The Primary Trader Daily 6 January 2020

Photo by Pixabay on Pexels.com

Ancaman Perang AS vs Iran

Serangan AS yang menewaskan jendral Iran Qasem Soleimani membuat Investor khawatir akan terjadinya perang dunia 3. Investor juga khawatir mengenai adanya krisis minyak karena Iran ‘menguasai’ selat Hormutz yang merupakan jalur 35% dari seluruh minyak mentah yang diproduksi secara global (2011). Mayoritas dari minyak mentah tersebut akan didistribusikan ke negara di Asia seperti Jepang, China, India, Korea Selatan dan China.

The Primary Trader merasa wajar bila Investor merasa khawatir akan terjadinya kekurangan suplai minyak secara signifikan sehingga harga minyak (yang diwakili oleh Brent) melonjak. The Primary Trader melihat harga Brent berpotensi mengawali Uptrend menuju setidaknya US$80 setelah Breakout US$70.

Meski demikian, perlu diingat bahwa AS saat ini sudah menjadi eksportir minyak (dan terbesar melebihi Arab Saudi). Oleh karena itu, AS sebagai salah satu negara yang paling membutuhkan minyak, mungkin tidak terlalu terganggu dengan potensi turunnya suplai minyak dari negara – negara Timur Tengah (karena selat Hormutz terganggu). The Primary Trader merasa Brent akan sulit untuk naik melewati US$80 atau bahkan mendekati US$87. Kenaikan harga minyak yang tinggi pun akan mengancam pertumbuhan ekonomi global yang mungkin baru mulai pulih karena adanya Trade Deal fase 1 (yang baru mau ditantandangi tanggal 15 Januari 2020 nanti oleh AS dan China).

Investor juga tampaknya khawatir akan terjadinya perang dunia ke-3 yang dipicu oleh AS vs Iran. Oleh karena itu, adanya kenaikan harga emas yang dianggap sebagai Safe Heaven ketika terjadi perang menunjukkan kekhawatiran tersebut.

Harga emas telah Breakout US$1,500 yang menandakan pola Bullish Continuation yang telah terjadi sejak Agustus 2019 terkonfirmasi. Dengan kata lain, kenaikan harga emas dari Juni 2019 di US$1,260 ke US$1,550 akan kembali berlanjut.

Secara jangka panjang, di tahun 2020 ini, emas berpotensi terus Uptrend menuju US$1,800, level tertinggi sejak November 2011. Emas sendiri sedang dalam Uptrend menuju US$,1700 setelah Breakout US$1,370 di Juni 2019 lalu. Resistance US$1,370 adalah Resistance yang menahan harga emas sejak tahun 2014 sehingga setelah di-Breakout, level tersebut akan menjadi Support kuat. Selain karena ancaman perang, The Primary Trader perkirakan Investor masih berhati – hati akan ancaman Trade War AS – China yang belum sepenuhnya hilang.

Harga BBM Turun. Positif Untuk Saham Sektor Konsumsi dan Retail.

Di awal tahun 2020, harga BBM dari Pertamina, Shell dan Total turun dengan besaran yang cukup besar yaitu sekitar Rp1,000an lebih. Hal ini terjadi karena harga minyak di 2H19 berkisar antara US$56 – US$68. Selain itu, menurut Erick Thohir, Menteri BUMN, harga BBM bisa turun karena pengaruh B30 yang membuat impor minyak mentah berkurang.

Penurunan harga BBM tentu dapat menjaga konsumsi masyarkat sehingga ada potensi positif untuk saham sektor Konsumsi dan Ritel. Memang ada katalis positif juga untuk sektor Rokok namun The Primary Trader melihat, kenaikan harga eceran sebesar 35% dan tren hidup sehat yang semakin menjamur, pada akhirnya akan mengurangi konsumsi rokok.

The Primary Trader memperhatikan saham INDF karena sedang dalam bentuk Bullish Continuation. INDF perlu Breakout Rp8,050 untuk melanjutkan Uptrend menuju setidaknya Rp9,150. INDF pun sedang dalam proses Breakout Rp7,850 yang mengindikasikan awal Uptrend jangka panjang dengan potensi menuju Rp10,000. Selain mie instan, konsumsi tepung serta adanya bisnis CPO menjadi katalis utama INDF. Saham INDF pun termasuk saham Big Caps yang harus dibeli oleh Investor Asing bila ingin berinvestasi di IHSG.

Lebih lanjut mengenai INDF.

Meningkatnya kelas menengah di Indonesia serta mulai banyak kaum milenial yang memasuki kelas produktif (bekerja atau berusaha) akan meningkatkan konsumsi ritel yang popular. MAPI sebagai emiten yang memiliki pangsa pasar di pakaian bermerek serta F&B yang popular seharusnya diuntungkan dari demografi tersebut. Selain itu, dengan turunnya harga BBM, ada harapan dan peluang peningkatan konsumsi tersebut.

