Menunggu Data Ekonomi 2Q20 Untuk Antisipasi Bottom

The Primary Trader sempat melihat potensi S&P500 untuk Breakout 2,950 dan memasuki potensi Uptrend. Namun melihat pergerakan kemarin dimana yang kedua kalinya S&P500 tertahan di 2,950 maka The Primary Trader kembali meyakini bahwa Downtrend masih akan terjadi.

Sampai kapan?

Timing Analysis tidak pernah mudah dan cabang Analisis Teknikal yang fokus pada Timing Analysis (seperti Astrology Trading, Gann atau Elliot Wave tidak mudah dipercaya Investor dan The Primary Trader tidak mendalaminya). Namun The Primary Trader mencoba mengemukakan potensi Bottoming Global Market termasuk IHSG di tahun 2020 ini dengan melihat Seasonality dan data ekonomi.

The Worst Has Yet To Come

Di pertengahan April dan Mei ini, Investor terkejut dengan data pertumbuhan ekonomi di 1Q20 yang mana terlihat dampak awal dari Pandemi COVID-19. Ekonomi China di 1Q20 turun -6.8% YoY, lebih dalam dari estimasi sebesar -6.5% YoY. Hal ini wajar karena China mulai Lockdown di akhir Januari 2020 atau bertepatan dengan Chinese New Year dimana terjadi mudik masal terbesar di dunia. Selain tidak ada konsumsi di berbagai kota, praktis aktifitas bisnis pun ditutup sehingga cukup wajar ada pukulan yang telak bagi ekonomi China di 1Q20.

Amerika Serikat yang sebenarnya baru mulai Lockdown di akhir Maret 2020 namun pada akhir Januari 2020 sudah mulai ada pembatasan terutama dari sisi imigrasi. Di akhir April 2020, data awal pertumbuhan ekonomi AS di 1Q20 turun sebesar -4.8% QoQ (di-annualized), jauh dari estimasi sebesar -4% QoQ. Ekonomi AS di 1Q20 hanya tumbuh 0.3% YoY, sangat jauh dari rentang 2.1% – 3.2% dari 2Q18 – 4Q19.

AS tampaknya adalah bukti bahwa apabila ekonomi China kurang baik maka negara lain pun demikian. China sebagai Supply-Side memegang peranan penting di era globalisasi ekonomi ini karena Impor China akan bahan mentah berperan sebagai pendapatan signifikan bagi ekonomi seperti Indonesia dan bahkan negara AS sendiri.

Indonesia sendiri pun mengalami pukulan karena di awal Mei 2020, BPS melaporkan ekonomi Indonesia hanya naik sebesar 2.97% YoY di 1Q20, terendah sejak 1Q01. Tentu hal ini jauh di bawah estimasi sebesar 4.04% YoY dan hal inilah yang pertama kali membuat ekonom (termasuk pemerintah) melihat potensi ekonomi Indonesia bisa negatif di akhir tahun. Artinya adalah nilai GDP Indonesia tahun 2020 bisa lebih rendah dari tahun 2019 (sebesar USD1,12 miliar). Indonesia sendiri pernah setidaknya 2 kali mengalami Resesi (penurunan pertumbuhan ekonomi dalam 2 kuartal berturut – turut) yaitu di antara tahun 2020 dan 2013.

Ekonom pun mulai melihat bahwa ini masih dampak awal Pandemi COVID-19 sehingga masih ada dampak lanjutan pada ekonomi di 2Q20. Oleh karena itu, pada awal Mei 2020, ekonom dan Investor mulai bersiap untuk kehilangan kesempatan adanya V-Shape Recovery pada ekonomi global.

Data GDP di 2Q20 : Potensi Bottom

Karena Investor mulai kehilangan harapan akan V-Shape Recovery, tentu Investor akan menunggu pengumuman GDP berikutnya di 2Q20 yaitu sekitar bulan Juli 2020 (China dan AS) dan Agustus 2020 (Indonesia). Data GDP 2Q20 akan menjadi pemicu apakah justifikasi Forward Looking Investor sudah benar.

Apabila ternyata GDP di 2Q20 lebih baik dari perkiraan, tentu hal ini akan menjadi Timing untuk mengakhiri Downtrend dan mengawali Uptrend. Apabila GDP di 2Q20 jauh lebih buruk dari perkiraan, The Primary Trader melihat pada akhirnya valuasi sudah akan murah sekali sehingga ancaman penurunan sudah relatif kecil. Pada saat itulah menurut The Primary Trader akan terjadi Bottom pada Global Market. Dua kondisi yang terjadi adalah “Better Than Estimate” bila GDP lebih baik dari estimasi atau “Underowned dan Very Undemanding Valuation” bila GDP lebih buruk dari estimasi.

