IHSG : Mulai Membentuk Right Shoulder ?

The Primary Trader melihat ancaman IHSG membentuk Head and Shoulders yang dapat membalikkan Uptrend IHSG dari sejak September 2020 (~4,800). Ada potensi IHSG turun menuju 5,200 – 5,500 setelah Head and Shoulders terbentuk dan confirmed dengan terjadinya Breakdown Support di 5,800. The Primary Trader meyakini selama IHSG bertahan di atas 5,200 maka Up Trendline sejak April 2020 (4,200) masih terjaga sehingga IHSG masih akan mempertahankan Uptrend jangka panjang dengan potensi membuat New All Time High di tahun 2021 ini. Dan The Primary Trader percaya IHSG akan membuat New All Time High di tahun ini.

Mungkinkah Terjadi Head and Shoulders ?

Untuk membentuk Head and Shoulders, saat ini IHSG harus sedang membentuk Right Shoulder. Melihat pergerakan sejak Januari 2021, IHSG berhasil melewati level Fibonacci Retracement 61.8% di 6,211 sehingga kenaikan sejak awal Februari 2021 berpotensi bukanlah Dead Cat Bounce. Namun kenaikan IHSG dalam 2 minggu terakhir tidaklah menarik karena hanya terdiri dari Small Body Candlestick dan cenderung membentuk Doji.

Selain itu, volume transaksi saham – saham IDX80+SMC-LIQ (85 saham) sejak pertengahan Januari 2021 relatif sepi dan tidak seramai 4Q20. Oleh karena itu, kenaikan IHSG tampaknya kurang kuat. Saham – saham IDX80+SMC-LIQ yang mencatat “Volume Above Yesterday and Average” terus turun. Bahkan saham dengan “Low Trading Value” mendominasi pergerakan IHSG sepanjang tahun 2021 dan mencapai 73 saham dari 85 Stocklist The Primary Trader.

Oleh karena itu, The Primary Trader meyakini IHSG sedang membentuk Right Shoulder dari Head and Shoulders dan sedang bersiap bergerak Downtrend jangka pendek – menengah menuju 5,200 – 5,500.

Moving Average Analysis

Menggunakan analisis Simple Moving Average periode 20, 60 dan 200 terlihat bahwa MA20 sudah dalam tren turun sejak akhir Januari 2021. MA60 dan MA200 masih dalam tren naik namun kenaikan MA60 relatif melambat karena MA60 Direction turun namun masih di area positif.

The Primary Trader melihat ancaman lain dari analisis Moving Average. MA20 memang dalam tren turun sehingga ada ancaman jelas terjadinya Death Cross antara MA20 dan MA60 yang mengindikasikan Downtrend jangka pendek – menengah. Hal ini tentunya menambah ancaman dari Head and Shoulders.

Strategi Saat Downtrend Jangka Pendek – Menengah ?

The Primary Trader percaya strategi terbaik saat Downtrend adalah dengan Stay Away. Tidak perlu menambah risiko dengan mencari saham yang sedang naik di kala Downtrend. The Primary Trader menyebut saham tersebut berada dalam Technical Rebound (kenaikan di tengah Downtrend). Menurut The Primary Trader, Technical Rebound adalah saat yang tepat untuk Sell On Strength atau Cut Loss On Strength.

Cara lain apabila harus Stay Invested adalah dengan memilih saham – saham yang berada dalam Outperform Trend. Nantikan sharing The Primary Trader untuk mencari saham yang sedang dalam Outperform Trend.

Semoga terinspirasi.

Trend&Pattern 210203 : Saham Pilihan Ketika Menunggu IHSG Di 5,500 (Meski Vaksinasi Di Israel Berhasil)

Israel Sepakati Distribusi Vaksin Pfizer Dipercepat - Kabar24 Bisnis.com

The Primary Trader berharap IHSG masih akan turun mendekati 5,500 dalam 1-2 bulan ke depan dengan alasan ancaman pola Bearish Reversal pattern. Selain itu, ketika IHSG berada di level 5,500an, The Primary Trader berharap akan mulai muncul data fundamental yang bagus antara lain laporan keuangan 4Q20 dan 1Q21 serta pertumbuhan ekonomi Indonesia dan global di 4Q20. Data ini akan menjadi justifikasi penting bagi Investor besar dan Investor Asing untuk membeli lebih banyak aset saham.