The Primary Trader melihat MAPI sedang membentuk Bullish Continuation yang meningindikasikan masih ada harapan Uptrend. MAPI harus Breakout Rp1,100 untuk melanjutkan Uptrend menuju Rp1,300. Ada Resistance dari All Time High di Rp1,180 yang seharusnya dapat di-Breakout bila MAPI berhasil Breakout Rp1,100 dengan baik.

IHSG : Di Awal Uptrend Menguji Resistance di 6,450

IHSG semakin terindikasi Breakout 6,300 karena berhasil bertahan di atas 6,300 tersebut dalam penurunan di 2 hari awal tahun 2020. The Primary Trader perkirakan IHSG akan dapat mendekati level 6,400 di Januari 2020 untuk kemudian menguji Resistance 6,450 di Februari 2020.

Mengenai January Effect dan perkirakan The Primary Trader di bulan Januari 2020.

The Primary Trader juga melihat mulai adanya Foreign Inflow ke IHSG sejak akhir Desember 2019. Hal ini menandakan Investor Asing positif terhadap kabinet Indonesia Maju dimana antara lain ada Sri Mulyani di pos Menteri Keuangan (lagi), Erick Thohir di pos Menteri BUMN dan Basuki Hadimuljono di Menteri PUPR (lagi). Selain itu, ada harapan pemerintah dan DPR segera mensahkan Omnibus Law yang isinya antara lain menyederhanakan aturan – aturan pembentukan usaha serta yang paling penting pemotongan tarif pajak.

Yield SUN10Yr Bersiap Turun

view of city at airport

Current Account Deficit (CAD) 3Q19 Turun, Bersiap Capital Inflow

Bank Indonesia melaporkan Defisit Neraca Transaksi Berjalan (Current Account Deficit atau CAD) di 3Q19 sebesar USD7.7 miliar atau 2.7% dari GDP. CAD 3Q19 membaik karena lebih kecil dari CAD 2Q19 sebesar 2.93% dari GDP.

Tampaknya perbaikan CAD 3Q19 lebih disebabkan karena ada investasi masuk ke Corporate Bond (sebagai Portfolio Investment) ke Pertamina dan PLN yang baru saja mengeluarkan Global Corporate Bond. Selain itu, tidak adanya pembayaran Dividend ke Investor luar negeri seperti di 2Q19 pun menjaga CAD.

The Primary Trader menilai dampak dari perbaikan CAD di 3Q19 akan membuat Investor Asing semakin tertarik berinvestasi di Indonesia. Investor saat ini sedang berharap akan ada Upgrade Rating bagi Indonesia dari peringkat efek, setidaknya dari Fitch atau Moody’s. Bahkan tidak tertutup kemungkinan S&P kembali menaikkan rating seiring dengan harapan tim ekonomi Jokowi di periode 2 (yang ditopang oleh Sri Mulyani yang kembali menjabat sebagai Menteri Keuangan).

Rupiah Dalam Tren Menguat

Penguatan Rupiah dengan potensi menuju Rp13,600 mengindikasikan Investor Asing memandang Indonesia dengan positif. Rupiah sendiri sedang bersiap Breakdown Support di Rp13,900 untuk terus menguat dengan potensi menuju Rp13,600. Meski demikian, kemungkinan Rupiah dijaga oleh BI di kisaran Rp14,000an mungkin akan membatalkan penguatan menuju Rp13,600 tersebut. Setidaknya untuk Rupiah, selama volatilitas menurun (stabil) maka hal tersebut sudah menjadi katalis dan sentimen positif. Rupiah sendiri mulai less-volatile sejak Jun’19.

Ikuti live chart di sini

Begitupun dengan Yield Obligasi Negara

Yield SUN10Yr yang mewakili pasar obligasi di Indonesia memastikan dalam Downtrend sejak awal Okt’19 dengan turun di bawah 7.2%. Saat ini Yield sedang dalam Support di 7% namun setelah Breakdown 7.2% lalu, Yield sedang dalam Downtrend menuju setidaknya 6.5%.

Yield masih mempertahankan Downtrend dari sejak 9% di bulan Okt’18. Perlu diingat bahwa penurunan yield berarti kenaikan harga obligasi. Tentunya hal ini sebagai akibat dari minat dari Investor terutama Investor Asing (bila dihubungkan dengan penguatan Rupiah).

Ikuti live chart di sini 

Strategi The Primary Trader

Membaiknya data makro ekonomi seperti CAD tentu akan langsung berpengaruh dengan pasar obligasi karena berkaitan dengan makro suatu negara. Meski demikian, karena ada pengaruh dari penguatan Rupiah, tentu ada beberapa sektor saham yang dapat menjadi pilihan.

The Primary Trader menyukai sektor yang banyak melakukan impor seperti Retail (MAPI dan ACES) serta KLBF (Healthcare dan atau Pharmacy).