Menakar Potensi Penguatan Rupiah

Rupiah Menguat 6% Dalam 30 Hari

Rupiah saat ini berada di level Rp14,135 setelah di bulan September 2020 berada mendekati Rp15,000. Setelah UU Omnibus Law disahkan di awal Oktober 2020, Rupiah yang saat itu berada di Rp14,700 langsung menguat mendekati Rp14,000. The Primary Trader melihat masih ada katalis yang dapat mendorong penguatan Rupiah antara lain sebagai berikut :

  1. Disahkan Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) yang merupakan perjanjian dagang Asia Pasific dengan nilai ekonomi terbesar di dunia. Tentu Indonesai termasuk di dalam RCEP ini.
  2. Kemenangan Joe Biden sebagai Presiden AS yang diharapkan mendorong pertumbuhan ekonomi global dengan AS (dan China) sebagai motornya
  3. Vaksin Covid-19 dari Pfizer dan Moderna yang disebutkan aman dengan tingkat keberhasilan 90% dan 94%

Potensi Penguatan Rupiah Secara Analisis Teknikal

Penguatan Rupiah yang terlalu cepat terbukti tidak baik bagi Indonesia dan Bank Indonesia pun akan mengambil langkah untuk mengerem laju Rupiah. Oleh karena itu, dalam jangka pendek sampai menengah (3-6 bulan ke depan), The Primary Trader perkirakan Rupiah dapat menguat sampai Rp13,600 – Rp13,800.

The Primary Trader melihat level Rp13,600 adalah level signifikan bagi Rupiah sejak tahun 2016 karena level ini menjadi Resistace selama 2 tahun (!). Setelah Breakout Rp13,600 di awal 2018, Rupiah melemah (terhadap US Dollar) sampai Rp15,200. Level ini kemudian dilewati karena Pandemi Covid-19 karena di tahun 2020, Rupiah melemah sampai Rp16,600.

Support di Rp13,800 adalah Up Trendline Rupiah dari sejak akhir 2016 tersebut. Up Trendline ini menunjukkan secara jangka panjang, Rupiah masih berada dalam tren melemah terhadap US Dollar (atau chart USDIDR masih dalam Uptrend).

Peluang Penguatan Rupiah Di Bawah Rp13,600

Melihat historis, Rupiah memiliki level signifikan di Rp12,300, Rp12,900 (dan Rp13,600). Apabila ternyata Rupiah berhasil turun di bawah Rp13,600, Support berikut yang menahan penurunan USDIDR ada di Rp12,900 lalu berikutnya di Rp12,300.

Menurut The Primary Trader, agar Rupiah dapat turun di bawah Rp13,600, kekuatan UU Omnibus Law harus dijalankan dengan baik sehingga mendatangkan banyak investasi asing dan produksi dalam negeri meningkat. Mungkin agak terlalu muluk bila bermimpi Indonesia menjadi negara eksportir seperti negara maju (atau negara berkembang seperti Korea Selatan dan China). Tapi setidaknya, bila Indonesia berhasil mengurangi impor barang “remeh”, Rupiah sudah hampir dipastikan dapat menguat. Tentu penurunan impor yang diharapkan bukan karena Global Lockdown atau PSBB seperti yang terjadi saat ini karena Pandemi Covid-19.

Indonesia Balance of Trade

Dipersimpangan “Mengawali Bottom” Atau “Melanjutkan Bearish”

Rupiah sedang berada di Support dari Uptrend Channel sejak Juli 2015. Bila ternyata Rupiah berhasil terus menguat dari saat ini di Rp15,700, ada potensi tren penguatan Rupiah berlanjut menuju Rp13,500 – Rp14,500. The Primary Trader percaya Rupiah dalam tren menguat namun mungkin akan stabil di kisaran Rp15,000/USD. Setidaknya, The Primary Trader perkirakan Rupiah akan sulit untuk kembali melemah mendekati Rp17,000.

Sentimen yang paling penting adalah dimana Bank Indonesia mendapatkan jalur untuk memperoleh US Dollar dari The Fed sebesar USD60 miliar. Lalu sentimen berikutnya adalah kemungkinan Neraca Perdagangan Indonesia di tahun 2020 surplus setelah Neraca Perdagangan bulan Februari dan Maret 2020 surplus.

Indonesia Balance of Trade

Membaiknya Rupiah tentu juga terlihat dari penguatan SUN. The Primary Trader sempat mengkhawatirkan Yield SUN10Yr dapat terus naik mendekati 9%. Sideways Yield SUN10Yr dari sejak pertengahan Maret 2020 terlihat sebagai Bullish Continuation yang menandakan kenaikan Yield dari 6.5% di awal Maret 2020 menuju 8.5% (dalam waktu 3 minggu) masih dapat berlangsung.

Namun demikian, pergerakan Yield dalam 2 hari terakhir yang turun dari 7.8% ke 7.7% menandakan pola Bullish Continuation (Symmetrical Triangle) berpotensi gagal. Untuk mengonfirmasi pola tersebut (dan membuat Yield naik menuju 9%), Yield harus melewati 8.2%. Tentu dengan kondisi level Yield saat ini (7.8%), ada harapan pola tersebut batal sehingga Yield berpotensi terus turun menuju Support di 7.35%.

The Primary Trader menyukai fakta bahwa ketika Pemerintah Indonesia menerbitkan Pandemic Bond, Yield yang diminta lebih rendah dari obligasi internasional Indonesia dari tahun 2015. Hal ini tentu menunjukkan kredibilatas dan kepercayaan Investor terhadap Indonesia.

