Net Buy Asing Dan Saham Pilihan

The Primary Trader mencoba melihat pergerakan Investor Asing terhadap IHSG. Seiring dengan Investor Global bersiap masuk ke Asia termasuk Indonesia, ada beberapa peluang yang menarik menurut The Primary Trader.

Masih Dalam Tren Net Sell Asing

Investor Asing mulai Net Buy cukup signifikan pada IHSG sejak awal November 2020. The Primary Trader mencatat Net Buy Asing sebesar Rp 5.6 triliun dari November 2020.

Namun demikian, angka tersebut masih sangat kecil sekali dibandingkan Net Sell sebesar Rp 57.8 triliun dari awal tahun 2020. Dengan demikian, tren Net Buy Sell Asing masih belum beruah yaitu tren Net Sell.

Net Buy Asing Pada Saham IDX80

The Primary Trader memilih saham – saham IDX80 yang sudah mencatat Net Buy Asing dalam 5 dan 20 hari terakhir. Dengan demikian, Net Buy tersebut bukan merupakan Investor Asing yang “telat” masuk.

Berikut adalah grafik Net Buy Asing dalam 1 dan 5 hari terakhir :

Terlihat bahwa saham BBCA sangat jauh mencatat Net Buy Asing dibandingkan saham – saham IDX80 lain. Hal ini dapat dimaklumi karena Market Weight BBCA sangatlah besar dengan fundamental yang sangat kuat sehingga Investor Asing (maupun Investor Institusi lain) yang berinvestasi dengan dana banyak pasti harus membeli BBCA.

Dari grafik di atas, masih terlihat ada 3 saham yang Outlier yaitu MDKA, ASII dan BBRI. Dari 3 saham tersebut, hanya MDKA yang patut dicatat karena merupakan saham Small – Medium Cap yang memang memiliki “Good Investment Story”. Selain itu, ketidakpastian dianggap masih ada ditengah Pandemi Covid-19 dan berita 2 vaksin besar yang diyakini aman. Dengan demikian, berinvestasi emas atau emiten produsen emas masih dapat dipertimbangkan. Oleh karena itulah MDKA memang wajar menjadi incaran Investor termasuk Investor Asing.

Bila ketiga saham Outlier tersebut dikeluarkan maka saham – saham IDX80 yang mencatat Net Buy Asing dalam 5 dan 20 hari terakhir adalah sebagai berikut :

Dari grafik di atas, The Primary Trader melihat saham SMGR, SMSM, MYOR, KLBF, BBTN dan INTP mendapat sinyal AlertBuyNow. Dengan demikian, dapat dipertimbangkan untuk transaksi besok (18 November 2020). Dari saham – saham tersebut, ada beberapa saham yang menarik menurut The Primary Trader.

BBTN : Potensi Inverted Head And Shoulders

BBTN mencatat Downtrend sejak awal 2018. Namun Down Trendline yang menandakan Downtrend tersebut telah di-Breakout pada awal November 2020 lalu. Dengan demikian, sangat besar peluang BBTN untuk mengakhiri Downtrend jangka panjang dan tentu berpotensi memulai Uptrend jangka panjang.

The Primary Trader pun melihat BBTN membentuk Bullish Reversal (Inverted Head and Shoulders). Volume pada saat Right Shoulder secara signifikan lebih tinggi dari sebelumnya yang menunjukkan kondisi yang ideal. Dengan demikian, selain Breakout Down Trendline-nya berarti valid, pembentukan Right Shoulder pun valid yang ikut memvalidasi Inverted Head and Shoulders.

Paska Breakout Rp1,400, BBTN berpotensi mengawali Uptrend jangka panjang dengan target minimum di Rp2,400. Perlu dicatat bahwa level Rp2,000 – Rp2,100 sangatlah signifikan melihat pergerakan BBTN sejak tahun 2010.

KLBF : Long Term Bullish Continuation (!)

