The Primary Trader Daily 02 January 2020

Photo by Abhiram Prakash on Pexels.com

Sentimen Positif di awal tahun 2020

Peresmian Trade Deal fase 1 pada 15 Jan’20 tentu akan menjadi katalis positif karena dengan demikian, AS akan menurunkan tarif impor dari 15% menjadi 7.5% terhadap barang dari China senilai US$120 miliar dan mempertahankan tarif sebesar 25% terhadap barang China senilai US$250 miliar. Rencana pengenaan barang terhadap US$160 miliar yang efektif 15 Des’19 lalu pun batal karena adanya kesepakatan tersebut.

China dikabarkan akan menambah impor barang komoditas dari AS sebesar US$16 miliar dari US$24 miliar yang rutin diimpor dari AS (seperti Soybean). Dengan demikian, dalam 2 tahun ke depan, China setidaknya akan mengimpor barang koomidtas senilai total US$50 miliar dari AS.

The primary Trader melihat hal ini akan positif untuk pasar komoditas terutama Coal dan Oil&Gas. China dapat memulai kembali produksi pabriknya dan hal tersebut memerlukan komoditas energi seperti Coal dan Oil&Gas.

IHSG : Breakout Down Trendline Jangka Menengah

Dari sejak Jul’19, IHSG telah beberapa kali mencoba naik menuju 6,500 namun gagal sehingga terus turun membentuk Down Trendline jangka menengah (dari 6,460an). Menjelang akhir tahun 2019, IHSG berhasil Breakout Down Trendline tersebut di level 6,300. The Primary Trader melihat hal ini sebagai sinyal bahwa IHSG siap untuk Breakout Down Trendline yang lebih besar lagi (dari sejak Feb’18 di 6,680an).

IHSG masih perlu naik menuju 6,450 untuk Breakout Down Trendline besar dari sejak Feb’18 di 6,680an. Oleh karena itu, Breakout 6,300 menjadi penting karena dapat memperbesar peluang IHSG naik mendekati 6,450 lalu Breakout Resistance tersebut.

Memperbesar Peluang January Effect

Penandatanganan Trade Deal fase 1 tampaknya disukai oleh Investor karena akhirnya berhasil menjadi katalis pendorong IHSG Breakout 6,300. The Primary Trader percaya January Effect di bulan Januari 2020 akan terjadi. The Primary Trader perkirakan IHSG akan kembali mencatat January Effect di Januari 2020 ini. The Primary Trader perkirakan besaran Monthly Return IHSG di Januari 2020 adalah sebesar 1.4% – 1.6% (sesuai dengan kisaran Average Monthly Return IHSG pada saat terjadi January Effect dalam 10 tahun terakhir).

Cek di sini mengenai January Effect pada IHSG.

Mengasumsikan IHSG akan mengalami January Effect dengan Monthly Return yang berkisar antara 1.3% (Average Monthly Return IHSG dalam 10 tahun terakhir) sampai 3.1% (Average Monthly Return IHSG sejak 1996 hanya pada saat terjadi January Effect) maka IHSG pada akhir Januari 2020 berada pada rentang 6,381 – 6,494. IHSG baru dapat Breakout Resistance 6,450 bila ada kenaikan lebih dari 2.5%. Bila melihat IHSG hanya naik sebesar 1.6% pada January Effect dalam 10 tahun terakhir maka setidaknya IHSG masih dapat menyentuh 6,400 di akhir Januari 2020 dan The Primary Trader rasa hal tersebut cukup bagus.

Sektor Pilihan : Komoditas Seperti Coal, Oil&Gas dan Mineral

Memasuki awal tahun 2020 dan mengikuti perkembangan pasar terkini, The Primary Trader memperhatikan sektor Komoditas seperti Coal, Oil&Gas dan Mineral yang memang berada di area Uptrend dengan Momentum yang masih sehat (naik tapi belum Overbought). Sektor CPO dan Plantation sudah memasuki Overbought sehingga rawan terkoreksi. The Primary Trader pun rasa sudah saatnya Sell On News pada sektor tersebut karena program B30 sudah berjalan.

Sektor Uptrend dengan Momentum sehat lainnya adalah Bank dan FMCG yang menjadi Backbone IHSG. Waspada terhadap sektor Cigarettes karena kenaikan harga eceran sebesar 35%.

Sektor yang dapat menjadi perhatian lain adalah Industrial Area yang saat ini berada di dalam kondisi Downtrend namun mulai terlihat kenaikan (Momentum-nya positif).