Memang rencana Indonesia untuk menaikkan defisit anggaran tahun 2020 menjadi 5.07% dari GDP relatif mengkhawatirkan. Namun hal tersebut adalah Necessary Evil dalam rangka menghadapi Pandemi Corona dan mengurangi dampak negatif terhadap perekonomi Indonesia setelah wabah selesai.

Salah satu kekhawatiran Investor akan peningkatan defisit anggaran tersebut adalah Indonesia dapat kehilangan rating Investment Grade. The Primary Trader setuju dengan Mandiri Sekuritas bahwa peluang Downgrade Rating Indonesia relatif lebih kecil dan justru ada peluang Upgrade Investment Grade karena ekonomi Indonesia di tahun 2020 dapat relatif bertahan dibanding negara – negara lain.

The Primary Trader percaya masih ada potensi penurunan bagi IHSG (terlepas dari pergerakan Rupiah dan Yield SUN). Namun penurunan tersebut adalah One Last Drop dimana dapat dikatakan saat ini IHSG sedang dalam proses mengakhiri Downtrend (atau dalam proses Bottoming). The Primary Trader perkirakan IHSG masih akan turun menuju 3,750 atau lebih rendah dari level Lowest 2020 di ~3,911. Setelahnya, The Primary Trader prediksi IHSG akan mengonfirmasi pola Bottoming (Bullish Reversal) untuk mengakhiri Downtrend dan mengawali Uptrend.

Salah satu katalis penurunan adalah musim laporan keuangan 1Q20 yang mulai pertengahan April 2020 akan dirilis. Tentu The Primary Trader perkirakan kinerja emiten di 1Q20 akan kurang bagus karena mulai sejak Februari 2020, aktifitas ekonomi global dan domestik mulai perlahan terganggu karena wabah Covid-19 ini.

Semoga Pandemi ini cepat selesai. Stay Healthy.

Pilihan Ditengah Kepanikan

Investor Membeli US Treasury

Yield UST 10Yr berhasil Breakdown 1.3% yang merupakan level terendah sejak Sideways dari tahun 2012. Apabila dilihat dari pergerakan sejak September 2019, Yield UST 10Yr melanjutkan Downtrend dari sejak September 2018 dari 3.25%. Terjadi Technical Rebound pada September 2019 dari 1.4% ke 2% di akhir tahun 2019. Karena Yield gagal untuk naik di atas 2% maka terjadinya kelanjutan Downtrend. Dengan demikian, Breakdown Support (dari 2012) di 1.3% menandakan Yield masih akan terus turun.

Investor terlihat terus membeli UST 10Yr yang dianggap Safe Heaven. The Primary Trader bahkan melihat Yield UST 10Y membuat New Low sepanjang masa (!). Hal ini membuka peluang Yield UST 10Yr dapat mengikuti ‘nasib’ Government Bond yang mengasilkan Negative Yield seperti Jerman dan Jepang.

The Primary Trader perkirakan akan terjadi (kembali) Negative Spread yang artinya Investor lebih banyak membeli Yield UST 10Yr dibanding Yield UST 2Yr. Saat ini Spread Yield UST 10Yr dengan 2Yr sedang Sideways di kisaran 0.1% – 0.2%. Kemungkinan dalam 1-2 bulan lagi kan kembali terjadi Negative Spread.

Dampak Terhadap Pasar Modal Indonesia

Investor Asing tampaknya keluar dari Indonesia dimana hal tersebut juga terlihat dari perlemahan Rupiah terhadap US Dollar. Rupiah saat ini berada di Resistance di Rp13,900 yang menjadi Support kuat menahan Rupiah untuk menguat sepanjang tahun 2019. Ada indikasi Rupiah berhasil melewati Resistance Rp13,900 yang berarti ada perubahan minat Investor. Rupiah pun berpotensi kembali melemah menuju Rp14,500 dan membatalkan potens penguatan menuju Rp13,250.

Keluarnya Investor Asing dari Indonesia membuat tidak ada lagi pendorong Yield SUN10Yr untuk terus turun menuju 5.9%. Yield SUN10Yr berpotensi naik menuju 7% dari saat ini di Support (dan target 2020) 6.5%. Yield SUN10Yr masih dalam Downtrend selama bertahan di bawah 7% dan ada Down Trendline di 6.9%an yang menjadi indikasi awal untuk Downtrend terus bertahan.

The Primary Trader perkirakan Yield SUN10Yr masih akan bertahan Downtrend karena Bank Indonesia (dan pemerintah) cukup reaktif dan ahead the curve dalam mengantisipasi perlambatan ekonomi karena Corona. Di bulan Februari 2020, Bank Indonesia menurunkan BI 7DRR Rate sebesar 0.25% menjadi 4.75% dan pemerintah menghapus pajak hotel dan restoran serta menurunkan harga tiket pesawat untuk mendorong pariwisata (dan menjaga daya beli masyarakat daerah).

Peluang Menarik di Pasar Obligasi dan Emas

Pasar Obligasi masih menarik ditengah kondisi panik ini. The Primary Trader pun melihat aset emas tetap dan semakin menarik. Saat ini XAUUSD yang menjadi harga acuan emas internasional masih berpotensi naik menuju USD1,800 dari saat ini di USD1,640an. Berdasarkan pergerakan pada 4Q19, XAUUSD berpotensi naik menuju USD1,800 sementara berdasarkan pergerakan sejak 2017 (dan dari sejak Breakout USD1,370 di Agustus 2019), XAUUSD setidaknya naik sampai USD1,700.