The Primary Trader perkirakan masih akan ada penurunan karena shock terhadap GDP 2Q20 di US, China dan Indonesia (karena The Primary Trader ingin membahas aset investasi di Indonesia). Oleh karena itu, pergerakan di 2Q20 sampai 3Q20 (menjelang pengumuman GDP 2Q20 di bulan Juli dan Agustus 2020) akan sangat volatile. Namun menjelang atau pada 3Q20 tersebutlah seharusnya mulai ada indikasi Bottoming setelah semuanya ter-Priced In baik keburukan di 2Q20 maupun harapan di 2H20.

Seasonality

The Primary Trader ingin melihat pergerakan S&P500, Shanghai Composite dan IHSG secara kuartalan untuk melihat Seasonality dan fakta Bottoming ketiga indeks tersebut.

Bila dilihat pada Seasonal Plot S&P500, ada kecenderungan Bottoming di 3Q meskipun di beberapa tahun terakhir ini, kenaikan dari 3Q ke 4Q tidak setinggi di awal – awal tahun 2010an. Namun mengacu pada SubSeries Seasonal Plot, ada kecenderungan S&P500 naik (dari Bottom) pada 3Q untuk kemudian relatif Sideways pada 4Q.

Pada Shanghai Composite, Seasonal Plot menunjukkan kecenderungan terjadinya Bottoming (dengan peluang lebih besar) di 3Q untuk kemudian naik sampai 4Q. SubSeries Seasonal Plot pun menunjukkan kecenderungan untuk naik dari 3Q ke 4Q.

Untuk IHSG, Seasonal Plot menunjukkan peluang yang sama besar antara Bottoming di 2Q untuk naik ke 3Q dan Bottoming di 3Q untuk naik ke 4Q. Melihat SubSeries Seasonal Plot, IHSG cenderung bergerak dengan volatilitas rendah di 3Q dan hal ini menunjukkan kecenderungan terbentuknya Bottom (yaitu di 3Q). Berdasarkan garis rata – rata (garis biru), selisih antara rata – rata 2Q dengan 3Q tidak berbeda jauh. Dapat disimpulkan jalan tengah bahwa IHSG cenderung Bottoming di 2Q – 3Q (dua kuartal).

Kesimpulan

Bahayanya percaya prediksi berakhir Pandemi adalah membuat kita lengah dan terjebak untuk melonggarkan Lockdown atau PSBB lebih cepat dari kondisi aman. Hal tersebut dapat mengancam peningkatan kasus baru lagi. Dengan demikian, hal yang paling penting adalah menunggu relaksasi Lockdown atau PSBB setelah ada bukti bahwa kasus baru mulai melandai dan cukup jauh dari puncak.

Oleh karenanya, The Primary Trader lebih percaya untuk tidak melihat Peak dari New Case sebagai Timing To Entry karena pada akhirnya hal tersebut menjebak. Resesi dan Market Crash kali ini terjadi karena wabah penyakit dan selama wabahnya belum terkendali, tampaknya akan sulit untuk memprediksi Bottoming atau awal Uptrend.

Namun demikian, berdasarkan data (GDP 2Q20) dan Seasonality di atas, setidaknya perkiraan The Primary Trader bahwa Bottom akan terjadi di akhir 2Q20 atau 3Q20 juga merupakan harapan. Semoga.

Ekonomi China Turun -6.8% YoY. Apakah Global Bearish Market Berlanjut?

Ekonomi China di 1Q20 turun sebesar -6.8% YoY, penurunan pertama sejak tahun 1992. Di saat yang sama, Retail Sales China bulan Maret 2020 pun turun -15.8% YoY. Namun data tersebut cenderung membaik karena Retail Sales bulan Januari dan Februari 2020 turun sebesar -20.5% YoY. Pada bulan Maret 2020, Wuhan masih Lockdown sementara data Retail Sales sudah membaik. Ada harapan setelah Lockdown dibuka (di bulan April 2020), Retail Sales China pun membaik yang mendorong pertumbuhan ekonomi China di 2Q20.

