Trend&Pattern 210122 : Investor Asing Datang, IHSG Memperkuat Awal Uptrend Sepanjang Tahun 2021

Net Buy Investor Asing

Berdasarkan data Net Buy Sell Asing (NBSA) yang ada pada chart The Primary Trader, bulan Januari 2021 adalah Wave ke-3 masuknya Investor Asing dari sejak tahun 2020. Wave pertama masuknya Investor Asing adalah pada bulan Mei 2020 (setelah PSBB pertama berubah menjadi PSBB Transisi) dan Wave kedua terjadi pada November 2020 setelah disahkan UU Omnibus Law. Secara akumulasi, Investor Asing pun mulai mengakhiri tren Net Sell-nya di bulan November 2020 dan pada Januari 2021 ini mulai terlihat indikasi awal dari tren Net Buy Asing.

Wave ketiga Net Buy Asing sangatlah penting mengingat saat ini IHSG sedang dalam proses Breakout Resistance di 6,348 yang merupakan level Resistance penting. Sebagai pengingat, level 6,348 adalah Highest sepanjang tahun 2020 dan hari tersebut bertepatan dengan ditandatanganinya Trade Deal tahap pertama antara AS dengan China. Sayangnya, seminggu kemudian China melakukan Lockdown massal dan membatalkan mudik Chinese New Year dan menjadi awal pandemi Covid-19 yang masih terjadi sampai sekarang.

IHSG telah memulai proses Breakout Resistance 6,348 di minggu ke-2 Januari 2021 setelah Rally di awal perdagangan tahun 2021. Rally tersebut pun sebenarnya bagian dari akhir Sideways jangka pendek dari Desember 2020 (memasuki suasana libur Natal dan Tahun Baru dan Lebaran). Oleh karena itu, The Primary Trader melihat Sideways IHSG dari sejak pertengahan Januari 2021 sebagai fase istirahat (Rest) sebelum tentunya akan kembali Rally sebagai bagian dari Uptrend. Karena fase Sideways-nya berada di kisaran level Resistance dari Highest In 2020 maka tentu The Primary Trader melihat hal ini sebagai proses Breakout Resistance.

Pantauan Saham Dengan Net Buy Asing

Grafik di atas adalah saham – saham IDX80 yang mencatat Net Buy Asing selama 5 dan 20 hari terakhir. Dari grafik terlihat saham – saham Interest Related seperti Bank mencatat Net Buy yang tinggi dan cukup wajar. Namun ada beberaap saham yang Non-Big Caps yang mencatat Net Buy Asing yang tinggi yaitu KLBF, ANTM, INCO dan TOWR. ANTM dan INCO memang sejak 2H20 ramai menjadi bahasan dan incaran Investor, Trader dan Spekulator sehingga tidak perlu dibahas.

The Primary Trader mencatat KLBF dan TOWR yang mulai terlihat menarik bagi karena Net Buy Asing tersebut dan berdasarkan Analisis Teknikal. The Primary Trader telah membahas KLBF dan dapat dilihat di edisi Trend&Pattern 210118.

Beberapa saham Consumer Related seperti SCMA, TKIM dan ERAA pun cukup mencatat Net Buy Asing yang tinggi sehingga menarik perhatian The Primary Trader.

TOWR : Mengakhiri Fase Throwback Dan Bersiap Mengonfirmasi Bullish Continuation Pattern

TOWR telah Breakout area Resistance di Rp920 – Rp970 dan tampaknya berhasil membentuk Throwback (dengan bertahan tidak turun di bawah Rp920) sehingga memvalidasi Breakout Resistance tersebut. Penurunan sejak Agustus 2020 terindikasi sebagai bagian dari Bullish Continuation Pattern (Bullish Flag?) sehingga ada indikasi TOWR kembali melanjutkan Rally dari Rp550 – Rp1,150. Tentu TOWR harus Breakout Resistance dari Bullish Pattern tersebut yaitu di Rp1,100. Setelah Breakout Rp1,100 dan mengonfirmasi Bullish Continuation Pattern, menurut The Primary Trader, dalam jangka panjang TOWR berpotensi menuju Rp1,700.

SCMA : Mengakhiri Downtrend Jangka Panjang, Memulai Uptrend Jangka Panjang

The Primary Trader menyukai fakta bahwa SCMA berhasil Breakout Down Trendline SCMA dari sejak 2H14 (!). Down Trendline yang terbentuk pun sangat rapi yang menandakan kuatnya Downtrend. Oleh karena itu, setelah Down Trendline tersebut berhasil di-Breakout di level Rp2,000an pada Desember 2020, The Primary Trader memperkirakan Uptrend yang terbentuk pun seharusnya cukup baik dan berlangsung dalam jangka panjang. The Primary Trader prediksi SCMA berpotensi melanjutkan kenaikan dalam Uptrend menuju Resistance di Rp3,500 – dalam jangka menengah atau panjang.

Trend&Pattern 210118 : IHSG Sudah Mahal ?

Dari sejak awal tahun 2021 IHSG telah naik sebesar 6.59%, IHSG sudah menyentuh Upper Bollinger Band bahkan sempat berada di atas (The Primary Trader menyebutnya Overshoot) dan RSI periode 14 mulai turun di bawah level 70 yang biasanya merupakan sinyal Sell. The Primary Trader ingin menjawab apakah IHSG sudah mahal dan akan mengakhiri Uptrend-nya menggunakan beberapa pendekatan Analisis Teknikal.

Complete Set Bollinger Band

Percentage BB memasuki level 84% setelah beberapa hari sebelumnya berada di atas level 100%. Artinya IHSG memang sempat berada di atas Upper Band dan terindikasi telah Overshoot. Namun perlu diingat bahwa Overshoot mengindikasikan adanya potensi penurunan jangka pendek ditengah Uptrend. Overshoot memprediksi akan ada penurunan lanjutan namun belum tentu merubah tren.

Bandwidth BB sedang naik yang kemungkinan merubah tren penurunan Bandwidth dari sejak akhir November 2020. Artinya ada potensi kenaikan Volatilitas dalam beberapa waktu ke depan. Memang volatilitas telah naik kembali dari sejak awal Januari 2021 setelah di akhir Desember 2020 cenderung Flat. The Primary Trader melihat Investor dan Trader mulai kembali aktif berinvestasi saham.

Dengan melihat Middle Band Direction yang masih positif (meski ada kecenderungan tren turun), The Primary Trader perkirakan IHSG masih akan mempertahankan Uptrend meskipun IHSG dapat turun mendekati 6,169 (Downside Potential ~3%).

Moving Average Techniques

Menggunakan analisis Moving Average periode 200 (MA200), terlihat bahwa saat ini IHSG ada di atas MA200 sebesar 19.5%. Secara visual, posisi mendekati 20% di atas MA200 cenderung menjadi rata – rata posisi relatif tertinggi IHSG terhadap MA200.

Berdasarkan indikasi posisi relatif terhadap IHSG, The Primary Trader menilai IHSG memang telah mahal. Namun MA200 baru saja secara resmi mengarah ke atas sejak awal Desember 2020 (MA200 Direction) sehingga The Primary Trader menilai Uptrend IHSG dalam jangka panjang (sesuai dengan karakterisik MA200) masih akan bertahan – meskipun IHSG bisa saja turun sebesar sebesar ~20% menuju level MA200 sebagai Support.

Menggunakan MA20 dan MA200 terhadap saham – saham IDX80, The Primary Trader melihat kenaikan IHSG dalam jangka pendek memang terancam tertahan karena semakin sedikit saham IDX80 yang berada di atas MA20-nya. Hal ini ditandai dengan garis biru (jumlah saham IDX80 yang berada di atas MA20) semakin turun dan berpotensi berada di bawah 40. Namun saham – saham IDX80 yang berada di atas MA200 masih tetap stabil di level > 70an sehingga The Primary Trader kembali meyakini potensi Uptrend IHSG belum terancam berakhir.

Sektor dan Saham Pilihan

Dari grafik “Trend and Momentum in Sectors” di atas, The Primary Trader menyukai sektor Retail, Residential, Oil&Gas, Precast, Mineral dan Pharmacy. Hal ini karena sektor tersebut berada di dalam Uptrend (Trend Meter > 50) sementara terindikasi netral (Momentum Meter di rentang 30 – 70).

Saham di sektor Industrial Area, Healthcare, FMCG, Telecom, Textile dan CPO dapat mulai diperhatikan karena sudah Oversold. Saham Construction, Paper dan Tol sebaiknya di waspadai karena Overbought, terlebih lagi sektor Construction yang sudah Overshoot.

Berdasarkan Dandy Rotation di atas (saham – saham IDX80 yang berada dalam kondisi Uptrend dan mendapat sinyal Buy), The Primary Trader menyukai KLBF, PTPP dan WSBP.

KLBF : Breakout Down Trendline Jangka Panjang

KLBF telah Breakout Resistance dari Down Trendline jangka panjang (dari sejak 2015) di level Rp 1,650an dan bahkan telah membentuk All Time High di Rp1,960. Dengan kondisi ini, The Primary Trader perkirakan KLBF setidaknya masih dapat naik menuju Rp1,960.

PTPP : Breakout Resistance

Walau sudah naik tinggi (dan curam) dari sejak November 2020 sebesar 149% (atau ~3% per hari), PTPP segera menguji Resistance di Rp2,250 yang menjadi level signifikan antara tahun 2017 dan 2019. Setelah Breakout Rp2,250, PTPP berpotensi naik menuju Rp2,700 yang merupakan level Resistance lanjutan.

EDA : January Effect Pada IHSG

January Effect adalah salah satu fenomena Seasonal dimana pasar saham cenderung naik. Pada S&P500 dari tahun 1928 – 2018, January Effect tercatat terjadi 56 kali (dari 91 kali bulan Januari). Bagaimana fenomena January Effect pada IHSG ? The Primary Trader ingin menjawabnya menggunakan model EDA atau Explanatory Data Analysis menggunakan R.

Berikut adalah distribusi frekuensi Return IHSG di bulan Januari :

Sekilas terlihat ada kecenderungan IHSG mencatat Return (akhir bulan Desember ke akhir bulan Januari) yang positif di bulan Januari. Apabila distribusi tersebut di filter sehingga hanya mencatat IHSG pada saat January Effect saja (Return di Januari > 0%) maka distribusi adalah sebagai berikut :

Return IHSG di atas 0% pada bulan Januari dari 1995 – 2020 adalah sebanyak 17 kali. Dengan demikian, dari 26 kali perdagangan IHSG di bulan Januari, terjadi 17 kali January Effect atau sebanyak 65.3%.

Rata – rata Return IHSG di bulan Januari adalah sebesar 0.24% dengan standar deviasi sebesar 1.08%. Deviasi yang cukup lebar ini menandakan volatilitas yang tinggi juga pada bulan Januari. Median Return IHSG di bulan Januari secara umum ada di angka 0.267%.

Apabila dilihat Return IHSG pada January Effect maka Mean Return ada di angka 0.83% dengan standar deviasi 0.69%. Standar deviasi lebih kecil karena nilai Return-nya tidak ada yang negatif (January Effect only). Median Return pada January Effect dari sejak 1995 adalah sebesar 0.6%.

Dengan porsi terjadinya January Effect sebesar 65.3%, Mean sebesar 0.8% dan Median sebesar 0.6%, The Primary Trader meyakini peluang terjadinya January Effect di tahun 2021 cukup besar.

Ada Pengaruh dari Bulan Desember ?

The Primary Trader ingin mencoba melihat apakah pergerakan di Januari dipengaruhi oleh pergerakan di Desember sebelumnya. Menggunakan korelasi antara pergerakan Januari (dari Januari 1995) dengan Desember (dari Desember 1994) diperoleh angka 0.412%. Berikut adalah Scatterplot Return IHSG antara bulan Desember dengan Januari :

Angka korelasi sebesar 0.41% adalah relatif kecil dan dari grafik pun terlihat tidak ada pengaruh yang kuat antara Return bulan Desember dan Januari. Dengan demikian, meskipun IHSG naik sebesar 6.53% di Desember 2020, karena tidak ada korelasi kuat, IHSG tidak berarti akan mencatat January Effect di Januari 2021.

Bukti Validitas IHSG Breakout ~5,500 Sebagai Awal Uptrend Jangka Panjang

Resistance di ~5,500

IHSG telah berhasil Breakout Resistance penting di 5,550. Seperti yang terlihat pada grafik di bawah, level ~5,500 adalah level signifikan sejak tahun 2015 karena beberapa kali menjadi Resistance dan Support. Breakout level 5,500 seperti saat ini seharusnya memberikan indikasi yang signifikan positif pada IHSG.

IHSG berhasil Breakout ~5,550 pada pertengahan November 2020.Menjelang akhir November 2020, terjadi penurunan drastis (hampir -3% dalam sehari) yang menyebabkan IHSG dari 5,600 kembali menyentuh level 5,550. Belakangan diketahui bahwa penurunan tersebut dikarenakan Hacking yang membuat berita negatif signifikan di September 2020 kembali muncul sebagai berita terbaru.