Hal menarik pada XAUUSD adalah bahwa target di USD1,800 adalah Resistance penting emas sejak tahun 2012 dimana saat itu adalah puncak dari harga emas (di USD1,920) pada akhir 2011. Dengan demikian, ada potensi emas kembali berjaya untuk jangka panjang (setelah 8 tahun terakhir mencatat kinerja yang kurang baik). Memang masih panjang perjalanan menuju USD1,800 ataupun USD1,920 namun setidaknya Uptrend XAUUSD yang masih sangat kuat membuka peluang emas menuju level tertingginya tetap terbuka lebar.

Bagaimana Dengan IHSG?

The Primary Trader akan membahasnya setelah kepanikan sedikit mereda 🙂

Mencari Alasan Naik

Dampak Terburuk Wabah Corona

Wabah Virus Corona di Wuhan dan China tampaknya telah terisolasi dan tidak semakin menyebar. Tingkat kematian akibat virus Corona memang lebih tinggi dari SARS namun persentasi tingkat kematian masih relatif rendah dibanding wabah penyakit – penyakit berat lainnya (seperti Ebola). Beberapa Analis memprediksikan puncak wabah Corona akan segera tercapai dalam waktu dekat sehingga diharapkan pasien yang terinfeksi virus serta tingkat kematian mulai menurun.

Meski puncak wabah sudah dekat namun The Primary Trader setuju bahwa dampak ekonomi virus Corona baru akan dirasakan setelahnya. Industri yang paling dahulu merasakan dampak negatif wabah Corona adalah pariwisata. Saat ini para ekonomi tampaknya mulai melihat bahwa pabrik manufaktur (terutama automotif dan elektronik) sudah terdampak karena produksinya yang turun sehingga ke depan, penjualan pun akan turun.

Pada akhirnya, seperti yang ditakuti Investor, wabah Corona dapat memicu perlambatan ekonomi global yang lebih parah dari perkiraan. Memang China (dan AS) tetap bertekad untuk terus menjalankan kesepakatan dagang fase pertama (yang ditandatangani seminggu sebelum awal wabah Corona) namun ada kemungkinan negara lain masih enggan bertransaksi dengan China sampai setidaknya di bulan Maret 2020. Hal ini terlihat dari larangan industri penerbangan. Dengan porsi terhadap ekonomi sebesar 18%, tentu hal ini akan berdampak signifikan baik China, negara tersebut dan ekonomi global.

The Primary Trader setuju bahwa pada akhirnya, bank sentral perlu untuk ikut campur seperti kembali menurunkan suku bunga atau stimulus moneter lainnya. People’s Bank of China (PBOC) cukup cepat menurunkan suku bunga dan menyuntikkan likuiditas untuk mempermudah pemulihan ekonomi. Bank Indonesia disebutkan akan mengantisipasi dampak wabah Corona dan siap untuk menurunkan suku bunga dan memberi stimulus moneter. BI sebelumnya sempat mengintervensi pasar obligasi dengan membeli obligasi pada masa awal wabah Corona (disaat Investor Asing keluar dari Indonesia karena kekhawatiran wabah tersebut). The Primary Trader perkirakan BI akan menurunkan suku bunga di bulan Maret 2020 atau paling tidak di 1H20.

Berita buruk cenderung merupakan berita baik untuk pasar obligasi. Dengan adanya harapan penurunan suku bunga maka pasar obligasi akan menjadi menarik dalam rangka menjamin Return yang lebih tinggi dari Deposito. The Primary Trader masih percaya Yield SUN10Yr dapat turun di bawah 6.5%. Yield berpotensi turun sampai 5.9% dalam jangka menengah namun perlu katalis – katalis tambahan untuk dapat Breakdown Support di 6.5%.

Katalis Positif Untuk Indonesia

Setelah Japan Credit Rating Agency (JCRA) menaikkan Rating Indonesia dari BBB menjadi BBB+, ada harapan pemeringkat efek atau pemberi rating lainnya ikut menaikkan rating. Di minggu ini, Moody’s mempertahankan rating Indonesia dan memberi Outlook Stabil. Artinya adalah rating Indonesia versi Moody’s masih di Baa2 atau setara BBB. Memang di level Investment Grade namun berarti di tahun 2020 ini, Moody’s kemungkinan besar tidak mengupgrade rating Indonesia seperti JCRA. The Primary Trader menilai Moody’s dan S&P relatif lebih ‘pelit’ dalam memberikan rating. The Primary Trader berharap dan memperkirakan Fitch akan mengupgrade rating Indonesia di tahun ini terutama setelah Omnibus Law selesai disahkan (dimana diharapkan) pada 1H20.

Menurut The Primary Trader, ada hal lain yang setidaknya dapat menjadi katalis positif untuk Capital Inflow yaitu Current Account. Saat ini Current Account Deficit Indonesia (2019) berada di level 2.72% dari GDP, membaik dari CAD 2018 sebesar 2.98% dari GDP.

Di tahun 2020, ada potensi CAD kembali membaik karena dua kebijakan utama yaitu : 1) Program B30 dimana ada kandungan CPO (lokal) sebesar 30% dan 2) Kuota Impor Minyak dari Pertamina dipotong 30 juta barel agar Pertamina lebih banyak membeli dari tambang minyak lokal. Hal ini tentu akan mengurangi impor minyak yang cukup signifikan sehingga mengurangi Trade Balance dan memperbaiki Current Account.

