Sektor Telekomunikasi Berpotensi Outperform IHSG. EXCL Layak Menjadi Pilihan.

Ratio Chart Sektor Telecom dengan IHSG terlihat berada di Support dari sejak 2Q19. MA20-nya memang masih turun namun mulai melandai dan hampir terjadi Golden Cross yang artinya Sektor Telecom berpotensi memasuki Outperform Trend terhadap IHSG. Bila melihat kejadi dari sejak 2Q19 lalu, kecenderung saham – saham Telekomunikasi (TLKM, EXCL dan ISAT) bergerak Outperform IHSG dapat bertahan 3 – 6 bulan.

Dari tiga saham Telekomunikasi yang masuk menjadi bagian dari Sektor Telekomunikasi di atas, The Primary Trader melihat saham EXCL memulai Outperform Trend terhadap IHSG. Pada awal Oktober 2020, Ratio Chart EXCL – IHSG berhasil Breakout MA20 atau Golden Cross sehingga menurut The Primary Trader, saham EXCL memasuki Outperform Trend terhadap IHSG.

Saham – saham lain di sektor Telekomunikasi seperti TLKM dan ISAT masih dalam Underperform Trend karena Ratio Chart TLKM – IHSG serta Ratio Chart ISAT – IHSG masih di bawah MA20.

Dengan demikian, The Primary Trader melihat adanya potensi yang menarik di Sektor Telekomunikasi khususnya EXCL. Secara Analisis Teknikal tradisional, EXCL sedang menguji Resistance dari Downtrend Channel yang terbentuk sejak Juli 2020 yaitu di Rp2,200. Segera setelah Breakout Rp2,200, EXCL berpotensi naik menguji Resistance di Rp2,700 yang cukup kuat dan merupakan bagian dari Down Trendline dari sejak November 2019 (!).

Net Sell Asing di EXCL pun terlihat mulai melandai dan mulai muncul beberapa kali Net Buy Asing dalam 2 minggu terakhir. Cukup menjanjikan – menurut The Primary Trader.

Menggunakan analisis Bollinger Band Complete (ditambah dengan Microscopic Technical Analysis), The Primary Trader dapat menyimpulkan bahwa EXCL yang sudah berada di atas Middle Band atau MA20 berpotensi terus naik karena MA20-nya sendiri mulai mengarah ke atas (dilihat dari Middle Band Direction yang mulai positif). Selain itu, volatilitas berpotensi meningkat karena Bandwidth BB berpotensi mengarah ke atas – yang menandakan jarak antara Upper Band dan Lower Band mulai melebar. The Primary Trader menyimpulkan demikian karena Bandwidth Histogram mulai kembali positif – tanda Bandwidth BB mulai mengarah ke atas.

Menurut Analis, Sektor Telekomunikasi adalah salah satu yang diuntungkan dari UU Omnibus Law karena akan semakin memperkecil persaingan antara pemain Telekomunikasi. Singkatnya, ada potensi industri ini semakin efisien.

Satu hal penting yang The Primary Trader sukai dari EXCL adalah bahwa emiten ini sangat bergantung dengan pendapatan Data. The Primary Trader menyukai pertumbuhan pendapatan Data EXCL di 1H20 sebesar 16.5% setelah tumbuh 4.6% QoQ dan 14.9% YoY di 2Q20 – Thanks to WFH Trend. Persaingan memang makin ketat sehingga pelanggan EXCL berkurang. Namun demikian, tetap pendapatan EXCL secara keseluruhan bertambah.

Perlu diperhatikan bahwa Investor masih menantikan perkembangan UU Omnibus Law yang baru saja disahkan. Perlawanan dari masyarakat tampaknya menjadi kekhawatiran tersebut. The Primary Trader berharap situasi dapat kondusif dan memberikan keyakinan akan sentimen positif dari implementasi UU Omnibus Law ini. Semoga.

Dua Sektor Yang Berpotensi Menarik Di Tengah Trend WFH : Tower Dan Telekomunikasi

Ditengah PSBB karena wabah Covid-19 di banyak daerah serta mulai larangan mudik dalam rangka mengendalikan penyebaran wabah, The Primary Trader ingin melihat dua sektor yang mungkin mendapat sentimen sentimen positif yaitu sektor Tower dan sektor Telekomunikasi.

