hal ini berarti harga saham telah berada di nilai ekstrem dari distribusi normal yang umumnya hanya terjadi (peluangnya adalah) sebesar 5%. Oleh karena itu, saham – saham Undershoot dapat dipertimbangkan untuk Buy on Weakness.

Berdasarkan pergerakan 11 Nov’19, ada beberapa saham yang tercatat dalam kondisi Undershoot. The Primary Trader menyukai saham – saham sebagai berikut : ADHI, EXCL dan BJBR.

Khusus untuk EXCL, masuknya EXCL ke dalam indeks MSCI menjadi katalis positif karena mendatangkan minat beli dari Investor Asing yang men-track indeks MSCI. Selain itu, kinerja EXCL sendiri memang bagus. Pada 9M19 kemarin, laba bersih EXCL tercatat sebesar Rp498 miliar dari rugi bersih Rp144 miliar di 9M18 . Selain itu, pendapatan 9M19 EXCL pun melonjak sebesar 10.8% YoY.