Money Flow menjadi katalis positif. akankah tetap bertahan ?

Pada empat bulan pertama tahun 2020, Rupiah melemah sebesar 22% terhadap US Dollar. Perlemahan dua bulan terakhir (Maret – April 2020) disebabkan karena Investor global khawatir akan kondisi dunia sehingga memilih untuk keluar dari Emerging Market, termasuk Indonesia dan bahkan aset – aset di Developing Market termasuk US. Bahkan Investor panic buying membeli obligasi negara maju meskipun Yield-nya sudah negatif. Harga emas dunia bahkan terus naik mencapai level tertinggi dari tahun 2012.

Sejak April 2020, IHSG dan SUN mulai naik sebesar 29% sampai awal Juni 2020 sementara Yield SUN10Yr telah turun dari 8.3% ke 7% yang membuat harga FR82 (Benchmark SUN 10Yr) telah naik dari harga 92% ke 99% (naik ~7.6%) . Penguatan dari harga saham dan SUN dapat dilihat dari penguatan Rupiah terhadap US Dollar yang dapat diartikan adanya Capital Inflow dari Investor Asing.

Pada April 2020, di saat Indonesia masih dalam lockdown (PSBB) dan dunia masih berpacu melawan Covid-19 dengan Lockdown, ada tren penguatan Rupiah serta aset saham US (yang diwakili oleh S&P500). Saat ini, Ekonom masih mengkhawatirkan terjadinya resesi global dan semakin percaya V-Shape Recovery tidak mungkin terjadi. Namun ada indikasi bahwa Covid-19 dapat dihadapi dengan baik tanpa perlu Lockdown ketat yaitu dengan Physical Distancing dan menggunakan masker non-medis (yang sudah banyak tersedia dengan harga murah). Saat itulah aset Safe Heaven seperti emas mulai melemah dan Risky Asset termasuk aset keuangan Emerging Market seperti Indonesia mulai menguat.

Money Flow dan Investor Asing memang sangat berpengaruh terhadap pergerakan aset keuangan di Indonesia. Oleh karena itu, dengan adanya Foreign Outflow pada 5M20 (dan sangat besar dibanding 10 tahun terakhir), maka wajar terjadi penurunan yang dalam pada saham dan obligasi. Namun perlu diingat bahwa secara historis, Foreign Outflow tersebut pada tahun berikutnya diikuti oleh Foreign Inflow – dan lebih besar dari sebelumnya.

Optimisme Masyarakat

Tidak banyak negara – negara yang masyarakatnya Optimis. Bila dilihat dari Consumer Confidence negara Asia Tenggara seperti Malaysia, Filipina, Thailand dan Vietnam, Indonesia relatif tinggi dan optimis. Indonesia relatif sama seperti Thailand namun mengingat sektor Tourism (yang sangat berkaitan erat dengan ekonomi Thailand) memerlukan waktu yang lama untuk Recovery maka tampaknya Consumer Confidence Thailand akan lebih lambat pulih dibanding Indonesia. Vietnam adalah salah satu negara yang berhasil melawan Covid-19 sehingga wajar Consumer Confidence-nya tinggi (dan bertahan di level tinggi).

Optimisme masyarakat yang baik akan sangat penting pada masa pelonggaran atau Re-Opening atau PSBB Transisi (yang sedang dijalankan di DKI Jakarta + Bodetabek). Saat ini mal – mal mulai kembali buka dan aktifitas ekonomi perlahan kembali diizinkan. Dengan demikian, tentu masyarakat mulai memperoleh pendapatan lagi yang sangat positif untuk perekonomian – dan harga saham serta SUN.

Survei yang dilakukan oleh Mandiri Sekuritas menunjukkan pada minggu pertama PSBB Transisi, mal yang High Class cukup banyak dikunjungi. Memang kemungkinan besar, berdasarkan survei Mirae Asset, masyarakat menengah ke atas yang akan tetap berkunjung ke mal namun masyarakat menengah ke bawah bukan berarti tidak berbelanja.

Peningkatan aktifitas masyarakat pada PSBB Transisi meningkat. Hal ini saja sudah dapat memberikan harapan bagi pekerja yang mengandalkan penghasil dari pergerakan masyarakat (seperti Driver Online, warung makan dan pedagang kaki lima). Oleh karena itu, ada potensi ekonomi Indonesia di 2H20 dapat tumbuh dan tidak seburuk yang dikhawatirkan.

Ekonomi Indonesia di 2Q20.

Berdasarkan estimasi, ekonomi Indonesia diperkirakan tumbuh 4.18% YoY di 1Q20 namun ternyata ekonomi Indonesia hanya tumbuh 2.97% YoY. Ekonomi Indonesia sendiri sudah dua kuartal turun (bila dibandingkan dua kuartal sebelumnya atau QoQ). Pada 4Q19, ekonomi Indonesia turun -1.74% QoQ dan di 1Q20 turun -2.41% QoQ. Secara historis, ada pertumbuhan di 2Q20 dan disinilah letak masalahnya.

Ekonomi di 1Q20 memang masih tumbuh (2.97% YoY) namun perlu diingat bahwa PSBB di DKI Jakarta baru berlaku awal April 2020 sehingga penurunan ekonomi di 1Q20 adalah dampak langsung dari Lockdown dari beberapa negara seperti China dan Uni Eropa. Memang di Februari 2020, pemerintah Indonesia juga melakukan Lockdown dan membatasi arus manusia namun belum ada penutupan tempat bisnis yang masif seperti penutupan mal dan kantor. Oleh karena itu, dampak PSBB terhadap ekonomi baru akan terlihat pada 2Q20.

Dengan demikian, tentu ada potensi pertumbuhan ekonomi di 2Q20 dapat turun lebih dalam lagi dan bahkan mencatat pertumbuhan negatif bila dibandingkan 2Q19 (YoY). Hampir pasti ekonomi Indonesia kembali mencatat pertumbuhan negatif dibanding 1Q19 (QoQ). Pemerintah Indonesia dan Bank Indonesia relatif cukup responsif dalam menghadapi ancaman tersebut sehingga The Primary Trader melihat adanya katalis positif.

Pemerintah Indonesia memang telah bersiap untuk menghadapi kondisi yang buruk dengan menaikkan Defisit Anggaran dari maksimal -3% menjadi -5.07% yang kemudian direvisi lagi menjadi -6.72%. Pemerintah juga bersiap memberikan stimulus terbesar sepanjang sejarah yaitu Rp405 triliun. Stimulus inilah yang diharapkan dapat meminimalisir dampak negatif dari langkah pencegahan penyebaran Covid-19 terhadap ekonomi.

Sampai 10 Juni 2020, pemerintah disebutkan telah menyebarkan stimulus sebesar 34% dari target. Salah satu stimulus terpenting yaitu pemberian kas kepada warga selain Jabodetabek meningkat dari Rp4 triliun di akhir April 2020 menjadi Rp12 triliun di Juni 2020. Pemberian THR kepada PNS, TNI dan Polri serta karyawan pun memberikan dukungan tambahan ditengah PSBB ini.

Senada dengan pemerintah, BI pun memberikan “stimulus”-nya dimana pada RDG Juni 2020, BI 7DRR Rate dipotong sebesar 0.25% menjadi 4.25%. BI telah mempertahankan BI 7DRR Rate selama dua bulan April dan Mei 2020 dengan alasan yang tepat yaitu untuk menjaga stabilitas serta mendukung PSBB pemerintah. Di bulan Maret 2020, BI sebenarnya telah memotong BI 7DRR Rate sebesar 0.25% dari 4.75% menjadi 4.5%.

Indonesia Interest Rate

Seiring dengan adanya pelonggaran PSBB (menjadi PSBB Transisi) serta diharapkan adanya perlambatan penyebaran infeksi Covid-19 dan niat pemerintah untuk perlahan mendorong perekonomian (dalam rangka menjaga penghasilan masyarakat), BI diperkirakan akan kembali memotong BI 7DRR Rate. Selain karena adanya kecenderungan BI terus melakukan Cut Rate berturut – turut, secara perbandingan, Yield Indonesia masih relatif menarik dibanding negara – negara berkembang lainnya.

Menunggu Foreign Inflow Setelah Indikator Analisis Teknikal Cenderung Positif

Seiring dengan perlemahan VIX yang menjadi indikasi risiko bagi Investor global (Investor US) maka S&P500 berpotensi terus naik. Bullish pada S&P500 secara langsung memberikan sentimen positif bagi bursa global termasuk Indonesia.

IHSG telah naik sebesar 27% dari akhir Maret 2020 sementara baru pada pertengahan Mei 2020 kenaikan IHSG diikuti oleh Foreign Flow. Memang Foreign Inflow dari Mei 2020 belum terlihat akan membalikkan tren Foreign Outflow yang telah terjadi sejak tahun 2017 namun setidaknya bila dibandingkan dari tahun 2020, ada harapan terjadi Net Foreign Inflow. Setidaknya di awal tahun 2020, Foreign Flow sempat Flat yang menandakan tren Foreign Outflow sempat tertahan (sehingga ada harapan pembalikan tren menjadi Foreign Inflow di awal tahun 2020).

Selain dilihat dari Foreign Flow, indikator lain yang bersifat Trend Following pun mengindikasikan hal yang positif pada IHSG.

Menggunakan indikator Ichimoku Kinko Hyo, IHSG sudah mulai berada di dalam Red Cloud setelah sejak awal tahun 2020 berada di bawah Cloud. Bahkan di awal Juni, IHSG sempat Breakout dan berada di atas Red Cloud. Meski kembali turun di dalam Red Cloud, IHSG masih membentuk Green Cloud yang mengindikasikan ada potensi Bullish dalam waktu dekat.

