IHSG : Bottom – Up Approach Mengindikasikan (Masih Ada) Ancaman Downtrend

IHSG terlihat Breakout dari Sideways sejak April 2020 yang menandakan potensi kenaikan menuju 5,700. Bila IHSG berhasil naik di atas Fibonacci Retracement 61.8% di 5,400 maka ancaman Downtrend berkurang dan IHSG berpotensi berada dalam Uptrend menuju (minimal) 5,700. Bahkan sangat terbuka kemungkinan IHSG kembali ke level 6,400 – 6,700. Hal ini berpotensi terjadi bila IHSG berhasil naik melewati 5,400 yang mana hal tersebut terjadi setelah IHSG Breakout 4,650 (Breakout Sideways sejak April 2020).

Breakout 4,650 tampaknya telah terjadi sejak akhir April 2020 namun sepanjang Mei 2020, IHSG terlihat kembali Sideways di level 4,500-an. Hal ini yang membuat The Primary Trader masih meyakini Downtrend belum selesai dan masih ada potensi penurunan sebagai One Last Drop untuk IHSG membentuk Bottoming atau Bullish Reversal Pattern.

Menggunakan pendekatan Bottom – Up Analysis, The Primary Trader ingin melihat saham – saham konstituen IHSG yang berpengaruh (Big Caps). Dapat disimpulkan bahwa saham – saham Big Caps tersebut relatif membentuk Bearish Continuation Pattern yang menunjukkan saham tersebut masih berpotensi Downtrend. Bila demikian maka seharusnya IHSG pun sedang bersiap kembali Downtrend.

Berikut adalah saham – saham dengan masing – masing kategori yang semuanya mengindikasikan kelanjutan dari Downtrend :

Descending Triangle (atau menyerupai) : BBRI dan BMRI

Symmetrical Triangle (atau menyerupai) : ASII, INTP, PGAS dan SMGR

Strong Down Trendline : HMSP, ICBP, GGRM dan UNTR

Saham – saham Big Caps di atas menunjukkan ancaman Downtrend atau segera kembali turun dalam Downtrend. Dengan demikian, IHSG tentu akan turun mengikuti saham – saham tersebut. The Primary Trader masih berhati – hati dan waspada.

The Primary Trader Daily 13 Nov’19

Sudah Bottom-kah IHSG ?

Pergerakan IHSG di 3Q19 tampaknya kurang bagus karena sentimen laporan keuangan serta adanya ketidakjelasan dari Trade War AS – China. Penurunan suku bunga The Fed pun tidak terlalu menolong karena The Fed tampaknya enggan melanjutkan kebijakan Cut Rate – yang sangat ditunggu Investor. Tren Cut Rate justru dilakukan oleh Bank Indonesia namun dampaknya kemungkinan besar baru akan terasa di tahun 2020 (untuk pasar saham).

The Primary Trader beropini bahwa IHSG sudah mengakhiri Sideways-nya dan bersiap untuk mengawali tren – baik Uptrend maupun Downtrend.

Dandy Rotation

Saham di kuadran Outperform yang layak menjadi pertimbangan utama adalah BRPT, MAIN, INTP, DMAS dan BPTS. Saham alternatif (diluar kuadran Outperform) yang dapat dipertimbangkan adalah BBNI dan MNCN.

DMAS sangat berpotensi menjadi incaran Investor seiring memasuki tahun 2020 dimana diperkirakan akan semakin banyak investasi yang masuk dimana salah satunya adalah dengan membangun pabrik di kawasan industri.

Ada indikasi perbaikan di sektor Cement yang mana berpengaruh juga dengan INTP (selain positif untuk SMGR). Harga jual semen INTP yang Flat di tahun 2019 (tidak turun) mengindikasikan kompetisi di sektor Cement mulai berkurang. Dengan kembalinya sifat Oligopoli di sektor Cement, seperti SMGR, INTP pun berpotensi mendapat keuntungan.

The Primary Trader menyukai potensi bisnis Media yang banyak terkait dengan unsur teknologi. MNCN tampaknya adalah yang paling siap untuk masuk ke bisnis Over The Top dibanding SCMA. Selain itu, ada sentimen positif pada MNCN karena Angela Tanoesoedibjo menjadi Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.