Breakout dan Throwback

The Primary Trader melihat penurunan tersebut sebagai bagian dari Throwback atau penurunan paska Breakout Resistance. Level 5,550 yang sebelumnya menjadi Resistance, pada saat Throwback menjadi Support. Dan karena IHSG tetap bertahan di atas 5,550 maka dapat dikatakan Support tersebut terbukti kuat menahan IHSG sehingga Throwback dapat dikatakan Valid.

The Primary Trader meyakini Throwback menunjukkan Validitas Breakout. Dengan demikian, IHSG telah Breakout dengan meyakinkan sehingga kesimpulan utamanya adalah bahwa IHSG memasuki fase Uptrend jangka menengah dan panjang. The Primary Trader cenderung melihat sebagai Breakout 5,550 adalah awal dari Uptrend jangka panjang IHSG untuk membuat New All Time High.

Validitas Breakout

Validitas Breakout dapat dilihat dari pergerakan OHLC serta Volume atau Value pada saat Breakout. Menggunakan data Laporan Statistik mingguan dari IDX, terlihat bahwa pada tanggal 10, 11 dan 12 November 2020, Value transaksi IHSG sangat besar (Rp15 – 16 triliun per hari). Frekuensinya pun mencapai 1 juta transaksi dari normal sekitar 800 – 900 ribu transaksi. Hal ini menambah indikasi Validitas Breakout.

Karena IHSG sendiri adalah Indeks yang terdiri dari konstituennya maka sudah seharusnya konstituen IHSG pun naik – terutama saat Breakout. Berikut adalah Return saham – saham Biggest Cap IHSG dari November 2020 :

Terlihat bahwa pada tanggal 10 – 12 November, saham ASII, TLKM, BBRI menjadi pengangkat utama IHSG. Saham – saham lain pun telah sebelumnya mendukung seperti BBCA dan BMRI. Dengan adanya kenaikan Big Cap tersebut tentu menandakan kenaikan IHSG disebabkanya oleh adanya Big Money yang masuk. Dan The Primary Trader meyakini hal tersebut memperkuat bukti bahwa IHSG telah secara Valid Breakout Resistance ~5,500 dan memulai Uptrend jangka panjang untuk membuat New All Time High.

Semoga.

Ancaman dan Harapan Pada IHSG

The Primary Trader tidak terlalu yakin IHSG masih dapat turun menuju 4,400 namun bila melihat kondisi global maupun domestik, ada kemungkinan IHSG turun dan Breakdown Support 4,800 untuk menuju 4,400. Meski kurang kuat untuk membentuk pola Bullish Reversal, setidaknya The Primary Trader yakin, dengan kondisi saat ini, rasanya sudah sulit untuk turun menuju 4,000 (terlebih lagi menuju 3,900).

Meski demikian, The Primary Trader masih percaya ada harapan IHSG tidak turun di bawah 4,800 atau setidaknya turun mendekati 4,400 namun tidak Breakdown 4,400 tersebut. Dengan demikian, IHSG hanya turun sebesar -10% dari sejak PSBB ke-2 DKI Jakarta diumumkan. Tentunya penurunan mendekati 4,400 tersebut adalah sebagai 2nd Leg untuk menyempurkan pola Bullish Reversal IHSG seperti yang telah The Primary Trader tulis sebelumnya.

Market Breadth IHSG

Dari saham – saham IDX80, The Primary Trader mencatat ada 69 saham bergerak dalam kondisi Trading Value yang lebih kecil dari biasanya. Pergerakan harga tanpa Trading Value dapat dikatakan kurang valid. Investor / Trader dapat melihat ini sebagai bukti bahwa tidak banyak Minat atau Aktifitas sehingga pergerakan naik atau turun bukan berarti merupakan bagian dari Trend. Meski demikian, perlu diingat bahwa penurunan harga dapat terus terjadi tanpa Trading Value atau Volume (Falling On Its Own Weight).

Sementara dari sisi Stochastic Oscillator, 50 saham IDX80 mencatat kondisi Oversold dimana berarti penurunan dari saham tersebut berpotensi mulai terbatas (karena Jenuh Jual atau Minat Jual sudah terbatas). Akan tetapi, dalam kondisi Downtrend yang kuat maka akan sangat mudah ditemukan saham dengan kondisi Oversold tersebut (seperti pada kondisi di Februari 2020 – Maret 2020). Satu hal yang mungkin positif adalah mulai ada peningkatan saham – saham yang mencatat sinyal Alert Buy.

The Primary Trader sempat optimis mengingat di pertengahan September 2020, lebih dari 50% saham IDX80 yang mencatat 5D Return yang positif. Melihat historis 2 bulan terakhir, bila lebih dari 50% saham IDX80 mencatat 5D Return positif maka ada potensi IHSG naik 2-4 minggu ke depan. Akan tetap, tidak lama kemudian, justru lebih dari 50% saham IDX80 yang mencatat 5D Return yang negatif ^.^

Simple Traditional Indicators

Kembali menggunakan indikator tradisional pada IHSG, The Primary Trader ingin mencatat 2 ancaman pada IHSG (berdasarkan Ichimoku Kinko Hyo) yaitu adanya Red Cloud (yang telah muncul 2 minggu lalu) serta Breakdown Green Cloud (sejak 3 hari lalu). Dua hal ini mengindikasikan ancaman Downtrend namun terlihat ada Support kuat di 4,400 yang berasa dari Kumo-nya Ichimoku.

Ancaman kedua adalah adanya potensi Death Cross antara MA20 dengan MA60. Menggunakan MA60 Direction, ada potensi MA60 dalam waktu dekat akan bergerak ke bawah (turun) sehingga semakin memperjelas ancaman potensi penurunan IHSG yang mungkin dalam bentuk Downtrend (setidaknya Intermediate Downtrend atau Downtrend Jangka Menengah).

Harapan Pada IHSG

The Primary Trader melihat salah satu harapan IHSG terlihat pada kondisi Under-owned Asing. Bila tidak ada lagi Investor Asing yang mau jual, apakah Investor Domestik (katakanlah BPJS Ketenagakerjaan, Taspen atau Mandiri Manajemen Investasi) mau jual investasi sahamnya? Rasanya tidak.

Secara sentimen, The Primary Trader berhadap pada dua hal : Vaksin dan Omnibus Law. Semoga.

Market Dan Saham Pilihan 200921

Berikut materi dalam video :

Pembahasannya antara lain :

  • IHSG dan Market Breadth terhadap Saham di IDX80. IHSG berpotensi melanjutkan kenaikan sampe 2-3 minggu ke depan dilihat dari saham – saham IDX80 yang banyak mencatat Positive 5D Return
  • Technical Data Viz, termasuk Dandy Rotation. Sektor Tower dan Industrial Area masih menarik. Sektor Healthcare dan Auto sebaiknya diwaspadai
  • Chart (Saham) Pilihan : UNTR, INKP, ACES dan TBIG

Berikut video di Youtube :

Untuk Investor dan Trader yang ingin memahami Dandy Rotation, silahkan cek video di Youtube berikut :

Semoga bermanfaat.

Money Flow menjadi katalis positif. akankah tetap bertahan ?

Pada empat bulan pertama tahun 2020, Rupiah melemah sebesar 22% terhadap US Dollar. Perlemahan dua bulan terakhir (Maret – April 2020) disebabkan karena Investor global khawatir akan kondisi dunia sehingga memilih untuk keluar dari Emerging Market, termasuk Indonesia dan bahkan aset – aset di Developing Market termasuk US. Bahkan Investor panic buying membeli obligasi negara maju meskipun Yield-nya sudah negatif. Harga emas dunia bahkan terus naik mencapai level tertinggi dari tahun 2012.

Sejak April 2020, IHSG dan SUN mulai naik sebesar 29% sampai awal Juni 2020 sementara Yield SUN10Yr telah turun dari 8.3% ke 7% yang membuat harga FR82 (Benchmark SUN 10Yr) telah naik dari harga 92% ke 99% (naik ~7.6%) . Penguatan dari harga saham dan SUN dapat dilihat dari penguatan Rupiah terhadap US Dollar yang dapat diartikan adanya Capital Inflow dari Investor Asing.

Pada April 2020, di saat Indonesia masih dalam lockdown (PSBB) dan dunia masih berpacu melawan Covid-19 dengan Lockdown, ada tren penguatan Rupiah serta aset saham US (yang diwakili oleh S&P500). Saat ini, Ekonom masih mengkhawatirkan terjadinya resesi global dan semakin percaya V-Shape Recovery tidak mungkin terjadi. Namun ada indikasi bahwa Covid-19 dapat dihadapi dengan baik tanpa perlu Lockdown ketat yaitu dengan Physical Distancing dan menggunakan masker non-medis (yang sudah banyak tersedia dengan harga murah). Saat itulah aset Safe Heaven seperti emas mulai melemah dan Risky Asset termasuk aset keuangan Emerging Market seperti Indonesia mulai menguat.

Money Flow dan Investor Asing memang sangat berpengaruh terhadap pergerakan aset keuangan di Indonesia. Oleh karena itu, dengan adanya Foreign Outflow pada 5M20 (dan sangat besar dibanding 10 tahun terakhir), maka wajar terjadi penurunan yang dalam pada saham dan obligasi. Namun perlu diingat bahwa secara historis, Foreign Outflow tersebut pada tahun berikutnya diikuti oleh Foreign Inflow – dan lebih besar dari sebelumnya.

Optimisme Masyarakat

Tidak banyak negara – negara yang masyarakatnya Optimis. Bila dilihat dari Consumer Confidence negara Asia Tenggara seperti Malaysia, Filipina, Thailand dan Vietnam, Indonesia relatif tinggi dan optimis. Indonesia relatif sama seperti Thailand namun mengingat sektor Tourism (yang sangat berkaitan erat dengan ekonomi Thailand) memerlukan waktu yang lama untuk Recovery maka tampaknya Consumer Confidence Thailand akan lebih lambat pulih dibanding Indonesia. Vietnam adalah salah satu negara yang berhasil melawan Covid-19 sehingga wajar Consumer Confidence-nya tinggi (dan bertahan di level tinggi).

Optimisme masyarakat yang baik akan sangat penting pada masa pelonggaran atau Re-Opening atau PSBB Transisi (yang sedang dijalankan di DKI Jakarta + Bodetabek). Saat ini mal – mal mulai kembali buka dan aktifitas ekonomi perlahan kembali diizinkan. Dengan demikian, tentu masyarakat mulai memperoleh pendapatan lagi yang sangat positif untuk perekonomian – dan harga saham serta SUN.

Survei yang dilakukan oleh Mandiri Sekuritas menunjukkan pada minggu pertama PSBB Transisi, mal yang High Class cukup banyak dikunjungi. Memang kemungkinan besar, berdasarkan survei Mirae Asset, masyarakat menengah ke atas yang akan tetap berkunjung ke mal namun masyarakat menengah ke bawah bukan berarti tidak berbelanja.

Peningkatan aktifitas masyarakat pada PSBB Transisi meningkat. Hal ini saja sudah dapat memberikan harapan bagi pekerja yang mengandalkan penghasil dari pergerakan masyarakat (seperti Driver Online, warung makan dan pedagang kaki lima). Oleh karena itu, ada potensi ekonomi Indonesia di 2H20 dapat tumbuh dan tidak seburuk yang dikhawatirkan.

Ekonomi Indonesia di 2Q20.

Berdasarkan estimasi, ekonomi Indonesia diperkirakan tumbuh 4.18% YoY di 1Q20 namun ternyata ekonomi Indonesia hanya tumbuh 2.97% YoY. Ekonomi Indonesia sendiri sudah dua kuartal turun (bila dibandingkan dua kuartal sebelumnya atau QoQ). Pada 4Q19, ekonomi Indonesia turun -1.74% QoQ dan di 1Q20 turun -2.41% QoQ. Secara historis, ada pertumbuhan di 2Q20 dan disinilah letak masalahnya.

Ekonomi di 1Q20 memang masih tumbuh (2.97% YoY) namun perlu diingat bahwa PSBB di DKI Jakarta baru berlaku awal April 2020 sehingga penurunan ekonomi di 1Q20 adalah dampak langsung dari Lockdown dari beberapa negara seperti China dan Uni Eropa. Memang di Februari 2020, pemerintah Indonesia juga melakukan Lockdown dan membatasi arus manusia namun belum ada penutupan tempat bisnis yang masif seperti penutupan mal dan kantor. Oleh karena itu, dampak PSBB terhadap ekonomi baru akan terlihat pada 2Q20.

Dengan demikian, tentu ada potensi pertumbuhan ekonomi di 2Q20 dapat turun lebih dalam lagi dan bahkan mencatat pertumbuhan negatif bila dibandingkan 2Q19 (YoY). Hampir pasti ekonomi Indonesia kembali mencatat pertumbuhan negatif dibanding 1Q19 (QoQ). Pemerintah Indonesia dan Bank Indonesia relatif cukup responsif dalam menghadapi ancaman tersebut sehingga The Primary Trader melihat adanya katalis positif.

