Babak Baru Perlawanan Terhadap Covid-19

Stimulus Fiskal Sebagai Harapan Untuk Bursa Saham AS

Investor kembali optimis setelah ada harapan Pemerintah AS memberikan stimulus setelah ada kesepakatan antara Pemerintah dan DPR. Saat ini rencana stimulus akan dibawa ke Senat untuk disetujui. Stimulus Fiskal tersebut diperlukan untuk menangani wabah Corona serta untuk meminimalisir dampak negatifnya terhadap ekonomi AS.

S&P500 langsung mencatat (salah satu) kenaikan terbaik sebesas 9.3% dalam satu hari tersebut. Namun The Primary Trader melihat kenaikan S&P500 tersebut belumlah mengindikasikan akhir dari Downtrend yang terjadi sejak akhir Februari 2020. Seperti kenaikan pada awal Maret 2020 (dari ~2,800 ke ~2,890), belum ada indikasi yang cukup bahwa S&P500 dapat membatalkan Downtrend.

Pada awal Maret 2020 tersebut, S&P500 harus Breakout Resistance di ~2,900 untuk dapat membatalkan Downtrend. Oleh karena itu, Downtrend masih intact dan S&P500 kembali turun. Disaat S&P500 mencatat kenaikan sebesar 9.3% dalam satu hari, S&P%500 masih belum mampu Breakout Resistance yang diperlukan untuk membatalkan Downtrend yaitu di ~2,750.

Oleh karena itu, The Primary Trader masih menunggu S&P500 Breakout 2,750 yang membuka peluang untuk membatalkan Downtrend di minggu depan. Sampai saat ini, The Primary Trader masih melihat wabah Corona masih menjadi sentimen negatif yang belum akan selesai selama obat dan atau vaksinnya ditemukan.

VIX Masih Tinggi Tanda Investor Masih Khawatir

Meski wabah Corona belum akan selesai namun Investor tampaknya mulai melihat risiko pasar yang terjadi sedikit mereda dengan adanya paket stimulus fiskal dari AS. VIX menunjukkan penurunan meskipun sempat menyentuh level 80. Level VIX pada Global Financial Crisis (GCF) ada di 96.4 sehingga hanya tinggal 16 poin lagi maka Investor menganggap kondisi saat ini sama gentingnya dengan kondisi pada GFC 2008 lalu.

Penurunan kekhawatiran Investor akan kondisi pasar (yang ditunjukan dengan penurunan VIX) cukup penting mengingat baru – baru ini tampaknya Investor merasa sangat khawatir sehingga memilih Hoarding Cash (USD Index telah menguat ~4% dalam seminggu terakhir) instead of membeli Safe Heaven.

Jual Emas (Safe Heaven), Pegang (Hoarding) Kas

Harga emas saat ini turun dan terancam membatalkan Uptrend yang telah terjadi sejak awal tahun 2019. Emas perlu bertahan di atas USD1,550 untuk mempertahankan Uptrend menuju USD1,800. Breakdown valid di USD1,550 akan mengancam emas turun menuju USD1,370.

Penurunan harga emas adalah salah satu indikasi Investor tidak yakin akan adanya inflasi. Hal ini karena selama ini emas digunakan untuk Hedge Against Inflation. Dengan adanya potensi pertumbuhan ekonomi maka Investor mengincar emas sejak tahun 2018. Tentu harga emas juga naik karena antisipasi adanya perang (dimana pada saat perang, hanya aset emas yang dinilai berharga). Namun tampaknya Investor menganggap kondisi saat ini relatif aman setelah sempat dikhawatirkan terjadi perang AS – Iran di awal tahun 2020 (saat ini harga emas naik 6% di minggu pertama tahun 2020).

Menunggu Aksi Bank Sentral

Minggu depan akan ada jadwal FOMC Meeting The Fed dan RDG Bank Indonesia. Diestimasikan The Fed memotong Fed Fund Rate sebesar 0.75% dari 1.25% menjadi 0.5%. Sementara diestimasikan BI memotong 0.5% dari 4.75% menjadi 4.25%.