China GDP Annual Growth Rate

The Primary Trader ingin mencatat bahwa setelah Lockdown, ternyata di Wuhan tidak ‘business as usual. Memang Manufacturing PMI China di bulan Maret 2020 sudah kembali di level 50 sehingga aktifitas produksi seperti pabrik berjalan seperti biasa, bahkan cenderung mengejar target produksi di awal tahun 2020 (atau setidaknya paska Chinese New Year). Namun industri yang berorientasi konsumsi seperti restoran dan ritel di mal masih relatif sepi. Hal ini dikhawatirkan akan ada perubahan tren konsumsi masyarakat untuk jangka panjang. Kebiasaan akan memasak dirumah selama Lockdown atau (yang The Primary Trader perkirakan) membeli barang lokal karena barang impor sempat langka atau mahal akan mempengaruhi banyak bisnis.

Shanghai Composite (Shcomp) masih dalam Downtrend Channel sejak April 2019 (periode Trade War AS – China). Di awal tahun 2020, Shcomp hampir Breakout Resistance dari Downtrend Channel di ~3,100 untuk mengakhiri Downtrend dan mengawali Uptrend menuju 3,600, level tertinggi sebelum Trump mengancam Trade War. Saat ini Shcomp masih harus Breakout 3,100 untuk mengawali Uptrend menuju level tersebut.

Shcomp memang bursa saham utama global dengan kinerja yang terbaik sejak awal tahun 2020 (bahkan ketika COVID-19 menjadi Pandemi global di Maret 2020). Sejak pertengahan Maret 2020, bursa global cenderung bertahan dan perlahan naik – meskipun belum kembali ke level awal tahun 2020.

Live Chart here

S&P500 sendiri berhasil naik 30% dari pertengahan Maret 2020 dan ada kemungkinan S&P500 terus naik menuju 3,000 setelah Investor memperkirakan laporan keuangan 1Q20 dapat lebih baik dari estimasi. Selain itu, rencana re-opening ekonomi (dengan membuka Lockdown) menjadi katalis positif karena Investor mengharapkan wabah COVID-19 di AS telah terkendali. The Primary Trader mengkhawatirkan Lockdown yang terlalu dini dapat kembali meningkatkan penyebaran wabah.

Untuk dapat mengonfirmasi akhir Downtrend, S&P500 perlu naik dan Breakout 2,930 yang merupakan level Fibonacci 61.8% yang diproyeksikan ke bawah (Downtrend Projection). The Primary Trader masih perkirakan S&P500 akan tertahan di kisaran 2,900an, tidak jadi Breakout 2,930 dan kembali melanjutkan Downtrend menuju 1,400.

Ada kemungkinan S&P500 kembali turun sebagai One Last Drop dan The Primary Trader melihat kemungkinan yang cukup besar S&P500 tidak turun lebih dalam dari 2,180 – 2,350. Dengan demikian, S&P500 membentuk Bottoming untuk mengakhiri Downtrend dan mengawali Uptrend. Kunci utamanya adalah S&P500 harus turun di bawah 2,700 dalam 2 minggu ke depan untuk melihat ancaman penurunan S&P500. Di bulan April 2020 ini pun The Primary Trader akan memperhatikan apakah S&P500 berhasil Breakout 2,930 untuk melihat potensi Uptrend.

Emiten di Indonesia pun segera memasuki musim laporan keuangan 1Q20. Tentu ada kemungkinan perlambatan namun pertanyaannya apakah sesuai dengan estimasi, lebih baik atau justru lebih buruk dari estimasi. The Primary Trader akan mencoba melihat informasi dan chart-nya terlebih dahulu.

Semoga wabah cepat selesai.

Penentuan Awal

Dua (Potensi) Bottom Untuk IHSG

The Primary Trader melihat ada harapan IHSG berhenti turun di 5,450 karena posisi IHSG di level tersebut berada pada 12% di bawah MA200 atau rata – rata tahunan. Sejak tahun 2011, posisi IHSG 12% di bawah MA200 mengindikasikan tingkat Jenuh Jual atau Oversold yang pada akhirnya membuat IHSG kembali naik mendekati atau bahkan melewati MA200.