Pemerintah Indonesia memang telah bersiap untuk menghadapi kondisi yang buruk dengan menaikkan Defisit Anggaran dari maksimal -3% menjadi -5.07% yang kemudian direvisi lagi menjadi -6.72%. Pemerintah juga bersiap memberikan stimulus terbesar sepanjang sejarah yaitu Rp405 triliun. Stimulus inilah yang diharapkan dapat meminimalisir dampak negatif dari langkah pencegahan penyebaran Covid-19 terhadap ekonomi.

Sampai 10 Juni 2020, pemerintah disebutkan telah menyebarkan stimulus sebesar 34% dari target. Salah satu stimulus terpenting yaitu pemberian kas kepada warga selain Jabodetabek meningkat dari Rp4 triliun di akhir April 2020 menjadi Rp12 triliun di Juni 2020. Pemberian THR kepada PNS, TNI dan Polri serta karyawan pun memberikan dukungan tambahan ditengah PSBB ini.

Senada dengan pemerintah, BI pun memberikan “stimulus”-nya dimana pada RDG Juni 2020, BI 7DRR Rate dipotong sebesar 0.25% menjadi 4.25%. BI telah mempertahankan BI 7DRR Rate selama dua bulan April dan Mei 2020 dengan alasan yang tepat yaitu untuk menjaga stabilitas serta mendukung PSBB pemerintah. Di bulan Maret 2020, BI sebenarnya telah memotong BI 7DRR Rate sebesar 0.25% dari 4.75% menjadi 4.5%.

Indonesia Interest Rate

Seiring dengan adanya pelonggaran PSBB (menjadi PSBB Transisi) serta diharapkan adanya perlambatan penyebaran infeksi Covid-19 dan niat pemerintah untuk perlahan mendorong perekonomian (dalam rangka menjaga penghasilan masyarakat), BI diperkirakan akan kembali memotong BI 7DRR Rate. Selain karena adanya kecenderungan BI terus melakukan Cut Rate berturut – turut, secara perbandingan, Yield Indonesia masih relatif menarik dibanding negara – negara berkembang lainnya.

Menunggu Foreign Inflow Setelah Indikator Analisis Teknikal Cenderung Positif

Seiring dengan perlemahan VIX yang menjadi indikasi risiko bagi Investor global (Investor US) maka S&P500 berpotensi terus naik. Bullish pada S&P500 secara langsung memberikan sentimen positif bagi bursa global termasuk Indonesia.

IHSG telah naik sebesar 27% dari akhir Maret 2020 sementara baru pada pertengahan Mei 2020 kenaikan IHSG diikuti oleh Foreign Flow. Memang Foreign Inflow dari Mei 2020 belum terlihat akan membalikkan tren Foreign Outflow yang telah terjadi sejak tahun 2017 namun setidaknya bila dibandingkan dari tahun 2020, ada harapan terjadi Net Foreign Inflow. Setidaknya di awal tahun 2020, Foreign Flow sempat Flat yang menandakan tren Foreign Outflow sempat tertahan (sehingga ada harapan pembalikan tren menjadi Foreign Inflow di awal tahun 2020).

Selain dilihat dari Foreign Flow, indikator lain yang bersifat Trend Following pun mengindikasikan hal yang positif pada IHSG.

Menggunakan indikator Ichimoku Kinko Hyo, IHSG sudah mulai berada di dalam Red Cloud setelah sejak awal tahun 2020 berada di bawah Cloud. Bahkan di awal Juni, IHSG sempat Breakout dan berada di atas Red Cloud. Meski kembali turun di dalam Red Cloud, IHSG masih membentuk Green Cloud yang mengindikasikan ada potensi Bullish dalam waktu dekat.

Menggunakan Moving Average 20, 60 dan 200, saat ini IHSG berada di atas MA20 dan MA60. Selain itu, MA20 pun sudah berada di atas MA60 yang mengindikasikan telah terjadi Golden Cross (pada awal Juni 2020). Indikator jangka panjang pilihan The Primary Trader yaitu selisih antara MA60 dengan MA200 menunjukkan Flat (sejak akhir Mei 2020). Hal ini menunjukkan peluang tren Bearish sudah berkurang. Worst Case Scenario untuk IHSG adalah bahwa IHSG bergerak Flat.

Semoga.

Menunggu Data Ekonomi 2Q20 Untuk Antisipasi Bottom

The Primary Trader sempat melihat potensi S&P500 untuk Breakout 2,950 dan memasuki potensi Uptrend. Namun melihat pergerakan kemarin dimana yang kedua kalinya S&P500 tertahan di 2,950 maka The Primary Trader kembali meyakini bahwa Downtrend masih akan terjadi.

Sampai kapan?

Timing Analysis tidak pernah mudah dan cabang Analisis Teknikal yang fokus pada Timing Analysis (seperti Astrology Trading, Gann atau Elliot Wave tidak mudah dipercaya Investor dan The Primary Trader tidak mendalaminya). Namun The Primary Trader mencoba mengemukakan potensi Bottoming Global Market termasuk IHSG di tahun 2020 ini dengan melihat Seasonality dan data ekonomi.

The Worst Has Yet To Come

Di pertengahan April dan Mei ini, Investor terkejut dengan data pertumbuhan ekonomi di 1Q20 yang mana terlihat dampak awal dari Pandemi COVID-19. Ekonomi China di 1Q20 turun -6.8% YoY, lebih dalam dari estimasi sebesar -6.5% YoY. Hal ini wajar karena China mulai Lockdown di akhir Januari 2020 atau bertepatan dengan Chinese New Year dimana terjadi mudik masal terbesar di dunia. Selain tidak ada konsumsi di berbagai kota, praktis aktifitas bisnis pun ditutup sehingga cukup wajar ada pukulan yang telak bagi ekonomi China di 1Q20.

Amerika Serikat yang sebenarnya baru mulai Lockdown di akhir Maret 2020 namun pada akhir Januari 2020 sudah mulai ada pembatasan terutama dari sisi imigrasi. Di akhir April 2020, data awal pertumbuhan ekonomi AS di 1Q20 turun sebesar -4.8% QoQ (di-annualized), jauh dari estimasi sebesar -4% QoQ. Ekonomi AS di 1Q20 hanya tumbuh 0.3% YoY, sangat jauh dari rentang 2.1% – 3.2% dari 2Q18 – 4Q19.

AS tampaknya adalah bukti bahwa apabila ekonomi China kurang baik maka negara lain pun demikian. China sebagai Supply-Side memegang peranan penting di era globalisasi ekonomi ini karena Impor China akan bahan mentah berperan sebagai pendapatan signifikan bagi ekonomi seperti Indonesia dan bahkan negara AS sendiri.

Indonesia sendiri pun mengalami pukulan karena di awal Mei 2020, BPS melaporkan ekonomi Indonesia hanya naik sebesar 2.97% YoY di 1Q20, terendah sejak 1Q01. Tentu hal ini jauh di bawah estimasi sebesar 4.04% YoY dan hal inilah yang pertama kali membuat ekonom (termasuk pemerintah) melihat potensi ekonomi Indonesia bisa negatif di akhir tahun. Artinya adalah nilai GDP Indonesia tahun 2020 bisa lebih rendah dari tahun 2019 (sebesar USD1,12 miliar). Indonesia sendiri pernah setidaknya 2 kali mengalami Resesi (penurunan pertumbuhan ekonomi dalam 2 kuartal berturut – turut) yaitu di antara tahun 2020 dan 2013.

Ekonom pun mulai melihat bahwa ini masih dampak awal Pandemi COVID-19 sehingga masih ada dampak lanjutan pada ekonomi di 2Q20. Oleh karena itu, pada awal Mei 2020, ekonom dan Investor mulai bersiap untuk kehilangan kesempatan adanya V-Shape Recovery pada ekonomi global.

Data GDP di 2Q20 : Potensi Bottom

Karena Investor mulai kehilangan harapan akan V-Shape Recovery, tentu Investor akan menunggu pengumuman GDP berikutnya di 2Q20 yaitu sekitar bulan Juli 2020 (China dan AS) dan Agustus 2020 (Indonesia). Data GDP 2Q20 akan menjadi pemicu apakah justifikasi Forward Looking Investor sudah benar.

Apabila ternyata GDP di 2Q20 lebih baik dari perkiraan, tentu hal ini akan menjadi Timing untuk mengakhiri Downtrend dan mengawali Uptrend. Apabila GDP di 2Q20 jauh lebih buruk dari perkiraan, The Primary Trader melihat pada akhirnya valuasi sudah akan murah sekali sehingga ancaman penurunan sudah relatif kecil. Pada saat itulah menurut The Primary Trader akan terjadi Bottom pada Global Market. Dua kondisi yang terjadi adalah “Better Than Estimate” bila GDP lebih baik dari estimasi atau “Underowned dan Very Undemanding Valuation” bila GDP lebih buruk dari estimasi.

The Primary Trader perkirakan masih akan ada penurunan karena shock terhadap GDP 2Q20 di US, China dan Indonesia (karena The Primary Trader ingin membahas aset investasi di Indonesia). Oleh karena itu, pergerakan di 2Q20 sampai 3Q20 (menjelang pengumuman GDP 2Q20 di bulan Juli dan Agustus 2020) akan sangat volatile. Namun menjelang atau pada 3Q20 tersebutlah seharusnya mulai ada indikasi Bottoming setelah semuanya ter-Priced In baik keburukan di 2Q20 maupun harapan di 2H20.

Seasonality

The Primary Trader ingin melihat pergerakan S&P500, Shanghai Composite dan IHSG secara kuartalan untuk melihat Seasonality dan fakta Bottoming ketiga indeks tersebut.

Bila dilihat pada Seasonal Plot S&P500, ada kecenderungan Bottoming di 3Q meskipun di beberapa tahun terakhir ini, kenaikan dari 3Q ke 4Q tidak setinggi di awal – awal tahun 2010an. Namun mengacu pada SubSeries Seasonal Plot, ada kecenderungan S&P500 naik (dari Bottom) pada 3Q untuk kemudian relatif Sideways pada 4Q.

Pada Shanghai Composite, Seasonal Plot menunjukkan kecenderungan terjadinya Bottoming (dengan peluang lebih besar) di 3Q untuk kemudian naik sampai 4Q. SubSeries Seasonal Plot pun menunjukkan kecenderungan untuk naik dari 3Q ke 4Q.

Untuk IHSG, Seasonal Plot menunjukkan peluang yang sama besar antara Bottoming di 2Q untuk naik ke 3Q dan Bottoming di 3Q untuk naik ke 4Q. Melihat SubSeries Seasonal Plot, IHSG cenderung bergerak dengan volatilitas rendah di 3Q dan hal ini menunjukkan kecenderungan terbentuknya Bottom (yaitu di 3Q). Berdasarkan garis rata – rata (garis biru), selisih antara rata – rata 2Q dengan 3Q tidak berbeda jauh. Dapat disimpulkan jalan tengah bahwa IHSG cenderung Bottoming di 2Q – 3Q (dua kuartal).

Kesimpulan

Bahayanya percaya prediksi berakhir Pandemi adalah membuat kita lengah dan terjebak untuk melonggarkan Lockdown atau PSBB lebih cepat dari kondisi aman. Hal tersebut dapat mengancam peningkatan kasus baru lagi. Dengan demikian, hal yang paling penting adalah menunggu relaksasi Lockdown atau PSBB setelah ada bukti bahwa kasus baru mulai melandai dan cukup jauh dari puncak.

Oleh karenanya, The Primary Trader lebih percaya untuk tidak melihat Peak dari New Case sebagai Timing To Entry karena pada akhirnya hal tersebut menjebak. Resesi dan Market Crash kali ini terjadi karena wabah penyakit dan selama wabahnya belum terkendali, tampaknya akan sulit untuk memprediksi Bottoming atau awal Uptrend.

Namun demikian, berdasarkan data (GDP 2Q20) dan Seasonality di atas, setidaknya perkiraan The Primary Trader bahwa Bottom akan terjadi di akhir 2Q20 atau 3Q20 juga merupakan harapan. Semoga.

IHSG : Bottom – Up Approach Mengindikasikan (Masih Ada) Ancaman Downtrend

IHSG terlihat Breakout dari Sideways sejak April 2020 yang menandakan potensi kenaikan menuju 5,700. Bila IHSG berhasil naik di atas Fibonacci Retracement 61.8% di 5,400 maka ancaman Downtrend berkurang dan IHSG berpotensi berada dalam Uptrend menuju (minimal) 5,700. Bahkan sangat terbuka kemungkinan IHSG kembali ke level 6,400 – 6,700. Hal ini berpotensi terjadi bila IHSG berhasil naik melewati 5,400 yang mana hal tersebut terjadi setelah IHSG Breakout 4,650 (Breakout Sideways sejak April 2020).

Breakout 4,650 tampaknya telah terjadi sejak akhir April 2020 namun sepanjang Mei 2020, IHSG terlihat kembali Sideways di level 4,500-an. Hal ini yang membuat The Primary Trader masih meyakini Downtrend belum selesai dan masih ada potensi penurunan sebagai One Last Drop untuk IHSG membentuk Bottoming atau Bullish Reversal Pattern.