Perlu diingat bahwa BI telah menurunkan 0.25% pada bulan Februari dari 5% menjadi 4.75% – lebih cepat dari estimasi karena sebelumnya BI diperkirakan akan menunggu The Fed memotong suku bunganya. Kejadian diluar estimasi kembali terjadi dimana pada awal Maret 2020, The Fed memotong Fed Fund Rate sebesar 0.5% dari 1.75% menjadi 1.25%. Cukup jarang The Fed melakukan Cut Rate di luar FOMC Meeting dan Emergency Cut Rate The Fed terakhir adalah pada tahun 2008 lalu (saat Global Financial Crisis).

rbc

Apabila melihat respon dari The Fed (dan bank sentral lainnya), tentu Investor berpikir bahwa dampak wabah Corona terhadap ekonomi global cukup signifikan.

Bantuan Emiten + Dapen + Asuransi Untuk IHSG

Minggu lalu, secara resmi otoritas mengizinkan emiten buyback sahamnya sendiri tanpa persetujuan pemegang saham. Hal ini karena terjadi penurunan harga saham yang dalam tanpa disebabkan penurunan kinerja perusahaan. Oleh karena itu, banyak emiten yang sudah bersiap untuk buyback namun tampaknya baru terlihat terjadi pada Jum’at 13 Maret 2020. Hari itu, IHSG turun -5% dan memicu penghentian transaksi di awal sesi 1. Namun pada sesi 2, ada lonjakan sebesar 6% dimana tampaknya merupakan Investor Domestik.

Meski terlihat positif, The Primary Trader melihat kenaikan tersebut belum cukup untuk membalikkan tren yang sedang terjadi pada IHSG yaitu Downtrend.

The Primary Trader tidak heran bila IHSG menyentuh level ~4,700. Hal ini karena melihat pada akhir tahun 2015 dimana IHSG dapat turun dan mencapai ~23% di bawah MA200. Saat ini IHSG sudah mendekati ~25% di bawah MA200 dan memang ada indikasi IHSG sudah Bottoming – bila mengaca pada kondisi tahun 2015 tersebut. Memang pada kasus ekstrim seperti GFC 2008, IHSG pernah -105% di bawah MA200 dan tentu The Primary Trader yakin kondisi tersebut tidak akan tercapai di tahun 2020 karena wabah Corona ini.

Meskipun Investor Lokal + Emiten sedang melakukan Buyback untuk menyelamatkan IHSG, The Primary Trader tidak yakin IHSG dapat segera naik. Hal ini karena IHSG perlu dana asing dari Investor Asing untuk naik. Tren Net Sell Asing masih terus terjadi di tahun 2020 dan begitupun sepanjang Maret 2020. Hal ini yang akan menyulitkan IHSG untuk naik.

Namun demikian, perlu diingat bahwa Net Sell Asing yang masif tersebut membuat IHSG saat ini Under Owned Asing. Hal ini dapat memperkecil peluang IHSG kembali turun lebih dalam. Tentu karena tidak ada lagi Seller yang masih memiliki saham – saham IHSG dalam jumlah yang signifikan sehingga ketika Seller tersebut menjualnya maka tercipta penurunan harga.

Kapan IHSG Dapat Naik?

The Primary Trader menilai bahwa masalah saat ini adalah adanya wabah penyakit. Oleh karena itu tentu untuk menyelesaikan masalah maka wabah penyakitnya harus dihilangkan dengan adanya obat penyembuh sekaligus vaksin untuk menghindari penyakitnya. Sampai saat ini belum ada obat atau vaksin yang dapat digunakan secara luas dan aman. Diperkirakan baru akan tersedia di tahun 2020. Namun demikian, setidaknya penyakit tersebut dapat ditekan penyebarannya sehingga kondisi Pandemi dapat hilang.

Wabah Corona di China sudah mulai berkurang. Banyak pasien yang sudah sembuh dan bahkan ~13 RS Darurat sudah ditutup karena tidak ada pasien baru lagi yang membutuhkan RS tersebut.

Tantangannya adalah negara – negara lain karena saat ini penyebaran Corona ada di wilayah Eropa. Perlu diingat bahwa ekonomi Uni Eropa (yang terdiri dari banyak negara di Eropa) adalah ekonomi terbesar kedua di Dunia (lebih besar dari China). Bila ekonomi Uni Eropa menurun akibat wabah Corona maka tentu ekonomi global akan semakin tertekan.