Namun pada tahun 2015 akhir, IHSG ternyata terus turun dan mencapai level 23% di bawah MA200. Ada harapan IHSG bertahan di 5,450 karena kecenderungan IHSG yang Oversold pada posisi 12% di bawah MA200 (dimana saat ini MA200 di 6,186 maka 88% dari level tersebut adalah ~5,450). Namun mengingat kondisi saat ini dapat dikatakan sudah dalam keadaan Panic Selling maka The Primary Trader tidak heran bila IHSG terus turun mendekati level 23% di bawah MA200 yaitu di 4,770.

The Primary Trader perkirakan pada hari Senin, 2 Maret 2020, akan menjadi penentu apakah IHSG bertahan di 5,450 atau kembali “Stretch” ke 4,770.

Manufacturing PMI Menjadi Kunci Utama

China, Indonesia dan AS dijadwalkan mengumumkan Manufacturing PMI bulan Februari 2020 pada Senin, 2 Maret 2020. Manufacturing PMI adalah salah satu indikator ekonomi utama untuk mengestimasikan pertumbuhan ekonomi suatu negara. Manufacturing PMI menunjukkan aktifitas sektor manufaktur (pabrik) dan angka indeks Manufacturing PMI di atas 50 menunjukkan potensi ekonomi berekspansi dan di bawah 50 menunjukkan potensi ekonomi berkontraksi.

Ekonom memperkirakan Manufacturing PMI China di bulan Februari 2020 turun di level 46.1 dari 51.1 di bulan Januari 2020. Bila indeks tersebut di bawah 50 maka ada potensi ekonomi China berkontraksi.

Kontraksi ekonomi China inilah yang menjadi kekhawatiran Investor Global karena saat ini ekonomi China hampir mencapai 20% dari ekonomi dunia. Bila ekonomi China kembali turun maka ekonomi dunia pun akan ikut turun.

Di satu sisi, ekonomi AS di tahun 2020 cukup baik. Bahkan The Fed terdengar yakin akan mempertahankan Fed Fund Rate di saat bank sentral lain (termasuk BI) menurunkan suku bunga dalam menghadapi dampak negatif ekonomi karena wabah Corona. Tentu pernyataan tersebut dapat terganggu mengingat minggu ini AS mengumumkan 15 kasus infeksi Corona yang tidak diketahui asalnya (!). Namun data Manufacturing PMI AS pada Senin, 2 Maret 2020, tentu akan menjadi pertimbangan awal bagi Investor maupun The Fed dalam menilai dampak wabah Corona terkini.

Kembali ke China, ada harapan data Manufacturing PMI bulan Februari 2020 tidak turun sejauh 46.1 dari 51.1. Hal ini karena pabrik – pabrik di Hubei (provinsi dimana Wuhan berada) sudah mulai kembali beraktifitas dipertengahan Februari. Menjelang akhir Februari 2020, kapasitas pabrik sudah berjalan 30% – 50% dan ditargetkan berjalan 70% di awal Maret 2020. Dan tentu meskipun China menyumbang ekonomi dunia sebesar ~20%, ekonomi provinsi Hubei sendiri hanya mencapai 4.6% dari total GDP China sehingga gangguan terhadap keseluruhan ekonomi China diharapkan tidak sebesar penurunan Manufacturing PMI tersebut.

Sejak Juli 2019, Manufacturing PMI Indonesia di bawah 50 sehingga menandakan ekonomi sedang berkontraksi. Meski demikian, Manufacturing PMI Indonesia sebenarnya mulai naik sejak Oktober 2019 namun sedikit turun di Januari 2020 akibat banjir di awal tahun dan dampak awal wabah Corona. The Primary Trader melihat bila nanti Manufacturing PMI Indonesia tidak lebih rendah dari posisi di bulan Oktober 2019 di level 47.5 maka dapat disimpulkan dampak wabah Corona di Indonesia tidak separah di negara – negara lain. Seharusnya hal tersebut akan menjadi katalis positif bagi IHSG untuk tidak turun menuju 4,770.

Indonesia Manufacturing PMI

Sentimen Bullish Dari Candlestick Pada IHSG

IHSG membentuk pola single candle dari Candlestick yaitu Hammer. Menariknya, Hammer terbentuk di Fibonacci Extension level 261.8% sehingga dapat diharapkan indikasi untuk naik. Meskipun ada indikasi naik namun pertanyaan pentingnya adalah apakah kenaikan yang ada adalah sebagai Technical Rebound saja atau akan ada perubahan dari Downtrend saat ini menjadi Uptrend. The Primary Trader perkirakan kenaikan yang terjadi (bila kondisi mendukung, antara lain Manufacturing PMI yang tidak seburuk perkiraan) adalah sebagai Tech. Rebound saja dengan kenaikan tidak lebih tinggi dari 5,700 (level Fibonacci Extension di 161.8%).