Menggunakan Moving Average 20, 60 dan 200, saat ini IHSG berada di atas MA20 dan MA60. Selain itu, MA20 pun sudah berada di atas MA60 yang mengindikasikan telah terjadi Golden Cross (pada awal Juni 2020). Indikator jangka panjang pilihan The Primary Trader yaitu selisih antara MA60 dengan MA200 menunjukkan Flat (sejak akhir Mei 2020). Hal ini menunjukkan peluang tren Bearish sudah berkurang. Worst Case Scenario untuk IHSG adalah bahwa IHSG bergerak Flat.

Semoga.

Menunggu Data Ekonomi 2Q20 Untuk Antisipasi Bottom

The Primary Trader sempat melihat potensi S&P500 untuk Breakout 2,950 dan memasuki potensi Uptrend. Namun melihat pergerakan kemarin dimana yang kedua kalinya S&P500 tertahan di 2,950 maka The Primary Trader kembali meyakini bahwa Downtrend masih akan terjadi.

Sampai kapan?

Timing Analysis tidak pernah mudah dan cabang Analisis Teknikal yang fokus pada Timing Analysis (seperti Astrology Trading, Gann atau Elliot Wave tidak mudah dipercaya Investor dan The Primary Trader tidak mendalaminya). Namun The Primary Trader mencoba mengemukakan potensi Bottoming Global Market termasuk IHSG di tahun 2020 ini dengan melihat Seasonality dan data ekonomi.

The Worst Has Yet To Come

Di pertengahan April dan Mei ini, Investor terkejut dengan data pertumbuhan ekonomi di 1Q20 yang mana terlihat dampak awal dari Pandemi COVID-19. Ekonomi China di 1Q20 turun -6.8% YoY, lebih dalam dari estimasi sebesar -6.5% YoY. Hal ini wajar karena China mulai Lockdown di akhir Januari 2020 atau bertepatan dengan Chinese New Year dimana terjadi mudik masal terbesar di dunia. Selain tidak ada konsumsi di berbagai kota, praktis aktifitas bisnis pun ditutup sehingga cukup wajar ada pukulan yang telak bagi ekonomi China di 1Q20.

Amerika Serikat yang sebenarnya baru mulai Lockdown di akhir Maret 2020 namun pada akhir Januari 2020 sudah mulai ada pembatasan terutama dari sisi imigrasi. Di akhir April 2020, data awal pertumbuhan ekonomi AS di 1Q20 turun sebesar -4.8% QoQ (di-annualized), jauh dari estimasi sebesar -4% QoQ. Ekonomi AS di 1Q20 hanya tumbuh 0.3% YoY, sangat jauh dari rentang 2.1% – 3.2% dari 2Q18 – 4Q19.

AS tampaknya adalah bukti bahwa apabila ekonomi China kurang baik maka negara lain pun demikian. China sebagai Supply-Side memegang peranan penting di era globalisasi ekonomi ini karena Impor China akan bahan mentah berperan sebagai pendapatan signifikan bagi ekonomi seperti Indonesia dan bahkan negara AS sendiri.

Indonesia sendiri pun mengalami pukulan karena di awal Mei 2020, BPS melaporkan ekonomi Indonesia hanya naik sebesar 2.97% YoY di 1Q20, terendah sejak 1Q01. Tentu hal ini jauh di bawah estimasi sebesar 4.04% YoY dan hal inilah yang pertama kali membuat ekonom (termasuk pemerintah) melihat potensi ekonomi Indonesia bisa negatif di akhir tahun. Artinya adalah nilai GDP Indonesia tahun 2020 bisa lebih rendah dari tahun 2019 (sebesar USD1,12 miliar). Indonesia sendiri pernah setidaknya 2 kali mengalami Resesi (penurunan pertumbuhan ekonomi dalam 2 kuartal berturut – turut) yaitu di antara tahun 2020 dan 2013.

Ekonom pun mulai melihat bahwa ini masih dampak awal Pandemi COVID-19 sehingga masih ada dampak lanjutan pada ekonomi di 2Q20. Oleh karena itu, pada awal Mei 2020, ekonom dan Investor mulai bersiap untuk kehilangan kesempatan adanya V-Shape Recovery pada ekonomi global.

Data GDP di 2Q20 : Potensi Bottom

Karena Investor mulai kehilangan harapan akan V-Shape Recovery, tentu Investor akan menunggu pengumuman GDP berikutnya di 2Q20 yaitu sekitar bulan Juli 2020 (China dan AS) dan Agustus 2020 (Indonesia). Data GDP 2Q20 akan menjadi pemicu apakah justifikasi Forward Looking Investor sudah benar.

Apabila ternyata GDP di 2Q20 lebih baik dari perkiraan, tentu hal ini akan menjadi Timing untuk mengakhiri Downtrend dan mengawali Uptrend. Apabila GDP di 2Q20 jauh lebih buruk dari perkiraan, The Primary Trader melihat pada akhirnya valuasi sudah akan murah sekali sehingga ancaman penurunan sudah relatif kecil. Pada saat itulah menurut The Primary Trader akan terjadi Bottom pada Global Market. Dua kondisi yang terjadi adalah “Better Than Estimate” bila GDP lebih baik dari estimasi atau “Underowned dan Very Undemanding Valuation” bila GDP lebih buruk dari estimasi.

The Primary Trader perkirakan masih akan ada penurunan karena shock terhadap GDP 2Q20 di US, China dan Indonesia (karena The Primary Trader ingin membahas aset investasi di Indonesia). Oleh karena itu, pergerakan di 2Q20 sampai 3Q20 (menjelang pengumuman GDP 2Q20 di bulan Juli dan Agustus 2020) akan sangat volatile. Namun menjelang atau pada 3Q20 tersebutlah seharusnya mulai ada indikasi Bottoming setelah semuanya ter-Priced In baik keburukan di 2Q20 maupun harapan di 2H20.

Seasonality

The Primary Trader ingin melihat pergerakan S&P500, Shanghai Composite dan IHSG secara kuartalan untuk melihat Seasonality dan fakta Bottoming ketiga indeks tersebut.

Bila dilihat pada Seasonal Plot S&P500, ada kecenderungan Bottoming di 3Q meskipun di beberapa tahun terakhir ini, kenaikan dari 3Q ke 4Q tidak setinggi di awal – awal tahun 2010an. Namun mengacu pada SubSeries Seasonal Plot, ada kecenderungan S&P500 naik (dari Bottom) pada 3Q untuk kemudian relatif Sideways pada 4Q.

Pada Shanghai Composite, Seasonal Plot menunjukkan kecenderungan terjadinya Bottoming (dengan peluang lebih besar) di 3Q untuk kemudian naik sampai 4Q. SubSeries Seasonal Plot pun menunjukkan kecenderungan untuk naik dari 3Q ke 4Q.

Untuk IHSG, Seasonal Plot menunjukkan peluang yang sama besar antara Bottoming di 2Q untuk naik ke 3Q dan Bottoming di 3Q untuk naik ke 4Q. Melihat SubSeries Seasonal Plot, IHSG cenderung bergerak dengan volatilitas rendah di 3Q dan hal ini menunjukkan kecenderungan terbentuknya Bottom (yaitu di 3Q). Berdasarkan garis rata – rata (garis biru), selisih antara rata – rata 2Q dengan 3Q tidak berbeda jauh. Dapat disimpulkan jalan tengah bahwa IHSG cenderung Bottoming di 2Q – 3Q (dua kuartal).

Kesimpulan

Bahayanya percaya prediksi berakhir Pandemi adalah membuat kita lengah dan terjebak untuk melonggarkan Lockdown atau PSBB lebih cepat dari kondisi aman. Hal tersebut dapat mengancam peningkatan kasus baru lagi. Dengan demikian, hal yang paling penting adalah menunggu relaksasi Lockdown atau PSBB setelah ada bukti bahwa kasus baru mulai melandai dan cukup jauh dari puncak.

Oleh karenanya, The Primary Trader lebih percaya untuk tidak melihat Peak dari New Case sebagai Timing To Entry karena pada akhirnya hal tersebut menjebak. Resesi dan Market Crash kali ini terjadi karena wabah penyakit dan selama wabahnya belum terkendali, tampaknya akan sulit untuk memprediksi Bottoming atau awal Uptrend.

Namun demikian, berdasarkan data (GDP 2Q20) dan Seasonality di atas, setidaknya perkiraan The Primary Trader bahwa Bottom akan terjadi di akhir 2Q20 atau 3Q20 juga merupakan harapan. Semoga.

Salah Satu Yang Terdalam Di 25 Tahun Terakhir. Ekonomi AS Di 1Q20 Turun Tapi Ada Potensi Kenaikan Bursa Saham AS dan Global.

Ekonomi AS di 1Q20 turun sebesar -4.8% QoQ. Penurunan ini adalah salah satu yang terdalam di 25 tahun terakhir. Tentu hal ini adalah sebagai dampak Lockdown di berbagai State di AS yang baru dilakukan pada akhir Maret 2020 (!).

United States GDP Growth Rate

Seiring dengan terjadinya Lockdown, pengangguran mulai meningkat yang diindikasikan dengan banyaknya klaim pengangguran. Pada 2 minggu di pertengahan Maret 2020, klaim pengangguran langsung melonjak menjadi 9 juta orang. Dalam 5 minggu terakhir, sudah sebanyak 26 juta orang mengajukan klaim pengangguran yang mengindikasikan jumlah orang yang di-PHK. Angka tersebut merupakan yang terbesar sepanjang data klaim pengangguran. Bila terus berlanjut maka hal ini akan merubah tren tingkat pengangguran yang dalam tren turun sejak tahun 2010. Pada bulan Maret 2020, tingkat pengangguran sudah naik menjadi 4.4%.