Wabah Corona secara global masih dalam tren meningkat namun penyebaran di negara – negara setelah China seperti Korea Selatan dan Iran sudah mulai terlihat puncaknya. Diharapkan kedua negara tersebut segera pulih dan kasus baru terus menurun. The Primary Trader pun berharap negara Italia, Perancis dan Spanyol sudah mendekati puncak sehingga dalam waktu dekat akan terjadi tren penurunan kasus (tentu dengan pasien sembuh yang lebih banyak).

Investor domestik sedang memantau perkembangan kasus Corona di Indonesia. Per 15 Maret 2020, ada 117 pasien yang positif Corona di Indonesia. Sampai 14 Maret 2020, sudah ada 8 pasien yang sembuh dan dipulangkan sementara 5 pasien meninggal dunia. Bila melihat persentasenya, tingkat kematian Corona di Indonesia tampaknya tinggi (8 / 117 = 6.8%. Perlu diingat bahwa pasien yang terdeteksi positif tersebut baru mulai terjadi di awal Maret 2020. Dengan demikian, perawatan para pasien baru memasuki minggu ke-2. Mengaca pada kasus China, mulai terjadi peningkatan pasien yang dipulangkan dari RS pada pertengahan Februari 2020. Dengan demikian, setidaknya perlu 3-4 minggu untuk dirawat di RS. The Primary Trader berharap pasien yang dipulangkan mulai akan meningkat pada akhir Maret 2020 atau awal April 2020.

Pada saatnya nanti mulai terlihat penurunan kasus Corona, The Primary Trader yakin minat beli akan mulai muncul. Dengan demikian, harapan akan kenaikan IHSG mulai membesar. Untuk saat ini, The Primary Trader perkirakan sebagus apapun stimulus fiskal dan moneter masih belum akan mampu membalikkan tren IHSG dari Downtrend menjadi Uptrend.

Ada banyak Resistance – Resistance baik dari Down Trendline maupun dari Gap Down yang menahan IHSG untuk mengawali Uptrend. Resistance terpenting tentu adalah 5,700 yang merupakan Down Trendline dari sejak pertengahan Januari 2020 serta Lower High terakhir dari penurunan sejak pertengahan Januari tersebut. Resistance berikut adalah dari Gap Down yaitu di level 5,050 – 5,110 serta 5,360 – 5,500.

The Primary Trader sedang bersiap – siap untuk membeli saham karena memang sudah sangat murah sekali. Namun tentu dengan strategi Averaging Down karena saat ini sangat sulit sekali memperkirakan Bottom. Kenapa? Karena ketika terjadi sesuatu yang menakutkan maka Panic Selling akan terjadi dan saat ini, rasionalitas sudah berkurang.

Semoga wabah Corona segera berakhir dan masyarakat Indonesia (serta dunia) segera sehat dan aman.

Pilihan Ditengah Kepanikan

Investor Membeli US Treasury

Yield UST 10Yr berhasil Breakdown 1.3% yang merupakan level terendah sejak Sideways dari tahun 2012. Apabila dilihat dari pergerakan sejak September 2019, Yield UST 10Yr melanjutkan Downtrend dari sejak September 2018 dari 3.25%. Terjadi Technical Rebound pada September 2019 dari 1.4% ke 2% di akhir tahun 2019. Karena Yield gagal untuk naik di atas 2% maka terjadinya kelanjutan Downtrend. Dengan demikian, Breakdown Support (dari 2012) di 1.3% menandakan Yield masih akan terus turun.

Investor terlihat terus membeli UST 10Yr yang dianggap Safe Heaven. The Primary Trader bahkan melihat Yield UST 10Y membuat New Low sepanjang masa (!). Hal ini membuka peluang Yield UST 10Yr dapat mengikuti ‘nasib’ Government Bond yang mengasilkan Negative Yield seperti Jerman dan Jepang.

The Primary Trader perkirakan akan terjadi (kembali) Negative Spread yang artinya Investor lebih banyak membeli Yield UST 10Yr dibanding Yield UST 2Yr. Saat ini Spread Yield UST 10Yr dengan 2Yr sedang Sideways di kisaran 0.1% – 0.2%. Kemungkinan dalam 1-2 bulan lagi kan kembali terjadi Negative Spread.