Investor Global Masih Panik

The Primary Trader melihat VIX Index dan menyimpulkan bahwa Investor global masih dalam Panic Mode sehingga tampaknya Downtrend masih akan berlanjut. Saat ini VIX berada di level 40 atau lebih yang sama yang terjadi pada setiap Bearish Market.

Beberapa kali kejdian dimana VIX berada di level 40 yaitu pada Downtrend S&P500 di 2H11, 3Q15, 1Q18 dan 1Q19. Meski demikian, Downtrend pada waktu – waktu tersebut dapat dianggap sebagai Tech. Correction di tengah Uptrend Jangka Panjang. Dengan demikian, S&P500 masih dapat diharapkan terus mempertahankan Uptrend Jangka Panjang-nya.

S&P500 mungkin sudah mendekati Support di 2,800 dan terlihat membentuk Hammer sehinggga dapat diharapkan terjadi kenaikan. The Primary Trader masih perkirakan kenaikan tersebut (bila naik) adalah sebagai Tech. Rebound dan masih dapat naik sampai mendekati 3,100. S&P500 telah Breakdown Up Trendline di 3,300 pada pertengahan Februari 2020 dan hal tersebut menjadi tanda Downtrend Jangka Pendek – Menengah (sebagai bagian dari Tech. Correction dari Uptrend Jangka Panjang).

Investor di China sendiri sebenarnya terlihat optimis tidak lama setelah bursa dibuka (paska libur Chinese New Year yang diperpanjang). Memang Shanghai Composite sempat turun ~9% dihari pertama perdagangan paska ditutup pada awal wabah Corona. Namun setelah itu, Shcomp berhasil naik mendekati level sebelum wabah Corona (naik dari level 2,800 ke level 3,080). Ternyata Shcomp terlihat gagal naik di atas 3,080 – 3,120 sehingga The Primary Trader perkirakan tren harga Shcomp masih Downtrend dan Shcomp berpotensi turun menuju level 2,400 dengan Breakdown Support 2,730.

The Primary Trader meyakini di tahun 2020 ini, wabah Corona akan berakhir setelah penyebaran penyakit dapat diatasi dan obat serta vaksin sudah dapat diproduksi (meski masih dalam tahap awal). Namun dampak ekonomi akibat pembatasan aktifitas masyarakat akan terasa di tahun 2020 dan cukup signifikan. Bank sentral serta pemerintah akan mengeluarkan stimulus moneter maupun fiskal dimana hal tersebut akan berdampak positif langsung pada obligasi (di tahun 2020 ini). Namun demikian, dampak positif pada pasar saham kemungkinan baru akan terlihat di 2H20 atau bahkan di tahun 2021 nanti.

Sebelum berbicara pergerakan jangka panjang IHSG dan bursa saham lain, tentu data di hari Senin, 2 Maret 2020 berpotensi menjadi penentu awal yang signifikan.

Mulai Stabil Tapi Belum Selesai

Mulai Tenang

The Primary Trader melihat index VIX yang sempat naik di akhir Januari 2020 dari level 12 ke 20 (pada awal wabah Corona). Namun ternyata VIX tetap tidak naik di atas level 20 yang merupakan Resistance sejak Oktober 2019. Hal ini menandakan kekhawatiran Investor tidak berlarut. Selain karena wabah Corona dapat dikendalikan (dengan baik) oleh Pemerintah China, ilmuwan sudah berhasil menemukan obat dan vaksin meskipun harus melalui masa uji keamanan.

Bursa Shanghai (Shcomp) sendiri sejak di buka pertama kali setelah wabah Corona telah naik sebesar 7%. Memang pada waktu dibuka, Shcomp sempat turun -9% akan tetap sejak saat itu, Shcomp terus naik sebesar 7%. Saat ini Shcomp sedang menguji Resistance di 2,900an namun The Primary Trader perkirakan Shcomp masih belum akan berhasil Breakout untuk menguji Resistance penting berikutnya di 3,000.

The Primary Trader perkirakan Investor China masih ingin melihat dampak negatif dari wabah Corona terhadap ekonomi China. Selain itu, tampaknya Investor masih ingin melihat stimulus dan aksi pemerintah China untuk melawan ancaman penurunan ekonomi China karena terganggunya aktiftas bisnis di China. Meski demikian, The Primary Trader yakin Shcomp akan sulit untuk turun di bawah Support kuat 2,700 dan peluang turun menuju 2,400 relatif kecil.