Menggunakan pendekatan Bottom – Up Analysis, The Primary Trader ingin melihat saham – saham konstituen IHSG yang berpengaruh (Big Caps). Dapat disimpulkan bahwa saham – saham Big Caps tersebut relatif membentuk Bearish Continuation Pattern yang menunjukkan saham tersebut masih berpotensi Downtrend. Bila demikian maka seharusnya IHSG pun sedang bersiap kembali Downtrend.

Berikut adalah saham – saham dengan masing – masing kategori yang semuanya mengindikasikan kelanjutan dari Downtrend :

Descending Triangle (atau menyerupai) : BBRI dan BMRI

Symmetrical Triangle (atau menyerupai) : ASII, INTP, PGAS dan SMGR

Strong Down Trendline : HMSP, ICBP, GGRM dan UNTR

Saham – saham Big Caps di atas menunjukkan ancaman Downtrend atau segera kembali turun dalam Downtrend. Dengan demikian, IHSG tentu akan turun mengikuti saham – saham tersebut. The Primary Trader masih berhati – hati dan waspada.

UNPUB : Decompose IHSG

The Primary Trader ingin melakukan Decompose IHSG dengan menggunakan beberapa metode Decompose yaitu :

  1. Classical Decompose
  2. X11 Decompose
  3. SEATS Decompose
  4. STL Decompose

The Primary Trader ingin mempraktikan metode Decomposition terhadap IHSG sehingga dapat ditemukan karakteristik dan seasonality-nya. Penjelasan detil ada di sumber buku “Forecasting: Principles and Practice” dari Rob J Hyndman.

File

The Primary Trader menggunakan data IHSG bulanan dari tahun 2000 sampai Maret 2020 (ihsg.ts) dan dari tahun 2015 sampai Maret 2020 (ihsg.ts.2015).

Classical Decompose

Classical Decomposition mengasumsikan komponen Seasonal berulang setiap tahun.

Multiplicative Classical Decompose

ihsg.mult <- decompose(ihsg.ts, type = "multiplicative")
autoplot(ihsg.mult)+ 
  xlab("Year")+
  ggtitle("Classical Multiplicative Decompose IHSG")

plot of chunk unnamed-chunk-3

Additive Classical Decompose

ihsg.add <- decompose(ihsg.ts, type = "additive")
autoplot(ihsg.add)+ 
  xlab("Year")+
  ggtitle("Classical Additive Decompose IHSG")

plot of chunk unnamed-chunk-4

Ada setidaknya 3 metode lagi untuk Decompose yaitu X11, SEATS dan STL dimana ketiganya cukup rumit. Untuk artikel ini, The Primary Trader hanya mempraktikan menggunakan Classical Decomposition. Namun beberapa poin dibawah ini menunjukkan plot Decomposition dari ketiga metode tersebut.

X11 Decompose

X11 menggunakan dasar Classical Decomposition namun untuk Trend dan Cycle-nya, X11 memperhatikan seluruh observasi dari titik awal sampai akhir (tidak hanya tahun ke tahun seperti Classical Decomposition). X11 juga langsung menyesuaikan metode Additive dan Multiplicative yang mana pada Classical Decompose, pemilihan metode tersebut harus dilakukan secara manual.

ihsg.x11 <- seas(ihsg.ts, x11="")
autoplot(ihsg.x11)+ 
  xlab("Year")+
  ggtitle("X11 Decompose IHSG")

plot of chunk unnamed-chunk-5

SEATS Decompose

SEATS atau SEasonal Extraction in ARIMA Time Series adalah Decomposition yang hanya berlaku pada Quarterly maupun Monthly data.

ihsg.seats <- seas(ihsg.ts)
autoplot(ihsg.seats)+
  ggtitle("SEATS decomposition of electrical equipment index")

plot of chunk unnamed-chunk-6

STL Decompose

STL atau Seasonal and Trend Decomposition using Loess dimana Loess adalah metode untuk mengestimasi hubungan nonlinear dari data. Beberapa keunggulan STL dibanding metode Decompose yang lain adalah STL dapat menghitung data seasonality lain (tidak hanya bulanan maupun kuartalan seperti SEATS). Komponen Seasonal-nya serta Rate of Change-nya dapat diganti serta dirubah manual begitupun dengan Smoothness dari Trend-Cycle nya.

ihsg.stl <- stl(ihsg.mo, t.window = 13, s.window = "periodic", robust = TRUE)
autoplot(ihsg.stl)+
  ggtitle("STL decomposition of electrical equipment index")

plot of chunk unnamed-chunk-7

Peak and Trough

The Primary Trader menyukai salah satu penggunaan metode Decompose adalah untuk mengetahui Peak and Trough dari suatu data – menggunakan unsur Seasonal yang dihitung dalam metode Decompose.

Berikut adalah contoh Peak and Trough menggunakan unsur Seasonal pada Classical Decompose dan X11 Decompose :

ihsg.mult.2015 <- decompose(window(ihsg.ts.2015, start = c(2015,1)), type = "multiplicative")
ihsg.add.2015 <- decompose(window(ihsg.ts.2015, start = c(2015,1)), type = "additive")
ihsg.x11.2015 <- seas(window(ihsg.ts.2015, start = c(2015,1)), x11="")

autoplot(ihsg.mult$seasonal)+
  ggtitle("Seasonality of Multiplicative Classical Decomposition")

plot of chunk unnamed-chunk-8
autoplot(ihsg.add$seasonal)+
  ggtitle("Seasonality of Additive Classical Decomposition")

plot of chunk unnamed-chunk-8
autoplot(seasonal(ihsg.x11))+
  ggtitle("Seasonality of X11 Decomposition")

plot of chunk unnamed-chunk-8
autoplot(ihsg.mult.2015$seasonal)+
  ggtitle("Seasonality of Multiplicative Classical Decomposition since 2015")

plot of chunk unnamed-chunk-8
autoplot(ihsg.add.2015$seasonal)+
  ggtitle("Seasonality of Additive Classical Decomposition since 2015")

plot of chunk unnamed-chunk-8
autoplot(seasonal(ihsg.x11.2015))+
  ggtitle("Seasonality of X11 Decomposition since 2015")

plot of chunk unnamed-chunk-8

Bila melihat kedua metode (Classical dan X11), terlihat X11 lebih rumit karena Seasonality X11 sepanjang periode tidak stabil. Hal ini karena metode X11 benar – benar melihat data secara detil, tidak terpaku dengan data tahun ke tahun seperti Classical Decomposition.

Grafik di atas juga menunjukkan bahwa angka siklus Peak and Trough IHSG berbeda – beda setiap metode. Hal ini cukup wajar namun pada satu metode, ada perbedaan apabila total periodenya berbeda.

Untuk melihat Peak and Trough, berikut adalah angka Seasonal dari Classical Decomposition metode (Multiplicative dan Additive) dengan periode yang berbeda. Angka Seasonal tertinggi adalah Peak sementara angka Seasonal terendah adalah Trough.

### Classical Decompose Multiplicative : July and Oct 
range(ihsg.mult$seasonal)

## [1] 0.9681424 1.0253185
head(ihsg.mult$seasonal, 12)

##            Jan       Feb       Mar       Apr       May       Jun       Jul
## 2000 1.0012314 1.0039945 1.0057929 1.0223423 1.0182244 1.0125698 1.0253185
##            Aug       Sep       Oct       Nov       Dec
## 2000 0.9930703 0.9860049 0.9681424 0.9683132 0.9949955
### Classical Decompose Multiplicative 2015 : Feb and Nov
range(ihsg.mult.2015$seasonal)

## [1] 0.9727762 1.0266903
head(ihsg.mult.2015$seasonal, 12)

##            Jan       Feb       Mar       Apr       May       Jun       Jul
## 2015 1.0247965 1.0266903 1.0154625 1.0044016 0.9878793 0.9949372 1.0036845
##            Aug       Sep       Oct       Nov       Dec
## 2015 0.9986347 0.9818674 0.9834012 0.9727762 1.0054689
### Classical Decompose Additive : Apr and Nov
range(ihsg.add$seasonal)

## [1] -83.57064  55.17163
head(ihsg.add$seasonal, 12)

##             Jan        Feb        Mar        Apr        May        Jun
## 2000   7.160684  32.889453  50.837431  55.171632  22.153855   2.141557
##             Jul        Aug        Sep        Oct        Nov        Dec
## 2000  49.218353 -30.365464 -43.315344 -49.307086 -83.570639 -13.014433
### Classical Decompose Additive 2015 : Feb and Nov
range(ihsg.add.2015$seasonal)

## [1] -149.884  156.214
head(ihsg.add.2015$seasonal, 12)

##              Jan         Feb         Mar         Apr         May
## 2015  154.118949  156.213976   85.252963   22.170138  -74.133527
##              Jun         Jul         Aug         Sep         Oct
## 2015  -39.096942   12.300302   -9.089981  -94.200776  -97.398817
##              Nov         Dec
## 2015 -149.884031   33.747744

Menggunakan metode Classical Decomposition Multiplicative dari tahun 2000, terdeteksi bahwa Peak and Trough IHSG ada di bulan Juli dan Oktober. Sementara dengan metode yang sama namun pada periode 2015, Peak and Trough IHSG terdeteksi di bulan Februari dan November.

Hal ini tentu karena adanya perubahan yang terjadi dari IHSG itu sendiri. Perubahan Seasonality serta Cycle pada pasar modal dapat terjadi karena perubahan rezim pemerintahan dan teknologi. Periode dari tahun 2000 sampai 2020 adalah periode yang cukup panjang.

The Primary Trader lebih percaya pada metode yang menggunakan data pendek terbaru (yaitu untuk periode dari 2015). Berikut adalah IHSG dengan Peak and Trough pada bulan April dan November (menggunakan Classical Decompose Additive) :

IHSG <- getSymbols("^JKSE", from = "2000-01-01", to = "2020-04-30", auto.assign = FALSE)
IHSG.mo <- na.omit(to.monthly(IHSG))
ihsg.mo <- IHSG.mo$IHSG.Adjusted
ihsg.ts <- ts(ihsg.mo, frequency = 12, start = c(2000,1))

ihsg.df <- data.frame(ihsg.mo, date = index(ihsg.mo))
ihsg.df <- ihsg.df %>%
  mutate(dates = as.Date(date), month = month(date))

plot(ihsg.df$date, ihsg.df$IHSG.Adjusted, type = "l")
points(x = ihsg.df[ihsg.df$month ==4, "date"],
       y = ihsg.df[ihsg.df$month ==4, "IHSG.Adjusted"], col = "blue", pch = 19)
points(x = ihsg.df[ihsg.df$month ==11, "date"],
       y = ihsg.df[ihsg.df$month ==11, "IHSG.Adjusted"], col = "red", pch = 19)

plot of chunk unnamed-chunk-10

Seasonality Line

Setiap metode Decompose menghasilkan dua komponen penting yaitu Seasonally Adjusted serta Trend. Keduanya pun dapat di-plot bersama dengan data IHSG.

Seasonally Adjusted dan Trend dari X11 Decompose

autoplot(ihsg.ts, series="Data") +
  autolayer(trendcycle(ihsg.x11), series="Trend") +
  autolayer(seasadj(ihsg.x11), series="Seasonally Adjusted") +
  xlab("Year") +
  ggtitle("X11 Decompose IHSG") +
  scale_colour_manual(values=c("green","blue","red"),
             breaks=c("Data","Seasonally Adjusted","Trend"))

plot of chunk unnamed-chunk-11

Agar terlihat jelas garis Seasonally Adjusted dan Trend – nya maka The Primary Trader melakukan zoom in dengan melihat data IHSG dari tahun 2015 :

ihsg.ts.2015 <- window(ihsg.ts, start = 2015)

autoplot(ihsg.ts.2015, series="Data") +
  autolayer(trendcycle(seas(ihsg.ts.2015, x11="")), series="Trend") +
  autolayer(seasadj(seas(ihsg.ts.2015, x11="")), series="Seasonally Adjusted") +
  xlab("Year") +
  ggtitle("X11 Decompose IHSG") +
  scale_colour_manual(values=c("green","blue","red"),
             breaks=c("Data","Seasonally Adjusted","Trend"))

plot of chunk unnamed-chunk-12

Seasonally Adjusted dan Trend dari Classical Decompose

Berikut adalah Seasonality dan Trend line dari Classical Decomposition secara Additive dan Multiplicative dari tahun 2015 :

autoplot(ihsg.ts.2015, series="Data") +
  autolayer(trendcycle(decompose(ihsg.ts.2015, type = "additive")), series="Trend") +
  autolayer(seasadj(decompose(ihsg.ts.2015, type = "additive")), series="Seasonally Adjusted") +
  xlab("Year") +
  ggtitle("Additive Classical Decompose IHSG") +
  scale_colour_manual(values=c("green","blue","red"),
             breaks=c("Data","Seasonally Adjusted","Trend"))

plot of chunk unnamed-chunk-13
autoplot(ihsg.ts.2015, series="Data") +
  autolayer(trendcycle(decompose(ihsg.ts.2015, type = "multiplicative")), series="Trend") +
  autolayer(seasadj(decompose(ihsg.ts.2015, type = "multiplicative")), series="Seasonally Adjusted") +
  xlab("Year") +
  ggtitle("Multiplicative Classical Decompose IHSG") +
  scale_colour_manual(values=c("green","blue","red"),
             breaks=c("Data","Seasonally Adjusted","Trend"))

plot of chunk unnamed-chunk-14

Seasonal Sub-Series dari Seasonal X11 IHSG

Beberapa metode memberikan coding untuk lebih menspesifikan Seasonal atau Sub-Series Seaonal yang ada seperti metode X11 Decomposition berikut :

ihsg.x11 %>% seasonal() %>% ggsubseriesplot() + ylab("Seasonal X11")

plot of chunk unnamed-chunk-15

Berdasarkan metode Decompose menggunakan X11, The Primary Trader melihat kecenderungan IHSG Sideways cenderung Uptrend di 1Q. Terlihat jelas bahwa IHSG lebih sering jatuh (Crash) di 2Q dan Bottoming di 3Q. Ada tendensi naik di 4Q.

