Salah Satu Kenaikan Terbaik DJIA dan S&P500

Harapan adanya stimulus fiskal yang sangat besar (~USD2 triliun) dari pemerintah AS membuat Investor optimis sehingga terjadi kenaikan yang tinggi pada bursa saham AS (kenaikan terbesar Dow Jones dari sejak tahun 1933 dan kenaikan terbesar S&P500 dari sejak tahun 2008). Perlu dicatat bahwa meskipun stimulus belum disetujui namun dapat diharapkan akan disetujui dalam waktu dekat.

S&P500 naik sebesar 9.3% dan berhasil Breakout Down Trendline dari sejak awal Maret 2020. Breakout ini mengindikasikan Downtrend yang telah terjadi sejak akhir Februari 2020 berpotensi selesai. Namun The Primary Trader melihat adanya ancaman Dead Cat Bounce atau mungkin kenaikan tersebut adalah bagian dari Technical Rebound (kenaikan ditengah Downtrend).

Untuk dapat mengakhiri Downtrend, menggunakan Fibonacci Retracement dari pertengahan Februari 2020 (S&P500 di level 3,400) sampai level terendah tahun 2020 di 2,180an, S&P500 harus bisa melewati area 2,930 atau Fibonacci Ratio di 0.62%. Selama S&P500 tidak dapat melewati 2,930 (perlu kenaikan ~20% dari level saat ini), maka The Primary Trader percaya kenaikan tersebut adalah Technical Rebound yang belum merubah Downtrend.

S&P500 telah turun sebesar -35% dalam waktu ~23 hari perdagangan sehingga penurunan ini adalah salah satu yang tercepat sepanjang sejarah S&P500. Begitupun dengan Dow Jones Industrial Average (DJIA) yang telah turun sebesar -38% dalam waktu ~26 hari perdagangan. S&P500 saat ini berada di level tahun 2016 (2,130) yang tampaknya dapat menjadi Support kuat.

The Primary Trader percaya bahwa aksi yang cepat akan mendapat reaksi yang cepat juga. Oleh karena itu, penurunan yang cepat seperti saat ini maka akan diikuti juga dengan kenaikan yang cepat. Dengan asumsi bahwa penurunan yang cepat disebabkan oleh wabah Covid-19 maka kenaikan cepat juga disebabkan oleh wabah Covid-19 tersebut berangsung – angsur berakhir.

Reaksi cepat yang muncul tentu tidak sama persis dengan aksi cepat. Investor perlu waktu untuk mempercayai bahwa hal – hal yang membuat Panic Selling telah berakhir. Oleh karena itu, setidaknya perlu waktu 2-10x lebih lama untuk perlahan membuat Investor kembali berinvestasi. Berdasarkan sejarah pada Dow Jones, berikut adalah waktu yang dibutuhkan untuk Recovery :

Tentu ada harapan pasar saham dan pasar keuangan lain akan Recovery setelah Market memperbaiki kekurangannya (yang menjadi alasan terjadi krisis). Namun tentu Bear Market perlu waktu untuk berubah menjadi Bull Market dan Investor umumnya lebih waspada dan tidak mudah percaya sehingga memperlama terbentuknya Bull Market.

-30% Dalam Sebulan Adalah Tandanya

ROC 20 Sebesar -30% Di 2020 Dan 2008

Per hari ini, S&P500 telah turun sebesar -30% dalam 20 hari terakhir atau dari level tertingginya di 3,393 di tanggal 19 Februari 2020 – 1 bulan lalu. Menggunakan indikator Rate of Change (ROC) periode 20 atau menghitung persentase perubahan harga 20 hari terakhir, The Primary Trader melihat S&P500 cenderung mengakhiri penurunan setelah ROC 20 menyentuh angka -30%. Artinya adalah S&P500 berpotensi membentuk Bottom atau fase akhir dari penurunan setelah turun sebesar -30% dalam 20 hari terakhir.

Memang pada beberapa kasus, S&P500 masih tetap turun dalam 1-2 bulan ke depan namun dengan “kecepatan” yang lebih lambat. Bahkan sebelumnya menyentuh ROC 20 sebesar -30%, S&P500 pun sedang dalam kondisi Downtrend. Seperti pada Global Financial Crisis 2008, S&P500 menyentuh ROC 20 sebesar -30% pada pertengahan fase Downtrend. S&P500 pun masih turun sebesar -30% lagi dalam 3 bulan ke depan namun penurunan tersebut sebagai fase akhir dari Downtrend karena terbentuk Divergence antara ROC 20 dengan S&P500.