Meski demikian, S&P500 tampaknya bergerak naik dan telah Breakout Fibonacci Retracement di 61.8% yang diproyeksikan ke bawah. Dengan demikian, masih ada ancaman S&P500 melanjutkan Downtrend (dengan potensi lebih dalam dari 2,200 – sampai kemarin ketika S&P500 berhasil (atau sedang) Breakout ~2,950 yang merupakan level Fibonacci 61.8%.

Dengan melewati Fibonacci 61.8% proyeksi ke bawah maka penurunan S&P500 ke depan adalah sebagai Tech. Correction dari Uptrend S&P500 yang dimulai dari akhir Maret 2020 di 2,190. Bila terjadi penurunan, The Primary Trader perkirakan akan berada di antara rentang Fibonacci Retracement 61.8% – 38.2% dengan proyeksi ke atas yaitu di ~2,500 – ~2,650.

Meski demikian, kenaikan S&P500 memang yang paling tinggi dibanding indeks AS lain seperti Russell2000, Dow Jones Industrial dan Transportation. Namun kenaikan S&P500 masih kalah dibanding Nasdaq100.

Di Nasdaq100, ada 2 saham yang saat ini sedang menarik (selain Amazon yang ada di S&P500) yaitu Gilead Science yang memproduksi obat Remdesivir dan Zoom Video Telecommunication yang membuat aplikasi Online Meeting Zoom.

Hal yang membuat positif pasar saham AS (dan mungkin pasar saham dunia dalam waktu dekat) adalah obat Remdisivir kemungkinan akan disetujui oleh FDA sebagai obat COVID-19, sesuai dengan pemberitaan CNN.

Semoga.

S&P500 Masih Terancam Turun -40%. Berikut alasannya

The Primary Trader melihat S&P500 masih terancam turun menuju 1,670 atau -40% dari level saat ini. S&P500 memang telah naik 30% dari akhir Maret 2020 namun kenaikan tersebut dapat dianggap sebagai Tech. Rebound yaitu kenaikan ditengah Downtrend. The Primary Trader belum melihat ada akhir dari Downtrend.

S&P500 dapat dikatakan berhasil mengakhiri Downtrend dan berpeluang besar untuk Uptrend bila dapat naik di atas 2,930 yang merupakan Fibonacci Retracement 61.8% dengan proyeksi ke bawah. Dengan melewati 2,930 maka kenaikan dari akhir Maret 2020 tersebut bukan merupakan Tech. Rebound.

Kenaikan S&P500 sejak awal tahun tampaknya karena kenaikan saham Amazon dan Netflix yang memang menjadi pemenang ditengah Pandemi COVID-19 dan Lockdown di berbagai belahan dunia. Namun bila melihat indeks Russell2000 (berisi 2 ribu saham di New York Stock Exchange), terlihat bahwa mayoritas saham tidak sebagus pergerakan S&P500. Amazon dan Netflix (serta 3 saham lain seperti Alphabet dan Facebook) hampir mewakili 20% dari total Market Cap S&P500).

Sementara itu, dilihat dari Market Breadth S&P500, saat ini lebih banyak saham – saham S&P500 yang turun. Dari chart di bawah, jumlah saham – saham yang di bawah level High 52Wk semakin banyak dan beberapa kali menjadi indikasi penurunan dalam pada S&P500 seperti di tahun 1990, 2008, 2011 dan 2016. Artikelnya dapat dilihat di Bloomberg.

relates to Goldman Says Narrow Breadth in S&P 500 a Bad Sign for Stocks

Minggu Penting

Di minggu terakhir April 2020 ini, Investor menunggu data ekonomi penting yaitu :

  • US GDP Growth Rate 1Q20 di 29 April 2020
  • FOMC Meeting di 30 April 2020
  • China NBS Manufacturing PMI di 30 April 2020

Trading Economics memperkirakan ekonomi AS di 1Q20 kontraksi sebesar -4% QoQ. Penurunan tersebut lebih dalam dari 25 tahun terakhir dan hanya dikalahkan oleh penurunan pada tahun 2008 (Global Financial Crisis).

United States GDP Growth Rate

The Primary Trader perkirakan data – data tersebut akan menjadi katalis penurunan S&P500. Selain itu, setelah wabah COVID-19 di suatu negara selesai dan Lockdown mulai berakhir, masih ada tantangan lagi karena masyarakat belum belanja dan konsumsi seperti biasanya. Hal ini terjadi di Wuhan dan Jerman.

Ekonomi China Turun -6.8% YoY. Apakah Global Bearish Market Berlanjut?

Ekonomi China di 1Q20 turun sebesar -6.8% YoY, penurunan pertama sejak tahun 1992. Di saat yang sama, Retail Sales China bulan Maret 2020 pun turun -15.8% YoY. Namun data tersebut cenderung membaik karena Retail Sales bulan Januari dan Februari 2020 turun sebesar -20.5% YoY. Pada bulan Maret 2020, Wuhan masih Lockdown sementara data Retail Sales sudah membaik. Ada harapan setelah Lockdown dibuka (di bulan April 2020), Retail Sales China pun membaik yang mendorong pertumbuhan ekonomi China di 2Q20.

China GDP Annual Growth Rate

The Primary Trader ingin mencatat bahwa setelah Lockdown, ternyata di Wuhan tidak ‘business as usual. Memang Manufacturing PMI China di bulan Maret 2020 sudah kembali di level 50 sehingga aktifitas produksi seperti pabrik berjalan seperti biasa, bahkan cenderung mengejar target produksi di awal tahun 2020 (atau setidaknya paska Chinese New Year). Namun industri yang berorientasi konsumsi seperti restoran dan ritel di mal masih relatif sepi. Hal ini dikhawatirkan akan ada perubahan tren konsumsi masyarakat untuk jangka panjang. Kebiasaan akan memasak dirumah selama Lockdown atau (yang The Primary Trader perkirakan) membeli barang lokal karena barang impor sempat langka atau mahal akan mempengaruhi banyak bisnis.

Shanghai Composite (Shcomp) masih dalam Downtrend Channel sejak April 2019 (periode Trade War AS – China). Di awal tahun 2020, Shcomp hampir Breakout Resistance dari Downtrend Channel di ~3,100 untuk mengakhiri Downtrend dan mengawali Uptrend menuju 3,600, level tertinggi sebelum Trump mengancam Trade War. Saat ini Shcomp masih harus Breakout 3,100 untuk mengawali Uptrend menuju level tersebut.

Shcomp memang bursa saham utama global dengan kinerja yang terbaik sejak awal tahun 2020 (bahkan ketika COVID-19 menjadi Pandemi global di Maret 2020). Sejak pertengahan Maret 2020, bursa global cenderung bertahan dan perlahan naik – meskipun belum kembali ke level awal tahun 2020.

Live Chart here

S&P500 sendiri berhasil naik 30% dari pertengahan Maret 2020 dan ada kemungkinan S&P500 terus naik menuju 3,000 setelah Investor memperkirakan laporan keuangan 1Q20 dapat lebih baik dari estimasi. Selain itu, rencana re-opening ekonomi (dengan membuka Lockdown) menjadi katalis positif karena Investor mengharapkan wabah COVID-19 di AS telah terkendali. The Primary Trader mengkhawatirkan Lockdown yang terlalu dini dapat kembali meningkatkan penyebaran wabah.

Untuk dapat mengonfirmasi akhir Downtrend, S&P500 perlu naik dan Breakout 2,930 yang merupakan level Fibonacci 61.8% yang diproyeksikan ke bawah (Downtrend Projection). The Primary Trader masih perkirakan S&P500 akan tertahan di kisaran 2,900an, tidak jadi Breakout 2,930 dan kembali melanjutkan Downtrend menuju 1,400.

Ada kemungkinan S&P500 kembali turun sebagai One Last Drop dan The Primary Trader melihat kemungkinan yang cukup besar S&P500 tidak turun lebih dalam dari 2,180 – 2,350. Dengan demikian, S&P500 membentuk Bottoming untuk mengakhiri Downtrend dan mengawali Uptrend. Kunci utamanya adalah S&P500 harus turun di bawah 2,700 dalam 2 minggu ke depan untuk melihat ancaman penurunan S&P500. Di bulan April 2020 ini pun The Primary Trader akan memperhatikan apakah S&P500 berhasil Breakout 2,930 untuk melihat potensi Uptrend.

Emiten di Indonesia pun segera memasuki musim laporan keuangan 1Q20. Tentu ada kemungkinan perlambatan namun pertanyaannya apakah sesuai dengan estimasi, lebih baik atau justru lebih buruk dari estimasi. The Primary Trader akan mencoba melihat informasi dan chart-nya terlebih dahulu.

Semoga wabah cepat selesai.

Salah Satu Kenaikan Terbaik DJIA dan S&P500

Harapan adanya stimulus fiskal yang sangat besar (~USD2 triliun) dari pemerintah AS membuat Investor optimis sehingga terjadi kenaikan yang tinggi pada bursa saham AS (kenaikan terbesar Dow Jones dari sejak tahun 1933 dan kenaikan terbesar S&P500 dari sejak tahun 2008). Perlu dicatat bahwa meskipun stimulus belum disetujui namun dapat diharapkan akan disetujui dalam waktu dekat.

S&P500 naik sebesar 9.3% dan berhasil Breakout Down Trendline dari sejak awal Maret 2020. Breakout ini mengindikasikan Downtrend yang telah terjadi sejak akhir Februari 2020 berpotensi selesai. Namun The Primary Trader melihat adanya ancaman Dead Cat Bounce atau mungkin kenaikan tersebut adalah bagian dari Technical Rebound (kenaikan ditengah Downtrend).