Bila disimpulkan, Market cenderung naik mulai dari 4Q sampai 1Q dimana 2Q adalah puncak kenaikan dan awal kejatuhan sampai 3Q.

Kesimpulan

Menemukan titik Peak and Trough adalah suatu hal. Namun tentu pembuktian mana Peak and Trough yang terbaik menggunakan Backtesting adalah hal penting lainnya. The Primary Trader akan menuliskan Backtesting di artikel selanjutnya.

Data Penting Yang Jarang Dilirik Investor : Laporan Statistik Bursa Efek Indonesia

Setiap periode (Weekly, Monthly, Quarterly dan Yearly), Bursa Efek Indonesia mengeluarkan laporan statistik perdagangan di bursa. Laporan tersebut dapat diunduh di website IDX. Menurut The Primary Trader, laporan tersebut sangat penting untuk diperhatikan karena mengandung Market Data yang relatif jarang ada bagi sebagian besar Investor (kecuali Investor Individu maupun Institusi yang telah berlangganan Bloomberg Desktop maupun Thomson Reuters / Refinitif atau Cogencies).

Mengacu dari laporan bulan Maret 2020, berikut adalah informasi yang The Primary Trader sangat penting : Kenaikan Trading Value

The Primary Trader melihat ada kenaikan Trading Value mulai dari 20 Maret 2020, seiring dengan kenaikan IHSG. Hal ini pertanda baik karena Uptrend harus didukung oleh Trading Value.

Rata – rata Trading Value harian IHSG di bulan Maret 2020 adalah sebesar Rp7.9 triliun, lebih besar dari Januari dan Februari 2020 sebesar Rp6.3 – Rp6.5 triliun. Hal ini pertanda bagus. Namun bila dilihat dari tahun 2019, angka Rp7.9 triliun relatif sangat kecil karena rata – rata Trading Value harian sepanjang tahun 2019 adalah sebesar Rp9.1 triliun sementara di tahun 2020 (sampai Maret 2020) hanyalah sebesar Rp6.9 triliun. Oleh karena itu, The Primary Trader masih belum melihat adanya kenaikan Trading Value yang dapat berpotensi membuat IHSG berada dalam Uptrend.

Namun tentu itu adalah data sampai akhir Maret 2020.

IDX juga mengeluarkan data mingguan dan The Primary Trader mengambil data transaksi harian di minggu 21-24 April 2020 sebagai berikut :

Terlihat bahwa ada kencenderungan Trading Value IHSG Flat di kisaran rendah yaitu Rp4.5 triliun. IHSG-nya sendiri pun relatif Flat sehingga kemungkinan besar menghapus potensi Uptrend di bulan Maret 2020.

Masih banyak data dan informasi lain yang terdapat pada Laporan Statistitk tersebut – terutama Monthly Edition-nya antara lain :

  • Financial Datas & Ratios
  • Jakarta Composite Index Activity

Semoga bermanfaat.

UNPUB : Big Bank “Menipu” IHSG. Fokus Ke-6 Saham Ini.

Bila melihat pergerakan IHSG dan membandingkannya dengan pergerakan Big Bank (BBCA, BBRI, BBNI dan BMRI) maka terlihat pergerakan Big Bank lebih Bullish dibanding IHSG itu sendiri. Sejak awal tahun 2018, Big Bank bergerak Uptrend sementara IHSG sudah bergerak Sideways. Ketika IHSG mengalami Breakdown yang menandakan arah tren berubah menjadi Downtrend, Big Bank masih belum mengindikasikan Breakdown. 1-2 minggu kemudian terjadi Breakdown pada Big Bank.

The Primary Trader mencoba melihat Big Cap lain yang relatif memiliki variasi sektor. Berikut adalah pilihannya : GGRM, INDF, ICBP, ASII, TLKM dan UNVR. Berikut adalah chartnya :

Other Big Caps tersebut mengindikasikan Uptrend – hanya sampai awal tahun 2019 atau sekitar akhir 1Q19. Setelah itu, Other Big Caps mulai bergerak Downtrend. Pada 3Q19, Other Big Caps mulai Breakdown dan mengonfirmasi Downtrend.

Apabila digabungkan, maka jelas terlihat Other Big Caps telah Downtrend dari 2019 sementara Big Bank tampaknya menopang IHSG sehingga IHSG masih bisa Sideways. Pada awal tahun 2020, terlihat Big Bank mulai naik namun tidak bertahan sementara Other Big Caps cenderung Flat sebelum IHSG jatuh yang disebabkan oleh Crash di Big Bank.

Kesimpulan

Per hari ini (28 April 2020), Big Bank memang memiliki Total Market Cap 22.5% dari IHSG. Sementara Other Big Caps memiliki total 19.27% dari IHSG. Cukup wajar bila Big Bank masih lebih mendominasi pergerakan IHSG.

Namun The Primary Trader lebih menyukai Other Big Caps karena setidaknya terdiri dari 5 sektor yaitu Cigarettes (GGRM), Food and Beverage (ICBP dan INDF), Automotive (ASII), Telecommunication (TLKM) dan Consumer Staples (UNVR). Sektor tersebut cenderung Cyclical (Auto) namun ada beberapa yang menjadi Backbone ekonomi Indonesia yaitu Consumer Related seperti Cigarettes, F&B dan Consumer Staples.

Oleh karena itu, untuk melihat kondisi IHSG lebih detil, selain Big Bank, sangat perlu juga dilihat Other Big Caps.

Minggu Earning Season Penentu : Melanjutkan Downtrend Atau Mempertahankan Bottoming

Indikasi Dari Data Ekonomi

The Primary Trader mencoba melihat indikator ekonomi dari awal tahun 2020 untuk melihat potensi pendapatan emiten – emiten. Tiga indikator tersebut adalah :

  • Manufacturing PMI
  • Retail Sales YoY
  • Tourist Arrivals

Dari data ekonomi di atas, aktifitas pabrik (Manufacturing PMI) di bulan Maret 2020 terlihat turun drastis dari 51.9 di bulan Februari 2020. Penurunan tersebut adalah yang tertajam dan menunjukkan output produksi serta order baru turun tajam. Dampaknya adalah penurunan pendapatan dan peningkatan pengangguran yang tentu kurang baik bagi ekonomi. Data Manufacturing PMI di bawah 50 pun mengindikasikan kontraksi ekonomi.

Retail Sales Indonesia di bulan Februari 2020 turun -0.8% YoY dan merupakan kelanjutan dari bulan Desember 2020 (-0.5% YoY). Biasanya Retail Sales di akhir tahun cenderung naik (belanja Natal dan Liburan Tahun Baru) dan cukup jarang penjualan ritel turun di Desember kecuali Desember 2019. Hal ini cukup mengkhawatirkan karena berarti Retail Sales sudah melemah di akhir tahun 2019. The Primary Trader perkirakan Retail Sales akan semakin turun setelah dimulai PSBB Jakarta pada bulan April 2020. Siklus perbaikan Retail Sales dari bulan ke bulan – dimulai dari awal tahun tampaknya tidak terjadi di tahun 2020 ini.

Indonesia Retail Sales YoY

Terjadi penurunan wistawan global ke Indonesia di bulan Februari 2020 semenjak banyak negara mulai memberi Travel Warning sampai tidak memberikan izin keluar masuk. Indonesia mulai membatasi izin visa sejak Maret 2020 dan menutup sepenuhnya di awal April 2020. Dengan demikian, tentu Tourist Arrival akan semakin turun dan dampaknya terhadap industri perhotelan akan cukup besar.

Occupancy Rates hotel di Indonesia pada awal tahun 2020 diperkirakan berada di kisaran 40% – 50% dengan tendensi terus turun. Hal ini relatif lebih parah dari tahun 2014 dan 2015.

Dampak dari semua itu adalah peningkatan pengganguran yang berarti penurunan daya beli masyarakat. Tercatat ada sebesar 2.8 juta pekerja yang terkena dampak dimana 60% diantaranya dirumahkan tanpa gaji (Unpaid Leave) dan 27%-nya terkena PHK.

wabah PHK
https://katadata.co.id/infografik/2020/04/18/wabah-phk-akibat-covid-19

Indikasi Dari Data Sektor Dan Emiten

Bank Indonesia memang telah menurunkan BI 7DRR Rate cukup agresif dari awal tahun 2020 sebesar 50 bps (2x) dari 5% menjadi 4.5%. Hal ini diharapkan dapat mendorong pertumbuhan kredit (dan menjaga NPL) namun tampaknya kredit terus turun dari 2H19 baik kredit Investment dan Micro – bahkan untuk kredit Working Capital yang sempat tumbuh tinggi akhir 2018, kali ini turun tajam sepanjang tahun 2019 sampai 1Q20. Tentu hal ini bukan indikasi bagus untuk kinerja sama Bank di 1Q20.

Pangsa pasar mobil merek ASII memang meningkat menjadi 60% di awal tahun 2020 (dari ~45% di akhir 2019). Namun hal ini karena penjualan merek mobil non-ASII di bulan Maret 2020 turun -15.4% dari bulan Februari 2020 dan bahkan -22.9% dari Maret 2019. Penjualan mobil ASII di Maret 2020 naik 6.6% MoM sehingga dapat meningkatkan pangsa pasar. Namun kenaikan penjualan mobil ASII didominasi oleh mobil LCGC (naik 22% MoM dan 4.4% YoY) yang mungkin tidak banyak menolong Revenue maupun Net Income ASII.

Penjualan semen nasional di 1Q20 turun -4.9% dari 1Q19 setelah sempat naik 6.1% YoY pada 4Q19. Hal ini tentu akan membuat kinerja semen kurang baik. Seiring dengan penggunaan semen di Indonesia banyak untuk properti, maka dapat dikatakan penjualan properti di awal tahun 2020 pun akan kurang baik. Pemberlakuan PSAK 72 mengenai pengakuan pendapatan properti pun menjadi salah sentimen penurunan Marketing Sales. Seperti contoh, Marketing Sales CTRA di 2Q10 memang baik (2% YoY) namun tentu kemungkinan besar Marketing Sales akan turun di bulan Maret 2020.

Potensi Pergerakan IHSG

The Primary Trader masih meyakini akan ada One Last Drop sebelum IHSG mengawali Uptrend. One Last Drop tersebut adalah bagian dari pembentukan Bottoming (Bullish Reversal) untuk mengakhiri Downtrend sekaligus mengawali Uptrend. The Primary Trader perkirakan One Last Drop IHSG dapat menuju 3,750 – 4,000.

Tentu ada kemungkinan IHSG ternyata tidak lagi turun mendekati 4,000 namun segera kembali menuju level di atas 6,000. Untuk dapat mengawali kenaikan menuju 6,000, The Primary Trader ingin melihat IHSG Breakout 4,850 karena di level tersebut adalah Lower High sejak awal tahun 2020.

Dengan bantuan indikator, memang ada potensi kenaikan untuk IHSG dalam waktu dekat. Menggunakan Bollinger Band, saat ini IHSG berada di atas Middle Band yang artinya dalam Uptrend – yang kemungkinan adalah Uptrend jangka pendek. Selain itu, potensi kenaikan diperkuat dengan indikator Stochastic Oscillator yang menunjukkan sinyal Buy dan dari level Oversold. The Primary Trader pun menyukai fakta bahwa Bollinger Band cenderung melebar yang artinya volatilitas akan kembali datang. Tentu diharapkan akan ada volatilitas saat IHSG sedang bergerak naik (walau ada juga risiko dimana IHSG turun dalam). Ada harapan volatilitas meningkat dan IHSG sedang dalam kenaikan karena tren Middle Band – yang tidak lain ada MA20 – sedang perlahan mengarah ke atas (dilihat dari Middle Band Direction yang mulai mencatat nilai positif).

Dengan bantuan indikator Ichimoku Kinko Hyo, ada potensi IHSG bergerak naik karena indikator Tenkan-Sen dan Kijun-Sen telah Bullish Crossover. Namun Downtrend tampaknya masih akan terjadi karena IHSG dihalangi oleh Red Cloud yang cukup tebal dan seringkali menjadi Resistance yang kuat. Ichimoku Kinko Hyo memperkuat ekspektasi The Primary Trader bahwa Downtrend masih mungkin terjadi, IHSG berpotensi mencatat One Last Drop sebelum terbentuk Bullish Reversal yang akan mengawali Uptrend.