Melihat pergerakan KLBF dari sejak tahun 2015, terlihat Downtrend jangka panjang yang mungkin tidak menarik – kecuali dalam jangka pendek kemarin dimana KLBF berhasil naik dari 86% dari Rp830 menuju Rp1,600. Namun The Primary Trader menyukai potensi KLBF dalam jangka (sangat) panjang sekali.

Apabila dilihat menggunakan Monthly Chart dan Line Chart maka KLBF akan terlihat sebagai berikut :

Chart KLBF di atas terlihat seperti Bullish Continuation dari sejak tahun 2014. Sideways sejak 6 tahun terakhir terindikasi berpotensi melanjutkan kenaikan dari sejak tahun 2008 (!) dari Rp100an sampai Rp1,900an. Sambil berangan – angan, KLBF berpotensi naik menuju Rp3,400 (dalam jangka 5 – 10 tahun ke depan) setelah Bullish Continuation-nya divalidasi dengan Breakout di level Rp1,600an.

MYOR : Uptrend Belum Selesai

MYOR adalah cerita saham yang telah Breakout Long Term Down Trendline (dari sejak Juli 2018) di Rp2,100 pada April 2020 lalu sehingga sampai saat ini MYOR masih berada dalam Uptrend. Potensi terdekat MYOR ada di Rp2,700 namun melihat Breakout April 2020 lalu, ada potensi MYOR menuju Resistance di kisaran Rp2,900 yang merupakan level signfikan pada Maret – Juli 2018.

Semoga terinspirasi.

Beli Saham – Saham Yang Dibeli Oleh Manajemen / Owner-nya

The Primary Trader menyukai saham – saham yang dibeli oleh manajemen (direksi) maupun owner atau pemegang sahamnya. Hal ini menunjukkan beberapa hal yaitu :

  • Saham tersebut sudah sangat murah dibandingkan dengan valuasi wajarnya (walaupun setelah disesuaikan dengan kondisi yang mungkin sedang memburuk pada saat itu)
  • Penurunan harga saham tidak wajar dan tidak sesuai dengan kondisi pasar, kondisi perusahaan maupun kondisi ekonomi
  • Harga saham turun karena sentimen lain seperti dikeluarkan dari indeks acuan, karena Cover Short ataupun karena proses Repo

Perlu dicatat bahwa pihak yang pastinya paling memahami kondisi perusahaan dan bisnis sektor tersebut adalah manajemen dan atau pemilik / pemegang saham. Oleh karena itu, ketika mereka membeli atau menambah kepemilikannya tentunya adalah karena mereka mengetahui sesuatu yang tidak diketahui orang banyak.

Emiten memang wajib memberikan keterbukaan informasi namun aturan tersebut pun memberikan manajemen batasan dan rambu. Pemilik saham pun tentu memiliki rencana – rencana yang belum bisa dan belum perlu diumumkan ke publik sehingga ketika pemilik saham tersebut yakin (dan setelah mengikuti prosedur yang berlaku), pemilik saham serta manajemen dapat membeli saham tanpa menyalahi aturan. Masyarakat dapat mengikuti langkah – langkah manajemen dan pemilik saham.

Direksi Beli Saham

Bisnis.com melaporkan empat direksi membeli sahamnya yaitu :

  • Jahja Setiaatmadja : Presiden Direksi BBCA
  • Andre Sukendra : Direktur Utama MYOR
  • Prijono Sugiarto : Presiden Direktur ASII
  • Harry Sanusi : Presiden Direktur KINO
View this post on Instagram