Untuk dapat mengakhiri Downtrend, menggunakan Fibonacci Retracement dari pertengahan Februari 2020 (S&P500 di level 3,400) sampai level terendah tahun 2020 di 2,180an, S&P500 harus bisa melewati area 2,930 atau Fibonacci Ratio di 0.62%. Selama S&P500 tidak dapat melewati 2,930 (perlu kenaikan ~20% dari level saat ini), maka The Primary Trader percaya kenaikan tersebut adalah Technical Rebound yang belum merubah Downtrend.

S&P500 telah turun sebesar -35% dalam waktu ~23 hari perdagangan sehingga penurunan ini adalah salah satu yang tercepat sepanjang sejarah S&P500. Begitupun dengan Dow Jones Industrial Average (DJIA) yang telah turun sebesar -38% dalam waktu ~26 hari perdagangan. S&P500 saat ini berada di level tahun 2016 (2,130) yang tampaknya dapat menjadi Support kuat.

The Primary Trader percaya bahwa aksi yang cepat akan mendapat reaksi yang cepat juga. Oleh karena itu, penurunan yang cepat seperti saat ini maka akan diikuti juga dengan kenaikan yang cepat. Dengan asumsi bahwa penurunan yang cepat disebabkan oleh wabah Covid-19 maka kenaikan cepat juga disebabkan oleh wabah Covid-19 tersebut berangsung – angsur berakhir.

Reaksi cepat yang muncul tentu tidak sama persis dengan aksi cepat. Investor perlu waktu untuk mempercayai bahwa hal – hal yang membuat Panic Selling telah berakhir. Oleh karena itu, setidaknya perlu waktu 2-10x lebih lama untuk perlahan membuat Investor kembali berinvestasi. Berdasarkan sejarah pada Dow Jones, berikut adalah waktu yang dibutuhkan untuk Recovery :

Tentu ada harapan pasar saham dan pasar keuangan lain akan Recovery setelah Market memperbaiki kekurangannya (yang menjadi alasan terjadi krisis). Namun tentu Bear Market perlu waktu untuk berubah menjadi Bull Market dan Investor umumnya lebih waspada dan tidak mudah percaya sehingga memperlama terbentuknya Bull Market.

-30% Dalam Sebulan Adalah Tandanya

ROC 20 Sebesar -30% Di 2020 Dan 2008

Per hari ini, S&P500 telah turun sebesar -30% dalam 20 hari terakhir atau dari level tertingginya di 3,393 di tanggal 19 Februari 2020 – 1 bulan lalu. Menggunakan indikator Rate of Change (ROC) periode 20 atau menghitung persentase perubahan harga 20 hari terakhir, The Primary Trader melihat S&P500 cenderung mengakhiri penurunan setelah ROC 20 menyentuh angka -30%. Artinya adalah S&P500 berpotensi membentuk Bottom atau fase akhir dari penurunan setelah turun sebesar -30% dalam 20 hari terakhir.

Memang pada beberapa kasus, S&P500 masih tetap turun dalam 1-2 bulan ke depan namun dengan “kecepatan” yang lebih lambat. Bahkan sebelumnya menyentuh ROC 20 sebesar -30%, S&P500 pun sedang dalam kondisi Downtrend. Seperti pada Global Financial Crisis 2008, S&P500 menyentuh ROC 20 sebesar -30% pada pertengahan fase Downtrend. S&P500 pun masih turun sebesar -30% lagi dalam 3 bulan ke depan namun penurunan tersebut sebagai fase akhir dari Downtrend karena terbentuk Divergence antara ROC 20 dengan S&P500.

Pada kasus GFC 2008, perlu diketahui bahwa “kecepatan” atau persentase penurunan dari sejak September 2007 sampai Maret 2009 sangatlah lambat. Menggunakan derajat kemiringan, Downtrend S&P500 saat itu adalah sebesar –21 derajat atau dengan perubahan sebesar 0.16% / hari (-58% dibagi 353 hari perdagangan). The Primary Trader menilai, tren yang landai akan cenderung stabil. Hal ini karena Investor sadar bahwa kondisinya memang buruk namun relatif masih ada harapan (karena aksi The Fed dan Pemerintah AS) sehingga masih ada Minor Uptrend ditengah Major Downtrend saat itu.

Kondisi Panic Selling yang menurut The Primary Trader tidak stabil adalah ketika derajat kemiringan dari pergerakan harga mencapai > 45 derajat. Pada saat S&P500 mencatat ROC 20 sebesar -30%, saat itu derajat kemiringan S&P500 adalah sebesar -68 derajat dengan perubahan sebesar 1.3% / hari (-35% dibagi 27 hari perdagangan). Terlihat jelas bahwa pada saat itu, Investor sangat panik sehingga S&P500 mencatat volatilitas yang jau lebih besar selama GFC 2008.

Pada kondisi S&P500 di 2020, derajat kemiringan adalah sebesar -76 derajat (dilihat dari tahun 2019). Perubahan rata – rata harian adalah sebesar 1.57% / hari (-30% dibagi 19 hari perdagangan). Tentu The Primary Trader menilai Panic Selling ini tidaklah stabil. Dengan kata lain, dalam 3-6 bulan ke depan, The Primary Trader memperkirakan akan ada fase pergerakan yang menyerupai Bottoming atau Bullish Reversal dalam rangka mengakhiri Downtrend dan mempersiapkan kembali Uptrend.

ROC 20 Sebesar -30% Lainnya

The Primary Trader mencoba melihat ROC 20 sebesar -30% yang pernah dicapai S&P500 sepanjang sejarahnya (atau setidaknya sebanyak data yang tersedia di tradingview.com).

Di tahun 1987, S&P500 pernah turun sebesar -34% dalam waktu 12 hari perdagangan atau sebesar 2.8% / hari dengan derajat kemiringan sebesar -82 derajat dari awal tahun. ROC 20 saat ini menyentuh -30%. Kondisi saat itu (disebut Black Monday 1987) disebabkan antara lain oleh Computer Trading dan Derivative Instruments.

S&P500 dibuat tahun 1957 namun tradingview.com di akun The Primary Trader hanya sampai tahun 1970an. Oleh karena itu, The Primary Trader mencoba melihat Dow Jones meskipun tentu ada perbedaan dengan S&P500 namun ROC 20 dengan nilai sebesar -30% atau lebih tetap diperhatikan.

Salah satu data terseram yang The Primary Trader lihat adalah pada saat The Great Depression tahun 1929 – 1939 (10 tahun!). Saat itu Dow Jones Industrial Average (DJIA) turun sebesar -90% dari September 1929 sampai Juli 1932 atau dengan derajat kemiringan sebesar -26 derajat. Sepanjang Major Downtrend tersebut, DJIA turun rata – rata sebesar 0.12% per hari (-90% selama 714 hari perdagangan).

Selama periode tersebut, ada sekitar 3x dimana ROC 20 mencapai -30% (bahkan -40% di awal periode The Great Depression). Meski masih Downtrend dalam jangka lama, setelah ROC 20 mencapai -30%, DJIA cenderung naik setidaknya setengah periode dari periode penurunan yang membuat ROC 20 mencapai angka -30%.

Tentu The Primary Trader tidak membandingkan S&P500 tahun 2020 dengan The Black Monday atau bahkan saat The Great Depression. Namun The Primary Trader ingin menunjukkan harapan bahwa S&P500 berpotensi mendekati akhir Downtrend atau setidaknya peluang penurunan rata – rata sebesar -1.57% / hari sudah mulai berkurang. The Fed sudah melakukan 2x Emergency Cut dalam sebulan terakhir yang memotong Fed Fund Rate sebesar total 150 bps (50 bps di awal Maret 2020 lalu 100 bps seminggu kemudian) dari 1.75% menjadi 0.25%. Pemerintah AS pun telah mendapat persetujuan DPR-nya AS untuk meminta stimulus dan saat ini sedang mengajukan stimulus sebesar USD1.1 triliun kepada Kongres AS.

Tentu akar masalah belum akan selesai dengan stimulus moneter dan stimulus fiskal. Namun setidaknya saat ini vaksin Covid-19 sudah mulai dilakukan tes pertama terhadap manusia. Hal tersebut tentu dapat membantu menimbulkan sentimen positif untuk Investor.

Babak Baru Perlawanan Terhadap Covid-19

Stimulus Fiskal Sebagai Harapan Untuk Bursa Saham AS

Investor kembali optimis setelah ada harapan Pemerintah AS memberikan stimulus setelah ada kesepakatan antara Pemerintah dan DPR. Saat ini rencana stimulus akan dibawa ke Senat untuk disetujui. Stimulus Fiskal tersebut diperlukan untuk menangani wabah Corona serta untuk meminimalisir dampak negatifnya terhadap ekonomi AS.

S&P500 langsung mencatat (salah satu) kenaikan terbaik sebesas 9.3% dalam satu hari tersebut. Namun The Primary Trader melihat kenaikan S&P500 tersebut belumlah mengindikasikan akhir dari Downtrend yang terjadi sejak akhir Februari 2020. Seperti kenaikan pada awal Maret 2020 (dari ~2,800 ke ~2,890), belum ada indikasi yang cukup bahwa S&P500 dapat membatalkan Downtrend.

Pada awal Maret 2020 tersebut, S&P500 harus Breakout Resistance di ~2,900 untuk dapat membatalkan Downtrend. Oleh karena itu, Downtrend masih intact dan S&P500 kembali turun. Disaat S&P500 mencatat kenaikan sebesar 9.3% dalam satu hari, S&P%500 masih belum mampu Breakout Resistance yang diperlukan untuk membatalkan Downtrend yaitu di ~2,750.