Dampak Terhadap Pasar Modal Indonesia

Investor Asing tampaknya keluar dari Indonesia dimana hal tersebut juga terlihat dari perlemahan Rupiah terhadap US Dollar. Rupiah saat ini berada di Resistance di Rp13,900 yang menjadi Support kuat menahan Rupiah untuk menguat sepanjang tahun 2019. Ada indikasi Rupiah berhasil melewati Resistance Rp13,900 yang berarti ada perubahan minat Investor. Rupiah pun berpotensi kembali melemah menuju Rp14,500 dan membatalkan potens penguatan menuju Rp13,250.

Keluarnya Investor Asing dari Indonesia membuat tidak ada lagi pendorong Yield SUN10Yr untuk terus turun menuju 5.9%. Yield SUN10Yr berpotensi naik menuju 7% dari saat ini di Support (dan target 2020) 6.5%. Yield SUN10Yr masih dalam Downtrend selama bertahan di bawah 7% dan ada Down Trendline di 6.9%an yang menjadi indikasi awal untuk Downtrend terus bertahan.

The Primary Trader perkirakan Yield SUN10Yr masih akan bertahan Downtrend karena Bank Indonesia (dan pemerintah) cukup reaktif dan ahead the curve dalam mengantisipasi perlambatan ekonomi karena Corona. Di bulan Februari 2020, Bank Indonesia menurunkan BI 7DRR Rate sebesar 0.25% menjadi 4.75% dan pemerintah menghapus pajak hotel dan restoran serta menurunkan harga tiket pesawat untuk mendorong pariwisata (dan menjaga daya beli masyarakat daerah).

Peluang Menarik di Pasar Obligasi dan Emas

Pasar Obligasi masih menarik ditengah kondisi panik ini. The Primary Trader pun melihat aset emas tetap dan semakin menarik. Saat ini XAUUSD yang menjadi harga acuan emas internasional masih berpotensi naik menuju USD1,800 dari saat ini di USD1,640an. Berdasarkan pergerakan pada 4Q19, XAUUSD berpotensi naik menuju USD1,800 sementara berdasarkan pergerakan sejak 2017 (dan dari sejak Breakout USD1,370 di Agustus 2019), XAUUSD setidaknya naik sampai USD1,700.

Hal menarik pada XAUUSD adalah bahwa target di USD1,800 adalah Resistance penting emas sejak tahun 2012 dimana saat itu adalah puncak dari harga emas (di USD1,920) pada akhir 2011. Dengan demikian, ada potensi emas kembali berjaya untuk jangka panjang (setelah 8 tahun terakhir mencatat kinerja yang kurang baik). Memang masih panjang perjalanan menuju USD1,800 ataupun USD1,920 namun setidaknya Uptrend XAUUSD yang masih sangat kuat membuka peluang emas menuju level tertingginya tetap terbuka lebar.

Bagaimana Dengan IHSG?

The Primary Trader akan membahasnya setelah kepanikan sedikit mereda 🙂

The Primary Trader Daily 6 January 2020

Photo by Pixabay on Pexels.com

Ancaman Perang AS vs Iran

Serangan AS yang menewaskan jendral Iran Qasem Soleimani membuat Investor khawatir akan terjadinya perang dunia 3. Investor juga khawatir mengenai adanya krisis minyak karena Iran ‘menguasai’ selat Hormutz yang merupakan jalur 35% dari seluruh minyak mentah yang diproduksi secara global (2011). Mayoritas dari minyak mentah tersebut akan didistribusikan ke negara di Asia seperti Jepang, China, India, Korea Selatan dan China.

The Primary Trader merasa wajar bila Investor merasa khawatir akan terjadinya kekurangan suplai minyak secara signifikan sehingga harga minyak (yang diwakili oleh Brent) melonjak. The Primary Trader melihat harga Brent berpotensi mengawali Uptrend menuju setidaknya US$80 setelah Breakout US$70.

Meski demikian, perlu diingat bahwa AS saat ini sudah menjadi eksportir minyak (dan terbesar melebihi Arab Saudi). Oleh karena itu, AS sebagai salah satu negara yang paling membutuhkan minyak, mungkin tidak terlalu terganggu dengan potensi turunnya suplai minyak dari negara – negara Timur Tengah (karena selat Hormutz terganggu). The Primary Trader merasa Brent akan sulit untuk naik melewati US$80 atau bahkan mendekati US$87. Kenaikan harga minyak yang tinggi pun akan mengancam pertumbuhan ekonomi global yang mungkin baru mulai pulih karena adanya Trade Deal fase 1 (yang baru mau ditantandangi tanggal 15 Januari 2020 nanti oleh AS dan China).

