SIDO : Uptrend Yang Sehat

(Masih Dalam) Bullish Continuation Menuju Rp1,500

The Primary Trader melihat SIDO masih mempertahankan pola Bullish Continuation dari bulan Agustus 2019 dengan potensi menuju Rp1,500 – setelah Breakout Rp1,300. Idealnya SIDO Breakout Rp1,300 di bulan November 2019 namun Sideways SIDO di kisaran Rp1,280 sejak bulan Desember 2019 dapat dilihat sebagai Bullish Continuation minor (sebagai bagian dari Bullish Continuation dari bulan Agustus 2019 tersebut).

Uptrend Jangka Panjang Yang Kuat

Ichimoku Kinko Hyo mengonfirmasi Uptrend yang sangat sehat. Hal ini terlihat bahwa Red Cloud terakhir yang cukup panjang terjadi pada Oktober 2017. Sejak saat itu, Red Cloud terjadi relatif singkat dan SIDO terus di dominasi oleh Green Cloud.

Uptrend jangka panjang juga terlihat jelas setelah SIDO Breakout Rp1,000an pada awal tahun 2019. Mengunakan Fibonacci Retracement, SIDO sebenarnya sudah mencapai target jangka panjang pertama di Rp1,300an atau 161.8%. Masih ada target berikut di 261.8% atau di Rp1,800. The Primary Trader melihat setidaknya SIDO dapat kembali Uptrend menuju Rp1,500 yang merupakan level 200% atau 2x dari Rp1,000 (di level 100% dari Fibonacci).

Valuasi (Memang) Mahal

The Primary Trader menyukai valuasi menggunakan PE TTM. Saat ini PE TTM SIDO berada di 25x dan di atas 2x Standar Deviasi dalam 5 tahun terakhir. Memang sudah mahal.

Namun demikian, dalam hal saham Uptrend, tentu terkadang valuasi mahal karena ada justifikasi. The Primary Trader menggunakan acuan “selama Uptrend terjaga maka harga mahal masih dapat ditoleransi”. Selama SIDO masih bertahan di Up Trendline maka masih ada harapan SIDO terus naik. The Primary Trader akan mewaspadai SIDO bila terjadi Breakdown Up Trendline di Rp1,200 dan Rp1,000.

The Primary Trader Daily 18 Nov’19

Menunggu RDG BI di 21 November 2019

Pertanyaan pentingnya adalah apakah BI akan kembali menurunkan BI Rate lagi setelah menurunkan sebanyak 100 bps (1%) dari sejak Jul’19 ? BI memang mengatakan akan mendukung usaha pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia. Inflasi Indonesia yang stabil rendah serta Rupiah yang terjaga pun semakin membuat BI berani untuk menurunkan suku bunga.

Indonesia Interest Rate

The Primary Trader percaya penurunan suku bunga masih akan terjadi 1x lagi di tahun 2019 sehingga menutup tahun ini, BI 7DRR Rate akan berada di level 4.75% dan artinya ada penurunan sebesar 125 bps atau 1.25% di tahun 2019.

Positif untuk Pasar Obligasi

The Primary Trader masih meyakini Yield SUN10Yr, acuan pasar obligasi, masih dalam tren turun. Artinya adalah harga obligasi masih naik (yang membuat Yield turun). The Primary Trader perkirakan Yield sedang dalam tren turun menuju 6.5% dan saat ini sedang dalam tahap Tech. Rebound atau kenaikan di tengah Downtrend. Kenaikan tersebut setidaknya dapat membuat Yield naik mencapai 7.1% namun tidak lebih karena merupakan kenaikan singkat. Ada Support Psikologis di 7% namun seharusnya dalam waktu dekat, seiring dengan Yield memulai kembali penurunan, Support di 7% dapat di-Breakdown.

Ikuti Live Chart di sini.

Selain karena tren penurunan suku bunga, tampaknya Investor mengantisipasi tidak ada lagi lelang obligasi di Des’19 sehingga mereka mengincar di pasar sekunder. Selain itu, harapan akan kenaikan rating Indonesia dari pemeringkat efek internasional pun tampaknya perlahan diantisipasi oleh Investor.

Positif juga untuk IHSG

Meskipun penurunan suku bunga serta membaiknya kondisi makro Indonesia akan berdampak langsung terhadap pasar obligasi, pasar saham seperti IHSG tentu juga akan mendapat katalis positif berupa kenaikan harga. Untuk IHSG sendiri, setidaknya masih bisa bertahan di atas 6,100 yang artinya adalah IHSG masih mempertahankan peluang Uptrend paska mengakhiri Bullish Continuation dari tahun 2018 (jangka panjang). Uptrend IHSG dalam jangka panjang pula akan diawali dengan Breakout 6,500.

Penurunan IHSG dari sejak pertengahan Okt’19 kemungkinan besar adalah sebagai respon dari kinerja laporan keuangan emiten 3Q19 yang memang tidak dapat dikatakan bagus namun tidak juga dikatakan buruk. Investor dalam waktu dekat seharusnya sudah mengantisipasi sentimen dan katalis positif di tahun 2020. Saat ini pun IHSG sudah di level murah

Dandy Rotation Untuk 18 November 2019

Saham berbasis Komoditas seperti Coal dan CPO menarik untuk diperhatikan karena banyak yang berada dalam kondisi Outperform dan dalam kuadran Outperform (PTBA dan ADRO) atau Buy On Weakness (UNTR dan AALI). Menjelang akhir tahun, China umumnya memerlukan banyak Coal karena masuk musim dingin sehingga pembangkit listrik di sana perlu persediaan Coal.

The Primary Trader menyukai sektor CPO karena adanya peningkatan permintaan karena aturan B30 di Indonesia dan mungkin Malaysia akan mengikuti kebijakan serupa. Selain itu, suplai CPO sendiri sudah berkurang karena penurunan harga yang terus terjadi sejak awal tahun 2017 (-40% sampai Jul’19). Harga CPO telah naik 38% dari sejak Jul’19 dan karena dalam Uptrend maka harga CPO Malaysia berpotensi kembali menuju puncak di tahun 2017. Selain AALI, LSIP dan TBLA pun layak diperhatikan.

Saham berbasis Consumer terutama Poultry, Media dan FMCG pun dapat diperhatikan karena berada dalam kondisi Outperform. Saham dalam kuadran Outperform seperti MYOR, INDF, CPIN dan SIDO dapat menjadi pilihan lalu saham di kuadran Buy on Weakness seperti MNCN dan SCMA pun dapat dipertimbangkan.

The Primary Trader menyukai sektor FMCG karena bila pemerintah menggenjot pengeluaran di awal tahun 2020 (berdasarkan keinginan dan paksaan Presiden kepada Kementerian dan Pemerintah Daerah) maka tentu pengeluaran masyarakat (belanja masyarakat) pun akan naik dari sejak awal tahun dan akan berulang beberapa kali di tahun 2020. Ada potensi pertumbuhan penjualan sektor Consumer di tahun 2020 lebih tinggi dibanding 3Q19 sebesar 5.2% YoY. MYOR, INDF, SIDO, HOKI dan CPIN layak menjadi pilihan.