Selain data keuangan, tentu diharapkan masyarakat yang sudah divaksin akan semakin banyak dan diharapkan juga kasus Covid-19 akan menurun dan Pandemi terkendali. The Primary Trader melihat sudah ada berita bagus terkait vaksinasi yang berhasil di Israel dan terbukti bahwa pasien yang sudah mendapat vaksin, tetap bisa positif Covid-19 namun gejalanya lebih ringan.

Infographic: Israeli Vaccination Data Cause For Optimism | Statista
Sumber : Statista

Saham dan Sektor Pilihan Pada Saat IHSG Downtrend

Strategi terbaik pada saat market turun adalah Stay Invested dan atau Stay Away. Tentu bagi Trader, Cut Loss juga dapat dipertimbangkan. The Primary Trader menilai perlu adanya analisis lebih lanjut terkait penurunan tersebut. Apabila IHSG turun sebagai bagian dari Short Term – Medium Term Downtrend ditengah potensi Long Term Downtrend maka sebaiknya Stay Invested dan Stay Away karena pada akhirnya harga saham akan kembali naik (dengan catatan saham tersebut bukanlah saham gorengan). Dengan kata lain, apabila kemungkinan IHSG hanya akan turun 1-2 bulan lalu akan naik lagi selama 6 bulan ke depan, tentu tidak perlu dilakukan Cut Loss melainkan “Istirahat”. Ingat bahwa Investasi dan Trading adalah Marathon, bukan Sprint.

The Primary Trader memilih saham – saham yang berada dalam kondisi Outperform dan Uptrend. Saham – saham IDX80 yang dalam kondisi Outperform IHSG adalah sebagai berikut :

Beberapa saham yang dalam kondisi Uptrend pada kuadran Outperform (sehingga pergerakan beberapa hari terakhir lebih baik dari IHSG) adalah AKRA, TOWR, SMSM dan MIKA. Hanya MIKA yang mendapat sinyal Buy Now berdasarkan Stochastic Oscillator. The Primary Trader menyukai AKRA, TOWR serta MIKA.

MIKA : Breakout All Time High

Dengan naik sebesar 6.2%, MIKA Breakout Resistance penting di Rp3,030 yang merupakan level signifikan sejak tahun 2015. MIKA sedikit lagi Breakout All Time High di Rp3,230 pada 2015 tersebut dan tentu secara Analisis Teknikal, Breakout All Time High sangat jelas menandakan potensi Uptrend jangka panjang. Tentu penurunan dalam jangka pendek sangat rawan terjadi mengingat kenaikan yang cepat tersebut. Namun setiap penurunan ditengah potensi Uptrend akan menjadi level Buy yang menarik.

Dengan Breakout Rp3,030, menggunakan Fibonacci Retracement yang diproyeksikan, The Primary Trader perkirakan MIKA dapat melanjutkan Uptrend menuju Rp3,900 – Rp4,000 dalam jangka menengah.

AKRA : Breakout Level Signifikan di Rp3,200

AKRA sedang mencoba Breakout Resistance Rp3,200 yang menjadi level penting sejak tahun 2011. AKRA sempat berhasil Breakout Rp3,200 di Desember 2020 namun tampakny terbukti sulit. Meski demikian, value yang terjadi pada saat mencoba Breakout Rp3,200 cukup signifikan sehingga The Primary Trader perkirakan AKRA akan mampu segera Breakout Rp3,200. Terlebih lagi AKRA telah Breakout Down Trendline dari Oktober 2017 pada bulan Oktober 2020 lalu di Rp2,900an. Dengan demikian AKRA telah mengakhiri Downtrend jangka panjang dan seharusnya sedang mengawali Uptrend jangka panjang menuju Resistance penting berikutnya di Rp5,500.

Ancaman Dead Cat Bounce Pada IHSG

Pergerakan IHSG pada sesi 2 tanggal 2 Februari 2021 mengindikasikan ancaman turun karena 49 saham IDX80 mencatat sinyal Warning Sell. Sementara mayoritas saham IDX80 berada dalam kondisi netral atau tidak tercatat Overbought maupun Oversold. Di akhir Januari 2021 lalu, mayoritas saham tercatat Overbought (karena IHSG turun -8.5%). The Primary Trader menilai beberapa saham masih berpotensi naik karena tidak dalam Overbought namun sinyal Warning Sell tersebut sebaiknya diperhatikan.

Mayoritas saham IDX80 berada di bawah MA20 yang menjadi indikasi Downtrend. Dengan demikian, The Primary Trader relatif mengkhawatirkan kondisi IHSG yang masih berpeluang melanjutkan penurunan.