Investor juga tampaknya khawatir akan terjadinya perang dunia ke-3 yang dipicu oleh AS vs Iran. Oleh karena itu, adanya kenaikan harga emas yang dianggap sebagai Safe Heaven ketika terjadi perang menunjukkan kekhawatiran tersebut.

Harga emas telah Breakout US$1,500 yang menandakan pola Bullish Continuation yang telah terjadi sejak Agustus 2019 terkonfirmasi. Dengan kata lain, kenaikan harga emas dari Juni 2019 di US$1,260 ke US$1,550 akan kembali berlanjut.

Secara jangka panjang, di tahun 2020 ini, emas berpotensi terus Uptrend menuju US$1,800, level tertinggi sejak November 2011. Emas sendiri sedang dalam Uptrend menuju US$,1700 setelah Breakout US$1,370 di Juni 2019 lalu. Resistance US$1,370 adalah Resistance yang menahan harga emas sejak tahun 2014 sehingga setelah di-Breakout, level tersebut akan menjadi Support kuat. Selain karena ancaman perang, The Primary Trader perkirakan Investor masih berhati – hati akan ancaman Trade War AS – China yang belum sepenuhnya hilang.

Harga BBM Turun. Positif Untuk Saham Sektor Konsumsi dan Retail.

Di awal tahun 2020, harga BBM dari Pertamina, Shell dan Total turun dengan besaran yang cukup besar yaitu sekitar Rp1,000an lebih. Hal ini terjadi karena harga minyak di 2H19 berkisar antara US$56 – US$68. Selain itu, menurut Erick Thohir, Menteri BUMN, harga BBM bisa turun karena pengaruh B30 yang membuat impor minyak mentah berkurang.

Penurunan harga BBM tentu dapat menjaga konsumsi masyarkat sehingga ada potensi positif untuk saham sektor Konsumsi dan Ritel. Memang ada katalis positif juga untuk sektor Rokok namun The Primary Trader melihat, kenaikan harga eceran sebesar 35% dan tren hidup sehat yang semakin menjamur, pada akhirnya akan mengurangi konsumsi rokok.

The Primary Trader memperhatikan saham INDF karena sedang dalam bentuk Bullish Continuation. INDF perlu Breakout Rp8,050 untuk melanjutkan Uptrend menuju setidaknya Rp9,150. INDF pun sedang dalam proses Breakout Rp7,850 yang mengindikasikan awal Uptrend jangka panjang dengan potensi menuju Rp10,000. Selain mie instan, konsumsi tepung serta adanya bisnis CPO menjadi katalis utama INDF. Saham INDF pun termasuk saham Big Caps yang harus dibeli oleh Investor Asing bila ingin berinvestasi di IHSG.

Lebih lanjut mengenai INDF.

Meningkatnya kelas menengah di Indonesia serta mulai banyak kaum milenial yang memasuki kelas produktif (bekerja atau berusaha) akan meningkatkan konsumsi ritel yang popular. MAPI sebagai emiten yang memiliki pangsa pasar di pakaian bermerek serta F&B yang popular seharusnya diuntungkan dari demografi tersebut. Selain itu, dengan turunnya harga BBM, ada harapan dan peluang peningkatan konsumsi tersebut.

The Primary Trader melihat MAPI sedang membentuk Bullish Continuation yang meningindikasikan masih ada harapan Uptrend. MAPI harus Breakout Rp1,100 untuk melanjutkan Uptrend menuju Rp1,300. Ada Resistance dari All Time High di Rp1,180 yang seharusnya dapat di-Breakout bila MAPI berhasil Breakout Rp1,100 dengan baik.

IHSG : Di Awal Uptrend Menguji Resistance di 6,450

IHSG semakin terindikasi Breakout 6,300 karena berhasil bertahan di atas 6,300 tersebut dalam penurunan di 2 hari awal tahun 2020. The Primary Trader perkirakan IHSG akan dapat mendekati level 6,400 di Januari 2020 untuk kemudian menguji Resistance 6,450 di Februari 2020.

Mengenai January Effect dan perkirakan The Primary Trader di bulan Januari 2020.