Perbaikan pada sisi moneter akan terlihat jelas pada Rupiah. The Primary Trader masih percaya Rupiah dalam tren menguat dengan potensi Rp13,250 – bila tidak ditahan oleh BI. Setidaknya Rupiah masih dapat stabil di kisaran Rp13,600 – Rp13,800 dan akan sulit untuk kembali melemah di atas Rp13,900.

Mulai Beli Saham ?

The Primary Trader melihat IHSG masih memiliki risiko dari pertumbuhan ekonomi Indonesia (dan global). Perlu diwaspada karena Annual Return IHSG sejak tahun 2011 relatif sempit yaitu berkisar antara -13% s.d 20% (bandingkan dengan Annual Return 2003 – 2010).

Annual Return yang tinggi pada IHSG beriringan dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tinggi pada periode tersebut dengan kisaran 6% – 7% per tahun. Perlu diperhatikan bahwa pada tahun 2011, pertumbuhan ekonomi Indonesia mulai (sangat) stabil di 5%. Pertumbuhan stabil di level rendah kurang bagus untuk pasar saham.

Indonesia GDP Annual Growth Rate

The Primary Trader setuju bahwa IHSG sudah murah dan mulai menarik untuk berinvestasi pada saham. Namun pergerakan IHSG dalam seminggu terakhir belum menunjukkan potensi awal Bottom.

IHSG lebih cenderung naik sebagai Tech. Rebound atau kenaikan di tengah Downtrend (menuju 6,000 kemarin). Saat ini IHSG terancam turun sebagai penurunan dalam Downtrend yang berpotensi menuju 5,700 – menggunakan Fibonacci Retracement.

Valuasi murah memang namun pada akhirnya Trend is Our Friend. The Primary Trader masih lebih menyukai pasar obligasi untuk saat ini sampai setidaknya ada katalis yang positif untuk pasar saham yang salah satunya adalah Omnibus Law.

Menjelang Bottom

Mulai Muncul Berita Positif

The Primary Trader memperhatikan bahwa penyebaran wabah virus Corona sudah mulai terkendali karena banyak negara yang menutup pintu masuk sementara terhadap warga China (termasuk Indonesia). Hal ini memang memukul industri pariwisata dan industri penerbangan namun ampuh untuk menghindari penyebaran wabah.

Sampai pagi ini, ada lebih dari 20 ribu kasus Corona dan kematian mencapai 490 orang. Namun menurut WHO, ada 680 orang yang berhasil sembuh dari penyakit Corona tersebut. Hal ini cukup menenangkan karena ada lebih banyak pasien yang sembuh dibanding yang meninggal.

Para dokter di Filipina pun disebutkan berhasil memperbaiki kondisi pasian yang terinfeksi Corona dengan gabungan obat flu dan HIV. Ada harapan penyembuhan dari penyakit infeksi virus Corona ini. Setelah RS khusus Corona (1,000 tempat tidur) di Wuhan selesai dibangun dalam 10 hari (!), kemungkinan metode penyembuhan penyakit ini pun mulai muncul.

China akhirnya membuka diri terhadap pertolongan dari AS agar tenaga ahli medis yang juga merupakan anggota WHO. Harapan penanggulanan wabah Corona seharusnya semakin besar. Beberapa perusahaan farmasi pun mulai menemukan titik cerah untuk obat penyakit Corona meskipun disebutkan perlu setidaknya 1 tahun untuk memproduksi obat dan vaksin yang aman untuk masyarakat.

Berita – berita tersebut menurut The Primary Trader adalah salah satu potensi katalis positif yang dapat mengakhiri penurunan karena wabah Corona.

Menghadapi Dampak Negatif Virus Corona

Menurut The Primary Trader, bukan karena Virus Corona Investor menjual aset saham dan Risky Asset lainnya dan berpindah ke Safe Heaven seperti Emas (yang sempat naik 3% dari sejak wabah memuncak). Investor mengkhawatirkan dampak ekonomi dari banyaknya masyarakat China yang terkena penyakit dan bagaimana miliaran orang di Dunia mengantisipasinya dengan waspada. Industri pariwisata dan penerbangan jelas paling terpukul karena pembatalan jadwal dan penutupan izin masuk. Namun buruh pabrik dan kantor lainnya di China masih banyak yang tutup sehingga praktis aktivitas ekonomi tersendat.

Dilihat dari data Manufacturing PMI, China diharapkan mulai tumbuh namun ternyata, data Januari 2020 menunjukkan penurunan dari 51.5 menjadi 51.1. Penurunan tersebut memang dapat disebabkan oleh antisipasi Chinese New Year dimana banyak masyarakat yang ‘mudik’. Namun karena dampak wabah Corona, ada kemungkinan Manufacturing PMI kembali turun di bawah 50 (ekonomi berkontraksi) dan hal inilah yang menurut The Primary Trader menjadi kekhawatiran utama para Investor.

China Caixin Manufacturing PMI

Untungnya adalah para bank sentral global, termasuk Bank Indonesia, cepat melihat potensi ancaman tersebut. Saat ini para ekonom tampaknya sedang menghitung dampak negatif virus Corona terhadap pertumbuhan ekonomi di tahun 2020. Bank sentral pun seharusnya sedang menghitung perlunya stimulus moneter termasuk penurunan suku bunga. BI sendiri terus mengintervensi pasar sejak wabah terjadi dan mengatakan masih membuka peluang stimulus berupa penurunan suku bunga. Rapat Dewan Gubernur BI ada di 20 Februari 2020 dan 19 Maret 2020. The Primary Trader perkirakan BI akan menurunkan suku bunga di 19 Maret 2020.