Oleh karena itu, The Primary Trader masih menunggu S&P500 Breakout 2,750 yang membuka peluang untuk membatalkan Downtrend di minggu depan. Sampai saat ini, The Primary Trader masih melihat wabah Corona masih menjadi sentimen negatif yang belum akan selesai selama obat dan atau vaksinnya ditemukan.

VIX Masih Tinggi Tanda Investor Masih Khawatir

Meski wabah Corona belum akan selesai namun Investor tampaknya mulai melihat risiko pasar yang terjadi sedikit mereda dengan adanya paket stimulus fiskal dari AS. VIX menunjukkan penurunan meskipun sempat menyentuh level 80. Level VIX pada Global Financial Crisis (GCF) ada di 96.4 sehingga hanya tinggal 16 poin lagi maka Investor menganggap kondisi saat ini sama gentingnya dengan kondisi pada GFC 2008 lalu.

Penurunan kekhawatiran Investor akan kondisi pasar (yang ditunjukan dengan penurunan VIX) cukup penting mengingat baru – baru ini tampaknya Investor merasa sangat khawatir sehingga memilih Hoarding Cash (USD Index telah menguat ~4% dalam seminggu terakhir) instead of membeli Safe Heaven.

Jual Emas (Safe Heaven), Pegang (Hoarding) Kas

Harga emas saat ini turun dan terancam membatalkan Uptrend yang telah terjadi sejak awal tahun 2019. Emas perlu bertahan di atas USD1,550 untuk mempertahankan Uptrend menuju USD1,800. Breakdown valid di USD1,550 akan mengancam emas turun menuju USD1,370.

Penurunan harga emas adalah salah satu indikasi Investor tidak yakin akan adanya inflasi. Hal ini karena selama ini emas digunakan untuk Hedge Against Inflation. Dengan adanya potensi pertumbuhan ekonomi maka Investor mengincar emas sejak tahun 2018. Tentu harga emas juga naik karena antisipasi adanya perang (dimana pada saat perang, hanya aset emas yang dinilai berharga). Namun tampaknya Investor menganggap kondisi saat ini relatif aman setelah sempat dikhawatirkan terjadi perang AS – Iran di awal tahun 2020 (saat ini harga emas naik 6% di minggu pertama tahun 2020).

Menunggu Aksi Bank Sentral

Minggu depan akan ada jadwal FOMC Meeting The Fed dan RDG Bank Indonesia. Diestimasikan The Fed memotong Fed Fund Rate sebesar 0.75% dari 1.25% menjadi 0.5%. Sementara diestimasikan BI memotong 0.5% dari 4.75% menjadi 4.25%.

Perlu diingat bahwa BI telah menurunkan 0.25% pada bulan Februari dari 5% menjadi 4.75% – lebih cepat dari estimasi karena sebelumnya BI diperkirakan akan menunggu The Fed memotong suku bunganya. Kejadian diluar estimasi kembali terjadi dimana pada awal Maret 2020, The Fed memotong Fed Fund Rate sebesar 0.5% dari 1.75% menjadi 1.25%. Cukup jarang The Fed melakukan Cut Rate di luar FOMC Meeting dan Emergency Cut Rate The Fed terakhir adalah pada tahun 2008 lalu (saat Global Financial Crisis).

rbc

Apabila melihat respon dari The Fed (dan bank sentral lainnya), tentu Investor berpikir bahwa dampak wabah Corona terhadap ekonomi global cukup signifikan.

Bantuan Emiten + Dapen + Asuransi Untuk IHSG

Minggu lalu, secara resmi otoritas mengizinkan emiten buyback sahamnya sendiri tanpa persetujuan pemegang saham. Hal ini karena terjadi penurunan harga saham yang dalam tanpa disebabkan penurunan kinerja perusahaan. Oleh karena itu, banyak emiten yang sudah bersiap untuk buyback namun tampaknya baru terlihat terjadi pada Jum’at 13 Maret 2020. Hari itu, IHSG turun -5% dan memicu penghentian transaksi di awal sesi 1. Namun pada sesi 2, ada lonjakan sebesar 6% dimana tampaknya merupakan Investor Domestik.

Meski terlihat positif, The Primary Trader melihat kenaikan tersebut belum cukup untuk membalikkan tren yang sedang terjadi pada IHSG yaitu Downtrend.

The Primary Trader tidak heran bila IHSG menyentuh level ~4,700. Hal ini karena melihat pada akhir tahun 2015 dimana IHSG dapat turun dan mencapai ~23% di bawah MA200. Saat ini IHSG sudah mendekati ~25% di bawah MA200 dan memang ada indikasi IHSG sudah Bottoming – bila mengaca pada kondisi tahun 2015 tersebut. Memang pada kasus ekstrim seperti GFC 2008, IHSG pernah -105% di bawah MA200 dan tentu The Primary Trader yakin kondisi tersebut tidak akan tercapai di tahun 2020 karena wabah Corona ini.

Meskipun Investor Lokal + Emiten sedang melakukan Buyback untuk menyelamatkan IHSG, The Primary Trader tidak yakin IHSG dapat segera naik. Hal ini karena IHSG perlu dana asing dari Investor Asing untuk naik. Tren Net Sell Asing masih terus terjadi di tahun 2020 dan begitupun sepanjang Maret 2020. Hal ini yang akan menyulitkan IHSG untuk naik.

Namun demikian, perlu diingat bahwa Net Sell Asing yang masif tersebut membuat IHSG saat ini Under Owned Asing. Hal ini dapat memperkecil peluang IHSG kembali turun lebih dalam. Tentu karena tidak ada lagi Seller yang masih memiliki saham – saham IHSG dalam jumlah yang signifikan sehingga ketika Seller tersebut menjualnya maka tercipta penurunan harga.

Kapan IHSG Dapat Naik?

The Primary Trader menilai bahwa masalah saat ini adalah adanya wabah penyakit. Oleh karena itu tentu untuk menyelesaikan masalah maka wabah penyakitnya harus dihilangkan dengan adanya obat penyembuh sekaligus vaksin untuk menghindari penyakitnya. Sampai saat ini belum ada obat atau vaksin yang dapat digunakan secara luas dan aman. Diperkirakan baru akan tersedia di tahun 2020. Namun demikian, setidaknya penyakit tersebut dapat ditekan penyebarannya sehingga kondisi Pandemi dapat hilang.

Wabah Corona di China sudah mulai berkurang. Banyak pasien yang sudah sembuh dan bahkan ~13 RS Darurat sudah ditutup karena tidak ada pasien baru lagi yang membutuhkan RS tersebut.

Tantangannya adalah negara – negara lain karena saat ini penyebaran Corona ada di wilayah Eropa. Perlu diingat bahwa ekonomi Uni Eropa (yang terdiri dari banyak negara di Eropa) adalah ekonomi terbesar kedua di Dunia (lebih besar dari China). Bila ekonomi Uni Eropa menurun akibat wabah Corona maka tentu ekonomi global akan semakin tertekan.

Wabah Corona secara global masih dalam tren meningkat namun penyebaran di negara – negara setelah China seperti Korea Selatan dan Iran sudah mulai terlihat puncaknya. Diharapkan kedua negara tersebut segera pulih dan kasus baru terus menurun. The Primary Trader pun berharap negara Italia, Perancis dan Spanyol sudah mendekati puncak sehingga dalam waktu dekat akan terjadi tren penurunan kasus (tentu dengan pasien sembuh yang lebih banyak).

Investor domestik sedang memantau perkembangan kasus Corona di Indonesia. Per 15 Maret 2020, ada 117 pasien yang positif Corona di Indonesia. Sampai 14 Maret 2020, sudah ada 8 pasien yang sembuh dan dipulangkan sementara 5 pasien meninggal dunia. Bila melihat persentasenya, tingkat kematian Corona di Indonesia tampaknya tinggi (8 / 117 = 6.8%. Perlu diingat bahwa pasien yang terdeteksi positif tersebut baru mulai terjadi di awal Maret 2020. Dengan demikian, perawatan para pasien baru memasuki minggu ke-2. Mengaca pada kasus China, mulai terjadi peningkatan pasien yang dipulangkan dari RS pada pertengahan Februari 2020. Dengan demikian, setidaknya perlu 3-4 minggu untuk dirawat di RS. The Primary Trader berharap pasien yang dipulangkan mulai akan meningkat pada akhir Maret 2020 atau awal April 2020.

Pada saatnya nanti mulai terlihat penurunan kasus Corona, The Primary Trader yakin minat beli akan mulai muncul. Dengan demikian, harapan akan kenaikan IHSG mulai membesar. Untuk saat ini, The Primary Trader perkirakan sebagus apapun stimulus fiskal dan moneter masih belum akan mampu membalikkan tren IHSG dari Downtrend menjadi Uptrend.

Ada banyak Resistance – Resistance baik dari Down Trendline maupun dari Gap Down yang menahan IHSG untuk mengawali Uptrend. Resistance terpenting tentu adalah 5,700 yang merupakan Down Trendline dari sejak pertengahan Januari 2020 serta Lower High terakhir dari penurunan sejak pertengahan Januari tersebut. Resistance berikut adalah dari Gap Down yaitu di level 5,050 – 5,110 serta 5,360 – 5,500.

The Primary Trader sedang bersiap – siap untuk membeli saham karena memang sudah sangat murah sekali. Namun tentu dengan strategi Averaging Down karena saat ini sangat sulit sekali memperkirakan Bottom. Kenapa? Karena ketika terjadi sesuatu yang menakutkan maka Panic Selling akan terjadi dan saat ini, rasionalitas sudah berkurang.