MEDC : Positif Karena Ophir dan OPEC+

Image result for ophir energy

The Primary Trader menyukai MEDC karena melihat beberapa katalis utama yaitu akuisisi Ophir serta pemotongan produksi dari OPEC+ yang cukup besar sampai Maret 2020.

Katalis #1 : Akuisisi Ophir

MEDC mengumumkan rencana akuisisi Ophir Energy di akhir tahun 2018. Segera setelah pengumuman tersebut, harga saham MEDC naik ~60% dalam ~1 bulan. MEDC secara resmi mengakuisisi Ophir pada Mei’19 dan harga saham MEDC naik ~20% dalam ~1 bulan. The Primary Trader percaya akuisisi Ophir menjadi katalis dan Investor menyukainya.

Alasan Investor menyukai akuisisi Ophir adalah MEDC akan menjadi pemain Upstream terbesar di regional Asia Tenggara. Selain itu, aset Ophir banyak yang sudah berproduksi sehingga akan menambah produksi total MEDC yang pada akhirnya meningkatkan penjualan MEDC.

Namun karena akuisisi Ophir baru mulai di Mei’19 sementara pada Jun’19 MEDC sudah melaporkan laporan keuangan 2Q19 atau 1H19 maka dampak penjualannya Ophir masih belum terlihat. Laporan keuangan MEDC pada 3Q19 yang seharusnya menunjukkan kontribusi Ophir masih dalam audit sehingga belum dirilis. The Primary Trader yakin kontribusi Ophir akan meningkatkan penjualan MEDC di 2H19 cukup signifikan. Selain itu, yang terpenting adalah Production Cost MEDC masih dapat bertahan di bawah USD10 per barel.

Katalis #2 : Production Cut OPEC+

Setelah Aramco IPO (dan berhasil menjadi perusahaan dengan Market Cap terbesar di dunia, mengalahkan Apple), Arab Saudi tampaknya tetap bertekad menjaga kinerja Aramco. Baru – baru ini, OPEC+ (bersama Rusia) sepakat untuk memotong produksi minyak bumi dengan besaran yang cukup signifikan sampai Mar’20. Hal ini menjadi katalis kenaikan Brent.

https://www.dw.com/en/opec-and-russia-agree-to-cut-oil-production/a-51560383

Brent Oil : Menuju USD80

Minyak tipe Brent tampaknya segera Breakout USD70 dan segera naik untuk menguji Resistance berikut di USD80. Pergerakan Brent sejak Apr – Nov’19 mengindikasikan optimisme dari Trade Deal serta harapan tidak terjadi resesi di tahun 2020. Hal ini karena Brent berhasil bertahan di level USD56 dan tidak turun menyentuh USD52 yang merupakan Support dari Up Trendline dari sejak 2016.

The Primary Trader masih kurang yakin Brent kembali dapat melewati USD80 atau bahkan mendekati USD87, level tertinggi dari sejak 4Q14. Setidaknya dengan berada di dalam range USD70 – USD80 maka hal tersebut dapat menjadi katalis positif untuk harga penjualan minyak mentah MEDC.

Technical Strategy : Mengakhiri Downtrend, Mencoba Mengawali Uptrend

MEDC telah Breakout Rp885 yang menandakan potensi untuk mengakhiri Downtrend. Untuk mengawali Uptrend, The Primary Trader percaya MEDC harus Breakout Resistance Rp1,000 yang telah menahan Uptrend MEDC dari sejak Agust’18.

The Primary Trader percaya penurunan MEDC dalam 2-3 hari ini adalah sebagai Throwback yang seharusnya tidak lebih rendah dari Rp850 – Rp885. MEDC masih berpotensi naik untuk menguji Resistance di Rp1,000.

Dengan dua katalis utama tersebut, The Primary Trader percaya MEDC dapat Breakout Rp1,000 untuk mengawali Uptrend menuju setidaknya kembali ke Rp1,600. Hal ini karena dengan Breakout Rp1,000 maka MEDC mengawali Uptrend jangka menengah – panjang.

Bottoming-kah IHSG ?

Pergerakan Sektor Penggerak IHSG

Menggunakan grafik “Trend and Momentum in Sectors” pada 2 tanggal yaitu 11 – 12 Nov’19, The Primary Trader melihat ada potensi sektor – sektor Big Cap seperti Auto dan Telecom mendorong IHSG. Sektor Auto di 11 Nov’19 masih berada di dalam kondisi Downtrend namun Oversold.