IHSG Masih Terancam

The Primary Trader belum melihat awal pembentukan Bottom dari penurunan IHSG sejak Januari 2020. Oleh karena itu, ada potensi IHSG masih kembali turun menuju 5,600 – 5,700.

Memang terlihat bahwa Net Sell Asing mulai berkurang. Terlihat bahwa Net Akumulasi Asing di 2 bulan pertama 2020 tidak lebih turun dibanding Desember 2019 lalu. Namun belum terlihat Tren Net Sell Asing berkurang sehingga menurut The Primary Trader, hal tersebut perlu diwaspadai.

Pasar Obligasi Masih Menarik

Di saat IHSG masih kurang menarik, pasar obligasi – dilihat dari Yield SUN10Yr masih sangat menarik. Yield SUN10Yr masih dalam Downtrend sejak Oktober 2018 dan bahkan dimulai dari Desember 2019, Downtrend semakin kuat karena terlihat sudut penurunan semakin tajam. Dari 20 derajat (Oktober 2018 – Desember 2019) menjadi 49 derajat (mulai dari Desember 2019). Perlu diketahui bahwa tren dengan ~45 derajat menunjukkan tren yang kuat dan stabil. Oleh karena itu, The Primary Trader perkirakan Yield masih dapat turun menuju 5.9% dengan Breakout Support saat ini di 6.5%.

Investor tampaknya menganggap Indonesia semakin menarik setelah memasuki periode ke-2 Presiden Jokowi. Selain karena harapan reformasi perlahan mulai terlihat (dari aksi Menteri – Menteri Indonesia Maju seperti Menteri BUMN Erick Thohir), pemerintah pun sudah menyelesaikan draf RUU Cipta Kerja ke DPR dimingu kedua Februari 2020. Meski masih kontroversi namun The Primary Trader melihat RUU tersebut dapat mendorong investasi.

Yield SUN10Yr telah memberikan Return yang sangat menarik dibandingkan IHSG – sejak awal tahun 2019. Memang sesuai dengan teori dasar, pergerakan Yield Obligasi berbanding terbalik dengan IHSG. Bila Yield turun maka IHSG naik dan sebaliknya bila Yield naik maka IHSG turun. Secara teori, hal ini berarti harga Obligasi dan Saham bergerak bersamaan. Kenaikan harga Obligasi berarti penurunan Yield Obligasi.

Bila memang saat ini pasar obligasi masih menarik maka The Primary Trader berpikir bahwa di tahun 2020 ini adalah tahun akhir dari sebuah siklus “Hard Landing” dan di awal siklus “Soft Landing” (lihat Asset Allocation Clock dari Merril Lynch). Diperlukan Rate Cuts untuk berpindah siklus menuju “Recovery”.

Image result for investment asset cycle

The Primary Trader meyakini BI akan kembali menurunkan BI 7DRR Rate di tahun 2020 – setelah atau sebelum The Fed menurunkan Fed Fund Rate. Ekonomi Indonesia berpotensi kembali turun karena wabah Corona ini sehingga BI seharusnya kembali melakukan stimulus moneter.

Time To Panic Already ? Well No

Potensi Sell – Off Pada Pembukaan Shanghai Composite Paska CNY

Senin, 2 Februari 2020, bursa China akan dibuka setelah ditutup pada saat libur Chinese New Year (dan puncak wabah Corona tersebut). Tidak terbayang potensi penurunan Shanghai Comp. The Primary Trader menunjukkan ‘peta’ Support yang berpotensi menahan Shcomp tersebut.

Sebelumnya, paska adanya pengumuman potensi Deal dari Trade War di pertengahan 2019, Shcomp sudah mulai mengakhiri Tech. Correction dari 3,300 di awal April 2019. Setelah adanya kesepakatan secara verbal di Desember 2020, Shcomp terlihat mengakhiri pola Bullish Continuation yang artinya kenaikan sejak 2,400an di awal 2019 sampai April 2019 (di 3,300) berpotensi berlanjut kembali. The Primary Trader perkirakan Shcomp dapat melanjutkan Uptrend menuju 3,600 kembali (level tertinggi sejak awal tahun 2018).

