De-eskalasi Di Valuasi Tinggi. Penguatan Rupiah, Katalis IHSG.

De-eskalasi Konflik Namun Bukan Berarti Tenang Karena S&P500 Mahal

The Primary Trader melihat potensi perang Iran – AS semakin berkurang seiring dengan kedua belak pihak tidak melanjutkan serangan balasan (terakhir adalah Iran melontarkan rudal yang dengan ‘sengaja’ tidak mengenai pangkalan militer AS). Saat ini Iran justru sedang dalam tekanan internasional karena ‘tidak sengaja’ menembak pesawat komersial Ukraina. Bahkan karena kecerobahan tersebut, ada tekanan dari masyarakat Iran untuk Ayatollah Khamenei.

Untuk pasar modal, hal tersebut terlihat pada index VIX yang menunjukkan risiko pada S&P500. Tampaknya VIX berhasil kembali melemah mendekati level standar minim risiko di 10. VIX terlihat telah bergerak Downtrend dari sejak Agustus 2019 lalu. Saat ini ancaman – ancaman Trump terhadap China semakin gencar (peningkatan tegangan Trade War). The Primary Trader melihat Down Trendline dari sejak itu sampai saat ini. Perlu dicatat bahwa bila terjadi kejadian yang berisiko tinggi dan VIX naik melewati (Breakout) Down Trendline tersebut maka VIX berpotensi terus naik menguji Resistance – Resistance penting di level 20 dan 24.

Kenaikan VIX selanjutnya dapat mengancam pergerakan S&P500 yang saat ini sudah mendekati level 3,300. Level 3,300 adalah target S&P500 sewaktu S&P500 Breakout Resistance di 2,950 pada Juli 2019. Setelah Breakout 2,950, S&P500 mengindikasikan pola Bullish Continuation (dari sejak Juni 2019) dan mengonfirmasi pola tersebut dengan Breakout 3,000 di akhir Oktober 2019. Pada saat inilah S&P50 semakin memperkuat target di 3,300.

Dengan demikian, setelah mendekati 3,300, The Primary Trader mengkhawatirkan Uptrend S&P500 dapat terganggu. Memang akan sulit untuk langsung berubah menjadi Downtrend namun setidaknya ada fase Technical Correction yaitu penurunan wajar ditengah Uptrend. Namun tentu penurunan wajar tersebut dapat mencapai ~5% atau mungkin mencapai 3,000an lagi. Investor lain pun menganggap valuasi S&P500 sudah mahal.

Rupiah Menguat Menuju Rp13,600 Menjadi Katalis Kenaikan IHSG.

Sentimen positif di awal tahun membuat Rupiah menguat dan berhasil Breakdown Support di Rp13,900 yang menahan penguatan Rupiah dari sejak awal tahun 2019. Rupiah berpotensi menguat menuju Rp13,600. Salah satu alasan Rupiah menguat adalah optimisme terhadap ekonomi Indonesia yang membuat Investor Asing masuk ke pasar keuangan Indonesia.

Penguatan Rupiah karena masuknya Investor Asing tentu akan menjadi katalis kenaikan IHSG. The Primary Trader melihat ada kemungkinan (kecil) bagi IHSG untuk mengakhiri Technical Correction di 6,218 pada minggu lalu untuk kemudian naik menuju Resistance penting di 6,450.

The Primary Trader percaya Tech. Correction wajar IHSG dapat mencapai 6,150 – 6,200. Meski demikian, tentu ada katalis – katalis tertentu yang dapat membatalkan perkirakan tersebut. Salah satunya adalah de-eskalasi tensi Timur Tengah tersebut.

Uptrend + Sinyal Buy. Perhatikan TOWR.

The Primary Trader melihat beberapa saham yang dalam kondisi Uptrend dan mendapat sinyal Alert Buy yaitu : TOWR, MEDC dan ANTM. Selain itu, ada beberapa saham dalam kondisi Uptrend dan mendapat sinyal Buy Now yaitu : PTPP, BIRD dan Saham Sektor Coal (UNTR, PTBA dan ITMG).

The Primary Trader menyukai MEDC dan percaya ANTM akan mendapat sentimen positif karena kenaikan harga emas dan nikel. Namun The Primary Trader memperhatikan TOWR karena terlihat TOWR masih berpotensi Uptrend dalam jangka panjang. Setidaknya TOWR dalam jangka pendek dapat naik menuju Resistance penting di Rp920.