Direksi Emiten Belanja Saham Saat Pandemi, Kamu Gimana? 🤔 _ Sejumlah direksi dari perusahaan terbuka menambah kepemilikan sahamnya di tengah pandemi Covid-19. Nah, kali ini Bisnismin ingin mengumpulkan direksi dari 4 emiten yang sudah menambah kepemilikan saham mereka nih. _ Misalnya, ada Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk. Jahja Setiaatmadja, Direktur Utama PT Mayora Indah Tbk. Andre Sukendra, Presiden Direktur PT Astra International Tbk. Prijono Sugairto, dan Presiden Direktur PT Kino Indonesia Tbk. Harry Sanusi. _ Corporate Secretary BCA Raymon Yonarto menjelaskan bahwa tujuan bertambahnya saham jajaran direksi emiten berkode BBCA adalah untuk investasi jangka panjang. _ Sementara itu, Corporate Secretary MYOR Yuni Gunawan mengatakan bahwa bertambahnya kepemilikan saham Direktur Utama MYOR bertujuan untuk investasi dengan status kepemilikan saham langsung. _ Di tempat yang berbeda, turunnya harga saham ASII pada Maret 2020 seakan jadi momentum bagi para direksi menambah kepemilikan sahamnya. Presiden Direktur ASII Prijono Sugiarto tercatat memborong 5,92 juta lembar saham ASII sepanjang 2020. _ Adapun demikian, Presiden Direktur Kino Indonesia Harry Sanusi menilai tertekannya IHSG akibat pandemi Covid-19 bukanlah karena fundamental bisnis dan bubble. "Kalau [pandemi Covid-19] selesai, pasti ekonomi akan balik kembali," demikan ungkapnya. _ Melihat sejumlah direksi perusahaan terbuka yang justru berbelanja saham di tengah pandemi Covid-19, gimana nih pendapat Sobat Bisnis? Ingin ikut beli juga atau justru punya pendapat lain? 🤔 _ Kita obrolin di kolom komentar yuk, tapi jangan lupa baca berita lengkapnya dengan klik link di bio @bisniscom ya. 🤗 _ #InfografikHarianBisnisCom #DireksiPerusahaanTerbuka #ASII #KINO MYOR #BBCA #Covid19 #VirusCorona #BelanjaSahamSaatPandemi

A post shared by Bisnis.com (@bisniscom) on

Dari keempat emiten tersebut (BBCA, MYOR, ASII dan KINO) dan dengan menggunakan Ichimoku Kinko Hyo, The Primary Trader ingin melihat saham MYOR sangat menarik dalam jangka pendek – menengah karena satu – satunya dari keempat saham tersebut yang telah berada di atas Red Cloud (mengindikasikan Uptrend). Selanjutnya ada KINO yang saat ini sedang mendekati Red Cloud atau Resistance di kisaran Rp2,900 – 3,200.

Di antara ASII dan BBCA, The Primary Trader lebih memilih BBCA karena Red Cloud-nya relatif lebih kecil dibanding ASII. Ketebalan Red Cloud pada Ichimoku Kinko Hyo menunjukkan kekuatan Resistance dimana semakin tebal maka Resistance semakin kuat.

Secara urut, dari keempat emiten tersebut, berikut adalah preferensi The Primary Trader : MYOR > KINO > BBCA > ASII.

Sekilas menggunakan Analisis Fundamental, tentu sektor Konsumsi terbukti yang paling bertahan dalam kondisi krisis. Memang MYOR dan KINO bukanlah konsumsi utama seperti UNVR, INDF ataupun ICBP. Namun disaat banyak pegawai (kelas menengah ke atas) yang Work From Home, permintaan kopi (dan makanan ringan) meningkat. Tentu hal ini menjadi sentimen positif untuk MYOR dan KINO.

Di saat PSBB dan Pandemi serta paska Pandemi di tahun 2020, permintaan mobil sangat mungkin turun sehingga kondisi ini menjadi sentimen negatif bagi ASII maupun grupnya seperti AALI dan UNTR. Mungkin untuk AALI masih ditopang oleh sentimen B30 di Indonesia dan B20 di Malaysia serta persiapan B50 dalam 2-3 tahun ke depan di Indonesia. Namun untuk UNTR, permintaan alat berat serta harga batubara sedang tidak bagus. Penjualan Komatsu turun -70% YoY di 4Q19 (!). Bisnis tambang emas UNTR mungkin bagus namun porsinya dari pendapatan UNTR masih relatif kecil (17% di tahun 2019).