The Primary Trader memperkirakan IHSG sedang membentuk Head and Shoulders yang merupakan pola Bearish Reversal yaitu merubah Uptrend menjadi Downtrend. IHSG terancam turun menuju 5,200 – 5,500an setelah turun di bawah 5,800. Penurunan di bawah 5,800 akan mengonfirmasi pola tersebut.

Untuk menghindari terbentuknya Head and Shoulders, IHSG harus naik melewati Highest di tahun 2021 yaitu Last High lalu di 6,504. The Primary Trader menilai ancaman Head and Shoulders sudah berkurang bila setidaknya IHSG dapat melewati level Fibonacci Retracement 61.8% di 6,211.

Pertanyaan berikutnya adalah apakah IHSG mampu naik melewati 6,211 sebelum bertanya apakah IHSG mampu naik melewati 6,504 ?

Saat ini IHSG sudah berada di bawah Middle Band atau MA20. Sementara Stochastic Oscillator sudah memasuki area Overbought atau di kisaran 80. Dengan demikian, ada kecenderungan IHSG untuk kembali turun dan berada dalam Downtrend. The Primary Trader perkirakan akan sulit bagi IHSG untuk naik melewati 6,211 terlebih lagi melewati 6,504.

Menurut The Primary Trader, bukanlah hal yang jelek bila IHSG turun di bawah 5,800. Selama bertahan di atas 5,500 yang merupakan Long Term Support – Resistance, potensi Uptrend jangka panjang IHSG masih ada. The Primary Trader meyakini IHSG akan bertahan di atas 5,500 dan berarti juga The Primary Trader berharap IHSG turun sampai 5,500 – 5,600.

Investasi / Trading saham memang seharusnya seperti Marathon. Napas kita harus panjang sehingga penurunan yang ada dianggap sebagai bukti volatilitas yang dapat menjadi ancaman Risiko namun juga mendatangkan Return.

Trend&Pattern 210128 : Sulit Breakout Resistance Highest 2020

Dari awal dibuka pada 21 Januari 2021 sampai saat ini, IHSG telah turun sebesar 5.6% selama 5 hari perdagangan. Sekilas, rata – rata IHSG turun setiap harinya adalah sebesar 1.1% – sebuah angka penurunan yang besar. Pertanyaan kemudian muncul, apakah IHSG masih memiliki potensi Uptrend dan Bullish di tahun 2021?

The Primary Trader ingin mencoba menjawab potensi Uptrend IHSG sepanjang tahun 2021 menggunakan Analisis Teknikal. Meski demikian, sebagai Spoiler yang sudah jelas, pertanyaan yang tepatnya adalah apakah Pandemi Covid-19 dapat berakhir di tahun 2021?

IHSG Sulit Breakout Resistance Highest 2020

Di awal Januari 2021 ini, IHSG terlihat sedang Breakout Resistance dari Highest di tahun 2020 – level yang terjadi karena optimisme Trade Deal AS – China dan seminggu sebelum Wuhan Lockdown yaitu di level 6,348. Ternyata level tersebut relatif sulit untuk di-Breakout. Menurut The Primary Trader, secara sentimen memang level tersebut sulit dilewati karena penyebab level 6,348 menjadi Highest di tahun 2020 masih ada yaitu Covid-19.

Dengan demikian, pertanyaan berikutnya adalah ke level berapa IHSG apabila IHSG masih sulit Breakout 6,348. Saat ini menurut The Primary Trader, Investor sedang menunggu beberapa hal baik selain terkendalinya Covid-19 antara lain :

  • Masuknya Investor Asing berbondong – bondong ke dalam pasar modal Indonesia ataupun dalam bentuk FDI
  • Peraturan Pemerintah terkait UU Omnibus Law yang positif dan sesuai ekspektasi pasar dimana akan dirilis pada Februari 2021
  • Laporan keuangan emiten 4Q20 dan 1Q21

Sebelum sentimen positif yang signifikan tersebut muncul, The Primary Trader perkirakan IHSG dapat terus melemah mendekati ~5,500 (Resistance penting di pertengahan tahun 2020) yang menjadi penentu awal Uptrend jangka panjang. Support terdekat IHSG saat ini yang cukup kuat menurut The Primary Trader ada di 5,800an. Walaupun mungkin turun dalam, perlu diingat bahwa selama tidak turun di bawah level 5,500, IHSG masih memiliki potensi Uptrend jangka panjang dan tentu hal tersebut yang paling penting saat ini.