Semoga wabah pandemi segera selesai.

Melihat Potensi Bottoming IHSG Dari Saham – Saham Dengan Market Cap Terbesar

Berikut adalah Top 10 saham dengan Market Cap terbesar pada IHSG (per tanggal 16 April 2020) :

The Primary Trader hanya mengambil 7 dari saham tersebut dan membandingkannya dengan IHSG sejak awal tahun 2020 :

Live Chart here

Dari chart di atas, ada dua golongan yaitu Outperform (BBCA, TLKM, UNVR dan HMSP) dengan bobot total sebesar 26.55% dari IHSG serta Underperform (BBRI, BMRI dan ASII) dengan bobot total sebesar 12.7% dari IHSG.

The Primary Trader melihat prospek bisnis TLKM di tengah pandemi ini cukup baik karena ditopang oleh Telkomsel serta Indihome yang sangat diperlukan ketika tren Work From Home (WFH) meningkat. Sebagai perbandingan, pada minggu terakhir bulan Maret 2020, Data Traffic internet EXCL meningkat 15% dari minggu sebelumnya. Saat itu adalah dimana tren WFH mulai terjadi.

Sementara bisnis UNVR mungkin sedikit terganggu namun setidaknya tidak berkurang banyak karena produknya adalah kebutuhan sehari – hari (yang tentu tetap diperlukan). The Primary Trader tidak ingin banyak berkomentar mengenai HMSP tapi sepertinya ancaman wabah Covid-19 tidak mengurungkan niat perokok untuk tetap merokok.

Dengan demikian, keempat saham di golongan Outperform memiliki prospek yang menarik sehingga mungkin akan terus menjaga IHSG untuk tidak turun lebih dalam. Ancaman utama saat ini terletak pada bisnis saham di golongan Underperform yaitu BBRI, BMRI dan ASII.

Pada Maret 2020, ASII memang berhasil meningkatkan Market Share dari sekitar 45% di Desember 2019 menjadi 60%. Tampaknya hal ini disebabkan oleh persaingan di industri otomotif yang berkurang. Tren penjualan mobil sendiri memang terus turun dari September 2019 yang sempat tumbuh sebesar 25.9% (!). Pada Maret 2020, terjadi penurunan penjualan mobil yang wajar karena disebabkan wabah Covid-19.

Salah satu perhatian utama di sektor Bank adalah peningkatan kredit macet (NPL) karena semakin banyak tingkat pengangguran serta bisnis yang terganggu karena aktifitas masyarakat turun. OJK dan BI cukup cepat merespon hal ini salah satunya dengan aturan OJK untuk relaksaksi pembayaran kredit. BI telah menurunkan Reserve Ratio Bank sebesar 2% dan merupakan yang penurunan RR yang kedua di tahun 2020. Akan ada tambahan likuditas bagi Bank untuk memberikan kredit. Per Januari 2020, Loan to Deposit Ratio (LDR) sendiri berada di 92.6% dan masih ada ruang untuk dinaikkan. Namun tentu salah satu kekhawatiran saat ini adalah peningkatan NPL sehingga relaksasi dan usaha OJK serta BI mungkin cenderung tidak signifikan memberikan sentimen positif pada sektor Perbankan.

Oleh karena itu, The Primary Trader khawatir sektor Perbankan akan menjadi pemberat (terutama BBRI dan BMRI) bagi IHSG untuk mengawali Uptrend nantinya. Perlu sentimen yang signifikan menjaga agar NPL tidak melonjak ditengah pandemi Covid-10. Untuk BBCA, rasanya Investor akan kembali menggunakan BBCA sebagai Safe Heaven di IHSG.

Secara umum, The Primary Trader masih memperkirakan akan ada One Last Drop untuk IHSG menuju ~3,750 atau setidaknya di bawah Lowest 2020 di ~3,910.

Dipersimpangan “Mengawali Bottom” Atau “Melanjutkan Bearish”

Rupiah sedang berada di Support dari Uptrend Channel sejak Juli 2015. Bila ternyata Rupiah berhasil terus menguat dari saat ini di Rp15,700, ada potensi tren penguatan Rupiah berlanjut menuju Rp13,500 – Rp14,500. The Primary Trader percaya Rupiah dalam tren menguat namun mungkin akan stabil di kisaran Rp15,000/USD. Setidaknya, The Primary Trader perkirakan Rupiah akan sulit untuk kembali melemah mendekati Rp17,000.

Sentimen yang paling penting adalah dimana Bank Indonesia mendapatkan jalur untuk memperoleh US Dollar dari The Fed sebesar USD60 miliar. Lalu sentimen berikutnya adalah kemungkinan Neraca Perdagangan Indonesia di tahun 2020 surplus setelah Neraca Perdagangan bulan Februari dan Maret 2020 surplus.

Indonesia Balance of Trade

Membaiknya Rupiah tentu juga terlihat dari penguatan SUN. The Primary Trader sempat mengkhawatirkan Yield SUN10Yr dapat terus naik mendekati 9%. Sideways Yield SUN10Yr dari sejak pertengahan Maret 2020 terlihat sebagai Bullish Continuation yang menandakan kenaikan Yield dari 6.5% di awal Maret 2020 menuju 8.5% (dalam waktu 3 minggu) masih dapat berlangsung.

Namun demikian, pergerakan Yield dalam 2 hari terakhir yang turun dari 7.8% ke 7.7% menandakan pola Bullish Continuation (Symmetrical Triangle) berpotensi gagal. Untuk mengonfirmasi pola tersebut (dan membuat Yield naik menuju 9%), Yield harus melewati 8.2%. Tentu dengan kondisi level Yield saat ini (7.8%), ada harapan pola tersebut batal sehingga Yield berpotensi terus turun menuju Support di 7.35%.

The Primary Trader menyukai fakta bahwa ketika Pemerintah Indonesia menerbitkan Pandemic Bond, Yield yang diminta lebih rendah dari obligasi internasional Indonesia dari tahun 2015. Hal ini tentu menunjukkan kredibilatas dan kepercayaan Investor terhadap Indonesia.

Memang rencana Indonesia untuk menaikkan defisit anggaran tahun 2020 menjadi 5.07% dari GDP relatif mengkhawatirkan. Namun hal tersebut adalah Necessary Evil dalam rangka menghadapi Pandemi Corona dan mengurangi dampak negatif terhadap perekonomi Indonesia setelah wabah selesai.

Salah satu kekhawatiran Investor akan peningkatan defisit anggaran tersebut adalah Indonesia dapat kehilangan rating Investment Grade. The Primary Trader setuju dengan Mandiri Sekuritas bahwa peluang Downgrade Rating Indonesia relatif lebih kecil dan justru ada peluang Upgrade Investment Grade karena ekonomi Indonesia di tahun 2020 dapat relatif bertahan dibanding negara – negara lain.

The Primary Trader percaya masih ada potensi penurunan bagi IHSG (terlepas dari pergerakan Rupiah dan Yield SUN). Namun penurunan tersebut adalah One Last Drop dimana dapat dikatakan saat ini IHSG sedang dalam proses mengakhiri Downtrend (atau dalam proses Bottoming). The Primary Trader perkirakan IHSG masih akan turun menuju 3,750 atau lebih rendah dari level Lowest 2020 di ~3,911. Setelahnya, The Primary Trader prediksi IHSG akan mengonfirmasi pola Bottoming (Bullish Reversal) untuk mengakhiri Downtrend dan mengawali Uptrend.

Salah satu katalis penurunan adalah musim laporan keuangan 1Q20 yang mulai pertengahan April 2020 akan dirilis. Tentu The Primary Trader perkirakan kinerja emiten di 1Q20 akan kurang bagus karena mulai sejak Februari 2020, aktifitas ekonomi global dan domestik mulai perlahan terganggu karena wabah Covid-19 ini.

Semoga Pandemi ini cepat selesai. Stay Healthy.

Melawan Dampak Negatif Covid-19 di Indonesia

Stimulus Fiskal Untuk Menanggulangi Dampak Negatif Covid-19 Terhadap Ekonomi Indonesia

Pemerintah Indonesia telah mengeluarkan stimulus fiskal dalam rangka menghadapi dampak negatifnya terhadap ekonomi Indonesia. Stimulus fiskal (ke-3 dari awal tahun) adalah dalam bentuk Peraturan Pemerintah (Perppu) No.1 Tahun 2020. Salah satu yang paling positif adalah pemotongan tarif pajak badan dari 25% menjadi 22%(dimana klausul ini sebenarnya sudah masuk ke dalam draft Omnibus Law – yang masih sedang dibahas oleh DPR saat ini). Namun ada klausul yang sedang menjadi perhatian karena dapat menjadi sentimen negatif dalam melawan Covid-19 yaitu rencana melonggarkan defisit anggaran dari 3% dari PDB per tahun menjadi 5%. Salah satu dampaknya adalah Indonesia dapat mengalami penurunan rating namun kemungkinan besar masih dalam rentang Investment Grade rating.

Pelebaran defisit anggaran akan berdampak yang paling utama pada pasar obligasi sehingga ada kemungkinan Yield SUN10Yr masih akan terus naik, melanjutkan kenaikan dari awal tahun 2020. Selain itu, perlemahan Rupiah (kenaikan USDIDR) pun berpotensi terus terjadi. The Primary Trader mengkhawatirkan kenaikan Yield SUN10Yr dan perlemahan Rupiah akan membuat IHSG kembali melemah.

Live Chart here

Pergerakan IHSG

Ada sentimen positif bagi IHSG dari pemotongan pajak dari 25% menjadi 22% di tahun 2020 dan 20% di tahun 2021 (untuk emiten dengan Free Float < 40%) serta dari 20% menjadi 19% di tahun 2020 dan 17% di tahun 2021 (untuk emiten dengan Free Float > 40%). Namun kenaikan laba bersih di tahun 2020 dari pemotongan pajak tersebut tampaknya terbatas antara sebesar 1.5% – 9%. Rata – rata emiten Big Caps diperkirakan mendapat kenaikan laba bersih (dengan asumsi semua tetap) sebesar 4%.

The Primary Trader melihat sentimen tersebut belum cukup menolong dan membuat IHSG mengakhiri Downtrend dan mengawali Uptrend. Sentimen negatif dari penurunan rating Indonesia serta perlemahan Rupiah karena kenaikan defisit anggaran tahun 2020 mencapai 5% berpotensi kembali melemahkan IHSG.

The Primary Trader melihat IHSG masih berpotensi naik dalam jangka pendek mendekati 4,850 – 5,400. Tampaknya masih ada yang melihat kenaikan defisit anggaran tersebut adalah hal yang wajar dan sebaiknya dilakukan untuk mempercepat restarting ekonomi Indonesia setelah berhenti karena wabah Covid-19.

Selama IHSG belum kuat untuk melewati level Fibonacci Retracement di 61.8% atau di 5,400, IHSG masih dalam fase Downtrend dengan potensi turun lebih dalam dari 3,911.

Bottom – Bottom IHSG

The Primary Trader mencoba melihat Support – Support IHSG sejak tahun 2007 sehingga dapat dikatakan level Support yang seharusnya signifikan untuk dapat menahan penurunan IHSG.

Saat ini IHSG sedang berada di Support sejak tahun 2013 dan 2015 yaitu di kisaran 4,000an. Namun bila IHSG kembali turun maka Support berikut yang dapat menahan IHSG antara lain :

  • Support (Resistance) tahun 2010 dan 2012 di 3750
  • Support di tahun 2011 di 3,250
  • Resistance tahun 2007 di 2,850

Saat ini The Primary Trader perkirakan IHSG masih akan melanjutkan Downtrend dengan potensi membentuk New Lowest 2020 dari saat ini di 3,911.72 yaitu di 3,750. The Primary Trader perkirakan IHSG akan mulai membentuk Bottoming dalam rangka mengakhiri Downtrend dan memulai proses Bullish Reversal untuk mengawali Uptrend. Perlu diingat bahwa dalam rangka Uptrend dan membentuk New All Time High baru (dari saat ini di 6,693 di Februari 2018), IHSG umumnya perlu waktu 4x dari lama penurunan. Dengan demikian, New All Time High dapat terbentuk setidaknya 44 bulan kemudian (~4 tahun yaitu di tahun 2024). Mengasumsikan kondisi paling Bullsih, IHSG perlu waktu 1.9x atau sekitar 22 bulan (~2 tahun yaitu di tahun 2022) untuk membentuk New All Time High. Semoga.

Foreign Flow Dan Potensi Bottoming Pada IHSG ?

Apakah Mulai Ada Foreign Inflow Pada IHSG ?

IHSG mencatat kenaikan sebesar 15.5% dalam 2 hari terakhir setelah Kongres AS menyetujui paket stimulus dari pemerintah AS sebesar total ~USD2 triliun. Paket tersebut disetujui oleh House of Representative AS dan telah ditandatangani oleh Presiden Trump pada Jumat malam. Dengan demikian, setidaknya dapat diharapkan ekonomi AS tidak terpukul lebih dalam karena wabah Corona dan tentu dengan ekonomi AS yang bertahan, ekonomi dunia diharapkan dapat juga tertolong.