Pada kasus GFC 2008, perlu diketahui bahwa “kecepatan” atau persentase penurunan dari sejak September 2007 sampai Maret 2009 sangatlah lambat. Menggunakan derajat kemiringan, Downtrend S&P500 saat itu adalah sebesar –21 derajat atau dengan perubahan sebesar 0.16% / hari (-58% dibagi 353 hari perdagangan). The Primary Trader menilai, tren yang landai akan cenderung stabil. Hal ini karena Investor sadar bahwa kondisinya memang buruk namun relatif masih ada harapan (karena aksi The Fed dan Pemerintah AS) sehingga masih ada Minor Uptrend ditengah Major Downtrend saat itu.

Kondisi Panic Selling yang menurut The Primary Trader tidak stabil adalah ketika derajat kemiringan dari pergerakan harga mencapai > 45 derajat. Pada saat S&P500 mencatat ROC 20 sebesar -30%, saat itu derajat kemiringan S&P500 adalah sebesar -68 derajat dengan perubahan sebesar 1.3% / hari (-35% dibagi 27 hari perdagangan). Terlihat jelas bahwa pada saat itu, Investor sangat panik sehingga S&P500 mencatat volatilitas yang jau lebih besar selama GFC 2008.

Pada kondisi S&P500 di 2020, derajat kemiringan adalah sebesar -76 derajat (dilihat dari tahun 2019). Perubahan rata – rata harian adalah sebesar 1.57% / hari (-30% dibagi 19 hari perdagangan). Tentu The Primary Trader menilai Panic Selling ini tidaklah stabil. Dengan kata lain, dalam 3-6 bulan ke depan, The Primary Trader memperkirakan akan ada fase pergerakan yang menyerupai Bottoming atau Bullish Reversal dalam rangka mengakhiri Downtrend dan mempersiapkan kembali Uptrend.

ROC 20 Sebesar -30% Lainnya

The Primary Trader mencoba melihat ROC 20 sebesar -30% yang pernah dicapai S&P500 sepanjang sejarahnya (atau setidaknya sebanyak data yang tersedia di tradingview.com).

Di tahun 1987, S&P500 pernah turun sebesar -34% dalam waktu 12 hari perdagangan atau sebesar 2.8% / hari dengan derajat kemiringan sebesar -82 derajat dari awal tahun. ROC 20 saat ini menyentuh -30%. Kondisi saat itu (disebut Black Monday 1987) disebabkan antara lain oleh Computer Trading dan Derivative Instruments.

S&P500 dibuat tahun 1957 namun tradingview.com di akun The Primary Trader hanya sampai tahun 1970an. Oleh karena itu, The Primary Trader mencoba melihat Dow Jones meskipun tentu ada perbedaan dengan S&P500 namun ROC 20 dengan nilai sebesar -30% atau lebih tetap diperhatikan.

Salah satu data terseram yang The Primary Trader lihat adalah pada saat The Great Depression tahun 1929 – 1939 (10 tahun!). Saat itu Dow Jones Industrial Average (DJIA) turun sebesar -90% dari September 1929 sampai Juli 1932 atau dengan derajat kemiringan sebesar -26 derajat. Sepanjang Major Downtrend tersebut, DJIA turun rata – rata sebesar 0.12% per hari (-90% selama 714 hari perdagangan).

Selama periode tersebut, ada sekitar 3x dimana ROC 20 mencapai -30% (bahkan -40% di awal periode The Great Depression). Meski masih Downtrend dalam jangka lama, setelah ROC 20 mencapai -30%, DJIA cenderung naik setidaknya setengah periode dari periode penurunan yang membuat ROC 20 mencapai angka -30%.

Tentu The Primary Trader tidak membandingkan S&P500 tahun 2020 dengan The Black Monday atau bahkan saat The Great Depression. Namun The Primary Trader ingin menunjukkan harapan bahwa S&P500 berpotensi mendekati akhir Downtrend atau setidaknya peluang penurunan rata – rata sebesar -1.57% / hari sudah mulai berkurang. The Fed sudah melakukan 2x Emergency Cut dalam sebulan terakhir yang memotong Fed Fund Rate sebesar total 150 bps (50 bps di awal Maret 2020 lalu 100 bps seminggu kemudian) dari 1.75% menjadi 0.25%. Pemerintah AS pun telah mendapat persetujuan DPR-nya AS untuk meminta stimulus dan saat ini sedang mengajukan stimulus sebesar USD1.1 triliun kepada Kongres AS.

Tentu akar masalah belum akan selesai dengan stimulus moneter dan stimulus fiskal. Namun setidaknya saat ini vaksin Covid-19 sudah mulai dilakukan tes pertama terhadap manusia. Hal tersebut tentu dapat membantu menimbulkan sentimen positif untuk Investor.

DEAL ! S&P500 Tetap Uptrend, Begitupun Dengan IHSG.