Support terdekat dari Shcomp ada di 2,900 yang merupakan minor Up Trendline dari sejak 2,730 di bulan Agustus 2019. Menurut The Primary Trader, level ini cenderung lemah sehingga sangat mudah di-Breakdown. Support berikut yang seharusnya cukup kuat ada di 2,730 itu sendiri. The Primary Trader perkirakan Shcomp akan turun mendekati namun tidak turun di bawah 2,730 ini. Dengan demikian, ada ancaman Shcomp turun sebesar 8% pada pembukaan paska Chinese New Year (CNY).

Banyak bursa regional Asia turun dalam sejak mulai ramai wabah Corona. Year To Date (YTD), hampir semua bursa regional Asia dan S&P500 mencatat Negative Return. Hang Seng adalah bursa yang paling terpukul dengan Return sebesar -7.8% YTD. Cukup wajar mengingat dampak demonstrasi besar – besaran masih terasa dan ditambah kekhawatiran wabah Corona ini. Shcomp yang masih ditutup dari sejak 23 Januari 2020 kemungkinan besar masih dapat turun lagi lebih dalam.

Pemerintah China dikabarkan akan memberikan stimulus untuk menahan potensi penurunan (Sell-Off) besar – besaran paska CNY. The Primary Trader melihat hal ini sebagai sentimen positif sementara namun tampaknya tidak akan efektif mengurangi Sell-Off tersebut.

Masih Amankah IHSG ?

IHSG telah Breakdown Support di 6,000an yang berasal dari Up Trendline sejak Juli 2018. Hal ini berarti Downtrend sudah mengancam dan membatalkan potensi Uptrend Jangka Panjang IHSG. The Primary Trader memperkirakan IHSG berhasil bertahan di 6,000 yang berarti mempertahankan Uptrend Jangka Panjang tersebut. Namun ternyata kekhawatiran Investor akan dampak ekonomi dari wabah Corona ini sangat signifikan.

On the positive side, IHSG mungkin sudah Breakdown Support dari Up Trendline namun IHSG belum membentuk Lower Low – seperti yang The Primary Trader harapkan. IHSG perlu turun di bawah 5,930 untuk membentuk Lower Low dan melanjutkan Downtrend dari sejak Agustus 2019.

Akan tetap, mengingat dampak ekonomi China dan Global (serta Indonesia) akibat wabah virus Corona ini, sangat mungkin sentimen negatif masih menghantui IHSG. The Primary Trader perkirakan IHSG akan Breakdown 5,939 dan membentuk Lower Low baru – sehingga mempertahankan Downtrend tersebut. Ada ancaman IHSG turun menuju 5,690 (Fibonacci Retracement 161.8%) paska Breakdown 5,939. The Primary Trader perkirakan (dan berharap) IHSG turun sampai 5,800 – 5,830.

Pada saat IHSG di 5,800an tersebut, kemungkinan terjadi pada Februari 2020 dan diharapkan mulai ada sentimen positif salah satunya adalah perkembangan Omnibus Law. Selain itu, sentimen Japan Credit Rating Agency (JCRA) menaikkan rating Indonesia dari BBB menjadi BBB+ seharusnya adalah positif.

Memang katalis positif tersebut sangat terasa di pasar obligasi. Yield SUN10Yr berpotensi terus turun (membaik) menuju 5.9% setelah tentu melewati Support penting di 6.5%. Sempat melemah mendekati 6.8%, Yield berhasil kembali turun yang berarti Down Trendline dari sejak Desember 2019 masih aktif. Down Trendline ini membuat Yield berada dalam Strong (but Short) Downtrend yang menurut The Primary Trader dapat membuat Yield terus turun di bawah 6.5% (yang merupakan target akhir tahun 2020 dari kebanyakan Analis, Ekonom dan Fund Manager).

Sentimen positif yang terjadi pada pasar obligasi tentu cepat atau lambat akan dirasakan pada pasar saham. Kenaikan harga obligasi yang membuat Yield turun adalah karena adanya Capital Inflow. Pada akhirnya, Investor akan membutuhkan Higher Return (dan lebih menerima Higher Risk) sehingga beralih ke pasar saham (IHSG).