The Primary Trader belum melihat adanya Net Foreign Inflow pada IHSG meskipun dalam dua hari terakhir, ada Net Buy Asing dengan total sebesar Rp773 miliar. Angka tersebut masih relatif jauh dibanding Net Sell Asing dari awal tahun 2020 yaitu sebesar Rp12.6 triliun. Meski demikian, mengingat sentimen positif dari paket stimulus AS, tentu setelah resmi ditandatangani, maka Investor akan lebih optimis dari sebelum paket tersebut diresmikan.

Apakah IHSG Sudah Bottom ?

Dari beberapa estimasi penurunan IHSG, The Primary Trader menyukai Weekly Chart berikut :

IHSG telah bergerak dalam Downtrend Channel sejak tahun 2018. Memang Downtrend Channel tersebut terlihat sebagai bagian dari Tech. Correction dari Uptrend Jangka Panjang sehingga The Primary Trader masih optimis ketika IHSG mendekati Resistance dari Channel tersebut di 6,300an pada Januari 2020. Namun ternyata terjadi Black Swan (Serangan AS pada Jenderal Iran dan wabah Corona) yang pada akhirnya IHSG turun dan Breakdown Support Downtrend Channel di 5,300 pada awal Maret 2020.

Dengan terjadinya Breakdown tersebut, IHSG terancam turun setidaknya mencapai 4,300 yang merupakan tinggi dari Channel. Namun IHSG terus turun sampai bahkan menyentuh 3,910an (24 Maret 2020). IHSG pada level tersebut mengikuti Downward Projection dari Fibonacci Retracement yang ditarik dari Juli 2018 sampai Maret 2019 yaitu di level 261.8% atau 3,810an.

Berdasarkan garis Fibonacci tersebut, IHSG masih harus Breakout level 161.8% di 4,900an. Namun The Primary Trader meyakini bahwa level 261.8% adalah level yang cukup dalam dan jarang tercapai. Tentu lebih jarang lagi bagi pergerakan harga untuk turun (atau naik) di bawah (atau di atas) 261.8%. Oleh karena itu, The Primary Trader percaya bahwa IHSG sudah mendekati akhir dari Downtrend dan berpotensi segera Bottoming.

Untuk mengatakan Bottom relatif lebih gampang namun untuk mengatakan kapan mulai akan naik dan kembali Uptrend adalah pertanyaan terpentingnya. The Primary Trader percaya bahwa dari penurunan yang dalam dan cepat maka akan diikuti oleh kenaikan yang tinggi dan cepat juga. Namun perlu diingat bahwa tentu ada alasan yang membuat Investor Panic Selling dan alasan tersebut harus terlebih dahulu hilang.

Penurunan saat ini disebabkan oleh Pandemi Wabah Corona. Apabila wabah tersebut belum selesai, belum ditemukan obatnya atau vaksinnya, tentu ada kemungkinan Investor masih akan kembali Panic Selling atau belum memulai Buying yang membuat harga kembali dalam Uptrend.

Melihat ke pergerakan historis, The Primary Trader mencatat bahwa IHSG setidaknya perlu waktu 4x dari lamanya waktu penurunan untuk kembali melewati titik tertingginya sebelum terjadi penurunan. Berikut adalah Update Chart dari artikel tersebut :

Mungkin akan perlu waktu 44 bulan untuk dapat melewati level 6,636 (bukan All Time High) dari level saat ini – dengan asumsi level 3,911 adalah Bottom IHSG. The Primary Trader lebih memilih untuk membeli saham – saham yang memang sudah murah dan bersabar.

Investor Mulai Membeli Saham ?

The Primary Trader melihat IHSG sudah mulai kembali ke Safe Heaven dengan membeli aset Gold setelah sebelumnya terlihat Hoarding Cash. Penguatan USD Index (warna biru) di awal Maret 2020 mengindikasikan Investor sangat khawatir dengan kondisi pasar bahkan emas (XAUUSD, warna orange) pun dijual. Namun dengan adanya stimulus tersebut, dari sejak minggu lalu, emas mulai kembali naik dan USD Index mulai turun.

Live Chart Here

Seiring dengan Investor mulai masuk ke Safe Heaven, ada harapan Investor akan kembali lebih optimis sehingga kembali masuk ke Riskier Asset yaitu Emerging Market, baik Bond maupun Equity. The Primary Trader memperhatikan pergerakan Rupiah (USDIDR), Yield SUN10Yr dan IHSG :

Live Chart Here

The Primary Trader melihat perlemahan USDIDR dari sejak awal tahun mulai selesai dan Rupiah berpotensi mulai menguat terhadap US Dollar. Dengan kata lain, ada potensi Foreign Inflow yang sering dapat diasosiasikan setiap ada penguatan Rupiah.

Yield SUN10Yr yang dari awal tahun 2020 naik pun mulai terlihat berpotensi menurun. Penurunan Yield menandakan kenaikan harga SUN sehingga tentu ada potensi kenaikan harga SUN dalam waktu dekat.

Sesuai dengan teori dasar investasi, ada korelasi negatif antara Yield Obligasi dengan Indeks Saham. Hal ini perlu diingat kembali bahwa ada korelasi yang juga negatif antara Yield Obligasi dengan Harga Obligasi. Bila Yield Obligasi turun maka Harga Obligasi turun. Oleh karena itu, bila Yield Obligasi turun dan Indeks Saham naik (korelasi negatif) maka tentu ada korelasi yang positif antara Harga Obligasi dengan Indeks Saham.

Kenaikan Harga Obligasi dan Harga (Indeks) Saham menandakan Investor mulai membeli Risky dan Riskier Asset. Diikuti dengan penguatan Rupiah (nantinya), The Primary Trader akan menyimpulkan Investor (terutama Investor Asing) akan mulai masuk ke pasar Indonesia. Oleh karena itu, The Primary Trader akan memperhatikan dengan seksama chart Indonesia Three Musketeers.

Stay Healthy and at Home.

Recovery Time Untuk IHSG

Setelah melihat Recovery Time pada Dow Jones, The Primary Trader ingin melihat Recovery Time yang dibutuhkan pada IHSG. Berikut adalah informasi yang The Primary Trader rangkum :

Asian Crisis 1997 – 2004

Krisis keuangan Asia di tahun 1997 – 1998 memicu terjadinya reformasi besar bagi Indonesia. Oleh karena itu, IHSG memerlukan waktu yang relatif lebih lama untuk pulih (dibanding Singapura meskipun IHSG lebih cepat Recovery dari Malaysia dan Thailand). IHSG turun sebesar -65% dalam waktu 15 bulan (dihitung dari Highest ke Lowest) dan perlu waktu 63 bulan untuk melewati level tertinggi sebelum Market Crash.

Global Financial Crisis 2008

Pada tahun 2008, seluruh dunia ikut mengalami penurunan termasuk IHSG. Saat itu, IHSG turun sebesar -62% dalam waktu 9 bulan. Perlu waktu selama 17 bulan untuk berhasil melewati level tertinggi dari tahun 2008. Ekonomi Indonesia relatif bertahan karena banyak mengandalkan konsumsi domestik. Namun karena Hot Money yang tinggi maka IHSG pun menderita penurunan yang sangat dalam.

Small Crisis 2013 – 2015

Ada beberapa penyebab terjadinya krisis di tahun 2013 dan 2015 antara lain : China Slowdown, Fed Rate Uncertainty sampai US Govt. Shutdown. IHSG mengalami penurunan sebesar -26% di tahun 2013 dan bertahan hanya dalam waktu 3 bulan. Namun IHSG perlu waktu 16 bulan untuk melewati level tertinggi sebelum Bear Market (yang resmi terjadi setelah turun -20%). Tidak lama setelah IHSG berhasil melewati level tertinggi dari tahun 2013, kembali terjadi krisis tahun 2015 yang membuat IHSG turun -26% dalam waktu 5 bulan. IHSG pun membutuhkan 24 bulan untuk melewati level tertinggi dari tahun 2015.

Kesimpulan

Melihat sejarah singkat IHSG, The Primary Trader mencoba melihat Recovery Time Ratio atau waktu yang dibutuhkan untuk Recovery setelah terjadinya Bear Market. Setelah melihat empat kali krisis, The Primary Trader menghitung IHSG perlu waktu 4x lebih lama untuk dapat melewati level tertinggi dari awal terjadinya penurunan atau krisis.

CrisisDrawdownMonthsRecovery MonthsRecovery Time Ratio
Asian Crisis-65%15634.2
Global Financial Crisis-62%9171.9
Small Crisis 2013-26%3165.3
Small Crisis 2015-26%5244.8
Average4.1
Crisis dan Recovery Time Pada IHSG

Mengasumsikan IHSG saat ini (di 3,911) adalah Bottom dan menggunakan Recovery Time Ratio rata – rata yaitu 4x dari waktu penurunan maka IHSG perlu waktu selama 44 bulan untuk dapat melewati level tertinggi dari sebelum penurunan (di level 6,636) di April 2019. Perlu diingat bahwa level tersebut bukanlah level All Time High IHSG. Di Februari 2018, IHSG mencapai level tertingginya yaitu di 6,693. Sejak saat itu, IHSG terus berada dalam Downtrend hingga saat ini. Dengan demikian, bila mengacu pada titik All Time High tersebut maka IHSG perlu waktu 25 bulan x 4 atau 100 bulan untuk dapat membentuk New All Time High baru – dan itupun apabila Lowest dari Covid-19 Crisis ini di level 3,911.

Semoga wabah Covid-19 segera selesai.

Babak Baru Perlawanan Terhadap Covid-19

Stimulus Fiskal Sebagai Harapan Untuk Bursa Saham AS

Investor kembali optimis setelah ada harapan Pemerintah AS memberikan stimulus setelah ada kesepakatan antara Pemerintah dan DPR. Saat ini rencana stimulus akan dibawa ke Senat untuk disetujui. Stimulus Fiskal tersebut diperlukan untuk menangani wabah Corona serta untuk meminimalisir dampak negatifnya terhadap ekonomi AS.

S&P500 langsung mencatat (salah satu) kenaikan terbaik sebesas 9.3% dalam satu hari tersebut. Namun The Primary Trader melihat kenaikan S&P500 tersebut belumlah mengindikasikan akhir dari Downtrend yang terjadi sejak akhir Februari 2020. Seperti kenaikan pada awal Maret 2020 (dari ~2,800 ke ~2,890), belum ada indikasi yang cukup bahwa S&P500 dapat membatalkan Downtrend.

Pada awal Maret 2020 tersebut, S&P500 harus Breakout Resistance di ~2,900 untuk dapat membatalkan Downtrend. Oleh karena itu, Downtrend masih intact dan S&P500 kembali turun. Disaat S&P500 mencatat kenaikan sebesar 9.3% dalam satu hari, S&P%500 masih belum mampu Breakout Resistance yang diperlukan untuk membatalkan Downtrend yaitu di ~2,750.

Oleh karena itu, The Primary Trader masih menunggu S&P500 Breakout 2,750 yang membuka peluang untuk membatalkan Downtrend di minggu depan. Sampai saat ini, The Primary Trader masih melihat wabah Corona masih menjadi sentimen negatif yang belum akan selesai selama obat dan atau vaksinnya ditemukan.

VIX Masih Tinggi Tanda Investor Masih Khawatir

Meski wabah Corona belum akan selesai namun Investor tampaknya mulai melihat risiko pasar yang terjadi sedikit mereda dengan adanya paket stimulus fiskal dari AS. VIX menunjukkan penurunan meskipun sempat menyentuh level 80. Level VIX pada Global Financial Crisis (GCF) ada di 96.4 sehingga hanya tinggal 16 poin lagi maka Investor menganggap kondisi saat ini sama gentingnya dengan kondisi pada GFC 2008 lalu.

Penurunan kekhawatiran Investor akan kondisi pasar (yang ditunjukan dengan penurunan VIX) cukup penting mengingat baru – baru ini tampaknya Investor merasa sangat khawatir sehingga memilih Hoarding Cash (USD Index telah menguat ~4% dalam seminggu terakhir) instead of membeli Safe Heaven.

Jual Emas (Safe Heaven), Pegang (Hoarding) Kas

Harga emas saat ini turun dan terancam membatalkan Uptrend yang telah terjadi sejak awal tahun 2019. Emas perlu bertahan di atas USD1,550 untuk mempertahankan Uptrend menuju USD1,800. Breakdown valid di USD1,550 akan mengancam emas turun menuju USD1,370.

Penurunan harga emas adalah salah satu indikasi Investor tidak yakin akan adanya inflasi. Hal ini karena selama ini emas digunakan untuk Hedge Against Inflation. Dengan adanya potensi pertumbuhan ekonomi maka Investor mengincar emas sejak tahun 2018. Tentu harga emas juga naik karena antisipasi adanya perang (dimana pada saat perang, hanya aset emas yang dinilai berharga). Namun tampaknya Investor menganggap kondisi saat ini relatif aman setelah sempat dikhawatirkan terjadi perang AS – Iran di awal tahun 2020 (saat ini harga emas naik 6% di minggu pertama tahun 2020).