The Primary Trader juga melihat mulai adanya Foreign Inflow ke IHSG sejak akhir Desember 2019. Hal ini menandakan Investor Asing positif terhadap kabinet Indonesia Maju dimana antara lain ada Sri Mulyani di pos Menteri Keuangan (lagi), Erick Thohir di pos Menteri BUMN dan Basuki Hadimuljono di Menteri PUPR (lagi). Selain itu, ada harapan pemerintah dan DPR segera mensahkan Omnibus Law yang isinya antara lain menyederhanakan aturan – aturan pembentukan usaha serta yang paling penting pemotongan tarif pajak.

Bullish or Bearish in 2020?

VIX Dalam Posisi Naik

VIX Index yang mengindikasikan volatilitas S&P500 dalam posisi naik yang berarti ada ancaman penurunan pada S&P500. VIX telah stabil di level rendah dari sejak akhir Okt’19 namun sejak awal Nov’19, ada indikasi VIX naik dari level 12 (Bottom) menuju Resistance terdekat di 20.

Perlu diingat bahwa VIX telah turun dari akhir Sept’19 dari level 20 karena ada harapan The Fed memastikan tren penurunan Fed Fund Rate dan adanya harapan Trade Deal AS – China. Di saat VIX mendarat di level 12an (yang mengindikasikan risiko pasar telah berkurang), The Fed memberikan pernyataan untuk mempertahankan Fed Fund Rate. Pada saat itu memang The Fed kembali menurunkan Fed Fund Rate dari 2% menjadi 1.75%. Namun Investor kecewa karena tidak ada Aggressive Cut Rate dan bahkan mungkin tidak ada lagi Cut Rate sampai ada indikasi ekonomi benar – benar memburuk.

The Primary Trader sudah tidak percaya harapan Trade Deal sampai AS dan China menandatangani Deal tersebut. Menjelang akhir Okt’19, masing – masing pihak mengklaim sudah mensepakati fase awal perdagangan. Keduanya bahkan sedang mencari lokasi pertemuan dan tanda tangan fase satu karena agenda pertemuan multilateral di Chili batal karena situasi keamanan di sana. Tentu dapat dimaklumi keengganan China untuk menandatangani perpanjian fase satu di AS. Belum sempat disepakati lokasi pertemuan, perjanjian dagang fase satu terancam batal dan baru – baru ini Trump mengancam akan menaikkan tarif impor barang dari China lebih besar lagi bila perjanjian fase satu ini batal. The Primary Trader rasa memang selama Trump menjabat sebagai Presiden AS, perang dagang AS dengan negara lain (setelah China, tampaknya genderang perang dagang dengan Uni Eropa akan dibunyikan).

S&P500 Dalam Throwback

Dampak utama dari kenaikan VIX adalah S&P500 terancam turun. S&P500 saat ini telah Breakout 3,000 (dan berada di All Time High) dan dalam Uptrend lanjutan menuju 3,300. Secara jangka pendek, S&P500 sendiri telah Overbought dan memang terancam turun sebagai Tech. Correction. Lebih khusus lagi, menurut The Primary Trader, Tech. Correction yang terjadi paska Breakout Resistance adalah Throwback. Fase Throwback wajar yang tidak membatalkan Uptrend adalah sampai level Resistance (saat ini Support) yang telah di-Breakout tersebut. Dalam hal ini, Throwback S&P500 seharusnya tidak sampai di bawah 3,000 agar S&P500 masih terindikasi valid Uptrend menuju 3,300.

Live chart di sini.

The Primary Trader melihat penurunan yang berpotensi terjadi adalah level yang tepat untuk melakukan Buy on Weakness (untuk saham – saham di AS). Tentu akan sedikit berbeda dengan saham di Indonesia.

Uptrend di Emas, Tanda Buruk di Perekonomian

Emas dapat dianggap sebagai Safe Heaven. Emas akan sangat berharga di saat aset lain tidak ada harganya. Dengan kata lain, menurut The Primary Trader, emas menjadi investasi yang sangat baik di saat kondisi buruk seperti perang atau resesi atau bahkan krisis.

Oleh karena itu, emas yang dalam kondisi Uptrend sejak akhir 2018 adalah tanda bahwa Investor mengkhawatirkan kondisi yang buruk sebagai akibat dari Trade War. Selain itu perlu diingat juga bahwa tahun 2018 adalah kondisi dimana The Fed mulai berpikir untuk menaikkan Fed Fund Rate (normalisasi).