Pada 12 Nov’19, sektor Auto sudah berada di luar kondisi Oversold yaitu Netral namun masih dalam kondisi Downtrend. Hal ini menandakan adanya kenaikan. Meski berada di area Netral pada 11 – 12 Nov’19, sektor Telecom mencatat kenaikan pada sumbu x yaitu Momentum Meter (menggunakan Stoch. Osc). Artinya adalah ada kenaikan harga pada sektor Telecom namun masih ada Upside Potential karena belum Overbought.

Sektor lain yang menurut The Primary Trader menjadi pendorong IHSG adalah FMCG dan Banking dimana kedua relatif stabil berada di area Netral namun dalam kondisi Downtrend (di sebelah kiri sumbu y atau Trend Meter yang menggunakan indikator %B dari Bollinger Band). Masih ada potensi kenaikan sebelumnya kedua sektor masuk ke area Overbought seperti pada sektor Tower, Coal dan Paper.

Meski perlahan, sektor Industrial Area tampaknya mulai bergerak naik dan masih dapat diperhatikan karena masih dalam kondisi Netral. Begitupun dengan sektor Oil&Gas yang berbasis komoditas dimana ada kenaikan perlahan namun masih dalam kondis Netral. Kedua sektor tersebut masih memiliki Upside Potential sebelum mencatat Overbought.

Pergerakan Saham Penggerak IHSG

Pergerakan saham di sektor Auto (ASII) dan Telecom (TLKM, EXCL dan ISAT) menunjukkan potensi ASII dan TLKM sebagai pendorong IHSG. Dari pergerakan sejak Agus’19, ada indikasi ASII telah membentuk Bottoming karena penurunannya telah tertahan (indikasi Double Bottom dari Agust’19 dan Okt’19). Sementara itu, TLKM dari sejak Mei’19 telah berada dalam Uptrend. Dengan demikian, penurunan dari sejak Agust’19 terlihat sebagai bagian dari Tech. Correction atau penurunan singkat untuk melanjutkan Uptrend.

BBCA tidak diragukan lagi berhasil menopang IHSG selama ini. Dari Bank BUMN, BBRI bersama BBCA menjaga IHSG tidak turun jauh. Saham Bank BUMN yang berpotensi menopang dan mengangkat IHSG dalam waktu dekat adalah BBNI dan BMRI yang saat ini mencatat Negative Return (dari awal tahun ). Ada indikasi BBNI dan BMRI telah menyentuh Bottom di Okt’19 yang kemungkinan adalah sebagai reaksi antisipasi kinerja 3Q19 yang diperkirakan kurang bagus (namun ternyata hasilnya tidak terlalu mengecewakan).

Sektor FMCG seperti INDF dan ICBP bergerak menarik di 2H19 seiring dengan sentimen negatif atau faktor Pemilu selesai. Ekonomi Indonesia terbukti bertahan karena adanya Domestic Consumption yang memang menjadi sentimen positif untuk sektor FMCG. UNVR sebagai saham besar yang mulai kehilangan sentimen positif-nya tampaknya sulit diharapkan untuk naik dan mendorong IHSG. Hal ini karena menurut The Primary Trader, ada pertumbuhan pada sektor konsumsi makanan seperti INDF dan IBCP. Meksi kebutuhan semakin banyak namun sektor bisnis UNVR dapat dikatakan sudah dalam fase Mature sehingga sulit tumbuh.

Sudah Bottom – kah IHSG?

Volatilitas IHSG dari sejak awal tahun 2019 semakin mengecil. IHSG sempat naik sampai 6% di 1Q19 namun juga sempat turun -6% di 2Q19. Pergerakan IHSG di 2H19 relatif hanya naik sampai 4% – 5% dan hanya turun -3% (dari awal tahun 2019).

Penurunan volatilitas menurut The Primary Trader adalah awal dari suatu tren baik Uptrend maupun Downtrend. Oleh karena itu, The Primary Trader memperkirakan IHSG akan segera mengawali Uptrend. Perlu diingat juga bahwa penurunan volatilitas dapat juga mengindikasikan awal Downtrend. Oleh karena itu, perlu diwaspadai bila terjadi Breakdown pada IHSG.

Level Support Psikologis IHSG saat ini ada di 6,000 dan atau 6,100. The Primary Trader memilih menggunakan Support Psikologis di 6,100 untuk menandakan awal Downtrend – bila terjadi Breakdown 6,100. IHSG perlu Breakout 6,500 untuk memulai Uptrend. The Primary Trader percaya IHSG akan mengawali Uptrend (segera) yang ditandai dengan Breakout 6,500.