Indicator Analysis Pada IHSG

Analisis menggunakan 3 Moving Average yaitu MA20, MA60 dan MA200 serta menggunakan modifikasi indikator yaitu MA Direction (arah MA), saat ini belum ada Moving Average yang sedang mengarah ke bawah. Fakta IHSG berada di bawah MA20 memang menunjukkan Bearish namun tentu dapat dikatakan Downtrend jangka pendek karena IHSG masih di atas MA60 dan MA200. Apabila dilihat MA60 Direction dan MA200 Direction yang masih di atas 0 (termasuk MA20 Direction), Uptrend jangka panjang IHSG masih cukup valid.

Menggunakan angka sentimen Investor yaitu 52 Week, saat ini IHSG sedang menguji Support dari Mid Level antara Highest – Lowest IHSG dalam 52 Week terakhir di 5,950an. Meski pun turun dalam, sepanjang awal Januari 2021 lalu, IHSG beberapa kali membentuk New Highest 52 Week – hal ini menunjukkan sentimen yang positif dari Investor.

Sector dan Saham Pilihan

Meskipun strategi terbaik pada saat IHSG berpotensi turun namun dengan menggunakan Analisis Teknikal, ada beberapa ide sektor dan saham pilihan. Menggunakan grafik Trend and Momentum in Sectors, sektor Paper dan Tower layak diperhatikan karena berada di atas 50 yang artinya Uptrend sementara Stochastic Oscillator -nya berada di area netral. Walaupun Uptrend, sektor Healthcare patut diwaspadai karena dalam kondisi Overbought.

Walaupun dalam kondisi Downtrend (Trend Meter atau %B berada di bawah 50), sektor seperti Retail, CPO, Oil&Gas, Toll, Construction, Industrial Area dan Telecom dapat diperhatikan dengan seksama. Alasan utamanya adalah sektor – sektor tersebut mencatat kondisi Stochastic Oscillator yang masih netral.

Pilihan terbaik memang adalah saat Stochastic Oscillator dalam kondisi Oversold. Namun apabila dalam kondisi Downtrend (seperti sektor Textile, Coal, Cigarettes dan Multifinance), The Primary Trader kurang menyukainya.

The Primary Trader memilih saham INKP dari sektor Paper dan TBIG dari sektor Tower.

INKP : Masih dalam Uptrend

INKP telah berada dalam Uptrend sejak akhir November 2020 dimana Middle Band jelas mengarah ke atas. Saat ini IHSG sedang mendekati Middle Band yang masih mengarah ke atas dan Stochastic Oscillator sedang berada di area Overbought.

Pergerakan saham INKP yang relatif Flat mengindikasikan potensi Bullish Continuation – yang berarti masih ada peluang INKP melanjutkan Uptrend. Untuk jangka pendek, Resistance ada di Rp14,000an.

TBIG : Strategi “Highlander”

Salah satu strategi yang The Primary Trader kenal adalah Highlander yang berarti “bermain” pada saham – saham yang sedang bergerak naik tinggi. Akan tetap tentu dengan tetap berhati – hati. TBIG adalah salah satu saham yang masih melanjutkan kenaikan di Januari 2021 dan jauh dari peers-nya yaitu TOWR.

TBIG berada di kisaran Upper Band yang berarti cenderung Overshoot (di atas Upper Band). Namun kecenderungannya adalah apabila suatu saham berada di dekat Upper Band atau bahkan sering Overshoot maka saham tersebut berada dalam Uptrend yang kuat. Tentu hal ini adalah salah satu pilihan terbaik untuk Trading jangka pendek.

Saat ini Stochastic Oscillator mulai berpeluang Crossover dan menandakan sinyal Buy. Kenaikan TBIG dalam jangka pendek berpotensi kembali menyentuh Rp2,400. The Primary Trader tidak selalu menyenangi strategi Highlander dan akan mempertimbangkan ulang Trading TBIG.

Trend&Pattern 210122 : Investor Asing Datang, IHSG Memperkuat Awal Uptrend Sepanjang Tahun 2021

Net Buy Investor Asing

Berdasarkan data Net Buy Sell Asing (NBSA) yang ada pada chart The Primary Trader, bulan Januari 2021 adalah Wave ke-3 masuknya Investor Asing dari sejak tahun 2020. Wave pertama masuknya Investor Asing adalah pada bulan Mei 2020 (setelah PSBB pertama berubah menjadi PSBB Transisi) dan Wave kedua terjadi pada November 2020 setelah disahkan UU Omnibus Law. Secara akumulasi, Investor Asing pun mulai mengakhiri tren Net Sell-nya di bulan November 2020 dan pada Januari 2021 ini mulai terlihat indikasi awal dari tren Net Buy Asing.