Saat ini TOWR sedang dalam Tech. Correction atau Throwback dengan maksimum turun menuju Rp750. TOWR yang telah Breakout Resistance di Rp750 mengindikasikan kelanjutan dari Uptrend karena The Primary Trader melihat penurunan TOWR dari tahun 2019 adalah sebagai Bullish Continuation. TOWR berpotensi melanjutkan Uptrend dari sejak Oktober 2019 di Rp450 sampai Rp850 di awal tahun 2019. TOWR berpotensi naik dalam Uptrend jangka panjang menuju Rp1,200.

Katalis utama untuk Sektor Menara Telekomunikasi di tahun 2020 adalah kemungkinan para operator telekomunikasi mengurangi kepemilikan menara dalam rangka efisiensi operasional. Selain itu, tren G5 tampaknya akan meningkatkan permintaan menara. Strategi perluasan jaringan dari para operator pun masih menjadi katalis pendorong penambahan menara. Dalam waktu dekat, TOWR sedang mengincar menara dari EXCL.

The Primary Trader Daily 8 January 2020

Photo by John Guccione http://www.advergroup.com on Pexels.com

Lelang Perdana SUN Di Awal Tahun 2020 – Sangat Bagus !

Pemerintah melakukan lelang perdana SUN di awal tahun 2020 dan mendapatkan permintaan (Incoming Bid) sebesar Rp81.5 triliun. Target awal adalah sebesar Rp15 triliun sehingga Bid To Cover Ratio (perbandingan antara Incoming Bid dengan target) adalah sebesar 5.4x dan angka ini cukup besar. Permintaan yang tinggi menandakan minat berinvestasi di pasar modal terutama dari Investor Asing. Hal ini positif bagi pasar obligasi dan juga pasar saham.

Yield SUN10Yr masih di kisaran 7.12% namun The Primary Trader percaya Yield akan segera turun menuju 6.5% di pertengahan tahun 2020. Penurunan tersebut ditandai dengan Breakdown Support di level 7%. Terjaganya fiskal Indonesia (karena Ibu Menteri Keuangan, Sri Mulyani), Omnibus Law terutama Cut Tax Rate dan potensi Upgrade Rating Indonesia akan menjadi katalis turunnya Yield SUN (yang berarti kenaikan harga SUN) – menurut The Primary Trader.

Rupiah sendiri sedang bersiap untuk menguat menuju Rp13,600/USD. Namun tentu BI akan concern dan menjaga volatilitas Rupiah untuk stabil. The Primary Trader melihat potensi penguatan Rupiah sebagai minat berinvestasi di Indonesia di mata Investor Asing. Setidaknya untuk 1Q20 ini, Rupiah akan stabil di kisaran Rp13,900 – Rp14,000/USD.

Modal Untuk Penguatan IHSG Sepanjang 1H20

Sentimen saat ini masih negatif karena kekhawatiran perang dan gangguan suplai minyak. Terlebih lagi ternyata ‘balasan’ Iran sudah mulai terlihat. Oleh karena itu, The Primary Trader perkirakan IHSG masih akan kembali melemah setidaknya menyentuh 6,200.

IHSG berpotensi segera mengakhiri penurunan sebagai Tech. Correction dan melanjutkan kenaikan menuju 6,450. Namun tampaknya IHSG lebih cenderung kembali melemah – dalam koridor Tech. Correction. The Primary Trader perkirakan IHSG baru akan mengakhiri Tech. Correction di kisaran 6,150 – 6,200.

Katalis penguatan IHSG di 1H20 yang utama, menurut The Primary Trader, adalah Omnibus Law. Dengan demikian, selama tidak terlihat adanya hambatan berarti pada proses pembuatan UU tersebut maka Investor akan tetap optimis terhadap IHSG.

MEDC : Ophir Masih Berpotensi Menarik

Laporan keuangan MEDC di 9M19 mencatat kenaikan pendapatan sebesar 9% YoY namun ternyata hanya mencapai 45% dari estimasi para analis. Laba bersih di 9M19 pun turun sebesar -32% YoY karena ada biaya – biaya yang naik (seperti biaya depresiasi) tinggi. Laba bersih MEDC di 9M19 yang telah lama ditunggu hanya mencapai 29% dari estimasi para analis.

Namun dampak Ophir di 3Q19 lalu berhasil mendorong pendapatan MEDC sebesar 14% QoQ dan 19% YoY. Hal ini menurut The Primary Trader menunjukkan potensi Ophir terhadap MEDC.