Semoga wabah Corona segera berakhir dan masyarakat Indonesia (serta dunia) segera sehat dan aman.

Penentuan Awal

Dua (Potensi) Bottom Untuk IHSG

The Primary Trader melihat ada harapan IHSG berhenti turun di 5,450 karena posisi IHSG di level tersebut berada pada 12% di bawah MA200 atau rata – rata tahunan. Sejak tahun 2011, posisi IHSG 12% di bawah MA200 mengindikasikan tingkat Jenuh Jual atau Oversold yang pada akhirnya membuat IHSG kembali naik mendekati atau bahkan melewati MA200.

Namun pada tahun 2015 akhir, IHSG ternyata terus turun dan mencapai level 23% di bawah MA200. Ada harapan IHSG bertahan di 5,450 karena kecenderungan IHSG yang Oversold pada posisi 12% di bawah MA200 (dimana saat ini MA200 di 6,186 maka 88% dari level tersebut adalah ~5,450). Namun mengingat kondisi saat ini dapat dikatakan sudah dalam keadaan Panic Selling maka The Primary Trader tidak heran bila IHSG terus turun mendekati level 23% di bawah MA200 yaitu di 4,770.

The Primary Trader perkirakan pada hari Senin, 2 Maret 2020, akan menjadi penentu apakah IHSG bertahan di 5,450 atau kembali “Stretch” ke 4,770.

Manufacturing PMI Menjadi Kunci Utama

China, Indonesia dan AS dijadwalkan mengumumkan Manufacturing PMI bulan Februari 2020 pada Senin, 2 Maret 2020. Manufacturing PMI adalah salah satu indikator ekonomi utama untuk mengestimasikan pertumbuhan ekonomi suatu negara. Manufacturing PMI menunjukkan aktifitas sektor manufaktur (pabrik) dan angka indeks Manufacturing PMI di atas 50 menunjukkan potensi ekonomi berekspansi dan di bawah 50 menunjukkan potensi ekonomi berkontraksi.

Ekonom memperkirakan Manufacturing PMI China di bulan Februari 2020 turun di level 46.1 dari 51.1 di bulan Januari 2020. Bila indeks tersebut di bawah 50 maka ada potensi ekonomi China berkontraksi.

Kontraksi ekonomi China inilah yang menjadi kekhawatiran Investor Global karena saat ini ekonomi China hampir mencapai 20% dari ekonomi dunia. Bila ekonomi China kembali turun maka ekonomi dunia pun akan ikut turun.

Di satu sisi, ekonomi AS di tahun 2020 cukup baik. Bahkan The Fed terdengar yakin akan mempertahankan Fed Fund Rate di saat bank sentral lain (termasuk BI) menurunkan suku bunga dalam menghadapi dampak negatif ekonomi karena wabah Corona. Tentu pernyataan tersebut dapat terganggu mengingat minggu ini AS mengumumkan 15 kasus infeksi Corona yang tidak diketahui asalnya (!). Namun data Manufacturing PMI AS pada Senin, 2 Maret 2020, tentu akan menjadi pertimbangan awal bagi Investor maupun The Fed dalam menilai dampak wabah Corona terkini.

Kembali ke China, ada harapan data Manufacturing PMI bulan Februari 2020 tidak turun sejauh 46.1 dari 51.1. Hal ini karena pabrik – pabrik di Hubei (provinsi dimana Wuhan berada) sudah mulai kembali beraktifitas dipertengahan Februari. Menjelang akhir Februari 2020, kapasitas pabrik sudah berjalan 30% – 50% dan ditargetkan berjalan 70% di awal Maret 2020. Dan tentu meskipun China menyumbang ekonomi dunia sebesar ~20%, ekonomi provinsi Hubei sendiri hanya mencapai 4.6% dari total GDP China sehingga gangguan terhadap keseluruhan ekonomi China diharapkan tidak sebesar penurunan Manufacturing PMI tersebut.

Sejak Juli 2019, Manufacturing PMI Indonesia di bawah 50 sehingga menandakan ekonomi sedang berkontraksi. Meski demikian, Manufacturing PMI Indonesia sebenarnya mulai naik sejak Oktober 2019 namun sedikit turun di Januari 2020 akibat banjir di awal tahun dan dampak awal wabah Corona. The Primary Trader melihat bila nanti Manufacturing PMI Indonesia tidak lebih rendah dari posisi di bulan Oktober 2019 di level 47.5 maka dapat disimpulkan dampak wabah Corona di Indonesia tidak separah di negara – negara lain. Seharusnya hal tersebut akan menjadi katalis positif bagi IHSG untuk tidak turun menuju 4,770.

Indonesia Manufacturing PMI

Sentimen Bullish Dari Candlestick Pada IHSG

IHSG membentuk pola single candle dari Candlestick yaitu Hammer. Menariknya, Hammer terbentuk di Fibonacci Extension level 261.8% sehingga dapat diharapkan indikasi untuk naik. Meskipun ada indikasi naik namun pertanyaan pentingnya adalah apakah kenaikan yang ada adalah sebagai Technical Rebound saja atau akan ada perubahan dari Downtrend saat ini menjadi Uptrend. The Primary Trader perkirakan kenaikan yang terjadi (bila kondisi mendukung, antara lain Manufacturing PMI yang tidak seburuk perkiraan) adalah sebagai Tech. Rebound saja dengan kenaikan tidak lebih tinggi dari 5,700 (level Fibonacci Extension di 161.8%).

Investor Global Masih Panik

The Primary Trader melihat VIX Index dan menyimpulkan bahwa Investor global masih dalam Panic Mode sehingga tampaknya Downtrend masih akan berlanjut. Saat ini VIX berada di level 40 atau lebih yang sama yang terjadi pada setiap Bearish Market.

Beberapa kali kejdian dimana VIX berada di level 40 yaitu pada Downtrend S&P500 di 2H11, 3Q15, 1Q18 dan 1Q19. Meski demikian, Downtrend pada waktu – waktu tersebut dapat dianggap sebagai Tech. Correction di tengah Uptrend Jangka Panjang. Dengan demikian, S&P500 masih dapat diharapkan terus mempertahankan Uptrend Jangka Panjang-nya.

S&P500 mungkin sudah mendekati Support di 2,800 dan terlihat membentuk Hammer sehinggga dapat diharapkan terjadi kenaikan. The Primary Trader masih perkirakan kenaikan tersebut (bila naik) adalah sebagai Tech. Rebound dan masih dapat naik sampai mendekati 3,100. S&P500 telah Breakdown Up Trendline di 3,300 pada pertengahan Februari 2020 dan hal tersebut menjadi tanda Downtrend Jangka Pendek – Menengah (sebagai bagian dari Tech. Correction dari Uptrend Jangka Panjang).

Investor di China sendiri sebenarnya terlihat optimis tidak lama setelah bursa dibuka (paska libur Chinese New Year yang diperpanjang). Memang Shanghai Composite sempat turun ~9% dihari pertama perdagangan paska ditutup pada awal wabah Corona. Namun setelah itu, Shcomp berhasil naik mendekati level sebelum wabah Corona (naik dari level 2,800 ke level 3,080). Ternyata Shcomp terlihat gagal naik di atas 3,080 – 3,120 sehingga The Primary Trader perkirakan tren harga Shcomp masih Downtrend dan Shcomp berpotensi turun menuju level 2,400 dengan Breakdown Support 2,730.

The Primary Trader meyakini di tahun 2020 ini, wabah Corona akan berakhir setelah penyebaran penyakit dapat diatasi dan obat serta vaksin sudah dapat diproduksi (meski masih dalam tahap awal). Namun dampak ekonomi akibat pembatasan aktifitas masyarakat akan terasa di tahun 2020 dan cukup signifikan. Bank sentral serta pemerintah akan mengeluarkan stimulus moneter maupun fiskal dimana hal tersebut akan berdampak positif langsung pada obligasi (di tahun 2020 ini). Namun demikian, dampak positif pada pasar saham kemungkinan baru akan terlihat di 2H20 atau bahkan di tahun 2021 nanti.

Sebelum berbicara pergerakan jangka panjang IHSG dan bursa saham lain, tentu data di hari Senin, 2 Maret 2020 berpotensi menjadi penentu awal yang signifikan.

Pendemik Corona Yang Mulai Membuat Panin Secara Global

Semakin Menyebar

Meskipun China terlihat berhasil membatasi penyebaran Corona dari sumber Wuhan, ternyata kasus Corona di berbagai negara terus bertambah. Tidak lama setelah Korea Selatan menyatakan darurat di pekan lalu, Italia mencatat peningkatan kasus infeksi.

Virus Corona relatif tidak mematikan namun penyebarannya sangat kuat sehingga menjadi kekhawatiran masyarakat global. Terlebih lagi virus ini memberi dampak pengurangan aktifitas termasuk aktifitas bisnis di China yang saat ini menyumbang 18% terhadap ekonomi global (dibandinkan tahun 2003 pada kasus SARS dimana ekonomi China 7% – 8% dari ekonomi global).

S&P500 Breakdown Up Trendline

S&P500 yang sebelumnya cukup kebal dan berhasil Recovery pada puncak virus Corona di akhir Januari 2020 akhirnya terlihat “menyerah”. S&P500 Breakdown Up Trendline sehingga mengancam Uptrend menuju 3,500. Ada ancaman S&P500 turun menuju 3,000 sebagai bagian dari awal Downtrend. Meski demikian, masih ada harapan penurunan S&P500 mendekati 3,000 tersebut sebagai bagian dari Tech. Correction dari Uptrend Jangka Panjang (yang juga bisa dilihat sebagai Downtrend Jangka Pendek).