Menunggu Aksi Bank Sentral

Minggu depan akan ada jadwal FOMC Meeting The Fed dan RDG Bank Indonesia. Diestimasikan The Fed memotong Fed Fund Rate sebesar 0.75% dari 1.25% menjadi 0.5%. Sementara diestimasikan BI memotong 0.5% dari 4.75% menjadi 4.25%.

Perlu diingat bahwa BI telah menurunkan 0.25% pada bulan Februari dari 5% menjadi 4.75% – lebih cepat dari estimasi karena sebelumnya BI diperkirakan akan menunggu The Fed memotong suku bunganya. Kejadian diluar estimasi kembali terjadi dimana pada awal Maret 2020, The Fed memotong Fed Fund Rate sebesar 0.5% dari 1.75% menjadi 1.25%. Cukup jarang The Fed melakukan Cut Rate di luar FOMC Meeting dan Emergency Cut Rate The Fed terakhir adalah pada tahun 2008 lalu (saat Global Financial Crisis).

rbc

Apabila melihat respon dari The Fed (dan bank sentral lainnya), tentu Investor berpikir bahwa dampak wabah Corona terhadap ekonomi global cukup signifikan.

Bantuan Emiten + Dapen + Asuransi Untuk IHSG

Minggu lalu, secara resmi otoritas mengizinkan emiten buyback sahamnya sendiri tanpa persetujuan pemegang saham. Hal ini karena terjadi penurunan harga saham yang dalam tanpa disebabkan penurunan kinerja perusahaan. Oleh karena itu, banyak emiten yang sudah bersiap untuk buyback namun tampaknya baru terlihat terjadi pada Jum’at 13 Maret 2020. Hari itu, IHSG turun -5% dan memicu penghentian transaksi di awal sesi 1. Namun pada sesi 2, ada lonjakan sebesar 6% dimana tampaknya merupakan Investor Domestik.

Meski terlihat positif, The Primary Trader melihat kenaikan tersebut belum cukup untuk membalikkan tren yang sedang terjadi pada IHSG yaitu Downtrend.

The Primary Trader tidak heran bila IHSG menyentuh level ~4,700. Hal ini karena melihat pada akhir tahun 2015 dimana IHSG dapat turun dan mencapai ~23% di bawah MA200. Saat ini IHSG sudah mendekati ~25% di bawah MA200 dan memang ada indikasi IHSG sudah Bottoming – bila mengaca pada kondisi tahun 2015 tersebut. Memang pada kasus ekstrim seperti GFC 2008, IHSG pernah -105% di bawah MA200 dan tentu The Primary Trader yakin kondisi tersebut tidak akan tercapai di tahun 2020 karena wabah Corona ini.

Meskipun Investor Lokal + Emiten sedang melakukan Buyback untuk menyelamatkan IHSG, The Primary Trader tidak yakin IHSG dapat segera naik. Hal ini karena IHSG perlu dana asing dari Investor Asing untuk naik. Tren Net Sell Asing masih terus terjadi di tahun 2020 dan begitupun sepanjang Maret 2020. Hal ini yang akan menyulitkan IHSG untuk naik.

Namun demikian, perlu diingat bahwa Net Sell Asing yang masif tersebut membuat IHSG saat ini Under Owned Asing. Hal ini dapat memperkecil peluang IHSG kembali turun lebih dalam. Tentu karena tidak ada lagi Seller yang masih memiliki saham – saham IHSG dalam jumlah yang signifikan sehingga ketika Seller tersebut menjualnya maka tercipta penurunan harga.

Kapan IHSG Dapat Naik?

The Primary Trader menilai bahwa masalah saat ini adalah adanya wabah penyakit. Oleh karena itu tentu untuk menyelesaikan masalah maka wabah penyakitnya harus dihilangkan dengan adanya obat penyembuh sekaligus vaksin untuk menghindari penyakitnya. Sampai saat ini belum ada obat atau vaksin yang dapat digunakan secara luas dan aman. Diperkirakan baru akan tersedia di tahun 2020. Namun demikian, setidaknya penyakit tersebut dapat ditekan penyebarannya sehingga kondisi Pandemi dapat hilang.

Wabah Corona di China sudah mulai berkurang. Banyak pasien yang sudah sembuh dan bahkan ~13 RS Darurat sudah ditutup karena tidak ada pasien baru lagi yang membutuhkan RS tersebut.

Tantangannya adalah negara – negara lain karena saat ini penyebaran Corona ada di wilayah Eropa. Perlu diingat bahwa ekonomi Uni Eropa (yang terdiri dari banyak negara di Eropa) adalah ekonomi terbesar kedua di Dunia (lebih besar dari China). Bila ekonomi Uni Eropa menurun akibat wabah Corona maka tentu ekonomi global akan semakin tertekan.

Wabah Corona secara global masih dalam tren meningkat namun penyebaran di negara – negara setelah China seperti Korea Selatan dan Iran sudah mulai terlihat puncaknya. Diharapkan kedua negara tersebut segera pulih dan kasus baru terus menurun. The Primary Trader pun berharap negara Italia, Perancis dan Spanyol sudah mendekati puncak sehingga dalam waktu dekat akan terjadi tren penurunan kasus (tentu dengan pasien sembuh yang lebih banyak).

Investor domestik sedang memantau perkembangan kasus Corona di Indonesia. Per 15 Maret 2020, ada 117 pasien yang positif Corona di Indonesia. Sampai 14 Maret 2020, sudah ada 8 pasien yang sembuh dan dipulangkan sementara 5 pasien meninggal dunia. Bila melihat persentasenya, tingkat kematian Corona di Indonesia tampaknya tinggi (8 / 117 = 6.8%. Perlu diingat bahwa pasien yang terdeteksi positif tersebut baru mulai terjadi di awal Maret 2020. Dengan demikian, perawatan para pasien baru memasuki minggu ke-2. Mengaca pada kasus China, mulai terjadi peningkatan pasien yang dipulangkan dari RS pada pertengahan Februari 2020. Dengan demikian, setidaknya perlu 3-4 minggu untuk dirawat di RS. The Primary Trader berharap pasien yang dipulangkan mulai akan meningkat pada akhir Maret 2020 atau awal April 2020.

Pada saatnya nanti mulai terlihat penurunan kasus Corona, The Primary Trader yakin minat beli akan mulai muncul. Dengan demikian, harapan akan kenaikan IHSG mulai membesar. Untuk saat ini, The Primary Trader perkirakan sebagus apapun stimulus fiskal dan moneter masih belum akan mampu membalikkan tren IHSG dari Downtrend menjadi Uptrend.

Ada banyak Resistance – Resistance baik dari Down Trendline maupun dari Gap Down yang menahan IHSG untuk mengawali Uptrend. Resistance terpenting tentu adalah 5,700 yang merupakan Down Trendline dari sejak pertengahan Januari 2020 serta Lower High terakhir dari penurunan sejak pertengahan Januari tersebut. Resistance berikut adalah dari Gap Down yaitu di level 5,050 – 5,110 serta 5,360 – 5,500.

The Primary Trader sedang bersiap – siap untuk membeli saham karena memang sudah sangat murah sekali. Namun tentu dengan strategi Averaging Down karena saat ini sangat sulit sekali memperkirakan Bottom. Kenapa? Karena ketika terjadi sesuatu yang menakutkan maka Panic Selling akan terjadi dan saat ini, rasionalitas sudah berkurang.

Semoga wabah Corona segera berakhir dan masyarakat Indonesia (serta dunia) segera sehat dan aman.

(Ternyata) Masih Perlu Diwaspadai

IHSG Menuju 4,700 ?

The Primary Trader masih mewaspadai potensi IHSG turun menuju 4,700 karena dampak nyata dari wabah Covid-19 terhadap ekonomi global dan Indonesia.

Wabah Covid-19 sendiri mulai mereda di Wuhan, Hubei dan China sebagai pusatnya. Saat ini justru negara – negara lain seperti Korea Selatan, Italia, Iran dan juga Indonesia sedang berjuang menahan penyebaran penyakit Covid-19. China pun dikabarkan khawatir akan kembali terjadi wabah akibat warga negara asing yang masuk ke negara China. Diperkirakan dalam sebulan ke depan, kasus infeksi Covid-10 di China mendekati nol.

Manufacturing PMI Indonesia di bulan Februari 2020 ternyata berhasil melonjak dari 49.3 menjadi 51.9. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh backloading dari pabrik seiring dengan aktifitas yang memang sudah turun beberapa bulan terakhir. Selain itu, adanya estimasi kenaikan harga bahan baku karena gangguan suplai akibat wabah Covid-19. Dengan demikian, kenaikan Manufacturing PMI tersebut tampaknya tidak bertahan sehingga ekonomi Indonesia (begitupun dengan ekonomi global) masih terancam.

The Fed sendiri akhirnya memutuskan untuk melakukan aksi yang dramatis yaitu dengan menurunkan Fed Fund Rate sebesar 0.5% dan diluar jadwal FOMC Meeting tanggal 19 Maret 2020. Meski Powell mengatakan ekonomi AS masih tumbuh sesuai estimasi The Fed namun wabah Covid-19 menjadi tantangan besar yang jelas di depan mata sehingga The Fed perlu mengantisipasinya. Investor melihat hal ini sebagai aksi ‘panik’ The Fed sehingga bereaksi negatif dengan menjual saham dan membeli obligasi (US Treasury).

Multi-View Technical Analysis Terhadap IHSG

Berdasarkan Bollinger Band, volatilitas IHSG mulai mendekati puncak karena melihat kondisi 2 tahun terakhir. Pada indikator Bandwidth BB yang mengukur jarak antara Upper Band dengan Lower Band, puncak volatilitas IHSG dalam 2 terakhir adalah ketika Bandwidth BB di level 13. Setelah itu, IHSG cenderung Bottoming dan membentuk U-Shape Recovery di tahun 2018 dan V-Shape Recovery di tahun 2019. Namun bila melihat 5 tahun terakhir, Bandwidth BB pernah mencapai level 18 di tahun 2015 sehingga masih ada potensi IHSG bergerak secara volatile dalam Downtrend (baca : masih akan turun dengan tajam).

Menggunakan Weekly Chart dan melihat Long Term Trend, IHSG telah Breakdown Support penting di ~5,750. Setelah ‘berhenti’ di 5,300, kenaikan IHSG saat ini tampaknya adalah Pullback atau kenaikan setelah Breakdown Support (5,750) namun akan tertahan di level Support tersebut yang kali ini menjadi Resistance.

Memang IHSG tampaknya bergerak dalam Downtrend Channel dari sejak akhir 2017 sampai awal 2020 (garis hitam tebal). Namun bila demikian, IHSG berpotensi naik menuju 6,200 dan The Primary Trader meyakini peluangnya kecil.

Satu hal yang penting adalah bila melihat dari sejak GFC 2008, IHSG masih mempertahankan Secular Uptrend selama Up Trendline dari sejak 2011 bertahan. Dengan kata lain, IHSG harus Breakdown 5,000 untuk merubah Secular Uptrend tersebut.

Untuk menuju 4,700 atau bahkan untuk Breakdown 5,000, IHSG tampaknya perlu Selling Power yang kuat. Di minggu ini, Investor Instutisi Indonesia dikabarkan menambah alokasi di pasar saham sehingga ada kenaikan sebesar ~5% dalam seminggu atau ~2.5% per hari. The Primary Trader meyakini Investor Lokal tidaklah cukup untuk mengangkat IHSG.

Sejak tahun 2017, ada Tren Net Sell Asing yang menahan kenaikan IHSG dan cenderung membuat IHSG Downtrend dari 1H17. Namun demikian, saat ini, posisi Akumulasi Asing sudah di bawah level sebelum GFC 2008. Dapat disebut bahwa Investor Asing saat ini sudah Under Owned IHSG. Arguably, ekonomi Indonesia masih sangat menarik sehingga tentu Investor Asing yang ingin mendiversifikasikan portofolio ke Emerging Market harus juga berinvestasi di IHSG. Kita semua masih menunggu saatnya Investor Asing masuk kembali ke Indonesia dan IHSG.

Menggunakan MACD untuk jangka panjang (menggunakan SMA60 dan SMA200 instead of EMA12 dan EMA26), The Primary Trader melihat masih ada ancaman turun karena MACD dalam 2 tahun terakhir masih dapat turun ke level -250 (tahun 2018) dan bahkan ke level -520 (tahun 2015). Flat IHSG di level 6,000an pada pertengahan Februari 2020 tampaknya adalah sinyal Sell dari MACD tersebut.

Kondisi saat ini memang mostly karena ketakutan dan Panic Selling dari Investor. Namun The Primary Trader berargumen bahwa dampak nyata dari wabah Covid-19 belum terlihat sehingga dampaknya dapat lebih rendah dari yang ditakutkan atau justru bahkan lebih besar dari yang diperkirakan. Satu hal yang pasti. Fear masih mendominasi sehingga Investor sedang bersikap Rasional. Kondisi seperti ini membuat prediksi dan analisis kurang berguna namun tentu sikap waspada dan antisipasi akan sangat bermanfaat untuk diterapkan (dalam segala kondisi).

The Primary Trader masih akan mewaspadai pasar saham dan lebih memilih pasar obligasi.