The Primary Trader masih melihat MEDC dalam pola Bullish Continuation sehingga kenaikan dari Rp615 di November 2019 masih berpotensi berlanjut yang membuat MEDC menguji Resistance di Rp1,100. MEDC akan mengawali Uptrend jangka panjang (dengan potensi menuju Rp1,600) setelah Breakout Rp1,100.

MEDC : Positif Karena Ophir dan OPEC+

Image result for ophir energy

The Primary Trader menyukai MEDC karena melihat beberapa katalis utama yaitu akuisisi Ophir serta pemotongan produksi dari OPEC+ yang cukup besar sampai Maret 2020.

Katalis #1 : Akuisisi Ophir

MEDC mengumumkan rencana akuisisi Ophir Energy di akhir tahun 2018. Segera setelah pengumuman tersebut, harga saham MEDC naik ~60% dalam ~1 bulan. MEDC secara resmi mengakuisisi Ophir pada Mei’19 dan harga saham MEDC naik ~20% dalam ~1 bulan. The Primary Trader percaya akuisisi Ophir menjadi katalis dan Investor menyukainya.

Alasan Investor menyukai akuisisi Ophir adalah MEDC akan menjadi pemain Upstream terbesar di regional Asia Tenggara. Selain itu, aset Ophir banyak yang sudah berproduksi sehingga akan menambah produksi total MEDC yang pada akhirnya meningkatkan penjualan MEDC.

Namun karena akuisisi Ophir baru mulai di Mei’19 sementara pada Jun’19 MEDC sudah melaporkan laporan keuangan 2Q19 atau 1H19 maka dampak penjualannya Ophir masih belum terlihat. Laporan keuangan MEDC pada 3Q19 yang seharusnya menunjukkan kontribusi Ophir masih dalam audit sehingga belum dirilis. The Primary Trader yakin kontribusi Ophir akan meningkatkan penjualan MEDC di 2H19 cukup signifikan. Selain itu, yang terpenting adalah Production Cost MEDC masih dapat bertahan di bawah USD10 per barel.

Katalis #2 : Production Cut OPEC+

Setelah Aramco IPO (dan berhasil menjadi perusahaan dengan Market Cap terbesar di dunia, mengalahkan Apple), Arab Saudi tampaknya tetap bertekad menjaga kinerja Aramco. Baru – baru ini, OPEC+ (bersama Rusia) sepakat untuk memotong produksi minyak bumi dengan besaran yang cukup signifikan sampai Mar’20. Hal ini menjadi katalis kenaikan Brent.

https://www.dw.com/en/opec-and-russia-agree-to-cut-oil-production/a-51560383

Brent Oil : Menuju USD80

Minyak tipe Brent tampaknya segera Breakout USD70 dan segera naik untuk menguji Resistance berikut di USD80. Pergerakan Brent sejak Apr – Nov’19 mengindikasikan optimisme dari Trade Deal serta harapan tidak terjadi resesi di tahun 2020. Hal ini karena Brent berhasil bertahan di level USD56 dan tidak turun menyentuh USD52 yang merupakan Support dari Up Trendline dari sejak 2016.

The Primary Trader masih kurang yakin Brent kembali dapat melewati USD80 atau bahkan mendekati USD87, level tertinggi dari sejak 4Q14. Setidaknya dengan berada di dalam range USD70 – USD80 maka hal tersebut dapat menjadi katalis positif untuk harga penjualan minyak mentah MEDC.

Technical Strategy : Mengakhiri Downtrend, Mencoba Mengawali Uptrend

MEDC telah Breakout Rp885 yang menandakan potensi untuk mengakhiri Downtrend. Untuk mengawali Uptrend, The Primary Trader percaya MEDC harus Breakout Resistance Rp1,000 yang telah menahan Uptrend MEDC dari sejak Agust’18.

The Primary Trader percaya penurunan MEDC dalam 2-3 hari ini adalah sebagai Throwback yang seharusnya tidak lebih rendah dari Rp850 – Rp885. MEDC masih berpotensi naik untuk menguji Resistance di Rp1,000.

Dengan dua katalis utama tersebut, The Primary Trader percaya MEDC dapat Breakout Rp1,000 untuk mengawali Uptrend menuju setidaknya kembali ke Rp1,600. Hal ini karena dengan Breakout Rp1,000 maka MEDC mengawali Uptrend jangka menengah – panjang.