Penurunan S&P500 sebagai bagian dari kepanikan Investor terlihat dari VIX yang melonjak melewati level 24 yang menjadi Resistance kuat sejak awal tahun 2019. Hal ini menunjukkan kekhawatiran Investor terhadap virus Corona itu sendiri yang menyebar dan juga kekhawatiran perlambatan ekonomi yang signifikan karena dampak Corona.

Selain itu, melihat Yield Spread antara Yield US Treasury 10 Tahun dengan 2 Tahun, mulai kembali terlihat potensi Negative Spread yang artinya Yield US2Yr lebih tinggi dari Yield US10Yr. Negative Spread selama ini (sejak tahun 1980an) menandakan adanya resesi di AS.

Saat ini Spread antara Yield US10Yr dengan US2Yr masih sebesar 0.15%. Namun seiring dengan S&P500 sudah Breakdown Up Trendline dan terancam Downtrend, hal ini menandakan potensi Investor swithing dari Equity Market ke Bond Market yang lebih aman. Switching tersebut berpotensi terus menurunkan Yield US Treasury dan membuat Negative Spread bila Investor lebih banyak membeli Yield US10Yr sebagai antisipasi resesi.

Apakah IHSG Sudah Bottom ?

IHSG telah Breakdown Fibonacci Extension di 127.2% atau di 5,831 sehingga kemungkinan besar saat ini IHSG sedang dalam penurunan menuju 5,700an atau di 161.8%.

Secara historis, IHSG memiliki dua Support yaitu di 5,770 yang merupakan Lowest di tahun 2019 dan 5,600 yang merupakan Bottom (Sideways) terpanjang sepanjang sejarah IHSG atau sekitar 8 bulan di tahun 2018. The Primary Trader perkirakan IHSG akan mulai Bottoming di level 5,600 – 5,700.

DEAL ! S&P500 Tetap Uptrend, Begitupun Dengan IHSG.

Trade Deal Fase 1

Presiden AS dan Wakil Presiden China menandatangani Trade Deal fase 1. China berjanji akan membeli barang – barang AS sebanyak total US$200 miliar dalam 2 tahun ke depan. AS berjanji tidak menaikkan tarif terhadap barang – barang China lagi. Namun AS belum akan menurunkan tarif sampai Pemilu di November 2020.

Menurut The Primary Trader, Trade Deal fase 1 ini sudah cukup untuk memberikan sentimen positif di 1Q20. Sentimen berikutnya akan muncul dari data ekonomi serta laporan keuangan emiten AS dan China di 1Q20 yang baru akan dirilis pada April 2020. Meskipun untuk saat ini sudah cukup, tampaknya masih ada Investor dan Pelaku Bisnis yang pesimis signifikansi Trade Deal ini.

Uptrend Pada Bursa AS

S&P500 telah mencapai target menggunakan Fibonacci Retracement dari level 2,940 di Oktober 2018 sampai 2,350 di Desember 2018 yaitu di 3,300 atau 1,618 (161,8%) dari Fibonacci. Masih ada target berikut yaitu di 200% di 3,530an.

The Primary Trader meyakini Uptrend S&P500 masih bertahan namun mungkin akan sulit sampai ke level 3,500an. Investor mulai mengkhawatirkan valuasi S&P500 yang sudah Overvalued. Meskipun kenaikan S&P500 sekarang ini disebabkan sentimen positif karena Trade Deal fase 1, The Primary Trader perkirakan S&P500 akan mulai mengalami momentum penurunan setelah mendekati atau menyentuh 3,400.

Melihat bursa AS lain yaitu Dow Jones Industrial Average (DJIA) dan Dow Jones Transportational Average (DJTA), The Primary Trader melihat Uptrend di pasar saham AS memang sehat.

DJIA masih dalam Uptrend menuju 30,300 – yang merupakan target dari Fibonacci Retracement di 1,618 atau 161,8%. Target ini diperoleh dari level 27,000 di Oktober 2018 sampai 21,700 di Desember 2018 (pergerakan yang sama dengan S&P500).

Menggunakan Dow Theory yang mengatakan “Average Must Confirm Each Other”, The Primary Trader melihat DJTA – saudar kembar DJIA.

DJTA memang belum dalam All Time High seperti DJIA dan S&P500. Namun saat ini DJTA sudah Breakout level tertinggi dari sejak September 2018. The Primary Trader meyakini DJTA mampu melewati All Time High di 11,623 seperti halnya DJIA dan S&P500. Dengan potensi DJTA membentuk New All Time High maka Uptrend di pasar saham AS terkonfirmasi. Meski demikian, hal tersebut bukan jaminan Uptrend di pasar saham AS masih dapat berlangsung dalam jangka menengah atau panjang.

VIX Index sebagai indeks persepsi risiko di AS memang kembali di level rendah. Namun The Primary Trader melihat kenaikan yang terjadi berikut pada VIX akan membuka peluang VIX terus naik sampai level tertinggi dalam satu tahun terakhir di 22 – 24. Level ini tercapai ketika Investor mengkhawatirkan eskalasi Trade War dan ancaman kenaikan Fed Fund Rate.

Ancaman di tahun 2020 yang mungkin meningkatkan VIX Index adalah gagalnya Trade Deal fase 1 (karena mungkin China tidak menepati janji untuk membeli produk AS), eskalasi tensi AS – Iran serta pemakzulan Trump.

Dampak Pada IHSG

The Primary Trader melihat IHSG masih mempertahankan minor Up Trendline dari awal Desember 2019 yang menjaga peluang IHSG naik menuju 6,450. Masih ada harapan kenaikan IHSG ini bagian dari January Effect.

Menggunakan indikator Stochastic Oscillator (yang telah The Primary Trader modifikasi), terlihat bahwa IHSG masih berpotensi mengalami penurunan namun Stoch. Oscillator sudah mendekati area Oversold. Oleh karena itu, penurunan yang mungkin terjadi seharusnya sudah terbatas.

Namun demikian, The Primary Trader melihat Stoch. Oscillator tersebut berpotensi segera melakukan Bullish Crossover atau memberikan sinyal Buy. Hal ini terlihat pada indikator Stoch. Oscillator Histogram dimana Histogram-nya yang saat ini berada di area negatif mulai mencatat kenaikan. Kondisi ini mengindikasikan %K-line dari Stoch. Oscillator akan segera Crossover dengan %D-Line dan kemudian membuat kondisi dimana muncul sinyal Buy.

The Primary Trader yakin sentimen pada pasar saat ini adalah Bullish. Terlebih lagi apabila draf Omnibus Law jadi diselesaikan dalam 1-2 minggu ke depan (atau di bulan Januari 2020 ini).

What Trade War ? Bursa AS dan China dalam Uptrend

Uptrend dari Awal Tahun 2019

The Primary Trader memperhatikan bursa saham AS dan China dimana S&P500, Dow Jones dan Shanghai Composite justru dalam Uptrend sejak awal tahun. Sampai 15 November 2019 (hampir Full Year 2019), ketiganya mencatat Return yang sangat tinggi antara 15% – 25%. Bila memang Trade War mengancam ekonomi kedua negara bahkan dunia maka seharusnya bursa saham pun ikut turun mengikuti ancaman terhadap ekonomi AS dan China.

Ikuti Live Chart di sini.

Pertumbuhan Ekonomi AS dan China

Ekonomi China memang terpukul terutama dari sejak tahun 2010 setelah mencatat pertumbuhan ekonomi sekitar 12% YoY. Pada 3Q19, ekonomi China tumbuh sebesar 6% YoY. Memang masih dapat dikatakan Soft Landing dan pertumbuhan 6% itu tinggi (!). Namun demikian, yang perlu diperhatikan saat ini adalah hutang yang ada pada ekonomi China dan hutang tersebut perlu pertumbuhan ekonomi agar dapat dilunasi. Oleh karena itu, banyak Investor khawatir dampak ekonomi China karena Trade War.

China GDP Annual Growth Rate

Di sisi lain, sebagai pencetus Trade War, ekonomi AS berhasil tumbuh relatif stabil walau tetap terlihat perlemahan. Namun berdasarkan data 3Q19, ekonomi AS berhasil tumbuh sebesar 1.9%, di atas estimasi sebesar 1.6%. Hal ini tentu cukup mengejutkan karena tampaknya ada harapan Trade War berhasil dimenangkan oleh AS sebagai pencetus.

United States GDP Growth Rate

Kenapa ?

The Primary Trader menilai bahwa konsumsi domestik yang disebabkan adanya Disruptive Economy (Startup) yang cenderung masih dalam tahap ‘membakar duit’ berhasil menopang ekonomi AS. Perlu diingat bahwa konsumsi di 3Q19 masih belum dapat dianggap sebagai konsumsi akhir tahun (Thanksgiving, Natal dan Tahun Baru) di AS sementara pada musim tersebut, penjualan hampir selalu tinggi setiap tahun. Oleh karena itu, ada peluang ekonomi AS di 4Q19 pun akan tinggi. Hal ini tentu akan menjadi katalis signifikan karena Investor akan mulai melihat ancaman resesi berkurang dan Investor akan “FOMO” atau Fear of Missing Out dari Uptrend saham – saham AS.

Bagaimana Strateginya ?

The Primary Trader percaya Market Cycle dimana Bullish itu di akhiri ketika semua Investor percaya dan menjadi sangat yakin Bullish akan berlangsung lebih lama lagi (jika tidak selamanya). Saat ini tampaknya masih banyak Investor yang ragu akan Bullish namun tampaknya mulai ada keyakinan (Optimism).