Sentimen positif terhadap Indonesia kembali terlihat setelah Japan Credit Rating Agency (JCRA) menaikkan rating Indonesia dari BBB menjadi BBB+ atau level Investment Grade yang lebih tinggi. Tidak mengherankan karena memang JCRA lebih Bullish terhadap Indonesia (dan pihak Jepang banyak berinvestasi pada proyek raksasa di Indonesia seperti Pelabuhan Patimban dan Kereta Cepat Jakarta – Surabaya). Pada lelang SUN kemarin, permintaan yang masuk kembali mencatat rekor yaitu sebesar Rp 96 triliun (dari sebelumnya Rp 94 triliun). Tingginya minat membeli SUN tentu menunjukkan sentimen terhadap Indonesia.

Memang bagusnya lelang SUN akan berdampak pada harga SUN yang akan semakin naik. Kenaikan harga SUN berarti menurunkan Yield sehingga Yield acuan yaitu Yield SUN10Yr masih berpotensi turun menuju 5.9% setelah Breakdown Support kuat di 6.5%.

The Primary Trader melihat intervensi BI terhadap Rupiah menjaga Rupiah untuk tidak terus melemah di atas Rp13,800 namun Rupiah masih terlihat berpotensi menguatmenuju Rp13,250 – dengan Breakdown Support di Rp13,600. Seiring dengan intervensi BI tersebut (dan pandangan pemerintah agar Rupiah tidak menguat terlalu cepat), tampaknya Rupiah akan stabil di kisaran Rp13,600 – Rp13,800. Hal ini cukup baik karena yang terpenting adalah kestabilan mata uang (Rupiah).

IHSG Bottoming ?

Melihat jarak antara MA200 (annual average) dengan IHSG, sejak Oktober 2019, IHSG cenderung berada -5% bawah MA200 sebelum kembali naik. Saat ini IHSG sudah berada -5.2% di bawah MA200 sehingga ada potensi IHSG naik mendekati MA200. Ada potensi kenaikan sebesar 4.6%.

Berdasarkan momentum pergerakan IHSG, The Primary Trader melihat bahwa IHSG cenderung turun -6% dari pergerakan 60 hari lalu (Quarter on Quarter) dan IHSG telah turun sebesar tersebut pada 2 hari lalu. Dengan demikian, terlihat perlambatan momentum penurunan yang dapat diartikan bahwa kekuatan turun (Selling Power) atau minat jual mulai melemah.

Masih ada ancaman IHSG turun menuju 5,690 karena The Primary Trader belum melihat indikasi Bottoming dari Candlestick 2 hari terakhir. Dengan demikian, IHSG masih cenderung terlihat sedang dalam proses Breakdown Support di 5,940 ini.

Harapan kenaikan muncul karena IHSG berada di level terendah sejak 52Week terakhir. Investor jangka panjang terindikasi sering memperhatikan level ini (seperti mereka disebutkan memperhatikan MA200). Dengan demikian, meski belum terlihat indikasi Bottoming, harapan akan terbentuk Bottoming mulai ada karena IHSG cenderung Oversold atau Jenuh Jual dilihat dari posisi 52Wk terakhir.

Tentu katalis positif dari berakhirnya wabah Corona, terbitnya Omnibus Law yang sesuai dan benar serta stimulus berupa penurunan suku bunga BI 7DRR Rate (dan Fed Rate) di tahun 2020 yang akan menjadi katalis utama bagi IHSG.

Mempertahankan BI 7DRR Rate, Menjaga Sentimen Positif

BI Mempertahankan BI 7DRR Rate

BI mempertahankan BI 7DRR Rate sebesar 5%, sesuai dengan estimasi para Ekonom. Ada beberapa hal menarik dari hasil Rapat Dewan Gubernur BI kemarin yang The Primary Trader sukai :

  • BI masih membuka ruang untuk penurunan suku bunga (!)
  • BI tetap akan memberikan kebijakan moneter yang akomodatif dan akan terus bekerjasama dengan pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi
  • BI juga percaya siklus ekonomi Indonesia telah mencapai dan melewati Bottom sehingga ke depan, ekonomi Indonesia mulai dalam tren bertumbuh. BI perkirakan ekonomi Indonesia tumbuh 5.3% YoY di tahun 2020

Menurut The Primary Trader, hal tersebut akan memberikan sentimen positif bagi Investor Asing terhadap Indonesia. Tidak heran bila Rupiah menguat akibat masuknya Capital Inflow.

Rupiah saat ini bertahan di Support Rp13,600 namun sangat terbuka peluang untuk terjadi Breakdown Rp13,600 dan Rupiah terus menguat menuju Rp13,250 yang merupakan level terkuat Rupiah di tahun 2018. The Primary Trader tidak yakin BI atau pemerintah akan membiarkan Rupiah terlalu menguat. Oleh karena itu, The Primary Trader melihat Rupiah akan cenderung bertahan di Rp13,500 – Rp13,700 di 1Q20 ini.

Masuknya Investor Asing ke Indonesia jelas terlihat pada pasar obligasi. Harga SUN tampaknya terus naik sehingga menurunkan imbal hasil (Yield). Terlihat bahwa Yield SUN10Yr hampir menyentuh 6.5% dan The Primary Trader percaya level tersebut akan segera disentuh dalam waktu dekat.