The Primary Trader memperkirakan Uptrend emas belum berakhir meskipun terjadi penurunan dari sejak Sept’19. The Primary Trader melihat penurunan emas yang terjadi 3 bulan terakhir membentuk pola Bullish Continuation. Artinya adalah Uptrend emas yang telah dikonfirmasi setelah Breakout USD1,370 di Jun’19 masih akan berlanjut.

Emas berpotensi naik sampai USD1,700 paska Breakout USD1,370. Dengan demikian, setelah Bullish Continuation selesai, emas masih berpotensi naik sampai USD1,700. Pola Bullish Continuation yang terjadi sejak Sept’19 pun memiliki target dan target tersebut berada di USD1,800. All Time High emas ada di USD1,920an pada saat krisis hutang Yunani. Level USD1,800 menjadi Resistance penting karena beberapa kali emas berusaha terus naik namun gagal.

The Primary Trader percaya emas masih akan naik dan hal ini merupakan salah satu bukti kuat bahwa Investor mengkhawatirkan terjadinya sesuatu yang buruk (resesi ekonomi) di tahun 2020.

Strategi Investasi

Resesi ekonomi membuat investasi di saham tidaklah menarik. Namun tentu pada saat kondisi apapun telah terjadi, harga suatu aset sudah mencerminkan kondisi tersebut. Dengan demikian, pada saat Resesi benar terjadi di tahun 2020 maka harga aset (terutama saham) sudah turun dalam. Namun bila diperhatikan pergerakan S&P500 dan Yield Treasury US 10Yr, harga keduanya naik tinggi (!).

S&P500 berhasil naik sebesar 23% dari sejak awal tahun sementara Yield US Treasury 10Yr turun dari 2.68% menjadi 1.88%. Penurunan Yield berarti harga obligasi naik.

Live chart Yield US Treasury 10Yr di sini.

Memang perlu dikhawatirkan adanya resesi namun perlu juga dipertimbangkan resiko kehilangan kesempatan Uptrend.

The Primary Trader meyakini IHSG sedang di tahap akhir pola Bullish Continuation jangka panjang. Bila pola ini selesai dan terkonfirmasi maka IHSG akan mengawali Uptrend dalam jangka panjang dengan potensi menuju 8,000. Persyaratan untuk berharap IHSG Uptrend dan naik sebesar 30% dalam 3-5 tahun ke depan pun sudah ada yaitu antara lain dengan pembangunan infrastruktur di Jawa, perpindahan Ibukota yang menumbuhkan pusat pertumbuhan ekonomi baru, Kabinet Indonesia Maju (dengan Sri Mulyani kembali sebagai Menteri Keuangan), deregulasi serta proses awal industrialisasi yang bermodalkan komoditas dalam negeri.

Awal Uptrend jangka panjang IHSG adalah ditandai dengan Breakout 6,500. Hal ini merupakan tanda bahwa pola Bullish Continuation selesai dan terkonfirmasi. Oleh karena itu, The Primary Trader sedang menunggu (dan berharap) IHSG Breakout 6,500.

AJKSE - weekly 11/13/2019 open 6171.44, Hi 6183.83, LO 6127.88, Close 6142.5 (-0.6%) 
261.8% 
200.0% 
po.0% 
61.8 
50.0% 
38.2% 
www.theprimarytrader.com 
2019 
6,500 
7935.58 
7014.49 
6100 
5524.04 
4954.68 
4778.81 
4602.94 
2016 
AJKSE - Trade value (RP Mn) 
.00, 
2017 
Weekly Avg 
2018 
(Rp Mn) — 
, Monthly Avg 
8,000 
7,500 
7,000 
6,500 
6,000 
5,500 
5,000 
4,500 
700M 
481,464,: 
445,237,' 
300M 
Created Ami Broker 
charting ane technical analysis soft.vare. htt

Meski demikian, perlu diwaspadai bahwa pola Bullish Continuation pun berpotensi batal – bila IHSG Breakdown Support. IHSG akan Breakdown Support pola Bullish Continuation bila turun di bawah 5,900. Artinya adalah bila IHSG turun di bawah 5,900 maka pola Bullish Continuation jangka panjang yang menjanjikan IHSG naik 30% menuju 8,000 dalam 3-5 tahun ke depan berpotensi batal.

The Primary Trader akan mewaspadai bila dalam waktu dekat, IHSG turun di bawah 6,100.

Ikuti pergerakan live chart -nya di sini.