Secara umum, BBCA adalah proxy bagi IHSG serta menjadi saham utama bagi Investor Asing dan Investor Institusi Domestik. Terlepas dari kondisi sektor Perbankan dan BBCA itu sendiri, bila Investor berminat membeli saham maka BBCA pasti menjadi incaran.

Lihat pembahasan ASII dan BBCA sebelumnya di sini.

Owner Menambah Kepemilikan

The Primary Trader menyukai TP Rachmat dan saham – sahamnya. Oleh karena itu ketika diberitakan Teddy Rachmat (panggilannya) membeli ASSA, ada potensi saham tersebut menarik. Pada bulan Februari 2020, kepemilikan TP Rachmat naik dari 5.02% menjadi 5.14%.

Saham Adi Sarana (ASSA) Diborong TP Rachmat, Harganya Langsung Bergerak Naik

Menggunakan indikator yang sama, tampaknya ASSA masih dalam Downtrend dan akan sulit berubah menjadi Uptrend karena Red Cloud-nya cukup tebal di rentang Rp360 – Rp440. Meskipun bergerak di bisnis otomotif namun The Primary Trader menyukainya karena ada kemungkinan tren ke depan adalah masyarakat tidak lagi membeli mobil namun menyewa. Begitupun dengan perusahaan yang terbukti lebih hemat dengan menyewakan mobil ke pegawainya dibanding membeli lalu meminjamkan mobil tersebut ke pegawai atau untuk operasional.

Tentang Kami

Pendapatan ASSA di tahun 2019 naik 25% YoY dengan pertumbuhan bisnis penyewaan kendaraan sebesar 12% YoY. Memang ASSA mencatat penurunan laba bersih sebesar -23% YoY dari Rp142 miliar menjadi Rp92 miliar. Namun hal tersebut dikarenakan investasi bisnis baru antara lain logistik Anteraja (yang harusnya mencatat kinerja yang bagus di saat WFH dan PSBB saat ini). ASSA masih akan ekspansi (senilai Rp2 triliun) untuk membeli armada baru serta untuk mengembangkan bisnis logistik dan automotive marketplace.

Masih ada beberapa cerita dimana owner menambah kepemilikan sahamnya yaitu keluarga Riady menambah kepemilikan di LPKR serta Pieter Tanuri memborong BOLA (Bali United). Namun The Primary Trader lebih memilih MYOR, KINO, BBCA, ASII dan ASSA. Diantara kelima saham tersebut, The Primary Trader menyukai MYOR dan KINO.

Technically Speaking Untuk MYOR dan KINO

MYOR berpotensi segera Breakout Down Trendline dari sejak Juli 2018 di Rp3,240. Dengan Breakout Down Trendline tersebut, ada potensi Downtrend berakhir. Namun The Primary Trader melihat pergerakan MYOR dari sejak awal tahun 2020 hampir membentuk pola Bullish Reversal (mirip Inverted Head and Shoulders). Namun untuk itu, MYOR perlu terkoreksi sedikit mendekati Rp1,800an. Memang MYOR bisa mengawali Uptrend menuju Rp2,500 langsung setelah Breakout Rp2,100 namun The Primary Trader tetap memperkirakan (atau mengharap) ada penurunan untuk mengonfirmasi Bullish Reversal sehingga Uptrend yang terjadi cukup kuat dan stabil.

KINO masih perlu pergerakan lagi untuk mengakhiri Downtrend dari sejak Oktober 2019. Namun The Primary Trader cukup menyukai lowest KINO di Rp2,000 karena apabila dilihat dari Oktober 2018 (Rp1,500), KINO membentuk Higher Low yang merupakan ciri Uptrend. Untuk mengakhiri Downtrend jangka menengah dan melanjutkan Uptrend jangka panjang, KINO harus Breakout Rp2,950 atau turun (Tech. Correction) tapi tidak lebih dalam dari Rp2,000. Setelah Breakout Rp2,950, KINO setidaknya dapat naik menuju Rp3,800.