What Trade War ? Bursa AS dan China dalam Uptrend

Uptrend dari Awal Tahun 2019

The Primary Trader memperhatikan bursa saham AS dan China dimana S&P500, Dow Jones dan Shanghai Composite justru dalam Uptrend sejak awal tahun. Sampai 15 November 2019 (hampir Full Year 2019), ketiganya mencatat Return yang sangat tinggi antara 15% – 25%. Bila memang Trade War mengancam ekonomi kedua negara bahkan dunia maka seharusnya bursa saham pun ikut turun mengikuti ancaman terhadap ekonomi AS dan China.

Ikuti Live Chart di sini.

Pertumbuhan Ekonomi AS dan China

Ekonomi China memang terpukul terutama dari sejak tahun 2010 setelah mencatat pertumbuhan ekonomi sekitar 12% YoY. Pada 3Q19, ekonomi China tumbuh sebesar 6% YoY. Memang masih dapat dikatakan Soft Landing dan pertumbuhan 6% itu tinggi (!). Namun demikian, yang perlu diperhatikan saat ini adalah hutang yang ada pada ekonomi China dan hutang tersebut perlu pertumbuhan ekonomi agar dapat dilunasi. Oleh karena itu, banyak Investor khawatir dampak ekonomi China karena Trade War.

China GDP Annual Growth Rate

Di sisi lain, sebagai pencetus Trade War, ekonomi AS berhasil tumbuh relatif stabil walau tetap terlihat perlemahan. Namun berdasarkan data 3Q19, ekonomi AS berhasil tumbuh sebesar 1.9%, di atas estimasi sebesar 1.6%. Hal ini tentu cukup mengejutkan karena tampaknya ada harapan Trade War berhasil dimenangkan oleh AS sebagai pencetus.

United States GDP Growth Rate

Kenapa ?

The Primary Trader menilai bahwa konsumsi domestik yang disebabkan adanya Disruptive Economy (Startup) yang cenderung masih dalam tahap ‘membakar duit’ berhasil menopang ekonomi AS. Perlu diingat bahwa konsumsi di 3Q19 masih belum dapat dianggap sebagai konsumsi akhir tahun (Thanksgiving, Natal dan Tahun Baru) di AS sementara pada musim tersebut, penjualan hampir selalu tinggi setiap tahun. Oleh karena itu, ada peluang ekonomi AS di 4Q19 pun akan tinggi. Hal ini tentu akan menjadi katalis signifikan karena Investor akan mulai melihat ancaman resesi berkurang dan Investor akan “FOMO” atau Fear of Missing Out dari Uptrend saham – saham AS.

Bagaimana Strateginya ?

The Primary Trader percaya Market Cycle dimana Bullish itu di akhiri ketika semua Investor percaya dan menjadi sangat yakin Bullish akan berlangsung lebih lama lagi (jika tidak selamanya). Saat ini tampaknya masih banyak Investor yang ragu akan Bullish namun tampaknya mulai ada keyakinan (Optimism).

Image result for market cycle

Dengan melihat siklus di atas, ada kemungkinan fase bursa saham di AS (dan China) saat ini adalah fase antara Hope dan Optimism. Oleh karena itu, The Primary Trader berpendapat masih ada potensi Uptrend bagi bursa saham AS terutama S&P500 dan Dow Jones. Selain itu, bursa saham China, yang terpukul karena pertumbuhan ekonominya jelas terpukul, pun sedang dalam pembentukan Bullish Continuation. Artinya ada potensi Shanghai Composite melanjutkan kenaikan dari sejak awal tahun 2019 dengan potensi kembali ke level awal tahun 2018.

S&P500 sendiri sedang dalam Uptrend (seperti juga Dow Jones) dengan potensi menuju 3,300.

Ikuti Live Chart di sini.

Bagaimana dengan IHSG ?

The Primary Trader percaya IHSG sedang dalam tahap akhir Bullish Continuation jangka panjang dari sejak tahun 2018. Artinya adalah seharusnya IHSG sedang bersiap untuk mengawali Uptrend jangka panjang dengan potensi menuju 8,000 (tentu dalam 3-4 tahun ke depan).

Untuk mengawali Uptrend, IHSG perlu Breakout 6,500 sehingga masih perlu 3 – 6 bulan lagi untuk memastikan Uptrend dimulai. Selain itu, karena saat ini IHSG mendekati Support dari pola Bullish Continuation di 5,900, ada ancaman IHSG batal mengawali Uptrend. Downtrend jangka panjang terancam dimulai bila IHSG Breakdown Support 5,900. Oleh karena itu, perlu diperhatikan dan diwaspadai penurunan di bawah 5,900.

Ikut Live Chart di sini.