Trade Deal Fase 1

Presiden AS dan Wakil Presiden China menandatangani Trade Deal fase 1. China berjanji akan membeli barang – barang AS sebanyak total US$200 miliar dalam 2 tahun ke depan. AS berjanji tidak menaikkan tarif terhadap barang – barang China lagi. Namun AS belum akan menurunkan tarif sampai Pemilu di November 2020.

Menurut The Primary Trader, Trade Deal fase 1 ini sudah cukup untuk memberikan sentimen positif di 1Q20. Sentimen berikutnya akan muncul dari data ekonomi serta laporan keuangan emiten AS dan China di 1Q20 yang baru akan dirilis pada April 2020. Meskipun untuk saat ini sudah cukup, tampaknya masih ada Investor dan Pelaku Bisnis yang pesimis signifikansi Trade Deal ini.

Uptrend Pada Bursa AS

S&P500 telah mencapai target menggunakan Fibonacci Retracement dari level 2,940 di Oktober 2018 sampai 2,350 di Desember 2018 yaitu di 3,300 atau 1,618 (161,8%) dari Fibonacci. Masih ada target berikut yaitu di 200% di 3,530an.

The Primary Trader meyakini Uptrend S&P500 masih bertahan namun mungkin akan sulit sampai ke level 3,500an. Investor mulai mengkhawatirkan valuasi S&P500 yang sudah Overvalued. Meskipun kenaikan S&P500 sekarang ini disebabkan sentimen positif karena Trade Deal fase 1, The Primary Trader perkirakan S&P500 akan mulai mengalami momentum penurunan setelah mendekati atau menyentuh 3,400.

Melihat bursa AS lain yaitu Dow Jones Industrial Average (DJIA) dan Dow Jones Transportational Average (DJTA), The Primary Trader melihat Uptrend di pasar saham AS memang sehat.

DJIA masih dalam Uptrend menuju 30,300 – yang merupakan target dari Fibonacci Retracement di 1,618 atau 161,8%. Target ini diperoleh dari level 27,000 di Oktober 2018 sampai 21,700 di Desember 2018 (pergerakan yang sama dengan S&P500).

Menggunakan Dow Theory yang mengatakan “Average Must Confirm Each Other”, The Primary Trader melihat DJTA – saudar kembar DJIA.

DJTA memang belum dalam All Time High seperti DJIA dan S&P500. Namun saat ini DJTA sudah Breakout level tertinggi dari sejak September 2018. The Primary Trader meyakini DJTA mampu melewati All Time High di 11,623 seperti halnya DJIA dan S&P500. Dengan potensi DJTA membentuk New All Time High maka Uptrend di pasar saham AS terkonfirmasi. Meski demikian, hal tersebut bukan jaminan Uptrend di pasar saham AS masih dapat berlangsung dalam jangka menengah atau panjang.

VIX Index sebagai indeks persepsi risiko di AS memang kembali di level rendah. Namun The Primary Trader melihat kenaikan yang terjadi berikut pada VIX akan membuka peluang VIX terus naik sampai level tertinggi dalam satu tahun terakhir di 22 – 24. Level ini tercapai ketika Investor mengkhawatirkan eskalasi Trade War dan ancaman kenaikan Fed Fund Rate.

Ancaman di tahun 2020 yang mungkin meningkatkan VIX Index adalah gagalnya Trade Deal fase 1 (karena mungkin China tidak menepati janji untuk membeli produk AS), eskalasi tensi AS – Iran serta pemakzulan Trump.

Dampak Pada IHSG

The Primary Trader melihat IHSG masih mempertahankan minor Up Trendline dari awal Desember 2019 yang menjaga peluang IHSG naik menuju 6,450. Masih ada harapan kenaikan IHSG ini bagian dari January Effect.

Menggunakan indikator Stochastic Oscillator (yang telah The Primary Trader modifikasi), terlihat bahwa IHSG masih berpotensi mengalami penurunan namun Stoch. Oscillator sudah mendekati area Oversold. Oleh karena itu, penurunan yang mungkin terjadi seharusnya sudah terbatas.

Namun demikian, The Primary Trader melihat Stoch. Oscillator tersebut berpotensi segera melakukan Bullish Crossover atau memberikan sinyal Buy. Hal ini terlihat pada indikator Stoch. Oscillator Histogram dimana Histogram-nya yang saat ini berada di area negatif mulai mencatat kenaikan. Kondisi ini mengindikasikan %K-line dari Stoch. Oscillator akan segera Crossover dengan %D-Line dan kemudian membuat kondisi dimana muncul sinyal Buy.

The Primary Trader yakin sentimen pada pasar saat ini adalah Bullish. Terlebih lagi apabila draf Omnibus Law jadi diselesaikan dalam 1-2 minggu ke depan (atau di bulan Januari 2020 ini).