Sektor Tower dapat terus berjalan seperti biasa dan memperluas jaringan dan pembangunan menara karena sektor ini termasuk yang diizinkan berjalan ditengah PSBB. Selain itu, saat ini pembangunan menara dilakukan di daerah yang relatif terpencil sehingga masih relatif aman. Peningkatan permintaan Data (yang dipicu oleh tren WFH) yang pasti akan menjamin kebutuhan akan menara.

Data Traffic tumbuh secara eksponensial dan sangat mungkin di 1Q20 ini tumbuh lebih tinggi dari sebelumnya. Mirae perkirakan pertumbuhan data sebesar 17% per tahun dari 2019 – 2021. Permintaan data yang terus tumbuh (tinggi) inilah yang menjamin permintaan menara akan tetap ada dan menjaga bisnis di Sektor Tower tetap baik.

Meski demikian, bukan berarti emiten Sektor Tower dan Sektor Telekomunikasi tidak terpukul karena wabah Covid-19 dan PSBB. Ada potensi penurunan karena aktifitas komunikasi ikut turun. Namun seiring dengan tren Work From Home, kebutuhan internet sangat mungkin meningkat terutama untuk emiten Telekomunikasi yang fokus di Data yaitu EXCL. Pendapatan EXCL dari bisnis Data mencapai 76% sehingga tren WFH yang memaksa menggunakan internet sendiri berpotensi mendorong permintaan Data.

Menurut estimasi Mandiri Sekuritas, permintaan Indihome dari TLKM berpotensi meningkat dari Rp17.8 triliun di tahun 2019 menjadi Rp22 triliun (naik 23% YoY). Namun kontribusi Indihome terhadap pendapatan TLKM hanya ~15% sehingga relatif kecil. Sehingga meskipun ada penambahan yang tinggi dari Indihome, mungkin kontribusinya terhadap TLKM relatif tidak signifikan – terlebih lagi bila aktifitas komunikasi dari Telkomsel berkurang. Porsi pendapatan Telkomsel terhadap TLKM mencapai 70%. Hal ini sempat membuat Menteri BUMN Erick Thohir mengatakan lebih baik tidak ada Telkom Tbk.

Oleh karena itu, The Primary Trader melihat pergerakan Sektor Tower di tahun 2020 sangat bagus dibanding IHSG dan Sektor Telekomunikasi. The Primary Trader menyimpulkan permintaan Data yang tinggi mungkin lebih positif untuk sektor Tower dibanding sektor Telekomunikasi.

Sektor Tower berpotensi berada dalam trend Outperform IHSG setelah berhasil melewati Resistance dari level tertinggi di 3Q17. Sementara Sektor Telekomunikasi masih harus bergerak naik dan menguji Resistance yang cukup kuat dari sejak 3Q18. Resistance ini berhasil menahan 2x kenaikan Sektor Telekomunikasi.

Saham TOWR dari sektor Tower berhasil mencatat Return 10% YTD dan menjadi satu – satunya saham yang mencatat Return Positive di 2 sektor yang dibahas. Saham TBIG, meski mencatat Negative Return YTD namun lebih tinggi dari Negative Return IHSG dan saham – saham sektor Telekomunikasi.

The Primary Trader melihat saham TOWR sedang menghadapi Resistance kuat di ~Rp915. Level ini berhasil menahan TOWR dari sejak akhir 2015 dan telah kurang lebih 3x diuji namun masih gagal di-Breakout. Menggunakan Fibonacci Retracement, setelah TOWR berhasil Breakout Rp915, ada potensi Uptrend jangka panjang menuju setidaknya Rp1,050. The Primary Trader perkirakan TOWR gagal Breakout dalam waktu dekat namun masih memerlukan satu kali Tech. Correction (turun mendekati Rp750 – Rp850) sebelum berhasil Breakout Rp915.

The Primary Trader melihat TBIG bergerak dalam Downtrend Channel dari sejak Oktober 2019. Namun Downtrend Channel tersebut terlihat sebagai Bullish Continuation dari Uptrend sejak 2Q19 (dari Rp600). Ada potensi lanjutan Uptrend jangka panjang untuk TBIG menuju Rp1,500 namun tidak dalam waktu dekat. TBIG masih harus Breakout Resistance dari Downtrend Channel (yang saat ini) di Rp1,100. The Primary Trader perkirakan TBIG akan terkoreksi terlebih dahulu mendekati Rp900 – Rp1,000 untuk kemudian mengakhiri Downtrend Channel dan menguji Resistance kuat di Rp1,350 sebelum ke Rp1,500.