Image result for market cycle

Dengan melihat siklus di atas, ada kemungkinan fase bursa saham di AS (dan China) saat ini adalah fase antara Hope dan Optimism. Oleh karena itu, The Primary Trader berpendapat masih ada potensi Uptrend bagi bursa saham AS terutama S&P500 dan Dow Jones. Selain itu, bursa saham China, yang terpukul karena pertumbuhan ekonominya jelas terpukul, pun sedang dalam pembentukan Bullish Continuation. Artinya ada potensi Shanghai Composite melanjutkan kenaikan dari sejak awal tahun 2019 dengan potensi kembali ke level awal tahun 2018.

S&P500 sendiri sedang dalam Uptrend (seperti juga Dow Jones) dengan potensi menuju 3,300.

Ikuti Live Chart di sini.

Bagaimana dengan IHSG ?

The Primary Trader percaya IHSG sedang dalam tahap akhir Bullish Continuation jangka panjang dari sejak tahun 2018. Artinya adalah seharusnya IHSG sedang bersiap untuk mengawali Uptrend jangka panjang dengan potensi menuju 8,000 (tentu dalam 3-4 tahun ke depan).

Untuk mengawali Uptrend, IHSG perlu Breakout 6,500 sehingga masih perlu 3 – 6 bulan lagi untuk memastikan Uptrend dimulai. Selain itu, karena saat ini IHSG mendekati Support dari pola Bullish Continuation di 5,900, ada ancaman IHSG batal mengawali Uptrend. Downtrend jangka panjang terancam dimulai bila IHSG Breakdown Support 5,900. Oleh karena itu, perlu diperhatikan dan diwaspadai penurunan di bawah 5,900.

Ikut Live Chart di sini.

Bullish or Bearish in 2020?

VIX Dalam Posisi Naik

VIX Index yang mengindikasikan volatilitas S&P500 dalam posisi naik yang berarti ada ancaman penurunan pada S&P500. VIX telah stabil di level rendah dari sejak akhir Okt’19 namun sejak awal Nov’19, ada indikasi VIX naik dari level 12 (Bottom) menuju Resistance terdekat di 20.

Perlu diingat bahwa VIX telah turun dari akhir Sept’19 dari level 20 karena ada harapan The Fed memastikan tren penurunan Fed Fund Rate dan adanya harapan Trade Deal AS – China. Di saat VIX mendarat di level 12an (yang mengindikasikan risiko pasar telah berkurang), The Fed memberikan pernyataan untuk mempertahankan Fed Fund Rate. Pada saat itu memang The Fed kembali menurunkan Fed Fund Rate dari 2% menjadi 1.75%. Namun Investor kecewa karena tidak ada Aggressive Cut Rate dan bahkan mungkin tidak ada lagi Cut Rate sampai ada indikasi ekonomi benar – benar memburuk.

The Primary Trader sudah tidak percaya harapan Trade Deal sampai AS dan China menandatangani Deal tersebut. Menjelang akhir Okt’19, masing – masing pihak mengklaim sudah mensepakati fase awal perdagangan. Keduanya bahkan sedang mencari lokasi pertemuan dan tanda tangan fase satu karena agenda pertemuan multilateral di Chili batal karena situasi keamanan di sana. Tentu dapat dimaklumi keengganan China untuk menandatangani perpanjian fase satu di AS. Belum sempat disepakati lokasi pertemuan, perjanjian dagang fase satu terancam batal dan baru – baru ini Trump mengancam akan menaikkan tarif impor barang dari China lebih besar lagi bila perjanjian fase satu ini batal. The Primary Trader rasa memang selama Trump menjabat sebagai Presiden AS, perang dagang AS dengan negara lain (setelah China, tampaknya genderang perang dagang dengan Uni Eropa akan dibunyikan).

S&P500 Dalam Throwback

Dampak utama dari kenaikan VIX adalah S&P500 terancam turun. S&P500 saat ini telah Breakout 3,000 (dan berada di All Time High) dan dalam Uptrend lanjutan menuju 3,300. Secara jangka pendek, S&P500 sendiri telah Overbought dan memang terancam turun sebagai Tech. Correction. Lebih khusus lagi, menurut The Primary Trader, Tech. Correction yang terjadi paska Breakout Resistance adalah Throwback. Fase Throwback wajar yang tidak membatalkan Uptrend adalah sampai level Resistance (saat ini Support) yang telah di-Breakout tersebut. Dalam hal ini, Throwback S&P500 seharusnya tidak sampai di bawah 3,000 agar S&P500 masih terindikasi valid Uptrend menuju 3,300.

Live chart di sini.

The Primary Trader melihat penurunan yang berpotensi terjadi adalah level yang tepat untuk melakukan Buy on Weakness (untuk saham – saham di AS). Tentu akan sedikit berbeda dengan saham di Indonesia.

Uptrend di Emas, Tanda Buruk di Perekonomian

Emas dapat dianggap sebagai Safe Heaven. Emas akan sangat berharga di saat aset lain tidak ada harganya. Dengan kata lain, menurut The Primary Trader, emas menjadi investasi yang sangat baik di saat kondisi buruk seperti perang atau resesi atau bahkan krisis.

Oleh karena itu, emas yang dalam kondisi Uptrend sejak akhir 2018 adalah tanda bahwa Investor mengkhawatirkan kondisi yang buruk sebagai akibat dari Trade War. Selain itu perlu diingat juga bahwa tahun 2018 adalah kondisi dimana The Fed mulai berpikir untuk menaikkan Fed Fund Rate (normalisasi).

The Primary Trader memperkirakan Uptrend emas belum berakhir meskipun terjadi penurunan dari sejak Sept’19. The Primary Trader melihat penurunan emas yang terjadi 3 bulan terakhir membentuk pola Bullish Continuation. Artinya adalah Uptrend emas yang telah dikonfirmasi setelah Breakout USD1,370 di Jun’19 masih akan berlanjut.

Emas berpotensi naik sampai USD1,700 paska Breakout USD1,370. Dengan demikian, setelah Bullish Continuation selesai, emas masih berpotensi naik sampai USD1,700. Pola Bullish Continuation yang terjadi sejak Sept’19 pun memiliki target dan target tersebut berada di USD1,800. All Time High emas ada di USD1,920an pada saat krisis hutang Yunani. Level USD1,800 menjadi Resistance penting karena beberapa kali emas berusaha terus naik namun gagal.

The Primary Trader percaya emas masih akan naik dan hal ini merupakan salah satu bukti kuat bahwa Investor mengkhawatirkan terjadinya sesuatu yang buruk (resesi ekonomi) di tahun 2020.

Strategi Investasi

Resesi ekonomi membuat investasi di saham tidaklah menarik. Namun tentu pada saat kondisi apapun telah terjadi, harga suatu aset sudah mencerminkan kondisi tersebut. Dengan demikian, pada saat Resesi benar terjadi di tahun 2020 maka harga aset (terutama saham) sudah turun dalam. Namun bila diperhatikan pergerakan S&P500 dan Yield Treasury US 10Yr, harga keduanya naik tinggi (!).

S&P500 berhasil naik sebesar 23% dari sejak awal tahun sementara Yield US Treasury 10Yr turun dari 2.68% menjadi 1.88%. Penurunan Yield berarti harga obligasi naik.

Live chart Yield US Treasury 10Yr di sini.

Memang perlu dikhawatirkan adanya resesi namun perlu juga dipertimbangkan resiko kehilangan kesempatan Uptrend.

The Primary Trader meyakini IHSG sedang di tahap akhir pola Bullish Continuation jangka panjang. Bila pola ini selesai dan terkonfirmasi maka IHSG akan mengawali Uptrend dalam jangka panjang dengan potensi menuju 8,000. Persyaratan untuk berharap IHSG Uptrend dan naik sebesar 30% dalam 3-5 tahun ke depan pun sudah ada yaitu antara lain dengan pembangunan infrastruktur di Jawa, perpindahan Ibukota yang menumbuhkan pusat pertumbuhan ekonomi baru, Kabinet Indonesia Maju (dengan Sri Mulyani kembali sebagai Menteri Keuangan), deregulasi serta proses awal industrialisasi yang bermodalkan komoditas dalam negeri.

Awal Uptrend jangka panjang IHSG adalah ditandai dengan Breakout 6,500. Hal ini merupakan tanda bahwa pola Bullish Continuation selesai dan terkonfirmasi. Oleh karena itu, The Primary Trader sedang menunggu (dan berharap) IHSG Breakout 6,500.

AJKSE - weekly 11/13/2019 open 6171.44, Hi 6183.83, LO 6127.88, Close 6142.5 (-0.6%) 
261.8% 
200.0% 
po.0% 
61.8 
50.0% 
38.2% 
www.theprimarytrader.com 
2019 
6,500 
7935.58 
7014.49 
6100 
5524.04 
4954.68 
4778.81 
4602.94 
2016 
AJKSE - Trade value (RP Mn) 
.00, 
2017 
Weekly Avg 
2018 
(Rp Mn) — 
, Monthly Avg 
8,000 
7,500 
7,000 
6,500 
6,000 
5,500 
5,000 
4,500 
700M 
481,464,: 
445,237,' 
300M 
Created Ami Broker 
charting ane technical analysis soft.vare. htt

Meski demikian, perlu diwaspadai bahwa pola Bullish Continuation pun berpotensi batal – bila IHSG Breakdown Support. IHSG akan Breakdown Support pola Bullish Continuation bila turun di bawah 5,900. Artinya adalah bila IHSG turun di bawah 5,900 maka pola Bullish Continuation jangka panjang yang menjanjikan IHSG naik 30% menuju 8,000 dalam 3-5 tahun ke depan berpotensi batal.

The Primary Trader akan mewaspadai bila dalam waktu dekat, IHSG turun di bawah 6,100.

Ikuti pergerakan live chart -nya di sini.