Deal (Or No Deal?)

Menunggu Peresmian (Atau Setidaknya Detil) Trade Deal Fase 1

Investor (dan The Primary Trader) masih menunggu rencana penandatanganan serta detil dari Trade Deal Fase 1 antara AS – China. AS kemudian disebutkan tidak akan memotong tarif lebih lanjut (Trade Deal Fase 2 ?) sebelum Pemilu Presiden di awal November 2020. Hal ini mengisyaratkan bahwa Trade Deal Fase 2 mungkin tidak dapat dilaksanakan segera (ketika awal Trade Deal Fase 1 disepakati di Desember 2019 lalu).

IHSG Menuju 6,450 (Bagian Dari January Effect)

The Primary Trader melihat IHSG sedang dalam kenaikan menuju 6,450 sebagai bagian dari January Effect. Kenaikan tersebut pun seiring dengan penguatan Rupiah yang menandakan masuknya Investor Asing. Salah satu sentimen positifnya adalah kuota impor minyak Pertamina dipotong sebesar 30 juta barel di tahun 2020 ini. Dengan demikian, Neraca Perdagangan Indonesia di tahun 2020 berpotensi positif dan hal tersebut akan positif untuk Rupiah.

Investor Asing sudah masuk ke IHSG sejak pertengahan Desember 2019. Kemungkinan karena ada perkembangan dari Omnibus Law (dengan Cut Tax Rate). The Primary Trader melihat tren Net Buy Asing telah dimulai sehingga di Januari 2020 ini akan ada Akumulasi Net Buy Asing yang lebih tinggi lagi.

Perhatikan Sektor Consumer (Poultry dan Media) dan Banking

Berdasarkan grafik Trend and Momentum, sektor yang sahamnya rata – rata dalam kondisi Uptrend (namun belum Overbought) adalah Media, Poultry dan Banking.

Kolaborasi SCMA dan MNCN. Perhatikan SCMA

The Primary Trader menyukai sektor Media karena dua pemain besar (SCMA dan MNCN) berkolaborasi. Hal ini sebagai strategi melawan bisnis Streaming seperti Netflix, Hooq dan iflix. The Primary Trader memperhatikan SCMA yang saat ini terlihat hampir menyelesaikan pola mengakhiri Downtrend (Bottoming) dari sejak Juli 2019.

SCMA harus Breakout Rp1,500 untuk mengonfirmasi akhir Downtrend dan membuka potensi naik menuju Resistance penting di Rp2,000. Uptrend SCMA diawali dengan Breakout Rp2,000 tersebut.

SCMA sebenarnya terus Undeperform IHSG dan MNCN. The Primary Trader cenderung menghindari saham yang Underperform namun untuk SCMA kali ini dapat diperhatikan karena sentimen positif dari kolaborasi antara SCMA dan MNCN tentu adalah hal positif bagi keduanya.

Rencana Afkir Dini Positif Untuk Sektor Poultry. Pantau CPIN.

CPIN telah Breakout Bullish Continuation di Rp7,000 pada awal Januari 2020 dan saat ini ada potensi CPIN segera mengawali kenaikan sebagai lanjutan Uptrend dari sejak Oktober 2019 di Rp5,000. CPIN berpeluang naik menguji Resistance penting di Rp8,800.

Ada sentimen negatif dari kenaikan harga jagung karena panen jagung berpotensi mundur. Hal ini mengakibatkan harga jagung naik dan meningkatkan biaya pakan ternak dan menjadi sentimen negatif untuk sektor Poultry seperti CPIN. Rencana afkir dini berpotensi menjadi sentimen positif kembali (seperti yang terjadi di pertengahan tahun 2019 lalu).

The Primary Trader Daily 12 Nov’19

Dandy Rotation

Berdasarkan Dandy Rotation, DMAS dan INDF berada pada kuadran Outperform serta mendapat sinyal Buy (Alert Buy untuk DMAS dan Buy Now untuk INDF). The Primary Trader menyukai keduanya karena sektornya. Untuk DMAS tentu karena di sektor Industrial Area yang mulai tumbuh di tahun 2019 dan juga diperkirakan tahun 2020.

INDF tampaknya mulai semakin dilirik Investor karena Mass Market Product-nya yang berorientasi Domestic Consumption dimana terbukti kuat bertahan di tengah perlambatan ekonomi dunia. The Primary Trader mulai berpikir Investor mencari pengganti saham Consumer yang Defensif menggantikan UNVR dan Cigarettes (HMSP dan GGRM). INDF memilki bisnis Agribisnis khususnya CPO yang berasal dari anak usaha SIMP dan LSIP. Harga CPO yang mulai naik (38% dari Jul’19) pun menjadi katalis positif untuk INDF (selain tentu saham sektor CPO).

Banyaknya saham yang berwarna Merah (dalam Downtrend) serta berada di kuadran Underperform khususnya saham – saham berbasis Infrastructure dan Consumer perlu mendapat perhatian khusus. Hal ini akan menyebabkan IHSG masih terkendala untuk naik dan mungkin masih akan melemah (atau setidaknya masih dalam proses Bottoming di 6,100an).

Saham SCMA sudah naik cukup tinggi namun karena berada kuadran Outperform maka saham tersebut layak diperhatikan. Selain itu, ada harapan sektor Media mulai membaik yang didahului oleh MNCN. Memang The Primary Trader pun lebih menyukai MNCN dibanding SCMA namun tetap SCMA layak dipertimbangkan.

Technical Theme : Undershoot

The Primary Trader menyebut kondisi Undershoot adalah dimana harga saham berada di bawah Middle Band dari Bollinger Band. Hal ini berarti harga saham telah berada di nilai ekstrem dari distribusi normal yang umumnya hanya terjadi (peluangnya adalah) sebesar 5%. Oleh karena itu, saham – saham Undershoot dapat dipertimbangkan untuk Buy on Weakness.

Berdasarkan pergerakan 11 Nov’19, ada beberapa saham yang tercatat dalam kondisi Undershoot. The Primary Trader menyukai saham – saham sebagai berikut : ADHI, EXCL dan BJBR.

Khusus untuk EXCL, masuknya EXCL ke dalam indeks MSCI menjadi katalis positif karena mendatangkan minat beli dari Investor Asing yang men-track indeks MSCI. Selain itu, kinerja EXCL sendiri memang bagus. Pada 9M19 kemarin, laba bersih EXCL tercatat sebesar Rp498 miliar dari rugi bersih Rp144 miliar di 9M18 . Selain itu, pendapatan 9M19 EXCL pun melonjak sebesar 10.8% YoY.