Melihat penguatan yang sangat besar tersebut, The Primary Trader percaya setelah menguji Support di level 6.5%, Yield akan melemah mendekati 7%. Yield masih mempertahankan Tren Menurun selama tidak naik melewati 7.3%. Dengan demikian, The Primary Trader masih melihat dalam jangka panjang, Yield dapat turun menuju 5.9%.

IHSG Mempertahankan Bullish Continuation – Masih Dalam Uptrend

IHSG masih bertahan di Support 6,200 yang artinya IHSG masih dalam pola Bullish Continuation dari sejak pertengahan Desember 2019 di rentang 6,200 – 6,350. IHSG terancam turun ke 6,100 bila terjadi Breakdown Support di 6,200 tersebut.

Meski IHSG turun ke 6,100, The Primary Trader masih percaya penurunan tersebut sebagai Tech. Correction atau penurunan singkat di tengah Uptrend. Dengan demikian, Uptrend IHSG masih terjaga sekalipun IHSG turun ke 6,100.

Saat ini IHSG mencatat Return sebesar -0.7% YTD. Tampaknya Black Swan yang terjadi secara global (tensi geopolitik di Iran dan Virus Corona dari China) menjadi sentimen negatif yang membatalkan January Effect. The Primary Trader tidak yakin IHSG dapat naik menuju 6,350 di Januari 2020.

Menanti Sesuatu Yang Positif (Dilihat Dari Rupiah)

Rupiah Menguat Mendekati Rp13,600 (Target)

Rupiah saat ini berada di kisaran Rp13,655 yang merupakan target setelah Rupiah Breakdown Support penting di Rp13,900 (di awal Januari 2020). Penguatan ini tentu mengindikasikan tren penguatan Rupiah dari Oktober 2018 di Rp15,200 masih berlangsung.

The Primary Trader melihat pergerakan Rupiah sejak Juni 2019 dari Rp14,500 adalah fase Sideways yang menandakan Wait and See Investor Asing sebelum berani masuk dan berinvestasi di Indonesia. Dengan Breakdown Rp13,900 di awal tahun 2020, ada kemungkinan niat berinvestasi sudah semakin pasti.

Dalam jangka menengah – panjang, ada potensi Rupiah terus menguat mendekati level di tahun 2016 – 2018 yaitu di kisaran Rp13,250 – Rp13,600.

Penguatan Rupiah tentu sedikit banyak menandakan minat Investor Asing untuk berinvestasi di Indonesia. Oleh karena itu, The Primary Trader memperhatikan pasar saham dan pasar obligasi.

De-eskalasi Di Valuasi Tinggi. Penguatan Rupiah, Katalis IHSG.

De-eskalasi Konflik Namun Bukan Berarti Tenang Karena S&P500 Mahal

The Primary Trader melihat potensi perang Iran – AS semakin berkurang seiring dengan kedua belak pihak tidak melanjutkan serangan balasan (terakhir adalah Iran melontarkan rudal yang dengan ‘sengaja’ tidak mengenai pangkalan militer AS). Saat ini Iran justru sedang dalam tekanan internasional karena ‘tidak sengaja’ menembak pesawat komersial Ukraina. Bahkan karena kecerobahan tersebut, ada tekanan dari masyarakat Iran untuk Ayatollah Khamenei.

Untuk pasar modal, hal tersebut terlihat pada index VIX yang menunjukkan risiko pada S&P500. Tampaknya VIX berhasil kembali melemah mendekati level standar minim risiko di 10. VIX terlihat telah bergerak Downtrend dari sejak Agustus 2019 lalu. Saat ini ancaman – ancaman Trump terhadap China semakin gencar (peningkatan tegangan Trade War). The Primary Trader melihat Down Trendline dari sejak itu sampai saat ini. Perlu dicatat bahwa bila terjadi kejadian yang berisiko tinggi dan VIX naik melewati (Breakout) Down Trendline tersebut maka VIX berpotensi terus naik menguji Resistance – Resistance penting di level 20 dan 24.

Kenaikan VIX selanjutnya dapat mengancam pergerakan S&P500 yang saat ini sudah mendekati level 3,300. Level 3,300 adalah target S&P500 sewaktu S&P500 Breakout Resistance di 2,950 pada Juli 2019. Setelah Breakout 2,950, S&P500 mengindikasikan pola Bullish Continuation (dari sejak Juni 2019) dan mengonfirmasi pola tersebut dengan Breakout 3,000 di akhir Oktober 2019. Pada saat inilah S&P50 semakin memperkuat target di 3,300.

Dengan demikian, setelah mendekati 3,300, The Primary Trader mengkhawatirkan Uptrend S&P500 dapat terganggu. Memang akan sulit untuk langsung berubah menjadi Downtrend namun setidaknya ada fase Technical Correction yaitu penurunan wajar ditengah Uptrend. Namun tentu penurunan wajar tersebut dapat mencapai ~5% atau mungkin mencapai 3,000an lagi. Investor lain pun menganggap valuasi S&P500 sudah mahal.

Rupiah Menguat Menuju Rp13,600 Menjadi Katalis Kenaikan IHSG.

Sentimen positif di awal tahun membuat Rupiah menguat dan berhasil Breakdown Support di Rp13,900 yang menahan penguatan Rupiah dari sejak awal tahun 2019. Rupiah berpotensi menguat menuju Rp13,600. Salah satu alasan Rupiah menguat adalah optimisme terhadap ekonomi Indonesia yang membuat Investor Asing masuk ke pasar keuangan Indonesia.

Penguatan Rupiah karena masuknya Investor Asing tentu akan menjadi katalis kenaikan IHSG. The Primary Trader melihat ada kemungkinan (kecil) bagi IHSG untuk mengakhiri Technical Correction di 6,218 pada minggu lalu untuk kemudian naik menuju Resistance penting di 6,450.