Wave ketiga Net Buy Asing sangatlah penting mengingat saat ini IHSG sedang dalam proses Breakout Resistance di 6,348 yang merupakan level Resistance penting. Sebagai pengingat, level 6,348 adalah Highest sepanjang tahun 2020 dan hari tersebut bertepatan dengan ditandatanganinya Trade Deal tahap pertama antara AS dengan China. Sayangnya, seminggu kemudian China melakukan Lockdown massal dan membatalkan mudik Chinese New Year dan menjadi awal pandemi Covid-19 yang masih terjadi sampai sekarang.

IHSG telah memulai proses Breakout Resistance 6,348 di minggu ke-2 Januari 2021 setelah Rally di awal perdagangan tahun 2021. Rally tersebut pun sebenarnya bagian dari akhir Sideways jangka pendek dari Desember 2020 (memasuki suasana libur Natal dan Tahun Baru dan Lebaran). Oleh karena itu, The Primary Trader melihat Sideways IHSG dari sejak pertengahan Januari 2021 sebagai fase istirahat (Rest) sebelum tentunya akan kembali Rally sebagai bagian dari Uptrend. Karena fase Sideways-nya berada di kisaran level Resistance dari Highest In 2020 maka tentu The Primary Trader melihat hal ini sebagai proses Breakout Resistance.

Pantauan Saham Dengan Net Buy Asing

Grafik di atas adalah saham – saham IDX80 yang mencatat Net Buy Asing selama 5 dan 20 hari terakhir. Dari grafik terlihat saham – saham Interest Related seperti Bank mencatat Net Buy yang tinggi dan cukup wajar. Namun ada beberaap saham yang Non-Big Caps yang mencatat Net Buy Asing yang tinggi yaitu KLBF, ANTM, INCO dan TOWR. ANTM dan INCO memang sejak 2H20 ramai menjadi bahasan dan incaran Investor, Trader dan Spekulator sehingga tidak perlu dibahas.

The Primary Trader mencatat KLBF dan TOWR yang mulai terlihat menarik bagi karena Net Buy Asing tersebut dan berdasarkan Analisis Teknikal. The Primary Trader telah membahas KLBF dan dapat dilihat di edisi Trend&Pattern 210118.

Beberapa saham Consumer Related seperti SCMA, TKIM dan ERAA pun cukup mencatat Net Buy Asing yang tinggi sehingga menarik perhatian The Primary Trader.

TOWR : Mengakhiri Fase Throwback Dan Bersiap Mengonfirmasi Bullish Continuation Pattern

TOWR telah Breakout area Resistance di Rp920 – Rp970 dan tampaknya berhasil membentuk Throwback (dengan bertahan tidak turun di bawah Rp920) sehingga memvalidasi Breakout Resistance tersebut. Penurunan sejak Agustus 2020 terindikasi sebagai bagian dari Bullish Continuation Pattern (Bullish Flag?) sehingga ada indikasi TOWR kembali melanjutkan Rally dari Rp550 – Rp1,150. Tentu TOWR harus Breakout Resistance dari Bullish Pattern tersebut yaitu di Rp1,100. Setelah Breakout Rp1,100 dan mengonfirmasi Bullish Continuation Pattern, menurut The Primary Trader, dalam jangka panjang TOWR berpotensi menuju Rp1,700.

SCMA : Mengakhiri Downtrend Jangka Panjang, Memulai Uptrend Jangka Panjang

The Primary Trader menyukai fakta bahwa SCMA berhasil Breakout Down Trendline SCMA dari sejak 2H14 (!). Down Trendline yang terbentuk pun sangat rapi yang menandakan kuatnya Downtrend. Oleh karena itu, setelah Down Trendline tersebut berhasil di-Breakout di level Rp2,000an pada Desember 2020, The Primary Trader memperkirakan Uptrend yang terbentuk pun seharusnya cukup baik dan berlangsung dalam jangka panjang. The Primary Trader prediksi SCMA berpotensi melanjutkan kenaikan dalam Uptrend menuju Resistance di Rp3,500 – dalam jangka menengah atau panjang.