The Primary Trader percaya Tech. Correction wajar IHSG dapat mencapai 6,150 – 6,200. Meski demikian, tentu ada katalis – katalis tertentu yang dapat membatalkan perkirakan tersebut. Salah satunya adalah de-eskalasi tensi Timur Tengah tersebut.

Uptrend + Sinyal Buy. Perhatikan TOWR.

The Primary Trader melihat beberapa saham yang dalam kondisi Uptrend dan mendapat sinyal Alert Buy yaitu : TOWR, MEDC dan ANTM. Selain itu, ada beberapa saham dalam kondisi Uptrend dan mendapat sinyal Buy Now yaitu : PTPP, BIRD dan Saham Sektor Coal (UNTR, PTBA dan ITMG).

The Primary Trader menyukai MEDC dan percaya ANTM akan mendapat sentimen positif karena kenaikan harga emas dan nikel. Namun The Primary Trader memperhatikan TOWR karena terlihat TOWR masih berpotensi Uptrend dalam jangka panjang. Setidaknya TOWR dalam jangka pendek dapat naik menuju Resistance penting di Rp920.

Saat ini TOWR sedang dalam Tech. Correction atau Throwback dengan maksimum turun menuju Rp750. TOWR yang telah Breakout Resistance di Rp750 mengindikasikan kelanjutan dari Uptrend karena The Primary Trader melihat penurunan TOWR dari tahun 2019 adalah sebagai Bullish Continuation. TOWR berpotensi melanjutkan Uptrend dari sejak Oktober 2019 di Rp450 sampai Rp850 di awal tahun 2019. TOWR berpotensi naik dalam Uptrend jangka panjang menuju Rp1,200.

Katalis utama untuk Sektor Menara Telekomunikasi di tahun 2020 adalah kemungkinan para operator telekomunikasi mengurangi kepemilikan menara dalam rangka efisiensi operasional. Selain itu, tren G5 tampaknya akan meningkatkan permintaan menara. Strategi perluasan jaringan dari para operator pun masih menjadi katalis pendorong penambahan menara. Dalam waktu dekat, TOWR sedang mengincar menara dari EXCL.

The Primary Trader Daily 8 January 2020

Photo by John Guccione http://www.advergroup.com on Pexels.com

Lelang Perdana SUN Di Awal Tahun 2020 – Sangat Bagus !

Pemerintah melakukan lelang perdana SUN di awal tahun 2020 dan mendapatkan permintaan (Incoming Bid) sebesar Rp81.5 triliun. Target awal adalah sebesar Rp15 triliun sehingga Bid To Cover Ratio (perbandingan antara Incoming Bid dengan target) adalah sebesar 5.4x dan angka ini cukup besar. Permintaan yang tinggi menandakan minat berinvestasi di pasar modal terutama dari Investor Asing. Hal ini positif bagi pasar obligasi dan juga pasar saham.

Yield SUN10Yr masih di kisaran 7.12% namun The Primary Trader percaya Yield akan segera turun menuju 6.5% di pertengahan tahun 2020. Penurunan tersebut ditandai dengan Breakdown Support di level 7%. Terjaganya fiskal Indonesia (karena Ibu Menteri Keuangan, Sri Mulyani), Omnibus Law terutama Cut Tax Rate dan potensi Upgrade Rating Indonesia akan menjadi katalis turunnya Yield SUN (yang berarti kenaikan harga SUN) – menurut The Primary Trader.

Rupiah sendiri sedang bersiap untuk menguat menuju Rp13,600/USD. Namun tentu BI akan concern dan menjaga volatilitas Rupiah untuk stabil. The Primary Trader melihat potensi penguatan Rupiah sebagai minat berinvestasi di Indonesia di mata Investor Asing. Setidaknya untuk 1Q20 ini, Rupiah akan stabil di kisaran Rp13,900 – Rp14,000/USD.

Modal Untuk Penguatan IHSG Sepanjang 1H20

Sentimen saat ini masih negatif karena kekhawatiran perang dan gangguan suplai minyak. Terlebih lagi ternyata ‘balasan’ Iran sudah mulai terlihat. Oleh karena itu, The Primary Trader perkirakan IHSG masih akan kembali melemah setidaknya menyentuh 6,200.

IHSG berpotensi segera mengakhiri penurunan sebagai Tech. Correction dan melanjutkan kenaikan menuju 6,450. Namun tampaknya IHSG lebih cenderung kembali melemah – dalam koridor Tech. Correction. The Primary Trader perkirakan IHSG baru akan mengakhiri Tech. Correction di kisaran 6,150 – 6,200.

Katalis penguatan IHSG di 1H20 yang utama, menurut The Primary Trader, adalah Omnibus Law. Dengan demikian, selama tidak terlihat adanya hambatan berarti pada proses pembuatan UU tersebut maka Investor akan tetap optimis terhadap IHSG.

MEDC : Ophir Masih Berpotensi Menarik

Laporan keuangan MEDC di 9M19 mencatat kenaikan pendapatan sebesar 9% YoY namun ternyata hanya mencapai 45% dari estimasi para analis. Laba bersih di 9M19 pun turun sebesar -32% YoY karena ada biaya – biaya yang naik (seperti biaya depresiasi) tinggi. Laba bersih MEDC di 9M19 yang telah lama ditunggu hanya mencapai 29% dari estimasi para analis.

Namun dampak Ophir di 3Q19 lalu berhasil mendorong pendapatan MEDC sebesar 14% QoQ dan 19% YoY. Hal ini menurut The Primary Trader menunjukkan potensi Ophir terhadap MEDC.

The Primary Trader masih melihat MEDC dalam pola Bullish Continuation sehingga kenaikan dari Rp615 di November 2019 masih berpotensi berlanjut yang membuat MEDC menguji Resistance di Rp1,100. MEDC akan mengawali Uptrend jangka panjang (dengan potensi menuju Rp1,600) setelah Breakout Rp1,100.

Surplus Neraca Perdagangan Indonesia bulan Oktober 2019

aerial photography of cargo ship

Surplus Neraca Perdagangan Indonesia bulan Oktober 2019

BPS mengumumkan Neraca Perdaganan Indonesia di bulan Okt’19 surplus sebesar USD161.3 miliar setelah impor turun lebih dalam (-16.4% YoY) dari ekspor (yang juga turun -6.1% YoY). Investor tampaknya memperkirakan terjadi Defisit Neraca Perdagangan sehingga data ini menjadi sentimen positif.

Indonesia Balance of Trade

Rupiah Bersiap Menguat

Surplus Neraca Perdagangan yang diluar ekspektasi berpotensi memberikan sentimen positif yang akan berdampak pada Rupiah. The Primary Trader masih percaya Rupiah dalam tren menguat terhadap US Dollar dengan potensi menuju Rp13,600 atau setidaknya kembali menguji Rp13,900.

Rupiah sedang tertahan di Resistance Rp14,100 dan The Primary Trader perkirakan adalah perlemahan terakhir sebelum Rupiah dalam tren menguat menuju Rp13,600 tersebut. Setidaknya Rupiah akan berada di bawah Rp14,000 di sisa tahun 2019.

Ikuti Live Chart di sini.

IHSG Masih Mempertahankan Harapan Uptrend

Dengan tetap bertahan di atas 6,110, artinya adalah IHSG masih mempertahankan peluang Uptrend setelah Bullish Continuation selesai. Data Neraca Perdagangan akan memperbesar peluang Uptrend IHSG di tahun 2020. Silahkan baca di sini.

image003 2

Yield SUN10Yr Bersiap Turun

view of city at airport

Current Account Deficit (CAD) 3Q19 Turun, Bersiap Capital Inflow

Bank Indonesia melaporkan Defisit Neraca Transaksi Berjalan (Current Account Deficit atau CAD) di 3Q19 sebesar USD7.7 miliar atau 2.7% dari GDP. CAD 3Q19 membaik karena lebih kecil dari CAD 2Q19 sebesar 2.93% dari GDP.

Tampaknya perbaikan CAD 3Q19 lebih disebabkan karena ada investasi masuk ke Corporate Bond (sebagai Portfolio Investment) ke Pertamina dan PLN yang baru saja mengeluarkan Global Corporate Bond. Selain itu, tidak adanya pembayaran Dividend ke Investor luar negeri seperti di 2Q19 pun menjaga CAD.

The Primary Trader menilai dampak dari perbaikan CAD di 3Q19 akan membuat Investor Asing semakin tertarik berinvestasi di Indonesia. Investor saat ini sedang berharap akan ada Upgrade Rating bagi Indonesia dari peringkat efek, setidaknya dari Fitch atau Moody’s. Bahkan tidak tertutup kemungkinan S&P kembali menaikkan rating seiring dengan harapan tim ekonomi Jokowi di periode 2 (yang ditopang oleh Sri Mulyani yang kembali menjabat sebagai Menteri Keuangan).

Rupiah Dalam Tren Menguat

Penguatan Rupiah dengan potensi menuju Rp13,600 mengindikasikan Investor Asing memandang Indonesia dengan positif. Rupiah sendiri sedang bersiap Breakdown Support di Rp13,900 untuk terus menguat dengan potensi menuju Rp13,600. Meski demikian, kemungkinan Rupiah dijaga oleh BI di kisaran Rp14,000an mungkin akan membatalkan penguatan menuju Rp13,600 tersebut. Setidaknya untuk Rupiah, selama volatilitas menurun (stabil) maka hal tersebut sudah menjadi katalis dan sentimen positif. Rupiah sendiri mulai less-volatile sejak Jun’19.

Ikuti live chart di sini

Begitupun dengan Yield Obligasi Negara

Yield SUN10Yr yang mewakili pasar obligasi di Indonesia memastikan dalam Downtrend sejak awal Okt’19 dengan turun di bawah 7.2%. Saat ini Yield sedang dalam Support di 7% namun setelah Breakdown 7.2% lalu, Yield sedang dalam Downtrend menuju setidaknya 6.5%.

Yield masih mempertahankan Downtrend dari sejak 9% di bulan Okt’18. Perlu diingat bahwa penurunan yield berarti kenaikan harga obligasi. Tentunya hal ini sebagai akibat dari minat dari Investor terutama Investor Asing (bila dihubungkan dengan penguatan Rupiah).

Ikuti live chart di sini 

Strategi The Primary Trader

Membaiknya data makro ekonomi seperti CAD tentu akan langsung berpengaruh dengan pasar obligasi karena berkaitan dengan makro suatu negara. Meski demikian, karena ada pengaruh dari penguatan Rupiah, tentu ada beberapa sektor saham yang dapat menjadi pilihan.

The Primary Trader menyukai sektor yang banyak melakukan impor seperti Retail (MAPI dan ACES) serta KLBF (Healthcare dan atau Pharmacy).